Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
Home Esensia

Merawat Jiwa di Pasar Atensi

Maulana Bayu Isnarofik by Maulana Bayu Isnarofik
September 7, 2026
in Esensia
Reading Time: 10 mins read
Merawat Jiwa di Pasar Atensi

“Kelimpahan informasi menciptakan kemiskinan perhatian.”—Herbert A. Simon, Peraih Nobel Ekonomi, 1971

Pada 1971, jauh sebelum internet lahir, seorang ekonom bernama Herbert A. Simon menuliskan sebuah kalimat yang terasa seperti ramalan, bahwa dunia yang kaya informasi dengan sendirinya akan menciptakan dunia yang miskin perhatian. Perhatian manusia, katanya, adalah sumber daya yang terbatas. Ketika informasi membanjir tanpa batas, yang dikorbankan pertama-tama adalah kemampuan kita untuk benar-benar memperhatikan sesuatu.

Lima puluh tahun berlalu. Simon tidak lagi di sini. Tapi, ramalannya sedang kita jalani, setiap hari, di dalam genggaman kita.

Ini tidak hanya berhenti pada diagnosis semata. Masalah sudah cukup banyak dibicarakan. Yang lebih mendesak adalah, “Setelah kita tahu semua ini, apa yang bisa kita lakukan?” Bagaimana kita tidak sekadar mengeluh tentang arus, tapi mulai belajar berenang dengan lebih bijak?

Ketika Atensi Menjadi Komoditas

Dalam ilmu ekonomi, istilah attention economy merujuk pada sistem di mana perhatian manusia diperlakukan sebagai komoditas yang diperjualbelikan. Thomas H. Davenport dan John C. Beck, dalam karya mereka yang berpengaruh di Harvard Business School (2001), mendefinisikan atensi sebagai keterlibatan mental yang terfokus pada satu butir informasi tertentu. Definisi sederhana ini menyimpan implikasi yang besar, jika perhatian adalah sumber daya, maka ia bisa diperebutkan, bisa dikuras dan dieksploitasi.

Dan itulah yang persis sedang terjadi.

Sebuah laporan yang terbit pada April 2026 mengingatkan bahwa tidak ada kecerdasan buatan yang bisa menciptakan lebih banyak jam dalam sehari, tidak ada algoritma yang bisa menghasilkan lebih banyak atensi manusia. Keterbatasan itulah yang membuat atensi begitu berharga dan menjadikannya target utama industri platform digital yang nilainya mencapai ratusan triliun dolar.

Mekanisme platform digital tersebut halus namun sistematis. Algoritma untuk memaksimalkan keterlibatan yang selama mungkin di dalam platform. Konten yang memantik amarah, kecemasan, dan rasa ingin tahu primitif mendapat distribusi lebih luas karena respons emosional menghasilkan lebih banyak klik, komentar, dan waktu layar. Dalam logika ini, polarisasi bukan efek samping yang tidak diinginkan, ia adalah fitur yang menguntungkan.

Filsuf Byung-Chul Han menyebutnya sebagai kondisi di mana manusia terdegradasi menjadi ternak data dan ternak konsumen. Shoshana Zuboff, dalam The Age of Surveillance Capitalism (2019), mengurai lebih rinci bagaimana pengalaman hidup manusia setiap klik, setiap jeda, setiap pencarian tengah malam dipanen sebagai bahan baku, diproses menjadi model prediksi perilaku, lalu dijual kepada pengiklan. Kita bukan pengguna platform. Kita adalah produknya.

Data yang Tidak Boleh Diabaikan

Indikator-indikator dalam penggunaan ruang digital perlu kita tatap dengan jujur. Per Januari 2025, jumlah pengguna aktif media sosial di Indonesia telah mencapai 143 juta jiwa, dengan rata-rata waktu penggunaan 3 jam 8 menit per hari.  Ini bukan angka statis ia terus tumbuh setiap tahun.

Di lapisan psikologis, dampaknya mulai terlihat nyata. Survei Pew Research Center pada akhir 2024 menemukan bahwa 48% remaja Amerika percaya media sosial berdampak negatif bagi generasi mereka meningkat signifikan dari 32% beberapa tahun sebelumnya.  Angka ini penting karena ia menunjukkan tren global yang tengah bergerak. Bahkan, generasi yang tumbuh bersama platform-platform media sosial kini semakin kritis terhadap diri mereka sendiri dan ekosistem digital yang mereka tinggali.

Dalam konteks Indonesia, riset yang diterbitkan di International Seminar of Islamic Counseling and Education (2025) menegaskan bahwa meskipun teknologi memperluas akses terhadap informasi, konsumsi berlebihan berkontribusi pada stres, kecemasan, dan berbagai gangguan mental lainnya. Studi ini menekankan bahwa teknologi digital bukan sekadar alat atau sarana; ia memiliki dampak sosial, ekonomi, politik, dan kesehatan yang signifikan dan tidak bisa diabaikan.

Data dari Collaborative Center 2024, sebagaimana dikutip dalam Laporan Pusat Analisis Keparlemenan DPR RI (Juli 2025), menunjukkan bahwa 34 persen siswa SMA di DKI Jakarta mengalami gejala burnout digital kelelahan yang dipicu oleh ketergantungan pada teknologi yang mengurangi interaksi sosial nyata dan melemahkan keterampilan berpikir kritis. Ini adalah gejala struktural dari masyarakat yang belum memiliki ekologi batin yang memadai untuk merespons kecepatan transformasi digital.

Krisis Epistemologis dan Pendangkalan Makna

Di balik statistik-statistik itu, ada masalah yang lebih dalam secara filosofis, sebuah krisis epistemologis krisis dalam cara kita mengetahui, memahami, dan memaknai dunia.

Epistemologi, sebagai cabang filsafat yang mengkaji hakikat pengetahuan, mengajarkan bahwa pengetahuan yang sejati membutuhkan lebih dari sekadar paparan terhadap data. Ia membutuhkan proses kontemplasi, verifikasi, internalisasi, dan pemaknaan. Proses-proses itu membutuhkan waktu. Mereka tidak bisa diakselerasi tanpa kehilangan sesuatu yang esensial.

Tapi sistem digital hari ini beroperasi atas prinsip yang berlawanan: kecepatan adalah nilai tertinggi, kebaruan adalah standar relevansi, dan kedalaman adalah hambatan bagi viralitas. Akibatnya, kita hidup dalam kondisi yang oleh para peneliti disebut sebagai cognitive overload  di mana otak manusia tidak mampu memproses, memilah, dan memaknai arus informasi yang datang lebih cepat dari kemampuan kita mengolahnya.

Dalam tradisi keilmuan Islam, kondisi ini bisa dibaca sebagai terputusnya hubungan antara ‘ilm (pengetahuan) dan ‘aql (akal yang matang)  sebuah koneksi yang tidak bisa terjadi dalam laju kecepatan algoritma, melainkan hanya melalui keheningan yang disengaja, perenungan yang tekun, dan percakapan yang sungguh-sungguh. Itulah sebabnya tradisi keilmuan kita selalu menekankan adab sebelum ilmu: karena pengetahuan tanpa karakter batin yang siap menerimanya hanya akan menjadi bising belaka.

Dari sudut pandang psikologi kognitif, kondisi ini menghasilkan apa yang dikenal sebagai continuous partial attention tidak pernah penuh pada satu hal, selalu bersiaga untuk beralih ke stimulasi berikutnya. Ilmuwan neurosains menemukan bahwa kondisi ini tidak hanya memengaruhi konsentrasi jangka pendek, tapi juga secara perlahan mengubah arsitektur otak melemahkan kemampuan berpikir mendalam dan memperkuat kecenderungan menuju pikiran yang dangkal dan reaktif.

Dari Konsumen Pasif Menuju Subjek yang Berdaulat

Inilah titik balik yang perlu kita bicarakan. Alih-alih hanya menjadi korban pasif dari sistem, kita harus mulai merebut kembali kedaulatan atas diri sendiri.

Saya ingin mengusulkan sebuah kerangka yang saya sebut ekologi batin, sebuah pendekatan holistik terhadap kesehatan jiwa di era digital, yang tidak berhenti pada digital detox (yang sifatnya sementara dan individualistis), tetapi bergerak menuju pembangunan kapasitas internal yang berkelanjutan.

Ekologi batin bekerja pada empat lapisan:

Pertama, lapisan kesadaran kognitif. Kemampuan menelaah informasi secara kritis inilah yang wajib kita asah—siapa yang membuatnya, untuk tujuan apa, dengan kepentingan apa, dan apa yang tidak ditampilkan. Yang menjadi inti dari literasi digital sebenarnya bukanlah kecakapan mengoperasikan teknologi, melainkan ketahanan batin agar tidak dikendalikan olehnya.

Riset yang diterbitkan di Jurnal Psikologi dan Konseling West Science (2023) menegaskan bahwa kemampuan berpikir kritis terhadap konten digital adalah faktor protektif yang signifikan terhadap dampak negatif media sosial. Artinya, solusinya bukan menghindari digital, tapi meningkatkan kualitas relasi kita dengan dunia digital.

Kedua, lapisan regulasi perilaku. Tata kelola waktu digital harus dirancang secara sadar melalui intentional design yang lebih dari sekadar pembatasan kaku. Justru dari pendekatan reflektif dan empatiklah kesadaran berteknologi dapat bertumbuh efektif, sebagaimana dibuktikan oleh penelitian digital well-being Maulidia dkk. (2024).

Langkah praktisnya sederhana: Menetapkan device-free hours di momen-momen relasional yang penting, mematikan notifikasi secara selektif, atau sekadar memulai pagi tanpa menggulir layar selama tiga puluh menit pertama di pagi hari.Di sinilah kesadaran diberi ruang untuk bertumbuh wajar. Di sinilah bising digital dapat diredam sebelum menguasai hari.

Ketiga, lapisan komunitas dan relasi. Ini yang paling sering luput dari diskusi digital well-being yang berpusat pada individu. Manusia adalah makhluk relasional, kesehatan jiwanya tidak bisa dilepaskan dari kualitas hubungannya dengan sesama. Forum-forum Maiyah di berbagai simpul adalah contoh nyata bagaimana ruang perjumpaan fisik yang autentik—penuh percakapan langsung, keheningan bersama, dan kehadiran yang utuh—menjadi antidot organik terhadap fragmentasi sosial yang ditimbulkan oleh ekosistem digital.

Ini sejalan dengan temuan riset Yale School of Medicine (Maret 2026) yang menekankan bahwa dampak media sosial tidak bisa dibaca secara homogen, konteks sosial dan kualitas dukungan komunitas adalah variabel yang sangat menentukan apakah seseorang tahan atau rentan terhadap tekanan digital.

Keempat, lapisan spiritual dan kontemplatif. Ini adalah lapisan terdalam, yang dalam tradisi kita paling kaya sumber dayanya namun paling jarang dibicarakan dalam wacana digital. Praktik-praktik seperti tafakur, muhasabah, meditasi, dan berbagai bentuk kontemplasi tradisional adalah, dalam bahasa neurosains kontemporer, latihan attentional control yang terbukti secara ilmiah memperkuat kemampuan fokus, meningkatkan regulasi emosi, dan membangun ketahanan psikologis.

Curtin University dalam risetnya yang diterbitkan di Social Science & Medicine (2024) justru menemukan bahwa variabel attentional control adalah mediator kunci dalam hubungan antara penggunaan media sosial dan tekanan psikologis. Dengan kata lain, mereka yang memiliki kemampuan mengarahkan dan mempertahankan perhatian secara sadar jauh lebih tahan terhadap efek negatif media sosial dibanding mereka yang tidak.

Warisan spiritual kita, ternyata, bukan sekadar relevan ia adalah jawaban yang sudah ada sebelum pertanyaannya lahir.

Negara, Pendidikan, dan Platform

Ekologi batin yang dibangun pada level individu tidak akan cukup tanpa perubahan struktural. Kita perlu jujur, tidak semua orang memiliki akses, waktu, atau modal kultural untuk secara mandiri membangun pertahanan psikologis terhadap sistem yang dirancang oleh ribuan insinyur dan psikolog bayaran untuk memaksimalkan ketergantungan pengguna.

Laporan Pusat Analisis Keparlemenan DPR RI (Juli 2025) menekankan perlunya integrasi literasi digital ke dalam kurikulum pendidikan formal, pelatihan guru, pendampingan keluarga, dan kampanye publik yang sistematis. Ini adalah kebutuhan kebijakan yang mendesak.

Di level regulasi, beberapa negara sudah melangkah lebih jauh. Pada 2019, Amerika Serikat mengajukan serangkaian rancangan undang-undang SMART Act, Detour Act, Filter Bubble Transparency Act yang bertujuan mengatur platform media sosial demi kepentingan kesehatan mental publik. Australia pada 2024 mengesahkan undang-undang yang melarang anak di bawah 16 tahun menggunakan media sosial. Indonesia belum sampai ke sana, tapi percakapan itu perlu dimulai dari landasan pemahaman tentang bagaimana sistem ini bekerja dan kepentingan apa yang dilayaninya.

Pada akhirnya, pertanyaan tentang ekologi digital adalah pertanyaan tentang keadilan sosial. Siapa yang berhak menikmati teknologi tanpa dieksploitasi olehnya? Jawaban seharusnya: semua orang. Tapi itu hanya mungkin jika ada sistem pendidikan yang mempersiapkan warga untuk berdaulat secara digital, ada regulasi yang melindungi yang paling rentan, dan ada ruang-ruang komunitas yang terus merawat kualitas kehadiran manusia satu sama lain secara nyata, bukan virtual.

Menuju Manusia yang Lebih Utuh

Ada sebuah pertanyaan yang menurut saya harus menjadi kompas kita dalam menggunakan teknologi: Siapa kita setelah menggunakannya? Apakah kita keluar dari sesi digital kita sebagai manusia yang lebih tajam pikirannya, lebih luas empatinya, lebih dalam pemahamannya? Atau kita keluar sebagai manusia yang lebih lelah, lebih cemas, lebih marah, lebih kosong?

Teknologi adalah alat. Seperti semua alat, ia netral dalam dirinya sendiri. Yang tidak netral adalah sistem ekonomi dan kekuasaan yang menentukan bagaimana ia dirancang, untuk kepentingan siapa, dengan nilai-nilai apa. Melawan sistem itu membutuhkan lebih dari sekadar individu yang bijak bermedia sosial ia membutuhkan warga yang sadar, komunitas yang kuat, dan kebijakan yang berpihak pada kemanusiaan.

Tapi perlawanan itu harus dimulai dari dalam. Dari keputusan kecil untuk meletakkan gawai dan menatap wajah seseorang yang kita kasihi. Dari keberanian untuk duduk dalam keheningan tanpa mengisi kekosongannya dengan konten. Dari kesediaan untuk tahu lebih sedikit hari ini demi memahami lebih dalam hari ini juga.

Herbert Simon sudah memperingatkan kita lima puluh tahun yang lalu, kelimpahan informasi menciptakan kemiskinan perhatian. Tapi kemiskinan itu tidak permanen. Perhatian bisa dipulihkan. Kedalaman bisa dilatih kembali. Jiwa bisa dirawat. Asal kita mau memilih dengan sungguh-sungguh, dengan kesadaran penuh untuk menjadi manusia yang utuh, bukan sekadar pengguna yang aktif.

Sumber & Referensi

  1. Simon, Herbert A. Designing Organizations for an Information-Rich World.” Dalam Computers, Communications, and the Public Interest, ed. Martin Greenberger. Johns Hopkins Press, 1971, hlm. 37–52.
  2. Davenport, Thomas H. & Beck, John C. The Attention Economy: Understanding the New Currency of Business. Harvard Business School Press, 2001.
  3. DataReportal We Are Social. Digital 2025: Indonesia.Januari 2025. goodstats.id / andi.link.
  4. Pew Research Center / Duffy, C. Survei remaja AS, akhir 2024. Dikutip dalam Penn State Extension, November 2025.
  5. Zuboff, Shoshana. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. Public Affairs, New York, 2019.
  6. Han, Byung-Chul. The Reign of Information (Infokratie). Parafrase dari Kim, Isaiah. Medium, Februari 2025.
  7. Han, Byung-Chul. Psychopolitics: Neoliberalism and New Technologies of Power. Verso Books, 2017.
  8. Menjaga Kesehatan Mental di Era Digital: Tantangan dan Solusi. International Seminar of Islamic Counseling and Education Series, Vol. 1, No. 1, 2025. DOI via isices.uin-suska.ac.id.
  9. Asahri & Sartono (2025); Jusman & Usman (2025). Dikutip dalam Laporan Pusat Analisis Keparlemenan DPR RI: “Penguatan Literasi Digital untuk Kesehatan Mental Pelajar.” Vol. XVII, No. 13, Juli 2025.
  10. Maulidia, A.S., dkk. Digital Well-Being Psychoeducation Program. Jurnal STKIP Persada, Vol. 2, No. 1, 2024.
  11. Ardhiyansyah, A., Bakker, C., & Sijabat, S.G. Dampak Teknologi Digital terhadap Kesejahteraan Mental: Tinjauan Interaksi, Tantangan, dan Solusi. Jurnal Psikologi dan Konseling West Science, 1(04), 2023.
  12. Curtin University. New study challenges social media’s mental health impact.” ScienceDaily, 7 November 2024. Berdasarkan riset di Social Science & Medicine.
  13. Yale School of Medicine. Social Media and Youth Mental Health: Does More Use Always Mean More Harm? Maret 2026.
  14. Thomas, J., Al-Beyahi, F., & Gaspar, C. Editorial: The impact of social media, gaming, and smartphone usage on mental health.Frontiers in Psychiatry, 15, 2024. DOI: 10.3389/fpsyt.2024.1367335.
  15. Attention: The Report Nobody Can Look Away From. April 2026.

SendTweetShare
Previous Post

Tanah Yang Hilang, Dapur Yang Berubah

Maulana Bayu Isnarofik

Maulana Bayu Isnarofik

Related Posts

Tanah Yang Hilang, Dapur Yang Berubah
Esensia

Tanah Yang Hilang, Dapur Yang Berubah

September 3, 2026
Sudah Pantaskah Kita Merayu Tuhan?
Esensia

Sudah Pantaskah Kita Merayu Tuhan?

September 1, 2026
Republik Rem Blong
Esensia

Republik Rem Blong

August 6, 2026
Ditagih Tulisan
Esensia

Ditagih Tulisan

July 31, 2026
Ketika Pendidikan Kehilangan Rumah Kebudayaannya
Esensia

Ketika Pendidikan Kehilangan Rumah Kebudayaannya

July 29, 2026
Negara, Oligarki, dan Sapu yang Belum Selesai Dibersihkan
Esensia

Negara, Oligarki, dan Sapu yang Belum Selesai Dibersihkan

July 27, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan

Copyright © 2025 Kenduri Cinta