From Kolom Jamaah Maiyah

Kebaikan Maiyah

Di Maiyah kita selalu diajarkan untuk melakukan 3 kebaikan secara terus menerus, yaitu menanam, puasa, dan sedekah. Kapanpun, dimanapun, dan sebanyak-banyaknya. 3 Kebaikan utama yang selalu istiqomah kita lakukan pasti akan membuahkan hasil yang bisa kita tandur. Tetapi Maiyah juga mengajarkan nandur itu juga harus berhati-hati. Tidak serta merta semua buah kita tandur semua, atau bahkan kita tidak nandur buah itu sama sekali. Ada kondisi pener yang menjadi syarat bagaimana kita bisa nandur buah-buah tersebut. Itu menurut saya sikap dasar Maiyah.

Kutemukan Jawaban di Maiyah

Cak Nun mentadabburi kalimat Bismillahirrohmanirrohiiim. Bismillahirrohmanirrohim itu terdiri dari Bismillahi, Roh, Mani, Rohim. sebelum roh, ada perjanjian “Alastu bi rabbikum, bukankah Aku Tuhanmu?” Setelah roh sepakat, “Ya saya bersaksi, Kamu lah pengayomku”. Baru kemudian ditiupkan roh itu ke Mani, dan ditempelkan kepada Rohim (Rahim). Allah lah yang mengajari kita jauh sebelum Ibu kita mengajari kita. menurut Cak Nun, Tadabbur itu berbeda dengan Tafsir “Kalau Tadabbur, salah tidak apa-apa asal hasilnya baik, dan Allah menyuruhnya Tadabbur bukan tafsir, Afala yatadabbarunal Qur`an “. Tadabbur itu dari kata Dubur (jalan belakang), yang penting itu outputnya, yang dikeluarkan dari duburmu itu baik.

Pemimpin, Pemerintah, dan Pengusaha

“Wahai Bagaspati, tak perlu engkau begitu menghamba padaku. Kalau bukan karena Prabu Salya melepas Candabirawa, sebenarnya aku sungkan untuk mengganggu istirahatmu.” Senyum Yudistira sangat menentramkan meski ditengah perang. Bagi Bagaspati yang sedang bersimpuh dihadapan tuannya, langsung mengerti apa yang sedang dibutuhkan oleh pemimpin yang dicintai meski tanpa diminta. “Mohon diri Pepundenku” Bagaspati langsung beranjak untuk menghampiri Prabu Salya yang masih berdiri tegap di kejauhan. Seperti sebuah magnet yang digerakan di tebaran pasir bijih besi, Bagaspati diserbu oleh ratusan ribu Candabirawa dari berbagai penjuru Kurusetra. Bukan dalam rangka penyerangan, namun lebih seperti anak-anak ayam yang berlarian karena dipanggil induknya. Ya, Candabirawa tidak lain adalah anak-anak keturunan dari Bagaspati dari sebuah kejadian proses regenerasi cara-cara siluman yang ganjil.

Cerita Dari Sudut Dapur Kenduri Cinta

Banyak yang menganggap bahwa kami para Penggiat Kenduri Cinta adalah orang-orang “Ring 1” Emha Ainun Nadjib di Jakarta. Padahal, justru yang pertama kali dilakukan oleh “kakak-kakak” kami di Kenduri Cinta adalah untuk membuang jauh-jauh harapan “menjadi orang dekatnya Cak Nun”. Mereka ini, adalah anak-anak yang sudah sangat lega, sangat ikhlas jikalau hingga akhir acara tidak sempat bersalaman dan mencium tangan Cak Nun, guru yang mereka cintai. Menahan rindu satu bulan sekali, dan ketika bertemu, belum tentu bisa untuk sekedar mencium tangan beliau. Bagi mereka, melihat Jama’ah Kenduri Cinta bergembira malam itu adalah kepuasan yang tidak ternilai harganya. Mereka-mereka itu, pada Jum’at kedua setiap bulannya selalu ditanya oleh Jama’ah dengan sebuah pertanyaan; “Cak Nun hadir nggak malam ini?”. Pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak mengetahui jawabannya. Mereka tidak mungkin menjawab “iya”, karena memang mereka sama sekali tidak mengetahui apakah Cak Nun hadir di Kenduri Cinta atau tidak. Sementara, mereka juga tidak mungkin menjawab “tidak”, karena bisa jadi ternyata Cak Nun hadir malam itu.

Mengenal Kenduri Cinta

ULANG TAHUN sweet seventeen Kenduri Cinta pada 16 Juni 2017 kemarin merupakan momen spesial bagi Jamaah Maiyah di Jakarta dan sekitarnya, yang umumnya mereka selalu hadir pada Jum’at kedua setiap bulannya di Taman Ismail Marzuki. Bagi Jamaah Maiyah simpul Kenduri Cinta sendiri sudah merupakan kebahagiaan yang pasti saat acara kesayangan mereka dan tokoh idola mereka tentu akan lebih lama lagi menemani setiap bulannya. Sedangkan bagi Jamaah Maiyah simpul lainnya kebahagiaan timbul karena akan memperpanjang ikatan persaudaraan antar anak-anak dan cucu Simbah Emha Ainun Najib. Ulang tahun Kenduri Cinta bagi simpul lain, seperti diungkapkan Ali Fathkan dari Gambang Syafaat saat menceritakan…

Getaran Rindu Kenduri Cinta

Seorang pria berambut ikal sebahu
Dengan retorika menarik
Membuat audiens mangharu-biru
Terkesima dengan diksi-diksi sufistik

Ooo, rupanya itu Cak Nun
Bersama Gus Nuril Arifin
Dan jamaah Kenduri Cinta
Serta seorang wanita yang hendak pindah agama

Kesan tontonan pertama
Di bumi Kinanah
Membuatku “tersandera”
Cak Nun dan Jamaah Maiyah

From Beginner to be Learner

Pada rentang waktu 2012-2013, ketika Internet semakin mudah diakses, yang kemudian saya manfaatkan dari internet adalah mencari informasi sebanyak mungkin tentang “Emha Ainun Nadjib”. Tentu saja, ketika mencari informasi tentang beliau maka akan tersambung benang merah dengan KiaiKanjeng dan Maiyah. Baik itu reportase Maiyahan, tulisan-tulisan beliau di media massa, maupun yang dipublikasikan oleh beberapa JM di blog-blog mereka saat itu, yang masih sangat sedikit sekali. Berbeda dengan hari ini, arsip-arsip tulisan beliau begitu banyak dipublikasikan oleh orang di Internet. Saya mengalami masa-masa ketika saya mencari kata kunci “Cak Nun”, “Emha Ainun Nadjib” dan beberapa kata kunci lain yang berkaitan dengan beliau, tidak pernah lebih dari 10 halaman di mesin pencari Google. Sehingga informasi yang saya dapatkan tentang beliau saat itu, sangat sedikit.

Bermain-main Dengan Bayang-bayang

Pangkal tahun 2013, seorang pegiat meminta saya untuk mendesain poster-poster Kenduri Cinta. Sekian lama berkutat di ranah rancang grafis, baru kali itu saya mendapat tawaran yang nggegirisi. Sesuatu yang bikin ciut nyali. Pasalnya, Kenduri Cinta adalah perhelatan istimewa yang mengusung gagasan-gagasan besar. Forum ini sering andil dalam perubahan-perubahan besar yang terjadi di Indonesia, meski sejarah formal tak mau mengakuinya. Wahana yang jangkep, berisi kajian intelektual hingga spiritual. Bukan perkara mudah untuk menerjemahkan tematemanya ke dalam paparan visual.

Meski demikian, saya nekad menerima tugas itu. Apa boleh buat? Sebagai jamaah alien yang rutin menumpang berteduh di baris paling belakang acara itu, sungguh ora ilok jika saya menolak. Ini juga wujud terima kasih saya kepada Mbah Nun yang telah mengajari banyak hal di Kenduri Cinta. Meskipun beliau enggan disebut guru dan menampik jika wacana-wacananya disebut sebagai ajaran.

Kenduri Cinta, Kenduri Indonesia

Dari 17 tahun Perjalanan, Alhamdulillah setidaknya sudah dua kali diperjalankan-Nya turut melingkar di pelataran Plaza Taman Ismail Marzuki. Kesan-kesan heroik dari para penggiat maupun jamaah yang hadir masih tersimpan rapi di memori. Diantara pesan yang disampaikan Cak Nun pada Kenduri Cinta edisi April 2016 ialah Faltandzur nafsun ma qoddamat lighad. Cak Nun selalu mengingatkan kita untuk terus memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat).

Juga pesan dari Mas Ian L Betts yang kian terlihat nyata tentang betapa pentingnya untuk mempersiapkan diri sejak dini akan adanya zaman perubahan yang ditandai salah satunya dengan perubahan iklim yang terus meningkat dan yang paling terkena dampak adalah pertanian dan air bersih yang mungkin di beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan. Pada 2017 ini, krisis pangan yang berakibat pada kelaparan tengah melanda beberapa Negara di Timur Laut Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Yaman, Irak, Suriah (termasuk para pengungsi di negara tetangga), Malawi dan Zimbabwe.

48 Jam di Kenduri Budaya Nusantara

Hajatan yang memang dirancang sedemikian rupa dengan tajuk “Kenduri Budaya Nusantara”, melibatkan beberapa simpul Maiyah untuk hadir, dan selain itu juga karena momen itulah pertama kali saya terlibat secara langsung dalam pengelolaan event besar di Kenduri Cinta. Bagi saya, “Kenduri Budaya Nusantara” inilah salah satu milestone saya secara pribadi dalam bingkai kegembiraan bersama Maiyah Nusantara.

Memang sudah menjadi sebuah tradisi di Kenduri Cinta, bahwa sebagai ungkapan rasa syukur, setiap tahunnya para penggiat begitu bersemangat dalam merumuskan sebuah event dalam rangka merayakan hari jadi Kenduri Cinta. Perhelatan itu dilaksanakan pada tanggal 9-10 Juli 2010. Ya, saat itu karena satu dan lain hal, perayaan ulang tahun Kenduri Cinta yang ke-10 dilaksanakan pada bulan Juli. Agenda besar ini dilaksanakan selama 2 hari, rangkaian acara terpusat di 2 tempat secara bersamaan, di Wisma Trisula dan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.