From Redaksi

Usai Pagelaran

Jakarta baru saja menggelar pemilihan Kepala Daerah, yang mengharuskan digelar hingga putaran kedua. Dinamika politik yang mewarnai Jakarta satu tahun terakhir, seakan membawa aroma dendam Pilpres 2014 silam. Isu sentimen suku, ras dan agama semakin memuncak pada bulan-bulan terakhir. Bahkan isu makar untuk menggulingkan Pemerintahan Negara yang sah, ditengarai ikut menunggangi Pesta Demokrasi Ibukota kali ini. Tidak mengherankan, Jakarta sebagai pusat kekuasaan Negara Republik Indonesia saat ini adalah lokasi yang sangat strategis dan menjadi titik fokus utama para politisi nasional. Hampir seluruh partai pengusung mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk mengawal Pilkada Jakarta pekan lalu.

Gubernur Fayakun

Akhir-akhir ini, persoalan Pilkada DKI Jakarta seperti sebuah pusaran besar yang berhasil menyeret tidak hanya perhatian warga Jakarta namun juga masyarakat Nasional. Masyarakat dibuat untuk memasuki wilayah pro-kontra mengenai berbagai hal dan kasus-kasus terkait Pilkada ini. Energi Pemerintah Pusat-pun tidak sedikit yang tersedot kedalam pusaran persoalan Pilkada DKI. Setiap warga Jakarta yang memiliki hak pilih seolah dipaksa untuk memberikan jawaban pada soal multiple choice yang akan menentukan nasib kehidupannya untuk lima tahun kedepan. Padahal belum karuan hasil Pilkada DKI yang putaran kedua akan dilangsungkan pada 19 April 2017 itu dapat menjadi solusi bagi permasalahan hidup setiap warga. Warga Jakarta masih tetap harus kembali kedalam aktifivas kesehariannya setelah Pusaran Pilkada ini berakhir. Pilkada bagi warga Jakarta sebenarnya hanya penggalan proses yang secara langsung atau tidak terkait dengan proses panjang perjalanan kehidupan warga Ibukota yang mesti terus berlangsung.

Sementara bagi Tim Sukses masing-masing Paslon Gubernur, Pilkada ini dijadikan tujuan akhir perjuangan mereka. Masing-masing TIM Sukses memperjuangkan kandidat mereka melalui kampanye dan berbagai macam cara supaya Paslon yang diusung dapat menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur Jakarta. Deal-deal politik pastinya terjadi sepanjang proses transaksi dukung-mendukung dalam proses pemenangan Pilkada. Tapi berikutnya The show must go on, kalah-menang hasil Pilkada mesti diterima dan dilangsungkan secara sportif oleh semua pihak yang terlibat.

Mukadimah: NEGARA DALAM GELEMBUNG

Entah bagaimana nasib masa depan anak cucu dari 260 juta lebih penduduk Indonesia kelak. Kekayaan alam yang seharusnya dikelola dengan baik oleh Negara agar semua rakyat merasakan kesejahteraan yang adil, rasa-rasanya menjadi mustahil untuk diwujudkan jika melihat perilaku para pengelola Negara hari ini. Hutang luar negeri yang semakin tahun semakin bertambah, aturan-aturan dan undang-undang yang disusun oleh parlemen semakin merugikan rakyat, penduduk dari Negara lain diperbolehkan memiliki dan menguasai aset-aset di Indonesia, belum lagi jutaan lembar saham perusahaan BUMN yang juga secara perlahan diperbolehkan dimiliki oleh umum. Industri hasil pertanian, perkebunan, perikanan bahkan pertambangan mineral pun tak luput dari penguasaan investor yang mayoritas datang dari Negara lain.

Perang Asimetris

Perang asimetris yang sedang terjadi pada era Teknologi Informasi saat ini jauh lebih kompleks ketimbang perang-perang yang pernah terjadi. Yang terjadi bukan hanya perang fisik antara dua kekuatan pasukan yang saling berhadap-hadapan dengan amunisi dan persenjataan tempur, tetapi lipatan-lipatan peperangan yang silang sengkurat dengan tumpang tindih berbagai kepentingan dan tujuan. Dari kepentingan Ideologi, kepentingan kebudayaan tumpang tindih dengan kepentingan ekonomi yang mendasari perang. Perang opini dan pembunuhan-pembunuhan karakter terus dilangsungkan, persekongkolan kepentingan bagaikan gelembung-gelembung yang sewaktu-waktu menggelembung dan dapat seketika meletup dan hilang tanpa bekas.

Terdiam Dalam Perang

Perang Baratayuda adalah perang saudara antara Pandawa dan Kurawa. Meskipun perang ini dianggap sebagai perang suci, tetapi perang saudara semacam ini bukanlah sesuatu yang pantas diinginkan terjadi dalam kehidupan nyata. Apalagi jika ada yang justru berusaha untuk menyelenggarakan, merancang, memanipulasi keadaan, menghasut dan memprovokasi terjadinya perang saudara, jelas usaha orang-orang yang berusaha mengobarkan perang semacam itu telah menyimpang dari kemanusiaan. Namun jika ketidakadilan terus terjadi justru dilanggengkan oleh penguasa yang semestinya mengayomi masyarakat, sadarilah bahwa rakyat bukanlah budak. Kemanusiaan-pun akan berontak jika penindasan terjadi dan martabat terinjak-injak.

Seharusnya menjadi kemudahan, bukan kesulitan

Arus Globalisasi dalam kehidupan sosial sepertinya sulit untuk dihindari, deras arusnya mau tidak mau kita alami. Suka tidak suka, setiap individu dalam kehidupan sekarang ini akan hidup ditengah kehidupan sosial yang saling sambung dengan berbagai entity dan aktivitas dari berbagai belahan dunia. Sekantong plastik keripik tempe oleh-oleh khas Banyumas bisa jadi terbuat dari kedelai yang ditanam oleh petani di Brasil, di goreng menggunakan minyak dari kebun kelapa sawit yang berada di Malaysia dan dibungkus dengan plastik yang di produksi di China. Komposisi semacam ini pun berlaku pada berbagai macam benda-benda yang berada di sekeliling kita. Benda-benda itu dapat bersifat barang-barang konsumsi habis pakai dan yang mendukung produktivitas aktivitas kita dalam kehidupan sehari-hari. Arus barang dari berbagai belahan dunia terdistribusi dan terkoneksi dalam rangkaian transaksi-transaksi yang berjalin dalam sistem nilai yang saat ini merajai, kapitalisme.

Kecèlè Memblè

BALA BANTUAN dan kerja sama yang diharapkan Ki Lurah Prabu Petruk Gadungan atas kunjungan Raja Salya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Peti-peti hadiah dari Raja Salya hanya berisi surat-surat kontrak kerjasama yang realisasinya penuh tanda tanya. Investasi yang katanya ratusan triliun, ternyata tak seperti yang digembar-gemborkan sebelumnya. Sementara Raja yang katanya bijaksana dan mengedepankan kepentingan rakyat ternyata nyata kapitalis-nya. Kedatangan Raja Salya ke Astina lebih nampak sebagai tamasya, ketimbang kunjungan kerja. Bahkan tamasya ke Pulau Dewata durasinya ditambah. Keindahan Negeri Astina ini memang sangat memikat Raja Salya. Ki Lurah Prabu Petruk kecèlè ternyata dengan kedatangan Raja Salya.

Mukadimah: KECELA KECÈLÈ

Kecèlè berkali-kali. Katanya Negara, tapi berlaku seperti kerajaan. Katanya Negara tetapi kok wewenangnya Pemerintah. Katanya Pemerintah tetapi kok berlaku sebagai Negara. Katanya Pegawai Negara kok takut kepada Pegawai Pemerintah. Padahal Pegawai Pemerintah adalah pegawai sistem kontrak maksimal 5 tahun, sedangkan Pegawai Negara adalah pegawai tetap seumur hidup. Katanya Lembaga Negara kok berlaku sebagai Lembaga Pemerintah. Katanya Demokrasi, tetapi ketika ada yang berbeda pendapat dibully habis-habisan. Giliran dibully balik, merengek-rengek dan berteriak bahwa ini adalah Negara Demokrasi. Katanya Demokrasi, tetapi hanya dia dan kelompoknya sendiri yang boleh bebas dalam berpendapat. Katanya Demokrasi, tetapi kemudian mengeluh katanya Demokrasi kita sudah kebablasan. Padahal ia lahir dari sistem Demokrasi yang ia katakan sudah kebablasan ini.

Karno Tanding Kepagian

Pertunjukan wayang-wayangan politik semakin amburadul, porak-poranda oleh kebebasan demokrasi. Wayang-wayangnya mengambil peran suka-suka. Duryudana kadang berlaku seperti Yudistira yang menderita, Burisrawa memakai topeng Arjuna dan Sangkuni mengenakan jubah Bisma supaya dikira bijaksana. Rakyat Astina semakin jauh dan lupa keberadaan Pandawa Lima yang sejati karena mereka senantiasa disuguhi berbagai pertunjukan-pertunjukan Kurawa yang memerankan Pandawa. Pagi hari Duryudana dihina-hina oleh adik-adiknya karena memusuhi Basukarna, siangnya Bala Kurawa menjilati pantat Duryudana. Sore harinya Gandari menyamar menjadi Kunti ibunya Basukarna, untuk menyemangatinya dalam Karno Tanding. Sementara pagi, siang, sore dan malam Ki Lurah Prabu Petruk Palsu suka salah tingkah berada di tengah-tengah antara Ibu Gandari, Prabu Duryudana dan Basukarna.

Menyelesaikan Pekerjaan Rumah

Perjalanan Komunitas Kenduri Cinta yang sudah berjalan di tahun ke-17 ini tentu tidak semua merasakan prosesnya. Para penggiat baru dirasa perlu untuk mengetahui proses perjalanan dan berkembangnya Kenduri Cinta dari tahun ke tahun. Dinamika perjalanan Komunitas yang diwarnai oleh banyak sosok di Kenduri Cinta merupakan pelajaran tersendiri bagi para generasi muda Kenduri Cinta saat ini. Ada hal yang harus dipertahankan, ada hal yang harus diperbaiki dan juga ada hal yang harus dihilangkan. Karena setiap generasi memiliki ciri khas nya masing-masing dan memiliki pencapaiannya masing-masing. Kesemuanya tidak pantas untuk diperbandingkan, melainkan agar semua belajar bersama untuk menemukan rukusan yang tepat bagi setiap generasinya.