RUWAIBIDHOH

“RUWAIBIDHOH ITU juga bisa terjadi karena perbedaan tahap evolusi (dalam diri) nya”, Cak Nun menyambung paparan Syeikh Nursamad Kamba. Gambaran sederhanyanya, apabila kita berbicara dengan Kambing, maka Kambing yang akan menjadi Ruwaibidhoh. Karena, evolusi Kambing baru sampai pada tahap Evolusi ketiga, Hewan. Begitu juga dengan manusia sekarang yang sudah dianugerahi oleh Allah mencapai evolusi tahap keenam, Khalifatullah, maka jika berbicara tentang Khilafah kepada manusia yang masih berada pada evolusi tahap keempat, Peradaban Insan, maka manusia yang masih berada pada peradaban Insan itulah yang akan menjadi Ruwaibidhoh, mereka tidak akan faham tentang konsep Khilafah. Cak Nun menekankan bahwa Allah menawarkan konsep; A’izzah ‘ala-l-kaafiriin. Kita memang harus memiliki sifat tidak tega kepada mereka yang belum faham, kita harus menyadari bahwa memang belum waktunya Pohon Khilafah itu ditanam di tanah Indonesia hari ini.

Cak Nun kemudian menerangkan bahwa jamaah Maiyah ini ialah orang-orang yang merdeka terhadap ilmu, terbuka hijabnya, lebih terang pandangannya. Fenomena masyarakat hari ini, ketika mempelajari Ilmu Allah yang tercakup dalam Islam, di hadapan mereka terdapat banyak hijab sehingga mereka akan sangat eksklusif, mencibir orang yang menyampaikan ilmu kepada mereka, karena tidak sesuai dengan informasi yang sudah mereka terima terlebih dahulu. Ibaratnya, apabila seseorang ingin didengar suaranya, ingin disimak paparannya, maka ia harus menjadi orang besar terlebih dahulu, memiliki karya tulis yang banyak dan dilegitimasi sebagai karya ilmiah, terkenal di media massa dan media sosial, baru kemudian suaranya akan didengarkan oleh banyak orang, terutama yang memiliki pandangan yang sama.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: Evolusi ke 4- (Abad 20-21)

Dalam era globalisasi hari ini, Indonesia berada satu langkah lebih maju dibanding Negara-Negara lain di dunia. Dengan Pancasila sebagai dasar Negara, sesungguhnya Indonesia sudah mengikatkan dirinya bahwa ia tidak akan bisa lepas dari Islam. Ketuhanan Yang Maha Esa merupakan satu idiom yang hanya dimiliki oleh Islam. Siapa gerangan yang mengajarkan bapak bangsa Indonesia tentang Tauhid itu? Khilafahnya manusia dalam Islam adalah sebuah keniscayaan. Allah sendiri yang menyatakan bahwa Innii jaa’ilun fi-l-ardhli kholifah. Manusia diciptakan oleh Allah untuk menjadi Khalifah di muka bumi. Di bumi, bukan di planet yang lain. Bukan di Mars, Venus, Jupiter, Merkurius dan yang lainnya, tetapi di Bumi. Khalifatullah merupakan puncak dari proses evolusi pencapaian manusia di muka bumi.

Fuadussab’ah, Bulannya Cak Fuad

Begitu besar cinta Cak Fuad kepada Al Qur’an dan Bahasa Al Qur’an. Sebagian besar hidupnya, beliau dedikasikan untuk belajar, mengajar, dan berinteraksi dengan Al Qur’an dan Bahasa Al Qur’an. Kecintaan beliau terhadap Al Qur’an membuahkan anugerah Allah kepada beliau berupa kesempatan untuk menjadi bagian dari staff Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang sejak tahun 1976, bahkan beliau juga pernah diamanahi untuk memangku jabatan sebagai Dekan di Fakultas tersebut, tanpa diketahui oleh adik-adiknya. Beberapa majalah berbahasa Al Qur’an beliau terbitkan, beberapa jurnal tentang Bahasa AL Qur’an juga beliau terbitkan dalam rentang waktu yang teratur. Organisasi Pengajar Bahasa Arab di Indonesia (IMLA) diinisiatori oleh beliau kemunculannya. Perjalanan panjang itu mengantarkan beliau untuk menjadi salah satu anggota dari King Abdullah bin Abdul Aziz International Center for Arabic Language yang berpusat di Riyadh.

Idul Fitri: Kemenangan Personal di “Tengah Kekalahan Struktural”

Pada dimensi intelektual, fitri adalah kematangan dan kemengendapan. Dengan menyaring ucapan dan ekspresi perilaku dalam puasa, dengan tradisi iktikaf yang melatih telinga batin untuk mendengarkan suara-suara yang dalam situasi-situasi normal tidak begitu terdengar, mekanisme akal manusia akan mengalami sublimasi ke dasar ilmu sejati. Ini bukan masalah ‘kebatinan’. Ilmu sejati adalah pengetahuan jernih yang membedakan antara pengetahuan yang berkualitas buih-buih dan pengetahuan yang berkualitas jernih. Antara pengetahuan yang memang membuat pemegangnya menjadi tahu, dan pengetahuan yang sia-sia, yang tidak boleh tidak ada karena ketiadaannya tidak merugikan dan keberadaannya tidak menguntungkan atau memberi hikmah.

Idul Fitri: Titik Sublim Psikologis

Ada berbagai pendekatan Qur’ani untuk memahami jarak antara puasa dan Idul Fitri. Kita bisa memilih satu dua sudut atau sisi pandang, bisa juga dengan “pendekatan melingkar”. Semacam kemenyeluruhan atau totalitas. Atau yang Qur’an sendiri menyebutkan kaffah.

Kita mungkin bisa berangkat dari salah satu paham bahwa perubahan atau pengubahan yang dilakukan dengan metode laku puasa itu merupakan proses peragian: semacam mengubah ketela menjadi tape. Menaklukan gumpalan menjadi cairan. Mentransformasikan dan mentranssubstansikan badan (jisim) menjadi energi (quwwah) dan akhirnya menjadi cahaya (nur).

Cerita Dari Sudut Dapur Kenduri Cinta

Banyak yang menganggap bahwa kami para Penggiat Kenduri Cinta adalah orang-orang “Ring 1” Emha Ainun Nadjib di Jakarta. Padahal, justru yang pertama kali dilakukan oleh “kakak-kakak” kami di Kenduri Cinta adalah untuk membuang jauh-jauh harapan “menjadi orang dekatnya Cak Nun”. Mereka ini, adalah anak-anak yang sudah sangat lega, sangat ikhlas jikalau hingga akhir acara tidak sempat bersalaman dan mencium tangan Cak Nun, guru yang mereka cintai. Menahan rindu satu bulan sekali, dan ketika bertemu, belum tentu bisa untuk sekedar mencium tangan beliau. Bagi mereka, melihat Jama’ah Kenduri Cinta bergembira malam itu adalah kepuasan yang tidak ternilai harganya. Mereka-mereka itu, pada Jum’at kedua setiap bulannya selalu ditanya oleh Jama’ah dengan sebuah pertanyaan; “Cak Nun hadir nggak malam ini?”. Pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak mengetahui jawabannya. Mereka tidak mungkin menjawab “iya”, karena memang mereka sama sekali tidak mengetahui apakah Cak Nun hadir di Kenduri Cinta atau tidak. Sementara, mereka juga tidak mungkin menjawab “tidak”, karena bisa jadi ternyata Cak Nun hadir malam itu.

Rohani Iman dan Jasmani Iman

Rohani atau iman adalah kondisi internal kepribadianmu. Jasmani atau ihsan adalah peran dan integritasmu di tengah lingkungan kehidupan. Kedewasaan keislaman dan kepribadian kita adalah tatkala keteguhan imanmu memperkukuh dan memperluas manfaat sosial kehadiranmu, serta ketika keterlibatan sosialmu juga sekaligus dan memperjernih imanmu. Keduanya bersifat simbiosis mutualistik. Keduanya saling menumbuhkan, saling menggali manfaat.