BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Secara umum, preseden adalah kejadian yang sudah berlalu yang bisa dijadikan semacam referensi untuk melakukan kegiatan berikutnya. Sederhananya, preseden adalah peristiwa masa lalu yang menjadi pelajaran atau contoh. Preseden lalu dijadikan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Allah pun mengingatkan untuk senantiasa melihat, mempelajari serta mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa lampau untuk dijadikan pedoman, tolok ukur dan referensi menuju kehidupan yang akan datang.

Artikel sebelumnya

Festival Kebenaran Nasional

Ketika kita mendengar kata kebebasan, salah satu hal yang kemudian terlintas dalam kepala kita adalah bahwa kita merdeka untuk melakukan apa saja. Mari kita ambil satu sudut pandang saja. Ketika orde baru berkuasa, masyarakat kita begitu dikekang untuk tidak sembarangan mengungkapkan pendapat, apalagi jika pendapat yang akan diungkapkan berupa kritik terhadap penguasa. Meskipun kita sepakat bahwa memang sudah sepatutnya kritik terhadap penguasa itu harus diungkapkan, tetapi yang mungkin kita lupa adalah bahwa orang-orang yang berani mengungkapkan pendapat di era orde baru adalah orang-orang yang dalam bahasa jawa memiliki kemampuan melihat sebuah persoalan dengan sangat titis.

Nasionalisme Muhammad

Jika segala nilai hidup, segala konsep dan isme, digali dan dikelola oleh manusia (kualitas kepribadiannya), maka komitmen kebangsaan Muhammad bukan saja tidak dibatasi oleh ras dan geografi, bukan saja meluas ke pembelaan atas kaum tertindas sebagai sebuah ‘bangsa’ tersendiri, namun bahkan juga bersih dari kehendak kekuasaan dan nafsu ekonomi yang berlebihan. Muhammad tidak mendirikan Negara Arab atau Negara Islam yang memaksa setiap warganya untuk beragama Islam, melainkan menyebarkan berita keselamatan, memperjuangkan keselamatan kemanusiaan, dengan tetap memelihara hak setiap manusia dalam “la ikraha fi ad-din”.

Mukadimah: BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Kita semakin terbiasa untuk hanya memperhatikan satu jengkal yang ada di depan mata. Jangankan untuk melihat cakrawala yang sedemikian luasnya, bahkan untuk memutar arah penglihatan, dan melatih daya pandang agar jarak pandang semakin jauh dan luas, kita enggan. Juga untuk memandang sebuah peristiwa dengan menggunakan metode thawaf, kita sama sekali kehilangan kepekaan itu. Apa yang dilihat di depan mata, itulah kebenaran yang diyakini. Kita sama sekali tidak terlatih untuk mampu membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan.

Hilangnya Kebijaksanaan

Sebuah kebenaran, jika disampaikan dalam bingkai kebaikan, maka akan melahirkan nuansa keindahan. Pesan yang benar, jika disampaikan dengan baik, akan menjadi indah. Namun hari-hari ini, kita sangat jarang mempertimbangkan aspek kebaikan, apalagi keindahan. Yang kita utamakan adalah bagaimana caranya agar kebenaran dapat tersampaikan. Informasi sebenar apapun, jika tidak disampaikan dengan cara yang baik, maka tidak akan berakhi dengan indah. Ketiga hal ini; benar, baik dan indah tidak bisa dipisahkan, jika estetika ini dipisahkan, selalu menghasilkan keburukan.

Terbiasa Melupakan

Ketika sebuah peristiwa baru saja terjadi, kemudian menjadi hype, sehingga hampir semua orang membicarakan peristiwa itu, sebenarnya yang terjadi bukanlah kita menghapus ingatan dari sebuah peristiwa yang sebelumnya terjadi. Yang kita lakukan hanya menyimpan ingatan itu, dan di kemudian hari ketika momentumnya tepat, kita akan kembali membuka ingatan itu.

MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Dialektika yang diselenggarakan di Maiyah adalah belajar bersama, sinau bareng, tidak ada konsep mengajar, karena mengajar hanyalah akibat dari proses belajar bersama. Adanya pihak yang bertanya kemudian ada pihak lain yang lebih menguasai informasi sehingga memberi tahu kepada yang belum tahu. Tidak ada proses mengajar, yang ada adalah proses belajar bersama. “Begitulah di Maiyah, tidak ada mu’allim, yang ada adalah muta’allim,” Cak Nun menjelaskan.