TUHAN PUN BERLARI

“Maiyah is undeniable!”, Cak Nun menegaskan. Apa yang kita lakukan di Maiyah, memasuki dekade ketiga saat ini adalah sesuatu yang tidak direncanakan, maka perjuangan ini awet, karena yang melakukan adalah orang-orang yang sungguh-sungguh. “Saya tidak mengajak anda untuk bangga. Tetapi mengajak anda untuk bersungguh-sungguh dalam menikmati atmosfer kegembiraan di Maiyah”, lanjut Cak Nun. Secara psikologis kita merasakan kegembiraannya, secara akal kita mengilmui apa yang kita dapatkan di Maiyah. “Saya bukan guru besar anda, saya itu sahabat anda”, Cak Nun menegaskan bahwa Maiyah ini bukan karya beliau, bahwa beliau saat ini mungkin kita anggap sebagai icon Maiyah, menurut Cak Nun itu hanya kebetulan saja, ibarat kita sedang naik sepeda bareng-bareng, kebetulan Cak Nun ada di barisan terdepan.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: Para Pewaris

Ini bukan tentang siapa mewariskan apa. Tetapi justru lebih mendasar dari itu. Ini tentang apa yang diwariskan dan siapa yang akan melanjutkan, serta bagaimana untuk melanjutkannya. Sustainability itu bukan hanya tentang isu lingkungan saja. Tetapi memang sesuatu yang baik sangat layak untuk kita lanjutkan. Seperti halnya nilai-nilai Islam yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, hingga hari ini nilai-nilai itu tetap ada dan dilanjutkan oleh ummatnya. Lebih dari 14 Abad ajaran-ajaran itu diajarkan, dan sampai hari ini masih terjaga. Dan kembali lagi, itu tentang siapa yang melanjutkan, bukan tentang siapa yang mewariskan. Apalagi sesuatu yang diwariskan bukanlah berupa materi, melainkan sebuah value yang intangible.

Mukadimah: LITASKUNU FII MAIYAH

TIDAK ada alasan untuk tidak melanjutkan perjalanan Maiyah ini. Atas keyakinan kita terhadap nilai yang baik yang sudah ditabur bersama di Maiyah, perjalanan ini tetap kita teruskan. Cak Nun selalu mengatakan bahwa Maiyah adalah ciptaan Allah. Meskipun, masih banyak orang yang salah paham mengenai pesan Cak Nun tersebut, padahal semudah kita memahami bahwa Maiyah adalah satu upaya kita untuk berbuat baik, maka kita meyakini bahwa kebaikan itu datang dari Allah.

Mukadimah: TEKNOKRASI CINTA SEMESTA

Makna dari ”Teknokrasi Cinta Semesta” pada akhirnya akan bermuara pada sebuah harapan, jika pada sebuah organisasi, seberapa besarpun itu luasannya, jika memang para ahli, cerdik dan cendekia berkumpul dan diberi amanah, atas dasar pengetahuan dan keilmuwannya untuk mengurusi sebuah persoalan, dan mereka memiliki landasan cinta terhadap semesta, maka harapan akan terwujudnya sebuah kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan, kegembiraan dan keindahan sangat mungkin dapat terwujud.

Mukadimah: INVERTED INDONESIA

Cak Nun pernah menulis: Pada mulanya, setiap pergerakan, setiap peristiwa, unjuk eksistensi, perjuangan dan jihad, berderap dengan tema “benar atau salah” dan atau “baik atau buruk”. Setibanya di jalanan dan lapangan, titik berat tematik bergeser menjadi “kalah atau menang”. Lapangan dan jalanan juga ikut menjelma jadi Padang Kurusetra. Hanya saja Bharata Yudha belum akan berlangsung, karena Arjuna sedang berdebat dengan Prabu Krisna, sais kereta perangnya. Sementara Adipati Karna sudah mantap dan sejak jauh sebelumnya sudah menguasai medan perang, secara teritorial, stok mesiu, gelar dan strategi perang, maupun kelimpahan dapur umumnya. (Yang Menang Harus Bangsa Indonesia, 2016).

Mukadimah: MENGHARUKAN ALLAH

Pada akhirnya, rakyat hanya menjadi pelengkap penderita. Setiap agenda Pemilihan Umum, rakyat diperdaya untuk dimanfaatkan suaranya. Skenario penguasa sudah disusun, secara alami serta dengan naluriah politis skenario itu dijalankan dengan sangat rapi. Kembali, sebagai rakyat kita hanya bisa menautkan harapan itu kepada mereka yang sudah kita prediksi bahwa mereka juga tidak akan mampu menunaikan janji-janji politik mereka. Sekian deret persitiwa penting yang menjadi tonggak sejarah Indonesia, nyata-nyata tidak melahirkan pembelajaran apa-apa bagi bangsa ini.

Mukadimah: PODIUM 2024

Sebagai rakyat, kita tidak pernah diajak rembug oleh Partai Politik saat mereka menentukan Calon Presiden dan Wakil Presiden, bahkan saat mereka menentukan Calon Legislatif sekalipun. Rakyat hanya disodorkan sederet nama yang kemudian muncul dalam surat suara. Tak ada tawaran diskusi sebelumnya antara Partai Politik dengan rakyat. Presidential threshold dan Parliamentary threshold nyata-nyata menjadi jebakan bagi semua pihak. Untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak. Rakyat hanya akan melalui rutinitas seperti biasanya, menjadi target eksploitasi para politisi sekaligus menjadi pelengkap penderita. Rakyat hanya mengenal calon wakil mereka hanya melalui baliho, poster, stiker serta konten media sosial.