TAK KUNJUNG NEGARA

Maiyah bukan dalam rangka membentuk negara, atau mengumpulkan massa untuk membikin partai politik. Maiyah membicarakan tentang bagaimana negara seharusnya berlaku, mencari kesejatian negara, mencari kebaikan untuk negara, sementara yang melakukan pencarian tentang itu semua sama sekali tidak memiliki kewajiban apa-apa dalam proses pengelolaan negara.

Artikel sebelumnya

Tak Bertaring

Badut-badut yang muncul baik di media massa maupun media elektronik pun semakin lucu. Ada benarnya ungkapan peringatan; Stop making stupid people famous. Era digital hari ini sama sekali tidak menyediakan fasilitas filter bagi pengguna internet. Seluruh informasi yang masuk ditelan mentah-mentah. Hanya informasi yang mereka sukai yang mereka baca. Kemasan judul sebuah berita menjadi sebuah umpan yang begitu disukai oleh masyarakat hari ini. Bukan hanya teks, bahkan juga video yang beredar di internet hari ini banyak yang diberi judul-judul provokatif yang tujuannya utama sebenarnya adalah menarik sebanyak mungkin pengunjung untuk melihat konten tersebut.

Semangat Baru di Hari Pertama Sekolah

Sekolah sudah menjadi bagian dari kehidupan sosial masyarakat, sebuah lembaga pendidikan yang orang tua menyekolahkan anak-anak mereka dengan harapan agar mendapat pendidikan yang layak. Berbagai jenjang pendidikan mulai dari pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi sudah disediakan oleh pemerintah. Lembaga pendidikan swasta juga banyak berdiri di tengah-tengah kita. Singkatnya, ada banyak pilihan lembaga pendidikan bagi orang tua untuk menyekolahkan anak-anak mereka.

Juara Tidak Harus Meraih Piala

Keindahan suasana para pendengar menyimak dengan seksama jalannya sebuah pertandingan dari radio saat itu, bagaimana mereka membangun imajinasi mereka, membayangkan gambaran pertandingan yang sedang berlangsung, hanya melalui suara yang diperdengarkan melalui siaran RRI di radio. Tentu saja imajinasi setiap orang yang sedang menyimak akan berbeda-beda. Bagaimana mereka membayangkan seorang Diego Maradona yang secara visual mungkin hanya sekelabatan saja mereka lihat melalui surat kabar. Saat itu, televisi adalah barang mewah yang tidak semua orang mampu memilikinya. Radio menjadi sebuah media masyarakat kelas bawah untuk menikmati siaran langsung sepakbola.

Perjalanan Gambang Syafaat ke Kenduri Cinta

Waktu semakin sore, perjalanan berlanjut terus menerus. Suara musik di dalam mobil cukup menambah suasana sore ini bertambah asyik. Meskipun sedikit berdesakan tempat duduknya, kami semua menikmatinya dengan sesederhana apa adanya. Pintu tol satu per satu kami lewati, alhamdulillah perjalanan lancar, hingga kami memasuki pintu tol Cikarang Utama perjalanan mulai pelan merayap karena rapatnya mobil, truk dan bus yang membayar di pintu tol untuk menuju Jakarta. Sinar matahari pun mulai terbenam. Wajah-wajah lelah sudah pasti akan menghampiri kami ketika sudah di Taman Ismail Marzuki nanti. Namun, rasa lelah itu kami ganti dengan suasana kemesraan ketika kami tiba di lokasi Kenduri Cinta melihat para penggiat Kenduri Cinta dengan ikhlas menyambut kami semua. Terasa seperti persaudaraan yang sudah cukup lama terjalin, padahal sudah lama kami tidak bertemu. Terlihat para penjaja makanan dan pedagang khas Taman Ismail Marzuki juga mulai tampak, keakraban para JM yang sudah datang juga mulai terasa.

Negara di Lapangan Hijau

Tim Nasional U-19 Indonesia sedang bertanding dalam turnamen AFF U-19 yang tahun ini kita kembali menjadi tuan rumah. Gelora Delta Sidoarjo pada tahun 2014 menjadi saksi bersejarah bagaimana Evan Dimas memimpin anak-anak muda U-19 dibawah asuhan Coach Indra Sjafri meraih gelar juara. Tahun ini, dengan susunan pemain yang tentu berbeda dari 4 tahun yang lalu, Coach Indra Sjafri kembali didapuk untuk membimbing anak-anak muda U-19. Sejauh ini, kita diperlihatkan penampilan yang apik dari anak-anak muda U-19 ini. 4 kemenangan beruntun telah diraih. Laos, Singapura, Filipina dan Vietnam berhasil dikalahkan. 12 poin telah dikemas Garuda Muda, sekaligus memastikan satu tempat di babak semifinal.

Revolusi Diri Menuju Kesejatian dan Keseimbangan Negara

Sebuah backdrop terpasang di area belakang panggung bertuliskan “Tak Kunjung Negara” yang memang menjadi tema utama Kenduri Cinta kali ini. Tema yang tidak mudah dikupas, mengingat Kenduri Cinta ini bukanlah sebuah fakultas dari sebuah universitas yang memiliki kemampuan akademis menjelaskan apa itu Negara. Tetapi, beginilah Maiyahan berlangsung, mengangkat tema apa saja bukan untuk merasa diri paling unggul dan paling mampu dalam menjelaskan sesuatu maupun menemukan solusi dari sebuah persoalan. Maiyahan selama ini menyelenggarakan sinau bareng, sebuah konsep pembelajaran bersama, dengan fondasi kesadaran yang kuat untuk mencari apa yang benar bukan siapa yang benar.