By Redaksi Kenduri Cinta

Mukadimah: BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Kita semakin terbiasa untuk hanya memperhatikan satu jengkal yang ada di depan mata. Jangankan untuk melihat cakrawala yang sedemikian luasnya, bahkan untuk memutar arah penglihatan, dan melatih daya pandang agar jarak pandang semakin jauh dan luas, kita enggan. Juga untuk memandang sebuah peristiwa dengan menggunakan metode thawaf, kita sama sekali kehilangan kepekaan itu. Apa yang dilihat di depan mata, itulah kebenaran yang diyakini. Kita sama sekali tidak terlatih untuk mampu membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan.

Hilangnya Kebijaksanaan

Sebuah kebenaran, jika disampaikan dalam bingkai kebaikan, maka akan melahirkan nuansa keindahan. Pesan yang benar, jika disampaikan dengan baik, akan menjadi indah. Namun hari-hari ini, kita sangat jarang mempertimbangkan aspek kebaikan, apalagi keindahan. Yang kita utamakan adalah bagaimana caranya agar kebenaran dapat tersampaikan. Informasi sebenar apapun, jika tidak disampaikan dengan cara yang baik, maka tidak akan berakhi dengan indah. Ketiga hal ini; benar, baik dan indah tidak bisa dipisahkan, jika estetika ini dipisahkan, selalu menghasilkan keburukan.

Terbiasa Melupakan

Ketika sebuah peristiwa baru saja terjadi, kemudian menjadi hype, sehingga hampir semua orang membicarakan peristiwa itu, sebenarnya yang terjadi bukanlah kita menghapus ingatan dari sebuah peristiwa yang sebelumnya terjadi. Yang kita lakukan hanya menyimpan ingatan itu, dan di kemudian hari ketika momentumnya tepat, kita akan kembali membuka ingatan itu.

Literasi Utama

MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Dialektika yang diselenggarakan di Maiyah adalah belajar bersama, sinau bareng, tidak ada konsep mengajar, karena mengajar hanyalah akibat dari proses belajar bersama. Adanya pihak yang bertanya kemudian ada pihak lain yang lebih menguasai informasi sehingga memberi tahu kepada yang belum tahu. Tidak ada proses mengajar, yang ada adalah proses belajar bersama. “Begitulah di Maiyah, tidak ada mu’allim, yang ada adalah muta’allim,” Cak Nun menjelaskan.

Menerka Sosok Sudrun

Catatan Tadabbur Esai “Kiai Sudrun Gugat” Jum’at 26 Oktober 2018, mendung menyelimuti kota Jakarta, suasana lalu lintas Jakarta menyambut akhir pekan terakhir dipenghujung bulan oktober sedang tepat pada klimaks kemacetanya. Sekitar tiga puluh tahun yang lalu Umbu Landu Paranggi menulis sebuah puisi bertajuk “Apa Ada Angin di Jakarta”. Sore itu suasana dalam puisi Umbu benar-benar…

Merahasiakan Aurat

Dalam khasanah Maiyah, aurat dipahami sebagai segala sesuatu yang harus ditutupi, yang tidak tergantung pada baik atau buruk, benar atau salah, indah atau jelek. Namun lebih luas dari itu. Dan aurat, bukan hanya persoalan fisik tubuh manusia semata.

Mengapa Tadabur? Mengapa Esai?

Bila Anda seorang Petani, yang mungkin tidak memiliki keahlian ilmiah teoritis akademis sebagaimana seorang ahli botani, pandangan anda pada padi mungkin sangat sederhana sebatas pada “Padi adalah sumber penghidupan” maka dari itu Anda akan berada pada kesungguhan hati menanam dan merawat padi dalam pengharapan dan rasa syukur kepada Yang Maha Kuasa.

Kesempatan Untuk Memanfaatkan Momentum

Kekuatan akan dikalahkan oleh kecepatan, dan kecepatan akan dikalahkan oleh momentum. Sekuat apapun tim sepakbola, mereka akan kalah oleh tim sepakbola yang memiliki pemain-pemain yang memiliki kecepatan. Namun meskipun sebuah tim sepakbola memiliki pemain-pemain yang mampu berlari cepat dan mampu mengambil keputusan dengan cepat, akan kalah oleh tim sepakbola yang mampu memanfaatkan momentum dengan baik. Semalam, dalam pertandingan sepakbola Piala Asia U-19 anatra Qatar berhadapan dengan Indonesia, kita menyaksikan betapa momentum yang dimiliki oleh anak-anak muda U-19 Indonesia berhasil dimanfaatkan dengan baik.

Mundur Selangkah Memahami Bumi Kembali

Kenduri Cinta ini bukan hanya sebuah majelis ilmu semata, nuansa egaliter yang sangat kental sangat terasa, sehingga siapapun saja asalkan datang dengan hati dan pikiran yang jernih, maka akan merasa nyaman seperti berada di rumah sendiri. Malam itu, Cak Nun bahkan hadir lebih awal dari biasanya, namun memutuskan untuk turut menikmati diskusi sesi awal, duduk di sayap panggung sebelah kanan bersama Pak Pipit Ruchiyat Kartawijaya. Pak Pipit adalah seorang sahabat lama Cak Nun ketika dahulu menggelandang di Jerman dan Belanda. Hubungan silaturahmi kedua sahabat ini terjalin sangat erat, hingga hari ini.

Bukan Kebenaran, Melainkan Kebijaksanaan

Apa yang kita alami hari ini adalah sebuah kultur sosial budaya dimana identitas manusia adalah sesuatu hal yang sangat di-primer-kan oleh manusia. Setiap orang justru kebanyakan lebih memperlihatkan siapa dirinya, apa profesinya, apa agamanya, apa titel akademisnya daripada kebijaksanaan yang muncul dari dirinya dari segala bekal latar belakang yang ia miliki.