NEGARA DALAM GELEMBUNG

“Kenapa anda bangun pagi hari?”, Cak Nun kembali melempar pertanyaan, dan ada beragam jawaban yang muncul seperti karena harus sholat subuh, karena harus bekerja, dan lain sebagainya. Di surga kelak, tidak ada perintah untuk berjuang, karena apa yang kita mau dalam sekejapan mata akan terwujud, begitulah kira-kira Allah menggambarkan surga kepada manusia. Sementara yang membuat manusia hidup adalah karena perjuangan, dalam perjuangan ada kecemasan, ada tantangan, ada dinamika kehidupan, ada hitam putih dan sebagainya. Kita sampai pagi Maiyahan, tahan bertahun-tahun melakuan Maiyahan karena kita memiliki cita-cita yang panjang di dunia ini, sementara di surga kelak apa yang kita inginkan akan terwujud dengan segera. “Jadi bener anda mau masuk surga?”, goda Cak Nun disambut oleh tawa jama’ah.

“Maka Allah menggoda anda ketika menyebut surga. Anda tertarik dengan surga dan tidak tertarik dengan yang menawarkan Surga”, demikian Cak Nun melontarkan logika yang lebih mendalam. Bahwa fokus utama manusia seharusnya adalah Allah. Sebab, secara otomatis, ketika kita terfokus kepada Allah, maka surga juga akan kita dapatkan. Sementara jika fokus hanya kepada surga, mungkin kita akan mendapat surga, tetapi belum tentu kita akan bertemu dengan Allah.

Artikel sebelumnya

Puasa dan Kesenangan (I)

COBALAH ENGKAU beranjak dari kursi, pergilah ke cermin. Sejenak saja. Tataplah wajahmu, badanmu, pakaianmu, dan seluruh penampilanmu. Setidaknya, engkau bisa menyadarai satu hal saja: bahwa potongan rambutmu yang seperti itu, jenis warna baju dan celanamu, juga seluruh benda yang menempel di badanmu—semuanya—adalah sesuatu yang engkau pilih sesuai dengan kesenanganmu.

Kemudian, kalau engkau sempat, edarkanah setiap pandanganmu ke setiap sisi ruang di dalam rumahmu. Perhatikan perabot-perabot, benda-benda, barang sebentar di mana dan kapan engkau membelinya atau memperolehnya. Lantas, kembalilah ke suatu kesadaran yang tadi itu, bahwa semua benda itu engkau pilih untuk engkau miliki berdasarkan kesenanganmu.

Mengenal Cak Nun, dari “Tombo Ati” hingga Kenduri Cinta

SETIDAKNYA ADA tiga kemungkinan seandainya kita hidup di era Rasulullah SAW. Pertama, kita beriman kepada Rasulullah SAW, setia dan berbaiat kepada beliau, meyakini ketauhidan Allah yang beliau ajarkan, patuh dan taat terhadap segala perintah dan menjauhi semua larangan. Kedua, kita berada satu kubu dengan Abu Jahal, yang tidak mempercayai segala informasi yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi, bahkan kita ikut melempari batu kepada beliau ketika berdakwah. Ketiga, acuh. Tidak peduli apa yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi pun juga tidak berniat untuk bergabung dalam faksi Abu Jahal. Yang penting hidup enak, bisa makan, kebutuhan sehari-hari tercukupi.

Meskipun demikian ada juga opsi keempat; tidak bersama dengan Abu Bakar, juga tidak bergabung dengan Abu Jahal, juga tidak bersikap acuh, tetapi menjadi abu-abu; Menjadi kelompok Oportunis, mana yang memberikan kita keuntungan, disitulah kita berpihak. Kalau hari ini Abu Bakar memberikan keuntungan kepada kita, kita bersama Abu Bakar. Kalau esok Abu Jahal menguntungkan kita, kita bersama Abu Jahal. Sepertinya kemungkinan keempat inilah yang menjadi pilihan terbanyak jika kita hidup satu era dengan Kanjeng Nabi.

NAJWA MENANTI SHOIKHAH

Medsos membuka pintu lebar-lebar untuk bisa digunakan sebagai sarana terror intelektual, politis, emosional. Medsos adalah mega-loudspeaker dari budaya rasan-rasan, yang rentang efeknya berjuta kali lipat. Orang bisa “membunuh” siapa saja dan merasa aman dan lega karena relatif tersembunyi di “kegelapan”. Medsos bisa membuat penduduk Bumi cemas, was-was, bingung di “perempatan jalan silang antara kebenaran dan kebohongan”. Kata “was-was” juga dipakai Tuhan untuk konteks “membisik-bisikkan” ke hati manusia (“yuwaswisu fi shudurinnas”), yang pelakunya adalah Jin dan manusia sendiri. Mungkin Tuhan nyindir: kalau nyalahin setan jangan menuding keluar, tapi ke dalam dirimu masing-masing, sebab kalian sendirilah produsen Setan.

Medsos adalah sabana Peradaban baru yang belum ketemu tata nilai komunikasinya, sedang disimulasikan secara empirik garis-garis batas etikanya, disusun pelan-pelan secara dinamis dan penuh kegaduhan prosentase manfaat dan mudaratnya. Tapi Majlis Ulama Agama apapun tidak mungkin mengharamkannya, karena ia hanya alat atau wadah. Yang salah adalah penggunanya. Manusianya.

Anak Jadah Demokrasi

PADA SAAT ini identifikasi kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara tidak dalam kondisi ideal untuk disebut sebagai sebuah keluarga. Arus globalisasi semakin menghapus eksistensi bangsa dan negara, terminologi keluarga untuk menggambarkan hubungan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi rancu. Hubungan pemerintah yang sering dianggap sebagai suami dan Rakyat yang diumpamakan sebagai istri justru menjebak kehidupan bernegara dalam rutinitas kawin kontrak 5 tahunan dari hasil pesta pernikahan demokrasi bebas. Padahal, kontrak yang terjalin ini lebih berupa formalitas politis kekuasaan bukan berdasarkan cinta, kasih dan sayang sesama anak bangsa terhadap tanah airnya. Karena itu, pemerintahan yang ada baik di pusat maupun daerah pada dasarnya hanyalah bertugas menjalankan kontrak kerja selama lima tahun untuk mengurus rumah tangga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka bukanlah suaminya rakyat melainkan pengurus NKRI yang dipilih dan digaji oleh Rakyat. Dengan ini berarti, pihak-pihak yang saat ini menguasai pemerintah tidak berarti dapat menguasai negara.

Mukadimah: TAKFIRI VERSUS TAMKIRY

Ummat Islam adalah masyarakat mayoritas yang tinggal di Indonesia, bahkan NKRI dianggap sebagai Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Di Negara ini, kita memiliki NU, Muhammadiyah, Persis, HMI, PMII, IMM,KAMMI, GMNI, GP Anshor, Pemuda Muhammadiyah dengan ribuan ulama dan beserta kader-kadernya, ribuan pondok pesantren telah berdiri tegak di berbagai daerah di Negeri ini, komunitas-komunitas studi ke-Islaman juga tak kalah banyaknya mewarnai perkembangan Islam di Indonesia. Islam memiliki kekuatan yang luar biasa andai saja mereka mau disatukan dalam satu wadah.

Nafas Islam adalah menyelamatkan, sehingga seandainya Islam memiliki kesempatan untuk dipersatukan, Islam tidak akan berlaku sebagai pihak yang merasa untuk menjadi Pemimpin, kemudian menindas pihak yang lain agar tunduk kepada aturan mainnya. Tidak, Islam tidak seperti itu. Islam yang sebenarnya adalah Islam yang mampu merangkul semua pihak, yang mengamankan 3 hal dari setiap pihak yang bersinggungan dengan Islam; Nyawa, Harta dan Martabat.

Cincin Nusantara

Dalam beberapa kesempatan Cak Nun sering mengumpamakan Pancasila sebagai cincin kawin bangsa-bangsa Nusantara dalam mendirikan rumah tangga bernama Indonesia. Dengan perumpamaan semacam itu, jelas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila menjadi sangat penting. Namun jika terjadi perselingkuhan dan pengkhianatan, cincin kawin itu menjadi tidak bermakna meskipun masih tetap melingkar di jari Indonesia. Keharmonisan rumah tangga negara bukanlah sekedar keharusan melingkarnya cincin, tetapi bagaimana pemerintah dan rakyat dapat mewujudkan cita-cita bersama bagi para penerus bangsa dengan dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.