AMENANGI ZAMAN NOW

Kita mencemaskan kematian pada banyak hal, kematian nilai, kematian ideologi, kematian akidah, tetapi kelahiran-kelahiran baru juga sedang berlangsung. Maiyah adalah kelahiran bagi Indonesia yang akan datang. Di Maiyah tercurah wacana-wacana keilmuan, khasanah, kebijaksanaan, nilai-nilai, yang sifatnya masih glepung, diperlukan pengolahan lebih lanjut agar menghasilkan padatan-padatan ilmu baru.

Artikel sebelumnya

Kedaulatan Muhajirin Maiyah

Kalaupun Maiyah harus bersandar, maka sandaran itu adalah Allah Swt dan Rasulullah saw. Karena Maiyah menyadari dialektika segitiga cinta antara Allah-Rasulullah-Hamba sebagai sebuah kesatuan yang berkesinambungan dan tidak mungkin dipisahkan perannya. Dengan landasan dialektika segitiga cinta inilah yang pada akhirnya Maiyah bukan hanya menerima siapapun saja untuk datang ke Maiyah, tetapi lebih dari itu bahwa sejatinya Maiyah diterima oleh banyak orang dengan segala latar belakangnya yang berbeda-beda.

Mukadimah: ANSHOR MAIYAH

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw pernah bersabda; Innamaa-l-a’maalu bi-n-niyaat, wa innamaa likulli-m-riin ma nawaa. Faman kaanat hijrotuhu ilallahi wa rasulihi fahijrotuhu ilallahi wa rasulihi. Waman kaanat hijrotuhu ilaa dunya yushiibuha wa imroatin yankihuhaa fahijrotuhu ilaa ma hajaro ilaihi. Sebuah hadits yang maknanya begitu dalam, bahwa sebuah perbuatan seseorang itu tergantung pada niatannya. Hadits tersebut sangat relevan dengan situasi Maiyah hari ini, apa sebenarnya yang mendasari kita untuk datang ke Maiyah? Apa niatan kita? Tegas Rasulullah saw dalam hadits tersebut menyatakan bahwa apabila kita dalam melakukan sesuatu itu berdasarkan niatan karena ingin bertemu dengan Allah dan Rasulullah, maka kita akan menemui Allah dan Rasulullah. Apakah niatan kita datang ke Maiyah juga demikian?

Maneges Qudroh, Melewati 7 Memasuki 8

Qudroh akan segera Maneges, Qudrotullah akan segera mewujud. Perjuangan yang telah kita usahakan bersama di Maiyah hingga hari ini harus tetap kita bumbubi rasa optimis bahwa masa panen itu akan segera hadir. Walaa taiasu min rouhillah, jangan sekali-kali kita menyerah terhadap segala rahmat Allah yang akan diberikan kepada kita. Jangan sekali-kali kita meragukan keajaiban-keajaiban Allah yang masih disembunyikan oleh-Nya.

Pemain Tanpa Bola di Tribun Penonton

Dari masing-masing kesebelasan itu, ketika pertandingan berlangsung ada yang juga harus bergerak tanpa bola. Pemain ini adalah pemain yang berusaha membongkar pertahanan lawan dengan cara membuka ruang bagi pemain lain untuk masuk ke sektor pertahanan lawan. Bahkan bisa jadi, ia sendiri yang kemudian mencetak gol ke gawang lawan, karena pergerakan tanpa bola yang ia lakukan berhasil membuka ruang dan menciptakan ruang bagi dirinya di wilayah pertahanan lawan, begitu ia mendapatkan bola liar, sepakan terukurnya akan mampu mengoyak jala gawang lawan. Dan untuk menjadi pemain yang mampu membuka ruang serta menciptakan ruang dalam sebuah pertandingan sepakbola tidaklah mudah. Dibutuhkan kecerdasan serta intuisi yang baik untuk memerankan posisi tersebut. Dan tidak banyak di dunia sepakbola hari ini yang mampu memerankan peran tersebut.

Hari dan Angka Istimewa Untuk Sang Legenda

Mas Yon ditakdirkan menghadap Allah pada usia 77 tahun. 7 (tujuh), dalam bahasa Jawa disebut “Pitu”. Dan Pitu itu memiliki beberapa arti dan filosofi. Bersebab Mas Yon “dipundhut” pada usia 77 (tujuh-tujuh) alias pitu-pitu, maka pitu yang pertama dapat diartikan sebagai Pitutur. Pitutur adalah nasihat, petuah, wejangan, ular-ular, suatu ajaran kebaikan. Dan ini sangat relevan dengan seluruh kehidupan mas Yon Koeswoyo. Bagaimana tidak, hampir seluruh hidupnya ia dedikasikan untuk memberikan nasehat, pesan moral, pijakan, norma hidup, kepada seluruh anak-cucu bangsa Indonesia melalui lagu-lagunya. Apa yang tidak bernyawa dan bermakna dari lagu Koes Plus. Semua yang dikaryakan mas Yon dan saudaranya memuat petuah bijak yang migunani, bermanfaat bagi keberlangsungan kehidupan kita semua. Ya sebagai hiburan, pembelajaran, ajakan, pengingat, alat mencari nafkah, bahan skripsi, perekat silaturahmi, kritik, perjuangan, doa-doa dan lain-lain.

Mudahnya Menjadi Pejuang dan Penyebar Nilai Di Zaman Now

Tidak ada yang salah dengan konsep “menyebarkan nilai-nilai Maiyah agar tersebar lebih luas”. Akan tetapi, seandainya proses menyebarkan nilai-nilai Maiyah itu ditata dengan baik, alangkah lebih baik dan indah hasilnya. Kebenaran dan Kebaikan hendaknya dikombinasikan dalam takaran yang tepat, sehingga menghasilkan keindahan bersama. Teman-teman Penggiat Simpul Maiyah di berbagai daerah terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk turut serta menjadi “pasukan” di belakang layar. Di Kenduri Cinta misalnya, terdapat forum Reboan yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan memiliki ide serta gagasan untuk Maiyah di masa yang akan datang. Alangkah lebih baik jika kita bertemu tatap muka secara langsung di sebuah majelis daripada hanya bisa berkomentar di media sosial, berlindung dibalik topeng akun media sosial yang kita miliki. Bukankah Maiyah mengajarkan kita untuk bermuwajahah, bertemu tatap muka satu sama lain?