THE SHOW MUST GOAT-ON

The Show Must Goat-On maksudnya adalah bahwa kambing-kambing harus menentukan patokannya masing-masing dalam menjalani kehidupan. Manusia ditawari Alquran, dikasih panduan untuk supaya dia mencari patokannya sendiri. Maiyah hadir untuk menawarkan nilai. Maiyah itu software. Maiyah tidak untuk membentur siapa-siapa.

Artikel sebelumnya

Wal Tandzur Zaman Old Li Zaman Now

Maka, memasuki akhir dari 3 dekade perjalanan Maiyah kiranya sudah saatnya bagi Jamaah Maiyah untuk kembali menakar, kembali mengukur diri, kembali menghitung potensi. Kembali merenungkan, apakah Maiyah ini benar-benar anugerah bagi kita semua, apakah kita ini dititipi Maiyah untuk nyengkuyung Indonesia, apakah nilai-nilai Maiyah ini mampu kita pegang teguh sebagai landasan hidup kita, atau jangan-jangan kita hanya menikmati gegap gempita keriuhan Maiyah hari ini? Sejauh mana kita mampu menentukan pijakan itu.

Sulitnya “Mendhem jero” di Zaman Now

Nabi Muhammad saw meminta kita untuk tidak mencela orang yang sudah meninggal dan memberikan pujian kepadanya. Mikul duwur mendhem jero, maka kuburkanlah dalam-dalam aib saudaramu sesama manusia, seperti saat mengubur mayit, dan angkatlah prestasi saudaramu sesama manusia sebagaiman saat memanggul mayit menuju kuburan. Sayangnya, era saat ini, zaman now, mess-age (zaman kacau), zaman edan, zaman dimana sedang dipertontonkan kepada kita hal yang sebaliknya. Menyebar aib orang seenak wudhel, yang wudhel saja baunya sering tidak enak. Mengumbar aib untuk menjatuhkan orang, dan menyembunyikan prestasi-prestasi orang, atau minimal menafikannya.

Mukadimah: AMENANGI ZAMAN NOW

Inilah tahun penuh gincu, penuh topeng, penuh kepalsuan. Inilah tahun dimana rakyat akan kembali ditipu habis-habisan oleh para politisi demi kepentingan partai dan golongannya. Badut-badut dipasang untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Para Tim Hore pengais recehan akan semakin bertebaran di media sosial untuk turut meramaikan suasana. Inilah tahun dimana kita akan memasuki hari-hari penuh kepalsuan. Tahun dimana rakyat jelata hanya menjadi komoditas yang diperjual-belikan oleh para makelar politik. Rakyat jelata yang kelaparan dimanfaatkan untuk hadir dalam arena kampanye, meneriakkan yel-yel dan jargon-jargon penuh kepalsuan, hanya dengan upah lembaran uang dan nasi kotak. Kita akan memasuki hari-hari dimana kita akan merindukan sosok Begawan, sosok orang tua yang mampu mengayomi kita.

Marhaban, Ahlan Wa Sahlan 2018

Marhaban, Ahlan wa sahlan 2018. Sebagai rakyat kecil, tentu tidak muluk-muluk yang kita harapkan. Sebenarnya, jika para pemegang kekuasaan di negeri ini benar-benar dan serius berpegang teguh kepada Pancasila, kita pun tidak akan pusing dan repot melihat kelakuan para politisi yang menjelang digelarnya Pesta Demokrasi 5 tahunan ini bersolek penuh gincu dan bedak pencitraan. Sebagian dari mereka juga ada yang berlaku seperti badut sirkus yang akan meramaikan layar kaca untuk turut menambah suhu politik semakin panas. Sayangnya, Pancasila hanya mereka anggap sebagai jargon saja untuk diteriakkan, tidak untuk diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jangkar Waktu Kenduri Cinta 2017

Khasanah Maiyah yang muncul di tahun 2017 ini pun semakin beragam, ada sebagian khasanah yang berasal dari tema-tema lama Maiyah di tahun-tahun sebelumnya yang kemudian dipertajam di tahun 2017 ini. Begitulah mekanisme Tadabbur berlaku di Maiyah. Sejak awal, Cak Nun memang menghendaki bahwa apa yang seharusnya kita lakukan di Maiyah adalah proses Tadabbur bukan Tafsir. Dengan proses Tadabbur, maka yang menjadi fokus utama kita adalah hasil dari Tadabbur apakah itu baik untuk orang lain, apakah bermanfaat untuk orang lain atau tidak?

Satu Delapan, Gambang Syafaat

Gambang Syafaat adalah kakak dari Simpul Maiyah dimana saja. Perjalanan 18 tahun ini merupakan sebuah amsal yang sangat penuh hikmah untuk kita pelajari bersama. Semua penggiat Simpul Maiyah di berbagai daerah belajar tentang kesetiaan kepada Gambang Syafaat. Apa yang kita lihat di Gambang Syafaat ini adalah bukti nyata sebuah keistiqomahan Orang Maiyah yang sangat setia menjaga keberlangsungan forum ini. Ini bukan “semoga Istiqomah”, melainkan “ini sudah Istiqomah”. 18 tahun bukanlah durasi yang pendek. Kesetiaan para penggiat Gambang Syafaat di Semarang ini merupakan bukti betapa “Tali-tali Cahaya” itu benar-benar menari.