Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
Home Esensia

Sudah Pantaskah Kita Merayu Tuhan?

Fahmi Agustian by Fahmi Agustian
September 1, 2026
in Esensia
Reading Time: 6 mins read
Sudah Pantaskah Kita Merayu Tuhan?

Sebuah catatan dari Film ”Seni Merayu Tuhan”.

Disclaimer: ini bukan resensi film.

Dalam podcast Ngobrol Asyik Anak & Bapak, Cak Nun dan Mas Sabrang berdiskusi mendalam tentang perjalanan manusia menuju Tuhan. Mas Sabrang memberikan penegasan krusial bahwa menuju Tuhan bukanlah sebuah balapan untuk saling mendahului. Seperti halnya sebuah lagu sebagai karya musik, ada harmoni di dalamnya sehingga karya seni itu bisa dinikmati oleh telinga manusia.

Ketika Cak Nun memantik pertanyaan mengenai pegangan utama agar hidup selamat dan seimbang, Mas Sabrang merespons dengan satu kata presisi: “Tumbuh”. Bagi Mas Sabrang, dinamika kehidupan—baik kegagalan, momen jatuh, maupun kebahagiaan—adalah bagian tak terpisahkan dari proses bertumbuh untuk mematangkan mental. Kunci lainnya adalah keberanian untuk jujur, konsisten dengan apa yang diketahui, serta siap bertransformasi seiring bergeraknya pemahaman kita tentang kebenaran.

Hal lain yang ditekankan oleh Mas Sabrang adalah: jika ingin menuju Tuhan, jadilah manusia yang bermanfaat. Hal ini sejalan dengan salah satu pesan Rasulullah SAW: khairunnaas anfa’uhum linnaas.

Cak Nun kemudian melengkapi bahwa bagi umat Islam, Al-Qur’an dan Hadis adalah pijakan utama yang spektrumnya akan terus meluas. Mas Sabrang menambahkan bahwa keadilan dan kasih sayang Tuhan merupakan dua sifat fundamental yang berlaku secara universal untuk seluruh makhluk.

Sebagai orang Maiyah, saya memahami bahwa beragama dan bertuhan adalah soal kualitas, bukan sekadar kuantitas. Sebanyak apa pun wirid yang dilantunkan akan sia-sia jika tidak membentuk diri menjadi manusia yang lebih baik (ahsani taqwim). Begitu pula dengan salat; tanpa menghindarkan diri dari perbuatan keji dan munkar (tanha ’ani-l-fakhsyaa-i wa-l-munkar), salat hanyalah sebatas gerakan tubuh biasa.


Sehari sebelum wafat, Syaikh Nursamad Kamba merasa sangat bahagia saat menerima naskah kata pengantar dari Cak Nun melalui almarhum Gandhie untuk bukunya yang telah selesai ditulis. Buku tersebut diberi judul lengkap Mencintai Allah Secara Merdeka: Buku Saku Tasawuf Praktis Pejalan Maiyah, sebuah karya yang memang dipersiapkan khusus sebagai pegangan bagi Jamaah Maiyah. Sebagai Marja’ Maiyah, beliau memiliki kepekaan mendalam untuk merumuskan berbagai gagasan dan pemikiran lisan Cak Nun menjadi sebuah racikan silabus yang rapi.

Melalui buku ini, Syaikh Nursamad Kamba berupaya mencairkan pemahaman beragama di masyarakat yang belakangan terasa kaku dan formalistis. Beliau meyakini bahwa beragama harus dilandasi oleh kemerdekaan jiwa, sebuah prinsip yang berkelindan erat dengan nilai independensi Maiyah. Pemikiran ini sejalan dengan apa yang sering diwanti-wanti oleh Cak Nun: orang Maiyah harus memiliki kedaulatan penuh dalam berkeyakinan. Mampu mengakses limpahan informasi dari berbagai sumber itu penting, namun kedaulatan untuk mengambil keputusan dan memegang keyakinan harus murni lahir dari dalam diri sendiri, minim pengaruh atau intervensi dari luar.

Bagi masyarakat umum, gagasan dalam buku ini mungkin terasa cukup berat untuk dicerna. Namun bagi Jamaah Maiyah, tulisan Syaikh Nursamad Kamba ini bagaikan membaca kembali rangkuman ilmu-ilmu Maiyah, mulai dari prinsip dasar hingga tingkatan yang advanced.

Lewat Mencintai Allah Secara Merdeka, Syaikh Nursamad Kamba mempertegas pandangan Cak Nun bahwa setiap manusia memiliki hak penuh untuk menuju Allah tanpa sekat apa pun. Cak Nun sendiri sangat keras mengenai prinsip ini; jangan sampai lembaga ormas, mazhab, doktrin, atau fatwa menjadi penghalang yang merenggangkan hubungan intim antara manusia dan Penciptanya. Sebab jika harus ada perantara atau “makelar” yang menyambungkan manusia dengan Allah, satu-satunya perantara yang sah hanyalah Rasulullah SAW.


Husein Ja’far Al Hadar bukanlah nama asing bagi teman-teman di Kenduri Cinta. Jauh sebelum publik mengenalnya luas dengan panggilan Habib Ja’far, ia telah beberapa kali hadir dan bertutur di mimbar Kenduri Cinta. Nuansa dakwah yang dibawanya terasa begitu linier dengan napas dan nilai-nilai Maiyah yang diampu oleh Cak Nun.

Dalam berbagai kesempatan, Habib Ja’far pun meyakini bahwa Cak Nun dan Kenduri Cinta memberi pengaruh yang sangat krusial dalam perjalanan hidupnya. Pernah dalam satu edisi Kenduri Cinta, saat Habib Ja’far sedang memaparkan gagasannya, Cak Nun menyimak dengan khidmat dari samping panggung hingga usai. Ketika tiba giliran Cak Nun menyapa jamaah, salah satu kalimat yang meluncur dari beliau adalah: ”Saya melihat Habib Ja’far seperti melihat diri saya sendiri saat masih muda.”

Pada tahun 2019, Habib Ja’far merilis buku Seni Merayu Tuhan—sebuah kompilasi tulisan ringan yang membahas relasi manusia dengan Islam. Ketika membaca buku tersebut, saya menyimpulkan bahwa karya ini adalah salah satu manual book paling ramah bagi masyarakat awam untuk memahami esensi Islam secara jernih. Habib Ja’far berhasil membumikan hal-hal yang mendasar dan esensial melalui bahasa yang renyah dan mudah dicerna.

Ketika pada tahun 2020 Syaikh Nursamad Kamba merilis buku Mencintai Allah Secara Merdeka, saya merasakan ketersambungan yang kuat antara karya Habib Ja’far dan Syaikh Nursamad. Keduanya saling berkelindan dan melengkapi.

Banyak jamaah yang berproses di forum Kenduri Cinta maupun simpul-simpul Maiyah lainnya—seperti Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, hingga Bangbang Wetan—merasakan hal serupa. Cak Nun secara konsisten mampu menguraikan hal-hal prinsipil dalam Islam dengan bahasa yang artikulatif dan membumi. Lewat Maiyah, Cak Nun terbukti sanggup menyentuh berbagai lapisan masyarakat, menyampaikan nilai-nilai ketuhanan tanpa kesan doktrinal yang kaku.

Sejalan dengan spirit yang diusung Cak Nun di Maiyah, saya melihat Habib Ja’far melakukan kerja kebudayaan yang sama dengan daya jangkau yang lebih kontekstual dan kekinian. Habib Ja’far, yang begitu responsif diterima oleh generasi muda, berhasil mengonversi popularitasnya menjadi strategi dakwah yang merangkul berbagai kalangan. Kolaborasinya dengan para komika, influencer, hingga selebritas papan atas dalam beberapa tahun terakhir terbukti efektif menggaet spektrum audiens yang jauh lebih luas.

Sebab itu, ketika saya dihubungi langsung oleh Habib Ja’far mengenai rencana penayangan adaptasi film Seni Merayu Tuhan, tentu ada rasa bahagia yang membuncah dalam hati saya. Bagi Komunitas Kenduri Cinta, sinema sebagai media dakwah bukanlah terobosan baru. Pada medio 2012 silam, Mas Sabrang bersama Mbak Dewi Umaya pernah memproduseri film Rayya – Cahaya di Atas Cahaya yang skenarionya ditulis langsung oleh Cak Nun. Di bawah arahan sutradara Viva Westi, film tersebut berhasil menghadirkan genre sinema spiritual yang subtil tanpa perlu mengibarkan simbol-simbol keagamaan secara mencolok.

Kini, Habib Ja’far bersama Wahana Kreator Nusantara memproduksi film dakwah Islam yang kaya akan napas toleransi. Skenario yang diracik oleh Salman Aristo, Gina S. Noer, dan Rino Sarjono, serta dibingkai oleh penyutradaraan Cesa David Luckmansyah, berhasil melahirkan karya sinematik religi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas hari ini—tidak terbatas bagi umat Islam saja.

Isu yang diangkat terasa sangat relate dengan eksistensi anak muda masa kini. Banyak dari mereka yang dihantui rasa “kosong” di tengah riuh dunia. Mereka sadar ada jarak yang membentang antara diri mereka, agama, dan Tuhan, namun di saat yang sama mereka tidak pernah berhenti berproses mencari keberadaan-Nya. Ada banyak Gen-Z yang secara finansial berkecukupan, mampu membeli apa saja yang diinginkan, dan rutin menghabiskan waktu di ruang-ruang komunal, namun diam-diam menyadari ada ruang hampa di relung hati mereka yang tidak bisa diisi oleh materi.

Meski dibalut oleh jalinan plot yang kaya, pesan paling mendalam yang saya tangkap dari film Seni Merayu Tuhan adalah tentang pencarian hakiki manusia akan hadirnya Tuhan.

Kita acap kali merasa sudah melangkah mendekat, namun berprasangka seolah Tuhan justru makin menjauh. Ada deretan doa yang dilangitkan, tetapi tak kunjung berbuah wujud. Sudah tak terhitung rakaat salat yang ditunaikan, namun ketenangan jiwa tak jua bersimpuh. Bahkan, mungkin sudah berpuluh juta rupiah dialokasikan untuk sedekah, tetapi kita tetap merasa kurang—seolah janji Tuhan tentang kelipatan rezeki hanyalah retorika belaka.

Film Seni Merayu Tuhan mengajak penonton untuk bertualang lebih jauh menyelami makna dari kata “mendekat”. Seperti pesan Mas Sabrang dalam perbincangannya bersama Cak Nun: perjalanan menuju Tuhan bukanlah balapan, bukan kompetisi, dan bukan tentang siapa yang paling cepat sampai. Dan yang jauh lebih fundamental, jika kita memang berniat merayu Tuhan, langkah paling awal yang wajib kita lakukan adalah mengakarabkan diri terlebih dahulu dengan-Nya.

Sebab, jika akrab saja belum, bagaimana mungkin kita merasa pantas untuk merayu-Nya?

SendTweetShare
Previous Post

REPORTASE: HAMBA YANG GREEN FLAG

Fahmi Agustian

Fahmi Agustian

Related Posts

Republik Rem Blong
Esensia

Republik Rem Blong

August 6, 2026
Ditagih Tulisan
Esensia

Ditagih Tulisan

July 31, 2026
Ketika Pendidikan Kehilangan Rumah Kebudayaannya
Esensia

Ketika Pendidikan Kehilangan Rumah Kebudayaannya

July 29, 2026
Negara, Oligarki, dan Sapu yang Belum Selesai Dibersihkan
Esensia

Negara, Oligarki, dan Sapu yang Belum Selesai Dibersihkan

July 27, 2026
Geometri Kedekatan: Merenungkan Melipat Jarak
Esensia

Geometri Kedekatan: Merenungkan Melipat Jarak

July 14, 2026
Kenduri Cinta: 26 Tahun Menyalakan Al Misbahu fi Zujajah
Esensia

Kenduri Cinta: 26 Tahun Menyalakan Al Misbahu fi Zujajah

July 3, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan

Copyright © 2025 Kenduri Cinta