From Kolom Jamaah Maiyah

Tak Bertaring

Badut-badut yang muncul baik di media massa maupun media elektronik pun semakin lucu. Ada benarnya ungkapan peringatan; Stop making stupid people famous. Era digital hari ini sama sekali tidak menyediakan fasilitas filter bagi pengguna internet. Seluruh informasi yang masuk ditelan mentah-mentah. Hanya informasi yang mereka sukai yang mereka baca. Kemasan judul sebuah berita menjadi sebuah umpan yang begitu disukai oleh masyarakat hari ini. Bukan hanya teks, bahkan juga video yang beredar di internet hari ini banyak yang diberi judul-judul provokatif yang tujuannya utama sebenarnya adalah menarik sebanyak mungkin pengunjung untuk melihat konten tersebut.

Juara Tidak Harus Meraih Piala

Keindahan suasana para pendengar menyimak dengan seksama jalannya sebuah pertandingan dari radio saat itu, bagaimana mereka membangun imajinasi mereka, membayangkan gambaran pertandingan yang sedang berlangsung, hanya melalui suara yang diperdengarkan melalui siaran RRI di radio. Tentu saja imajinasi setiap orang yang sedang menyimak akan berbeda-beda. Bagaimana mereka membayangkan seorang Diego Maradona yang secara visual mungkin hanya sekelabatan saja mereka lihat melalui surat kabar. Saat itu, televisi adalah barang mewah yang tidak semua orang mampu memilikinya. Radio menjadi sebuah media masyarakat kelas bawah untuk menikmati siaran langsung sepakbola.

Perjalanan Gambang Syafaat ke Kenduri Cinta

Waktu semakin sore, perjalanan berlanjut terus menerus. Suara musik di dalam mobil cukup menambah suasana sore ini bertambah asyik. Meskipun sedikit berdesakan tempat duduknya, kami semua menikmatinya dengan sesederhana apa adanya. Pintu tol satu per satu kami lewati, alhamdulillah perjalanan lancar, hingga kami memasuki pintu tol Cikarang Utama perjalanan mulai pelan merayap karena rapatnya mobil, truk dan bus yang membayar di pintu tol untuk menuju Jakarta. Sinar matahari pun mulai terbenam. Wajah-wajah lelah sudah pasti akan menghampiri kami ketika sudah di Taman Ismail Marzuki nanti. Namun, rasa lelah itu kami ganti dengan suasana kemesraan ketika kami tiba di lokasi Kenduri Cinta melihat para penggiat Kenduri Cinta dengan ikhlas menyambut kami semua. Terasa seperti persaudaraan yang sudah cukup lama terjalin, padahal sudah lama kami tidak bertemu. Terlihat para penjaja makanan dan pedagang khas Taman Ismail Marzuki juga mulai tampak, keakraban para JM yang sudah datang juga mulai terasa.

Kenduri Cinta Sebagai Wahana Berpikir

Saya mengibaratkan, Maiyahan seperti Kenduri Cinta ini menjadi sebuah lahan yang besar tempat kita bisa menanam buah-buah pikiran yang segar, sehat dan terjaga. Di tengah keruwetan berpikir dan penjungkirbalikan logika yang berkembang di lingkungan sosial saat ini. Maiyah hadir sebagai  sebuah wahana yang siap menyambut siapa saja untuk berkunjung dan dan menumbuhkan buah pikirannya dengan gembira. 

Bercinta Selama 18 Tahun

Bagi penggiat, Maiyahan di Kenduri Cinta sesungguhnya adalah interaksi sosial antar mereka, untuk berdiskusi, mengolah tema, mengevaluasi kinerja acara-acara sebelumnya, mewacanakan pelatihan-pelatihan untuk kalangan internal maupun untuk simpul-simpul maiyah yang lain, dalam bentuk workshop desain poster, storytelling, –yang sudah dijalankan beberapa hari lalu– selanjutnya diramu, diolah, atau bahkan diperdebatkan dalam forum mingguan, yang kami menyebutnya “Reboan” setiap hari Rabu sepulang kerja di teras Galeri Cipta II Taman Ismail Marzuki, di pusat kota Jakarta.

Alles Gute zum Geburtstag, Kenduri Cinta

Di tengah gemerlap ‘kemajuan’ zaman yang bisa dirasakan di Jakarta, ada kerumunan orang-orang yang memilih menyepi di Jumat malam, pekan kedua setiap bulannya. Mereka menyingkir dan mencoba memekakan mata batinnya di Telaga Maiyah bernama Kenduri Cinta.  Satu hari spesial yang dinanti-nantikan setelah 29 harinya berjuang dalam kepalsuan-kepalsuan dunia. Sebab di Maiyah pada kemurnian jiwa-jiwa yang hadir bertabur kemesraan menjadi pembasuh hati, serta antioksidan penyakit-penyakit Zaman Now. Bagi salikul Maiyah, mungkin ibarat menjalani hidup dalam dua dunia, dunia Maiyah dan dunia pada tahun 2018 ini seperti apa adanya.

Kenduri Cinta: Memberkati Ibukota dan Mengasuh Adik-adiknya

Alhamdulillah, tujuh tahun sudah saya bersentuhan dengan Maiyah. Dan persentuhan itu terjadi pertama kalinya melalui forum Kenduri Cinta. Tak sengaja, saya lewat di depan Plaza Taman Ismail Marzuki, pada jumat malam pekan kedua. Melihat sekerumunan orang berkumpul disana, mendorong saya untuk mendekat. Merapat. Ikut membaur diantara orang-orang yang sama sekali tidak saya kenal. Timbul kemudian suasana akrab, hangat, cair dan mesra. Pikiran dan hati serasa merdeka. Sejak itulah saya langsung jatuh cinta pada Kenduri Cinta. Hah! Sesimpel itu? Iya. Secepat itu? He’em. Jangan tanya apa alasannya? Kalau mau tahu, silakan datang langsung kesana. Gratis. Tak dipungut biaya. Temukan dan rasakan cinta disana.

Kenduri Cinta, Rumah Sejuk di Jakarta

Rumah ini bernama Kenduri Cinta. Sesuai namanya, Kenduri adalah sebuah acara berkumpul, dengan tujuan meminta kelancaran atas segala sesuatu yang dihajatkan. Dalam hal ini, Kenduri Cinta menjadi wadah berkumpulnya orang-orang yang dipenuhi kerinduan kehadiran dan kasih sayang Rasulullah melalui shalawat bersama. Menjadi wadah berkumpulnya orang-orang yang penuh cinta dan ketulusan sehingga menimbulkan kerinduan di setiap bulan untuk kembali melingkar. Juga menjadi ladang mencari nafkah bagi mereka para pedagang.

Panggung Mungil Kenduri Cinta

Panggung mungil Kenduri Cinta berukuran 525 cm x 360 cm, terbagi atas 12 blok level kecil dengan ukuran 175 cm x 90 cm, tiap bloknya dengan tinggi kurang lebih 15 cm. Bahannya terbuat dari kayu cukup keras dan lumayan berat, ada beberapa bagian yang sudah rusak, hingga harus hati-hati dan dibutuhkan minimal 2 orang ketika menyusun, kadang dilakukan oleh pihak pengelola, kadang juga dilakukan para penggiat yang bertugas dari sore hari ketika Kenduri Cinta dilaksanakan.

Baliho Sang Garda Terdepan

Pada awalnya baliho Kenduri Cinta hanya berupa pamflet selebaran kertas dengan informasi sangat lengkap, disebar ke berbagai sudut kota Jakarta, ditempel di dinding dan tiang apa saja. Beberapa tahun berikutnya diganti lembaran kain berwarna hitam dipasang pada dinding baliho, bertuliskan “KENDURI CINTA”, serta keterangan judul, dimana, kapan, dan pukul berapa berlangsungnya acara. Inilah baliho Kenduri Cinta model pertama dengan pembuatan secara cetak sablon. Kemudian dimasa selanjutnya sekitar awal tahun 2010 mulai dikreatifisasi menggunakan bentuk gambar sederhana.