Tagged Dari Redaksi

Maneges Qudroh, Melewati 7 Memasuki 8

Qudroh akan segera Maneges, Qudrotullah akan segera mewujud. Perjuangan yang telah kita usahakan bersama di Maiyah hingga hari ini harus tetap kita bumbubi rasa optimis bahwa masa panen itu akan segera hadir. Walaa taiasu min rouhillah, jangan sekali-kali kita menyerah terhadap segala rahmat Allah yang akan diberikan kepada kita. Jangan sekali-kali kita meragukan keajaiban-keajaiban Allah yang masih disembunyikan oleh-Nya.

Pemain Tanpa Bola di Tribun Penonton

Dari masing-masing kesebelasan itu, ketika pertandingan berlangsung ada yang juga harus bergerak tanpa bola. Pemain ini adalah pemain yang berusaha membongkar pertahanan lawan dengan cara membuka ruang bagi pemain lain untuk masuk ke sektor pertahanan lawan. Bahkan bisa jadi, ia sendiri yang kemudian mencetak gol ke gawang lawan, karena pergerakan tanpa bola yang ia lakukan berhasil membuka ruang dan menciptakan ruang bagi dirinya di wilayah pertahanan lawan, begitu ia mendapatkan bola liar, sepakan terukurnya akan mampu mengoyak jala gawang lawan. Dan untuk menjadi pemain yang mampu membuka ruang serta menciptakan ruang dalam sebuah pertandingan sepakbola tidaklah mudah. Dibutuhkan kecerdasan serta intuisi yang baik untuk memerankan posisi tersebut. Dan tidak banyak di dunia sepakbola hari ini yang mampu memerankan peran tersebut.

Mudahnya Menjadi Pejuang dan Penyebar Nilai Di Zaman Now

Tidak ada yang salah dengan konsep “menyebarkan nilai-nilai Maiyah agar tersebar lebih luas”. Akan tetapi, seandainya proses menyebarkan nilai-nilai Maiyah itu ditata dengan baik, alangkah lebih baik dan indah hasilnya. Kebenaran dan Kebaikan hendaknya dikombinasikan dalam takaran yang tepat, sehingga menghasilkan keindahan bersama. Teman-teman Penggiat Simpul Maiyah di berbagai daerah terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk turut serta menjadi “pasukan” di belakang layar. Di Kenduri Cinta misalnya, terdapat forum Reboan yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan memiliki ide serta gagasan untuk Maiyah di masa yang akan datang. Alangkah lebih baik jika kita bertemu tatap muka secara langsung di sebuah majelis daripada hanya bisa berkomentar di media sosial, berlindung dibalik topeng akun media sosial yang kita miliki. Bukankah Maiyah mengajarkan kita untuk bermuwajahah, bertemu tatap muka satu sama lain?

Wal Tandzur Zaman Old Li Zaman Now

Maka, memasuki akhir dari 3 dekade perjalanan Maiyah kiranya sudah saatnya bagi Jamaah Maiyah untuk kembali menakar, kembali mengukur diri, kembali menghitung potensi. Kembali merenungkan, apakah Maiyah ini benar-benar anugerah bagi kita semua, apakah kita ini dititipi Maiyah untuk nyengkuyung Indonesia, apakah nilai-nilai Maiyah ini mampu kita pegang teguh sebagai landasan hidup kita, atau jangan-jangan kita hanya menikmati gegap gempita keriuhan Maiyah hari ini? Sejauh mana kita mampu menentukan pijakan itu.

Marhaban, Ahlan Wa Sahlan 2018

Marhaban, Ahlan wa sahlan 2018. Sebagai rakyat kecil, tentu tidak muluk-muluk yang kita harapkan. Sebenarnya, jika para pemegang kekuasaan di negeri ini benar-benar dan serius berpegang teguh kepada Pancasila, kita pun tidak akan pusing dan repot melihat kelakuan para politisi yang menjelang digelarnya Pesta Demokrasi 5 tahunan ini bersolek penuh gincu dan bedak pencitraan. Sebagian dari mereka juga ada yang berlaku seperti badut sirkus yang akan meramaikan layar kaca untuk turut menambah suhu politik semakin panas. Sayangnya, Pancasila hanya mereka anggap sebagai jargon saja untuk diteriakkan, tidak untuk diaplikasikan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

Jangkar Waktu Kenduri Cinta 2017

Khasanah Maiyah yang muncul di tahun 2017 ini pun semakin beragam, ada sebagian khasanah yang berasal dari tema-tema lama Maiyah di tahun-tahun sebelumnya yang kemudian dipertajam di tahun 2017 ini. Begitulah mekanisme Tadabbur berlaku di Maiyah. Sejak awal, Cak Nun memang menghendaki bahwa apa yang seharusnya kita lakukan di Maiyah adalah proses Tadabbur bukan Tafsir. Dengan proses Tadabbur, maka yang menjadi fokus utama kita adalah hasil dari Tadabbur apakah itu baik untuk orang lain, apakah bermanfaat untuk orang lain atau tidak?

Satu Delapan, Gambang Syafaat

Gambang Syafaat adalah kakak dari Simpul Maiyah dimana saja. Perjalanan 18 tahun ini merupakan sebuah amsal yang sangat penuh hikmah untuk kita pelajari bersama. Semua penggiat Simpul Maiyah di berbagai daerah belajar tentang kesetiaan kepada Gambang Syafaat. Apa yang kita lihat di Gambang Syafaat ini adalah bukti nyata sebuah keistiqomahan Orang Maiyah yang sangat setia menjaga keberlangsungan forum ini. Ini bukan “semoga Istiqomah”, melainkan “ini sudah Istiqomah”. 18 tahun bukanlah durasi yang pendek. Kesetiaan para penggiat Gambang Syafaat di Semarang ini merupakan bukti betapa “Tali-tali Cahaya” itu benar-benar menari.

Demokrasi Ludruk

Demokrasi sejati yang diterapkan di negeri sempalan surga ini benar-benar demokrasi yang menghargai ibu pertiwi dan amanah dalam menjalankan konstitusi. Partai-partai politik sebagai mesin penyerap aspirasi rakyat sangat efektif dan efisien dalam perjuangan mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Fungsi Legislatif merepresentasikan rakyat yang taat, patuh dan tunduk terhadap undang-undang. Fungsi Eksekutif yang representasi dari pemerintahan negara menjalankan kepemimpinan kerakyatan menggunakan hikmah kebijaksanaan untuk melindungi nyawa, harta, dan martabat setiap rakyat. Persatuan Indonesia benar-benar senantiasa dikedepankan oleh setiap komponen bangsa di atas kepentingan suku, kelompok dan golongannya. Setiap anggota masyarakat menyelenggarakan pendidikan sosialnya dalam kehidupan sehari-hari tidak hanya melalui bangku sekolah tetapi juga di di dalam rumah, di jalan-jalan, di pasar-pasar dan setiap media massa berorientasikan pendidikan untuk generasi penerus bangsa supaya adil dan beradab.

Fuadussab’ah, Bulannya Cak Fuad

Begitu besar cinta Cak Fuad kepada Al Qur’an dan Bahasa Al Qur’an. Sebagian besar hidupnya, beliau dedikasikan untuk belajar, mengajar, dan berinteraksi dengan Al Qur’an dan Bahasa Al Qur’an. Kecintaan beliau terhadap Al Qur’an membuahkan anugerah Allah kepada beliau berupa kesempatan untuk menjadi bagian dari staff Pengajar di Fakultas Pendidikan Bahasa Arab di Universitas Negeri Malang sejak tahun 1976, bahkan beliau juga pernah diamanahi untuk memangku jabatan sebagai Dekan di Fakultas tersebut, tanpa diketahui oleh adik-adiknya. Beberapa majalah berbahasa Al Qur’an beliau terbitkan, beberapa jurnal tentang Bahasa AL Qur’an juga beliau terbitkan dalam rentang waktu yang teratur. Organisasi Pengajar Bahasa Arab di Indonesia (IMLA) diinisiatori oleh beliau kemunculannya. Perjalanan panjang itu mengantarkan beliau untuk menjadi salah satu anggota dari King Abdullah bin Abdul Aziz International Center for Arabic Language yang berpusat di Riyadh.

Kelahiran Baru, 17 Tahun Kenduri Cinta

Organisme Kenduri Cinta merupakan satu diantara sekian banyak Organisme Maiyah yang bertebaran dan bergerak-gerak di tengah masyarakat dunia yang saat ini berada ditengah arus globalisasi. Organisme Maiyah ini tumbuh dari benih-benih Cinta yang ditanam dan ditebarkan oleh Cak Nun di berbagai wilayah nusantara maupun mancanegara. Dari sekian benih yang betebaran itu ada yang tumbuh terus berjalan, namun juga ada yang terseok-seok dan pada akhirnya tumbang. Ada yang pada awalnya tumbuh subur pada satu dua bulan pertama, namun selanjutnya gersang. Ada yang terus tumbuh tahap demi tahap secara alami dan konsisten, ada pula yang percepatan pertumbuhannya hanya tumbuh jika Cak Nun berkenan menyiraminya. Dan dari itu yang paling berperan ternyata bukan soal banyaknya nutrisi ataupun banyaknya penggiat yang semangat berpartisipasi mengolah lahan, namun bagaimana jalinan personal antar penggiat dan dinamika masyarakat tempat Organisme Maiyah itu berada dapat dijaga kompatibilitas dan keseimbangannya dengan potensi tumbuhnya tumbuhan Organisme Maiyah sesuai dengan KehendakNya.