From Redaksi

Manusia Garis, Manusia Bidang, atau Manusia Ruang kah Anda?

Menggunakan titik dan garis, dapat dibuat simulasi atau model untuk menggambarkan realitas yang lebih luas dalam satu bidang. Misalnya untuk menggambarkan rute perjalanan kereta. Tiap-tiap stasiun dapat digambarkan sebagai titik-titik yang saling terhubung oleh garis yang menggambarkan jalur kereta. Untuk sebuah model yang menggambarkan rute, boleh jadi skala jarak tidak diperlukan. Yang diperlukan sebatas keterhubungan antara satu titik dengan titik lainnya. Rute-rute yang berbeda bisa dipresentasikan dengan pewarnaan untuk masing-masing garis yang menggambarkan tiap rute. 

Mukadimah: INDOAUTONESIA

Sebuah negara bisa mendapat predikat sebagai negara autopilot. Ini bukan berarti negara tanpa presiden, menteri, dan aparatur negara, lantas tetap dapat berjalan baik-baik saja. Yang terjadi, operasional negara sekedar menjalankan rute-rute rutinitas saja. Kebijakan pemerintah diprogram dan bergerak sekedar merespon situasional kondisi masyarakat dan perekonomian dunia. Pembangunan mengandalkan hutang luar negeri, bukan sebagai wujud pertumbuhan ekonomi yang benar-benar tumbuh dan mengakar dari rakyat. Negara sekedar sebagai alat transportasi untuk meraih tujuan-tujuan jangka pendek. Okelah kalau memang pesawat itu yang dikehendaki para pemangku pelaksana negara dan masyarakat saat ini.

MONO LOYALITAS

Dalam buku ‘New Thinking for The New Millennium’, Edward De Bono menggambarkan keadaan jaman milenial menggunakan situasi semacam itu. Sebuah keadaan yang kacau, kemudian dapat kembali diperbaiki dan terkendali meskipun persoalan lain yang lebih penting yaitu arah kapal berlayar masih salah. Jika menggunakan ilustrasi itu sebenarnya hanya soal waktu, untuk kemudian kapal dapat kembali menuju arah yang benar. Namun bagaimana jika yang terjadi adalah sebuah pesawat dalam keadaan terbang pada kondisi serupa? Mesin rusak, sedangkan pilot sakau setelah menghisap putau. Pramugari tidak berdaya menengahi perkelahian antar penumpang. Berkali-kali turbulensi hebat terjadi, ironis keadaan itu hanya ditanggapi biasa saja oleh penumpang di pesawat itu. Sekali pun pilot baru didatangkan, nyaris mustahil dapat memperbaiki keadaan.

Olahraga Mempersatukan Rakyat

Yang tidak kita lihat adalah proses perjuangan para atlet sebelum mereka sampai pada pertandingan demi pertandingan yang dilombakan di Asian Games ini. Proses latihan dan tempaan displin berbulan-bulan menghasilkan mental juara. Yang kita lihat hanyalah bagaimana mereka bertanding di lapangan saja. Maka tidak mengherankan jika ada masyarakat yang menumpahkan kekecewaannya ketika melihat atlet-atlet Indonesia kalah dalam sebuah pertandingan.

Cinta dan Mencintai

Ekspresi cinta ada pada berbagai dimensi kehidupan. Tidak melulu hanya urusan jodoh suami-istri saja. Sesama tetangga dalam lingkungan tempat tinggal mengekspresikan dengan saling menjaga kerukunan. Manajemen perusahaan dengan karyawan, karyawan dengan pekerjaan, terjalin dalam hubungan profesionalisme pekerjaan. Pemilik perusahaan dengan perusahaannya. Pedagang dengan pembeli. Masyarakat dengan idola masyarakat. Hubungan antara negara dengan rakyat, hingga hubungan internasional atar bangsa-bangsa dan berbagai hubungan sosial yang terjalin di tengah kehidupan bermasyarakat dapat merupakan wujud  dari ekspresi cinta. Termasuk komitmen sportif yang dihadirkan oleh para atlit dalam berbagai ajang pertandingan dan perlombaan olah raga.

Indonesia Kecil Itu Masih Ada

Indonesia yang sejati itu masih ada, setidaknya masih ada di Kenduri Cinta. Ditengah suasana masyarakat yang dipenuhi ambisi kemerdekaan sebagai pelampiasan kebebasan dan berebut kekuasaan, Kenduri Cinta sebagai bagian dari Maiyah justru memaknai kemerdekaan sebagai pemahaman mengenai batas untuk menciptakan keseimbangan. Dengan mudah kita memaknai tontonan polah tingkah pembesar-pembesar negara dengan segala manufer dan atraksi politik mereka.

Mukadimah: SERIGALA BERHATI DOMBA

Bangsa ini tidak benar-benar sedang membangun persatuan dan kesatuan, karena pada setiap individu para stake holder politik di Indonesia mengutamakan kepentingan individu dan kelompok masing-masing, yang tidak bermuara pada terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Perpecahan justru semakin disuburkan dengan pembagian faksi-faksi dalam masyarakat. Cebong dan Kampret, Bani Taplak dan Bani Serbet, Kaum Bumi Datar dan Kaum Bumi Bulat, Toleran dan Intoleran, Radikal, Moderat, dan Konservatif serta masih banyak lagi label-label yang mengantarkan masyarakat pada perpecahan yang semakin nyata.

Tak Sekadar Menyebar dan Menanam, Tetapi Juga Merawat Kebaikan

Menanam kebaikan bukan saja soal menyebar benih kebaikan. Benih yang baik jika tumbuh di atas lahan yang gersang pastinya ketika menjadi tunas dan tubuhnya akan kurang optimal. Itu masih lumayan, jikalau benih yang baik diletakan di tempat penuh mikroba pembusuk, yang terjadi benih itu tak kunjung tunas, bahkan sangat mungkin membusuk jadinya. Menyuburkan lahan yang siap menerima benih yang baik, itu juga wujud menanam kebaikan. Merawat tunas dari benih yang mulai tumbuh adalah proses dari menanam kebaikan. Melindungi tanaman dari hama perusak dan tumbuhnya tanaman pengganggu merupakan kesinambungan dari bentuk menanam kebaikan. Pun ketika bebuahan yang baik itu dihasilkan dari tumbuhan yang baik. Apakah dengan hanya menimbun bebuahan itu di gudang juga wujud menanam kebaikan? Tentu itu tidak baik.

Sebuah Postimisme

Coba bandingkan dengan sistem politik negara yang ada saat ini. Taman Demokrasi yang megah dan mewah tidak dibangun dari tumbuhan demokrasi yang tumbuh alami dari benih kedaulatan rakyat. Demokrasi tidak kokoh mengakar pada lahan subur keadilan sosial, tapi sekedar menancap sekenanya diatas pot-pot portable partai politik. Elite politik dengan lobi-lobi kekuasaan dapat saja mencabut, menancap, menggeser, memangkas dan bahkan membuang tanaman yang tumbuh dalam pot-pot milik mereka.

Membenahi Mental Kita

Secara filosofis, urutan Sandang-Pangan-Papan ini sudah benar, jangan sampai kita salah menata urutan-urutannya. Bahkan dalam kondisi ketika 3 hal itu sudah terpenuhi pun, jangan sampai pijakan kita terhadap 3 hal itu menjadi salah. Secara urut-urutan, Sandang (Pakaian) adalah kebutuhan utama yang harus dipenuhi. Hubungannya dalah dengan martabat diri sendiri. Tak mungkin kita telanjang ketika kita keluar rumah, meskipun hanya sekadar untuk membuka pagar rumah kita. Meskipun kita adalah orang yang sangat kaya, bukan berarti kita bebas melakukan apa saja ketika keluar dari rumah kita. Persoalan Sandang bukan hanya persoalan pakaian secara fisik, namun bagaimana cara kita menutupi martabat kita dengan perilaku kita sehari-hari, itu juga merupakan kebutuhan Sandang kita.