SERIGALA BERHATI DOMBA

“Ibarat salat, Anda ini bukan orang yang sudah taat kepada salat, tetapi orang yang sudah menikmati salat. Karena puncak dari salat itu sebenarnya bukan taat, melainkan nikmat. Maka saya tidak pernah mengajak untuk berbuat baik, yang saya ajak adalah menemukan kenikmatan dalam berbuat baik,” lanjut Cak Nun.

“Temukan kenikmatan dalam berbuat baik, bahkan ketika anda sedang diuji Allah dengan nasib buruk, anda harus mampu menemukan kenikmatannya,” Cak Nun terus membesarkan hati jamaah, mengajak untuk melangkah lebih maju dengan tidak menempatkan hidup hanya hari ini namun hidup abadi. Di Maiyah kita belajar kembali menemukan kebenaran yang tepat. Terus mengupayakan untuk berbuat baik. Pokoknya berbuat baik, entah nanti dapat apa dan kapan akan mendapatkannya.

Artikel sebelumnya

Mengidentifikasi ‘Garis’ dan ‘Bidang’ menuju ‘Manusia Ruang’

“HENDAKLAH waspada kepada saya. Anda harus hati-hati kepada saya”, Cak Nun menyapa jamaah Kenduri Cinta pada Jumat malam (14/9) lalu. Setelah jeda penampilan musik dari “Golek Suwong” dan “Project Cinta”, Cak Nun naik ke Panggung bersama Andre Dwi. Sementara Ali Hasbullah, Ust. Fauzan dan Kyai Syauqi juga masih berada di panggung setelah sebelumnya berdiskusi bersama…

Manusia Garis, Manusia Bidang, atau Manusia Ruang kah Anda?

Menggunakan titik dan garis, dapat dibuat simulasi atau model untuk menggambarkan realitas yang lebih luas dalam satu bidang. Misalnya untuk menggambarkan rute perjalanan kereta. Tiap-tiap stasiun dapat digambarkan sebagai titik-titik yang saling terhubung oleh garis yang menggambarkan jalur kereta. Untuk sebuah model yang menggambarkan rute, boleh jadi skala jarak tidak diperlukan. Yang diperlukan sebatas keterhubungan antara satu titik dengan titik lainnya. Rute-rute yang berbeda bisa dipresentasikan dengan pewarnaan untuk masing-masing garis yang menggambarkan tiap rute. 

Mukadimah: INDOAUTONESIA

Sebuah negara bisa mendapat predikat sebagai negara autopilot. Ini bukan berarti negara tanpa presiden, menteri, dan aparatur negara, lantas tetap dapat berjalan baik-baik saja. Yang terjadi, operasional negara sekedar menjalankan rute-rute rutinitas saja. Kebijakan pemerintah diprogram dan bergerak sekedar merespon situasional kondisi masyarakat dan perekonomian dunia. Pembangunan mengandalkan hutang luar negeri, bukan sebagai wujud pertumbuhan ekonomi yang benar-benar tumbuh dan mengakar dari rakyat. Negara sekedar sebagai alat transportasi untuk meraih tujuan-tujuan jangka pendek. Okelah kalau memang pesawat itu yang dikehendaki para pemangku pelaksana negara dan masyarakat saat ini.

MONO LOYALITAS

Dalam buku ‘New Thinking for The New Millennium’, Edward De Bono menggambarkan keadaan jaman milenial menggunakan situasi semacam itu. Sebuah keadaan yang kacau, kemudian dapat kembali diperbaiki dan terkendali meskipun persoalan lain yang lebih penting yaitu arah kapal berlayar masih salah. Jika menggunakan ilustrasi itu sebenarnya hanya soal waktu, untuk kemudian kapal dapat kembali menuju arah yang benar. Namun bagaimana jika yang terjadi adalah sebuah pesawat dalam keadaan terbang pada kondisi serupa? Mesin rusak, sedangkan pilot sakau setelah menghisap putau. Pramugari tidak berdaya menengahi perkelahian antar penumpang. Berkali-kali turbulensi hebat terjadi, ironis keadaan itu hanya ditanggapi biasa saja oleh penumpang di pesawat itu. Sekali pun pilot baru didatangkan, nyaris mustahil dapat memperbaiki keadaan.

Olahraga Mempersatukan Rakyat

Yang tidak kita lihat adalah proses perjuangan para atlet sebelum mereka sampai pada pertandingan demi pertandingan yang dilombakan di Asian Games ini. Proses latihan dan tempaan displin berbulan-bulan menghasilkan mental juara. Yang kita lihat hanyalah bagaimana mereka bertanding di lapangan saja. Maka tidak mengherankan jika ada masyarakat yang menumpahkan kekecewaannya ketika melihat atlet-atlet Indonesia kalah dalam sebuah pertandingan.

Antara Kambing dengan “Kambing”

Dari mana Allah kulakan bahan untuk membuat manusia dan alam, juga jin, setan, dan malaikat, kalau tidak dari diri-Nya sendiri? Tidak ada apa-apa selain Allah, karena memang hanya Allah yang memiliki kepastian untuk ada. Yang lainnya, kita-kita semua ini, tidak pernah ada, melainkan sekadar diadakan alias diselenggarakan. Kita semua, juga gunung dan burung-burung, adalah penjelmaan Allah di muka bumi, melalui konsep dan konfigurasi budaya yang diizinkan-Nya. Apalagi Ibrahim, Ismail, Musa, Isa, dan Muhammad. Dari mana asal nasi kalau tak dari padi? Dari mana asalnya kita kalau tak dari Tuhan?