JABABIROH

Jangan mengandalkan kebenaran anda, karena kebenaran sejatinya adalah milik Allah. Kebenaranmu hari ini bisa berbeda dengan kebenaran eesok pagi. Kebenaran adalah bahan mentah, ia bukan suguhan makanan. Kebenaran diolah dengan berbuat baik yang menghasilkan keindahan. Berbuat baik, bermanfaat bagi orang banyak dan hasilnya adalah keindahan. Puncak dari keindahan adalah cinta.

Artikel sebelumnya

Setelah Mudik, Kita Kembali Berpuasa

Berduyun-duyun orang keluar dari Ibukota Jakarta dan Kota-kota besar lainnya menjelang hari Lebaran. Menggunakan berbagai moda transportasi baik darat, laut, atau udara menuju kampung halaman. Bagi yang menggunakan kendaraan umum, tiket perjalanan sudah di pesan jauh-jauh hari. Sedangkan yang menggunakan kendaraan pribadi, kemungkinan terjebak macet selalu menghantui. Begitu juga setelah hari Lebaran, mulai berduyun-duyun orang balik ke Kota tempat mereka menjalankan aktivitas hidup sehari-hari.

Idul Fitri, “Mandi Besar” Manusia dan Kebudayaan

Idul Fitri berarti telah tibanya suatu “perjalanan kembali” dari kondisi tidak fitri menjadi fitri. Dari palsu menjadi sejati. Perjalanan itu sudah pasti harus melibatkan seluruh dimensi hidup pelakunya. Ya, spiritualitasnya, ya intelektualitasnya, ya moralitasnya, ya estetika-nya, ya pergaulan sosialnya, ya keterlibatan seluruh kesejarahannya. Perjalanan kembali itu, seperti kita ketahui bersama, ditempuh dengan metode puasa.

Kepantasan Untuk Dimaafkan

Memang Allah amatlah mencintai hamba-hamba-Nya. Bacalah firman-firman-Nya. Terkadang Ia tampak begitu bersusahpayah berusaha meyakinkan agar manusia mempercayai-Nya. Di saat lain Ia seolah-olah murka karena Ia tak dinomorsatukan, melainkan dipersekutukan dengan benda-benda dan nilai-nilai yang remeh dan sepele, sehingga seandainya Ia adalah manusia, maka akan tumbuh rasa cemburu dan sakit hati yang mendalam.

Mengenang Estetika Takbiran

APA YANG tersisa dari suasana Idul Fitri pada diri Anda? Kenangan kebahagiaan bersama keluarga? Capek dan absurdnya perjalanan mudik yang tahun ini benar-benar dahsyat?  

Pada saya, yang terngiang-ngiang selalu sehabis Lebaran adalah suara-suara takbiran masal. Baik di masjid kita masing-masing, di jalanan, di teve, atau mungkin takbir dalam film The Messenger yang disuarakan secara sangat sederhana.  

Setan Diborgol, Mestinya Kita Juga

Puasa itu artinya kita berhak melakukan sesuatu tapi tak melakukannya. Berhak mendapatkan, mengenyam, menikmati, tapi sengaja dan sadar menolaknya, pada batas waktu dan konteks tertentu. Berhak atas makanan, minuman, peluang, jabatan, akses, popularitas, modal, atau apa pun saja, namun dengan pertimbangan dan perhitungan tertentu, semua itu tidak diambil.

“Mengendarai” Al-Qur`an, Melintasi Tujuh Langit

Orang melakukan shalat seperti pegawai yang menandatangani buku presensi, seperti serdadu berbaris, atau seperti konsumen yang membayar kredit untuk memperoleh “komoditi” yang bernama surga. Sikap orang-orang bersembahyang terhadap Tuhan sangat kapitalistik. Sedemikian rupa ‘maniak’ pahala dalam arti ekonomis ini—sehingga yang mereka Tuhankan bukanlah Tuhan itu sendiri melainkan pahala atau laba.