SERIBU BAYANG PRASANGKA

Bekal utama manusia itu bukan ilmu, tetapi tawadhlu’, rendah hati dan tahu diri. Bahasa jawanya biso rumongso bukan rumongso biso. Sementara kita melihat hari ini yang terjadi adalah pementasan parade rumongso biso. Di Kenduri Cinta kita belajar menyajikan masakan, bukan enak atau tidak enaknya melainkan ketulusan dan keikhlasan hati kita ketika memasaknya. Surat Al-Hujurat ayat 12, disebutkan inna ba’dhlo dhzonni itsmun, sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dari ayat itu, kita belajar bahwa dengan berprasangka saja kita sudah berdosa. Selain itu, ada kalimat walaa tajassasu, ayat ini mengajarkan kita untuk tidak menjadi “intel” bagi orang lain, kecuali dalam rangka untuk menunjukkan apresiasi dan empati kepada orang lain. Dalam ayat itu juga terdapat peringatan agar manusia tidak menggunjing satu sama lain. Diibaratkan Allah, barangsiapa yang mempergunjingkan orang lain itu sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

Artikel sebelumnya

Emha, Cak Nun atau Mbah Nun?

Belakangan, ketika tulisan-tulisan tuturan saya diposting ulang oleh banyak orang di media sosial, dengan atau tanpa menyebut sumber tulisan saya, ada beberapa yang memprotes “kekurangajaran” saya yang hanya meng-Emha-kan Cak Nun. Saya memaklumi dan menyadari soal unggah-ungguh yang diungkap oleh beberapa pembaca tulisan saya. Hari-hari berlalu, tahun-tahun pun berganti. Semakin banyak anak-anak usia muda yang mencintai dan mentakdzimi Cak Nun.

Berpuasa Agar Tidak Hancur

Kebahagiaan berfikir juga ditentukan oleh seberapa paham dirinya dengan puasa berfikir. Seberapa besar frame waktu berfikirnya. Apa yang harus dia pikirkan untuk masa depan yang masih entah ada atau tidak, dana apa yang dia harus pikirkan untuk masa lalu yang sudah pasti menjadi tempat terjauh yang kemungkinan tidak bisa kita jangkau lagi. Dalam buku La-Tahzan, ilmu yang bisa kita petik nilainya dalam frame berfikir adalah “Hiduplah untuk hari ini”. Ilmu itu secara tidak langsung memframe waktu dan energi pikiran kita hanya untuk hari ini. Dari semenjak dia bangun tidur sampai dia tertidur kembali. Ada parameter jelas, dan mungkin pembagian nilai yang tepat antara masa sekarang, masa depan, dan masa lalu. Setiap orang tentu mempunyai nilianya masing-masing sesuai proporsi fitrahnya.

Setan Dibelenggu

Setan itu bukan sesuatu di luar diri kita, sebuah bentuk, fisik, jasad. Setan itu kan bisa frekuensi, sel, virus, kuman, bisa koordinat-koordinat dari suatu keadaan, bisa atmosfir, quark, anda memahaminya dengan nano technology, misalnya. Jadi setan itu suatu potensialitas yang terus menerus harus diselidiki, yang membikin manusia sedemikian rupa kehilangan keseimbanganya. Dan ini sangat luas. Ketidakseimbangan dan keseimbangan dalam diri manusia begitu luasnya.

Kemesraan Dalam Guyuran Hujan di Kenduri Cinta

“Saya tidak pernah menganjurkan Anda untuk berbuat baik. Tetapi, temukanlah kenikmatan dalam hidupmu. Temukan kenikmatan pada setiap perbuatan baikmu. Temukan kenikmatan dalam kebaikan yang Anda lakukan. Bahkan dalam penderitaanmu, temukanlah kenikmatan”, Cak Nun menjelaskan bahwa yang menjadi fokus utama di Maiyah bukan tentang hasil proses kebaikan yang kita lakukan, tetapi ketika kita berbuat baik, kita merasakan kenikmatan, kegembiraan, kebahagiaan.

Bukan Virus Cinta

Istilah Penggiat Kenduri Cinta sudah mulai akrab dikenal, untuk menyebut jamaah yang lebih aktif dalam persiapan dan berkomitmen dalam keberlangsungan Maiyahan. Penggiat rutin berkumpul setiap hari Rabu mulai pukul 20.00 di Teras Galeri Cipta II dalam forum Reboan. Suasana santai nan akrab terbangun dalam forum ini. Terbuka untuk jamaah yang bersedia melibatkan diri lebih dalam di Kenduri Cinta. Maiyahan rutin yang digelar setiap bulan di Plaza Taman Ismail Marzuki, hanyalah satu bagian saja. Selain Maiyahan rutin itu, para penggiat juga mengurusi banyak hal yang berkaitan dengan organisme Kenduri Cinta itu sendiri.

Puasa Arak

Kalau kita cari rumus-rumus dasarnya, aslinya puasa kalau saya menggambarkan kan dilambangkan oleh air khamar atau air arak. Kalau sholat dilambangkan oleh air hujan. Puasa itu khamar, ada peragian rohani. Jiwa menjadi lembut, hati menjadi lembut dan lain sebagainya. Sehingga kita hanya mensisakan diri hanya pada faktor-faktor yang penuh cinta saja kepada Allah dan alam semesta.