INDOAUTONESIA

Maiyah adalah contoh bagaimana energi sulthon itu berfungsi. Tidak ada satu manusia pun yang mampu merencanakan Maiyah. Bagaimana orang berdatangan, duduk, bahkan ada yang berdiri. Menyimak paparan yang disampaikan, dan semua merasakan keindahan bersama. Bagi Cak Nun, inilah bukti bahwa energi sulthon itu ada. “Maka dengan Maiyah ini anda sebenarnya ditawari oleh Allah sulthon. Maka tidak mungkin Indonesia dengan tata nilainya membikin Maiyah, tidak mungkin. Maiyah ini adalah bukan anak dari Indonesia, ini adalah anak dari kehendak Allah Swt, dan inilah yang dinamakan laa tanfudhuuna illa bi sulthoon. Kamu tidak bisa menembus sesuatu di luar kebiasaan kecuali dengan sulthon,” lanjut Cak Nun.

“Maka saya tidak pesimis kepada Indonesia, asal anda setia dan sungguh-sungguh. Anda jangan menjadi orang yang lupa kepada dirimu, sehingga lupa kepada Allah. Atau lupa kepada Allah sehingga anda lupa kepada dirimu, karena anda akan mendapat kemenangan dari Allah, dan kemenangan itu adalah ashabul jannati humul faaizuun,” Cak Nun menyampaikan.

Artikel sebelumnya

Kesempatan Untuk Memanfaatkan Momentum

Kekuatan akan dikalahkan oleh kecepatan, dan kecepatan akan dikalahkan oleh momentum. Sekuat apapun tim sepakbola, mereka akan kalah oleh tim sepakbola yang memiliki pemain-pemain yang memiliki kecepatan. Namun meskipun sebuah tim sepakbola memiliki pemain-pemain yang mampu berlari cepat dan mampu mengambil keputusan dengan cepat, akan kalah oleh tim sepakbola yang mampu memanfaatkan momentum dengan baik. Semalam, dalam pertandingan sepakbola Piala Asia U-19 anatra Qatar berhadapan dengan Indonesia, kita menyaksikan betapa momentum yang dimiliki oleh anak-anak muda U-19 Indonesia berhasil dimanfaatkan dengan baik.

Sinau Bareng Memaknai Peran dan Keberadaan Alam

Ketika alam tidak cocok dengan sistem kita, kita menyalahkan alam. walaupun manusia punah, bumi akan tetap ada. Banyak ancaman yang kita sebut ancaman karena kita egois. Alam tak pernah berniat jahat, alam hanya menyeimbangkan yang tidak seimbang. Semua hal yang tidak seimbang penyebabnya adalah manusia. Semua penyebab bencana alam dikarenakan ketidakpahaman manusia karena terhadap sistem yang komprehensif, manusia merasa melakukan sesuatu yang benar, padahal kita menabung bencana yang lebih besar. Prinsip bagaimana cara memberlakukan alam adalah dengan cara melakukan keseimbangan kepada alam.

Maiyah Abadan

Karena apa yang kita tanam, kita puasakan, kita sedekahkan adalah nilai-nilai kebaikan yang dimana kebaikan itu akan selalu bersifat kekal dan abadi. Ibarat kita menanam benih hari ini, maka pohon itu akan tumbuh, mekar, menghasilkan buah yang sedap dimakan, dan menghasilakan biji yang siap ditanam kembali.

Mundur Selangkah Memahami Bumi Kembali

Kenduri Cinta ini bukan hanya sebuah majelis ilmu semata, nuansa egaliter yang sangat kental sangat terasa, sehingga siapapun saja asalkan datang dengan hati dan pikiran yang jernih, maka akan merasa nyaman seperti berada di rumah sendiri. Malam itu, Cak Nun bahkan hadir lebih awal dari biasanya, namun memutuskan untuk turut menikmati diskusi sesi awal, duduk di sayap panggung sebelah kanan bersama Pak Pipit Ruchiyat Kartawijaya. Pak Pipit adalah seorang sahabat lama Cak Nun ketika dahulu menggelandang di Jerman dan Belanda. Hubungan silaturahmi kedua sahabat ini terjalin sangat erat, hingga hari ini.

Bukan Kebenaran, Melainkan Kebijaksanaan

Apa yang kita alami hari ini adalah sebuah kultur sosial budaya dimana identitas manusia adalah sesuatu hal yang sangat di-primer-kan oleh manusia. Setiap orang justru kebanyakan lebih memperlihatkan siapa dirinya, apa profesinya, apa agamanya, apa titel akademisnya daripada kebijaksanaan yang muncul dari dirinya dari segala bekal latar belakang yang ia miliki.

Mukadimah: MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Apakah peristiwa alam di bagian bumi tertentu di Indonesia adalah efek dari para pelaku kezaliman di daerah terdampak atau sebagai piweling pada manusia Indonesia lain yang saat ini berlaku zalim? Atau juga fenomena alam itu merupakan bagian dari sunnatullah memang dalam rangka manusia harus membayar “ongkos” agar tunainya kepasrahan kepada Tuhan? Masing-masing dari kita merdeka untuk menemukan jawabannya.