From Reportase Kenduri Cinta

Literasi Utama

TAKFIRI VERSUS TAMKIRY

“Saya tidak membawa kebenaran kepada anda. Karena kebenaran bukan untuk saya bawa. Output kebenaran saya bukanlah kebenaran. Karena kebenaran itu sangat goyang, sangat bias. Manusia tidak punya kemampuan untuk menangkap dan menerima kebenaran Allah. Manusia sangat rendah software-nya untuk mengakses kebenaran yang sejati dari Allah. Dan karena manusia berabad-abad tidak mampu mengakses kebenaran dari Allah, akhirnya mereka lelah. Dan, karena mereka lelah, akhirnya mereka ngarang sendiri kebenarannya. Akhirnya mereka bertengkar berdasarkan karangan-karangan mereka masing-masing tentang kebenaran, meskipun mereka sangat yakin dengan karangan itu”, Cak Nun membuka secara perlahan di hadapan raut wajah yang serius menyimak.

“Bahkan yang disebut agama pun karangan-karangan. Yang disebut ideologi pun karangan-karangan. Itu karena ketidakmampuan ummat manusia untuk mengakses kebenaran Allah. Dalam teori dasar Maiyah anda sudah tau ada 3 macam kebenaran; kebenaran sendiri, kebenaran orang banyak dan kebenaran yang sejati. Kita hidup dalam dialektika vertikal kebenaran yang sejati, kebenaran orang banyak dan kebenaran sendiri.”

Cak Nun menjelaskan bahwa kebenaran sendiri tidak mungkin diterapkan dalam diri orang lain. Dalam lingkup kehidupan berbangsa dan bernegara, rakyat bersepakat mendirikan DPR, misalnya untuk mengakomodir kebenaran orang banyak. Dan, pada kenyataannya, kebenaran bersama ini tidak membawa kepada sesuatu yang sebelumnya kita harapkan dan cita-citakan. Karena, kebenaran bersama ini menceraikan dirinya dari kebenaran yang sejati. Fenomena ini terjadi hampir di seluruh dunia, tidak hanya di Indonesia. Dan, kebenaran bersama ini dilakukan dengan cara “makar”, mengambil alih kekuasaan Allah. Mereka melakukan itu semua tanpa mau memikirkan dan menerima asal-usul kehidupan ini. Sembari perlahan mengajak jama’ah memasuki ruang pemahaman yang semakin mendalam, Cak Nun kembali membongkar cara berfikir dari orang kebanyakan saat ini.

NEGARA DALAM GELEMBUNG

“Kenapa anda bangun pagi hari?”, Cak Nun kembali melempar pertanyaan, dan ada beragam jawaban yang muncul seperti karena harus sholat subuh, karena harus bekerja, dan lain sebagainya. Di surga kelak, tidak ada perintah untuk berjuang, karena apa yang kita mau dalam sekejapan mata akan terwujud, begitulah kira-kira Allah menggambarkan surga kepada manusia. Sementara yang membuat manusia hidup adalah karena perjuangan, dalam perjuangan ada kecemasan, ada tantangan, ada dinamika kehidupan, ada hitam putih dan sebagainya. Kita sampai pagi Maiyahan, tahan bertahun-tahun melakuan Maiyahan karena kita memiliki cita-cita yang panjang di dunia ini, sementara di surga kelak apa yang kita inginkan akan terwujud dengan segera. “Jadi bener anda mau masuk surga?”, goda Cak Nun disambut oleh tawa jama’ah.

“Maka Allah menggoda anda ketika menyebut surga. Anda tertarik dengan surga dan tidak tertarik dengan yang menawarkan Surga”, demikian Cak Nun melontarkan logika yang lebih mendalam. Bahwa fokus utama manusia seharusnya adalah Allah. Sebab, secara otomatis, ketika kita terfokus kepada Allah, maka surga juga akan kita dapatkan. Sementara jika fokus hanya kepada surga, mungkin kita akan mendapat surga, tetapi belum tentu kita akan bertemu dengan Allah.

KECELA KECÈLÈ

“Anda kecèlè itu kalau anda salah memahami kontrak hidup anda. Anda itu kontraknya apa sih? Apakah anda dilahirkan Allah untuk menjaga NKRI sampai mati? Indonesia ada atau nggak ada itu melanggar kontrak apa nggak?” Cak Nun melanjutkan dengan melempar pertanyaan awal. Pertanyaan awal tersebut menanggapi salah satu bait syair lagu yang barusan dinyanyikan oleh Bobby, yang menyatakan NKRI harga mati, sementara hari ini NKRI sebenarnya sudah tidak benar-benar NKRI. Cak Nun mengibaratkan bahwa NKRI hari ini adalah NKRI yang sudah diganti kakinya, tangannya, badannya bahkan kelaminnya sudah diganti. Ini bukan NKRI yang sebenarnya berlaku. Undang-undang sudah diamandemen habis-habisan, Pemilu 1955 adalah Pemilu yang paling berkualitas sepanjang sejarah Indonesia tapi justru sekarang kita mengagung-agungkan Pemilu hari ini yang kualitasnya adalah yang paling rendah sepanjang sejarah Indonesia.
Menyinggung soal kontrak, Cak Nun kembali menukil Surat Ali Imron ayat 31; Qul Inkuntum tuhibbunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallahu ghofuurun rahiimun. Dari ayat ini, tugas utama dalam kontrak hidup manusia sudah jelas, yaitu hubungan percintaan kasih dan sayang antara mahkluk dengan Allah, dimana syarat utamanya adalah mengikuti Rasulullah SAW. Sementara, dalam wilayah yang lain, ketika kita berbicara kontrak, maka ada alokasi waktu di situ. Berapa lama waktu kita hidup di dunia ini? Ibarat turnamen sepakbola, kehidupan di dunia ini masih dalam tahap babak penyisihan, masih akan ada babak-babak selanjutnya, bahkan babak finalnya bisa jadi masih jauh dari sekarang.

FUNDAMENTALISME KHANDAQ

“ANDA HARUS takabbur kepada masalah yang anda hadapi”. Cak Nun menerangkan bahwa salah satu metode menyelesaikan persoalan yang dihadapi adalah dengan cara menjadikan diri kita lebih besar dari persoalan yang kita hadapi. Dari metode ini kita akhirnya mampu memetakan bagaimana sikap kita menyikapi persoalan dalam skala yang terkecil hingga yang paling besar sekalipun. Cak Nun mencontohkan untuk persoalan Indonesia, yang ditakabburi bukan presidennya, bukan menterinya atau gubernurnya. Yang ditakabburi adalah persoalannya. Karena, jika kita mentakabburi presidennya, maka persoalan yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia masih dalam posisi yang lebih besar dari kita, sehingga kita akan kalah dari masalah itu sendiri.

Cak Nun kemudian kembali menjelaskan bahwa kafir, musyrik, fasiq, dzalim, halal, haram dan beberapa istilah lainnya merupakan sebuah kondisi yang bergantung pada kondisi lainnya. Wajibnya Sholat Subuh adalah pada saat waktu Subuh. Jika pada saat waktu Dzuhur, maka sholat Subuh menjadi haram hukumnya untuk dilaksanakan. Sedangkan kafir, secara istilah artinya adalah ingkar, maka setiap manusia memiliki wilayah ingkarnya masing-masing. Ada yang ingkar terhadap keburukan, ada yang ingkar terhadap kemunafikan dan lain sebagainya. Seperti halnya haji, seseorang disebut haji hanya pada saat ia melakukan ritual ibadah haji di bulan Dzulhijjah yang sudah disyariatkan oleh Allah dalam Al Qur’an. Begitu juga seorang jenderal, posisi Jenderal hanya berlaku pada saat ia berada dalam wilayah militer, begitu ia pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya, maka ia berposisi sebagai kepala keluarga, bukan seorang jenderal.

KELEDAI LESTARI

Bangsa Indonesia hari ini sedang berada dalam titik kemiringan yang sangat membahayakan, jika salah langkah maka akan roboh, tetapi jika tepat solusi yang diambil maka akan kembali ke titik gravitasinya. Cak Nun merasa jika melihat pemerintah Indonesia hari ini maka yang muncul adalah rasa pesimis, tetapi jika bertemu dengan rakyat Indonesia ketika di Maiyahan seperti di Kenduri Cinta ini, yang muncul adalah rasa optimis yang luar biasa terkait masa depan Indonesia, juga dunia.

Hari ini Bangsa Indonesia mengalami Indonesia sebagai Negara dengan fakta Kerajaan. Fakta kerajaan ini tidak bisa terbantahkan, dimana saat ini kita melihat justru banyak sekali kerajaan-kerajaan yang baru dalam dunia politik. Mau diapakan saja, PDIP harus dipimpin oleh keturunan Bung Karno. Mau diapakan saja Partai Demokrat harus dipimpin oleh keturunan SBY. Bahkan Harry Tanoe saat ini sedang membangun kerajaannya sendiri. Dan, Indonesia saat ini dikelilingi oleh kerajaan-kerajaan yang bersaing satu sama lain untuk berebut kuasa di Indonesia. Sehingga, yang terjadi saat ini, Bangsa Indonesia adalah Bangsa yang ngawulo kepada raja yang sedang berkuasa, hampir di semua lini Bangsa Indonesia semua ngawulo kepada raja, melamar kepada penguasa, menawar-nawarkan diri agar diberi jabatan, agar diberi posisi, agar diberi proyek dan lain sebagainya. Kalau dalam dunia pewayangan tokoh seperti ini dikenal sebagai sosok Sumantri Ngenger.

KOORDINAT MAIYAH

SABRANG MENCOBA menarik dari gambaran peperangan. Sejak dahulu, dalam sejarah peradaban pada setiap peperangan terdapat satu titik berat tarikan kekuatan. Entah itu kekuatan kekuasaan, kekuatan teritorial, kekuatan ekonomi, kekuatan pengaruh budaya, atau apapun itu selalu terdapat satu gaya tarik menarik pada satu titik koordinat. Dan, Sabrang sendiri tidak bisa memandang pada 212 yang lalu peta peperangannya ada dimana, daya tarik menariknya ada di titik mana? Namun, lebih jauh dari itu, Sabrang menjelaskan bahwa dalam sebuah peperangan pada satu pasukan tentu terdapat Pasukan Infantri, Artileri dan Kavaleri. Masing-masing pasukan ini harus memiliki kesadaran koordinatnya masing-masing dalam berperang. Tidak bisa Pasukan Infantri menyalahkan Pasukan Artileri karena tidak berada pada benteng terdepan, tidak bisa juga pasukan Kavaleri membodoh-bodohkan Pasukan Infantri yang bergerak di barisan terdepan. Karena, setiap pasukan memiliki sistem dan strateginya sendiri-sendiri, dan mereka semua berada dalam satu kesatuan pasukan perang.

Hal inilah yang tidak difahami secara mendalam oleh masyarakat di Indonesia hari ini. Kebanyakan dari mereka berharap bahwa semua harus terjun ke medan perang. Padahal, tidak demikian strategi peperangan berlaku. Harus ada yang tetap menjaga markas pasukan, harus ada yang bertugas menjaga stabilitas logistik dan ketahanan pangan. Dan, Sabrang juga menekankan, bahwa pada koordinat penguasaan dan penjajahan terhadap Indonesia, musuh kita juga memiliki sistem “Rakaat Panjang”-nya sendiri yang kita tidak mengetahui sejauh mana sistem mereka itu sudah berjalan. Kita memiliki strategi Rakaat Panjang, tetapi jangan salah sangka juga, bahwa sebenarnya musuh juga memiliki strategi Rakaat Panjang dalam dimensi dan nuansa yang berbeda dari yang kita miliki.

RAKAAT PANJANG

Cak Nun lalu menjelaskan bahwa yang mengalami evolusi pun bukan hanya penciptaan yang bersifat material saja, bahkan Kitab Allah yang sejatinya bersifat ruhaniah juga mengalami evolusi. Kita semua mengetahui bahwa Nabi Adam ketika diciptakan tidak dibekali dengan Kitab Allah, maka yang dimaksudkan oleh Allah di dalam Al Qur’an bahwa Adam mengajarkan Al Asma’ itu bukanlah tentang kata-kata benda, melainkan berupa fenomenologi seperti; cuaca, situasi, kondisi, konflik, konstelasi, bahwa kelak akan ada pertumpahan darah, ada kebencian, ada kedengkian, ada perdamaian, ada kemakmuran, ada keadilan dan lain sebagainya. Sedangkan kata-kata merupakan hasil dari kesepakatan tiap-tiap manusia itu sendiri. Nabi Adam AS bahkan diajarkan tentang perpecahan dan pertikaian melalui peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh anaknya sendiri (Habil dan Qabil). Dan, hingga pada sekian era kemudian, Nabi Ibrahim AS dibekali Kitab Zabur, Nabi Musa AS dibekali Kitab Taurat, Nabi Isa AS dibekali Kitab Injil dan Nabi Muhammad SAW dibekali Kitab Al Qur’an.

Beberapa kali dalam Maiyahan, Cak Nun menggambarkan evolusi Kitab Allah ini seperti evolusi buah kelapa. Kitab Taurat ini diibaratkan seperti bluluk yang dalam proses buah kelapa merupakan cikal bakal buah yang masih sangat mentah. Kemudian Zabur diibaratkan seperti cengkir yaitu buah kelapa yang sudah semakin padat, namun belum menjadi buah yang sempurna sama sekali. Injil diibaratkan seperti degan, yaitu buah kelapa yang masih muda, yang meskipun sudah bisa dimanfaatkan tetapi bukan manfaat yang utama yang bisa diambil, hanya airnya saja dan buah kelapa yang masih muda. Lalu Al Qur’an yang diibaratkan oleh Cak Nun sebagai buah yang sempurna, dengan konstruksi yang lebih sempurna, semua unsur yang ada di dalamnya sudah lengkap, serabut yang sudah kuat, batok kelapa yang juga sudah keras, buahnya pun sudah sangat tebal dan padat, sehingga bisa dimanfaatkan untuk dijadikan santan kelapa.

SÉRIBUTA SÉRITULI

“Yang harus kau lihat itu bukan apa yang ingin kau lihat, karena matamu bukanlah milikmu, maka kamu harus bertanya kepada yang memiliki matamu. Maka hak untuk melihat dan tidak melihat adalah milik Allah, maka apa yang akan engkau lihat seharusnya engkau minta izin atau bertanya kepada Allah; saya harus melihat apa dan harus tidak melihat apa?”, Cak Nun melanjutkan. Faktanya, hak Allah di dunia sudah dimonopoli oleh manusia itu sendiri, padahal sejatinya manusia tidak memiliki hak apapun atas dirinya. Manusia hari ini tidak mampu menakar dan mengidentifikasi bahwa kebahagian dan penderitaan itu bisa saja berfungsi sama, bahwa itulah yang sebenarnya yang dibutuhkan saat ini. Kebanyakan manusia saat ini jika mengalami hal yang tidak cocok yang dialami dirinya disebut sebagai penderitaan dan apabila ia menemui hal-hal yang cocok dan dialami oleh dirinya, maka disebut sebagai kebahagiaan. Padahal, belum tentu kebahagiaan yang ia rasakan adalah hal yang ia butuhkan, karena sebenarnya manusia juga memerlukan penderitaan untuk mengasah mental hidupnya.

PATPATGULIPAJAK IBLIS AMNESTY

PAJAK MERUPAKAN sumber utama pendapatan Negara yang bersifat wajib yang dibayar oleh rakyat kepada Negara dan digunakan untuk kepentingan umum. Salah satu tolak ukur keberhasilan sebuah rezim pada saat berkuasa adalah pembangunan infrastruktur fasilitas publik seperti jalan raya, jembatan, bandara, terminal dan lain sebagainya dimana salah satu sumber pembiayaannya berasal dari Pajak. Kewajiban membayar pajak inipun diatur oleh undang-undang.

Beberapa bulan lalu muncul sebuah dokumen yang disebut sebagai “Panama Papers” menghebohkan berbagai negara. Dokumen tersebut berupa data offshore dari tahun 1977 sampai 2015 yang berisi skandal bisnis jutaan pengusaha di dunia. Dan, salah satu data yang tercantum adalah data tentang penyelewengan pajak. Di sisi lain, ekonomi global hari ini masih belum stabil, kebijakan tax amnesty pada akhirnya diambil oleh beberapa negara untuk mengantisipasi terjadinya krisis moneter skala lokal. Pun, keputusan Inggris yang keluar dari Uni Eropa merupakan salah satu dampak dari ketidakstabilan ekonomi global yang seringkali hanya menguntungkan para kapitalis.

MANUSIA DAN NEGARA GRAVITATIF

DALAM TERAPAN ilmu sosial, gotong royong, kearifan, toleransi dan segala macam yang dituntut oleh manusia saat ini, seharusnya merupakan akibat dari keadilan yang terwujud dalam sebuah sistem organisasi kehidupan manusia dalam semua ruang lingkup yang dialaminya, apakah itu kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan beragama, atau kehidupan bermasyarakat dalam sebuah komunitas yang skalanya kecil. Sehingga, apabila keadilan tidak terwujud, maka tidak ada legitimasi untuk menagih gotong royong, kerjasama, kearifan dan toleransi antara satu dengan yang lain. Semua itu boleh ditagih manakala keadilan sudah dirasakan oleh semua pihak. Selanjutnya, untuk menjelaskan terminologi gravitatif yang diangkat dalam tema Kenduri Cinta kali ini, Cak Nun mengambil amsal bahwa sebuah bangunan didirikan harus tunduk pada hukum Allah. Bahwa, seperti apapun kondisi tanah tempat bangunan tersebut didirikan, maka fondasi bangunan itu harus taat pada hukum gravitasi yang sudah ditetapkan oleh Allah. Dan, dengan demikian bangunan yang didirikan atas dasar ketaatan terhadap hukum Allah tersebut pun tidak roboh. Begitu juga dengan manusia, apabila ia memposisikan dirinya untuk gravitatif dengan aturan Allah, maka ia akan berada dalam satu garis koordinat dengan tauhid Allah, apapun kondisi perjalanan hidup yang dialaminya. Meskipun dihadapannya ada setumpuk uang, apabila ia menyadari bahwa uang itu bukanlah haknya, maka ia tidak akan mengambil uang itu. Karena, ia menaati aturan hukum gravitasi Allah dimana ia tidak diperbolehkan mengambil yang bukan haknya.