From Kolom Emha Ainun Nadjib

Ummat Islam Indonesia Dijadikan Gelandangan Di Negerinya Sendiri

Sukar saya hindari penglihatan bahwa yang paling sengsara di antara bangsa dan rakyat Indonesia adalah Ummat Islam, karena mereka didera dua penjajahan. Di samping ada paket penguasaan atas NKRI, terdapat juga disain untuk mendevaliditasi Islam di kalangan pemeluknya. Ini berposisi sebagai cara atau strategi penguasaan NKRI, maupun sebagai tujuan itu sendiri untuk memaksimalkan deIslamisasi kehidupan bangsa Indonesia. NKRI tidak boleh menjadi Negara Islam, artinya boleh menjadi Negara Agama selain Islam.

Hampir selama 40 tahun, intensif 20-an tahun belakangan, saya keliling jumpa rakyat rata-rata 10.000 orang perminggu, untuk ikut memelihara keIndonesia, keutuhan NKRI, persatuan dan kesatuan antar golongan apapun yang dinding-dindingnya mungkin etnik, agama, parpol, madzhab, aliran, muara-muara kepentingan, segmen-segmen dan level. Agenda saya adalah membesarkan hati mereka, merabuki optimisme penghidupan dan keyakinan akan masa depan mereka. Kalau orang bilang pluralisme, mereka saya himpun dan ayomi sebagai semacam keindahan orkestrasi. Kalau disebut toleransi, saya carikan formula, aransemen, modulasi sosial untuk puzzling dan saling paham atas batas-batas di tengah kemerdekaan.

Idul Fitri: “Sungkem” Ke Pangkuan “Ibu Quran”

Kita bisa mengasosiasikan arti Idul Fitri secara sederhana. Id itu ‘kembali’. Fitri itu ‘fitrah’. Asli. Orisinil. Bayi. Bayi itu “telanjang”, tidak banyak embel-embel. Tidak rewel dan penuh pamrih oleh tetek bengek sebagaimana orang dewasa. Bayi itu masih alam, belum budaya. Mengidulfitri, kembali mengalami. Tidak lantas berarti “undur-budaya“, melainkan menanggalkan—minimal pada level kesadaran dan sikap—setiap anasir budaya yang tidak relevan atau terutama yang destruktif terhadap kemurnian alam.

Idul fitri itu retrospeksi total. Kalau bayi tertawa, nature-nya, keasliannya yang tertawa, sehingga seakan-akan Tuhan itu sendiri yang tertawa. Sebab, siapa lagi, selain Dia, yang asli sejati dalam arti yang sebenar-benarnya?

Diri Penuh Allah

Kalau Puasa itu sebuah tempat dan Allah mengatakan “Puasa itu untukKu”, maka tempat itu dipenuhi oleh Allah. Dan apakah gerangan, atau siapakah gerangan tempat puasa itu? Tidak ada lain adalah orang yang sedang berpuasa. Orang yang sedang berpuasa itu merupakan satu wadah dimana Allah memenuhinya.

Puasa Tattaqun

Ujungnya orang berpuasa, atau targetnya, atau produknya orang yang berpuasa, atau orang yang melakukan suatu sistem suatu strategi batin suatu cara untuk menggelola sesuatu yang disebut puasa, itu ujungnya adalah taqwa. Ujungnya adalah anda yang berpuasa menjadi, memiliki, keadaan taqwa. Anda adalah manusia yang berkeadaan taqwa, yang berkondisi taqwa, tapi la’alakum, artinya la’alakum itu ‘mudah-mudahan’ engkau menjadi bertaqwa. ‘Mudah-mudahan’ inilah kehidupan, ‘mudah-mudahan’ inilah yang menjadi tugas manusia, tetapi terus dibimbing oleh Tuhan sehingga engkau sendirilah yang membuat dirimu nanti akan bertaqwa atau tidak, salah satu caranya adalah dengan metode puasa. La’alakum tattaqun, dengan puasa kita punya harapan dan kans untuk menjadi berkeadaan taqwa.

Puasa dan Sel-sel Tubuh

Ketakjuban terhadap syariat puasa. Salah satu poinnya adalah badan itu kalau kita laparkan asal jangan sampai kelaparan, badan itu kalau kita laparkan, kita biarkan dia mengalami penderitaan sampai kadar tertentu yang terukur, maka yang terjadi adalah, sel-sel jasad kita, sel-sel badan atau tubuh kita, melakukan penguatan diri.

Puasa dan Kependekaran

Kita semua pasti pernah mendengar kata pendekar, atau kependekaran itu berasal dari dunia persilatan, dunia bela diri, dunia gerak badan, dunia pengolahan jasad, tapi juga terkait dialektis dengan pengolahan batin. Tanda seorang pendekar adalah bahwa dia menguasai bagaimana kaki,tangan dan seluruh anggota badan pada momentum yang diperlukan. Pendekar adalah orang yang mengerti batas-batas. Miringnya seberapa, tegaknya seberapa, kapan dia tegak, kapan sebuah tangan dilemparkan, kapan kaki dikokohkan dan lain sebagainya. Itu semua adalah disiplin puasa.

Puasa Para Amanu

Puasa para amanu, amanu itu dari kata aamana – yu’minu, pada posisi tertentu dari tenses-nya maka dia disebut amanu, yaitu orang-orang yang beriman. Ini dikhususkan oleh Allah untuk menjadi objek dari perintah puasa, jadi Allah tidak memerintahkan kepada semua manusia, dalam arti ilmu. Tidak memerintahkan kepada kategori-kategori yang lain, tidak yaa ayyuhaladzina aslamu, yaa ayyuhaladzina jahadu dan seterusnya, tapi yaa ayyuhaladzina amanu.

Ahli Puasa

Kata ahli bisa anda ambil dari pengertian bahasa Indonesia, yaitu pakar, keahlian, kesanggupan tingkat tinggi terhadap sesuatu hal. Atau ahli dari kata aslinya yaitu dari bahasa Arab, ahli itu artinya host, tuan rumah. Jadi kalau anda ahli puasa itu artinya anda adalah tuan rumah puasa. Didalam diri anda itu ada puasa dan anda tuan rumahnya. Atau puasa adalah rumah anda, itu timbal balik rohaniah yang bisa terjadi kapan saja. Yang saya maksud ahli puasa, diluar atau diatas ilmu bahasa adalah orang yang telah memiliki pengalaman yang mencukupi untuk memenuhi syarat kriteria dari keimanan atau kemukminan.

Puasa Sehari-hari

Puasa sehari-hari yang saya maksud adalah puasa yang kita ambil dari wacana puasa resmi didalam syariat tetapi kita kembangkan dengan kreatifitas, dengan ilmu, dengan inisiatif-inisiatif untuk menemukan makna puasa didalam kehidupan yang nyata. Karena pastilah puasa ramadlan itu hanya training dari Allah SWT agar supaya kita menemukan puasa yang sesungguhnya, puasa yang riil, puasa yang sejati, baik didalam kehidupan pribadi kita maupun barangkali puasa-puasa didalam sistem sosial, puasa-puasa didalam strategi kemasyarakatan, didalam aturan-aturan kenegaraan. Karena disitu banyak sekali unsur-unsur puasa.

Kecemasan Ramadlan

Sesungguhnya bulan ramadlan adalah bulan yang sudah disetup oleh jiwa manusia yang memiliki keseimbangan dan kecerahan batin, mental, intelektual dan spiritual sebagai bulan yang sangat membahagiakan, bulan yang sangat ngangeni, bulan yang sangat memiliki janji-janji pencerahan terhadap batin dan seluruh kehidupan kita. Tetapi kita gagal untuk membangun bulan ramadlan yang cerah seperti itu.

Yang kita alami adalah ramadlan yang sangat mencemaskan, ramadlan dimana konsumsi makanan jauh lebih tinggi daripada bukan ramadlan, ramadlan dimana tingkat kemunafikan jauh lebih tinggi daripada diluar bulan ramadlan, ramadlan dimana kepura-puraan, hipokrisi, budaya lamis, akting, pura-pura alim dan berbagai macam yang lainnya dari kecenderungan-kecenderungan didalam kehidupan manusia didalam bulan ramadlan yang saya pribadi selalu sangat cemas begitu memasuki ramadlan.