By Redaksi Kenduri Cinta

Bukan Virus Cinta

Istilah Penggiat Kenduri Cinta sudah mulai akrab dikenal, untuk menyebut jamaah yang lebih aktif dalam persiapan dan berkomitmen dalam keberlangsungan Maiyahan. Penggiat rutin berkumpul setiap hari Rabu mulai pukul 20.00 di Teras Galeri Cipta II dalam forum Reboan. Suasana santai nan akrab terbangun dalam forum ini. Terbuka untuk jamaah yang bersedia melibatkan diri lebih dalam di Kenduri Cinta. Maiyahan rutin yang digelar setiap bulan di Plaza Taman Ismail Marzuki, hanyalah satu bagian saja. Selain Maiyahan rutin itu, para penggiat juga mengurusi banyak hal yang berkaitan dengan organisme Kenduri Cinta itu sendiri.

Mukadimah: JABABIROH

Para pendahulu kita menyebutnya sebagai Jababiroh. Jababiroh adalah zaman yang menganut kebebasan menjadi sebuah sikap yang diberhalakan. Perilaku maksiat, fitnah, kebohongan, dusta, ketidakadilan, keserampangan adalah hal yang biasa terjadi dan dimaklumi oleh siapa saja. Jababiroh, zaman dimana ummat Islam di seluruh penjuru dunia adalah ummat yang paling banyak jumlahnya, namun kuantitas itu ibarat buih yang tampak di permukaan laut. Semua orang berteriak lantang memperjuangkan Islam, namun pada perjuangan itu hanyalah sebatas pemuasan kepentingan kelompoknya semata. Jargon-jargon khas Agama hanya menjadi gincu pemanis saja.

Karnaval Ancaman

Pendidikan politik kepada masyarakat supaya kedaulatan rakyat terwujud, sejatinya menjadi tanggung jawab partai politik. Yang terjadi sebaliknya, partai politik memanipulasi dan memonopoli aspirasi rakyat. Rakyat didulang suaranya, dijadikan objek penderita. Sudah menjadi rahasia umum, bukan kepentingan rakyat yang sedang diperjuangkan. Tetapi, kepentingan para pemodal yang menginvestasikan dana dengan jumlah tak terkira dan itu bukanlah cuma-cuma. Kepentingan rakyat dijadikan bungkus kepentingan individu dan golongannya dalam usaha politik merebut dan mempertahankan kekuasaan lokal dan nasional. Tidak segan mereka menghina rakyat dengan mempertontonkan kemiskinan sebagian rakyat dengan judul bantuan-bantuan, padahal itu ditujukan untuk make-up wajah yang tidak mampu melaksanakan kewajiban menyejahterakan rakyat.

Menulis, Keberanian Meletakkan Kata

“Kebanyakan dari kita itu bisa menulis tetapi tidak semua mampu bercerita”, Erik Supit menerangkan bahwa kemampuan menulis tidak bisa dilepaskan dari kemampuan bertutur. Secara tidak langsung, seorang yang piawai dalam menulis pasti juga memiliki kemampuan public speaking yang baik. Salah satu contoh sosok yang sangat nyata bagi kita adalah Cak Nun. Kita melihat bagaimana Cak Nun adalah seorang penulis yang sangat produktif sekaligus memiliki kemampuan berbicara yang sangat baik.

Generasi ZZZzzz…

Dengan teknologi, banjir informasi tidak dapat dihindari. Mau tidak mau, kita mesti berada di tengah masyarakat digital yang bergerak cepat dan seolah tanpa batas dalam mengakses informasi. Sebaliknya, selain kemudahan sebagai konsumen informasi setiap orang juga dimudahkan untuk menyebar dan menghasilkan informasi. Dengan gampang secara perorangan membuat informasi dalam bentuk teks, gambar, atau video hanya dengan gadget yang dimilikinya. Bahkan itu dapat dilakukan dengan hanya hitungan detik dan langsung dapat dinikmati oleh orang lain di belahan dunia yang jauh. Lebih cepat dari proses mengirim Telegram di Kantor Pos.

Menjadi Ahli dan Manusia Wajib

Peradaban manusia hari ini berorientasi pada kekayaan, bukan kualitas manusianya. Bagi manusia hari ini yang lebih penting adalah bagaimana menjadi orang yang kaya. Apapun profesinya, apapun latar belakang pendidikannya, fokus utamanya adalah menjadi orang yang kaya raya. Orientasi hidup ini yang kemudian juga menjadikan manusia tidak pernah menjadi ahli di bidangnya sendiri. Kemuliaan manusia hari ini di mata orang lain hanya dilihat dari seberapa banyak harta yang ia miliki, bukan seberapa baik kualitas dirinya.

Literasi Utama

SERIBU BAYANG PRASANGKA

Bekal utama manusia itu bukan ilmu, tetapi tawadhlu’, rendah hati dan tahu diri. Bahasa jawanya biso rumongso bukan rumongso biso. Sementara kita melihat hari ini yang terjadi adalah pementasan parade rumongso biso. Di Kenduri Cinta kita belajar menyajikan masakan, bukan enak atau tidak enaknya melainkan ketulusan dan keikhlasan hati kita ketika memasaknya. Surat Al-Hujurat ayat 12, disebutkan inna ba’dhlo dhzonni itsmun, sebagian dari prasangka itu adalah dosa. Dari ayat itu, kita belajar bahwa dengan berprasangka saja kita sudah berdosa. Selain itu, ada kalimat walaa tajassasu, ayat ini mengajarkan kita untuk tidak menjadi “intel” bagi orang lain, kecuali dalam rangka untuk menunjukkan apresiasi dan empati kepada orang lain. Dalam ayat itu juga terdapat peringatan agar manusia tidak menggunjing satu sama lain. Diibaratkan Allah, barangsiapa yang mempergunjingkan orang lain itu sama saja dengan memakan bangkai saudaranya sendiri.

Komitmen Berlembaga

Memang benar bahwa mempertahankan jauh lebih sulit ketimbang meraih. Seorang juara untuk mempertahankan gelar yang sudah diraih akan memerlukan usaha yang lebih berat ketimbang perjuangan sebelumnya sewaktu gelar itu belum didapat. Ini ternyata berlaku di banyak hal, tidak hanya di kejuaraan olahraga tapi juga dengan jabatan politik dalam lembaga Negara, karier profesi dalam bisnis dan bahkan jalinan suami-istri dalam lembaga pernikahan. Untuk mendapatkan wanita idaman, seorang pria akan berusaha sekuat tenaga agar dapat menikahi wanita idamannya. Tapi dibading dengan usahanya itu, ketika menjadi suami, ia juga akan memerlukan usaha yang lebih ekstra dalam membina keluarga. Begitu juga dengan para calon pemimpin daerah hingga calon presiden akan memerlukan usaha yang lebih besar ketika sudah menduduki jabatan ketimbang usahanya ketika kampanye dalam menyampaikan janji-janji politiknya.

Membangun Kemesraan dan Cinta di Kenduri Cinta

SEORANG PRIA berbadan kekar, terdapat tattoo di lengan kanannya. Kaos yang dikenakan pun sepertinya memang ia pilih yang lengannya pendek, supaya tattoo tersebut dilihat orang. Orang lain yang pertama melihat sudah pasti akan berprasangka bahwa laki-laki bertatto itu adalah preman. Laki-laki itu memperkenalkan diri, Budi namanya. Di sesi awal Kenduri Cinta, ia memberanikan diri untuk…

Filter Prasangka

Prasangka buruk akan melahirkan kebencian, sedangkan prasangka baik sangat mungkin melahirkan rasa cinta. Jika sudah cinta, gelora semangat untuk dapat dekat memang sangatlah kuat, bukan hanya ingin dekat, bahkan mempertaruhkan segalanya pun sangat mungkin dilakukan. Meskipun terkadang ekspresi dari cinta menguasai diri untuk bertindak melewati batasan-batasan yang semestinya tidak dilanggar. Tapi siapa yang dapat disalahkan jika cinta mendorong orang untuk berusaha mendapatkan perhatian dari yang dicintai. Walaupun seringkali tindakan yang berlebihan dalam mengekspresikan cinta justru malah kontra produktif terhadap usahanya supaya mendapatkan perhatian dan kedekatan dari orang yang dicintai.