MANUSIA YANG MANA KAMU?

Kenduri Cinta tidak dibangun dengan landasan intelektualitas, namun dengan kesucian cinta dan kasih sayang. Layaknya ibu, dimana sosoknya menjadi seseorang yang harus kita sanjung serta taati. Bukan kepandaian, kecerdasan serta expertise lainnya yang membuat sosok ibu harus kita hormati, namun curahan ketulusan cinta dan kasih sayangnya yang membuat kewajiban taat kepadanya.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: JAHIL MOROKKAB

Allah menganugerahi manusia dengan gelar ahsani taqwim. Tentu bukan tanpa alasan, Allah memberi label ahsanu taqwim kepada manusia karena memang manusia memiliki semua tools yang dibutuhkan untuk mencapai keniscayaan dari ahsani taqwim itu sendiri. Perjalanan sejarah manusia dalam mencari dirinya telah menemukan berbagai macam metode; primbon, zodiak, astrologi, shio, hingga yang paling modern seperti test potensi akademik, juga pengidentifikasian bakat melalui uji sidik jari (fingers print). Kesemuanya itu adalah ijtihad manusia dalam menemukan siapa dirinya.

Manusia Tidak Punya Hak Untuk Saling Menyalahkan

Tugas kita adalah menjadi manusia yang dikehendaki oleh Allah. Kita melakukan apa yang memang seharusnya kita lakukan. Kita menapaki jalan yang memang seharusnya kita menapakinya. Kegagalan manusia modern memahami peran mengakibatkan salah kaprah dalam menjalankan peran. Menjadi pejabat pemerintah justru dimanfaatkan sebagai ajang menjadi penguasa, padahal seharusnya menjadi pejabat pemerintah adalah menjadi petugas yang melayani rakyat. Di Kenduri Cinta inilah, secara perlahan kita mencari satu persatu nilai-nilai luhur manusia yang seharusnya berlaku dalam kehidupan sehari-hari.

Mukadimah: Manusia Yang Mana Kamu?

Berkaca pada perjalanan Rasulullah Saw, pada usia muda beliau sudah menjadi manusia nilai. Gelar Al Amin yang disematkan oleh masyarakat Mekah menjadi pertanda bahwa Muhammad bin Abdullah adalah manusia nilai. Beranjak dewasa, Muhammad bin Abdullah menjadi pedagang yang piawai dalam berdagang. Muhammad bin Abdullah sukses menjadi seorang pengsaha muda. Namun, beliau sama sekali tidak kepincut dengan kemilau harta benda yang ia miliki dari hasil perdagangan. Pada saat risalah dari Allah itu datang, Rasulullah Saw memiliki kesempatan untuk menjadi manusia istana. Pun ketika berhijrah ke Madinah, beliau mampu mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshor, menyusun blue print peradaban masa depan Madinah, namun sama sekali momen itu dimanfaatkan oleh Rasulullah Saw untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa.

PRESIDEN SEJATI PUJANGGA ABADI

“Ini bukan urusan ekslusif linier puisi saja. Tapi ini urusan sangat tauhid. Ini urusan sangat agama,” Cak Nun sampaikan. Ibarat dalam sepakbola, terjadinya sebuah gol justru lebih banyak dipengaruhi oleh pergerakan-pergerakan pemain tanpa bola daripada bola itu sendiri. Maka sudah seharusnya kita mulai melatih kepekaan untuk melihat hal-hal yang tidak diinformasikan. Cak Nun mengingatkan kita untuk melatih kepekaan diri agar mampu membaca ayat-ayat Allah yang tidak difirmankan.

Cak Nun melakukan tadabbur surat Al Qashas ayat 77: wabtaghiy fiima ataakallahu daaro-l-akhiroh walaa tansa nashiibaka mina-d-dunyaa. Kata “nashib” yang dimaksud bukan tentang nasib kita, melainkan tentang apa yang dikhususkan oleh Allah kepada kita, yang ada dalam diri kita. Kita yang menggali potensi dalam diri sehingga kita menemukan keistimewaan dalam diri kita. Disitulah letak walaa tansa nashiibaka mina-d-dunyaa.

Kenduri Puisi Dalam Ijazah Maiyah

Ditekankan oleh Cak Nun, Ijazah Maiyah tidak hanya dikhususkan oleh orang-orang yang besar, tokoh terkemuka atau orang yang terkenal. Tidak. Ijazah Maiyah diperuntukan kepada siapapun saja, manusia-manusia murni yang penuh dengan keteladanan untuk menjadi insan kamil, menjadi manusia yang sejati. Di tengah arus besar globalisasi asfala safilin sosok tiga pujangga itu menjadi teladan Ahsanu Taqwim sebagaimana yang Allah maksudkan.

Bukan, Sutardji Bukan Sekadar Presiden Penyair

Puisi Sutardji Calzoum Bachri adalah puisi yang mendobrak pakem yang ada saat itu. Puisi-puisi dengan kata-kata konkret menjadi media ekspresi Sutardji untuk menumpahkan keresahan-keresahan yang ia rasakan. Yang juga unik dari puisi-puisi karya Sutardji Calzoum Bachri adalah seringkali ia menggabungkan Bahasa Indonesia dengan Bahasa Daerah. Bagi sebagian orang tentu saja akan mempersulit dalam memahami kata-kata yang ada di puisi tersebut, namun secara tidak langsung pada akhirnya justru memperkenalkan kata-kata itu sendiri kepada khalayak penikmat puisi-puisinya.