BELENGGU PEMIMPIN

Pemimpin itu satrio pinandhito sinisihan wahyu. Tidak mungkin satria itu tidak jujur, tidak mungkin satria menyakiti hati rakyatnya. Pinandhita adalah orang yang sudah tidak lagi memikirkan dunia, ia zahid, tidak memiliki kepentingan politik. Sinisihan wahyu artinya ia dibimbing, dikawal, didampingi oleh Allah, terus-menerus, sehingga saat mengambil keputusan, apapun itu, selalu dinaungi hidayah Allah.

Artikel sebelumnya

Mukadimah: MEMBACA AMSAL

Para Nayaga dari penabuh saron, bonang, gender, gong, rebab, kendang dan berbagai alat gamelan lainnya bersama dengan Waranggana sudah terlatih untuk mengiringi Dalang dalam menampilkan pagelaran wayang. Kapan harus menggunakan laras pelog, kapan harus menggunakan laras slendro sudah dipahami oleh Pesinden dan setiap Nayaga penabuh gamelan. Pengendang selama pertunjukan berkonsentrasi penuh terhadap wayang-wayang yang dimainkan oleh dalang pada setiap adegan. Setiap tokoh wayang memiliki ciri khas tersendiri dalam bergerak dan penabuh kendang akan berusaha mendramatisir setiap gerak wayang yang dimainkan oleh Dalang. Terutama ketika adegan perang, setiap gerak sabetan wayang yang dimainkan Dalang akan diiringi oleh permainan kendang si pengendang.

Kenduri Cinta dan berbagai forum-forum Maiyahan di berbagai penjuru wilayah nusantara

Kutemukan Jawaban di Maiyah

Cak Nun mentadabburi kalimat Bismillahirrohmanirrohiiim. Bismillahirrohmanirrohim itu terdiri dari Bismillahi, Roh, Mani, Rohim. sebelum roh, ada perjanjian “Alastu bi rabbikum, bukankah Aku Tuhanmu?” Setelah roh sepakat, “Ya saya bersaksi, Kamu lah pengayomku”. Baru kemudian ditiupkan roh itu ke Mani, dan ditempelkan kepada Rohim (Rahim). Allah lah yang mengajari kita jauh sebelum Ibu kita mengajari kita. menurut Cak Nun, Tadabbur itu berbeda dengan Tafsir “Kalau Tadabbur, salah tidak apa-apa asal hasilnya baik, dan Allah menyuruhnya Tadabbur bukan tafsir, Afala yatadabbarunal Qur`an “. Tadabbur itu dari kata Dubur (jalan belakang), yang penting itu outputnya, yang dikeluarkan dari duburmu itu baik.

Pemimpin, Pemerintah, dan Pengusaha

“Wahai Bagaspati, tak perlu engkau begitu menghamba padaku. Kalau bukan karena Prabu Salya melepas Candabirawa, sebenarnya aku sungkan untuk mengganggu istirahatmu.” Senyum Yudistira sangat menentramkan meski ditengah perang. Bagi Bagaspati yang sedang bersimpuh dihadapan tuannya, langsung mengerti apa yang sedang dibutuhkan oleh pemimpin yang dicintai meski tanpa diminta. “Mohon diri Pepundenku” Bagaspati langsung beranjak untuk menghampiri Prabu Salya yang masih berdiri tegap di kejauhan. Seperti sebuah magnet yang digerakan di tebaran pasir bijih besi, Bagaspati diserbu oleh ratusan ribu Candabirawa dari berbagai penjuru Kurusetra. Bukan dalam rangka penyerangan, namun lebih seperti anak-anak ayam yang berlarian karena dipanggil induknya. Ya, Candabirawa tidak lain adalah anak-anak keturunan dari Bagaspati dari sebuah kejadian proses regenerasi cara-cara siluman yang ganjil.

Mukadimah : BELENGGU PEMIMPIN

Jika kita menggunakan terminologi Manunggaling kawulo gusti, maka didalam hati seorang Pemimpin, Tuhan bersama rakyat bersemayam. Jika ia berkhianat terhadap amanat yang ia bersumpah atas nama Tuhan, maka Tuhan akan memberikan adzab kepada rakyatnya. Jika ia menyakiti rakyatnya, maka Tuhan pun akan sakit hati. Memang, yang kita butuhkan adalah Pemimpin yang biso rumongso, bukan Pemimpin yang rumongso biso. Seorang Pemimpin yang sejati tidak boleh merasa bahwa dirinya adalah yang paling mampu menyelesaikan persoalan. Ia harus mampu menaklukan dirinya agar tidak dikuasai nafsu dalam dirinya.

PERJALANAN KEBAHAGIAAN

Segala urusan di dunia bermuara pada dua hal, bahagia atau tidak bahagia, hal itu tergantung pada manajemen peletakan hati dan tatanan pikiran terhadap apapun yang kita alami. Penderitaan pun tak selalu berposisi sebagai antitesis dari kebahagiaan. Rasa tidak bahagia bisa merupakan salah satu bahan dari kebahagiaan, karena hidup adalah lipatan-lipatan yang tidak linier.

Sakti, Ahmaq, atau Kalap

“Makanya saya tawarkan Catur Sila saja. Hapus Sila Pertama, daripada ruwet berurusan dengan Tuhan. Tapi kemudian saya pikir lebih lanjut: empat Sila yang lain juga merepotkan. Mana mungkin habitat politik nasional dan budaya kependidikan kita ditabrakkan dengan kemanusiaan yang adil dan beradab. Mustahil Parpol-parpol dan Ormas-ormas, bahkan konstelasi ketokohan nasional dari berbagai latar belakang dituntut membangun Persatuan Indonesia. Lha wong mereka berhenti pada kebenaran masing-masing, tidak meneruskan langkahnya ke kebijaksanaan bersama. Mereka pikir kebenaran adalah puncak nilai hidup. Padahal kebenaran hanyalah salah satu input, alat, bekal, modal atau perangkat untuk bersama-sama mencapai hikmat kebijaksanaan”