EVOLUSI 4 MINUS

Khilafah itu seperti benih. Ia harus disemai, ditanam, kemudian dirawat. Benih itu bisa saja ditanam di tempat atau tanah yang berbeda yang ramuannya tidak sama. Ada tanah yang menghasilkan khilafah dalam bentuk republik, ada khilafah yang berbentuk kesultanan, persemakmuran dan sebagainya. Puncak evolusi ialah khalifatullah; manusia diciptakan sebagai khalifah di muka bumi.

Artikel sebelumnya

Wajah Gadjah Mada (Bedhol Negoro, 4)

Ibarat Bedhol Negoro adalah kelapa, mohon izin saya merasa perlu nyicil menelusuri secara bertahap dan pelan-pelan kulit halus luarnya, sabutnya, batoknya, kerambilnya, isi cairannya, bahkan mungkin manggar, glugu dan blaraknya.
Gara-gara di tulisan saya menyebut Sunan Kalijaga, sejumlah orang menyangka saya mengerti tentang beliau. Padahal tidak ada apapun dalam hidup ini yang saya benar-benar tahu. Saya hanya merasa tahu. Dan sering sok tahu.

Mukadimah: PERJALANAN KEBAHAGIAAN

Perjalanan kebahagiaan dapat berarti bahagianya di awal, kebahagian di sepanjang perjalanan, perjalanan menuju kebahagiaan, atau juga dapat diartikan sebagai kemampuan menerima campur-aduk dari berbagai perasaan susah-senang, suka-duka, bangga-kecewa, sedih-gembira dan berbagai perasaan yang bermunculan sepanjang pengalaman perjalanan hidup. Kebahagiaan itu dapat dibuat dengan memaknai setiap peristiwa sebagai nikmat yang diberikan dari Tuhan.

Kenapa Tidak Kudeta (Bedhol Negoro, 3)

Kenapa Kalijaga hanya meletakkan diri di pinggiran. Memandu proses transformasi. Bedhol negoro. Transmigrasi atau Imigrasi massal. Membagi wilayah-wilayah martabat semua pihak secara bijaksana. Mengkader kepemimpinan sebagian dari 117 putra Brawijaya V untuk mengayomi penduduk-penduduk Jawa dan Nusantara. Mengalihkan secara strategis wilayah pijak pemerintahan baru. Termasuk mengayomi dan menyiapkan Pesanggrahan proses “mendita”nya Brawijaya V di tlatah Gunung Lawu. Karena Raja terakhir Majapahit ini tidak mau memotong rambut panjangnya, sebagai sanepan bahwa ia tidak mau begitu saja “ditelan” atau “menelan” Islam. Melepas secara demokratis mobilitas bedhol negoro ke arah barat maupun ke timur hingga wilayah Kerajaan Klungkung, yang memang merupakan imigran perintis dari Majapahit.

KODE “SIRNA ILANG” (Bedhol Negoro, 2)

Surat Sunan Kalijaga yang disampaikan oleh Sunan Kudus kepada Brawijaya V mengubah segala-galanya. Itu bukan sekadar kematangan diplomasi, tapi juga kebijaksanaan kemanusiaan dan karamah dari langit. Surat itu memenggal dendam sejarah, meskipun tidak seluruhnya, karena masih menyisakan ratusan tahun bara api Sabdopalon Noyogenggong, yang mewacana sampai ke Keraton Yogyakarta ketika erupsi Merapi 2006 dan 2010, bahkan sampai hari ini.

Terjadilah Bedhol Negoro. Semacam transmigrasi besar-besaran dari Trowulan ke Demak. Majapahit sendiri sedang dalam keadaan krisis ekonomi dan mengalami labilitas politik karena bencana besar semburan lumpur di Canggu dekat Delta Brantas yang beranak Porong dan Kalimas. Semua pihak berpikir perlu recovery dan mungkin transformasi.

Bedhol Negoro (1)

Proses verifikasi sejarah yang kemudian dicampuri oleh program kekuasaan, proyek politik, persaingan antar Agama, dalam skala nasional maupun global – bahkan sudah sampai pada “hawa” wacana di mana Walisongo bisa dianggap tidak ada, atau sekadar dongeng rakyat. Karena sumbernya adalah Babat dan informasi turun-temurun. Yang sama sekali tidak bisa dibenarkan oleh metode akademik yang berlaku resmi di Sekolah dan Universitas. Bagi metode sejarah resmi, Walisongo bisa secara kuat dihipotesiskan sebagai mitologi.

Di era 1970-80-an peneliti Kirdjomuljo bahkan, dengan metoda “Honocoroko” untuk meneliti sejarah, menghasilkan konklusi bahwa lokasi Kerajaan Majapahit tidak di Trowulan Mojokerto, melainkan sekitar Bogor. Majapahit secara keseluruhan bukanlah Kerajaan yang didirikan oleh Raden Wijaya pada 1293 dan berakhir pada 1498 M. Yang dicatat resmi oleh buku-buku sejarah sebagai Majapahit sebenarnya adalah ujung dari rentang panjang Dinasti “Hit”, sesudah Dinasti “Ma” kemudian “Ja” lantas “Pa”.

Asalkan Engkau Tak Marah Kepadaku

“Kalau pendapat saya tugas Ulama itu Dakwah Khoir. Khoir itu kebaikan yang masih cair, bersifat universal, benih, serbuk, energi, glepung. Kebenaran dan kebaikan yang masih umum, hanya bisa disampaikan, dianjurkan atau direkomendasikan. Itulah posisi tugas Ulama, Kiai, Ustadz. Beliau-beliau ini tidak memerintahkan atau melarang, melainkan menyampaikan dan merekomendasikan. Jadi, dakwah khoir. Kalau Pemerintah, jangan menghimbau, tetapi memerintahkan, melarang, menindak tegas”

“Kalau Nahi Munkar?”
“Itu tugas bersama. Setiap manusia harus menghindarkan dirinya dan orang lain untuk tidak melakukan destruksi, penggerogotan nilai kebenaran dan kebaikan, penghancuran kemanusiaan, kemasyarakatan, kebangsaan dan kenegaraan”