From Redaksi

Mukadimah: WARAS-ATUL ANBIYA

Masyarakat saat ini sedang sakit. Pendidikan generasi seolah hanya dibebankan pada institusi sekolah, tetapi para pendidiknya dibayar murah. Sebaliknya media massa menyajikan suguhan yang tidak mendidik. Hiburannya bukan untuk menggembirakan masyarakat, justru menghipnotis penonton untuk larut dalam fantasi-fantasi. Informasi yang disuguhkan bukan berdasarkan kebutuhan untuk menyampaikan informasi yang baik dan sehat. Rumusan bad news is a good news semakin nyata adanya. Kebudayaan tidak mengakar pada masyarakat, tapi sekadar menjadikan masyarakat sebagai konsumen pemuja sensasi-sensasi selebriti.

Festival Kebenaran Nasional

Ketika kita mendengar kata kebebasan, salah satu hal yang kemudian terlintas dalam kepala kita adalah bahwa kita merdeka untuk melakukan apa saja. Mari kita ambil satu sudut pandang saja. Ketika orde baru berkuasa, masyarakat kita begitu dikekang untuk tidak sembarangan mengungkapkan pendapat, apalagi jika pendapat yang akan diungkapkan berupa kritik terhadap penguasa. Meskipun kita sepakat bahwa memang sudah sepatutnya kritik terhadap penguasa itu harus diungkapkan, tetapi yang mungkin kita lupa adalah bahwa orang-orang yang berani mengungkapkan pendapat di era orde baru adalah orang-orang yang dalam bahasa jawa memiliki kemampuan melihat sebuah persoalan dengan sangat titis.

Mukadimah: BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Kita semakin terbiasa untuk hanya memperhatikan satu jengkal yang ada di depan mata. Jangankan untuk melihat cakrawala yang sedemikian luasnya, bahkan untuk memutar arah penglihatan, dan melatih daya pandang agar jarak pandang semakin jauh dan luas, kita enggan. Juga untuk memandang sebuah peristiwa dengan menggunakan metode thawaf, kita sama sekali kehilangan kepekaan itu. Apa yang dilihat di depan mata, itulah kebenaran yang diyakini. Kita sama sekali tidak terlatih untuk mampu membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan.

Hilangnya Kebijaksanaan

Sebuah kebenaran, jika disampaikan dalam bingkai kebaikan, maka akan melahirkan nuansa keindahan. Pesan yang benar, jika disampaikan dengan baik, akan menjadi indah. Namun hari-hari ini, kita sangat jarang mempertimbangkan aspek kebaikan, apalagi keindahan. Yang kita utamakan adalah bagaimana caranya agar kebenaran dapat tersampaikan. Informasi sebenar apapun, jika tidak disampaikan dengan cara yang baik, maka tidak akan berakhi dengan indah. Ketiga hal ini; benar, baik dan indah tidak bisa dipisahkan, jika estetika ini dipisahkan, selalu menghasilkan keburukan.

Terbiasa Melupakan

Ketika sebuah peristiwa baru saja terjadi, kemudian menjadi hype, sehingga hampir semua orang membicarakan peristiwa itu, sebenarnya yang terjadi bukanlah kita menghapus ingatan dari sebuah peristiwa yang sebelumnya terjadi. Yang kita lakukan hanya menyimpan ingatan itu, dan di kemudian hari ketika momentumnya tepat, kita akan kembali membuka ingatan itu.

Menerka Sosok Sudrun

Catatan Tadabbur Esai “Kiai Sudrun Gugat” Jum’at 26 Oktober 2018, mendung menyelimuti kota Jakarta, suasana lalu lintas Jakarta menyambut akhir pekan terakhir dipenghujung bulan oktober sedang tepat pada klimaks kemacetanya. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu Umbu Landu Paranggi menulis sebuah puisi bertajuk “Apa Ada Angin di Jakarta”. Sore itu suasana dalam puisi Umbu benar-benar…

Merahasiakan Aurat

Dalam khasanah Maiyah, aurat dipahami sebagai segala sesuatu yang harus ditutupi, yang tidak tergantung pada baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek. Namun lebih luas dari itu. Dan aurat, bukan hanya persoalan fisik tubuh manusia semata.

Mengapa Tadabur? Mengapa Esai?

Bila Anda seorang Petani, yang mungkin tidak memiliki keahlian ilmiah teoritis akademis sebagaimana seorang ahli botani, pandangan anda pada padi mungkin sangat sederhana sebatas pada “Padi adalah sumber penghidupan” maka dari itu Anda akan berada pada kesungguhan hati menanam dan merawat padi dalam pengharapan dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Kesempatan Untuk Memanfaatkan Momentum

Kekuatan akan dikalahkan oleh kecepatan, dan kecepatan akan dikalahkan oleh momentum. Sekuat apapun tim sepakbola, mereka akan kalah oleh tim sepakbola yang memiliki pemain-pemain yang memiliki kecepatan. Namun meskipun sebuah tim sepakbola memiliki pemain-pemain yang mampu berlari cepat dan mampu mengambil keputusan dengan cepat, akan kalah oleh tim sepakbola yang mampu memanfaatkan momentum dengan baik. Semalam, dalam pertandingan sepakbola Piala Asia U-19 anatra Qatar berhadapan dengan Indonesia, kita menyaksikan betapa momentum yang dimiliki oleh anak-anak muda U-19 Indonesia berhasil dimanfaatkan dengan baik.

Bukan Kebenaran, Melainkan Kebijaksanaan

Apa yang kita alami hari ini adalah sebuah kultur sosial budaya dimana identitas manusia adalah sesuatu hal yang sangat di-primer-kan oleh manusia. Setiap orang justru kebanyakan lebih memperlihatkan siapa dirinya, apa profesinya, apa agamanya, apa titel akademisnya daripada kebijaksanaan yang muncul dari dirinya dari segala bekal latar belakang yang ia miliki.