From Redaksi

Kecèlè Memblè

BALA BANTUAN dan kerja sama yang diharapkan Ki Lurah Prabu Petruk Gadungan atas kunjungan Raja Salya ternyata tidak sesuai dengan ekspektasi. Peti-peti hadiah dari Raja Salya hanya berisi surat-surat kontrak kerjasama yang realisasinya penuh tanda tanya. Investasi yang katanya ratusan triliun, ternyata tak seperti yang digembar-gemborkan sebelumnya. Sementara Raja yang katanya bijaksana dan mengedepankan kepentingan rakyat ternyata nyata kapitalis-nya. Kedatangan Raja Salya ke Astina lebih nampak sebagai tamasya, ketimbang kunjungan kerja. Bahkan tamasya ke Pulau Dewata durasinya ditambah. Keindahan Negeri Astina ini memang sangat memikat Raja Salya. Ki Lurah Prabu Petruk kecèlè ternyata dengan kedatangan Raja Salya.

Mukadimah: KECELA KECÈLÈ

Kecèlè berkali-kali. Katanya Negara, tapi berlaku seperti kerajaan. Katanya Negara tetapi kok wewenangnya Pemerintah. Katanya Pemerintah tetapi kok berlaku sebagai Negara. Katanya Pegawai Negara kok takut kepada Pegawai Pemerintah. Padahal Pegawai Pemerintah adalah pegawai sistem kontrak maksimal 5 tahun, sedangkan Pegawai Negara adalah pegawai tetap seumur hidup. Katanya Lembaga Negara kok berlaku sebagai Lembaga Pemerintah. Katanya Demokrasi, tetapi ketika ada yang berbeda pendapat dibully habis-habisan. Giliran dibully balik, merengek-rengek dan berteriak bahwa ini adalah Negara Demokrasi. Katanya Demokrasi, tetapi hanya dia dan kelompoknya sendiri yang boleh bebas dalam berpendapat. Katanya Demokrasi, tetapi kemudian mengeluh katanya Demokrasi kita sudah kebablasan. Padahal ia lahir dari sistem Demokrasi yang ia katakan sudah kebablasan ini.

Karno Tanding Kepagian

Pertunjukan wayang-wayangan politik semakin amburadul, porak-poranda oleh kebebasan demokrasi. Wayang-wayangnya mengambil peran suka-suka. Duryudana kadang berlaku seperti Yudistira yang menderita, Burisrawa memakai topeng Arjuna dan Sangkuni mengenakan jubah Bisma supaya dikira bijaksana. Rakyat Astina semakin jauh dan lupa keberadaan Pandawa Lima yang sejati karena mereka senantiasa disuguhi berbagai pertunjukan-pertunjukan Kurawa yang memerankan Pandawa. Pagi hari Duryudana dihina-hina oleh adik-adiknya karena memusuhi Basukarna, siangnya Bala Kurawa menjilati pantat Duryudana. Sore harinya Gandari menyamar menjadi Kunti ibunya Basukarna, untuk menyemangatinya dalam Karno Tanding. Sementara pagi, siang, sore dan malam Ki Lurah Prabu Petruk Palsu suka salah tingkah berada di tengah-tengah antara Ibu Gandari, Prabu Duryudana dan Basukarna.

Menyelesaikan Pekerjaan Rumah

Perjalanan Komunitas Kenduri Cinta yang sudah berjalan di tahun ke-17 ini tentu tidak semua merasakan prosesnya. Para penggiat baru dirasa perlu untuk mengetahui proses perjalanan dan berkembangnya Kenduri Cinta dari tahun ke tahun. Dinamika perjalanan Komunitas yang diwarnai oleh banyak sosok di Kenduri Cinta merupakan pelajaran tersendiri bagi para generasi muda Kenduri Cinta saat ini. Ada hal yang harus dipertahankan, ada hal yang harus diperbaiki dan juga ada hal yang harus dihilangkan. Karena setiap generasi memiliki ciri khas nya masing-masing dan memiliki pencapaiannya masing-masing. Kesemuanya tidak pantas untuk diperbandingkan, melainkan agar semua belajar bersama untuk menemukan rukusan yang tepat bagi setiap generasinya.

Bumerang Kebebasan Demokrasi

DEMOKRASI SEPERTINYA sudah dianggap sebagai sarana untuk menemukan solusi paling canggih dari berbagai permasalahan sosial. Suara terbanyak dalam memilih menu masakan demokrasi dijadikan hidangan bagi seluruh masyarakat pemilih. Ketika masakan sudah ditentukan, mau tidak mau, suka tidak suka, doyan tidak doyan, masyarakat mesti memakan, mengunyah dan menelan hidangan menu demokrasi yang terpilih. Persoalannya, Koki pemasak masakan yang dipilih itu juga ditentukan menggunakan demokrasi yang sama. Lantas ketika protes masyarakat mulai bermunculan, ketidakpuasan mulai nampak, kekecewaan terhadap hidangan yang tersaji tidak beres-beres, malahan si Koki menyalahkan racikan menu demokrasi-nya itu sendiri.

Astina Menuju Senja

Bahkan, Ibu Gendari yang sedang jatuh hati pada kepiawaian dan ketangguhan Basukarna dalam bertarung dan bersiasat, terpaksa mesti menggantungkan nasib calon Senopati besutannya itu kepada Sang Prabu Duryudana. Meskipun Prabu Duryudana tidak begitu akur dengan sang Ibu, namun dalam situasi seperti ini hanya mengandalakan Prabu Petruk Palsu sepertinya terlalu berisiko untuk kelangsungan Kurawa. Ibu Gendari memang selalu mementingkan dirinya sendiri. Sejak dahulu dianggapnya urusan Astina hanyalah urusan Kurawa saja. Karena itu pula arah politik Prabu Duryudana berbeda dengan sang Ibunda.

Ujian Kecil Bagi Jakarta

Dinamika politik ibukota menjelang Pilkada semakin memanas dan tidak hanya menjadi isu lokal warga Jakarta, namun sudah menjadi isu Nasional. Sebagai ibukota Negara Indonesia, DKI Jakarta otomatis menjadi posisi yang sangat strategis dalam peta percaturan politik Nasional. Kemenangan dalam Pilkada Ibukota dapat menentukan peta perpolitikan nasional selanjutnya, terutama pada tahun 2019 yang akan datang. Tim sukses dari ketiga pasangan calon gubernur dan calon wakil gubernur mengerahkan segala sumber daya yang ada untuk mendapatkan sebanyak mungkin simpati publik dan berusaha mengalahkan lawan politik dari pasangan yang didukung.

Mukadimah: FUNDAMENTALISME KHANDAQ

SALAH SATU filosofi perang dari Sun Tzu adalah: “Kenali dirimu, kenali musuhmu, dan kenali medan tempurmu. Dan kau akan memenangi seribu pertempuran”. Dalam Islam kita mengenal metode Puasa sebagai salah satu cara untuk nengenali diri kita. Dengan berpuasa, kita melatih daya tahan tubuh kita, dengan berpuasa kita mampu mengukur sejauh mana kekuatan kita. Seperti sebuah ungkapan; man ‘arofa nafsahu faqod ‘arofa robbahu. Manusia hari ini banyak yang tidak mengenali jati dirinya, manusia tidak memahami sangkan paran kehidupan yang ada dalam dirinya.

Sebuah perjuangan panjang, memerlukan pemahaman atas dirinya sendiri. Sebuah perjuangan panjang diperlukan pengenalan atas potensi diri. Begitulah Maiyah berlaku hari ini. Setiap individu yang menggabungkan dirinya kedalam Maiyah, harus menumbuhkan kesadaran akan hal tersebut. Di Maiyah, kita belajar tentang keseimbangan dan ketepatan berfikir. Di Maiyah, kita belajar melalui Al Qur’an bahwa perjuangan tidak berhenti pada; inna ma’a-l-‘usri yusro saja, melainkan perjuangan itu terus menerus, kontinyu dan harus Istiqomah.

50:50 Dunia, 100% Akhirat

Integritas akan mengalami ujian pembuktian-nya setiap waktu sepanjang kehidupan pada setiap permasalahan atau persoalan yang dihadapi. Semakin berkembangnya kompleksitas urusan kehidupan sosial ummat manusia sejak Nabi Adam AS hingga zaman kita sekarang, berakibat semakin beratnya mewujudkan Integritas personal. Semakin banyaknya identitas-identitas sosial yang melekat pada seseorang memperbesar potensi parsial-parsialnya personalitas. Ditengah kegaduhan kehidupan modern, jangankan untuk mengenal diri pribadinya, sekedar memahami apa yang sedang dikerjakannyapun sering kali kerepotan. Antara akal, pikiran, hati, ucapan dan perbuatan sering kali tidak sambung, sehingga yang nampak adalah kegagapan. Cara dan tujuan yang bertolak belakang penuh dengan kontradiksi, semakin menjauhkan diri untuk menjadi pribadi yang integral.

Demokrasi Gagal Di Rumah Sendiri

Tidak dapat dipungkiri, Demokrasi pada kondisi idealnya sekalipun tidak akan mampu menghasilkan hasil yang dapat memenangkan semua pihak. Akan ada pihak pemenang dan pihak yang kalah. Padahal persoalannya bukan hanya pada menang kalahnya. Persoalannya bagaimana supaya aspirasi rakyat atau warga negara dan distribusi sumberdaya dapat tersalurkan dengan baik. Lagi-lagi urusan klasik yang mengganggu hubungan sosial yang jadi masalah, ego kepemilikan. Jika ego kepemilikan itu yang dikedepankan, sistem atau-pun tatanan sosial hanya akan dijadikan oleh mereka sebagai alat kepenguasaan untuk menumpuk kepemilikan.