By Redaksi Kenduri Cinta

Menjadi Diri Sendiri, Itulah Jabatan Tertinggi

Indonesyariah, sebuah tema yang secara diksi tidak akan ditemukan artinya di kamus manapun. Bukan pertama kali ini saja Kenduri Cinta mengangkat tema yang menggunakan kata-kata asing, yang belum pernah atau sangat jarang didengar oleh masyarakat pada umumnya. Dan memang, pada tema kali ini, Kenduri Cinta hendak membahas tentang kata syariah, istilah yang akhir-akhir ini masih saja disalahgunakan oleh beberapa pihak, sehingga mengakibatkan perbedaan pendapat di masyarakat, yang ujungnya adalah semakin memperuncing perpecahan yang ada.

Yang Memberi Peringatan

Siapa seharusnya yang bertindak sebagai pemberi peringatan kepada para penguasa? Sementara hari ini, di Indonesia siapa yang berani mengkritik pemerintah akan dianggap sebagai bagian dari pihak oposisi pemerintah. Iklim demokrasi kita hari ini juga tidak sehat-sehat amat. Ketika ada yang mengapresiasi prestasi pemerintah, akan dianggap sebagai pendukung pemerintah. Sementara jika berposisi sebagai pemberi peringatan kepada pemerintah, akan dianggap sebagai bagian dari oposisi. Akibatnya kita tidak benar-benar berani menyatakan dengan jelas dimana posisi kita.

Mukadimah: INDONESYARIAH

Seperti halnya kata Syariah ini. Dalam khasanah Bahasa Arab, kata Syariah berakar dari kata Syari’. Sebuah kata yang juga memilki arti kata yang sama dengan kata; Sabiil, Thoriq, dan juga Shiroth. Namun, meskipun semua kata itu memiliki makna yang sama, namun dalam Bahasa Arab setiap kata digunakan sesuai dengan peruntukannya. Tentu kita pernah mendengar ayat; Ud’u ilaa sabiili rabbika bi-l-hikmah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Dalam ayat tersebut, Allah tidak menggunakan kata Syari’, apalagi Thoriq, lebih-lebih Shiroth, tetapi yang digunakan adalah kata Sabiil.

Syariat Kerajaan Sengkuni

Pernahkah kita belajar sejarah kehidupan Sengkuni? Pernahkah kita membaca literatur bagaimana perjalanan hidup Sengkuni? Adakah dari kita yang pernah mempelajari sebab-sebab mengapa Sengkuni dianggap menjadi biang kerok Perang Baratayudha? Adakah kita pernah mencari fakta sejarah mengapa kerajaan Gandhara diserbu oleh Prabu Destarastra, yang notabene adalah seorang Raja yang memperistiri Gandari, kakak kandung Sengkuni?

WARASATUL ANBIYA

Seseorang yang mampu menjadi pewaris Nabi adalah orang yang mampu menjadi juru bicara kebijaksanaan, alsinatul hikmah. Mereka adalah orang-orang yang tidak berbicara kecuali dengan izin Allah, dan jika mereka berbicara mereka meninggalkan manfaat bagi orang yang mendengarkan. Manusia yang saleh adalah manusia yang pantas disebut manusia di hadapan Allah. Agama adalah situasi keilahian dalam diri manusia yang menuntun orang melakukan sesuatu bukan atas dasar paksaan, melainkan atas dasar keterpanggilan.

Kenduri Cinta Dalam Poster

Pada setiap Poster yang dirilis, tidak hanya memberikan informasi berupa tema yang diangkat, atau juga kelengkapan informasi berupa tanggal, waktu dan lokasi acara. Tetapi juga menjadi salah satu media yang mampu membikin penasaran bagi audiens Kenduri Cinta sendiri. Apresiasi demi apresiasi selalu muncul dari jamaah, hal ini menjadi pertanda bahwa memang Poster Kenduri Cinta yang dirilis selalu memancing perhatian orang, bahkan menjadi salah satu item yang ditunggu-tunggu.

Alhamdulillah 2018, Bismillah 2019

GEMERLAP pesta cahaya terselenggara lebih dari 60 titik Simpul Maiyah sepanjang tahun 2018. Masing-masing berproses secara otentik, membangun ruang belajar bersama, berproses menemukan kejernihan setiap ilmu, hingga setiap pelaku Maiyah menemukan sendiri kebenaran atas ilmu itu. Melalui Maiyahan, kita bersama-sama Sinau Bareng memaknai setiap peristiwa zaman, mengkaji ilmu pengetahuan, mentadabburi ayat-ayat Allah, kemudian mengusahakannya untuk ditransformasikan menjadi berkah untuk semua pihak.

Menjadi Manusia Universitas, Bukan Sekadar Manusia Fakultas

Ketika dunia modern menyempitkan belajar hanya menjadi pekerjaan otak saja, Maiyahan membuka tawaran untuk kembali kepada masa silam bagaimana leluhur kita dahulu memproses ilmu bukan hanya terfokus pada akal dan pikiran saja, namun juga bagaimana melibatkan hati, nurani, bahkan darah dan tubuh juga mengalami proses keberlangsungan transformasi ilmu. Pada faktanya, manusia tidak mungkin hanya mengandalkan akal dan pikirannya semata untuk belajar, tetapi juga membutuhkan hati untuk memproses ilmu yang diterima menjadi manfaat bagi semua makhluk ciptaan Allah.

Membiasakan Diri dengan Kejutan-Kejutan Hidup

Maiyah adalah bukti nyata bahwa rahmat dari Allah mampu ditransformasikan menjadi berkah. Hingga hari ini, terdata lebih dari 60 titik simpul Maiyah, dengan berbagai skalanya masing-masing, setiap simpul Maiyah menemukan sendiri keunikan mereka. Maiyah tidak berbicara soal kuantitas, banyaknya massa yang datang bukanlah sebuah prestasi, justru kejernihan dari setiap individu yang datang ke Maiyah itulah yang kemudian melahirkan spektrum Maiyah yang kemudian ditularkan kepada yang lain.

Mukadimah: WARAS-ATUL ANBIYA

Masyarakat saat ini sedang sakit. Pendidikan generasi seolah hanya dibebankan pada institusi sekolah, tetapi para pendidiknya dibayar murah. Sebaliknya media massa menyajikan suguhan yang tidak mendidik. Hiburannya bukan untuk menggembirakan masyarakat, justru menghipnotis penonton untuk larut dalam fantasi-fantasi. Informasi yang disuguhkan bukan berdasarkan kebutuhan untuk menyampaikan informasi yang baik dan sehat. Rumusan bad news is a good news semakin nyata adanya. Kebudayaan tidak mengakar pada masyarakat, tapi sekadar menjadikan masyarakat sebagai konsumen pemuja sensasi-sensasi selebriti.