RAKAAT PANJANG

Cak Nun lalu menjelaskan bahwa yang mengalami evolusi pun bukan hanya penciptaan yang bersifat material saja, bahkan Kitab Allah yang sejatinya bersifat ruhaniah juga mengalami evolusi. Kita semua mengetahui bahwa Nabi Adam ketika diciptakan tidak dibekali dengan Kitab Allah, maka yang dimaksudkan oleh Allah di dalam Al Qur’an bahwa Adam mengajarkan Al Asma’ itu bukanlah tentang kata-kata benda, melainkan berupa fenomenologi seperti; cuaca, situasi, kondisi, konflik, konstelasi, bahwa kelak akan ada pertumpahan darah, ada kebencian, ada kedengkian, ada perdamaian, ada kemakmuran, ada keadilan dan lain sebagainya. Sedangkan kata-kata merupakan hasil dari kesepakatan tiap-tiap manusia itu sendiri. Nabi Adam AS bahkan diajarkan tentang perpecahan dan pertikaian melalui peristiwa pembunuhan yang dilakukan oleh anaknya sendiri (Habil dan Qabil). Dan, hingga pada sekian era kemudian, Nabi Ibrahim AS dibekali Kitab Zabur, Nabi Musa AS dibekali Kitab Taurat, Nabi Isa AS dibekali Kitab Injil dan Nabi Muhammad SAW dibekali Kitab Al Qur’an.

Beberapa kali dalam Maiyahan, Cak Nun menggambarkan evolusi Kitab Allah ini seperti evolusi buah kelapa. Kitab Taurat ini diibaratkan seperti bluluk yang dalam proses buah kelapa merupakan cikal bakal buah yang masih sangat mentah. Kemudian Zabur diibaratkan seperti cengkir yaitu buah kelapa yang sudah semakin padat, namun belum menjadi buah yang sempurna sama sekali. Injil diibaratkan seperti degan, yaitu buah kelapa yang masih muda, yang meskipun sudah bisa dimanfaatkan tetapi bukan manfaat yang utama yang bisa diambil, hanya airnya saja dan buah kelapa yang masih muda. Lalu Al Qur’an yang diibaratkan oleh Cak Nun sebagai buah yang sempurna, dengan konstruksi yang lebih sempurna, semua unsur yang ada di dalamnya sudah lengkap, serabut yang sudah kuat, batok kelapa yang juga sudah keras, buahnya pun sudah sangat tebal dan padat, sehingga bisa dimanfaatkan untuk dijadikan santan kelapa.

Artikel sebelumnya

fa_koordinatmaiyah_backdrop_hires

Mukadimah: KOORDINAT MAIYAH

Maka, jikalau Bangsa dan Negara Indonesia tidak memperhatikan dan tidak mempedulikan nilai Maiyah, perilaku Maiyah, gelombang Maiyah dan Orang Maiyah, Orang Maiyah tidak terbebas dari nilai Maiyah dari kewajiban Maiyah untuk memperhatikan Bangsa dan Negara Indonesia. Dan seandainya Orang Maiyah tidak diandalkan oleh Bangsa dan Negara Indonesia, Orang Maiyah akan selalu senantiasa menggali dari setiap jengkal potensi Bangsa dan Negara Indonesia yang masih bisa diandalkan. Bahkan jika Orang Maiyah, dalam perilaku, sikap, nilai dan gelombangnya tidak dihitung sama sekali oleh Bangsa dan Negara Indonesia, maka Orang Maiyah tidak akan kehilangan tempatnya dalam sejarah. Karena Maiyah tetap diandalkan untuk pembangunan kesejahteraan masa depan dirinya sendiri, keluarganya dan saudara-saudara yang ada di sekitarnya.

Keberkahan Warung Ketan Susu

Sekitar 6 kilometer dari Taman Ismail Marzuki, tepatnya di daerah Kemayoran, terdapat sebuah warung yang sangat sederhana. Bukan sebuah warung yang besar, bukan juga sebuah outlet franchise makanan siap saji, melainkan sebuah warung kecil dan sederhana di pinggir jalan; Ketan Susu Kemayoran. Meskipun berada di pinggir jalan, warung ini merupakan warung yang sangat legendaris dan terkenal. Adalah Pak Tasnian yang mengawali berjualan kudapan ketan ini, hingga saat ini usaha keluarga tersebut dikelola oleh 7 bersaudara dan tetap menjaga orisinalitasnya.

Menata Peta Perjuangan

Strategi perang panjang yang menginginkan kehancuran Bangsa Indonesia sangat tidak kentara dengan cara-cara melemahkan kedaulatan Bangsa Indonesia dari dalam. Investasi berupa pembangunan-pembangunan infrastruktur semakin nampak dominan membela kepentingan investor ketimbang ditujukan untuk kepentingan rakyat. Itu adalah buah cengkraman dari antek-antek kapitalis global yang sudah menancap di sendi-sendi perpolitikkan nasional hingga perpolitikkan daerah. Dengan menancapkan cakar modalnya, mereka mampu menyelusup kedalam jajaran penguasa-penguasa daerah maupun nasional. Sehingga mereka mampu mengontrol dan mempermainkan peraturan-peraturan dan perundang-undangan dalam melancarkan kepentingan mereka untuk menguasai negeri ini dari balik layar.

Guyub

Pada kultur masyarakat agraris, semangat guyub melandasi pengelolaan irigasi yang mengaliri sawah-sawah. Peluang kericuhan akibat perebutan jatah air pun bisa diredam. Saat menghadapi masa tanam dan panen, guyub menjadi tulang punggung bagi teraihnya kerjasama yang setimpal serta saling menguntungkan antar petani. Demikian pula dengan istiadat dalam masyarakat maritim. Sebelum mengarungi lautan, gabungan nelayan berembug lebih dulu untuk membahas seluk-beluk perburuan serta porsi-porsi pembagian tangkapan. Sebab hasil-hasil alam tidak diperuntukkan cuma pada kelompok tertentu saja. Kepenguasaan sepihak hanya akan membuahkan ketimpangan yang menyengsarakan. Untuk itu, monopoli sumber ekonomi harus dihindari.

Postimisme Rakaat Panjang

Pada nuansa yang sama namun berbeda dimensi, hari ini anak-anak Bangsa Indonesia dengan medan perangnya masing-masing juga sedang berjuang. Pada kehidupan sehari-hari mereka melawan gempuran dan serangan melalui berbagai media yang terus menerus berusaha menghancurkan Bangsa Indonesia. Anak-anak Bangsa Indonesia ini mandiri menempa diri, menemukan jati diri ditengah intimidasi globalisasi. Anak-anak Bangsa ini tetap istiqomah dengan perjuangan panjangnya meskipun lingkungan sekitarnya selalu menawarkan proses instan dan proses yang premature.

Medan perang-panjang antara yang sedang menghancurkan dan membangun Bangsa Indonesia sebenarnya sudah tergelar sejak awal lahirnya Bangsa Indonesia. Nasionalisme yang telah mampu menyambung cita-cita Bangsa-bangsa di Nusantara, menjadi latar belakang didirikannya bangunan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Rangkaian itu bukanlah sebuah perjalanan mulus tanpa rintangan. Berkali-kali usaha mengadu antar elemen Bangsa terjadi, isu disintegrasi-pun kerap bermunculan. Pergantian periode pemerintahan selalu saja diwarnai dengan kegaduhan politik dan keamanan. Sementara neo kolonialisasi besutan kapitalisme global telah berhasil bercokol di sendi-sendi strategis negara. Dari dalam mereka menggerogoti kedaulatan ekonomi, kedaulatan politik, kedaulatan budaya, kedaulatan pendidikan, hingga kedaulatan beragama.

Menangis Di Depan Ka’bah

Mas Toto dikenal sebagai salah satu kawan setianya Cak Nun, meski sejak lama dianggap kurang religius, sehingga sering-sering dicap sebagai Islam-Abangan, namun belakangan, akhir-akhir ini, mungkin berjalan sepuluh tahun, kehidupannya sangat religius. Acara yang diadakan di kampung kelahirannya ini sebagai bentuk berbaktinya seorang anak shaleh terhadap orang tuanya. Slametan, mengirim doa-doa kepada leluhur yang telah lama meninggal.