KOORDINAT MAIYAH

SABRANG MENCOBA menarik dari gambaran peperangan. Sejak dahulu, dalam sejarah peradaban pada setiap peperangan terdapat satu titik berat tarikan kekuatan. Entah itu kekuatan kekuasaan, kekuatan teritorial, kekuatan ekonomi, kekuatan pengaruh budaya, atau apapun itu selalu terdapat satu gaya tarik menarik pada satu titik koordinat. Dan, Sabrang sendiri tidak bisa memandang pada 212 yang lalu peta peperangannya ada dimana, daya tarik menariknya ada di titik mana? Namun, lebih jauh dari itu, Sabrang menjelaskan bahwa dalam sebuah peperangan pada satu pasukan tentu terdapat Pasukan Infantri, Artileri dan Kavaleri. Masing-masing pasukan ini harus memiliki kesadaran koordinatnya masing-masing dalam berperang. Tidak bisa Pasukan Infantri menyalahkan Pasukan Artileri karena tidak berada pada benteng terdepan, tidak bisa juga pasukan Kavaleri membodoh-bodohkan Pasukan Infantri yang bergerak di barisan terdepan. Karena, setiap pasukan memiliki sistem dan strateginya sendiri-sendiri, dan mereka semua berada dalam satu kesatuan pasukan perang.

Hal inilah yang tidak difahami secara mendalam oleh masyarakat di Indonesia hari ini. Kebanyakan dari mereka berharap bahwa semua harus terjun ke medan perang. Padahal, tidak demikian strategi peperangan berlaku. Harus ada yang tetap menjaga markas pasukan, harus ada yang bertugas menjaga stabilitas logistik dan ketahanan pangan. Dan, Sabrang juga menekankan, bahwa pada koordinat penguasaan dan penjajahan terhadap Indonesia, musuh kita juga memiliki sistem “Rakaat Panjang”-nya sendiri yang kita tidak mengetahui sejauh mana sistem mereka itu sudah berjalan. Kita memiliki strategi Rakaat Panjang, tetapi jangan salah sangka juga, bahwa sebenarnya musuh juga memiliki strategi Rakaat Panjang dalam dimensi dan nuansa yang berbeda dari yang kita miliki.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: KELEDAI LESTARI

Setidaknya ada 10 teori penciptaan manusia secara modern dapat dirangkum. Mulai intelligent design, theistic evolution hingga evolusinya Darwin. Perdebatan filosofis mulai berlangsung pada abad 4 SM dari aliran Filsafat Alam, menyeruaknya aliran Kodrat pada abad 7 Masehi, hingga yang menonjol aliran Gereja pada abad 12 di dunia filsafat. Munculnya sebuah teori baru tidak serta merta langsung diterima oleh masyarakat secara umum. Bisa puluhan bahkan ratusan tahun sebuah teori baru dapat diterima. Bahkan keberadaan Ibrahim AS sebagai penggagas utama teori Kodrat (agama) baru mendapatkan legitimasi pasca Al Qur’an turun dengan ratusan tahun berbagai dinamika wawasan pengetahuan sejarah manusia sebelumnya.

Al Qur’an menjelaskan 5 pertanyaan dasar yang tidak mampu dijawab oleh akal, khususnya ilmu Filsafat dan ilmu pasti. Seperti; siapa manusia pertama kali? Untuk apa manusia diciptakan? Kenapa harus ada sedih dan bahagia? Kenapa ada kematian? Setelah mati kemudian seperti apa kehidupan manusia? Di sinilah keterbatasan akal dijawab dengan pendekatan agama

Tidak Pernah Melibatkan Allah

Yang ditagih oleh Allah merupakan proses perjuangannya. Yang ditagih oleh Allah adalah kesungguhan petani dalam menanam padi. Kepastian akan memanen adalah hak prerogatif Allah. Manusia memang diberi mandat oleh Allah untuk menjadi Khalifah di muka bumi, sayangnya manusia hari ini terlampau percaya diri merasa bahwa dirinya merupakan titik pusat penentu dari seluruh yang berlaku dalam kehidupan ini. Manusia terlampau yakin bahwa mandat kekhalifahan yang dianugerahkan kepada mereka anggap sebagai tongkat kekuasaan penuh atas semua yang ada di muka bumi.

Mukadimah: My Darling

My Darling sebagai tema Maiyah Dusun Ambengan edisi Januari 2017 adalah pembukaan tahun cinta, tahun kemesraan untuk benar-benar membumikan apa itu yang dianggap sebagai sikap pengasih dan penyanyang. Berlaku penuh kasih sayang, semata-mata upaya untuk mendapatkan curahan rahmat dan berkah dari Allah SWT yang memiliki puncak sikap, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyanyang.

Mengambil Spirit Inna Ma’a-l-‘Usri Yusron

Obat segala penyakit memang belum terbukti ada, penelitian obat ini mungkin sudah berlangsung. Klaim-klaim penemuan formula obat semacam ini mungkin akan bermunculan, namun tahap selanjutnya adalah pembuktian kebenarannya. Hingga saat ini, variasi obat dibuat sedemikian rupa secara spesifik hanya untuk tiap-tiap jenis penyakit dan untuk tahap-tahap pengobatan tertentu. Dokter harus mendiagnosa jenis penyakit dari pasiennya sebelum melakukan tindakan medis atau memberikan resep untuk pengobatan yang tepat. Luka fisik yang nampak akan ditangani dengan cara yang berbeda dengan sakit akibat disfungsi organ tubuh bagian dalam. Penanganan pasien dengan tindakan medis yang tidak tepat atau karena kekeliruan resep dapat berakibat sakit yang diderita pasien tidak kunjung sembuh. Bahkan bisa berakibat malpraktek.

2017, Wa Ilaa Robbika Farghob

Maiyah sejak jauh-jauh hari menegaskan bahwa peran yang diambil dalam menyikapi setiap persoalan yang dihadapi oleh Indonesia merupakan sikap yang menitikberatkan pada proporsionalitas sedekah. Maiyah merupakan pihak yang tidak memiliki kewajiban untuk mberesin semua persoalan yang ada di Indonesia. Tetapi, Maiyah bersikap stand by terhadap setiap kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi. Orang Maiyah berkeyakinan bahwa tugas mereka hanyalah menanam dan terus menanam, sembari berharap kemurahan Allah agar mereka diberi kesempatan untuk menikmati panen. Semangat Ihdina-sh-shiroto-l-mustaqiim adalah semangat yang harus terus dijaga oleh setiap Orang Maiyah. Kesadaran bahwa naik turunnya Iman merupakan sebuah kodrat manusia, dimana setiap orang sangat mungkin keluar dari rel yang seharusnya mereka lalui, namun atas perjuangan mereka sendiri, mereka akan mampu kembali berada dalam jalur yang seharusnya mereka lalui.

Menjaga Harapan Untuk Masa Depan

Sepertinya jika setiap individu mampu menempatkan diri pada frame-nya dan dalam batasannya yang tepat, kegaduhan pada kehidupan Ummat manusia tidak terjadi. Namun acap kali ketidak mampu-an mengendalikan syahwat berakibat individu melanggar dan melewati batasannya. Setelah usai bulan Ramadlan, Kenduri Cinta mengulas tema Manusiahwat. Mengulas fenomena tahunan selama bulan ramadlan dan paska lebaran, bahwa berkali lipat meningkat konsumsi kebutuhan masyarakat pada kurun itu dibanding hari-hari biasanya. Sebuah ironi, bulan pendidikan pengendalian diri justru dijadikan semacam penjara syahwat yang kebebasannya justru dimulai setelah lebaran dengan sebelas bulan berikutnya sebagai pelampiasan syahwat.Syahwat disini bukan hanya menyoal hubungan nafsu lelaki-perempuan, tapi juga nafsu konsumtif ekonomi, nafsu popularitas, nafsu politik dan berbagai nafsu melampiaskan lainnya. Idealnya bulan Madrasah itu dapat menghasilkan output kehidupan sosial yang terkendali oleh kedaulatan individu-individu yang mampu mengendalikan dirinya, terkendali keluarganya, terkendali lingkungan kerjanya, terkendali masyarakatnya, terkendali negara-bangsanya, bukannya malah terjerembab roboh karena pelampiasan syahwat materialisme personal ditengah kehidupan sosial.