From Redaksi

Mukadimah: NEGARA TA’LIH

Negara Ta’lih adalah Negara yang sedang mempersiapkan penduduknya untuk secara terang-terangan berani menomor satukan yang bukan Tuhan. Menihilkan peran Tuhan, mengesampingkan kekuasaan Tuhan atas dirinya. Seolah-olah belum cukup pelajaran dari Fir’aun. Padahal, se-setan setannya setan, tidak ada satupun setan yang berani mengaku dirinya Tuhan.

Mukadimah: JAHIL MOROKKAB

Allah menganugerahi manusia dengan gelar ahsani taqwim. Tentu bukan tanpa alasan, Allah memberi label ahsanu taqwim kepada manusia karena memang manusia memiliki semua tools yang dibutuhkan untuk mencapai keniscayaan dari ahsani taqwim itu sendiri. Perjalanan sejarah manusia dalam mencari dirinya telah menemukan berbagai macam metode; primbon, zodiak, astrologi, shio, hingga yang paling modern seperti test potensi akademik, juga pengidentifikasian bakat melalui uji sidik jari (fingers print). Kesemuanya itu adalah ijtihad manusia dalam menemukan siapa dirinya.

Mukadimah: Manusia Yang Mana Kamu?

Berkaca pada perjalanan Rasulullah Saw, pada usia muda beliau sudah menjadi manusia nilai. Gelar Al Amin yang disematkan oleh masyarakat Mekah menjadi pertanda bahwa Muhammad bin Abdullah adalah manusia nilai. Beranjak dewasa, Muhammad bin Abdullah menjadi pedagang yang piawai dalam berdagang. Muhammad bin Abdullah sukses menjadi seorang pengsaha muda. Namun, beliau sama sekali tidak kepincut dengan kemilau harta benda yang ia miliki dari hasil perdagangan. Pada saat risalah dari Allah itu datang, Rasulullah Saw memiliki kesempatan untuk menjadi manusia istana. Pun ketika berhijrah ke Madinah, beliau mampu mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshor, menyusun blue print peradaban masa depan Madinah, namun sama sekali momen itu dimanfaatkan oleh Rasulullah Saw untuk menjadikan dirinya sebagai penguasa.

Mukadimah: PRESIDEN SEJATI, PUJANGGA ABADI

Maiyah menemukan 5 prinsip nilai yang patut untuk dimiliki oleh manusia untuk tetap menjaga kesejatian dirinya. Ke-5 prinsip nilai itu adalah; Kebenaran, Kesungguhan, Otentisitas, Kesetiaan dan Keikhlasan. Manusia yang mampu menjaga integritasnya untuk tetap berpegang teguh pada 5 nilai tersebut adalah manusia-manusia yang layak diteladani. Tidak, mereka bukan tokoh besar, mereka bukan  orang hebat, mereka adalah manusia yang memang telah memerankan jati dirinya sebagaimana yang Allah kehendaki terhadap mereka. Maka, siapapun saja yang mampu menjaga keutuhan 5 nilai tersebut di dalam dirinya adalah manusia-manusia yang layak untuk diberi penghormatan berupa Ijazah Maiyah.

“DOSA KEJUJURAN”

Kali ini, kita mencoba mundur satu langkah, menyelami makna kejujuran. Apa sebenarnya maksud dari kata jujur, atau kejujuran. Ada yang memiliki pendapat bahwa kejujuran adalah kesesuaian sikap antara perkataan dan perbuatan. Ada juga yang memiliki pendapat bahwa kejujuran adalah menyampaikan informasi sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Jika A maka sampaikanlah A, jika B maka sampaikanlah B. Orang Islam sudah tidak asing lagi mendengar ungkapan Quli-l-haqqo walau kaana murron, katakanlah yang benar (jujur) meskipun itu pahit.

Mukadimah: AL-BIRR

Terhadap yang sedang dihadapi bangsa ini tidak cukup hanya di-khusnuzon-i bahwa retaknya persaudaraan, perpecahan, pertentangan, pertarungan bahkan perkelahian fisik terjadi hanya karena antara kebaikan dan kebaikan berbenturan karena perbedaan orientasi politik semata. Lelah dirasakan oleh masyarakat, dipaksa mengikuti ritual demokrasi dengan tontonan permusuhan, perdebatan dan kemarahan. Dan kita telah menyadari bahwa pecahnya tali persaudaraan bangsa Indonesia hari ini adalah ongkos mahal yang harus kita bayar untuk merayakan pesta demokrasi lima tahunan.

Mukadimah: NEITHER NOR

Berpihak kepada siapa kita sebaiknya? Kurawa atau Pandhawa? Apakah sudah pasti Pandhawa itu baik dan Kurawa itu buruk? Siapa yang lebih baik, Kresna atau Sengkuni? Dan hari ini, manakah yang lebih baik? Kiri atau Kanan? Sosialis atau Kapitalis? Radikal atau Liberal? Moderat atau Konservatif? Bahkan dulu, Bung Karno pernah menyatakan bahwa Sosialisme di Indonesia itu tidak sama dengan Sosialisme Uni Soviet, Cina, bahkan Yugoslavia. Kemana sebenarnya arah Negara ini akan dibawa? Kapitalis atau Sosialis? Nyatanya, Negara dan Pemerintah saja, kita masih gagap membedakan. Indonesia ini sebenarnya Republik atau Kerajaan? De jure-nya adalah Republik. De facto?

Mallalang Manannungan, Papperandang Ate

Maka lahirlah Papperandang Ate, jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia kurang lebih artinya adalah menjernihkan hati. Tentu ada benang merahnya dengan lagu “Tombo Ati” yang pada medio pertengahan 90’an kembali dipopulerkan oleh Cak Nun dan KiaiKanjeng. Dari forum ini, mereka berharap agar Papperandang Ate menjadi sebuah forum yang menjernihkan hati setiap orang yang datang dan berkumpul.

Antara Fakta, Nyata, dan Makna

Kita hidup di dunia berhadapan dengan pilihan-pilihan. Dari pilihan-pilihan itu kemudian ada pilihan yang kita pilih, sebagian pilihan itu tidak membuat kita menyesal di kemudian hari karena telah memilih pilihan itu, sebagian pilihan yang lain sangat mungkin membuat kita menyesali mengapa pilihan itu yang kita pilih. Namun tentu saja, penyesalan itu berdasarkan atas pengalaman yang kita alami di kemudian hari.

Harapan Utopis Tentang Kepemimpinan

Berlangsungnya Negara hari ini sudah semakin terbiasa dengan mekanisme kekuasaan, kekuatan, dan kemenangan. Berlangsungnya kepemimpinan di Negara hari ini sudah benar-benar lepas dari konsep kepemimpinan, keseimbangan, apalagi kebersamaan. Dan yang terjadi hari ini adalah mekanisme konsep kemenangan, kekuasaan, dan kekuatan antar kelompok. Proyeksi pemilihan umum setiap lima tahun dilangsungkan tidak lebih sebagai media pertarungan untuk menentukan siapa yang mendapat giliran untuk menjadi penguasa, bukan menjadi pemimpin.