SERIBU BAYANG PRASANGKA

Bekal utama manusia itu bukan ilmu, tetapi tawadhlu’, rendah hati dan tahu diri. Bahasa jawanya biso rumongso bukan rumongso biso. Sementara kita melihat hari ini yang terjadi adalah pementasan parade rumongso biso. Di Kenduri Cinta kita belajar menyajikan masakan, bukan enak atau tidak enaknya melainkan ketulusan dan keikhlasan hati kita ketika memasaknya. Surat Al-Hujurat ayat 12, disebutkan inna ba’dhlo dhzonni itsmun, sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dari ayat itu, kita belajar bahwa dengan berprasangka saja kita sudah berdosa. Selain itu, ada kalimat walaa tajassasu, ayat ini mengajarkan kita untuk tidak menjadi “intel” bagi orang lain, kecuali dalam rangka untuk menunjukkan apresiasi dan empati kepada orang lain. Dalam ayat itu juga terdapat peringatan agar manusia tidak menggunjing satu sama lain. Diibaratkan Allah, barangsiapa yang mempergunjingkan orang lain itu sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

Artikel sebelumnya

Bukan Virus Cinta

Istilah Penggiat Kenduri Cinta sudah mulai akrab dikenal, untuk menyebut jamaah yang lebih aktif dalam persiapan dan berkomitmen dalam keberlangsungan Maiyahan. Penggiat rutin berkumpul setiap hari Rabu mulai pukul 20.00 di Teras Galeri Cipta II dalam forum Reboan. Suasana santai nan akrab terbangun dalam forum ini. Terbuka untuk jamaah yang bersedia melibatkan diri lebih dalam di Kenduri Cinta. Maiyahan rutin yang digelar setiap bulan di Plaza Taman Ismail Marzuki, hanyalah satu bagian saja. Selain Maiyahan rutin itu, para penggiat juga mengurusi banyak hal yang berkaitan dengan organisme Kenduri Cinta itu sendiri.

Puasa Arak

Kalau kita cari rumus-rumus dasarnya, aslinya puasa kalau saya menggambarkan kan dilambangkan oleh air khamar atau air arak. Kalau sholat dilambangkan oleh air hujan. Puasa itu khamar, ada peragian rohani. Jiwa menjadi lembut, hati menjadi lembut dan lain sebagainya. Sehingga kita hanya mensisakan diri hanya pada faktor-faktor yang penuh cinta saja kepada Allah dan alam semesta.

Puasa adalah Ilmu Dosis

Rasulullah itu hanya makan ketika lapar dan berhenti makan sebelum kenyang. Jangan dipikir itu ilmu tentang makan, itu juga ilmu tentang puasa. Jangan dipikir ilmu tentang cahaya itu hanya ilmu tentang cahaya. Ilmu tentang cahaya adalah ilmu tentang kegelapan. Ilmu tentang kegelapan adalah ilmu tentang cahaya. Karena anda tidak mungkin memahami cahaya tanpa memahami kegelapan dan sebaliknya tidak mungkin anda memahami kegelapan tanpa memahami cahaya.

Mukadimah: JABABIROH

Para pendahulu kita menyebutnya sebagai Jababiroh. Jababiroh adalah zaman yang menganut kebebasan menjadi sebuah sikap yang diberhalakan. Perilaku maksiat, fitnah, kebohongan, dusta, ketidakadilan, keserampangan adalah hal yang biasa terjadi dan dimaklumi oleh siapa saja. Jababiroh, zaman dimana ummat Islam di seluruh penjuru dunia adalah ummat yang paling banyak jumlahnya, namun kuantitas itu ibarat buih yang tampak di permukaan laut. Semua orang berteriak lantang memperjuangkan Islam, namun pada perjuangan itu hanyalah sebatas pemuasan kepentingan kelompoknya semata. Jargon-jargon khas Agama hanya menjadi gincu pemanis saja.

Karnaval Ancaman

Pendidikan politik kepada masyarakat supaya kedaulatan rakyat terwujud, sejatinya menjadi tanggung jawab partai politik. Yang terjadi sebaliknya, partai politik memanipulasi dan memonopoli aspirasi rakyat. Rakyat didulang suaranya, dijadikan objek penderita. Sudah menjadi rahasia umum, bukan kepentingan rakyat yang sedang diperjuangkan. Tetapi, kepentingan para pemodal yang menginvestasikan dana dengan jumlah tak terkira dan itu bukanlah cuma-cuma. Kepentingan rakyat dijadikan bungkus kepentingan individu dan golongannya dalam usaha politik merebut dan mempertahankan kekuasaan lokal dan nasional. Tidak segan mereka menghina rakyat dengan mempertontonkan kemiskinan sebagian rakyat dengan judul bantuan-bantuan, padahal itu ditujukan untuk make-up wajah yang tidak mampu melaksanakan kewajiban menyejahterakan rakyat.

Selamat Tinggal Pak Harto

KETIKA BERUMUR 4-9 tahun kalau malam saya tidur di Langgar (Musholla) kalau tidur siang di kuburan atau tepi sungai tanggul Kali Gede. Ayah saya punya Sekolah SD tapi saya bersekolah di sekolah tetangga desa jauh. Berangkat dan pulang melintas tiga kali hamparan sawah, dan pada suatu siang yang sangat terik, karena haus tiba-tiba saja saya mengambil sebiji krai (mentimun hijau) langsung saya makan.