Mukadimah : BELENGGU PEMIMPIN

SEBUTAN UNTUK jabatan pemimpin bisa lurah, ketua, komandan,  raja, presiden, direktur, atau berbagai sebutan-sebutan pemimpin lainnya. Setiap sebutan itu memiliki pemaknaan dan ke-khasan tersendiri terkait fungsi jabatan dan teritorial kepemimpinannya. Termasuk seorang suami sebagai kepala keluarga juga adalah seorang pemimpin dalam wilayah keluarganya. Atau dalam khasanah Islam terdapat pakem; kullukum raa’in wa kullukum mas’uulun ‘an ra’iyyatihi.

Jabatan pemimpin bisa saja hanya melekat sebagai identitas pada seseorang. Tidak jarang sebuah jabatan diduduki oleh orang yang sebenarnya tidak benar-benar memiliki kemampuan yang memadai sebagai pemimpin pada jabatan itu. Padahal kualitas kepemimpinan tidak serta-merta diperoleh manakala jabatannya melekat. Jabatan semacam ini sekadar sebagai simbolik. Mungkin secara organisasi tidak masalah, selama setiap anggota menyadari bahwa jabatan pemimpin mereka hanyalah simbolik. Bahkan bagi orang-orang yang berkepentingan pada organisasi itu bisa saja keberadaan pemimpin simbolik semacam ini menguntungkan bagi mereka dan bahkan dipelihara. Namun bagi si pejabat, jabatan pemimpin simboliknya itu menjadi belenggu bagi dirinya.

Idealnya, seorang pemimpin tumbuh seiring dengan pengalaman diri personal si pemimpin itu selama berinteraksi dengan orang-orang yang berada pada wilayah kepemimpinannya. Konsep Ing ngarso sung tulodho, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani dipraktekkan dalam kehidupan sehari-hari sebagai pengalaman personal si pemimpin bersama dengan orang-orang yang berdasarkan pengalaman personalnya juga mengakui kepemimpinan dari si pemimpin itu. Pemimpin yang tumbuh semacam ini tidak membutuhkan pencitraan untuk memperluas teritorial kepemimpinannya, karena citra kepemimpinan pemimpin yang sejati dengan sendirinya akan terpancar dan dengan mudah diakui oleh rakyat yang sukarela untuk dipimpin. Jika yang terjadi di saat ini kita belum mendapatkan pemimpin yang sejati, kemungkinan ada belenggu pada diri kita untuk berjumpa dengan sang pemimpin. Pemimpin yang ketika di depan menjadi tauladan, di tengah turut bekerja dan ketika di belakang senantiasa mendukung.

Laqod kholaqna-l-insaana fii ahsani taqwiim, tsumma rodadnaahu asfala saafiliin, illalladziina aamanuu wa ‘amilu-s-shoolihati, lahum ajrun ghoiru mamnuun. Di zaman orang-orang mengedepankan manteri, mementingkan uang dan menumpuk harta bagi diri sendiri, kondisi ini akan semakin membelenggu setiap orang untuk menjadi pemimpin ataupun untuk menemukan pemimpin yang sejati. Ketika Ing ngarso mentingke bondho, ing madyo namung yarta, tut wuri do karupsi, keberadaan kepemimpinan ditengah masyarakat menjadi semakin kabur. Tidak lagi ada yang dapat dijadikan pusaka dalam kehidupan, karena berbagai hal diukur menggunakan ukuran kepenguasaan ekonomi. Manusia adalah makhluk Allah yang paling sempurna penciptannya dibandingkan dengan makhluk-makhluk yang lain. Dengan segala kelengkapan komponen dalam dirinya, baik hardware  maupun software, manusia memiliki pilihan untuk tetap berada pada level  ahsanu taqwiim atau justru jatuh terprosok dalam  asfalaa saafiliin.

Beruntunglah rakyat sebuah negeri yang dicintai dan mencintai pemimpinnya. Ukuran jalinan cinta antara pemimpin dan rakyat bukan atas dasar dibangunnya infrastruktur mewah nan megah, melainkan bagaimana supaya rakyat tidak merasa terjajah. Bukan sekadar luasnya jalan-jalan untuk menampung banyaknya kendaraan, namun keadilan distribusi kesejahteraan bagi seluruh rakyat. Pemimpin yang mengutamakan kepentingan rakyat ketimbang kepentingan pribadinya. Berhati-hati dalam menjalankan amanah karena jabatannya adalah menjadi perpanjangan Kekuasaan Tuhan di muka bumi.

Jika kita menggunakan terminologi Manunggaling kawulo gusti, maka didalam hati seorang Pemimpin, Tuhan bersama rakyat bersemayam. Jika ia berkhianat terhadap amanat yang ia bersumpah atas nama Tuhan, maka Tuhan akan memberikan adzab kepada rakyatnya. Jika ia menyakiti rakyatnya, maka Tuhan pun akan sakit hati. Memang, yang kita butuhkan adalah Pemimpin yang biso rumongso, bukan Pemimpin yang rumongso biso. Seorang Pemimpin yang sejati tidak boleh merasa bahwa dirinya adalah yang paling mampu menyelesaikan persoalan. Ia harus mampu menaklukan dirinya agar tidak dikuasai nafsu dalam dirinya.

Setiap anak keturunan Adam AS, hakikatnya diciptakan supaya menjadi Khalifatull fil Ard. Proses evolusi dari kebendaan, tetumbuhan, hewani, insan manusiawi, menghamba pada Illahi Rabbi, hingga benar-benar menjadi wakil Tuhan dimuka bumi merupakan rangkaian panjang evolusi material dan proses panjang terbentuknya kebijaksanaan berdasarkan pengalaman personal yang dialami setiap individu.

Ditengah kehidupan masyarakat global yang masih berkutat dari evolusi hewani menuju evolusi insani, individu-individu yang menjajaki evolusi meng-abdullah atau yang mulai menapaki langkah-langkah khalifatullah akan terbelenggu. Sedangkan untuk mengimplementasikan Demokrasi sebagai wujud evolusi peradaban manusiawi sahaja masih tidak kunjung nampak ditengah masyarakat. Masih saja praktek-praktek memangsa, mengintimidasi, presekusi, bahkan genoside masih terjadi. Para pemimpin yang semestinya menjadi perpanjangan Tangan Tuhan pada kondisi semacam ini akan keropotan karena terbelenggu oleh berbagai kepentingan. Agar jangan sampai terjun bebas menjadi  ulaaika kal an’am, bal hum adhollu.

Sejarah mencatat berbagai bentuk dan model wujud kepemimpinan dari mulai kerajaan, kekaisaran, dan berbagai model pemerintahan negara modern yang berlaku dizaman ini. Setiap model terbentuk dan diuji berdasarkan kondisi masyarakat pada teritorial dan zamannya. Zaman berganti zaman, setiap pergantian model kepemimpinan diharapkan merupakan rangkaian yang berkelanjutan untuk kehidupan masyarakat yang lebih baik. Tidak dapat dipastikan sebuah model mana yang terbaik pada zaman apa, namun setiap wilayah memiliki kekhasannya. Milenium ini banyak ahli tata negara yang mengagungkan demokrasi dari barat, bahkan setiap negara yang menolaknya akan dimusuhi. Adakah diantara mereka yang tidak tahu bahwa Kerajaan Inggris Raya ada di Barat?

Sultan, Raja, Ratu, Prabu dan berbagai sebutan untuk pemimpin masyarakat itu sepertinya sudah di ambang masuk kedalam museum perpolitikan Nasional Indonesia. Pusaka-pusaka sakti itu dilupakan oleh masyarakat yang semakin tenggelam dalam modernisasai. Ibarat pohon sejarah yang tercerabut dari akarnya, jangan harap untuk tumbuh. Paling kita hanya menyaksikan balok-balok kayunya dipenggal dan dipotong-potong guna perabotan. Akan semakin pupus harapan jika yang terjadi akarnya sengaja kalis dari buminya.

Setelah tema Perjalanan Kebahagiaan pada bulan lalu, Kenduri Cinta episode September 2017 bertema Belenggu Pemimpin. Tema ini sebagai payung bahasan dalam majelis Ilmu Masyarakat Maiyah Kenduri Cinta yang senantiasa berusaha untuk tetap megokohkan akar sejarah guna menegakkan cinta menuju Indonesia mulia.