MANUSIA DAN NEGARA GRAVITATIF

DALAM TERAPAN ilmu sosial, gotong royong, kearifan, toleransi dan segala macam yang dituntut oleh manusia saat ini, seharusnya merupakan akibat dari keadilan yang terwujud dalam sebuah sistem organisasi kehidupan manusia dalam semua ruang lingkup yang dialaminya, apakah itu kehidupan berbangsa dan bernegara, kehidupan beragama, atau kehidupan bermasyarakat dalam sebuah komunitas yang skalanya kecil. Sehingga, apabila keadilan tidak terwujud, maka tidak ada legitimasi untuk menagih gotong royong, kerjasama, kearifan dan toleransi antara satu dengan yang lain. Semua itu boleh ditagih manakala keadilan sudah dirasakan oleh semua pihak. Selanjutnya, untuk menjelaskan terminologi gravitatif yang diangkat dalam tema Kenduri Cinta kali ini, Cak Nun mengambil amsal bahwa sebuah bangunan didirikan harus tunduk pada hukum Allah. Bahwa, seperti apapun kondisi tanah tempat bangunan tersebut didirikan, maka fondasi bangunan itu harus taat pada hukum gravitasi yang sudah ditetapkan oleh Allah. Dan, dengan demikian bangunan yang didirikan atas dasar ketaatan terhadap hukum Allah tersebut pun tidak roboh. Begitu juga dengan manusia, apabila ia memposisikan dirinya untuk gravitatif dengan aturan Allah, maka ia akan berada dalam satu garis koordinat dengan tauhid Allah, apapun kondisi perjalanan hidup yang dialaminya. Meskipun dihadapannya ada setumpuk uang, apabila ia menyadari bahwa uang itu bukanlah haknya, maka ia tidak akan mengambil uang itu. Karena, ia menaati aturan hukum gravitasi Allah dimana ia tidak diperbolehkan mengambil yang bukan haknya.

Artikel sebelumnya

Tujuh Puluh Satu Tahun Tak Kunjung Merdeka

Sebuah Bangsa tidak lahir dari sesuatu yang sifatnya mendadak dan sementara. Identitas sebuah bangsa dibangun melalui proses panjang pengalaman kesejarahan, melibatkan multi dimensi rangkaian peristiwa-peristiwa yang hanya dapat dibukukan sebagian kulit-kulitnya saja, itu-pun hanya kesejahteraan yang bersifat politis. Padahal, dinamika Bangsa-bangsa sedemikian kompleks dan tidak melulu hanya persoalan politik(kenegaraan). Ada persoalan ekonomi, teknologi, regenerasi bangsa, kelestarian alam dan budaya, bahkan romantika cinta dan persahabatan para orang-orang pelaku sejarah yang tidak mungkin dapat disekenariokan menggunakan skrip perencanaan manusia. Jelas ada yang sedang ber’main’ dengan prosesi terbentuknya sebuah bangsa, sebagaimana diaturnya cuaca dan peristiwa alam yang tidak mungkin disekenariokan oleh manusia.

Markesot Mendebat

Di tengah perbincangan serius, tiba-tiba Markesot menyela dan menyanggah. Sanggahan dan debatnya sangat tidak konteks dengan apa yang menjadi perbincangan.Selalu saja berulang. Siapa saja yang berbicara selalu berhadapan dengan Markesot. Beberapa mahasiswa dibuat jengkel. Bagi mahasiswa, kalimat-kalimat Markesot tidak tersusun secara sistematis, vulgar dan sangat kampungan.

Cak Nun yang juga melingkar di antara “jamaah Yasinan” menyungging senyum, mripat-nya menyapu seluruh ruangan, memperhatikan para hadirin dan berhenti ke orang yang terlihat sangat emosional. Sesekali Cak Nun meninggalkan forum masuk ke bilik pribadinya. Siapapun tahu, Cak Nun meneruskan beberapa tulisan yang tertunda, dan semuanya dibatasi oleh deadline beberapa surat kabar dan majalah. Tulisan kolom untuk media-media cetak: Surabaya Post, Jawa Pos, Kedaulatan Rakyat, Yogya Post, Suara Merdeka, Wawasan, Tempo, Suara Pembaruan, dst.

Garis Miring Telenovela Jakarta

Telenovela hanyalah cerita fiksi rekayasa yang diangkat dari novel, kemudian disajikan kembali melalui televisi dalam rangkaian panjang episode-episode video tayangan peran. Telenovela pada dasarnya tidak berbeda dengan sinetron-sinetron yang ditayangkan stasiun-stasiun televisi swasta nasional saat ini. Bagi kalangan masyarakat tertentu, cerita telenovela memang sangat menarik untuk ditonton. Namun, cerita rekayasa telenovela bisa jadi merugikan siapa saja yang aktivitas kehidupannya terbawa arus cerita telenovela. Bapak-bapak masih harus tetap konsentrasi kerja meskipun si gadis desa di telenovela sedang merana. Dan ibu-ibu juga tidak perlu cemburu karena tokoh utamanya dimadu. Telenovela hanyalah cerita rekayasa yang bersifat hiburan semata dan tidak perlu dibawa-bawa ke kehidupan nyata. Namun tidak dapat dipungkiri bahwa pada tahun 90-an popularitas dan wabah demam telenovela pernah melanda masyarakat Indonesia.

Mukadimah: LELE MINA WA MINKUM

Kita ketahui, filosif ikan lele belum lama ini dikenal seiring dengan keruhnya situasi politik kebangsaan kita. Disebutkan, semakin keruh air, ikan lele justru semakin lahap makan. Sehingga disematkan pada beberapa politisi yang cenderung gaduh. Politisi ikan lele adalah semacam cibiran, olok-olok yang sudah populer. Sementara di sisi lain, ikan lele juga punya patil, ketika tak berhati-hati menyentuhnya, lengan kita bisa kepatil, sobek dan sakit.

Yasinan

Tema-tema obrolan muncul begitu saja. Pelontar umumnya berawal dari pertanyaan-pertanyaan mahasiswa yang diajukan kepada Cak Nun. Karena pesertanya berbeda latar belakang, maka diantara mereka sering saling ngotot mempertahankan argumen masing-masing. Kalangan mahasiswa dengan bahasa-bahasa planet yang bagi kalangan awam susah dipahami, nukilan-nukilan text-book dengan istilah-itilah asing.

Jika malam makin larut, secara perlahan satu persatu berpamitan. Pasti mereka tidak terbiasa “melek malam.” Yang lain tetap bertahan, bisa jadi dilanjut dengan permainan gaple. Main gaple seolah menebak nasib, meramal takdir. Kita tidak sanggup menghitung “balak” berapa yang akan muncul. Meski jumlah kartu bisa dihitung, probabilitasnya agak susah untuk memastikan. Bahkan Cak Nun sering agak ekstrim mengemukakan bahwa pasti “Tangan Tuhan” ikut berperan. Kartu dikocok sekian kali, kartu dibagi, masing-masing pemain tidak bisa memilih kartu terbaik. Seorang pemain gaple yang ahlipun bisa kalah jika tandem di sisi kiri atau kanannya ngawur ketika membuang kartu.

04. FB KC12agst2016

Mukadimah: MANUSIA DAN NEGARA GRAVITATIF

Pondasi Negara yang dibangun diatas komitmen-komitmen para pendahulu dalam usaha mewujudkan bangsa yang merdeka, berdaulat, adil dan makmur, sudah semestinya menjadi tujuan setiap orde pemerintahan di negeri ini. Estafet para pemangku kekuasaan semestinya saling berkesinambungan supaya roda pemerintahan negara on the right track dalam rangka menjaga warisan sumber daya manusia dan sumber daya alam bagi generasi penerus bangsa. Jika pembangunan tidak didasari dengan podasi yang kuat, maka akan terjadi kemiringan bangunan kenegaraan. Kenyataan bahwa pengerukan sumberdaya alam tidak didasari dengan tegaknya amanah menjaga warisan bagi generasi penerus jelas menjadi fakta tidak terjadinya keseimbangan dalam menjalankan roda kenegaraan. Pelampiasan-pelampiasan syahwat oleh manusia-manusia yang berperan dalam negara semakin menambah kemiringan bangunan negara.