From Reportase Kenduri Cinta

Literasi Utama

GURU-GURU PERADABAN

Judul Guru-guru Peradaban dipilih agar jamaah Maiyah memiliki kemandirian dan kedaulatan, sehingga mampu menjawab persoalan hidup dan zaman. Pendidikan adalah keadaan dimana murid belajar bukan guru mengajari. Tugas guru adalah membimbing murid untuk menemukan ilmu yang dipendarkan oleh Allah. Murid akhirnya menjadi mandiri dan memiliki kedaulatan untuk menemukan ilmu.

MEMBACA AMSAL

Ilmu itu menemukan perbedaan, sedang kebijaksanaan adalah menemukan kesamaan dari yang berbeda-beda itu. Khasanah ilmu modern tidak mengenal karomah, barokah, hidayah, rahmat, ilham dan sebagainya. Tidak dengan pengetahuan Maiyah. Dengan pengetahuan yang kita miliki, kita mengasuh dunia. Kesadaran orang Maiyah adalah tidak bermimpi untuk dipahami oleh orang modern. Tugas Maiyah itu membaca, bukan dibaca. Maiyah yang harus membaca mereka yang tidak paham dengan Maiyah. Kita yang membaca dan memahami Indonesia.

BELENGGU PEMIMPIN

Pemimpin itu satrio pinandhito sinisihan wahyu. Tidak mungkin satria itu tidak jujur, tidak mungkin satria menyakiti hati rakyatnya. Pinandhita adalah orang yang sudah tidak lagi memikirkan dunia, ia zahid, tidak memiliki kepentingan politik. Sinisihan wahyu artinya ia dibimbing, dikawal, didampingi oleh Allah, terus-menerus, sehingga saat mengambil keputusan, apapun itu, selalu dinaungi hidayah Allah.

PERJALANAN KEBAHAGIAAN

Segala urusan di dunia bermuara pada dua hal, bahagia atau tidak bahagia, hal itu tergantung pada manajemen peletakan hati dan tatanan pikiran terhadap apapun yang kita alami. Penderitaan pun tak selalu berposisi sebagai antitesis dari kebahagiaan. Rasa tidak bahagia bisa merupakan salah satu bahan dari kebahagiaan, karena hidup adalah lipatan-lipatan yang tidak linier.

EVOLUSI 4 MINUS

Khilafah itu seperti benih. Ia harus disemai, ditanam, kemudian dirawat. Benih itu bisa saja ditanam di tempat atau tanah yang berbeda yang ramuannya tidak sama. Ada tanah yang menghasilkan khilafah dalam bentuk republik, ada khilafah yang berbentuk kesultanan, persemakmuran dan sebagainya. Puncak evolusi ialah khalifatullah; manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi.

RUWAIBIDHOH

“RUWAIBIDHOH ITU juga bisa terjadi karena perbedaan tahap evolusi (dalam diri) nya”, Cak Nun menyambung paparan Syeikh Nursamad Kamba. Gambaran sederhanyanya, apabila kita berbicara dengan Kambing, maka Kambing yang akan menjadi Ruwaibidhoh. Karena, evolusi Kambing baru sampai pada tahap Evolusi ketiga, Hewan. Begitu juga dengan manusia sekarang yang sudah dianugerahi oleh Allah mencapai evolusi tahap keenam, Khalifatullah, maka jika berbicara tentang Khilafah kepada manusia yang masih berada pada evolusi tahap keempat, Peradaban Insan, maka manusia yang masih berada pada peradaban Insan itulah yang akan menjadi Ruwaibidhoh, mereka tidak akan faham tentang konsep Khilafah. Cak Nun menekankan bahwa Allah menawarkan konsep; A’izzah ‘ala-l-kaafiriin. Kita memang harus memiliki sifat tidak tega kepada mereka yang belum faham, kita harus menyadari bahwa memang belum waktunya Pohon Khilafah itu ditanam di tanah Indonesia hari ini.

Cak Nun kemudian menerangkan bahwa jamaah Maiyah ini ialah orang-orang yang merdeka terhadap ilmu, terbuka hijabnya, lebih terang pandangannya. Fenomena masyarakat hari ini, ketika mempelajari Ilmu Allah yang tercakup dalam Islam, di hadapan mereka terdapat banyak hijab sehingga mereka akan sangat eksklusif, mencibir orang yang menyampaikan ilmu kepada mereka, karena tidak sesuai dengan informasi yang sudah mereka terima terlebih dahulu. Ibaratnya, apabila seseorang ingin didengar suaranya, ingin disimak paparannya, maka ia harus menjadi orang besar terlebih dahulu, memiliki karya tulis yang banyak dan dilegitimasi sebagai karya ilmiah, terkenal di media massa dan media sosial, baru kemudian suaranya akan didengarkan oleh banyak orang, terutama yang memiliki pandangan yang sama.

TAKFIRI VERSUS TAMKIRY

“Saya tidak membawa kebenaran kepada anda. Karena kebenaran bukan untuk saya bawa. Output kebenaran saya bukanlah kebenaran. Karena kebenaran itu sangat goyang, sangat bias. Manusia tidak punya kemampuan untuk menangkap dan menerima kebenaran Allah. Manusia sangat rendah software-nya untuk mengakses kebenaran yang sejati dari Allah. Dan karena manusia berabad-abad tidak mampu mengakses kebenaran dari Allah, akhirnya mereka lelah. Dan, karena mereka lelah, akhirnya mereka ngarang sendiri kebenarannya. Akhirnya mereka bertengkar berdasarkan karangan-karangan mereka masing-masing tentang kebenaran, meskipun mereka sangat yakin dengan karangan itu”, Cak Nun membuka secara perlahan di hadapan raut wajah yang serius menyimak.

“Bahkan yang disebut agama pun karangan-karangan. Yang disebut ideologi pun karangan-karangan. Itu karena ketidakmampuan ummat manusia untuk mengakses kebenaran Allah. Dalam teori dasar Maiyah anda sudah tau ada 3 macam kebenaran; kebenaran sendiri, kebenaran orang banyak dan kebenaran yang sejati. Kita hidup dalam dialektika vertikal kebenaran yang sejati, kebenaran orang banyak dan kebenaran sendiri.”

Cak Nun menjelaskan bahwa kebenaran sendiri tidak mungkin diterapkan dalam diri orang lain. Dalam lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyat bersepakat mendirikan DPR, misalnya untuk mengakomodir kebenaran orang banyak. Dan, pada kenyataannya, kebenaran bersama ini tidak membawa kepada sesuatu yang sebelumnya kita harapkan dan cita-citakan. Karena, kebenaran bersama ini menceraikan dirinya dari kebenaran yang sejati. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia. Dan, kebenaran bersama ini dilakukan dengan cara “makar”, mengambil alih kekuasaan Allah. Mereka melakukan itu semua tanpa mau memikirkan dan menerima asal-usul kehidupan ini. Sembari perlahan mengajak jama’ah memasuki ruang pemahaman yang semakin mendalam, Cak Nun kembali membongkar cara berfikir dari orang kebanyakan saat ini.

NEGARA DALAM GELEMBUNG

“Kenapa anda bangun pagi hari?”, Cak Nun kembali melempar pertanyaan, dan ada beragam jawaban yang muncul seperti karena harus sholat subuh, karena harus bekerja, dan lain sebagainya. Di surga kelak, tidak ada perintah untuk berjuang, karena apa yang kita mau dalam sekejapan mata akan terwujud, begitulah kira-kira Allah menggambarkan surga kepada manusia. Sementara yang membuat manusia hidup adalah karena perjuangan, dalam perjuangan ada kecemasan, ada tantangan, ada dinamika kehidupan, ada hitam putih dan sebagainya. Kita sampai pagi Maiyahan, tahan bertahun-tahun melakuan Maiyahan karena kita memiliki cita-cita yang panjang di dunia ini, sementara di surga kelak apa yang kita inginkan akan terwujud dengan segera. “Jadi bener anda mau masuk surga?”, goda Cak Nun disambut oleh tawa jama’ah.

“Maka Allah menggoda anda ketika menyebut surga. Anda tertarik dengan surga dan tidak tertarik dengan yang menawarkan Surga”, demikian Cak Nun melontarkan logika yang lebih mendalam. Bahwa fokus utama manusia seharusnya adalah Allah. Sebab, secara otomatis, ketika kita terfokus kepada Allah, maka surga juga akan kita dapatkan. Sementara jika fokus hanya kepada surga, mungkin kita akan mendapat surga, tetapi belum tentu kita akan bertemu dengan Allah.

KECELA KECÈLÈ

“Anda kecèlè itu kalau anda salah memahami kontrak hidup anda. Anda itu kontraknya apa sih? Apakah anda dilahirkan Allah untuk menjaga NKRI sampai mati? Indonesia ada atau nggak ada itu melanggar kontrak apa nggak?” Cak Nun melanjutkan dengan melempar pertanyaan awal. Pertanyaan awal tersebut menanggapi salah satu bait syair lagu yang barusan dinyanyikan oleh Bobby, yang menyatakan NKRI harga mati, sementara hari ini NKRI sebenarnya sudah tidak benar-benar NKRI. Cak Nun mengibaratkan bahwa NKRI hari ini adalah NKRI yang sudah diganti kakinya, tangannya, badannya bahkan kelaminnya sudah diganti. Ini bukan NKRI yang sebenarnya berlaku. Undang-undang sudah diamandemen habis-habisan, Pemilu 1955 adalah Pemilu yang paling berkualitas sepanjang sejarah Indonesia tapi justru sekarang kita mengagung-agungkan Pemilu hari ini yang kualitasnya adalah yang paling rendah sepanjang sejarah Indonesia.
Menyinggung soal kontrak, Cak Nun kembali menukil Surat Ali Imron ayat 31; Qul Inkuntum tuhibbunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallahu ghofuurun rahiimun. Dari ayat ini, tugas utama dalam kontrak hidup manusia sudah jelas, yaitu hubungan percintaan kasih dan sayang antara mahkluk dengan Allah, dimana syarat utamanya adalah mengikuti Rasulullah SAW. Sementara, dalam wilayah yang lain, ketika kita berbicara kontrak, maka ada alokasi waktu di situ. Berapa lama waktu kita hidup di dunia ini? Ibarat turnamen sepakbola, kehidupan di dunia ini masih dalam tahap babak penyisihan, masih akan ada babak-babak selanjutnya, bahkan babak finalnya bisa jadi masih jauh dari sekarang.

FUNDAMENTALISME KHANDAQ

“ANDA HARUS takabbur kepada masalah yang anda hadapi”. Cak Nun menerangkan bahwa salah satu metode menyelesaikan persoalan yang dihadapi adalah dengan cara menjadikan diri kita lebih besar dari persoalan yang kita hadapi. Dari metode ini kita akhirnya mampu memetakan bagaimana sikap kita menyikapi persoalan dalam skala yang terkecil hingga yang paling besar sekalipun. Cak Nun mencontohkan untuk persoalan Indonesia, yang ditakabburi bukan presidennya, bukan menterinya atau gubernurnya. Yang ditakabburi adalah persoalannya. Karena, jika kita mentakabburi presidennya, maka persoalan yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia masih dalam posisi yang lebih besar dari kita, sehingga kita akan kalah dari masalah itu sendiri.

Cak Nun kemudian kembali menjelaskan bahwa kafir, musyrik, fasiq, dzalim, halal, haram dan beberapa istilah lainnya merupakan sebuah kondisi yang bergantung pada kondisi lainnya. Wajibnya Sholat Subuh adalah pada saat waktu Subuh. Jika pada saat waktu Dzuhur, maka sholat Subuh menjadi haram hukumnya untuk dilaksanakan. Sedangkan kafir, secara istilah artinya adalah ingkar, maka setiap manusia memiliki wilayah ingkarnya masing-masing. Ada yang ingkar terhadap keburukan, ada yang ingkar terhadap kemunafikan dan lain sebagainya. Seperti halnya haji, seseorang disebut haji hanya pada saat ia melakukan ritual ibadah haji di bulan Dzulhijjah yang sudah disyariatkan oleh Allah dalam Al Qur’an. Begitu juga seorang jenderal, posisi Jenderal hanya berlaku pada saat ia berada dalam wilayah militer, begitu ia pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya, maka ia berposisi sebagai kepala keluarga, bukan seorang jenderal.