From Kolom Jamaah Maiyah

Keseimbangan di Zaman Gumunan dan Getunan

Kalau dalam istilah jawa; “Wong Jowo Ilang Jawane”. Bisa dihitung dengan jari, berapa banyak generasi muda yang masih menyukai dan bangga akan kebudayaan asli daerahnya. Misal wayang kulit, tari jaipong, atau lenong Betawi. Tapi kenyataanya justru lebih bangga dengan musik K-Pop atau film-film buatan Hollywood. Yang di dalamanya tidak ada tuntunan, hanya tontonan semata. Sungguh sangat miris.

Sinau Bareng Melatih Kerendahan Hati

Dalam beberapa kali Sinau Bareng Maiyahan, Mbah Nun sering menjelaskan bahwa kebenaran itu ada beberapa macam jenis, yaitu: Benarnya Sendiri/Kebenaran Personal (Benere Dhewe), Benarnya Orang Banyak/Kebenaran Komunal (Benere Wong Akeh), dan Benar Yang Sejati (Bener Kang Sejati). Benar yang sejati adalah bernilai hakiki dan paling tinggi kualitasnya karena Kebenaran yang Sejati adalah Kebenaran dari Tuhan. Kita hanya bisa menafsirkan, mencoba, meraba, mencoba menemukan kebenaran, karena sekali lagi, bahwa kebenaran bukan dari kita melainkan dari Tuhan.

Sinau Bareng Memaknai Peran dan Keberadaan Alam

Ketika alam tidak cocok dengan sistem kita, kita menyalahkan alam. walaupun manusia punah, bumi akan tetap ada. Banyak ancaman yang kita sebut ancaman karena kita egois. Alam tak pernah berniat jahat, alam hanya menyeimbangkan yang tidak seimbang. Semua hal yang tidak seimbang penyebabnya adalah manusia. Semua penyebab bencana alam dikarenakan ketidakpahaman manusia karena terhadap sistem yang komprehensif, manusia merasa melakukan sesuatu yang benar, padahal kita menabung bencana yang lebih besar. Prinsip bagaimana cara memberlakukan alam adalah dengan cara melakukan keseimbangan kepada alam.

Maiyah Abadan

Karena apa yang kita tanam, kita puasakan, kita sedekahkan adalah nilai-nilai kebaikan yang dimana kebaikan itu akan selalu bersifat kekal dan abadi. Ibarat kita menanam benih hari ini, maka pohon itu akan tumbuh, mekar, menghasilkan buah yang sedap dimakan, dan menghasilakan biji yang siap ditanam kembali.

Eksistensi Dasar

Di zaman now yang serba digital dan bikin lumuh ini, ilmu akan dasar–dasar sebagai manusia seakan sudah muspro. Orang akan melakukan apapun untuk mendapatkan dan mencapai tujuanya, tidak peduli cara itu dengan mencubit, menyikut, memukul bahkan menghilangkan nyawa orang lain. Yang penting keinginanya terpenuhi!

Menyerah Kepada Nasib

Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki pilihan-pilihan hidup. Dengan adanya kemungkinan pilihan itu, manusia mampu menentukan “sedikit” nasibnya. Ya, hanya sedikit. Tidak sepenuhnya. Namun terkadang, manusia dengan sedikit hak yang ia punya itu menjadi sombong dan jumawa. Seolah-olah pencapaian yang ia raih adalah murni hasil perjuangannya. Padahal tak satu pun petani di dunia ini yang mampu menentukan apakah benih padi yang ia tanam akan ia panen atau tidak.

Wanita Berambut Perak

Ibu Zulfa duduk di depan bilik kamarnya, di pintu tertempel nama “Zulfa Yasin”. Tidak salah, orang ini yang kami cari. Saat itu saya berharap ada keterkejutan dengan datangnya kami berlima, ternyata tidak. Raut wajahnya biasa saja. Ibu Zulfa menerima kami dengan ramah. Semua menyalami. Bertanyalah kami, kenapa sudah dua acara terlewati, tidak terlihat di antara jamaah Kenduri Cinta.

Mental Siap Panen

BEBERAPA waktu yang lalu, seorang anak muda yang usianya belum genap 20 tahun menjadi perbincangan banyak orang setelah berhasil meraih medali emas dalam sebuah kejuaraan salah satu cabang olahraga atletik. Lalu Muhammad Zohri namanya. Nama Zohri mencuat setelah ia berhasil menjadi peserta tercepat yang mencapai garis finish pada nomor sprint 100 m. Ia bahkan mengungguli pelari yang diunggulkan saat itu. Kita perlu mengucapkan terima kasih kepada teknologi informasi yang saat ini mampu menghadirkan sebuah informasi real time. Berita kemenangan Zohri kemudian viral di media sosial. Hari ini, media sosial adalah acuan utama informasi masyarakat di Indonesia, apapun yang dibicarakan di…

Gila atau Cinta?

Terpal yang telah digelar harus dilipat kembali agar tak basah kehujanan, semua orang langsung merapat ke bawah tenda, kebersamaan dibawah tenda itu terasa sangat indah canda dan riang tawa terdengar sangat akrab. Setelah hujan reda, para penggiat dan beberapa jamaah mulai memindahkan air yang tergenang di area acara dengan cara disapu dengan sapu lidi dan sweeper lantai. Setelah alas duduk dihamparkan kembali dan semua telah duduk, acarapun dimulai. Tak berselang lama, Allah kembali mencurahkan kembali cintanya dari langit, hujan yang kembali turun tak kalah derasnya dengan yang pertama, Alhamdulillah.

Tak Bertaring

Badut-badut yang muncul baik di media massa maupun media elektronik pun semakin lucu. Ada benarnya ungkapan peringatan; Stop making stupid people famous. Era digital hari ini sama sekali tidak menyediakan fasilitas filter bagi pengguna internet. Seluruh informasi yang masuk ditelan mentah-mentah. Hanya informasi yang mereka sukai yang mereka baca. Kemasan judul sebuah berita menjadi sebuah umpan yang begitu disukai oleh masyarakat hari ini. Bukan hanya teks, bahkan juga video yang beredar di internet hari ini banyak yang diberi judul-judul provokatif yang tujuannya utama sebenarnya adalah menarik sebanyak mungkin pengunjung untuk melihat konten tersebut.