IKHTILAF ZAMAN

Cak Nun menyampaikan bahwa Allah itu Maha Mengabarkan. “Siapa yang memberimu kabar agar engkau datang ke Kenduri Cinta? Siapa yang menyalurkan energi dan gelombang kerinduan itu ke dalam hatimu? Tentu saja Allah”, tegas Cak Nun. Apa yang terjadi di alam semesta ini seluruhnya di bawah kendali Allah Swt, tidak ada satupun yang luput dari Al- Khobiir. Maka dalam salah satu kalimat wirid tadi Cak Nun menyematkan; Wa kafaa billahi khobiiro.

Artikel sebelumnya

KENDURI CINTA CALL! MLUNGSUNGI JAKARTA, MEI 2022

Naskah Mlungsungi ini sangat berbeda secara mencolok dari naskah yang ditulis Cak Nun pada teater-teater sebelumnya. Baik dari sisi kesusastraan maupun sebagai reportoar teater. Bahkan, jika dibandingkan dengan naskah teater apapun dari dalam maupun luar negeri. Naskah Mlungsungi ini adalah naskah yang benar-benar baru. Inilah yang menjadi kekuatan sekaligus keistimewaan dari Mlungsungi ini.

Mukadimah: IKHTILAF ZAMAN

Kita akan mengalami momentum-momentum pergantian zaman. Perubahan, pembalikan, kontradiksi terbalik atau semacam perpecahan menjadi penyatuan dan penyatuan menjadi perpecahan. Kita melihat fenomena itu hari ini. Faktanya, tidak ada satupun orang yang mampu menyangga kebenaran yang diyakini dalam waktu yang lama. Ada saat dimana kebenaran yang sebelumnya ia pegang teguh ia tinggalkan begitu saja karena alasan-alasan yang lebih masuk akal.

BADUT-BADUT PERADABAN

Memang tidak bisa dipungkiri, atmosfer untuk menikmati Maiyahan secara langsung memang berbeda sekali rasanya jika dibandingkan dengan menyimak live streaming di Youtube. Ketika bertatap muka secara langsung di Maiyahan, ada nuansa kebersamaan yang tidak bisa dirasakan jika kita menyimak Maiyahan secara live streaming di Youtube. Jika sedang shalawatan, pasti berbeda rasanya shalawatan sembari nyimak streamingan di Youtube dibandingkan dengan shalawatan bersama-sama secara langsung. Begitu juga jika tiba-tiba ada cetusan humor yang muncul dari Cak Nun atau narasumber lain, tentu tidak asyik rasanya kita tertawa sendirian di depan handphone.

Mukadimah: BADUT-BADUT PERADABAN

KALAU CINTA yang menjadi alasan, pekerjaan sesulit apapun akan dilakukan dengan gembira. Usaha terbaik untuk meraihnya dijalani tanpa keterpaksaan. Setiap langkah menjadi bermakna. Demi cinta; gunung tinggi akan didaki, lautan luas akan diseberangi. Rintangan berat terasa ringan bagi orang yang sedang kasmaran, halangan yang tampak membahayakan justru terasa menjadi tantangan untuk sebuah perjumpaan dengan yang dirindukan.

MAIYAH PENANGKAL PETIR

“Salah satu kurikulum Maiyah adalah yakaadu zaituha yudhlii`u walaw lam tamsashu naar,” Cak Nun melanjutkan. Munculnya sebuah cahaya yang tidak disebabkan dari api yang disulut, itulah yang kita ikhtiarkan di Maiyah. Setiap manusia memiliki potensi yang bisa bermanfaat bagi masyarakat sekitar. Orang Maiyah, ditegaskan oleh Cak Nun, harus mampu menjadi orang yang bermanfaat, di manapun ia berada, seperti yang disebutkan dalam An-Nuur 35 itu, laksana cahaya yang menyala tanpa disulut oleh api. “Ini saya serius mendoakannya. Anda masing-masing akan yakaadu zaituhaa yudhlii`u walaw lam tamsashu naar. Anda akan menjadi cahaya yang menyinari orang-orang di sekitar anda,” ungkap Cak Nun.

Mukadimah: MAIYAH PENANGKAL PETIR

Maiyah menawarkan semacam teknologi penangkal petir. Teknologi Penangkal Petir Maiyah terdiri dari keluaran wacana, cara berfikir yang spesifik, metode ketahanan mental hingga pada tahap perbekalan spiritual seperti wirid, hizib, riyadloh dan lain sebagainya. Sehingga, para pelaku Maiyah mendapatkan keseimbangan dalam segala hal.