Tagged reportase

Literasi Utama

BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Secara umum, preseden adalah kejadian yang sudah berlalu yang bisa dijadikan semacam referensi untuk melakukan kegiatan berikutnya. Sederhananya, preseden adalah peristiwa masa lalu yang menjadi pelajaran atau contoh. Preseden lalu dijadikan pertimbangan untuk mengambil keputusan. Allah pun mengingatkan untuk senantiasa melihat, mempelajari serta mengambil hikmah dari peristiwa-peristiwa lampau untuk dijadikan pedoman, tolok ukur dan referensi menuju kehidupan yang akan datang.

MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Dialektika yang diselenggarakan di Maiyah adalah belajar bersama, sinau bareng, tidak ada konsep mengajar, karena mengajar hanyalah akibat dari proses belajar bersama. Adanya pihak yang bertanya kemudian ada pihak lain yang lebih menguasai informasi sehingga memberi tahu kepada yang belum tahu. Tidak ada proses mengajar, yang ada adalah proses belajar bersama. “Begitulah di Maiyah, tidak ada mu’allim, yang ada adalah muta’allim,” Cak Nun menjelaskan.

INDOAUTONESIA

Maiyah adalah contoh bagaimana energi sulthon itu berfungsi. Tidak ada satu manusia pun yang mampu merencanakan Maiyah. Bagaimana orang berdatangan, duduk, bahkan ada yang berdiri. Menyimak paparan yang disampaikan, dan semua merasakan keindahan bersama. Bagi Cak Nun, inilah bukti bahwa energi sulthon itu ada. “Maka dengan Maiyah ini anda sebenarnya ditawari oleh Allah sulthon. Maka tidak mungkin Indonesia dengan tata nilainya membikin Maiyah, tidak mungkin. Maiyah ini adalah bukan anak dari Indonesia, ini adalah anak dari kehendak Allah Swt, dan inilah yang dinamakan laa tanfudhuuna illa bi sulthoon. Kamu tidak bisa menembus sesuatu di luar kebiasaan kecuali dengan sulthon,” lanjut Cak Nun.

“Maka saya tidak pesimis kepada Indonesia, asal anda setia dan sungguh-sungguh. Anda jangan menjadi orang yang lupa kepada dirimu, sehingga lupa kepada Allah. Atau lupa kepada Allah sehingga anda lupa kepada dirimu, karena anda akan mendapat kemenangan dari Allah, dan kemenangan itu adalah ashabul jannati humul faaizuun,” Cak Nun menyampaikan.

SERIGALA BERHATI DOMBA

“Ibarat salat, Anda ini bukan orang yang sudah taat kepada salat, tetapi orang yang sudah menikmati salat. Karena puncak dari salat itu sebenarnya bukan taat, melainkan nikmat. Maka saya tidak pernah mengajak untuk berbuat baik, yang saya ajak adalah menemukan kenikmatan dalam berbuat baik,” lanjut Cak Nun.

“Temukan kenikmatan dalam berbuat baik, bahkan ketika anda sedang diuji Allah dengan nasib buruk, anda harus mampu menemukan kenikmatannya,” Cak Nun terus membesarkan hati jamaah, mengajak untuk melangkah lebih maju dengan tidak menempatkan hidup hanya hari ini namun hidup abadi. Di Maiyah kita belajar kembali menemukan kebenaran yang tepat. Terus mengupayakan untuk berbuat baik. Pokoknya berbuat baik, entah nanti dapat apa dan kapan akan mendapatkannya.

TAK KUNJUNG NEGARA

Maiyah bukan dalam rangka membentuk negara, atau mengumpulkan massa untuk membikin partai politik. Maiyah membicarakan tentang bagaimana negara seharusnya berlaku, mencari kesejatian negara, mencari kebaikan untuk negara, sementara yang melakukan pencarian tentang itu semua sama sekali tidak memiliki kewajiban apa-apa dalam proses pengelolaan negara.

FASTABIQUL HAIBAT

Dalam kehidupan ini ada sesuatu yang memang hanya bisa dicapai dengan iman, bukan dengan ilmu. Ada sesuatu yang kita bisa mencapainya hanya dengan iman, karena tidak mungkin mencapainya dengan ilmu, sebab kita tidak bisa menghitungnya. Kenapa sesuatu itu dicapai dengan iman karena kita tidak bisa mencapainya dengan ilmu. Kenapa kita percaya? Karena kita tidak tahu. Niat berpuasa yang selalu kita lafadzkan adalah nawaitu shouma ghodin bukan nawaitu shiyama-l-ghodi, karena keperluan kita untuk menahan diri tidak makan, tidak minum, secara naluriah dapat dilakukan sehari-hari. Tetapi tidak dengan shoum. Shoum adalah dimensi puasa yang lebih luas dari sekadar shiyam. Puasa itu harus dikembangkan dari shiyam menjadi shoum.

JABABIROH

Jangan mengandalkan kebenaran anda, karena kebenaran sejatinya adalah milik Allah. Kebenaranmu hari ini bisa berbeda dengan kebenaran eesok pagi. Kebenaran adalah bahan mentah, ia bukan suguhan makanan. Kebenaran diolah dengan berbuat baik yang menghasilkan keindahan. Berbuat baik, bermanfaat bagi orang banyak dan hasilnya adalah keindahan. Puncak dari keindahan adalah cinta.

TUAN RUMAH DIRI SENDIRI

Pada konsep manusia ruang dan manusia perabot, jadilah ruang. Ruang adalah wilayah yang menampung perabotan (hardware). Konsep rumah tidak terletak pada fisiknya, melainkan ruangnya. Begitu juga kita sebagai manusia, jika kita mampu menjadi manusia ruang maka kita tidak akan disibukkan dengan hal-hal yang bersifat material, jadilah ruang yang menampung itu semua. Kesempitan terjadi sebab banyak manusia berpedoman pada dimensi perabot, dimana mereka harus mencari ruang yang tepat untuk menempatkan diri.

ANSHOR MAIYAH

Seluruh peristiwa dalam hidup ini adalah hijrah. Kita semua pada hakikatnya adalah muhajirin. Kita menjalani proses hijrah setiap hari. Kita berhijrah dari keadaan hidup hari kemarin menuju hidup hari ini. Jamaah Maiyah menolong dirinya sendiri, karena kita merangkap jabatan. Kita ini muhajirin sekaligus anshor. Di Maiyah kita melatih diri kita menjadi manusia yang mempunyai kedaulatan dan kemandirian serta keberanian hidup, meski tidak punya apa-apa.

AMENANGI ZAMAN NOW

Kita mencemaskan kematian pada banyak hal, kematian nilai, kematian ideologi, kematian akidah, tetapi kelahiran-kelahiran baru juga sedang berlangsung. Maiyah adalah kelahiran bagi Indonesia yang akan datang. Di Maiyah tercurah wacana-wacana keilmuan, khasanah, kebijaksanaan, nilai-nilai, yang sifatnya masih glepung, diperlukan pengolahan lebih lanjut agar menghasilkan padatan-padatan ilmu baru.