From Reportase Kenduri Cinta

SESANTI KEKASIH HATI

HIDUP itu memang penuh dengan labirin. Perjalanan setiap manusia dalam menjalani kehidupan tidak selalu mulus, akan selalu menghadapi tikungan, tanjakan, turunan, jalan yang berlobang dan lain sebagainya. Seringkali, dalam merencanakan sesuatu, meskipun kita sudah mempersiapkan semuanya dengan detail, selalu ada saja hal-hal yang mengejutkan, yang ternyata kita tidak siap untuk menghadapinya.

Literasi Utama

RENJANA NASIONALISME

Pada akhirnya, sebagai rakyat memang kita tidak benar-benar bisa mengharapkan kehadiran Negara saat ancaman resesi datang. Normalnya, ketika Negara menyadari bahwa resesi akan datang, maka disusunlah strategi evakuasinya. Misalnya, di bidang pertanian digenjot produksi makanan pokok, lahan-lahan pertanian digenjot produksinya, begitu juga di bidang peternakan, perkebunan dan lain sebagainya. Sehingga ketika resesi benar-benar datang, Negara sudah siap untuk melindungi rakyatnya. Nyatanya, kita tidak melihat tanda-tanda itu, justru yang kita lihat adalah hasrat pembangunan infrastruktur di Ibu Kota Nusantara yang terus berjalan. Padahal, resesi ekonomi adalah sesuatu yang sangat bisa diprediksi kapan akan datang dan bagaimana proses evakuasinya.

NEGARA CANDA

SEJAK JUMAT siang (9/9), hujan deras mengguyur hampir di seluruh penjuru Jakarta. Tidak terkecuali di Cikini. Bulan-bulan ini memang adalah momen memasuki musim penghujan, beberapa hari terakhir intensitas turunnya hujan cukup tinggi, tidak hanya di Jakarta saja. Hingga lepas maghrib, hujan tak kunjung reda. Persiapan Kenduri Cinta pun baru bisa disempurnakan menjelang Isya’, termasuk untuk…

BANGSA BRAHMANA

Sabtu (13/8) malam, pagelaran teater kolosal “RAJAWALI-WALIRAJA” dipentaskan di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta Pusat. Ribuan pasang mata menjadi saksi pementasan kemeriahan pagelaran teater ini. Sempat ada kekhawatiran mengenai cuaca, karena angin berhembus cukup kencang sejak sore, alhamdulillah, hingga berakhirnya pementasan, tidak turun hujan.

KALIBRASI SYUKUR

Manusia sebagai salah satu makhluk kemungkinan memiliki berbagai hal dalam dirinya yang perlu selalu dikalibrasi. Salah satunya adalah tentang syukur. Siapa yang hidup ini tidak memiliki ekspektasi? Hampir dari kita semua memiliki ekspektasi dari setiap hal yang kita lakukan. Saat kita sekolah, kita memiliki ekspektasi bahwa kita bisa mencapai nilai yang bagus pada setiap ujian. Saat kita bekerja, kita memiliki ekspektasi bahwa hasil pekerjaan kita mampu membuat atasan kita bangga dengan hasil kerja kita. Saat kita berbisnis, kita memiliki ekspektasi agar kita bisa sukses dan berhasil mengumpulkan uang yang banyak. Ada banyak ekspektasi-ekspektasi dalam kehidupan kita.

KENDURI APA KALAU BUKAN CINTA?

MENSYUKURI perjalanan 22 tahun, Kenduri Cinta edisi Juni 2022 kali ini diselenggarakan di Halaman FISIP Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ), Tangerang Selatan. Sejak terakhir kali Maiyahan Kenduri Cinta diselenggarakan di Taman Ismail Marzuki (Maret 2020), Maiyahan di Jakarta belum bisa lagi terselenggara di Cikini. Beberapa kali harus berpindah lokasi, dengan beberapa adaptasi. Di awal tahun 2022…

KABAR ESOK HARI

DALAM SATU minggu terakhir, jadwal Maiyahan sudah kembali padat. Setelah Padhangmbulan (16/5) di Menturo, kemudian berlanjut Mocopat Syafaat (17/5) yang pada bulan Mei ini ditandai dengan kembali ke lokasi semula di TKIT Alhamdulillah, Kasihan, Bantul. Kemudian, di Kenduri Cinta (20/5) yang kali ini diselenggarakan di Kandank Jurank Doank, Tangerang Selatan. Selain itu, Simpul Maiyah lainnya juga melaksanakan rutinan Maiyahan bulanan mereka minggu lalu, seperti Juguran Syafaat di Purwokerto, Waro’ Kaprawiran di Ponorogo dan Maiyah Dusun Ambengan di Metro Kibang, Lampung Timur.

IKHTILAF ZAMAN

Cak Nun menyampaikan bahwa Allah itu Maha Mengabarkan. “Siapa yang memberimu kabar agar engkau datang ke Kenduri Cinta? Siapa yang menyalurkan energi dan gelombang kerinduan itu ke dalam hatimu? Tentu saja Allah”, tegas Cak Nun. Apa yang terjadi di alam semesta ini seluruhnya di bawah kendali Allah Swt, tidak ada satupun yang luput dari Al- Khobiir. Maka dalam salah satu kalimat wirid tadi Cak Nun menyematkan; Wa kafaa billahi khobiiro.

BADUT-BADUT PERADABAN

Memang tidak bisa dipungkiri, atmosfer untuk menikmati Maiyahan secara langsung memang berbeda sekali rasanya jika dibandingkan dengan menyimak live streaming di Youtube. Ketika bertatap muka secara langsung di Maiyahan, ada nuansa kebersamaan yang tidak bisa dirasakan jika kita menyimak Maiyahan secara live streaming di Youtube. Jika sedang shalawatan, pasti berbeda rasanya shalawatan sembari nyimak streamingan di Youtube dibandingkan dengan shalawatan bersama-sama secara langsung. Begitu juga jika tiba-tiba ada cetusan humor yang muncul dari Cak Nun atau narasumber lain, tentu tidak asyik rasanya kita tertawa sendirian di depan handphone.

MAIYAH PENANGKAL PETIR

“Salah satu kurikulum Maiyah adalah yakaadu zaituha yudhlii`u walaw lam tamsashu naar,” Cak Nun melanjutkan. Munculnya sebuah cahaya yang tidak disebabkan dari api yang disulut, itulah yang kita ikhtiarkan di Maiyah. Setiap manusia memiliki potensi yang bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Orang Maiyah, ditegaskan oleh Cak Nun, harus mampu menjadi orang yang bermanfaat, di manapun ia berada, seperti yang disebutkan dalam An-Nuur 35 itu, laksana cahaya yang menyala tanpa disulut oleh api. “Ini saya serius mendoakannya. Anda masing-masing akan yakaadu zaituhaa yudhlii`u walaw lam tamsashu naar. Anda akan menjadi cahaya yang menyinari orang-orang di sekitar anda,” ungkap Cak Nun.