From Redaksi

Kelahiran Baru, 17 Tahun Kenduri Cinta

Organisme Kenduri Cinta merupakan satu diantara sekian banyak Organisme Maiyah yang bertebaran dan bergerak-gerak di tengah masyarakat dunia yang saat ini berada ditengah arus globalisasi. Organisme Maiyah ini tumbuh dari benih-benih Cinta yang ditanam dan ditebarkan oleh Cak Nun di berbagai wilayah nusantara maupun mancanegara. Dari sekian benih yang betebaran itu ada yang tumbuh terus berjalan, namun juga ada yang terseok-seok dan pada akhirnya tumbang. Ada yang pada awalnya tumbuh subur pada satu dua bulan pertama, namun selanjutnya gersang. Ada yang terus tumbuh tahap demi tahap secara alami dan konsisten, ada pula yang percepatan pertumbuhannya hanya tumbuh jika Cak Nun berkenan menyiraminya. Dan dari itu yang paling berperan ternyata bukan soal banyaknya nutrisi ataupun banyaknya penggiat yang semangat berpartisipasi mengolah lahan, namun bagaimana jalinan personal antar penggiat dan dinamika masyarakat tempat Organisme Maiyah itu berada dapat dijaga kompatibilitas dan keseimbangannya dengan potensi tumbuhnya tumbuhan Organisme Maiyah sesuai dengan KehendakNya.

Mukadimah: RUWAIBIDHOH

Kesadaran Literasi bukan hanya soal kemauan untuk menulis, melainkan juga mencakup budaya kita dalam membaca. Setiap hari, berapa berita yang anda baca setiap hari, berapa rubrik berita yang anda minati, berapa portal atau surat kabar yang anda baca. Kemudian bandingkan dengan jumlah buku yang anda baca dalam seminggu terakhir ini. Lebih banyak mana; membaca berita di internet atau membaca buku secara manual? Sepertinya mayoritas akan menjawab lebih sering membaca berita dalam bentuk digital.

Benar bahwa kita harus beradptasi dengan teknologi yang semakin maju. Tetapi, jika kita tidak memiliki kesadaran dalam memfilter setiap informasi yang ada, maka yang akan terjadi adalah semakin menyebarnya informasi yang bukan hanya hoax, bahkan bisa saja informasi tersebut adalah informasi yang benar sesuai dengan fakta, tetapi kita menyebarkannya tidak pada tempatnya, tidak pada momentum yang tepat. Ada banyak contoh kasus dimana sebuah informasi baik berupa gambar, teks, audio maupun video yang disebarluaskan untuk konteks yang tidak sesuai dengan fakta yang terjadi di lapangan. Cak Nun sendiri mengalami hal ini, dimana kutipan-kutipan dari tulisan atau cuplikan video yang tersebar luas di internet, seringkali digunakan oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Yang hanya dimanfaatkan pada momen-momen tertentu demi kepentingan segelintir pihak semata.

Kenduri Cinta, Oase Ibukota (II)

Begitulah Kenduri Cinta berproses, yang memang sejak awal salah satu tujuannya adalah mengakomodir para seniman-seniman untuk menampilkan karay-karya mereka. Bulan berganti bulan, tahun demi tahun berlalu, Kenduri Cinta rutin diaksanakan setiap bulan sembari terus menerus melakukan pembenahan dan perbaikan hingga kini menginjak usia 17 tahun. Evaluasi acara dari awal hingga akhir penyelenggaraan selalu dilakukan oleh para penggiat. Dengan tetap menjaga format dan konten acara, selanjutnya pada setiap edisi Kenduri Cinta ditentukan tema bulanan sebagai semacam payung acara. Tema yang dimunculkan di Kenduri Cinta memang dimunculkan sebagai trigger acara yang salah satu tujuannya adalah untuk menarik minta masyarakat untuk hadir. Meskipun demikian, bukan berarti tema-tema yang dimunculkan di Kenduri Cinta adalah tema yang asal-asalan. Bahkan, dalam kurun waktu 4 tahun terakhir ini Cak Nun juga terlibat dalam penggodokan tema Kenduri Cinta setiap bulannya.

Logo 17 Tahun Kenduri Cinta

Bulan ini genap 17 tahun perjalanan Kenduri Cinta. Ungkapan syukur yang tak terhingga kepada Allah Swt atas segala karunia, rahmat dan anugerah yang mewarnai 17 tahun perjalanan ini. Istiqomah menebar cinta kepada sesama manusia, dengan menawarkan ruang diskusi yang akrab, sederhana, merdeka, universal, dan egaliter. 17 tahun perjalanan Kenduri Cinta berproses menjadikan oase tersendiri di tengah ibukota, merawat dan menabung rasa kecintaan kepada Indonesia.

Dengan segala kerendahan hati demi rasa syukur bersama, kami penggiat Kenduri Cinta mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada semua pihak yang selama ini turut merawat keistiqomahan Komunitas ini. Semoga atas semua kontribusi; materi, tenaga, pikiran, dan do’a menjadikan pupuk yang terus merawat tali silaturahmi kita bersama.

Kenduri Cinta, Oase Ibukota (I)

Maret Tahun 2000, silaturahmi darat anggota milis Padhang mBulan Net dan HAMAS di Masjid Al Ikhwan menginisiasi diadakannya acara bernama KENDURI CINTA (Doa – Shalawat – Budaya – Dialog) di Lapangan Parkir terbuka Taman Ismail Marzuki, Cikini Jakarta Pusat. Jumat 9 Juni 2000, adalah pertama kalinya Kenduri Cinta dilaksanakan dan dimulai pukul 19.30 WIB (ba’da shalat Isya). Acara ini melanjutkan rencana untuk mengadakan pengajian PadhangmBulan di Jakarta, menduplikasi seperti yang sudah rutin diadakan di Pengajian PadhangmBulan Jombang, Mocopat Syafaat Bantul Yogyakarta, Gambang Syafaat Semarang, Haflah Shalawat Surabaya, dan Paparandang Ate Mandar Sulawesi Barat.

Kenduri Cinta sejak awal merupakan forum terbuka yang dapat diikuti oleh siapa saja. Teman-teman seniman, budayawan, lintas komunitas, lintas organisasi, Pers keIslaman di Jakarta, mahasiswa maupun masyarakat umum dapat terlibat dalam forum ini. Siapapun boleh tampil di atas panggung dengan prosedur, metoda dan etika yang diatur secara bersama. Kenduri Cinta bukanlah sebuah tontonan dan yang hadir bukanlah sebagai penonton, melainkan sebuah majelis masyarakat yang berdaulat, merdeka dengan mengetahui dan taat kepada batasan dirinya sendiri. Sebagai teater arena dimana setiap yang hadir memiliki perannya masing-masing.

Luasan Ideologi Peradaban Hantu

Teror pada dasarnya bertujuan untuk menakut-nakuti pihak lain seperti halnya hantu. Ada seorang bapak yang tak mampu bayar listrik memutuskan gantung diri untuk mengakhiri hidupnya. Ada lagi orang yang entah karena maksud apa, tega meladakkan dirinya di Terminal Bus Kampung Melayu beberapa hari yang lalu. Lain lagi dengan segerombolan anak muda yang secara acak menyerang dengan senjata tajam kepada siapa saja pengendara sepeda motor yang melintas di malam hari di jalan daerah Lenteng Agung dan beberapa wilayah Ibukota. Orang akan menganggap itu sebagai tindakan yang biadab. Namun bagi para hantu, ketakutan justru menjadi roh peradaban yang sedang mereka bangun. Ketakutan adalah luasan wilayah ideologi peradaban hantu.

Ketakutan bisa dibuat oleh siapa saja untuk menakuti orang lain dengan berbagai tujuan. Seorang manajer atau mandor proyek bangunan boleh saja memasang tampang sangar supaya anak buahnya takut berbuat kesalahan pada pekerjaan mereka. Dengan pasal-pasal hukum, aparat hukum dapat menakut-nakuti orang-orang yang tidak taat dengan hukum, tujuannya supaya terjadi keteraturan dalam kehidupan masyarakat. Jangan kira adanya Indeks Prestasi, Key Performance Indicator, Akreditasi, Laporan-laporan dan Sertifikasi ini itu tidak dapat digunakan untuk menakut-nakuti. Oleh beberapa kalangan profesional ketakutan-ketakutan yang timbul dari itu dapat menjadi komoditi bagi mereka. Perolehan nilai ujian, data-data dan laporan keuangan perusahaan maupun lembaga pemerintahan diperbaiki supaya hasilnya lebih baik dan tidak menakutkan.

Anak Jadah Demokrasi

PADA SAAT ini identifikasi kehidupan masyarakat dalam berbangsa dan bernegara tidak dalam kondisi ideal untuk disebut sebagai sebuah keluarga. Arus globalisasi semakin menghapus eksistensi bangsa dan negara, terminologi keluarga untuk menggambarkan hubungan kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi rancu. Hubungan pemerintah yang sering dianggap sebagai suami dan Rakyat yang diumpamakan sebagai istri justru menjebak kehidupan bernegara dalam rutinitas kawin kontrak 5 tahunan dari hasil pesta pernikahan demokrasi bebas. Padahal, kontrak yang terjalin ini lebih berupa formalitas politis kekuasaan bukan berdasarkan cinta, kasih dan sayang sesama anak bangsa terhadap tanah airnya. Karena itu, pemerintahan yang ada baik di pusat maupun daerah pada dasarnya hanyalah bertugas menjalankan kontrak kerja selama lima tahun untuk mengurus rumah tangga Negara Kesatuan Republik Indonesia. Mereka bukanlah suaminya rakyat melainkan pengurus NKRI yang dipilih dan digaji oleh Rakyat. Dengan ini berarti, pihak-pihak yang saat ini menguasai pemerintah tidak berarti dapat menguasai negara.

Mukadimah: TAKFIRI VERSUS TAMKIRY

Ummat Islam adalah masyarakat mayoritas yang tinggal di Indonesia, bahkan NKRI dianggap sebagai Negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia. Di Negara ini, kita memiliki NU, Muhammadiyah, Persis, HMI, PMII, IMM,KAMMI, GMNI, GP Anshor, Pemuda Muhammadiyah dengan ribuan ulama dan beserta kader-kadernya, ribuan pondok pesantren telah berdiri tegak di berbagai daerah di Negeri ini, komunitas-komunitas studi ke-Islaman juga tak kalah banyaknya mewarnai perkembangan Islam di Indonesia. Islam memiliki kekuatan yang luar biasa andai saja mereka mau disatukan dalam satu wadah.

Nafas Islam adalah menyelamatkan, sehingga seandainya Islam memiliki kesempatan untuk dipersatukan, Islam tidak akan berlaku sebagai pihak yang merasa untuk menjadi Pemimpin, kemudian menindas pihak yang lain agar tunduk kepada aturan mainnya. Tidak, Islam tidak seperti itu. Islam yang sebenarnya adalah Islam yang mampu merangkul semua pihak, yang mengamankan 3 hal dari setiap pihak yang bersinggungan dengan Islam; Nyawa, Harta dan Martabat.

Cincin Nusantara

Dalam beberapa kesempatan Cak Nun sering mengumpamakan Pancasila sebagai cincin kawin bangsa-bangsa Nusantara dalam mendirikan rumah tangga bernama Indonesia. Dengan perumpamaan semacam itu, jelas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara Pancasila menjadi sangat penting. Namun jika terjadi perselingkuhan dan pengkhianatan, cincin kawin itu menjadi tidak bermakna meskipun masih tetap melingkar di jari Indonesia. Keharmonisan rumah tangga negara bukanlah sekedar keharusan melingkarnya cincin, tetapi bagaimana pemerintah dan rakyat dapat mewujudkan cita-cita bersama bagi para penerus bangsa dengan dibentuknya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Usai Pagelaran

Jakarta baru saja menggelar pemilihan Kepala Daerah, yang mengharuskan digelar hingga putaran kedua. Dinamika politik yang mewarnai Jakarta satu tahun terakhir, seakan membawa aroma dendam Pilpres 2014 silam. Isu sentimen suku, ras dan agama semakin memuncak pada bulan-bulan terakhir. Bahkan isu makar untuk menggulingkan Pemerintahan Negara yang sah, ditengarai ikut menunggangi Pesta Demokrasi Ibukota kali ini. Tidak mengherankan, Jakarta sebagai pusat kekuasaan Negara Republik Indonesia saat ini adalah lokasi yang sangat strategis dan menjadi titik fokus utama para politisi nasional. Hampir seluruh partai pengusung mengirimkan kader-kader terbaiknya untuk mengawal Pilkada Jakarta pekan lalu.