KECELA KECÈLÈ

“Anda kecèlè itu kalau anda salah memahami kontrak hidup anda. Anda itu kontraknya apa sih? Apakah anda dilahirkan Allah untuk menjaga NKRI sampai mati? Indonesia ada atau nggak ada itu melanggar kontrak apa nggak?” Cak Nun melanjutkan dengan melempar pertanyaan awal. Pertanyaan awal tersebut menanggapi salah satu bait syair lagu yang barusan dinyanyikan oleh Bobby, yang menyatakan NKRI harga mati, sementara hari ini NKRI sebenarnya sudah tidak benar-benar NKRI. Cak Nun mengibaratkan bahwa NKRI hari ini adalah NKRI yang sudah diganti kakinya, tangannya, badannya bahkan kelaminnya sudah diganti. Ini bukan NKRI yang sebenarnya berlaku. Undang-undang sudah diamandemen habis-habisan, Pemilu 1955 adalah Pemilu yang paling berkualitas sepanjang sejarah Indonesia tapi justru sekarang kita mengagung-agungkan Pemilu hari ini yang kualitasnya adalah yang paling rendah sepanjang sejarah Indonesia.
Menyinggung soal kontrak, Cak Nun kembali menukil Surat Ali Imron ayat 31; Qul Inkuntum tuhibbunallaha fattabi’uuni yuhbibkumullah wa yaghfir lakum dzunuubakum, wallahu ghofuurun rahiimun. Dari ayat ini, tugas utama dalam kontrak hidup manusia sudah jelas, yaitu hubungan percintaan kasih dan sayang antara mahkluk dengan Allah, dimana syarat utamanya adalah mengikuti Rasulullah SAW. Sementara, dalam wilayah yang lain, ketika kita berbicara kontrak, maka ada alokasi waktu di situ. Berapa lama waktu kita hidup di dunia ini? Ibarat turnamen sepakbola, kehidupan di dunia ini masih dalam tahap babak penyisihan, masih akan ada babak-babak selanjutnya, bahkan babak finalnya bisa jadi masih jauh dari sekarang.

Artikel sebelumnya

Usai Pagelaran

Jakarta baru saja menggelar pemilihan Kepala Daerah, yang mengharuskan digelar hingga putaran kedua. Dinamika politik yang mewarnai Jakarta satu tahun terakhir, seakan membawa aroma dendam Pilpres 2014 silam. Isu sentimen suku, ras dan agama semakin memuncak pada bulan-bulan terakhir. Bahkan isu makar untuk menggulingkan Pemerintahan Negara yang sah, ditengarai ikut menunggangi Pesta Demokrasi Ibukota kali ini. Tidak mengherankan, Jakarta sebagai pusat kekuasaan Negara Republik Indonesia saat ini adalah lokasi yang sangat strategis dan menjadi titik fokus utama para politisi nasional. Hampir seluruh partai pengusung mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk mengawal Pilkada Jakarta pekan lalu.

Gubernur Fayakun

Akhir-akhir ini, persoalan Pilkada DKI Jakarta seperti sebuah pusaran besar yang berhasil menyeret tidak hanya perhatian warga Jakarta namun juga masyarakat Nasional. Masyarakat dibuat untuk memasuki wilayah pro-kontra mengenai berbagai hal dan kasus-kasus terkait Pilkada ini. Energi Pemerintah Pusat-pun tidak sedikit yang tersedot kedalam pusaran persoalan Pilkada DKI. Setiap warga Jakarta yang memiliki hak pilih seolah dipaksa untuk memberikan jawaban pada soal multiple choice yang akan menentukan nasib kehidupannya untuk lima tahun kedepan. Padahal belum karuan hasil Pilkada DKI yang putaran kedua akan dilangsungkan pada 19 April 2017 itu dapat menjadi solusi bagi permasalahan hidup setiap warga. Warga Jakarta masih tetap harus kembali kedalam aktifivas kesehariannya setelah Pusaran Pilkada ini berakhir. Pilkada bagi warga Jakarta sebenarnya hanya penggalan proses yang secara langsung atau tidak terkait dengan proses panjang perjalanan kehidupan warga Ibukota yang mesti terus berlangsung.

Sementara bagi Tim Sukses masing-masing Paslon Gubernur, Pilkada ini dijadikan tujuan akhir perjuangan mereka. Masing-masing TIM Sukses memperjuangkan kandidat mereka melalui kampanye dan berbagai macam cara supaya Paslon yang diusung dapat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Deal-deal politik pastinya terjadi sepanjang proses transaksi dukung-mendukung dalam proses pemenangan Pilkada. Tapi berikutnya The show must go on, kalah-menang hasil Pilkada mesti diterima dan dilangsungkan secara sportif oleh semua pihak yang terlibat.

Mukadimah: NEGARA DALAM GELEMBUNG

Entah bagaimana nasib masa depan anak cucu dari 260 juta lebih penduduk Indonesia kelak. Kekayaan alam yang seharusnya dikelola dengan baik oleh Negara agar semua rakyat merasakan kesejahteraan yang adil, rasa-rasanya menjadi mustahil untuk diwujudkan jika melihat perilaku para pengelola Negara hari ini. Hutang luar negeri yang semakin tahun semakin bertambah, aturan-aturan dan undang-undang yang disusun oleh parlemen semakin merugikan rakyat, penduduk dari Negara lain diperbolehkan memiliki dan menguasai aset-aset di Indonesia, belum lagi jutaan lembar saham perusahaan BUMN yang juga secara perlahan diperbolehkan dimiliki oleh umum. Industri hasil pertanian, perkebunan, perikanan bahkan pertambangan mineral pun tak luput dari penguasaan investor yang mayoritas datang dari Negara lain.

Perang Asimetris

Perang asimetris yang sedang terjadi pada era Teknologi Informasi saat ini jauh lebih kompleks ketimbang perang-perang yang pernah terjadi. Yang terjadi bukan hanya perang fisik antara dua kekuatan pasukan yang saling berhadap-hadapan dengan amunisi dan persenjataan tempur, tetapi lipatan-lipatan peperangan yang silang sengkurat dengan tumpang tindih berbagai kepentingan dan tujuan. Dari kepentingan Ideologi, kepentingan kebudayaan tumpang tindih dengan kepentingan ekonomi yang mendasari perang. Perang opini dan pembunuhan-pembunuhan karakter terus dilangsungkan, persekongkolan kepentingan bagaikan gelembung-gelembung yang sewaktu-waktu menggelembung dan dapat seketika meletup dan hilang tanpa bekas.

Terdiam Dalam Perang

Perang Baratayuda adalah perang saudara antara Pandawa dan Kurawa. Meskipun perang ini dianggap sebagai perang suci, tetapi perang saudara semacam ini bukanlah sesuatu yang pantas diinginkan terjadi dalam kehidupan nyata. Apalagi jika ada yang justru berusaha untuk menyelenggarakan, merancang, memanipulasi keadaan, menghasut dan memprovokasi terjadinya perang saudara, jelas usaha orang-orang yang berusaha mengobarkan perang semacam itu telah menyimpang dari kemanusiaan. Namun jika ketidakadilan terus terjadi justru dilanggengkan oleh penguasa yang semestinya mengayomi masyarakat, sadarilah bahwa rakyat bukanlah budak. Kemanusiaan-pun akan berontak jika penindasan terjadi dan martabat terinjak-injak.

Ngalap Berkah di Kenduri Cinta

Ngalap berkah. Jika anda tinggal di lingkungan pesantren dengan kultur Nahdliyin, istilah ngalap berkah tentu tidak asing di telingan anda. Maka, ketika seorang santri mencium tangan Kiai nya, bahkan ada yang rela mencium kaki Kiai nya, itu bukan dalam rangka pengkultusan, melainkan dalam rangka ngalap berkah. Nggolek barokah Mbah Yai, begitu kira-kira. Dan peristiwa ngalap berkah jika anda lihat di daerah jawa timur, maka tidak akan terlihat aneh. Kenduri Cinta berlokasi di Jakarta, potret masyarakat Jakarta yang sedemikian rupa tidak lazim dengan fenomena ngalap berkah ini. Atau yang lebih detail lagi, jama’ah Kenduri Cinta ini tidak ada potongan santri nya sama sekali. Mereka datang dengan pakaian yang tidak nyantri sama sekali, sementata di Maiyah juga tidak ada penyeragaman pakaian harus berwarna tertentu, atau harus menggunakan peci dan surban misalnya. Mereka datang dengan tampilan apa adanya, tidak memerlukan Pencitraan agar mereka terlihat sebagai orang alim karena datang ke forum pengajian, misalnya.