By Redaksi Kenduri Cinta

Silaturahmi Lintas Generasi Penggiat Kenduri Cinta

Tanpa ada rancangan khusus, hanya pertemuan sederhana, agar silaturahmi tetap tersambung. Karena sudah lama tidak berjumpa, maka penggiat Kenduri Cinta kemudian spontan menghubungi penggiat-penggiat Kenduri Cinta generasi awal di tahun 2000. Yang diundang pun lintas generasi, dari generasi awal hingga generasi terkini di Kenduri Cinta. Semua yang terjangkau di data base kontak, diundang. Meskipun tidak semuanya bisa hadir. Dan tentu saja, penggiat Kenduri Cinta hari ini yang menjadi host dalam pertemuan ini.

Literasi Utama

ALGORITME RAHMAT

“Orang Maiyah punya algoritme berpikir dan algoritme batin dengan pemetaan keluar dan ke dalam dirinya  secara berbeda dari orang kebanyakan. Dan itu merupakan salah satu rahmat yang saya syukuri”, Cak Nun melanjutkan sembari menjelaskan bahwa keinginan untuk berkumpul bersama seperti biasanya juga dirasakan oleh Cak Nun sehingga acara bertemu penggiat Simpul Maiyah di Jawa Timur dan Jawa Tengah itu dilaksanakan. Selain itu, Cak Nun juga ingin memastikan secara langsung, setidaknya dari Simpul Maiyah sendiri bahwa para penggiatnya telah berhasil melewati masa-masa yang sulit di masa pandemi  ini.

21 Tahun Kenduri Cinta

Sekarang sudah satu generasi yang bermaiyah. Kenduri Cinta, yang berasal dari hijrah dari kekacauan reformasi, kepada cahaya yang cerah. Dipimpin oleh Cak Nun dengan bantuan dari tokoh yang signifikan, dan yang penuh arti masing2. Cak Fuad, Syeikh Nursamad Kamba, Mas Toto, Mas Uki, Andi Priok, Pak Franky Welirang, Mbah Surip dan masih banyak lagi, we love you full! Yang sudah wafat, kami ingat dengan cinta yang tinggi. Yang tetap sama kita, kami sangat bersyukur. Mas Gandhie, Rony, Syahid, Adi: Sekretaris, administrator dan pendamping yang setia dan konstan, kami sangat berterima kasih. Letto, Sabrang, bagian besar dari Kenduri Cinta, nadanya sebelum cahaya, ruang rindu, guru muda untuk generasi yang datang dan yang akan berikut. Kontribusi anda adalah yang sangat besar. 

SAMBUNG SINAMBUNG SILATURAHMI PATRIOT SAKINAH

“Mungkin ada yang salah dan sangat serius yang dilakukan oleh manusia selama ini. Mungkin dalam urusan pergaulan, budaya maupun dalam bermasyarakat, berorganisasi, bernegara dan beragama”, Cak Nun menambahkan. Selama ini manusia sebenarnya sudah dibekali tuntunan yang lengkap. Dalam beragama misalnya, sudah diberi panduan yang jelas, tetapi tetap saja antar umat beragama selalu ada konflik dan perdebatan yang ujungnya adalah perpecahan. Ada yang saling mengkafirkan, membid’ahkan dan lain sebagainya. Ada banyak sekali contoh tersebut. Belum lagi dalam kehidupan bernegara. Silang sengkarut perbedaan pandangan politik saat ini telah mengakibatkan rusaknya tali silaturahmi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. “Akhirnya kita diputus oleh Tuhan silaturahminya, karena memang kita bertengkar terus”, lanjut Cak Nun.

Logo Baru Kenduri Cinta

PADA momen ini penggiat Kenduri Cinta merilis logo baru. Dengan semangat kebersamaan, egaliter, tanpa sekat, maka dipilihlah logo baru berupa susunan huruf kecil tanpa jeda; ‘kenduricinta’ dalam logo yang baru merupakan lambang yang menegaskan nilai-nilai dan semangat kebersamaan dalam ikatan yang egaliter.

Mukadimah: SAMBUNG SINAMBUNG SILATURAHMI – PATRIOT SAKINAH

Perjumpaan rutin setiap Jumat pekan kedua di Taman Ismail Marzuki adalah forum terbuka yang guyub, setiap orang dapat turut serta terlibat menghidupkan atmosfernya. Tanpa penjagaan keamanan, karena pada dasarnya setiap yang hadir saling menjaga acara, saling mengamankan. Duduk lesehan menghampar di sekitar panggung. Sebagian ada yang berdiri berjubel. Berkumpul dengan orang-orang yang mengedepankan kebersamaan dan kegembiraan, pastinya suasana ini selalu dirindukan. Layaknya oase, Kenduri Cinta selalu menyegarkan. Seperti pohon rindang, Kenduri Cinta memberikan kesejukan dan keteduhan.

Menghikmahi Tahun 2020, Bekal Menjalani Tahun 2021

Sepanjang tahun 2020, Kenduri Cinta memang tidak terselenggara genap 12 edisi. Tercatat hanya 4 edisi Kenduri Cinta terlaksana sepanjang tahun ini. Di Bulan Januari, Februari, dan Maret yang diselenggarakan di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta. Sementara, di tengah masa pandemic Kenduri Cinta edisi September 2020 dilaksanakan secara daring. Begitu juga dengan forum Reboan yang menjadi sumbu utama keberlangsungan forum Kenduri Cinta ini, tidak genap terlaksana selama 52 kali di tahun ini.

Wali Ziro’ah

Maiyahan Kenduri Cinta yang diselenggarakan di Plaza Taman Ismail Marzuki sebenarnya hanyalah forum Reboan yang skalanya diperbesar. Maka sebenarnya forum Reboan Kenduri Cinta juga merupakan forum yang terbuka untuk umum, yang diselenggarakan setiap Rabu malam di Taman Ismail Marzuki. Sebelumnya, Reboan digelar di teras Galeri Cipta II. Namun karena area TIM sedang proses pemugaran, maka Reboan bergeser tempatnya di teras Pepustakaan Daerah di Taman Ismail Marzuki, Cikini, Jakarta.

Mukadimah: UNTUK KETERLAHIRAN BARU

LIMA bulan sudah kita telah menjalani rutinitas yang baru. Mainstream kebanyakan orang menyebutnya The New Normal. Padahal, sejatinya setiap hari kita selalu menemukan hal yang baru. Kita hari ini adalah diri kita yang baru yang tidak sama dengan diri kita yang kemarin. Evolusi terus berlangsung dalam berbagai skala. Pandemi Covid-19 ini bisa juga dimaknai sebagai salah satu proses evolusi yang sedang berlangsung dalam peradaban yang kita alami saat ini.

Semua informasi mengenai Covid-19 sudah habis kita cerna. Dari yang awalnya kita begitu ketakutan, sekarang kita sudah menjalani hari-hari seperti biasa kembali. Tidak ada sesuatu yang aneh lagi. Kita sudah terbiasa memakai masker dan mencuci tangan. Bukan dalam rangka tindakan preventif semata, tetapi juga dalam rangka mengamankan satu sama lain di antara kita semua. Bukankah itu ajaran Rasulullah Saw? Salah satu fungsi utama manusia adalah menjamin keamanan satu sama lain; keamanan nyawa, martabat dan harta.