From Reportase Kenduri Cinta

Literasi Utama

“NABI DHOLIM”

Rasulullah Saw sebelum diangkat sebagai Nabi, dia sudah lulus sebagai manusia, sehingga ia mendapat julukan Al Amin, orang yang dipercaya. Julukan ini bukan sembarang julukan, karena siapapun saja yang berada di sekitar Muhammad bin Abdullah saat itu, akan terjamin keamanannya, baik nyawa, martabat dan juga hartanya. “Sekafir-kafirnya anda, saya tidak akan memanggil anda dengan sapaan Kafir. Semuslim-muslimnya anda, saya posisinya adalah mendoakan anda semoga anda kelak tergolong dalam golongan orang-orang yang muslim,” tutur Cak Nun.

Literasi Utama

INDONESYARIAH

Cak Nun menegaskan bahwa salah satu rumus Allah adalah Laa ikroha fi-d-diin. Namun juga dalam ayat lain Allah menyatakan Faman syaa’a fa-l-yu’min, waman syaa’a fa-l-yakfur, semua manusia memiliki kedaulatan untuk memutuskan. Setiap keputusan itu ada risikonya masing-masing. Tentang syariat Allah, sebenarnya yang perlu kita pelajari adalah apa itu syariah, dan seperti apa mekanisme syariat Allah berlaku. Mengapa masih ada orang yang takut terhadap term syariat Allah, padahal nyata sekali bahwa kehadiran manusia di muka bumi merupakan salah satu syariat Allah, maka sangat aneh jika kemudian ada orang yang berani menolak syariat Allah. Cak Nun menyarankan untuk kita kembali mempelajari apa itu syariat Allah, kemudian apa yang difahami tentang syariat Islam, berdasarkan pemahaman dan penafsiran ulama seperti apa, ada berapa banyak versi penafsiran tentang syariat Islam yang kemudian dianggap sebagai syaraiat Allah, segala bentuk dan skalanya harus kita fahami bersama-sama.

WARASATUL ANBIYA

Seseorang yang mampu menjadi pewaris Nabi adalah orang yang mampu menjadi juru bicara kebijaksanaan, alsinatul hikmah. Mereka adalah orang-orang yang tidak berbicara kecuali dengan izin Allah, dan jika mereka berbicara mereka meninggalkan manfaat bagi orang yang mendengarkan. Manusia yang saleh adalah manusia yang pantas disebut manusia di hadapan Allah. Agama adalah situasi keilahian dalam diri manusia yang menuntun orang melakukan sesuatu bukan atas dasar paksaan, melainkan atas dasar keterpanggilan.

BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Secara umum, preseden adalah kejadian yang sudah berlalu yang bisa dijadikan semacam referensi untuk melakukan kegiatan berikutnya. Sederhananya, preseden adalah peristiwa masa lalu yang menjadi pelajaran atau contoh. Preseden lalu dijadikan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Allah pun mengingatkan untuk senantiasa melihat, mempelajari serta mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa lampau untuk dijadikan pedoman, tolok ukur dan referensi menuju kehidupan yang akan datang.

MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Dialektika yang diselenggarakan di Maiyah adalah belajar bersama, sinau bareng, tidak ada konsep mengajar, karena mengajar hanyalah akibat dari proses belajar bersama. Adanya pihak yang bertanya kemudian ada pihak lain yang lebih menguasai informasi sehingga memberi tahu kepada yang belum tahu. Tidak ada proses mengajar, yang ada adalah proses belajar bersama. “Begitulah di Maiyah, tidak ada mu’allim, yang ada adalah muta’allim,” Cak Nun menjelaskan.

INDOAUTONESIA

Maiyah adalah contoh bagaimana energi sulthon itu berfungsi. Tidak ada satu manusia pun yang mampu merencanakan Maiyah. Bagaimana orang berdatangan, duduk, bahkan ada yang berdiri. Menyimak paparan yang disampaikan, dan semua merasakan keindahan bersama. Bagi Cak Nun, inilah bukti bahwa energi sulthon itu ada. “Maka dengan Maiyah ini anda sebenarnya ditawari oleh Allah sulthon. Maka tidak mungkin Indonesia dengan tata nilainya membikin Maiyah, tidak mungkin. Maiyah ini adalah bukan anak dari Indonesia, ini adalah anak dari kehendak Allah Swt, dan inilah yang dinamakan laa tanfudhuuna illa bi sulthoon. Kamu tidak bisa menembus sesuatu di luar kebiasaan kecuali dengan sulthon,” lanjut Cak Nun.

“Maka saya tidak pesimis kepada Indonesia, asal anda setia dan sungguh-sungguh. Anda jangan menjadi orang yang lupa kepada dirimu, sehingga lupa kepada Allah. Atau lupa kepada Allah sehingga anda lupa kepada dirimu, karena anda akan mendapat kemenangan dari Allah, dan kemenangan itu adalah ashabul jannati humul faaizuun,” Cak Nun menyampaikan.

SERIGALA BERHATI DOMBA

“Ibarat salat, Anda ini bukan orang yang sudah taat kepada salat, tetapi orang yang sudah menikmati salat. Karena puncak dari salat itu sebenarnya bukan taat, melainkan nikmat. Maka saya tidak pernah mengajak untuk berbuat baik, yang saya ajak adalah menemukan kenikmatan dalam berbuat baik,” lanjut Cak Nun.

“Temukan kenikmatan dalam berbuat baik, bahkan ketika anda sedang diuji Allah dengan nasib buruk, anda harus mampu menemukan kenikmatannya,” Cak Nun terus membesarkan hati jamaah, mengajak untuk melangkah lebih maju dengan tidak menempatkan hidup hanya hari ini namun hidup abadi. Di Maiyah kita belajar kembali menemukan kebenaran yang tepat. Terus mengupayakan untuk berbuat baik. Pokoknya berbuat baik, entah nanti dapat apa dan kapan akan mendapatkannya.

TAK KUNJUNG NEGARA

Maiyah bukan dalam rangka membentuk negara, atau mengumpulkan massa untuk membikin partai politik. Maiyah membicarakan tentang bagaimana negara seharusnya berlaku, mencari kesejatian negara, mencari kebaikan untuk negara, sementara yang melakukan pencarian tentang itu semua sama sekali tidak memiliki kewajiban apa-apa dalam proses pengelolaan negara.

FASTABIQUL HAIBAT

Dalam kehidupan ini ada sesuatu yang memang hanya bisa dicapai dengan iman, bukan dengan ilmu. Ada sesuatu yang kita bisa mencapainya hanya dengan iman, karena tidak mungkin mencapainya dengan ilmu, sebab kita tidak bisa menghitungnya. Kenapa sesuatu itu dicapai dengan iman karena kita tidak bisa mencapainya dengan ilmu. Kenapa kita percaya? Karena kita tidak tahu. Niat berpuasa yang selalu kita lafadzkan adalah nawaitu shouma ghodin bukan nawaitu shiyama-l-ghodi, karena keperluan kita untuk menahan diri tidak makan, tidak minum, secara naluriah dapat dilakukan sehari-hari. Tetapi tidak dengan shoum. Shoum adalah dimensi puasa yang lebih luas dari sekadar shiyam. Puasa itu harus dikembangkan dari shiyam menjadi shoum.

JABABIROH

Jangan mengandalkan kebenaran anda, karena kebenaran sejatinya adalah milik Allah. Kebenaranmu hari ini bisa berbeda dengan kebenaran eesok pagi. Kebenaran adalah bahan mentah, ia bukan suguhan makanan. Kebenaran diolah dengan berbuat baik yang menghasilkan keindahan. Berbuat baik, bermanfaat bagi orang banyak dan hasilnya adalah keindahan. Puncak dari keindahan adalah cinta.