Tagged mukadimah

Mukadimah: PRESIDEN SEJATI, PUJANGGA ABADI

Maiyah menemukan 5 prinsip nilai yang patut untuk dimiliki oleh manusia untuk tetap menjaga kesejatian dirinya. Ke-5 prinsip nilai itu adalah; Kebenaran, Kesungguhan, Otentisitas, Kesetiaan dan Keikhlasan. Manusia yang mampu menjaga integritasnya untuk tetap berpegang teguh pada 5 nilai tersebut adalah manusia-manusia yang layak diteladani. Tidak, mereka bukan tokoh besar, mereka bukan  orang hebat, mereka adalah manusia yang memang telah memerankan jati dirinya sebagaimana yang Allah kehendaki terhadap mereka. Maka, siapapun saja yang mampu menjaga keutuhan 5 nilai tersebut di dalam dirinya adalah manusia-manusia yang layak untuk diberi penghormatan berupa Ijazah Maiyah.

Mukadimah: TANAH AIR ALLAH

Pada inti kesadaran bahwa manusia berasal dari tanah, dan segala sesuatu yang ada di alam semesta ini merupakan berasal dari diri Allah, maka pada kesadaran yang sama kita memiliki kepekaan pada hakikat bahwa kita juga berasal dari Allah. Maka sesungguhnya seluruh alam semesta ini adalah milik Allah, karena segala sesuatu yang ada berasal dari cipratan cahaya Allah itu sendiri.

“DOSA KEJUJURAN”

Kali ini, kita mencoba mundur satu langkah, menyelami makna kejujuran. Apa sebenarnya maksud dari kata jujur, atau kejujuran. Ada yang memiliki pendapat bahwa kejujuran adalah kesesuaian sikap antara perkataan dan perbuatan. Ada juga yang memiliki pendapat bahwa kejujuran adalah menyampaikan informasi sesuai dengan fakta yang sebenarnya. Jika A maka sampaikanlah A, jika B maka sampaikanlah B. Orang Islam sudah tidak asing lagi mendengar ungkapan Quli-l-haqqo walau kaana murron, katakanlah yang benar (jujur) meskipun itu pahit.

Mukadimah: AL-BIRR

Terhadap yang sedang dihadapi bangsa ini tidak cukup hanya di-khusnuzon-i bahwa retaknya persaudaraan, perpecahan, pertentangan, pertarungan bahkan perkelahian fisik terjadi hanya karena antara kebaikan dan kebaikan berbenturan karena perbedaan orientasi politik semata. Lelah dirasakan oleh masyarakat, dipaksa mengikuti ritual demokrasi dengan tontonan permusuhan, perdebatan dan kemarahan. Dan kita telah menyadari bahwa pecahnya tali persaudaraan bangsa Indonesia hari ini adalah ongkos mahal yang harus kita bayar untuk merayakan pesta demokrasi lima tahunan.

Mukadimah: NEITHER NOR

Berpihak kepada siapa kita sebaiknya? Kurawa atau Pandhawa? Apakah sudah pasti Pandhawa itu baik dan Kurawa itu buruk? Siapa yang lebih baik, Kresna atau Sengkuni? Dan hari ini, manakah yang lebih baik? Kiri atau Kanan? Sosialis atau Kapitalis? Radikal atau Liberal? Moderat atau Konservatif? Bahkan dulu, Bung Karno pernah menyatakan bahwa Sosialisme di Indonesia itu tidak sama dengan Sosialisme Uni Soviet, Cina, bahkan Yugoslavia. Kemana sebenarnya arah Negara ini akan dibawa? Kapitalis atau Sosialis? Nyatanya, Negara dan Pemerintah saja, kita masih gagap membedakan. Indonesia ini sebenarnya Republik atau Kerajaan? De jure-nya adalah Republik. De facto?

Mukadimah: “NABI DHOLIM”

Maukah kita menyadari bersama-sama bahwa diri kita ini pun sebenarnya belum lulus menjadi manusia? Manusia yang sejati adalah manusia yang tidak memerlukan aturan-aturan hukum untuk melakukan kebaikan dan meninggalkan perilaku yang buruk. Manusia yang sejati tidak membutuhkan ayat-ayat Al Qur’an, apalagi pasal-pasal hukum dalam Undang-undang hukum pidana, perdata atau apapun saja untuk memahami bahwa mencuri itu perbuatan yang tidak baik. Manusia yang sejati menemukan kesejatian hidup bahwa tugas utama hidup di dunia adalah berbuat baik kepada sesama makhluk ciptaan Tuhan.

Mukadimah: INDONESYARIAH

Seperti halnya kata Syariah ini. Dalam khasanah Bahasa Arab, kata Syariah berakar dari kata Syari’. Sebuah kata yang juga memilki arti kata yang sama dengan kata; Sabiil, Thoriq, dan juga Shiroth. Namun, meskipun semua kata itu memiliki makna yang sama, namun dalam Bahasa Arab setiap kata digunakan sesuai dengan peruntukannya. Tentu kita pernah mendengar ayat; Ud’u ilaa sabiili rabbika bi-l-hikmah wa jaadilhum billatii hiya ahsan. Dalam ayat tersebut, Allah tidak menggunakan kata Syari’, apalagi Thoriq, lebih-lebih Shiroth, tetapi yang digunakan adalah kata Sabiil.

Mukadimah: WARAS-ATUL ANBIYA

Masyarakat saat ini sedang sakit. Pendidikan generasi seolah hanya dibebankan pada institusi sekolah, tetapi para pendidiknya dibayar murah. Sebaliknya media massa menyajikan suguhan yang tidak mendidik. Hiburannya bukan untuk menggembirakan masyarakat, justru menghipnotis penonton untuk larut dalam fantasi-fantasi. Informasi yang disuguhkan bukan berdasarkan kebutuhan untuk menyampaikan informasi yang baik dan sehat. Rumusan bad news is a good news semakin nyata adanya. Kebudayaan tidak mengakar pada masyarakat, tapi sekadar menjadikan masyarakat sebagai konsumen pemuja sensasi-sensasi selebriti.

Mukadimah: BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Kita semakin terbiasa untuk hanya memperhatikan satu jengkal yang ada di depan mata. Jangankan untuk melihat cakrawala yang sedemikian luasnya, bahkan untuk memutar arah penglihatan, dan melatih daya pandang agar jarak pandang semakin jauh dan luas, kita enggan. Juga untuk memandang sebuah peristiwa dengan menggunakan metode thawaf, kita sama sekali kehilangan kepekaan itu. Apa yang dilihat di depan mata, itulah kebenaran yang diyakini. Kita sama sekali tidak terlatih untuk mampu membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan.

Mukadimah: MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Apakah peristiwa alam di bagian bumi tertentu di Indonesia adalah efek dari para pelaku kezaliman di daerah terdampak atau sebagai piweling pada manusia Indonesia lain yang saat ini berlaku zalim? Atau juga fenomena alam itu merupakan bagian dari sunnatullah memang dalam rangka manusia harus membayar “ongkos” agar tunainya kepasrahan kepada Tuhan? Masing-masing dari kita merdeka untuk menemukan jawabannya.