From Kolom Jamaah Maiyah

Ngalap Berkah di Kenduri Cinta

Ngalap berkah. Jika anda tinggal di lingkungan pesantren dengan kultur Nahdliyin, istilah ngalap berkah tentu tidak asing di telingan anda. Maka, ketika seorang santri mencium tangan Kiai nya, bahkan ada yang rela mencium kaki Kiai nya, itu bukan dalam rangka pengkultusan, melainkan dalam rangka ngalap berkah. Nggolek barokah Mbah Yai, begitu kira-kira. Dan peristiwa ngalap berkah jika anda lihat di daerah jawa timur, maka tidak akan terlihat aneh. Kenduri Cinta berlokasi di Jakarta, potret masyarakat Jakarta yang sedemikian rupa tidak lazim dengan fenomena ngalap berkah ini. Atau yang lebih detail lagi, jama’ah Kenduri Cinta ini tidak ada potongan santri nya sama sekali. Mereka datang dengan pakaian yang tidak nyantri sama sekali, sementata di Maiyah juga tidak ada penyeragaman pakaian harus berwarna tertentu, atau harus menggunakan peci dan surban misalnya. Mereka datang dengan tampilan apa adanya, tidak memerlukan Pencitraan agar mereka terlihat sebagai orang alim karena datang ke forum pengajian, misalnya.

Tren Penyanderaan Hukum dan Pertahanan Terakhir

Tren penyanderaan pemimpin melalui media hukum yang marak, tidak pula secara apriori, kemudian secara utuh membuka pikiran generasi muda, menghindarkan diri dari resiko terjerat perkara hukum. Skandal yang selalu identik dengan kepemimpinan di negeri ini dari masa ke masa memang menjadi tema yang menarik. Dahulu, orang tidak akan membahas gaya Soekarno yang sering menikah, jika saat ini dilakukan oleh presiden, atau mungkin saja gubernur, akan berbeda ceritanya. Citra pembagian kekuasaan dan kolusi kepada kroni yang dilakukan Soeharto, saat itu memang menjadi keresahan, namun saat ini sangat biasa. Ada waktunya kita sangat sensitif dengan pola birokrasi dan politik keluarga. Faktanya, hampir dua dekade setelah berhentinya Soeharto, kartel-kartel kelompok kecil terbentuk. Saling menyimpan rahasia yang menurut hitungan waktu disimpan, dilakukan fermentasi perkara, disaat waktu yang tepat, akan digunakan untuk memukul atau menyerang balik pesaingnya.

Bagaimana Memilih Pemimpin

Indonesia sedang mengalami semacam tegangan yang tinggi jika masalah Agama dan Pemimpin diperbincangkan. Namun kebanyakan kosong nilai. Sejatinya ada yang konsisten dan selalu berupaya memahami makna nilai yang universal tentang bagaimana “Agama” dan “Pemimpin” seharusnya menjiwai dan diimplementasikan dalam diri peribadi sebagai satu kesatuan yang mencakup seluruhnya. Cak Nun misalnya, jika kita pernah mengetahui tentang Maiyah atau Lingkaran Jamaah yang berkumpul dalam setiap moment bulanan atau moment khusus lainnya sedari dulu telah banyak memberikan pengetahuan tentang bagaimana “Beragama” bukan bagaimana “memiliki agama”, bagaimana “Kepemimpinan” bukan hanya bagaimana jadi “pemimpin”.

Ashabul Maiyah

“Maka kami tutup telinga mereka beberapa tahun dalam Gua itu. Bunyi, Bunyi dihasilkan oleh benda yang bergetar. Jika suatu benda bergerak atau bergetar di atas kecepatan bunyi, maka akan menghasilkan patahan gelombang. Bayangkan saja kilat, kecepatannya merambat melebihi kecepatan suara, maka suara yang dihasilkan pun amat sangat dahsyat.”

Keberkahan Warung Ketan Susu

Sekitar 6 kilometer dari Taman Ismail Marzuki, tepatnya di daerah Kemayoran, terdapat sebuah warung yang sangat sederhana. Bukan sebuah warung yang besar, bukan juga sebuah outlet franchise makanan siap saji, melainkan sebuah warung kecil dan sederhana di pinggir jalan; Ketan Susu Kemayoran. Meskipun berada di pinggir jalan, warung ini merupakan warung yang sangat legendaris dan terkenal. Adalah Pak Tasnian yang mengawali berjualan kudapan ketan ini, hingga saat ini usaha keluarga tersebut dikelola oleh 7 bersaudara dan tetap menjaga orisinalitasnya.

Guyub

Pada kultur masyarakat agraris, semangat guyub melandasi pengelolaan irigasi yang mengaliri sawah-sawah. Peluang kericuhan akibat perebutan jatah air pun bisa diredam. Saat menghadapi masa tanam dan panen, guyub menjadi tulang punggung bagi teraihnya kerjasama yang setimpal serta saling menguntungkan antar petani. Demikian pula dengan istiadat dalam masyarakat maritim. Sebelum mengarungi lautan, gabungan nelayan berembug lebih dulu untuk membahas seluk-beluk perburuan serta porsi-porsi pembagian tangkapan. Sebab hasil-hasil alam tidak diperuntukkan cuma pada kelompok tertentu saja. Kepenguasaan sepihak hanya akan membuahkan ketimpangan yang menyengsarakan. Untuk itu, monopoli sumber ekonomi harus dihindari.

Menangis Di Depan Ka’bah

Mas Toto dikenal sebagai salah satu kawan setianya Cak Nun, meski sejak lama dianggap kurang religius, sehingga sering-sering dicap sebagai Islam-Abangan, namun belakangan, akhir-akhir ini, mungkin berjalan sepuluh tahun, kehidupannya sangat religius. Acara yang diadakan di kampung kelahirannya ini sebagai bentuk berbaktinya seorang anak shaleh terhadap orang tuanya. Slametan, mengirim doa-doa kepada leluhur yang telah lama meninggal.

Kenalkan, Ini Via

Wanita itu sangat familiar. Wajahnya sering muncul di TV Nasional, baik sebagai artis penyanyi maupun sinetron. Nama lengkapnya Novia Sanganingrum Saptarea Kolopaking, pemeran Siti Nurbaya dalam sinetron serial “Siti Nurbaya” (1991) yang sangat terkenal di stasiun TVRI bersama Gusti Randa dan HIM Damsyik. Dalam sinetron Jendela Rumah Kita (1990) menjadi salah satu pemain bersama Dede Yusuf dan Desy Ratnasari; sebagai Emak dalam Keluarga Cemara (1996-2005) dan “1 Kakak Tujuh Ponakan” (1996), keduanya besutan Arswendo Atmowiloto.

Sebagai artis penyanyi, Novia telah merekam dalam bentuk album maupun single: Kembali (1992), Biar Kusimpan Rinduku, Untukmu Segalanya (1994), Dengan Menyebut Nama Allah, Aku Selalu Cinta (Single), Cinta (1999), Bunga Mawar (Single) dan Asmara (1997).

Tamu Dari Malang

Rumah Patangpuluhan menghadap ke selatan, halamannya lumayan luas, tanah berpasir tanpa pagar pembatas dengan jalan, Jl. Madubronto. Di sisi kiri dibatasi tembok terdapat lahan kosong, sering digunakan untuk parkir sepeda pancal dan sepeda motor orang-orang berbelanja di Pasar Legi; sisi sebelah kanan, gang kecil menembus rumah-rumah perkampungan di belakang.

Penabuh Gong

Di ruang tengah orang-orang sudah berkumpul. Ruangan yang tidak terlalu luas, terasa sumpek. Di atas tikar dan karpet, berderet gelas-gelas kopi dan teh, aroma nikmat dihantarkan uap panas kehirup orang-orang. Satu dua orang berebut kopi. Ternyata tehnya kurang laku. Asap rokok memenuhi langit-langit. Berserak beberapa jilid tipis draft naskah monolog.

Memang seminggu sebelumnya, Mas Toto mengetik undangan. Para penghuni rumah Patangpuluhan, dan beberapa orang yang diundang ditanyai oleh Mas Toto satu persatu. Ada hajatan besar, membentuk komunitas dan merencanakan pentas musik dan teater. Pertanyaan Mas Toto sederhana, ikut bergabung membesarkan komunitas dan rencana-rencana pentas atau tidak ikut.