From Kolom Jamaah Maiyah

Maksud Sabrang Gimana?

Saya sendiri banyak berusaha mencerna apa yang disampaikan. Suara lembutnya dalam bertutur kata, bertalu-talu dalam telinga saya. Seperti nyanyian lagu Ruang Rindu. Tapi jujur dari banyak yang disampaikan lebih banyak masuk kuping kanan keluar kuping kiri, tidak nyanthol sama sekali, atau tidak dong blas. Alih-alih diri ini sering mengantuk mendengar Sabrang berucap. Sepurane Gus.

Limang Taun Juguran

Di tengah masyarakat pedesaan yang mulai kehilangan karakter desanya, karakter masyarakat kota yang cenderung menuntut ketimbang memberi sudah terkontaminasi dan susah untuk dihindari. Gaya hidup individualis semakin marak dan mengikis budaya hidup srawung bebrayan urip. Kenyataan ini-pun terjadi di wilayah Karsidenan Banyumas tempat dimana Forum Maiyah Juguran Syafat lahir lima tahun lalu. Di saat kultur budaya Cablaka khas Wong Banyumas sudah mulai memudar, otomatis dengan adanya Juguran Syafaat budaya Cablaka dapat terpelihara dengan cara-cara juguran ini.

Ikhtiar Mulia Juguran Syafaat

Kesungguhan Juguran Syafaat berproses dalam 5 tahun ini sebenarnya membuat saya penasaran. Mau apa sebenarnya Juguran Syafaat ini? 5 tahun mereka istiqomah menyelenggarakan forum majelis ilmu di sudut kota Purwokerto. Sempat beberapa kali berpindah lokasi pelaksanaan karena satu dan lain hal, tidak lantas kemudian menyurutkan kesetiaan mereka dalam berproses.

Tiupan Seruling Yang Menyentuh Hati

Semula di KiaiKanjeng tak ada tiupan sulingnya. Kebutuhan bunyi-bunyian suling bambu diganti dengan flute, sama-sama alat musik tiup yang terbuat dari logam atau kayu. Namun, kebutuhan musikal KiaiKanjeng untuk lagu-lagu bergenre arabic dan melayu  menjadikan alat musik tiup suling menjadi penting, karena alat tiup flute tidak mampu secara maksimal memenuhi kebutuhan itu. Adalah Pak Toto Rahardjo yang “menemukan” Pak Is di helatan perunjukan-pertunjukan musik dangdut di Yogyakarta. Pak Toto “menyodorkan” kehebatan Pak Is ke hadapan kawan-kawan personil KiaiKanjeng, lalu diajak ke beberapa acara, sehingga akhirnya menjadi pemusik tetap di KiaiKanjeng.

Hari dan Angka Istimewa Untuk Sang Legenda

Mas Yon ditakdirkan menghadap Allah pada usia 77 tahun. 7 (tujuh), dalam bahasa Jawa disebut “Pitu”. Dan Pitu itu memiliki beberapa arti dan filosofi. Bersebab Mas Yon “dipundhut” pada usia 77 (tujuh-tujuh) alias pitu-pitu, maka pitu yang pertama dapat diartikan sebagai Pitutur. Pitutur adalah nasihat, petuah, wejangan, ular-ular, suatu ajaran kebaikan. Dan ini sangat relevan dengan seluruh kehidupan mas Yon Koeswoyo. Bagaimana tidak, hampir seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk memberikan nasehat, pesan moral, pijakan, norma hidup, kepada seluruh anak-cucu bangsa Indonesia melalui lagu-lagunya. Apa yang tidak bernyawa dan bermakna dari lagu Koes Plus. Semua yang dikaryakan mas Yon dan saudaranya memuat petuah bijak yang migunani, bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan kita semua. Ya sebagai hiburan, pembelajaran, ajakan, pengingat, alat mencari nafkah, bahan skripsi, perekat silaturahmi, kritik, perjuangan, doa-doa dan lain-lain.

Menakar Diri di Maiyah

Di Maiyah kita sudah pernah belajar mengenai sudut pandang, sisi pandang, jarak pandang, cara pandang, perspektif pandang, hingga resolusi pandang. Melakukan pelatihan dan pembelajaran berpikir linier, zigzag hingga spiral dan siklikal. Selalu bertabayyun dalam setiap kondisi yang terjadi, dan tidak salah meletakkan maqom berfikir. Sebagai contoh, kita tidak bisa mendahulukan tafsir daripada tadabbur. Kita tidak bisa mendahulukan nilai-nilai di buku terlaris, sebelum mendapatkan informasi yang menyeluruh dari Al-Qur’an, dan lain sebagainya. Kita paham arti kebenaran, tetapi mengesampingkan kebaikan dan keindahan. Dan yang paling penting dari bersikap terhadap sesuatu hal adalah, asalkan informasi yang kita dapatkan itu membuat kita semakin bijaksana, baik, santun, maka informasi itu bisa kita telateni dengan benar.

Sulitnya “Mendhem jero” di Zaman Now

Nabi Muhammad saw meminta kita untuk tidak mencela orang yang sudah meninggal dan memberikan pujian kepadanya. Mikul duwur mendhem jero, maka kuburkanlah dalam-dalam aib saudaramu sesama manusia, seperti saat mengubur mayit, dan angkatlah prestasi saudaramu sesama manusia sebagaiman saat memanggul mayit menuju kuburan. Sayangnya, era saat ini, zaman now, mess-age (zaman kacau), zaman edan, zaman dimana sedang dipertontonkan kepada kita hal yang sebaliknya. Menyebar aib orang seenak wudhel, yang wudhel saja baunya sering tidak enak. Mengumbar aib untuk menjatuhkan orang, dan menyembunyikan prestasi-prestasi orang, atau minimal menafikannya.

Kebaikan Maiyah

Di Maiyah kita selalu diajarkan untuk melakukan 3 kebaikan secara terus menerus, yaitu menanam, puasa, dan sedekah. Kapanpun, dimanapun, dan sebanyak-banyaknya. 3 Kebaikan utama yang selalu istiqomah kita lakukan pasti akan membuahkan hasil yang bisa kita tandur. Tetapi Maiyah juga mengajarkan nandur itu juga harus berhati-hati. Tidak serta merta semua buah kita tandur semua, atau bahkan kita tidak nandur buah itu sama sekali. Ada kondisi pener yang menjadi syarat bagaimana kita bisa nandur buah-buah tersebut. Itu menurut saya sikap dasar Maiyah.

Kutemukan Jawaban di Maiyah

Cak Nun mentadabburi kalimat Bismillahirrohmanirrohiiim. Bismillahirrohmanirrohim itu terdiri dari Bismillahi, Roh, Mani, Rohim. sebelum roh, ada perjanjian “Alastu bi rabbikum, bukankah Aku Tuhanmu?” Setelah roh sepakat, “Ya saya bersaksi, Kamu lah pengayomku”. Baru kemudian ditiupkan roh itu ke Mani, dan ditempelkan kepada Rohim (Rahim). Allah lah yang mengajari kita jauh sebelum Ibu kita mengajari kita. menurut Cak Nun, Tadabbur itu berbeda dengan Tafsir “Kalau Tadabbur, salah tidak apa-apa asal hasilnya baik, dan Allah menyuruhnya Tadabbur bukan tafsir, Afala yatadabbarunal Qur`an “. Tadabbur itu dari kata Dubur (jalan belakang), yang penting itu outputnya, yang dikeluarkan dari duburmu itu baik.

Pemimpin, Pemerintah, dan Pengusaha

“Wahai Bagaspati, tak perlu engkau begitu menghamba padaku. Kalau bukan karena Prabu Salya melepas Candabirawa, sebenarnya aku sungkan untuk mengganggu istirahatmu.” Senyum Yudistira sangat menentramkan meski ditengah perang. Bagi Bagaspati yang sedang bersimpuh dihadapan tuannya, langsung mengerti apa yang sedang dibutuhkan oleh pemimpin yang dicintai meski tanpa diminta. “Mohon diri Pepundenku” Bagaspati langsung beranjak untuk menghampiri Prabu Salya yang masih berdiri tegap di kejauhan. Seperti sebuah magnet yang digerakan di tebaran pasir bijih besi, Bagaspati diserbu oleh ratusan ribu Candabirawa dari berbagai penjuru Kurusetra. Bukan dalam rangka penyerangan, namun lebih seperti anak-anak ayam yang berlarian karena dipanggil induknya. Ya, Candabirawa tidak lain adalah anak-anak keturunan dari Bagaspati dari sebuah kejadian proses regenerasi cara-cara siluman yang ganjil.