MEMBACA AMSAL

Ilmu itu menemukan perbedaan, sedang kebijaksanaan adalah menemukan kesamaan dari yang berbeda-beda itu. Khasanah ilmu modern tidak mengenal karomah, barokah, hidayah, rahmat, ilham dan sebagainya. Tidak dengan pengetahuan Maiyah. Dengan pengetahuan yang kita miliki, kita mengasuh dunia. Kesadaran orang Maiyah adalah tidak bermimpi untuk dipahami oleh orang modern. Tugas Maiyah itu membaca, bukan dibaca. Maiyah yang harus membaca mereka yang tidak paham dengan Maiyah. Kita yang membaca dan memahami Indonesia.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: GURU-GURU PERADABAN

Guru, digugu lan ditiru. Guru sejatinya harus mempunyai kelengkapan keilmuan dan kelengkapan sikap. Bukan guru namanya kalau hanya memberikan materi atau ceramah, itu namanya “teks yang bisa bersuara”. Seorang guru yang kompeten adalah ia yang mampu mendekatkan dirinya dengan murid-muridnya. Setiap sikap, tingkah lakunya menjadi sumber ilmu muridnya. Bahkan bisa jadi sampai cara berjalannya bisa mengisyaratkan ilmu, dan keilmuan yang dimilikinya. Keikhlasannya dalam meridhoi setiap manusia dan ciptaan-Nya menjadikan guru memiliki kemampuan untuk bisa diterima masyarakat banyak, atau lebih khusus diterima oleh muridnya. Guru harus bisa menjelma menjadi ilmu itu sendiri. Karena setiap kedalaman ilmunya, ditampakkan baik secara kasar maupun halus dalam setiap nilai kehidupannya. Semakin berisi semakin merunduk. Semakin banyak bibit-bibit dari dirinya yang bisa tumbuh walaupun dia tidak meniatkannya. Semua secara ikhlas terjadi dengan sendirinya.

Jalan Sunyi Menturo-Bojonegoro

Kegembiraan dan kemeriahan Padhangmbulan tidak hanya dirasakan oleh jamaah yang hadir. Rangkaian sajian dari adik-adik dan ibu-ibu yang memainkan terbangan dan shalawatan pada awal acara, personel Letto dan KiaiKanjeng yang berkolaborasi, serta Cak Nun dan Cak Fuad beserta para narasumber yang berada diatas panggung menyuguhkan kegembiraan dan suasan khidmat hingga akhir acara. Peristiwa percintaan yang sepertinya berat untuk ditinggalkan oleh ribuan jamaah yang hadir di Padhangmbulan malam hingga pagi tadi. Kerinduan pun tiba-tiba menyerbu, padahal baru sesaat berpisah sementara waktu usai bertemu.

Kebaikan Maiyah

Di Maiyah kita selalu diajarkan untuk melakukan 3 kebaikan secara terus menerus, yaitu menanam, puasa, dan sedekah. Kapanpun, dimanapun, dan sebanyak-banyaknya. 3 Kebaikan utama yang selalu istiqomah kita lakukan pasti akan membuahkan hasil yang bisa kita tandur. Tetapi Maiyah juga mengajarkan nandur itu juga harus berhati-hati. Tidak serta merta semua buah kita tandur semua, atau bahkan kita tidak nandur buah itu sama sekali. Ada kondisi pener yang menjadi syarat bagaimana kita bisa nandur buah-buah tersebut. Itu menurut saya sikap dasar Maiyah.

Mukadimah: MEMBACA AMSAL

Para Nayaga dari penabuh saron, bonang, gender, gong, rebab, kendang dan berbagai alat gamelan lainnya bersama dengan Waranggana sudah terlatih untuk mengiringi Dalang dalam menampilkan pagelaran wayang. Kapan harus menggunakan laras pelog, kapan harus menggunakan laras slendro sudah dipahami oleh Pesinden dan setiap Nayaga penabuh gamelan. Pengendang selama pertunjukan berkonsentrasi penuh terhadap wayang-wayang yang dimainkan oleh dalang pada setiap adegan. Setiap tokoh wayang memiliki ciri khas tersendiri dalam bergerak dan penabuh kendang akan berusaha mendramatisir setiap gerak wayang yang dimainkan oleh Dalang. Terutama ketika adegan perang, setiap gerak sabetan wayang yang dimainkan Dalang akan diiringi oleh permainan kendang si pengendang.

Kenduri Cinta dan berbagai forum-forum Maiyahan di berbagai penjuru wilayah nusantara

Kutemukan Jawaban di Maiyah

Cak Nun mentadabburi kalimat Bismillahirrohmanirrohiiim. Bismillahirrohmanirrohim itu terdiri dari Bismillahi, Roh, Mani, Rohim. sebelum roh, ada perjanjian “Alastu bi rabbikum, bukankah Aku Tuhanmu?” Setelah roh sepakat, “Ya saya bersaksi, Kamu lah pengayomku”. Baru kemudian ditiupkan roh itu ke Mani, dan ditempelkan kepada Rohim (Rahim). Allah lah yang mengajari kita jauh sebelum Ibu kita mengajari kita. menurut Cak Nun, Tadabbur itu berbeda dengan Tafsir “Kalau Tadabbur, salah tidak apa-apa asal hasilnya baik, dan Allah menyuruhnya Tadabbur bukan tafsir, Afala yatadabbarunal Qur`an “. Tadabbur itu dari kata Dubur (jalan belakang), yang penting itu outputnya, yang dikeluarkan dari duburmu itu baik.

BELENGGU PEMIMPIN

Pemimpin itu satrio pinandhito sinisihan wahyu. Tidak mungkin satria itu tidak jujur, tidak mungkin satria menyakiti hati rakyatnya. Pinandhita adalah orang yang sudah tidak lagi memikirkan dunia, ia zahid, tidak memiliki kepentingan politik. Sinisihan wahyu artinya ia dibimbing, dikawal, didampingi oleh Allah, terus-menerus, sehingga saat mengambil keputusan, apapun itu, selalu dinaungi hidayah Allah.