MALAM itu angin pelan bergerak di halaman. Kursi-kursi belum sepenuhnya kosong setelah forum Maiyah bubar. Beberapa orang masih bercakap kecil sambil menyeruput kopi yang mulai dingin. Di kejauhan terdengar suara motor lewat dan sesekali tawa anak-anak muda yang belum ingin pulang.
Aku duduk di samping sosok yang aku kenal dulu, ketika beliau menjadi atase haji di Jedah dan berlanjut di Negeri Maiyah: Muhammad Nursamad Kamba. Beliau tersenyum kecil sambil memandangi langit. “Sampean kelihatan capek,” katanya pelan. Aku tertawa kecil. “Kadang saya capek bukan karena kerja, Syeikh… tapi karena terlalu banyak suara di kepala.”
“Suara siapa?” “Suara dunia. Suara media sosial. Suara orang-orang yang merasa paling benar. Kadang agama pun ikut jadi bising.” Beliau mengangguk pelan. “Itulah kenapa manusia perlu hening. Bukan untuk lari dari dunia, tapi supaya tidak tenggelam di dalamnya.”
Aku terdiam. Di hadapanku, wajah Syeikh Kamba terlihat tenang. Tidak seperti orang yang sedang berusaha meyakinkan siapa pun. Ia bicara seperti seseorang yang sedang menyiram tanaman.
“Saya sering bingung,” kataku. “Mengapa banyak orang rajin beragama, tapi mudah marah dan membenci?” Beliau tersenyum tipis. “Karena mereka berhenti di kulit agama.” “Maksudnya?” “Agama itu jalan pulang menuju kasih sayang. Tapi banyak orang malah menjadikannya identitas untuk meninggikan diri.”
Beliau mengambil gelas tehnya perlahan. “Orang yang benar-benar dekat kepada Tuhan biasanya justru takut menyakiti manusia.” Aku memandangi wajahnya lama. “Jadi tasawuf itu apa sebenarnya, Syeikh? Banyak orang menganggap tasawuf itu menjauh dari dunia.”
Beliau tertawa kecil. “Kalau tasawuf membuat kita meninggalkan manusia, mungkin itu hanya kesunyian ego yang diberi nama spiritualitas.” Aku mengernyit. “Lalu?” “Tasawuf itu belajar membersihkan hati supaya kehadiran kita membuat orang lain merasa aman.”
Angin malam bergerak lebih dingin. Dari kejauhan terdengar suara sendok beradu dengan gelas. Beliau melanjutkan: “Kalau setelah beribadah seseorang makin sombong, makin mudah menghakimi, mungkin yang tumbuh bukan cinta kepada Allah… tapi cinta kepada dirinya sendiri.”
Aku menarik napas panjang. “Kadang saya takut kepada Tuhan, Syeikh.” “Takut yang bagaimana?” “Takut tidak diterima. Takut salah. Takut dianggap kurang saleh.” Beliau menatapku lama sekali, seperti sedang memastikan kata-katanya mendarat dengan lembut.
“Tuhan bukan algojo yang menunggu kesalahan kita.” Aku diam. “Manusia sering mewarisi gambaran Tuhan dari ketakutan-ketakutan sosial. Padahal cinta Allah jauh lebih luas daripada kemampuan manusia memahami-Nya.”
“Maka itu sampean bicara tentang mencintai Allah secara merdeka?” Beliau mengangguk. “Merdeka artinya mencintai Tuhan tanpa transaksi.” “Tanpa berharap surga?” “Bukan begitu. Tapi cinta yang dewasa tidak lahir dari ancaman.” Beliau tersenyum kecil.
“Kalau seorang anak hanya mencintai ibunya karena takut dipukul, itu belum cinta.” Kalimat itu menancap lama di kepalaku. Malam semakin larut. Orang-orang mulai pulang satu per satu. Tinggal suara jangkrik dan lampu temaram. Aku bertanya lagi. “Syeikh… kenapa sekarang agama terasa keras?” Beliau terdiam cukup lama sebelum menjawab.
“Karena banyak orang memakai agama untuk menutupi luka batin dan rasa takutnya.” Aku menghela napas. “Dan kekuasaan sering memanfaatkan itu.” Beliau mengangguk perlahan. “Agama yang kehilangan cinta akan mudah diperalat menjadi alat marah.”
“Tapi bagaimana menghadapi semua itu?” Syeikh Kamba tersenyum sangat tenang. “Jangan ikut menjadi keras.” “Sesederhana itu?” “Sulit. Tapi itulah jihad batin.” Beliau menatap langit. “Manusia modern sibuk memenangkan perdebatan, tapi lupa menyelamatkan hatinya sendiri.” Aku tertawa kecil pahit. “Itu saya banget.” “Tidak apa-apa,” katanya lembut. “Semua orang sedang belajar pulang.”
Aku memandangi halaman yang mulai sepi. “Syeikh, menurut sampeyan apa tanda seseorang mulai mengenal Tuhan?” Beliau menjawab pelan sekali: “Hatinya menjadi lebih lembut kepada makhluk.”
Aku terdiam lama. Dan malam itu aku merasa, mungkin spiritualitas bukan tentang menjadi manusia suci, melainkan belajar menjadi manusia yang tidak lagi menikmati kebencian. Di ujung percakapan, Syeikh Kamba berdiri perlahan. Sebelum melangkah pergi, beliau menepuk pundakku.
“Jangan terlalu sibuk terlihat saleh.”
Aku tersenyum. “Lalu?”
“Berusahalah menjadi rahmat kecil bagi sekitar.”






