By Fahmi Agustian

Menyerah Kepada Nasib

Manusia sebagai khalifah di muka bumi memiliki pilihan-pilihan hidup. Dengan adanya kemungkinan pilihan itu, manusia mampu menentukan “sedikit” nasibnya. Ya, hanya sedikit. Tidak sepenuhnya. Namun terkadang, manusia dengan sedikit hak yang ia punya itu menjadi sombong dan jumawa. Seolah-olah pencapaian yang ia raih adalah murni hasil perjuangannya. Padahal tak satu pun petani di dunia ini yang mampu menentukan apakah benih padi yang ia tanam akan ia panen atau tidak.

Mental Siap Panen

BEBERAPA waktu yang lalu, seorang anak muda yang usianya belum genap 20 tahun menjadi perbincangan banyak orang setelah berhasil meraih medali emas dalam sebuah kejuaraan salah satu cabang olahraga atletik. Lalu Muhammad Zohri namanya. Nama Zohri mencuat setelah ia berhasil menjadi peserta tercepat yang mencapai garis finish pada nomor sprint 100 m. Ia bahkan mengungguli pelari yang diunggulkan saat itu. Kita perlu mengucapkan terima kasih kepada teknologi informasi yang saat ini mampu menghadirkan sebuah informasi real time. Berita kemenangan Zohri kemudian viral di media sosial. Hari ini, media sosial adalah acuan utama informasi masyarakat di Indonesia, apapun yang dibicarakan di…

Tak Bertaring

Badut-badut yang muncul baik di media massa maupun media elektronik pun semakin lucu. Ada benarnya ungkapan peringatan; Stop making stupid people famous. Era digital hari ini sama sekali tidak menyediakan fasilitas filter bagi pengguna internet. Seluruh informasi yang masuk ditelan mentah-mentah. Hanya informasi yang mereka sukai yang mereka baca. Kemasan judul sebuah berita menjadi sebuah umpan yang begitu disukai oleh masyarakat hari ini. Bukan hanya teks, bahkan juga video yang beredar di internet hari ini banyak yang diberi judul-judul provokatif yang tujuannya utama sebenarnya adalah menarik sebanyak mungkin pengunjung untuk melihat konten tersebut.

Juara Tidak Harus Meraih Piala

Keindahan suasana para pendengar menyimak dengan seksama jalannya sebuah pertandingan dari radio saat itu, bagaimana mereka membangun imajinasi mereka, membayangkan gambaran pertandingan yang sedang berlangsung, hanya melalui suara yang diperdengarkan melalui siaran RRI di radio. Tentu saja imajinasi setiap orang yang sedang menyimak akan berbeda-beda. Bagaimana mereka membayangkan seorang Diego Maradona yang secara visual mungkin hanya sekelabatan saja mereka lihat melalui surat kabar. Saat itu, televisi adalah barang mewah yang tidak semua orang mampu memilikinya. Radio menjadi sebuah media masyarakat kelas bawah untuk menikmati siaran langsung sepakbola.

Reboan, Dapurnya Kenduri Cinta

Bagaimana Kenduri Cinta mampu memproses manusia-manusia yang begitu istiqomah untuk mengelola forum ini? Adalah forum Reboan, media sosial yang nyata untuk bercengkrama satu sama lain, bertatap muka, saling sambung silaturahmi satu dengan yang lainnya. Dari forum inilah terbangun ikatan kekerabatan yang semakin kuat, ikatan persaudaraan tanpa hubungan darah, yang benar-benar menjadi paseduluran tanpa tepi.

Ikhtiar Mulia Juguran Syafaat

Kesungguhan Juguran Syafaat berproses dalam 5 tahun ini sebenarnya membuat saya penasaran. Mau apa sebenarnya Juguran Syafaat ini? 5 tahun mereka istiqomah menyelenggarakan forum majelis ilmu di sudut kota Purwokerto. Sempat beberapa kali berpindah lokasi pelaksanaan karena satu dan lain hal, tidak lantas kemudian menyurutkan kesetiaan mereka dalam berproses.

Cerita Dari Sudut Dapur Kenduri Cinta

Banyak yang menganggap bahwa kami para Penggiat Kenduri Cinta adalah orang-orang “Ring 1” Emha Ainun Nadjib di Jakarta. Padahal, justru yang pertama kali dilakukan oleh “kakak-kakak” kami di Kenduri Cinta adalah untuk membuang jauh-jauh harapan “menjadi orang dekatnya Cak Nun”. Mereka ini, adalah anak-anak yang sudah sangat lega, sangat ikhlas jikalau hingga akhir acara tidak sempat bersalaman dan mencium tangan Cak Nun, guru yang mereka cintai. Menahan rindu satu bulan sekali, dan ketika bertemu, belum tentu bisa untuk sekedar mencium tangan beliau. Bagi mereka, melihat Jama’ah Kenduri Cinta bergembira malam itu adalah kepuasan yang tidak ternilai harganya. Mereka-mereka itu, pada Jum’at kedua setiap bulannya selalu ditanya oleh Jama’ah dengan sebuah pertanyaan; “Cak Nun hadir nggak malam ini?”. Pertanyaan yang sebenarnya mereka tidak mengetahui jawabannya. Mereka tidak mungkin menjawab “iya”, karena memang mereka sama sekali tidak mengetahui apakah Cak Nun hadir di Kenduri Cinta atau tidak. Sementara, mereka juga tidak mungkin menjawab “tidak”, karena bisa jadi ternyata Cak Nun hadir malam itu.

From Beginner to be Learner

Pada rentang waktu 2012-2013, ketika Internet semakin mudah diakses, yang kemudian saya manfaatkan dari internet adalah mencari informasi sebanyak mungkin tentang “Emha Ainun Nadjib”. Tentu saja, ketika mencari informasi tentang beliau maka akan tersambung benang merah dengan KiaiKanjeng dan Maiyah. Baik itu reportase Maiyahan, tulisan-tulisan beliau di media massa, maupun yang dipublikasikan oleh beberapa JM di blog-blog mereka saat itu, yang masih sangat sedikit sekali. Berbeda dengan hari ini, arsip-arsip tulisan beliau begitu banyak dipublikasikan oleh orang di Internet. Saya mengalami masa-masa ketika saya mencari kata kunci “Cak Nun”, “Emha Ainun Nadjib” dan beberapa kata kunci lain yang berkaitan dengan beliau, tidak pernah lebih dari 10 halaman di mesin pencari Google. Sehingga informasi yang saya dapatkan tentang beliau saat itu, sangat sedikit.

Mengenal Cak Nun, dari “Tombo Ati” hingga Kenduri Cinta

SETIDAKNYA ADA tiga kemungkinan seandainya kita hidup di era Rasulullah SAW. Pertama, kita beriman kepada Rasulullah SAW, setia dan berbaiat kepada beliau, meyakini ketauhidan Allah yang beliau ajarkan, patuh dan taat terhadap segala perintah dan menjauhi semua larangan. Kedua, kita berada satu kubu dengan Abu Jahal, yang tidak mempercayai segala informasi yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi, bahkan kita ikut melempari batu kepada beliau ketika berdakwah. Ketiga, acuh. Tidak peduli apa yang disampaikan oleh Kanjeng Nabi pun juga tidak berniat untuk bergabung dalam faksi Abu Jahal. Yang penting hidup enak, bisa makan, kebutuhan sehari-hari tercukupi.

Meskipun demikian ada juga opsi keempat; tidak bersama dengan Abu Bakar, juga tidak bergabung dengan Abu Jahal, juga tidak bersikap acuh, tetapi menjadi abu-abu; Menjadi kelompok Oportunis, mana yang memberikan kita keuntungan, disitulah kita berpihak. Kalau hari ini Abu Bakar memberikan keuntungan kepada kita, kita bersama Abu Bakar. Kalau esok Abu Jahal menguntungkan kita, kita bersama Abu Jahal. Sepertinya kemungkinan keempat inilah yang menjadi pilihan terbanyak jika kita hidup satu era dengan Kanjeng Nabi.

Ngalap Berkah di Kenduri Cinta

Ngalap berkah. Jika anda tinggal di lingkungan pesantren dengan kultur Nahdliyin, istilah ngalap berkah tentu tidak asing di telingan anda. Maka, ketika seorang santri mencium tangan Kiai nya, bahkan ada yang rela mencium kaki Kiai nya, itu bukan dalam rangka pengkultusan, melainkan dalam rangka ngalap berkah. Nggolek barokah Mbah Yai, begitu kira-kira. Dan peristiwa ngalap berkah jika anda lihat di daerah jawa timur, maka tidak akan terlihat aneh. Kenduri Cinta berlokasi di Jakarta, potret masyarakat Jakarta yang sedemikian rupa tidak lazim dengan fenomena ngalap berkah ini. Atau yang lebih detail lagi, jama’ah Kenduri Cinta ini tidak ada potongan santri nya sama sekali. Mereka datang dengan pakaian yang tidak nyantri sama sekali, sementata di Maiyah juga tidak ada penyeragaman pakaian harus berwarna tertentu, atau harus menggunakan peci dan surban misalnya. Mereka datang dengan tampilan apa adanya, tidak memerlukan Pencitraan agar mereka terlihat sebagai orang alim karena datang ke forum pengajian, misalnya.