From Kolom Jamaah Maiyah

Tarian Rembulan di Langit Taman Ismail Marzuki

Sudah banyak orang yang menganggap Kenduri Cinta sebagai oase di ibukota. Saya tidak tahu apakah ungkapan tersebut berlebihan atau tidak, toh penilaian orang bisa saja berbeda, dan kita juga tidak berhak memaksa orang untuk menyamakan pendapatnya dengan apa yang kita yakini. Entah apa yang mereka maksud dengan “oase”?

Wasilah Silaturahmi Bernama Reboan

Bergaul bersama di forum Reboan membuat saya mempelajari makna dari sebutan perantaran lainnya, yakni wasilah. Sesuatu yang dapat membawa dekat kepada Pencipta dapat disebut wasilah. Kumpulan orang yang dekat dengan Tuhan dapat menjadi wasilah agar saya dapat ikut semakin dekat denganNya. Ibadah dan amal kebaikan juga dapat menjadi wasilah kepadaNya. Sehingga bersyukur adalah tindakan yang wajib saya lakukan, ketika bisa mulai menjadi akrab dengan kawan-kawan penggiat Kenduri Cinta.

Maiyah, Kenduri Cinta dan Popularitas

Ribuan orang telah datang di forum ini. Ada yang rutin datang setiap bulan, ada yang datang sesekali, ada yang hanya sekali datang kemudian tidak datang lagi, ada juga yang hanya menikmati forum ini dari kejauhan, melalui dunia maya. Lihatlah betapa ramainya forum ini pada setiap gelarannya. Di area parkir Taman Ismail Marzuki, orang duduk berkumpul bersama, sejak selepas isya’ hingga menjelang subuh.

Seng Nandur Pari, Ora Bakal Panen Alang-Alang

Rasa syukur yang besar karena kita diberikan anugerah yang besar ini, didalam iklim dan suasana disekitar yang saat ini yang baik secara berlangsung maupun tidak langsung acapkali menambah beban pikiran, tekanan mental, menaikkan emosi dan menimbulkan stres yang mempengaruhi kejernihan pikiran dan ketenangan batin kita, Allah masih menganugerahkan kenduri cinta kepada kita untuk terus menanam kebaikan, kebahagiaan dan bersedekah dalam berbagai skala dan dimensi kehidupan.

Hari Raya Kenduri Cinta

Tak ubahnya berpuasa, yang hakekat artinya adalah menahan diri. Hidup di Jakarta itu keras. Kata orang, ibukota lebih kejam daripada ibu tiri. Waktu yang menggilas kehidupan. Kemacetan sepanjang jalan. Wajah-wajah angker di tengah kota. Persaingan kanan kiri, gesek sana, dorong sini. Gaya hidup individualis. Memaksa kita sedikit tidak menjadi manusia. Melupakan diri dari yang sejati. Disitulah, kita butuh hari raya.

Gembira Dalam Cinta

Di usia beliau saat ini yang sudah kepala enam, ketekunan dan istiqomahnya tidak pernah berubah. Tetap konsisten menemani dan ngemong cucu-cucunya hampir setiap malam hingga menjelang subuh, di berbagai tempat. Sering saya berdialog dengan pikiran saya sendiri. Rasanya malu di usia saya saat ini yang masih sangat produktif, tapi kenapa justru sering sekali mengeluh? Sedangkan Mbah Nun sedikit pun tak pernah merasa lelah, padahal beliau hampir setiap malam nge-ronda ke berbagai daerah. Menggembirakan semua yang hadir saat itu, tak jarang sampai larut dalam tawa juga tetesan air mata.

Sepenggal Kisah Seorang Remaja Istimewa

“Saya tertarik dengan cara bicara Mbah Nun yang selalu menggunakan kalimat-kalimat baku, yang membuat kita berimajinasi dan memaksa kita mencari makna yang sesungguhnya. Saya punya teman orang Bekasi namanya Mas Surono, asli Wonogiri. Dari beliau saya tahu info-info tentang Mbah Nun, termasuk alamat Rumah Maiyah di Kadipiro”, ia menjelaskan padaku.

Mempelajari Esensi Cinta

Bahkan Allah juga mengatakan “Wahai hambaku, jika engkau mencintaiKu maka ikutilah Muhammad”, Apa dasar dan pondasi yang lebih kuat dari cinta? Malam itu berdekatan dengan peringatan lahirnya Muhammad bin Abdullah yang kelak akan menjadi Rasul terakhir, Rasul penutup, dan Rasul untuk semesta alam, maka pembahasan berikutnya juga mengenai cinta kita ummatnya kepada Rasulullah. Dari perkataan Allah yang demikian menggambarkan situasi yang sangat mudah kita cerna dan pahami, walau dalam prakteknya, tidak mudah mencintai seseorang, dan mencintai tentu butuh waktu.

Keseimbangan di Zaman Gumunan dan Getunan

Kalau dalam istilah jawa; “Wong Jowo Ilang Jawane”. Bisa dihitung dengan jari, berapa banyak generasi muda yang masih menyukai dan bangga akan kebudayaan asli daerahnya. Misal wayang kulit, tari jaipong, atau lenong Betawi. Tapi kenyataanya justru lebih bangga dengan musik K-Pop atau film-film buatan Hollywood. Yang di dalamanya tidak ada tuntunan, hanya tontonan semata. Sungguh sangat miris.

Sinau Bareng Melatih Kerendahan Hati

Dalam beberapa kali Sinau Bareng Maiyahan, Mbah Nun sering menjelaskan bahwa kebenaran itu ada beberapa macam jenis, yaitu: Benarnya Sendiri/Kebenaran Personal (Benere Dhewe), Benarnya Orang Banyak/Kebenaran Komunal (Benere Wong Akeh), dan Benar Yang Sejati (Bener Kang Sejati). Benar yang sejati adalah bernilai hakiki dan paling tinggi kualitasnya karena Kebenaran yang Sejati adalah Kebenaran dari Tuhan. Kita hanya bisa menafsirkan, mencoba, meraba, mencoba menemukan kebenaran, karena sekali lagi, bahwa kebenaran bukan dari kita melainkan dari Tuhan.