MINGGU sore sangat cerah, tetapi berdebu. Halaman tanah liat di depan rumah, pot-pot bunga, dan rumput liar tampak meranggas. Sudah lebih dari sebulan hujan tak turun.
“Hai, Mas!”
Tetangga depan rumah mengagetkan.
“Ya, kemana?”
“Biasa. Jadwal tambahan. Ada kuliah malam.”
Belum habis sebatang rokok saya nikmati, deru sepeda motor memaksa menoleh.
“Ngopo, Tok?”
Sapa saya pura-pura bego.
Yang datang Antok, seksi sibuk Biro Jawa Pos Yogyakarta. Masih pemuda tanggung. SMA pun tak sempat tamat. Oleh pamannya Antok dibawa ke Yogya untuk membantu pekerjaan di kantor media itu. Kelak Antok menjadi wartawan sungguhan. Sempat berkarier di Tabloid DeTIK, lalu di sebuah majalah berita di Jakarta.
“Kopinya dong, Mas!”
Tanpa menjawab pertanyaan, Antok malah menagih kopi.
“Sik yo, tak tengok sebentar.”
Jawaban saya juga melenceng. Maksudnya, menengok Cak Nun di kamar.
Lampu kamar belum dinyalakan. Ruangan remang-remang. Pelan-pelan saya menggeser pintu kamar. Sedikit cahaya dari lubang angin membantu mata saya mencari arah ke tempat tidur. Kelihatannya masih lelap. Saya hendak menutup pintu kembali ketika terdengar suara dari dalam.
“Ngopo?”
“Antok, Cak. Jawa Pos.”
“Bengi wae. Nanti ke Malioboro.”
“Ya, Cak.”
Buruan saya infokan ke Antok. Tulisan untuk edisi Senin memang belum ada. Padahal esok pagi harus sudah sampai ke Surabaya.
Malamnya, sekitar pukul sembilan, beberapa kawan mulai berdatangan ke Patangpuluhan. Ada mahasiswa, seniman, aktivis, bahkan pengangguran profesional.
“Yuk, rek, ke Malioboro!”
Berdesakan kami berangkat. Enam orang masuk ke sedan Mitsubishi Gallant biru telur milik Cak Nun. Sisanya berboncengan naik motor.
Cak Nun memang termasuk pengemudi handal, tarikannya sangat halus. Tidak suka menyetir tergesa-gesa. Karena itu Cak Nun juga agak rewel jika menumpang mobil yang dikemudikan secara sembrono.
Kantor Biro Jawa Pos berada di ujung utara Jalan Malioboro, tak jauh dari Hotel Garuda. Begitu sampai, Cak Nun langsung berseru,
“Ayo, rek, makan-makan. Pesan!”
Yang lain segera menuju lesehan. Memilih menu masing-masing. Sementara itu Cak Nun dan saya masuk ke dalam kantor.
Di sana hanya ada dua komputer. Satu dipakai untuk menulis dan mengedit berita. Satu lagi untuk mengirim naskah ke Surabaya melalui modem. (Pada era ketika mengirim teks lewat email belum lazim, saat itu menggunakan teknologi modem untuk menghubungkan komputer ke jaringan telepon).
“Bentar ya, Cak. Lima menit lagi.”
Seorang wartawan yang sedang mengetik meminta waktu.
“Sip. Teruskan wae.”
Seseorang menyuguhkan kopi.
“Suwun, Rek.”
Tak lama kemudian komputer kosong.
Cak Nun membawa secangkir kopi dan sebatang rokok ke depan layar. Mulailah mengetik. Tak ada catatan. Tak ada konsep. Tak ada tumpukan referensi. Hanya kopi, rokok, dan layar komputer.
Yang lain ngobrol ke sana kemari. Belum sempat dua batang rokok habis, Cak Nun sudah berdiri.
Setengah cangkir kopi pun masih tersisa.
“Tok, wis rampung iki.”
Antok yang menerima naskah langsung tersenyum lebar.
“Beres, Cak. Suwun!”
Selesai. Sesederhana itu. Padahal tulisan yang ditunggu-tunggu untuk terbit esok pagi baru saja lahir beberapa menit sebelumnya. Cak Nun lalu keluar menemui kawan-kawan yang sedang cakrukan di lesehan Malioboro. Soal siapa yang akan membayar makan malam, itu urusan nanti.
Kadang Cak Nun yang mentraktir semua. Kadang Kepala Biro Jawa Pos yang sedang murah hati.
Kadang entah siapa. Yang jelas, urusan yang paling penting malam itu sudah beres. Tulisan yang sejak sore ditagih akhirnya jadi.
Dan seperti sering saya saksikan, sesuatu yang bagi orang lain mungkin membutuhkan berhari-hari persiapan, bagi Cak Nun cukup ditemani dua batang rokok dan setengah cangkir kopi.






