TAK KUNJUNG NEGARA

Maiyah bukan dalam rangka membentuk negara, atau mengumpulkan massa untuk membikin partai politik. Maiyah membicarakan tentang bagaimana negara seharusnya berlaku, mencari kesejatian negara, mencari kebaikan untuk negara, sementara yang melakukan pencarian tentang itu semua sama sekali tidak memiliki kewajiban apa-apa dalam proses pengelolaan negara.

Artikel sebelumnya

Gila atau Cinta?

Terpal yang telah digelar harus dilipat kembali agar tak basah kehujanan, semua orang langsung merapat ke bawah tenda, kebersamaan dibawah tenda itu terasa sangat indah canda dan riang tawa terdengar sangat akrab. Setelah hujan reda, para penggiat dan beberapa jamaah mulai memindahkan air yang tergenang di area acara dengan cara disapu dengan sapu lidi dan sweeper lantai. Setelah alas duduk dihamparkan kembali dan semua telah duduk, acarapun dimulai. Tak berselang lama, Allah kembali mencurahkan kembali cintanya dari langit, hujan yang kembali turun tak kalah derasnya dengan yang pertama, Alhamdulillah.

Indonesia Yang Semakin Jelas

Menegaskan paparan Sabrang, Cak Nun menambahkan bahwa dalam berkeluarga jika ukuran yang digunakan adalah istri cantik atau tidak, suami ganteng atau tidak, maka rumah tangga yang dibangun tidak akan bertahan lama. Karena cantik dan ganteng itu hanyalah ukuran-ukuran pendek. Sementara rumah tangga itu contoh sebuah peristiwa yang tidak ada endingnya,  berapapun usianya suami akan tetap mencintai istrinya, begitu juga sebaliknya. Karena ukuran untuk mencintai tidak menggunakan ukuran yang pendek, melainkan menggunakan ukuran untuk jangka panjang.

Indonesia Kecil Itu Masih Ada

Indonesia yang sejati itu masih ada, setidaknya masih ada di Kenduri Cinta. Ditengah suasana masyarakat yang dipenuhi ambisi kemerdekaan sebagai pelampiasan kebebasan dan berebut kekuasaan, Kenduri Cinta sebagai bagian dari Maiyah justru memaknai kemerdekaan sebagai pemahaman mengenai batas untuk menciptakan keseimbangan. Dengan mudah kita memaknai tontonan polah tingkah pembesar-pembesar negara dengan segala manufer dan atraksi politik mereka.

Mukadimah: SERIGALA BERHATI DOMBA

Bangsa ini tidak benar-benar sedang membangun persatuan dan kesatuan, karena pada setiap individu para stake holder politik di Indonesia mengutamakan kepentingan individu dan kelompok masing-masing, yang tidak bermuara pada terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Perpecahan justru semakin disuburkan dengan pembagian faksi-faksi dalam masyarakat. Cebong dan Kampret, Bani Taplak dan Bani Serbet, Kaum Bumi Datar dan Kaum Bumi Bulat, Toleran dan Intoleran, Radikal, Moderat, dan Konservatif serta masih banyak lagi label-label yang mengantarkan masyarakat pada perpecahan yang semakin nyata.

Tak Sekadar Menyebar dan Menanam, Tetapi Juga Merawat Kebaikan

Menanam kebaikan bukan saja soal menyebar benih kebaikan. Benih yang baik jika tumbuh di atas lahan yang gersang pastinya ketika menjadi tunas dan tubuhnya akan kurang optimal. Itu masih lumayan, jikalau benih yang baik diletakan di tempat penuh mikroba pembusuk, yang terjadi benih itu tak kunjung tunas, bahkan sangat mungkin membusuk jadinya. Menyuburkan lahan yang siap menerima benih yang baik, itu juga wujud menanam kebaikan. Merawat tunas dari benih yang mulai tumbuh adalah proses dari menanam kebaikan. Melindungi tanaman dari hama perusak dan tumbuhnya tanaman pengganggu merupakan kesinambungan dari bentuk menanam kebaikan. Pun ketika bebuahan yang baik itu dihasilkan dari tumbuhan yang baik. Apakah dengan hanya menimbun bebuahan itu di gudang juga wujud menanam kebaikan? Tentu itu tidak baik.

Sebuah Postimisme

Coba bandingkan dengan sistem politik negara yang ada saat ini. Taman Demokrasi yang megah dan mewah tidak dibangun dari tumbuhan demokrasi yang tumbuh alami dari benih kedaulatan rakyat. Demokrasi tidak kokoh mengakar pada lahan subur keadilan sosial, tapi sekedar menancap sekenanya diatas pot-pot portable partai politik. Elite politik dengan lobi-lobi kekuasaan dapat saja mencabut, menancap, menggeser, memangkas dan bahkan membuang tanaman yang tumbuh dalam pot-pot milik mereka.