GURU-GURU PERADABAN

Judul Guru-guru Peradaban dipilih agar jamaah Maiyah memiliki kemandirian dan kedaulatan, sehingga mampu menjawab persoalan hidup dan zaman. Pendidikan adalah keadaan dimana murid belajar bukan guru mengajari. Tugas guru adalah membimbing murid untuk menemukan ilmu yang dipendarkan oleh Allah. Murid akhirnya menjadi mandiri dan memiliki kedaulatan untuk menemukan ilmu.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: THE SHOW MUST GOAT-ON

Domba dan Kambing disibukkan dengan berbagai pertunjukan-pertunjukan dan perlombaan-perlombaan yang membuat mereka terlena. Domba-kambing bersuka ria digiring kesana kemari berdasarkan kepentingan para penggembala. Domba dan Kambing pun lupa dengan berbagai urusan hidup yang mendasar, ketersediaan rerumputan dan kepenguasaan lahan padang rumput yang semakin menyempit. Mereka justru bangga diadu dalam berbagai arena pertarungan dan dalam berbagai pertunjukkan debat di layar kaca. Mempertontonkan kekuatan tanduk dan adu keras kepala.

Mukadimah: GURU-GURU PERADABAN

Guru, digugu lan ditiru. Guru sejatinya harus mempunyai kelengkapan keilmuan dan kelengkapan sikap. Bukan guru namanya kalau hanya memberikan materi atau ceramah, itu namanya “teks yang bisa bersuara”. Seorang guru yang kompeten adalah ia yang mampu mendekatkan dirinya dengan murid-muridnya. Setiap sikap, tingkah lakunya menjadi sumber ilmu muridnya. Bahkan bisa jadi sampai cara berjalannya bisa mengisyaratkan ilmu, dan keilmuan yang dimilikinya. Keikhlasannya dalam meridhoi setiap manusia dan ciptaan-Nya menjadikan guru memiliki kemampuan untuk bisa diterima masyarakat banyak, atau lebih khusus diterima oleh muridnya. Guru harus bisa menjelma menjadi ilmu itu sendiri. Karena setiap kedalaman ilmunya, ditampakkan baik secara kasar maupun halus dalam setiap nilai kehidupannya. Semakin berisi semakin merunduk. Semakin banyak bibit-bibit dari dirinya yang bisa tumbuh walaupun dia tidak meniatkannya. Semua secara ikhlas terjadi dengan sendirinya.

Jalan Sunyi Menturo-Bojonegoro

Kegembiraan dan kemeriahan Padhangmbulan tidak hanya dirasakan oleh jamaah yang hadir. Rangkaian sajian dari adik-adik dan ibu-ibu yang memainkan terbangan dan shalawatan pada awal acara, personel Letto dan KiaiKanjeng yang berkolaborasi, serta Cak Nun dan Cak Fuad beserta para narasumber yang berada diatas panggung menyuguhkan kegembiraan dan suasan khidmat hingga akhir acara. Peristiwa percintaan yang sepertinya berat untuk ditinggalkan oleh ribuan jamaah yang hadir di Padhangmbulan malam hingga pagi tadi. Kerinduan pun tiba-tiba menyerbu, padahal baru sesaat berpisah sementara waktu usai bertemu.

MEMBACA AMSAL

Ilmu itu menemukan perbedaan, sedang kebijaksanaan adalah menemukan kesamaan dari yang berbeda-beda itu. Khasanah ilmu modern tidak mengenal karomah, barokah, hidayah, rahmat, ilham dan sebagainya. Tidak dengan pengetahuan Maiyah. Dengan pengetahuan yang kita miliki, kita mengasuh dunia. Kesadaran orang Maiyah adalah tidak bermimpi untuk dipahami oleh orang modern. Tugas Maiyah itu membaca, bukan dibaca. Maiyah yang harus membaca mereka yang tidak paham dengan Maiyah. Kita yang membaca dan memahami Indonesia.

Kebaikan Maiyah

Di Maiyah kita selalu diajarkan untuk melakukan 3 kebaikan secara terus menerus, yaitu menanam, puasa, dan sedekah. Kapanpun, dimanapun, dan sebanyak-banyaknya. 3 Kebaikan utama yang selalu istiqomah kita lakukan pasti akan membuahkan hasil yang bisa kita tandur. Tetapi Maiyah juga mengajarkan nandur itu juga harus berhati-hati. Tidak serta merta semua buah kita tandur semua, atau bahkan kita tidak nandur buah itu sama sekali. Ada kondisi pener yang menjadi syarat bagaimana kita bisa nandur buah-buah tersebut. Itu menurut saya sikap dasar Maiyah.

Mukadimah: MEMBACA AMSAL

Para Nayaga dari penabuh saron, bonang, gender, gong, rebab, kendang dan berbagai alat gamelan lainnya bersama dengan Waranggana sudah terlatih untuk mengiringi Dalang dalam menampilkan pagelaran wayang. Kapan harus menggunakan laras pelog, kapan harus menggunakan laras slendro sudah dipahami oleh Pesinden dan setiap Nayaga penabuh gamelan. Pengendang selama pertunjukan berkonsentrasi penuh terhadap wayang-wayang yang dimainkan oleh dalang pada setiap adegan. Setiap tokoh wayang memiliki ciri khas tersendiri dalam bergerak dan penabuh kendang akan berusaha mendramatisir setiap gerak wayang yang dimainkan oleh Dalang. Terutama ketika adegan perang, setiap gerak sabetan wayang yang dimainkan Dalang akan diiringi oleh permainan kendang si pengendang.

Kenduri Cinta dan berbagai forum-forum Maiyahan di berbagai penjuru wilayah nusantara