MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Dialektika yang diselenggarakan di Maiyah adalah belajar bersama, sinau bareng, tidak ada konsep mengajar, karena mengajar hanyalah akibat dari proses belajar bersama. Adanya pihak yang bertanya kemudian ada pihak lain yang lebih menguasai informasi sehingga memberi tahu kepada yang belum tahu. Tidak ada proses mengajar, yang ada adalah proses belajar bersama. “Begitulah di Maiyah, tidak ada mu’allim, yang ada adalah muta’allim,” Cak Nun menjelaskan.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Kita semakin terbiasa untuk hanya memperhatikan satu jengkal yang ada di depan mata. Jangankan untuk melihat cakrawala yang sedemikian luasnya, bahkan untuk memutar arah penglihatan, dan melatih daya pandang agar jarak pandang semakin jauh dan luas, kita enggan. Juga untuk memandang sebuah peristiwa dengan menggunakan metode thawaf, kita sama sekali kehilangan kepekaan itu. Apa yang dilihat di depan mata, itulah kebenaran yang diyakini. Kita sama sekali tidak terlatih untuk mampu membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan.

Hilangnya Kebijaksanaan

Sebuah kebenaran, jika disampaikan dalam bingkai kebaikan, maka akan melahirkan nuansa keindahan. Pesan yang benar, jika disampaikan dengan baik, akan menjadi indah. Namun hari-hari ini, kita sangat jarang mempertimbangkan aspek kebaikan, apalagi keindahan. Yang kita utamakan adalah bagaimana caranya agar kebenaran dapat tersampaikan. Informasi sebenar apapun, jika tidak disampaikan dengan cara yang baik, maka tidak akan berakhi dengan indah. Ketiga hal ini; benar, baik dan indah tidak bisa dipisahkan, jika estetika ini dipisahkan, selalu menghasilkan keburukan.

Terbiasa Melupakan

Ketika sebuah peristiwa baru saja terjadi, kemudian menjadi hype, sehingga hampir semua orang membicarakan peristiwa itu, sebenarnya yang terjadi bukanlah kita menghapus ingatan dari sebuah peristiwa yang sebelumnya terjadi. Yang kita lakukan hanya menyimpan ingatan itu, dan di kemudian hari ketika momentumnya tepat, kita akan kembali membuka ingatan itu.

Keseimbangan di Zaman Gumunan dan Getunan

Kalau dalam istilah jawa; “Wong Jowo Ilang Jawane”. Bisa dihitung dengan jari, berapa banyak generasi muda yang masih menyukai dan bangga akan kebudayaan asli daerahnya. Misal wayang kulit, tari jaipong, atau lenong Betawi. Tapi kenyataanya justru lebih bangga dengan musik K-Pop atau film-film buatan Hollywood. Yang di dalamanya tidak ada tuntunan, hanya tontonan semata. Sungguh sangat miris.

Menerka Sosok Sudrun

Catatan Tadabbur Esai “Kiai Sudrun Gugat” Jum’at 26 Oktober 2018, mendung menyelimuti kota Jakarta, suasana lalu lintas Jakarta menyambut akhir pekan terakhir dipenghujung bulan oktober sedang tepat pada klimaks kemacetanya. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu Umbu Landu Paranggi menulis sebuah puisi bertajuk “Apa Ada Angin di Jakarta”. Sore itu suasana dalam puisi Umbu benar-benar…

Merahasiakan Aurat

Dalam khasanah Maiyah, aurat dipahami sebagai segala sesuatu yang harus ditutupi, yang tidak tergantung pada baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek. Namun lebih luas dari itu. Dan aurat, bukan hanya persoalan fisik tubuh manusia semata.