From Kolom Emha Ainun Nadjib

Antara Kambing dengan “Kambing”

Dari mana Allah kulakan bahan untuk membuat manusia dan alam, juga jin, setan, dan malaikat, kalau tidak dari diri-Nya sendiri? Tidak ada apa-apa selain Allah, karena memang hanya Allah yang memiliki kepastian untuk ada. Yang lainnya, kita-kita semua ini, tidak pernah ada, melainkan sekadar diadakan alias diselenggarakan. Kita semua, juga gunung dan burung-burung, adalah penjelmaan Allah di muka bumi, melalui konsep dan konfigurasi budaya yang diizinkan-Nya. Apalagi Ibrahim, Ismail, Musa, Isa, dan Muhammad. Dari mana asal nasi kalau tak dari padi? Dari mana asalnya kita kalau tak dari Tuhan?

Idul Fitri, “Mandi Besar” Manusia dan Kebudayaan

Idul Fitri berarti telah tibanya suatu “perjalanan kembali” dari kondisi tidak fitri menjadi fitri. Dari palsu menjadi sejati. Perjalanan itu sudah pasti harus melibatkan seluruh dimensi hidup pelakunya. Ya, spiritualitasnya, ya intelektualitasnya, ya moralitasnya, ya estetika-nya, ya pergaulan sosialnya, ya keterlibatan seluruh kesejarahannya. Perjalanan kembali itu, seperti kita ketahui bersama, ditempuh dengan metode puasa.

Kepantasan Untuk Dimaafkan

Memang Allah amatlah mencintai hamba-hamba-Nya. Bacalah firman-firman-Nya. Terkadang Ia tampak begitu bersusahpayah berusaha meyakinkan agar manusia mempercayai-Nya. Di saat lain Ia seolah-olah murka karena Ia tak dinomorsatukan, melainkan dipersekutukan dengan benda-benda dan nilai-nilai yang remeh dan sepele, sehingga seandainya Ia adalah manusia, maka akan tumbuh rasa cemburu dan sakit hati yang mendalam.

Mengenang Estetika Takbiran

APA YANG tersisa dari suasana Idul Fitri pada diri Anda? Kenangan kebahagiaan bersama keluarga? Capek dan absurdnya perjalanan mudik yang tahun ini benar-benar dahsyat?  

Pada saya, yang terngiang-ngiang selalu sehabis Lebaran adalah suara-suara takbiran masal. Baik di masjid kita masing-masing, di jalanan, di teve, atau mungkin takbir dalam film The Messenger yang disuarakan secara sangat sederhana.  

Setan Diborgol, Mestinya Kita Juga

Puasa itu artinya kita berhak melakukan sesuatu tapi tak melakukannya. Berhak mendapatkan, mengenyam, menikmati, tapi sengaja dan sadar menolaknya, pada batas waktu dan konteks tertentu. Berhak atas makanan, minuman, peluang, jabatan, akses, popularitas, modal, atau apa pun saja, namun dengan pertimbangan dan perhitungan tertentu, semua itu tidak diambil.

“Mengendarai” Al-Qur`an, Melintasi Tujuh Langit

Orang melakukan shalat seperti pegawai yang menandatangani buku presensi, seperti serdadu berbaris, atau seperti konsumen yang membayar kredit untuk memperoleh “komoditi” yang bernama surga. Sikap orang-orang bersembahyang terhadap Tuhan sangat kapitalistik. Sedemikian rupa ‘maniak’ pahala dalam arti ekonomis ini—sehingga yang mereka Tuhankan bukanlah Tuhan itu sendiri melainkan pahala atau laba.

The Night of A Thousand Months

Malam yang tak terbandingkan. Malam yang hanya bisa dibayangkan sebagai lebih baik daripada malam-malam seribu bulan. Khiarun min alfi syahr. Malam ketika para malaikat yang cantic turun menaburi langit dan merasuki galaksi jiwa kita yang telah dibersihkan oleh lapar dahaga Ramadan.

Tingkat-tingkat Kesucian

Ketika shalat kita diharuskan berpakaian menutupi aurat: dan bukan karena aurat kita tidak suci. Tapi karena kita dididik oleh Allah untuk menggapai kesucian religius. Dan untuk itu diperkenalkan kepada kita konsep najis dalam konteks ibadah.

Bulan Tidak Suci

Apakah bulan yang selain Ramadhan boleh kita sebut bulan tidak suci? Apakah Syawal bukan bulan suci, padahal padanya justru para pelaku puasa yang sukses mencapai kesucian atau kefitrihannya kembali? Apakah bulan tatkala Rasulullah dilahirkan ke dunia bukan bulan suci? 

Ibadah Rahasia

Kalau orang pergi ke masjid dan menjalankan gerak gerik tertentu, kita tahu bahwa ia bersembahyang. Tapi kalau orang makan sahur dan sorenya makan saat maghrib, itu tidak pasti merupakan pertanda bahwa ia berpuasa.