From Kolom Jamaah Maiyah

Cerita Dari Sudut Dapur Kenduri Cinta

Banyak yang menganggap bahwa kami para Penggiat Kenduri Cinta adalah orang-orang “Ring 1” Emha Ainun Nadjib di Jakarta. Padahal, justru yang pertama kali dilakukan oleh “kakak-kakak” kami di Kenduri Cinta adalah untuk membuang jauh-jauh harapan “menjadi orang dekatnya Cak Nun”. Mereka ini, adalah anak-anak yang sudah sangat lega, sangat ikhlas jikalau hingga akhir acara tidak sempat bersalaman dan mencium tangan Cak Nun, guru yang mereka cintai. Menahan rindu satu bulan sekali, dan ketika bertemu, belum tentu bisa untuk sekedar mencium tangan beliau. Bagi mereka, melihat Jama’ah Kenduri Cinta bergembira malam itu adalah kepuasan yang tidak ternilai harganya. Mereka-mereka itu, pada Jum’at kedua setiap bulannya selalu ditanya oleh Jama’ah dengan sebuah pertanyaan; “Cak Nun hadir nggak malam ini?”. Pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak mengetahui jawabannya. Mereka tidak mungkin menjawab “iya”, karena memang mereka sama sekali tidak mengetahui apakah Cak Nun hadir di Kenduri Cinta atau tidak. Sementara, mereka juga tidak mungkin menjawab “tidak”, karena bisa jadi ternyata Cak Nun hadir malam itu.

Mengenal Kenduri Cinta

ULANG TAHUN sweet seventeen Kenduri Cinta pada 16 Juni 2017 kemarin merupakan momen spesial bagi Jamaah Maiyah di Jakarta dan sekitarnya, yang umumnya mereka selalu hadir pada Jum’at kedua setiap bulannya di Taman Ismail Marzuki. Bagi Jamaah Maiyah simpul Kenduri Cinta sendiri sudah merupakan kebahagiaan yang pasti saat acara kesayangan mereka dan tokoh idola mereka tentu akan lebih lama lagi menemani setiap bulannya. Sedangkan bagi Jamaah Maiyah simpul lainnya kebahagiaan timbul karena akan memperpanjang ikatan persaudaraan antar anak-anak dan cucu Simbah Emha Ainun Najib. Ulang tahun Kenduri Cinta bagi simpul lain, seperti diungkapkan Ali Fathkan dari Gambang Syafaat saat menceritakan…

Getaran Rindu Kenduri Cinta

Seorang pria berambut ikal sebahu
Dengan retorika menarik
Membuat audiens mangharu-biru
Terkesima dengan diksi-diksi sufistik

Ooo, rupanya itu Cak Nun
Bersama Gus Nuril Arifin
Dan jamaah Kenduri Cinta
Serta seorang wanita yang hendak pindah agama

Kesan tontonan pertama
Di bumi Kinanah
Membuatku “tersandera”
Cak Nun dan Jamaah Maiyah

From Beginner to be Learner

Pada rentang waktu 2012-2013, ketika Internet semakin mudah diakses, yang kemudian saya manfaatkan dari internet adalah mencari informasi sebanyak mungkin tentang “Emha Ainun Nadjib”. Tentu saja, ketika mencari informasi tentang beliau maka akan tersambung benang merah dengan KiaiKanjeng dan Maiyah. Baik itu reportase Maiyahan, tulisan-tulisan beliau di media massa, maupun yang dipublikasikan oleh beberapa JM di blog-blog mereka saat itu, yang masih sangat sedikit sekali. Berbeda dengan hari ini, arsip-arsip tulisan beliau begitu banyak dipublikasikan oleh orang di Internet. Saya mengalami masa-masa ketika saya mencari kata kunci “Cak Nun”, “Emha Ainun Nadjib” dan beberapa kata kunci lain yang berkaitan dengan beliau, tidak pernah lebih dari 10 halaman di mesin pencari Google. Sehingga informasi yang saya dapatkan tentang beliau saat itu, sangat sedikit.

Bermain-main Dengan Bayang-bayang

Pangkal tahun 2013, seorang pegiat meminta saya untuk mendesain poster-poster Kenduri Cinta. Sekian lama berkutat di ranah rancang grafis, baru kali itu saya mendapat tawaran yang nggegirisi. Sesuatu yang bikin ciut nyali. Pasalnya, Kenduri Cinta adalah perhelatan istimewa yang mengusung gagasan-gagasan besar. Forum ini sering andil dalam perubahan-perubahan besar yang terjadi di Indonesia, meski sejarah formal tak mau mengakuinya. Wahana yang jangkep, berisi kajian intelektual hingga spiritual. Bukan perkara mudah untuk menerjemahkan tematemanya ke dalam paparan visual.

Meski demikian, saya nekad menerima tugas itu. Apa boleh buat? Sebagai jamaah alien yang rutin menumpang berteduh di baris paling belakang acara itu, sungguh ora ilok jika saya menolak. Ini juga wujud terima kasih saya kepada Mbah Nun yang telah mengajari banyak hal di Kenduri Cinta. Meskipun beliau enggan disebut guru dan menampik jika wacana-wacananya disebut sebagai ajaran.

Kenduri Cinta, Kenduri Indonesia

Dari 17 tahun Perjalanan, Alhamdulillah setidaknya sudah dua kali diperjalankan-Nya turut melingkar di pelataran Plaza Taman Ismail Marzuki. Kesan-kesan heroik dari para penggiat maupun jamaah yang hadir masih tersimpan rapi di memori. Diantara pesan yang disampaikan Cak Nun pada Kenduri Cinta edisi April 2016 ialah Faltandzur nafsun ma qoddamat lighad. Cak Nun selalu mengingatkan kita untuk terus memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (akhirat).

Juga pesan dari Mas Ian L Betts yang kian terlihat nyata tentang betapa pentingnya untuk mempersiapkan diri sejak dini akan adanya zaman perubahan yang ditandai salah satunya dengan perubahan iklim yang terus meningkat dan yang paling terkena dampak adalah pertanian dan air bersih yang mungkin di beberapa wilayah sudah mengalami kekeringan. Pada 2017 ini, krisis pangan yang berakibat pada kelaparan tengah melanda beberapa Negara di Timur Laut Nigeria, Somalia, Sudan Selatan, Yaman, Irak, Suriah (termasuk para pengungsi di negara tetangga), Malawi dan Zimbabwe.

48 Jam di Kenduri Budaya Nusantara

Hajatan yang memang dirancang sedemikian rupa dengan tajuk “Kenduri Budaya Nusantara”, melibatkan beberapa simpul Maiyah untuk hadir, dan selain itu juga karena momen itulah pertama kali saya terlibat secara langsung dalam pengelolaan event besar di Kenduri Cinta. Bagi saya, “Kenduri Budaya Nusantara” inilah salah satu milestone saya secara pribadi dalam bingkai kegembiraan bersama Maiyah Nusantara.

Memang sudah menjadi sebuah tradisi di Kenduri Cinta, bahwa sebagai ungkapan rasa syukur, setiap tahunnya para penggiat begitu bersemangat dalam merumuskan sebuah event dalam rangka merayakan hari jadi Kenduri Cinta. Perhelatan itu dilaksanakan pada tanggal 9-10 Juli 2010. Ya, saat itu karena satu dan lain hal, perayaan ulang tahun Kenduri Cinta yang ke-10 dilaksanakan pada bulan Juli. Agenda besar ini dilaksanakan selama 2 hari, rangkaian acara terpusat di 2 tempat secara bersamaan, di Wisma Trisula dan Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat.

Menjadi “Orong-Orong”

Diperjalankan Allah, begitu frasa lengkapnya, mengacu pada bagaimana kehendak hati menghantarkan seseorang ke suatu tempat. Dalam hal ini saya diperjalankan ke Kenduri Cinta. Diperjalankan karena tidak ada yang mengajak saya sebelumnya ke Kenduri Cinta, dan tidak ada yang memberi informasi apapun tentang Kenduri Cinta juga Maiyah kepada saya. Diperjalankan karena tidak juga karena sebelumnya melihat video Maiyahan di YouTube.

Berawal dari mencari kata “kenduri” di mesin pencarian internet, saya menemukan laman kenduricinta.com. Memang tidak sesuai dengan apa yang awalnya saya cari. Saya kemudian membaca beberapa artikel di laman tersebut, ada beberapa kutipan Emha Ainun Nadjib, atau yang sering disebut Cak Nun. Yang bagi orang asli Bantul seperti saya, sosok Cak Nun sudah tidak asing lagi, karena Cak Nun dan KiaiKanjeng, cukup sering “didatangkan” ke desa-desa di daerah Bantul. Pertemuan online saya inilah yang kemudian mendorong saya untuk datang pertama kalinya ke Kenduri Cinta di bulan Agustus 2014 silam.

Menemukan Cinta, di Jantung Ibukota

Sampai pada akhirnya tahun 2010 lalu, saya hijrah ke Jakarta untuk bekerja mengais rupiah di belantara ibukota. Tanpa di sengaja, saya pun mendengar kabar kalau di Jakarta juga ada acara semacam Maiyah di Yogya. Acara tersebut bertajuk ; Kenduri Cinta. Ada rasa ingin tahu dalam diri saya, yaitu ingin tahu sebenarnya acara Kenduri Cinta itu seperti apa. Saya berusaha mencari tahu perihal Kenduri Cinta melalui media sosial dan akhirnya saya temukan banyak informasi tentang Kenduri Cinta. Saya pun meniatkan diri untuk datang ke acara Kenduri Cinta. Saya ingin melihat dan menyimak secara langsung hal apa saja yang akan saya dapatkan di sana. Dan sungguh di luar dugaan saya, ternyata tema yang di angkat oleh para penggiat Kenduri Cinta itu sangat menarik, narasumbernya pun sangat beragam, dari berbagai kalangan dan profesi. Ada seorang kyai, budayawan, aktivis, musisi, seniman, politisi dan tak lupa tentu Mbah Nun sebagai tokoh sentralnya.

Jatuh Cinta Dengan Kenduri Cinta

Dulu, yang memeperkenalkan saya dengan Kenduri Cinta adalah benturan masalah yang harus saya selesaikan dan harus saya jawab. Tapi jawaban itu sendiri adalah Kenduri Cinta. Pada bulan Januari 2016, pertama saya hadir di Kenduri Cinta. Waktu Tema yang tertulis di Back Droop adalah “Gerbang Wabal”. Beruntung sekali waktu saya pertama datang di acara Kenduri Cinta , turut hadir juga Bapak-bapak KiaiKanjeng. Saya berangkat dari Tangerang pada waktu sehabis Maghrib. Sesampainya di Taman Ismail Marzuki dimana acara Kenduri Cinta diselenggarakan ba’da Isya’. Saya memarkir motor lalu setelah memarkirkan motor, saya memilih tempat duduk di barisan paling depan. Sungguh rasanya seperti mendapat tempat VIP, baru pertama kali datang ke Kenduri Cinta, langsung dapat tempat duduk di barisan paling depan.