SERIBU BAYANG PRASANGKA

Bekal utama manusia itu bukan ilmu, tetapi tawadhlu’, rendah hati dan tahu diri. Bahasa jawanya biso rumongso bukan rumongso biso. Sementara kita melihat hari ini yang terjadi adalah pementasan parade rumongso biso. Di Kenduri Cinta kita belajar menyajikan masakan, bukan enak atau tidak enaknya melainkan ketulusan dan keikhlasan hati kita ketika memasaknya. Surat Al-Hujurat ayat 12, disebutkan inna ba’dhlo dhzonni itsmun, sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dari ayat itu, kita belajar bahwa dengan berprasangka saja kita sudah berdosa. Selain itu, ada kalimat walaa tajassasu, ayat ini mengajarkan kita untuk tidak menjadi “intel” bagi orang lain, kecuali dalam rangka untuk menunjukkan apresiasi dan empati kepada orang lain. Dalam ayat itu juga terdapat peringatan agar manusia tidak menggunjing satu sama lain. Diibaratkan Allah, barangsiapa yang mempergunjingkan orang lain itu sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

Artikel sebelumnya

Komitmen Berlembaga

Memang benar bahwa mempertahankan jauh lebih sulit ketimbang meraih. Seorang juara untuk mempertahankan gelar yang sudah diraih akan memerlukan usaha yang lebih berat ketimbang perjuangan sebelumnya sewaktu gelar itu belum didapat. Ini ternyata berlaku di banyak hal, tidak hanya di kejuaraan olahraga tapi juga dengan jabatan politik dalam lembaga Negara, karier profesi dalam bisnis dan bahkan jalinan suami-istri dalam lembaga pernikahan. Untuk mendapatkan wanita idaman, seorang pria akan berusaha sekuat tenaga agar dapat menikahi wanita idamannya. Tapi dibading dengan usahanya itu, ketika menjadi suami, ia juga akan memerlukan usaha yang lebih ekstra dalam membina keluarga. Begitu juga dengan para calon pemimpin daerah hingga calon presiden akan memerlukan usaha yang lebih besar ketika sudah menduduki jabatan ketimbang usahanya ketika kampanye dalam menyampaikan janji-janji politiknya.

Membangun Kemesraan dan Cinta di Kenduri Cinta

SEORANG PRIA berbadan kekar, terdapat tattoo di lengan kanannya. Kaos yang dikenakan pun sepertinya memang ia pilih yang lengannya pendek, supaya tattoo tersebut dilihat orang. Orang lain yang pertama melihat sudah pasti akan berprasangka bahwa laki-laki bertatto itu adalah preman. Laki-laki itu memperkenalkan diri, Budi namanya. Di sesi awal Kenduri Cinta, ia memberanikan diri untuk…

Filter Prasangka

Prasangka buruk akan melahirkan kebencian, sedangkan prasangka baik sangat mungkin melahirkan rasa cinta. Jika sudah cinta, gelora semangat untuk dapat dekat memang sangatlah kuat, bukan hanya ingin dekat, bahkan mempertaruhkan segalanya pun sangat mungkin dilakukan. Meskipun terkadang ekspresi dari cinta menguasai diri untuk bertindak melewati batasan-batasan yang semestinya tidak dilanggar. Tapi siapa yang dapat disalahkan jika cinta mendorong orang untuk berusaha mendapatkan perhatian dari yang dicintai. Walaupun seringkali tindakan yang berlebihan dalam mengekspresikan cinta justru malah kontra produktif terhadap usahanya supaya mendapatkan perhatian dan kedekatan dari orang yang dicintai.

Limang Taun Juguran

Di tengah masyarakat pedesaan yang mulai kehilangan karakter desanya, karakter masyarakat kota yang cenderung menuntut ketimbang memberi sudah terkontaminasi dan susah untuk dihindari. Gaya hidup individualis semakin marak dan mengikis budaya hidup srawung bebrayan urip. Kenyataan ini-pun terjadi di wilayah Karsidenan Banyumas tempat dimana Forum Maiyah Juguran Syafat lahir lima tahun lalu. Di saat kultur budaya Cablaka khas Wong Banyumas sudah mulai memudar, otomatis dengan adanya Juguran Syafaat budaya Cablaka dapat terpelihara dengan cara-cara juguran ini.

Ikhtiar Mulia Juguran Syafaat

Kesungguhan Juguran Syafaat berproses dalam 5 tahun ini sebenarnya membuat saya penasaran. Mau apa sebenarnya Juguran Syafaat ini? 5 tahun mereka istiqomah menyelenggarakan forum majelis ilmu di sudut kota Purwokerto. Sempat beberapa kali berpindah lokasi pelaksanaan karena satu dan lain hal, tidak lantas kemudian menyurutkan kesetiaan mereka dalam berproses.

Mukadimah: SERIBU BAYANG PRASANGKA

Kebencian maupun fanatisme yang berlebihan adalah akibat dari tidak seimbangnya informasi yang kita dapatkan. Fanatisme yang berlebihan tentu saja tidak menyehatkan bagi kita, begitu juga dengan kebencian yang berlebihan. Sementara dalam hidup kita, meskipun Allah membekali kita ayat; wa ‘asaa ‘an takrohu syaian wa huwa khoirun lakum wa ‘asaa ‘an tuhibbu syaian wa huwa syarrun lakum, toh pada kenyataannya prasangka dalam diri kita lebih dominan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita. Bahkan tidak jarang, yang menjadi pertimbangan baik atau buruk untuk kita adalah sesuatu yang kita sukai. Kita menganggap sesuatu itu baik, karena memang kita menyukainya. Kita menganggap sesuatu itu buruk karena kita membencinya.