From Kolom Emha Ainun Nadjib

Idul Fitri: Kemenangan Personal di “Tengah Kekalahan Struktural”

Pada dimensi intelektual, fitri adalah kematangan dan kemengendapan. Dengan menyaring ucapan dan ekspresi perilaku dalam puasa, dengan tradisi iktikaf yang melatih telinga batin untuk mendengarkan suara-suara yang dalam situasi-situasi normal tidak begitu terdengar, mekanisme akal manusia akan mengalami sublimasi ke dasar ilmu sejati. Ini bukan masalah ‘kebatinan’. Ilmu sejati adalah pengetahuan jernih yang membedakan antara pengetahuan yang berkualitas buih-buih dan pengetahuan yang berkualitas jernih. Antara pengetahuan yang memang membuat pemegangnya menjadi tahu, dan pengetahuan yang sia-sia, yang tidak boleh tidak ada karena ketiadaannya tidak merugikan dan keberadaannya tidak menguntungkan atau memberi hikmah.

Idul Fitri: Titik Sublim Psikologis

Ada berbagai pendekatan Qur’ani untuk memahami jarak antara puasa dan Idul Fitri. Kita bisa memilih satu dua sudut atau sisi pandang, bisa juga dengan “pendekatan melingkar”. Semacam kemenyeluruhan atau totalitas. Atau yang Qur’an sendiri menyebutkan kaffah.

Kita mungkin bisa berangkat dari salah satu paham bahwa perubahan atau pengubahan yang dilakukan dengan metode laku puasa itu merupakan proses peragian: semacam mengubah ketela menjadi tape. Menaklukan gumpalan menjadi cairan. Mentransformasikan dan mentranssubstansikan badan (jisim) menjadi energi (quwwah) dan akhirnya menjadi cahaya (nur).

Rohani Iman dan Jasmani Iman

Rohani atau iman adalah kondisi internal kepribadianmu. Jasmani atau ihsan adalah peran dan integritasmu di tengah lingkungan kehidupan. Kedewasaan keislaman dan kepribadian kita adalah tatkala keteguhan imanmu memperkukuh dan memperluas manfaat sosial kehadiranmu, serta ketika keterlibatan sosialmu juga sekaligus dan memperjernih imanmu. Keduanya bersifat simbiosis mutualistik. Keduanya saling menumbuhkan, saling menggali manfaat.

Mudik, Tawaf, dan “Ilaihi Raji’un”

Lihatlah budaya Lebaran kita. Pandanglah mobilisasi Idul Fitri kita. Saksikanlah kita menghiasi penemuan rohani dan rumbai-rumbai jasmani. Tataplah jutaan orang mengalir, memenuhi kendaraan antarkota, berduyun-duyun mendatangi kembali sumber sejarahnya.

Orang mudik itu mangayubagya sumber hidupnya. Mendatangi kembali sangkan hidupnya yang sekaligus merupakan paran hidupnya. Kampung halaman, keluarga, bapak ibu, kakek nenek, kesadaran rahim ibu, dan kelahiran mereka di dunia sampai pada akhirnya sesudah proses mudik geologis-historis ini, rohani mereka meneruskan perjalanan itu ke mudik teologis. Yakni, kesadaran dan keridaan bahwa kita semua ini berasal dari Allah dan sedang menepuh perjalanan kembali kepada Allah juga, karena tidak ada tempat lain untuk kembali.

Ramadhan Sepanjang Zaman

Shalat dalam satuan-satuan waktu kecil memungkinkan kita menemukan diri kembali sesudah ‘hilang’ dalam mesin, sesudah direduksi menjadi alat-alat, sesudah didustai oleh banyak hal yang tak sejati. Shalat bukan sekedar mengembalikan diri kita, tapi bisa juga melahirkan diri yang baru yang lebih baik

Puasa sepanjang Ramadhan adalah “shalat” yang lebih dalam, lebih ‘menyiksa’, lebih intensif, lebih panjang, lebih radikal dan frontal. Puasa menyerap kita ke dalam kesejatian dan menghasilkan pandangan dari situasi fitri diri. Dengan menyadari pararel makna puasa dengan shalat, kemudian dengan memahami bahwa puasa bisa diperluas maknanya menjadi bukan hanya tidak makan dan tidak minum, melainkan juga menahan diri dalam segala konteks, tidak aman untuk tidak menikmati sesuatu yang nikmat dalam berbagai bidang kehidupan, dari soal pakaian, kekayaan, sampai kedudukan sosial dan kekuasaan sejarah—maka kita mulai bisa membayangkan apa yang dimaksud Ramadhan sepanjang zaman.

Siapkan Self Receiver untuk Lailatul-Qadar (III)

Jadi, Lailatul-Qadar itu sebuah luxury. Suatu momentum amat sangat istimewa, yang kalau manusia sanggup menyentuhkan diri padanya, maka pengalaman dan perolehan sesaatnya itu akan mengatasi kualitas pengalamnnya dalam seribu bulan.

Tanazzalu-l-malaaikatu wa-r-ruuhu fiiha. Turun secara bergelombang, secara berduyun-duyun, berbondong-bondong para malaikat yang dipimpin Sang Ruh, yakni Paduka Jibril. “Tim lengkap” malaaikatullah itu diizinkan Allah untuk bekerja bersama-sama dan beramai-ramai dalam kesunyian dunia demi suatu perahmatan massal jika kaum Muslimim memahaminya dan mengerti bagaimana menyongsongnya.

Siapkan Self Receiver untuk Lailatul-Qadar (II)

Bagiku adalah sejenis Lailatul-Qadar juga kalau sampai ada yang bertanya kepadaku apa itu Lailatul-Qadar. Suatu penghormatan yang luar biasa bahwa aku dijadikan sumber pengetahuan mengenai hal-hal yang si penanya tidak tahu atau merasa tidak tahu. Mungkin, mereka menganggap aku ini akrab dengan Lailatul-Qadar. Dan itu keliru. Alhamdulillah, aku tidak percaya bahwa mereka bertanya kepada orang yang tepat. Mereka salah sangka kepadaku.

Aku bukan “Ahli Lailatul-Qadar” (al-ahl al lailah al-qadr). Aku sama dengan semua mereka yang bertanya kepadaku. Aku masih pada taraf merindukan, penasaran, dan mencari pengetahuan dan pengalaman Lailatul-Qadar. Bahkan, mungkin mereka berada di depanku dalam hal kualitas untuk “antre” mendapatkan Lailatul-Qadar.

Siapkan Self Receiver untuk Lailatul-Qadar (I)

Malam Qadar senantiasa menjadi tumpuan harapan setiap muslim. Harapan apa? Mungkin, harapan-harapan untuk mendapatkan kemuliaan di sisi Allah. Mungkin harapan untuk memperoleh pahala. Mungkin, kemesraan khusus dengan Sang Khaliq. Atau mungkin harapan yang lebih sederhana: rezeki, dunia, kekayaan, sukses hidup, jodoh, terbayarnya utang, terbebaskannya dari kesulitan yang panjang dan bertele-tele, atau apa pun. Lailatul-Qadar merangsang rasa penasaran abadi. Tapi sekaligus ia sangat misterius. Sangat jarang terdengar bahwa seseorang di antara kita melaporkan ke saudara-saudaranya bahwa ia telah dimurahi Allah mendapatkan himah Lailatul-Qadar.

Ibadah “Khusus untuk-Ku”

Allah Maha Agung dan tidak membutuhkan apa-apa dari kekerdilan kita. Allah Maha Besar dan tidak memerlukan manfaat apapun dari kelemahan kita. Allah Maha Tak Terhingga dan sama sekali tidak memiliki ketergantungan apapun kepada ketololan kita.

Manusia hendaknya tahu diri, belajar ber-tawadhlu’, dan mencoba mengenali rahasia-rahasia firman-Nya, atau yang kalau memakai bahasa keduniaan manusia mengenali retorika dan diplomasi-Nya. Jangan sekali-sekali kita terjebak dalam kedunguan dan membayangkan Allah memiliki kepentingan atas kehidupan dan segala pekerjaan kita. Allahu Akbar, Allah Maha Besar, dan oleh karena itu walillahi-l-hamdu, hanya bagi-Nya segala puji.

Puasa dan Kesenangan (IV)

Adapun puasa melatihmu untuk bermental pejuang. Pada dasarnya secara alamiah menyenangi kenyang, makan, dan minum, tapi engkau tidak diperkenankan menikmatinya dari subuh hingga maghrib.

Karena apa? Pertama, karena dalam hidup ini ada yang lebih sejati sebagai nilai dibanding senang atau tidak senang. Ialah baik dan harus atau wajib. Engkau melakukan sesuatu tidak terutama karena engkau senang, tetapi karena hal itu baik, sehingga wajib engkau lakukan. Jadi, kedewasaan dan kematangan kepribadian dalam Islam adalah kesanggupan untuk menjalani hidup ini tidak terutama berdasarkan senang atau tidak senang, tetapi berdasarkan baik atau tidak baik, wajib atau tidak wajib. Kedua, karena engkau adalah khalifatullah, karena engkau adalah makhluk sosial, maka yang dibutuhkan darimu terutama adalah daya juang untuk sesama manusia. Apakah engkau senang membagi-bagikan uang hasil jerih payah kerjamu? Apakah engkau senang menolong orang lain yang menderita dan memerlukan pengorbananmu? Apakah engkau senang membela orang tertindas?