FUNDAMENTALISME KHANDAQ

“ANDA HARUS takabbur kepada masalah yang anda hadapi”. Cak Nun menerangkan bahwa salah satu metode menyelesaikan persoalan yang dihadapi adalah dengan cara menjadikan diri kita lebih besar dari persoalan yang kita hadapi. Dari metode ini kita akhirnya mampu memetakan bagaimana sikap kita menyikapi persoalan dalam skala yang terkecil hingga yang paling besar sekalipun. Cak Nun mencontohkan untuk persoalan Indonesia, yang ditakabburi bukan presidennya, bukan menterinya atau gubernurnya. Yang ditakabburi adalah persoalannya. Karena, jika kita mentakabburi presidennya, maka persoalan yang dihadapi oleh Bangsa Indonesia masih dalam posisi yang lebih besar dari kita, sehingga kita akan kalah dari masalah itu sendiri.

Cak Nun kemudian kembali menjelaskan bahwa kafir, musyrik, fasiq, dzalim, halal, haram dan beberapa istilah lainnya merupakan sebuah kondisi yang bergantung pada kondisi lainnya. Wajibnya Sholat Subuh adalah pada saat waktu Subuh. Jika pada saat waktu Dzuhur, maka sholat Subuh menjadi haram hukumnya untuk dilaksanakan. Sedangkan kafir, secara istilah artinya adalah ingkar, maka setiap manusia memiliki wilayah ingkarnya masing-masing. Ada yang ingkar terhadap keburukan, ada yang ingkar terhadap kemunafikan dan lain sebagainya. Seperti halnya haji, seseorang disebut haji hanya pada saat ia melakukan ritual ibadah haji di bulan Dzulhijjah yang sudah disyariatkan oleh Allah dalam Al Qur’an. Begitu juga seorang jenderal, posisi Jenderal hanya berlaku pada saat ia berada dalam wilayah militer, begitu ia pulang ke rumah dan berkumpul dengan keluarganya, maka ia berposisi sebagai kepala keluarga, bukan seorang jenderal.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: PREMANGAN

Al Quran secara jelas memerintahkan manusia agar memakan makanan yang halal dan toyib. Salah satunya ada di Surat Al Maidah ayat 88 yang artinya; “Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang telah dirizkikan kepadamu dan bertakwalah kepada Allah.
Memakan yang halal dan baik, bahkan sejajar dengan perintah takwa. Tegas, perintah Allah agar memakan yang halal dan baik, halalan toyiban, juga ada dalam Al Quran surat Albaqarah ayat 168. “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan; karena sesungguhnya syetan itu adalah musuh yang nyata bagimu.”

Tren Penyanderaan Hukum dan Pertahanan Terakhir

Tren penyanderaan pemimpin melalui media hukum yang marak, tidak pula secara apriori, kemudian secara utuh membuka pikiran generasi muda, menghindarkan diri dari resiko terjerat perkara hukum. Skandal yang selalu identik dengan kepemimpinan di negeri ini dari masa ke masa memang menjadi tema yang menarik. Dahulu, orang tidak akan membahas gaya Soekarno yang sering menikah, jika saat ini dilakukan oleh presiden, atau mungkin saja gubernur, akan berbeda ceritanya. Citra pembagian kekuasaan dan kolusi kepada kroni yang dilakukan Soeharto, saat itu memang menjadi keresahan, namun saat ini sangat biasa. Ada waktunya kita sangat sensitif dengan pola birokrasi dan politik keluarga. Faktanya, hampir dua dekade setelah berhentinya Soeharto, kartel-kartel kelompok kecil terbentuk. Saling menyimpan rahasia yang menurut hitungan waktu disimpan, dilakukan fermentasi perkara, disaat waktu yang tepat, akan digunakan untuk memukul atau menyerang balik pesaingnya.

Kecèlè Memblè

BALA BANTUAN dan kerja sama yang diharapkan Ki Lurah Prabu Petruk Gadungan atas kunjungan Raja Salya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Peti-peti hadiah dari Raja Salya hanya berisi surat-surat kontrak kerjasama yang realisasinya penuh tanda tanya. Investasi yang katanya ratusan triliun, ternyata tak seperti yang digembar-gemborkan sebelumnya. Sementara Raja yang katanya bijaksana dan mengedepankan kepentingan rakyat ternyata nyata kapitalis-nya. Kedatangan Raja Salya ke Astina lebih nampak sebagai tamasya, ketimbang kunjungan kerja. Bahkan tamasya ke Pulau Dewata durasinya ditambah. Keindahan Negeri Astina ini memang sangat memikat Raja Salya. Ki Lurah Prabu Petruk kecèlè ternyata dengan kedatangan Raja Salya.

Mukadimah: KECELA KECÈLÈ

Kecèlè berkali-kali. Katanya Negara, tapi berlaku seperti kerajaan. Katanya Negara tetapi kok wewenangnya Pemerintah. Katanya Pemerintah tetapi kok berlaku sebagai Negara. Katanya Pegawai Negara kok takut kepada Pegawai Pemerintah. Padahal Pegawai Pemerintah adalah pegawai sistem kontrak maksimal 5 tahun, sedangkan Pegawai Negara adalah pegawai tetap seumur hidup. Katanya Lembaga Negara kok berlaku sebagai Lembaga Pemerintah. Katanya Demokrasi, tetapi ketika ada yang berbeda pendapat dibully habis-habisan. Giliran dibully balik, merengek-rengek dan berteriak bahwa ini adalah Negara Demokrasi. Katanya Demokrasi, tetapi hanya dia dan kelompoknya sendiri yang boleh bebas dalam berpendapat. Katanya Demokrasi, tetapi kemudian mengeluh katanya Demokrasi kita sudah kebablasan. Padahal ia lahir dari sistem Demokrasi yang ia katakan sudah kebablasan ini.

Karno Tanding Kepagian

Pertunjukan wayang-wayangan politik semakin amburadul, porak-poranda oleh kebebasan demokrasi. Wayang-wayangnya mengambil peran suka-suka. Duryudana kadang berlaku seperti Yudistira yang menderita, Burisrawa memakai topeng Arjuna dan Sangkuni mengenakan jubah Bisma supaya dikira bijaksana. Rakyat Astina semakin jauh dan lupa keberadaan Pandawa Lima yang sejati karena mereka senantiasa disuguhi berbagai pertunjukan-pertunjukan Kurawa yang memerankan Pandawa. Pagi hari Duryudana dihina-hina oleh adik-adiknya karena memusuhi Basukarna, siangnya Bala Kurawa menjilati pantat Duryudana. Sore harinya Gandari menyamar menjadi Kunti ibunya Basukarna, untuk menyemangatinya dalam Karno Tanding. Sementara pagi, siang, sore dan malam Ki Lurah Prabu Petruk Palsu suka salah tingkah berada di tengah-tengah antara Ibu Gandari, Prabu Duryudana dan Basukarna.

Menyelesaikan Pekerjaan Rumah

Perjalanan Komunitas Kenduri Cinta yang sudah berjalan di tahun ke-17 ini tentu tidak semua merasakan prosesnya. Para penggiat baru dirasa perlu untuk mengetahui proses perjalanan dan berkembangnya Kenduri Cinta dari tahun ke tahun. Dinamika perjalanan Komunitas yang diwarnai oleh banyak sosok di Kenduri Cinta merupakan pelajaran tersendiri bagi para generasi muda Kenduri Cinta saat ini. Ada hal yang harus dipertahankan, ada hal yang harus diperbaiki dan juga ada hal yang harus dihilangkan. Karena setiap generasi memiliki ciri khas nya masing-masing dan memiliki pencapaiannya masing-masing. Kesemuanya tidak pantas untuk diperbandingkan, melainkan agar semua belajar bersama untuk menemukan rukusan yang tepat bagi setiap generasinya.