By Redaksi Kenduri Cinta

Literasi Utama

ANSHOR MAIYAH

Seluruh peristiwa dalam hidup ini adalah hijrah. Kita semua pada hakikatnya adalah muhajirin. Kita menjalani proses hijrah setiap hari. Kita berhijrah dari keadaan hidup hari kemarin menuju hidup hari ini. Jamaah Maiyah menolong dirinya sendiri, karena kita merangkap jabatan. Kita ini muhajirin sekaligus anshor. Di Maiyah kita melatih diri kita menjadi manusia yang mempunyai kedaulatan dan kemandirian serta keberanian hidup, meski tidak punya apa-apa.

Rendah Hati Mensyukuri Nasib

Alhamdulillah kita dipekernalkan dengan Maiyah. Kita bersyukur karena Allah menganugerahkan Maiyah kepada kita. Kita belajar begitu banyak ilmu di Maiyah. Dengan proses yang kita alami di Maiyah hari ini, kita bersama-sama menyadari bahwa ada banyak hal yang berlaku di kehidupan kita hari ini yang seharusnya tidak dilakukan oleh kebanyakan orang. Sementara yang seharusnya dilakukan justru ditinggalkan. Peradaban dunia hari ini dipenuhi oleh manusia-manusia yang sombong yang merasa bahwa segala perbuahan yang terjadi di dunia ini adalah murni atas kerja kerasnya, mengeliminir peran Allah didalamnya.

Kedaulatan Muhajirin Maiyah

Kalaupun Maiyah harus bersandar, maka sandaran itu adalah Allah Swt dan Rasulullah saw. Karena Maiyah menyadari dialektika segitiga cinta antara Allah-Rasulullah-Hamba sebagai sebuah kesatuan yang berkesinambungan dan tidak mungkin dipisahkan perannya. Dengan landasan dialektika segitiga cinta inilah yang pada akhirnya Maiyah bukan hanya menerima siapapun saja untuk datang ke Maiyah, tetapi lebih dari itu bahwa sejatinya Maiyah diterima oleh banyak orang dengan segala latar belakangnya yang berbeda-beda.

Mukadimah: ANSHOR MAIYAH

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw pernah bersabda; Innamaa-l-a’maalu bi-n-niyaat, wa innamaa likulli-m-riin ma nawaa. Faman kaanat hijrotuhu ilallahi wa rasulihi fahijrotuhu ilallahi wa rasulihi. Waman kaanat hijrotuhu ilaa dunya yushiibuha wa imroatin yankihuhaa fahijrotuhu ilaa ma hajaro ilaihi. Sebuah hadits yang maknanya begitu dalam, bahwa sebuah perbuatan seseorang itu tergantung pada niatannya. Hadits tersebut sangat relevan dengan situasi Maiyah hari ini, apa sebenarnya yang mendasari kita untuk datang ke Maiyah? Apa niatan kita? Tegas Rasulullah saw dalam hadits tersebut menyatakan bahwa apabila kita dalam melakukan sesuatu itu berdasarkan niatan karena ingin bertemu dengan Allah dan Rasulullah, maka kita akan menemui Allah dan Rasulullah. Apakah niatan kita datang ke Maiyah juga demikian?

Maneges Qudroh, Melewati 7 Memasuki 8

Qudroh akan segera Maneges, Qudrotullah akan segera mewujud. Perjuangan yang telah kita usahakan bersama di Maiyah hingga hari ini harus tetap kita bumbubi rasa optimis bahwa masa panen itu akan segera hadir. Walaa taiasu min rouhillah, jangan sekali-kali kita menyerah terhadap segala rahmat Allah yang akan diberikan kepada kita. Jangan sekali-kali kita meragukan keajaiban-keajaiban Allah yang masih disembunyikan oleh-Nya.

Pemain Tanpa Bola di Tribun Penonton

Dari masing-masing kesebelasan itu, ketika pertandingan berlangsung ada yang juga harus bergerak tanpa bola. Pemain ini adalah pemain yang berusaha membongkar pertahanan lawan dengan cara membuka ruang bagi pemain lain untuk masuk ke sektor pertahanan lawan. Bahkan bisa jadi, ia sendiri yang kemudian mencetak gol ke gawang lawan, karena pergerakan tanpa bola yang ia lakukan berhasil membuka ruang dan menciptakan ruang bagi dirinya di wilayah pertahanan lawan, begitu ia mendapatkan bola liar, sepakan terukurnya akan mampu mengoyak jala gawang lawan. Dan untuk menjadi pemain yang mampu membuka ruang serta menciptakan ruang dalam sebuah pertandingan sepakbola tidaklah mudah. Dibutuhkan kecerdasan serta intuisi yang baik untuk memerankan posisi tersebut. Dan tidak banyak di dunia sepakbola hari ini yang mampu memerankan peran tersebut.

AMENANGI ZAMAN NOW

Kita mencemaskan kematian pada banyak hal, kematian nilai, kematian ideologi, kematian akidah, tetapi kelahiran-kelahiran baru juga sedang berlangsung. Maiyah adalah kelahiran bagi Indonesia yang akan datang. Di Maiyah tercurah wacana-wacana keilmuan, khasanah, kebijaksanaan, nilai-nilai, yang sifatnya masih glepung, diperlukan pengolahan lebih lanjut agar menghasilkan padatan-padatan ilmu baru.

Mudahnya Menjadi Pejuang dan Penyebar Nilai Di Zaman Now

Tidak ada yang salah dengan konsep “menyebarkan nilai-nilai Maiyah agar tersebar lebih luas”. Akan tetapi, seandainya proses menyebarkan nilai-nilai Maiyah itu ditata dengan baik, alangkah lebih baik dan indah hasilnya. Kebenaran dan Kebaikan hendaknya dikombinasikan dalam takaran yang tepat, sehingga menghasilkan keindahan bersama. Teman-teman Penggiat Simpul Maiyah di berbagai daerah terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung untuk turut serta menjadi “pasukan” di belakang layar. Di Kenduri Cinta misalnya, terdapat forum Reboan yang terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung dan memiliki ide serta gagasan untuk Maiyah di masa yang akan datang. Alangkah lebih baik jika kita bertemu tatap muka secara langsung di sebuah majelis daripada hanya bisa berkomentar di media sosial, berlindung dibalik topeng akun media sosial yang kita miliki. Bukankah Maiyah mengajarkan kita untuk bermuwajahah, bertemu tatap muka satu sama lain?

Wal Tandzur Zaman Old Li Zaman Now

Maka, memasuki akhir dari 3 dekade perjalanan Maiyah kiranya sudah saatnya bagi Jamaah Maiyah untuk kembali menakar, kembali mengukur diri, kembali menghitung potensi. Kembali merenungkan, apakah Maiyah ini benar-benar anugerah bagi kita semua, apakah kita ini dititipi Maiyah untuk nyengkuyung Indonesia, apakah nilai-nilai Maiyah ini mampu kita pegang teguh sebagai landasan hidup kita, atau jangan-jangan kita hanya menikmati gegap gempita keriuhan Maiyah hari ini? Sejauh mana kita mampu menentukan pijakan itu.

Mukadimah: AMENANGI ZAMAN NOW

Inilah tahun penuh gincu, penuh topeng, penuh kepalsuan. Inilah tahun dimana rakyat akan kembali ditipu habis-habisan oleh para politisi demi kepentingan partai dan golongannya. Badut-badut dipasang untuk meramaikan pesta demokrasi ini. Para Tim Hore pengais recehan akan semakin bertebaran di media sosial untuk turut meramaikan suasana. Inilah tahun dimana kita akan memasuki hari-hari penuh kepalsuan. Tahun dimana rakyat jelata hanya menjadi komoditas yang diperjual-belikan oleh para makelar politik. Rakyat jelata yang kelaparan dimanfaatkan untuk hadir dalam arena kampanye, meneriakkan yel-yel dan jargon-jargon penuh kepalsuan, hanya dengan upah lembaran uang dan nasi kotak. Kita akan memasuki hari-hari dimana kita akan merindukan sosok Begawan, sosok orang tua yang mampu mengayomi kita.