INDONESYARIAH

Cak Nun menegaskan bahwa salah satu rumus Allah adalah Laa ikroha fi-d-diin. Namun juga dalam ayat lain Allah menyatakan Faman syaa’a fa-l-yu’min, waman syaa’a fa-l-yakfur, semua manusia memiliki kedaulatan untuk memutuskan. Setiap keputusan itu ada risikonya masing-masing. Tentang syariat Allah, sebenarnya yang perlu kita pelajari adalah apa itu syariah, dan seperti apa mekanisme syariat Allah berlaku. Mengapa masih ada orang yang takut terhadap term syariat Allah, padahal nyata sekali bahwa kehadiran manusia di muka bumi merupakan salah satu syariat Allah, maka sangat aneh jika kemudian ada orang yang berani menolak syariat Allah. Cak Nun menyarankan untuk kita kembali mempelajari apa itu syariat Allah, kemudian apa yang difahami tentang syariat Islam, berdasarkan pemahaman dan penafsiran ulama seperti apa, ada berapa banyak versi penafsiran tentang syariat Islam yang kemudian dianggap sebagai syaraiat Allah, segala bentuk dan skalanya harus kita fahami bersama-sama.

Artikel sebelumnya

Menepi Dari Keramaian, Menemukan Kembali Kesejatian Diri

Kecenderungan masyarakat kita hari ini, memilih dengan menggunakan pijakan emosi dalam diri. Sabrang mengingatkan bahwa jika kita memilih dengan emosi, maka di kemudian hari yang akan kita alami adalah penyesalan. Dari sekian edisi Pemilihan Umum yang sudah kita alami saja, kita sudah mengalami penyesalan demi penyesalan. Namun, hebatnya orang Indonesia adalah akan segera melupakan penyesalan yang ia rasakan hari ini.

Antara Fakta, Nyata, dan Makna

Kita hidup di dunia berhadapan dengan pilihan-pilihan. Dari pilihan-pilihan itu kemudian ada pilihan yang kita pilih, sebagian pilihan itu tidak membuat kita menyesal di kemudian hari karena telah memilih pilihan itu, sebagian pilihan yang lain sangat mungkin membuat kita menyesali mengapa pilihan itu yang kita pilih. Namun tentu saja, penyesalan itu berdasarkan atas pengalaman yang kita alami di kemudian hari.

Arena Tinju Pak Nevi

Persahabatan Pak Nevi dengan Cak Nun sejak usia sangat belia. Pak Nevi dan Pak Joko Kamto, yang tergabung dalam Karawitan Dipowinatan, sebagai cik

Mukadimah: “NABI DHOLIM”

Maukah kita menyadari bersama-sama bahwa diri kita ini pun sebenarnya belum lulus menjadi manusia? Manusia yang sejati adalah manusia yang tidak memerlukan aturan-aturan hukum untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan perilaku yang buruk. Manusia yang sejati tidak membutuhkan ayat-ayat Al Qur’an, apalagi pasal-pasal hukum dalam Undang-undang hukum pidana, perdata atau apapun saja untuk memahami bahwa mencuri itu perbuatan yang tidak baik. Manusia yang sejati menemukan kesejatian hidup bahwa tugas utama hidup di dunia adalah berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Mulat Saliro, Momentum Refleksi Diri

Mulat saliro, digambarkan sebagai momentum untuk berkaca pada diri sendiri. Teman-teman Maneges Qudroh dalam menapaki perjalanan di tahun ke delapan ini sebenarnya juga sedang mengajak bangsa Indonesia untuk berkaca kembali ke dalam dirinya. Karena bangsa ini sudah terampau jauh dari dirinya yang sebenarnya. Hari ini, bangsa ini tidak benar-benar menjadi dirinya sendiri. Bangsa ini sudah jauh meninggalkan dirinya yang sejati. Bangsa ini sudah kehilangan kewaspadaan dalam dirinya. Sehingga sudah tidak peka lagi terhadap sesuatu yang berada di sekitar dirinya, apalagi memilah mana yang baik dan mana yang buruk, karena semakin terbiasa untuk memilih mana yang enak dan mana yang tidak enak.

Harapan Utopis Tentang Kepemimpinan

Berlangsungnya Negara hari ini sudah semakin terbiasa dengan mekanisme kekuasaan, kekuatan, dan kemenangan. Berlangsungnya kepemimpinan di Negara hari ini sudah benar-benar lepas dari konsep kepemimpinan, keseimbangan, apalagi kebersamaan. Dan yang terjadi hari ini adalah mekanisme konsep kemenangan, kekuasaan, dan kekuatan antar kelompok. Proyeksi pemilihan umum setiap lima tahun dilangsungkan tidak lebih sebagai media pertarungan untuk menentukan siapa yang mendapat giliran untuk menjadi penguasa, bukan menjadi pemimpin.