Tagged mukadimah

Mukadimah: BELAJAR MEMILIH PRESEDEN

Kita semakin terbiasa untuk hanya memperhatikan satu jengkal yang ada di depan mata. Jangankan untuk melihat cakrawala yang sedemikian luasnya, bahkan untuk memutar arah penglihatan, dan melatih daya pandang agar jarak pandang semakin jauh dan luas, kita enggan. Juga untuk memandang sebuah peristiwa dengan menggunakan metode thawaf, kita sama sekali kehilangan kepekaan itu. Apa yang dilihat di depan mata, itulah kebenaran yang diyakini. Kita sama sekali tidak terlatih untuk mampu membaca dan memahami ayat-ayat Tuhan yang tidak difirmankan.

Mukadimah: MAIYAH BUMI DAN MANUSIA

Apakah peristiwa alam di bagian bumi tertentu di Indonesia adalah efek dari para pelaku kezaliman di daerah terdampak atau sebagai piweling pada manusia Indonesia lain yang saat ini berlaku zalim? Atau juga fenomena alam itu merupakan bagian dari sunnatullah memang dalam rangka manusia harus membayar “ongkos” agar tunainya kepasrahan kepada Tuhan? Masing-masing dari kita merdeka untuk menemukan jawabannya.

Mukadimah: INDOAUTONESIA

Sebuah negara bisa mendapat predikat sebagai negara autopilot. Ini bukan berarti negara tanpa presiden, menteri, dan aparatur negara, lantas tetap dapat berjalan baik-baik saja. Yang terjadi, operasional negara sekedar menjalankan rute-rute rutinitas saja. Kebijakan pemerintah diprogram dan bergerak sekedar merespon situasional kondisi masyarakat dan perekonomian dunia. Pembangunan mengandalkan hutang luar negeri, bukan sebagai wujud pertumbuhan ekonomi yang benar-benar tumbuh dan mengakar dari rakyat. Negara sekedar sebagai alat transportasi untuk meraih tujuan-tujuan jangka pendek. Okelah kalau memang pesawat itu yang dikehendaki para pemangku pelaksana negara dan masyarakat saat ini.

Mukadimah: SERIGALA BERHATI DOMBA

Bangsa ini tidak benar-benar sedang membangun persatuan dan kesatuan, karena pada setiap individu para stake holder politik di Indonesia mengutamakan kepentingan individu dan kelompok masing-masing, yang tidak bermuara pada terwujudnya persatuan dan kesatuan bangsa. Perpecahan justru semakin disuburkan dengan pembagian faksi-faksi dalam masyarakat. Cebong dan Kampret, Bani Taplak dan Bani Serbet, Kaum Bumi Datar dan Kaum Bumi Bulat, Toleran dan Intoleran, Radikal, Moderat, dan Konservatif serta masih banyak lagi label-label yang mengantarkan masyarakat pada perpecahan yang semakin nyata.

Mukadimah: TAK KUNJUNG NEGARA

Proklamasi kemerdekaan lebih menyerupai sebuah klimaks perjuangan kemerdekaan untuk segera melepaskan diri dari penjajahan negara lain ketimbang lahirnya sebuah negara-bangsa. Setelah proklamasi pun tidak serta merta Republik Indonesia langsung diakui dan diterima oleh negara-negara tetangga dan mata dunia. Luas teritorial geografis Negara Indonesia pun berubah. Dengan dinamika politik nasional dan internasional, bentuk negara Indonesia pernah berubah bebeberapa kali bentuk kenegaraan dan konstitusinya. Republik Indonesia yang diproklamasikan tahun 1945, pada tahun 1949 pernah menjadi Republik Indonesia Serikat sebelum akhirnya kembali menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lepasnya Timor Leste di tahun 1999 berpengaruh terhadap luas teritorial georafis NKRI. Begitupun dengan perubahan UUD’45 di tahun 2002 yang juga sebenarnya telah merubah konstitusi negara. Selanjutnya, praktek demokrasi dengan pemilihan umum langsung nyata-nyata sangat berpengaruh terhadap legitimasi kekuasan pemerintahan lima tahunan terhadap negara.

Mukadimah: FASTABIQUL HAIBAT

Keinginan supaya dinilai hebat sering kali menjadi beban. Padahal, asalkan konsisten yang dilakukan benar dan dijalankan sebaik mungkin, pengakuan kehebatan bakal menjadi efek dari yang diusahakan. Justru manakala pengakuan kehebatan dijadikan tujuan perbuatan, ketika yang dilakukan tidak mendapat tanggapan positif dari orang lain akan muncul kekecewaan. Alih-alih meneruskan kebaikan yang sudah jalan, bisa jadi berhenti dan enggan untuk melanjutkan.

Mukadimah: JABABIROH

Para pendahulu kita menyebutnya sebagai Jababiroh. Jababiroh adalah zaman yang menganut kebebasan menjadi sebuah sikap yang diberhalakan. Perilaku maksiat, fitnah, kebohongan, dusta, ketidakadilan, keserampangan adalah hal yang biasa terjadi dan dimaklumi oleh siapa saja. Jababiroh, zaman dimana ummat Islam di seluruh penjuru dunia adalah ummat yang paling banyak jumlahnya, namun kuantitas itu ibarat buih yang tampak di permukaan laut. Semua orang berteriak lantang memperjuangkan Islam, namun pada perjuangan itu hanyalah sebatas pemuasan kepentingan kelompoknya semata. Jargon-jargon khas Agama hanya menjadi gincu pemanis saja.

Mukadimah: SERIBU BAYANG PRASANGKA

Kebencian maupun fanatisme yang berlebihan adalah akibat dari tidak seimbangnya informasi yang kita dapatkan. Fanatisme yang berlebihan tentu saja tidak menyehatkan bagi kita, begitu juga dengan kebencian yang berlebihan. Sementara dalam hidup kita, meskipun Allah membekali kita ayat; wa ‘asaa ‘an takrohu syaian wa huwa khoirun lakum wa ‘asaa ‘an tuhibbu syaian wa huwa syarrun lakum, toh pada kenyataannya prasangka dalam diri kita lebih dominan untuk menentukan mana yang baik dan mana yang buruk bagi kita. Bahkan tidak jarang, yang menjadi pertimbangan baik atau buruk untuk kita adalah sesuatu yang kita sukai. Kita menganggap sesuatu itu baik, karena memang kita menyukainya. Kita menganggap sesuatu itu buruk karena kita membencinya.

Mukadimah: TUAN RUMAH DIRI SENDIRI

mukadimah kenduri cinta edisi maret 2018 DALAM RUKUN IMAN terdapat pasal Iman kepada Qadla dan Qodar. Dalam menjalani kehidupan manusia, apa yang dialami oleh manusia adalah nasib atas dirinya. Dalam mekanisme Qadla dan Qodar ini, Allah memberikan sedikit keleluasaan kepada manusia untuk berjuang, sehingga manusia juga memiliki sensitifitas dalam dirinya untuk mengidentifikasi manakah nasib yang…

Mukadimah: ANSHOR MAIYAH

Dalam sebuah riwayat, Rasulullah saw pernah bersabda; Innamaa-l-a’maalu bi-n-niyaat, wa innamaa likulli-m-riin ma nawaa. Faman kaanat hijrotuhu ilallahi wa rasulihi fahijrotuhu ilallahi wa rasulihi. Waman kaanat hijrotuhu ilaa dunya yushiibuha wa imroatin yankihuhaa fahijrotuhu ilaa ma hajaro ilaihi. Sebuah hadits yang maknanya begitu dalam, bahwa sebuah perbuatan seseorang itu tergantung pada niatannya. Hadits tersebut sangat relevan dengan situasi Maiyah hari ini, apa sebenarnya yang mendasari kita untuk datang ke Maiyah? Apa niatan kita? Tegas Rasulullah saw dalam hadits tersebut menyatakan bahwa apabila kita dalam melakukan sesuatu itu berdasarkan niatan karena ingin bertemu dengan Allah dan Rasulullah, maka kita akan menemui Allah dan Rasulullah. Apakah niatan kita datang ke Maiyah juga demikian?