SETELAH matahari tenggelam, halaman Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, kembali menjadi tempat berkumpulnya jamaah Kenduri Cinta. Hamparan terpal yang dipersiapkan sejak sore, ditemani cahaya lampu yang mulai menyinari, menjadi saksi langkah jamaah yang satu per satu berdatangan. Malam itu, Kenduri Cinta edisi ke-271 dengan tema “Hamba yang Green Flag” kembali mempertemukan mereka dalam satu ruang. Sebagian telah akrab dengan suasana ini, sementara sebagian lainnya mungkin baru pertama kali hadir. Setelah sejenak berjarak dari rutinitas masing-masing, mereka kembali duduk bersama, membawa cerita dan kerinduan yang berbeda-beda.
Perlahan, tim tawashshulan mulai menaiki panggung. Awan, Haddad, Mizani, Munawir, dan Rizal mempersiapkan diri, lalu membuka malam dengan lantunan doa dan zikir. Dalam suasana itu, seakan terucap makna yang sama: malam ini bukan sekadar pertemuan, tetapi pertautan hati yang dipanggil untuk kembali mengingat.
Memasuki sesi pertama, Mizani membuka forum dengan salam seraya menyambut jamaah Kenduri Cinta edisi ke-271 dengan tema “Hamba yang Green Flag”. Ia mengingatkan kembali bocoran yang telah disampaikan pada pertemuan bulan sebelumnya, bahwa pada bulan Agustus Kenduri Cinta akan berkolaborasi dengan Wahana Kreator Nusantara dalam rangka peluncuran film ”Seni Merayu Tuhan”, yang diangkat dari buku karya Habib Jafar.
Kolaborasi tersebut dipertemukan dengan gagasan dari buku Syeikh Nursamad Kamba, “Mencintai Tuhan dengan Merdeka”. Mizani menjelaskan bahwa pilihan tersebut memiliki keterkaitan dengan karakter Kenduri Cinta sebagai sebuah forum yang merdeka. Setelah pengantar tersebut, ia mempersilakan Ansa dan Haddad untuk naik ke panggung, serta mengundang Ali Condet untuk membuka rangkaian sesi dengan dramatic reading.

ALI CONDET mengajak jamaah merefleksikan 81 tahun perjalanan kemerdekaan Indonesia. Ia mengingatkan siklus kejayaan dan keruntuhan peradaban Nusantara, dari Sriwijaya hingga Majapahit, seraya memberi peringatan bahwa Indonesia pun bisa tinggal menjadi artefak sejarah jika korupsi, kerusakan ekologis, dan degradasi sosial terus dibiarkan.
Namun, refleksi itu tidak berhenti pada kekhawatiran. Ali mengajak untuk bangkit dan bertindak sejak hari ini, membangun Indonesia sebagai negara adi budaya yang adil dan bermartabat. Menurutnya, dibutuhkan komitmen bersama untuk membersihkan “parasit bangsa”, menjaga alam, memperkuat gotong royong, serta kembali menegakkan amanat pencipta demi menjaga NKRI sebagai peradaban yang hidup dalam kerukunan dan kebajikan.
Dari situ, Ibnu membawa suasana pada istilah yang cukup akrab bagi generasi muda: green flag dan red flag. Selama ini, menurutnya, istilah tersebut lebih sering digunakan untuk menilai orang lain—pasangan, calon pasangan, teman, atasan, maupun sesama manusia.
Namun malam itu, ia ingin menarik cermin tersebut ke arah yang berbeda. Bukan lagi bertanya apakah orang lain merupakan green flag atau red flag, melainkan bertanya kepada diri sendiri: kita ini sebenarnya green flag atau red flag?
Pertanyaan itu kemudian diarahkan pada posisi manusia sebagai hamba. Menurut Ibnu, pembahasan malam itu ingin mencari indikator-indikator yang dapat membantu seseorang melihat apakah dirinya semakin baik sebagai manusia sekaligus sebagai hamba Allah. Karena itu, sebelum sibuk menilai orang lain, seseorang perlu terlebih dahulu bercermin kepada dirinya sendiri.
Dari pengantar tersebut, Ibnu membuka pertanyaan yang menjadi pintu masuk pembahasan berikutnya: “Bagaimana melatih konsistensi ruhani kita?”
Menanggapi pengantar Ibnu, Haddad membawa pembahasan pada gagasan tentang lima matriks manusia yang diajarkan Mbah Nun. Ia mengingatkan bahwa kehidupan tidak sesederhana hitam dan putih.
“Hidup tidak biner,” katanya. Di antara dua kutub tersebut selalu terdapat gradasi dan spektrum yang membuat manusia perlu dinilai dengan ukuran yang lebih presisi. Lima matriks tersebut adalah manusia wajib, manusia sunah, manusia mubah, manusia makruh, dan manusia haram.
Manusia wajib adalah manusia yang keberadaannya dibutuhkan dalam sebuah lingkungan. Manusia sunah memberikan nilai tambah; keberadaannya tidak mutlak diperlukan, tetapi akan lebih baik jika ada. Sementara manusia mubah adalah sosok yang ada atau tidak ada hampir tidak memberikan pengaruh—ibarat cameo dalam film atau NPC dalam permainan.
Di sisi lain, ada manusia makruh, yaitu sosok yang kalau bisa dihindari keberadaannya. Haddad memberikan contoh sederhana: seseorang yang sengaja tidak dimasukkan ke dalam grup WhatsApp, lalu dibuatkan grup baru tanpa dirinya. Sedangkan manusia haram adalah manusia yang oleh lingkungannya dianggap tidak boleh ada.
Dengan lima kategori tersebut, Haddad menawarkan ukuran yang lebih kaya daripada sekadar green flag dan red flag. Yang paling green flag adalah manusia wajib, sementara yang paling red flag adalah manusia haram.
Namun yang lebih penting, matriks tersebut tidak hanya digunakan untuk menilai orang lain. Haddad mengajak jamaah menggunakannya untuk bercermin kepada diri sendiri: “Saya ini masuk kategori manusia yang mana?”
Ia kemudian menarik ukuran horizontal tersebut ke hubungan vertikal: manusia dengan Allah. Jika dalam hubungan antarmanusia kita mengenal green flag dan red flag, bagaimana jika ukuran yang sama digunakan untuk melihat posisi kita sebagai hamba? Menurut Haddad, parameternya dapat ditarik ke sana, meskipun nilai absolutnya hanya Allah yang mengetahui.
“Kalau kita green flag di hadapan Allah, maka semua yang kita lakukan itu sifatnya akan diperjalankan,” ungkapnya. Sebaliknya, hamba yang netral dibiarkan berjalan sendiri, sementara hamba yang red flag justru bisa “dijerumuskan”—sesuatu yang sebenarnya bisa berjalan baik, tetapi akhirnya tidak demikian.
Daripada terus-menerus menebak kita sedang “diperjalankan” atau “dijerumuskan”, tugas manusia adalah tetap berhusnudzon kepada Allah. Haddad mengingatkan hadis qudsi bahwa Allah sesuai dengan prasangka hamba-Nya. Dalam tradisi Maiyah, kata diperjalankan menjadi penting karena di dalamnya terdapat sikap berbaik sangka kepada Allah sekaligus kesadaran bahwa manusia sedang menjalani sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perhitungan dirinya sendiri.
Ia kemudian menjelaskan perbedaan antara Rahman dan Rahim. Rahman bersifat meluas dan mencakup semua, sementara Rahim lebih mendalam dan terkait dengan orang-orang yang bertakwa. Haddad menggunakan analogi teknologi untuk menjelaskannya. Rahmat Allah seperti sinyal 5G yang memancar ke berbagai arah. Tetapi ketika receiver-nya belum mendukung 5G dan masih berada pada kemampuan GPRS atau 3G, sinyal tersebut tidak bisa diterima secara optimal.
“Untungnya manusia itu bukan device. Kalau device sudah tua, dibuang. Tapi manusia punya potensi untuk bisa upgrade diri,” ujarnya.

“Dibutuhkan komitmen bersama untuk membersihkan “parasit bangsa”, kembali menegakkan amanat pencipta demi menjaga NKRI sebagai peradaban.” (Ali Condet)
PEMBAHASAN kemudian bergerak pada gagasan tentang kapasitas hamba. Haddad mengaitkannya dengan tulisan Sabrang mengenai kapasitas manusia dan ayat yang mengingatkan bahwa Allah tidak membebani seseorang melebihi kapasitasnya.
Di satu sisi, manusia perlu ber-husnudzon bahwa dirinya masih memiliki kapasitas untuk menghadapi beban yang diberikan. Namun di sisi lain, sikap tersebut tidak boleh diterjemahkan sebagai pasrah tanpa usaha. Manusia tetap perlu meng-upgrade kapasitas dirinya.
Persoalannya, proses meningkatkan kapasitas juga memiliki jebakan. Manusia bisa terlalu sibuk meningkatkan kemampuan, pencapaian, dan kualitas dirinya hingga lupa untuk apa semua itu dilakukan. Haddad mengingatkan bahwa tujuan akhirnya tetap kembali kepada Allah—inna lillahi wa inna ilaihi raji’un.
Ketika tujuan itu dilupakan, manusia mudah terjebak menjadi performatif. Kebaikan akhirnya dilakukan bukan karena hubungan dengan Allah, melainkan karena ingin dilihat dan mendapatkan pengakuan. Ia membedakan dua bentuk performativitas. Pertama, performativitas sosial: misalnya memamerkan sedekah atau kebaikan melalui media sosial. Kedua, performativitas vertikal: ketika hubungan dengan Allah sendiri berubah menjadi hubungan transaksional.
Dari sini Haddad mengutip nasihat Imam Al-Ghazali: “Manusia binasa kecuali yang berilmu. Yang berilmu binasa kecuali yang beramal. Yang beramal binasa kecuali yang ikhlas.”
Karena itu, Haddad menawarkan cara sederhana untuk menjaga konsistensi: lakukan sebaik mungkin, sebisa-bisanya, dan tidak mengharapkan apa-apa.
Ia kemudian menghadirkan Nabi Muhammad SAW sebagai teladan paling jelas tentang hamba yang green flag. Ia mengisahkan peristiwa di Thaif ketika Nabi dilempari batu hingga sandal beliau basah oleh darah. Setelah keluar dari situasi tersebut dan berada di kebun kurma, Nabi berhenti untuk salat dan bermunajat kepada Allah.“In lam yakun bika ‘alayya ghadlabun fala ubali”. Selama tidak ada kemurkaan-Mu kepadaku, aku tidak peduli.
Ia menutup dengan sebuah pengingat: “Bukan sempurna yang Tuhan nanti, tapi hati yang mau terus merayu dengan sepenuh hati. Bukan soal tidak pernah salah, tapi soal mau terus melangkah dengan pasrah.”

“Kalau kita green flag di hadapan Allah, maka semua yang kita lakukan itu sifatnya akan diperjalankan.” (Haddad)
MELANJUTKAN pembahasan Haddad, Ansa mengajak jamaah kembali mempertanyakan kecenderungan manusia membuat segala sesuatu menjadi biner. Menurutnya, istilah green flag dan red flag memang membantu memberikan gambaran sederhana, tetapi sekaligus berpotensi membuat cara pandang kita semakin hitam-putih.
Ia mengibaratkannya seperti angka 1 dan 0 dalam komputasi: hanya ada iya dan tidak. Padahal kehidupan manusia tidak sesederhana itu.
“Hidup sangat dialektis dan dinamis,” ujarnya.
Pembicaraan berlanjut ketika Ansa menyoroti ukuran kesuksesan yang banyak digunakan anak muda hari ini: kekayaan. Seseorang yang kaya dianggap berhasil, sementara yang miskin sering dianggap gagal. Namun Ansa mengingatkan pandangan Cak Nun bahwa keberhasilan dan kegagalan tidak semata-mata terletak pada apakah seseorang kaya atau miskin. Yang lebih menentukan adalah mentalitas seseorang terhadap kekayaan dan kemiskinan. Pertanyaannya kemudian menjadi lebih dalam: apakah kita menang terhadap kekayaan dan apakah kita menang terhadap kemiskinan?
Dari pertanyaan tersebut, Ansa membawa jamaah melihat kembali posisi Kenduri Cinta sebagai ruang ketiga. Ruang pertama adalah keluarga di rumah, ruang kedua adalah pekerjaan, sedangkan ruang ketiga menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan menemukan diri.
Ia mengakui bahwa pembicaraan di Kenduri Cinta sering kali bergerak pada persoalan besar: negara, bangsa, pemerintahan, hingga teknokratisme. Namun di tengah pembahasan sebesar itu, ada sesuatu yang sering terlupakan: perubahan bangsa pada akhirnya harus dimulai dari perubahan diri masing-masing.
Menurut Ansa, cara pandang, sudut pandang, bahkan resolusi pandang manusia sering kali dikaburkan oleh begitu banyak hal. Karena itu, manusia perlu kembali melihat dirinya sendiri.
“Core of the core-nya adalah Tuhan,” ujarnya, mengingatkan bahwa di balik seluruh pencarian manusia, ada hubungan dengan Allah yang menjadi pusatnya.
Ia kemudian mengajak jamaah melihat kembali hubungan manusia dengan Tuhan, termasuk kecenderungan menjadikan ibadah sebagai sesuatu yang transaksional. Sementara itu, nikmat seperti oksigen yang diterima setiap saat bahkan tidak pernah mampu kita hitung.
“Mau bertransaksi apa dengan Tuhan?” tanyanya. Yang bisa dilakukan manusia justru adalah menjadi hamba yang betul-betul optimal. Dalam konteks inilah Ansa melihat peran Cak Nun dan Kenduri Cinta.
“Cak Nun itu selalu menyadarkan, seolah menyentil kesadaran kita terhadap pemahaman kita terhadap Tuhan dan manusia,” katanya. Kenduri Cinta bukan ruang yang memaksa seseorang menjadi dekat dengan Tuhan, melainkan ruang yang mengajak manusia kembali menyadari hubungan tersebut.
Ia kemudian berbicara tentang cara manusia menemukan Tuhan. Menurutnya, setiap orang memiliki jalan otentiknya sendiri. Ada yang menemukan Tuhan ketika menghadapi masalah besar, ketika kehilangan sesuatu yang dicintai, atau justru ketika sudah memiliki banyak hal tetapi tetap merasakan kekosongan.
Tuhan sebenarnya sangat dekat, tetapi manusia sering berada dalam kondisi offline. Karena itu, pertanyaannya bukan hanya apakah Tuhan dekat, tetapi “Apakah kita selalu online dengan Allah?”
Ansa lalu menggeser pertanyaan tentang amal dan surga. Siapa yang dapat menjamin bahwa amal baik kita pasti diterima Allah? Tidak ada yang dapat memberikan jaminan tersebut selain Allah. Maka pertanyaan yang lebih mendasar adalah: yang sebenarnya kita cari itu Tuhan atau surga?
Ia mengingat kembali pesan Cak Nun: “Kalau kita dapat Tuhan, sudah pasti dapat surga.” Sebab, bayangkan jika seseorang berada di surga tetapi tidak disapa oleh Allah—itu agak menyedihkan,.
Menurut Ansa, kesungguhan itulah yang kemudian melahirkan ketekunan, kemampuan, dan keahlian. Dari sana seseorang akhirnya mendapatkan kepercayaan dari orang lain. Kapasitas memang bisa diperluas dan diperbesar, tetapi semuanya membutuhkan kesungguhan.
Karena itu, yang bisa dilakukan manusia adalah berbuat sebaik mungkin, bersungguh-sungguh, dan memiliki mental untuk berlayar menghadapi ombak-ombak dunia yang penuh rahasia.
Ansa kemudian mengutip pesan Cak Nun: “Buat apa kita mengkhawatirkan hari ini? Toh, hari ini juga yang kita khawatirkan kemarin.” Kalimat itu menjadi pengingat agar manusia tidak terus-menerus hidup dalam kecemasan terhadap sesuatu yang belum tentu terjadi.
Menutup paparannya, Ansa mengingatkan jamaah agar tidak buru-buru membuat satu ukuran terhadap manusia maupun kehidupan. Ia kembali membawa pesan Cak Nun: “Dari seburuk-buruknya orang, usahakan kita melihat kebaikan. Bukan sebaik apa pun orang itu kita lihat kebenarannya.”
Sebagai penutup, Ansa meninggalkan sebuah pertanyaan untuk direnungkan bersama: siapa sebenarnya yang menggerakkan kita, sehingga sampai malam ini kita masih duduk berkumpul di sini dan masih tawashshulan di tengah zaman seperti sekarang?
Ibnu kemudian mengambil kembali alur pembahasan untuk merangkum sekaligus menguatkan benang merah yang telah disampaikan sebelumnya. Ia menegaskan bahwa menjadi hamba yang green flag bukanlah sebuah status yang sekali dicapai kemudian selesai, melainkan proses yang terus berlangsung.
Menurutnya, menjadi hamba yang green flag berarti terus memperkuat dan melatih kapasitas diri agar mampu menerima berbagai ujian kehidupan maupun takdir yang memang harus diterima. Tidak ada manusia yang benar-benar siap ketika berhadapan dengan kehilangan atau ujian yang berat. Namun, manusia tidak harus menghadapinya seorang diri.

“Kalau kita dapat Tuhan, sudah pasti dapat surga. Bayangkan seseorang berada di surga tetapi tidak disapa Allah—itu agak menyedihkan.” (Ansa Gaora)
MEMASUKI jeda, panggung diisi oleh teman-teman dari Lahila dengan Ame sebagai vokalis. Dalam suasana yang lebih ringan, Ame yang baru saja menikah juga mendapat doa dari jamaah agar rumah tangganya menjadi keluarga yang sakinah, mawaddah, dan penuh keberkahan.
Lahila kemudian membawakan beberapa lagu, mulai dari Wakafa, Jodohkan Aku Dengannya, Kota Patah Hati, hingga Sebening Senja. Suasana jeda semakain meriah dan dipenuhi sorak jamaah karena pada lagu Sebening Senja, Sabrang turut menemani Lahila membawakan lagu itu.
Setelah jeda sesi pertama Muftie dan Karim mengambil peran sebagai moderator sesi utama. Muftie membuka perjumpaan dengan memperkenalkan para narasumber yang akan mengisi sesi ini: Salman Aristo, Habib Jafar, Mas Sabrang, dan JS Kris Tan. Kehadiran keempatnya menjadi pintu masuk bagi pembahasan utama Kenduri Cinta malam itu.
Sebelum masuk ke pembahasan, Muftie memberikan apresiasi terhadap lagu Wakafa yang baru saja dibawaka Lahila . Ia mengajak jamaah memperhatikan kembali makna di balik judul lagu tersebut. Kata wakafa, menurutnya, memiliki akar kata yang berkaitan dengan wakaf dan dalam Al-Qur’an menjadi salah satu tanda untuk berhenti.
Karim melanjutkan suasana malam dengan menggambarkan Kenduri Cinta kali ini sebagai perjumpaan yang santai, tenang, sejuk, dan damai. Bertepatan dengan masuknya bulan Rabiul Awal sekaligus momentum kemerdekaan Indonesia, ia mengajak jamaah tidak sekadar merayakan sebuah peristiwa, tetapi juga berhenti sejenak untuk melihat ke dalam diri.
Ia kemudian mengajak jamaah masuk ke tema “Hamba yang Green Flag”. Menurutnya, penggunaan istilah green flag sengaja dipilih agar pembahasan tentang kehambaan lebih mudah didekati oleh generasi hari ini. Namun, green flag dalam konteks Kenduri Cinta bukanlah tentang mencari kesalahan atau memberi label kepada orang lain.
“Enggak usah jadi hamba yang nyebelin deh,” ujarnya, menyederhanakan tema malam itu. Pertanyaannya kemudian dibalik kepada diri sendiri: sudahkah kita menjadi manusia yang tidak “nyebelin” bagi diri sendiri, keluarga, saudara, dan orang-orang terdekat?
Karim mengingatkan bahwa tradisi Maiyah pada dasarnya mengajak manusia kembali merendahkan hati dan memeriksa kembali prasyarat kehambaannya. Karena itu, ukuran green flag tidak berhenti pada apa yang tampak dari luar, tetapi menyentuh pikiran, perkataan, dan perbuatan.

SETELAH pengantar tersebut, Karim mempersilakan Salman Aristo untuk berbagi tentang proses pembuatan film “Seni Merayu Tuhan”. Film tersebut, menurutnya, memiliki kedekatan dengan kegelisahan yang sering dibicarakan di Maiyah: bagaimana nilai-nilai yang terasa kaku dapat didekonstruksi menjadi sesuatu yang lebih mudah dipahami, direnungkan, dan dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Salman Aristo membuka pembahasannya dengan menceritakan proses lahirnya film “Seni Merayu Tuhan”, yang berangkat dari sebuah kegelisahan sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.
“Kita selalu sempat melakukan hal-hal yang bisa kita tunda, tapi selalu tidak sempat untuk menunda hal-hal yang tidak bisa kita ulang,” ujarnya.
Ia memberi contoh sederhana tentang telepon dari ibu yang kerap diabaikan karena sedang sibuk bekerja, atau kehadiran sahabat yang dianggap akan selalu ada.
Kegelisahan itulah yang kemudian menjadi pintu masuk bagi film “Seni Merayu Tuhan”. Menurut Salman, karya yang dibuat Wahana Kreator tidak hanya dimaksudkan sebagai hiburan, tetapi sebagai cara untuk ikut menyumbangkan suara terhadap kegelisahan yang sedang berlangsung di masyarakat. Pertanyaan yang terus dibawa dalam proses kreatif mereka adalah: “Sedang gelisah apa kita?”
Salah satu kegelisahan yang mereka temukan adalah munculnya kecenderungan anak-anak muda untuk berlomba-lomba menjadi kosong demi mendapatkan perhatian. Di tengah budaya viral dan instant gratification, kekosongan bahkan bisa berubah menjadi sesuatu yang dirayakan.
Menurut Salman, persoalannya bukan sekadar bagaimana generasi muda berhubungan dengan dunia di luar dirinya, tetapi bagaimana mereka berhubungan dengan dirinya sendiri. “Ketika fenomena kekosongan sedang dirayakan, bagaimana mereka bisa berempati dengan hal-hal di luar diri mereka, jika perjalanan batin mereka sendiri saja sedang bermasalah?” ungkapnya.
Dari kegelisahan tersebut, tim kemudian mencoba menerjemahkan buku esai “Seni Merayu Tuhan” menjadi sebuah cerita fiksi. Prosesnya tidak langsung menemukan bentuk. Hingga akhirnya, seluruh tim yang terlibat dalam pengembangan film diminta berhenti sejenak dan menulis esai tentang apa arti seni merayu Tuhan bagi diri mereka masing-masing.
Dari proses bercermin itu, mereka menemukan satu kesamaan: banyak hal dalam kehidupan yang selama ini dianggap taken for granted—dianggap akan selalu ada sehingga tidak perlu segera dihargai.
Dari sanalah lahir karakter Hikmah, seorang yang terbiasa mengatakan, “Ah, nanti aja.” Ibunya dianggap akan selalu ada. Hubungan dengan orang terdekat bisa dijalani nanti. Bahkan hubungan dengan Tuhan pun tanpa sadar ditempatkan dalam pola yang sama: tidak apa-apa melewatkan hari ini, masih ada hari esok untuk memperbaikinya.
Hingga kemudian Hikmah berhadapan dengan sesuatu yang tidak bisa ditunda dan tidak bisa diulang: ibunya meninggal secara mendadak.
Kehilangan itu membuat Hikmah ingin segera menemukan kembali jalan menuju ibunya. Ia kemudian mencoba “merayu Tuhan” agar dirinya dianggap sebagai anak yang saleh, seolah-olah hubungan dengan Tuhan dapat menjadi jalan untuk menagih kembali hal-hal yang selama ini ia tunda.
Bagi Salman, konflik tersebut menjadi gambaran tentang manusia yang sering kali ingin mendapatkan jawaban secara instan, termasuk dalam hubungannya dengan Tuhan. Ketika sudah melakukan sesuatu, manusia mudah bertanya tentang hasilnya: sudah berdoa, sudah beribadah, lalu mengapa jawaban belum juga datang?
Karena itu, tim memilih pendekatan coming of age untuk film tersebut. Perjalanan Hikmah tidak dibuat sebagai perjalanan yang harus segera selesai. Ia justru dibiarkan bertumbuh perlahan, karena menjadi lebih baik memang bukan sesuatu yang bisa dipaksakan selesai dalam satu malam.
“Segala hal tidak perlu teresolusi sekarang,” ujar Salman. “Sembuh itu tidak harus sekarang.”
Salman kemudian menegaskan bahwa di tengah dunia yang semakin bising dan bergerak cepat, film “Seni Merayu Tuhan” ingin mengajak manusia berhenti sejenak—memeriksa kembali dirinya, hubungannya dengan orang-orang terdekat, dan terutama hubungannya dengan Tuhan.
“Pertumbuhan itu pelan-pelan. Hidup tidak selesai dengan berlari, tidak selesai dengan percepatan dan kecepatan,” ujarnya. Sebuah ajakan untuk tidak sekadar mencari Tuhan ketika membutuhkan jawaban, tetapi belajar hadir dan terus bertumbuh dalam hubungan dengan-Nya

“Tradisi Maiyah pada dasarnya mengajak manusia kembali merendahkan hati dan memeriksa kembali prasyarat kehambaannya.” (Karim)
KRIS TAN menyambung diskusi dengan mengajak jamaah melihat konsep green flag dan red flag dari perspektif Konghucu yang menurutnya tidak bersifat hitam-putih. Dalam tradisi Konghucu, ukuran baik dan buruk sangat kontekstual. Ia menekankan bahwa beragama seharusnya membebaskan manusia untuk menjadi lebih baik, bukan sekadar mengekang dengan label.
Ia menjelaskan bahwa merokok, minum minuman keras, maupun berjudi dapat dipandang sebagai bentuk tidak berbakti karena merusak diri sendiri. Namun, penilaiannya tetap perlu melihat konteks dan tujuan dari tindakan tersebut.
“Beragama seharusnya membebaskan, bukan mengekang,” ujarnya.
Bagi Kris Tan, salah satu bentuk kehambaan yang paling mendasar adalah berbakti kepada orang tua. Ia mengaitkannya dengan tema “Seni Merayu Tuhan”: berbakti kepada orang tua merupakan salah satu jalan agar Tuhan berpihak kepada manusia. Ia menyayangkan kecenderungan manusia yang begitu menghormati orang tua setelah mereka meninggal, tetapi justru kurang menghargai ketika mereka masih hidup.
Pembahasan kemudian bergerak pada gagasan tentang fitrah. Dalam tradisi Konghucu, manusia dilahirkan sebagai “anak cucu Tuhan” dengan watak sejati yang baik. Lingkunganlah yang kemudian banyak membentuk manusia menjadi seperti apa. Ia mengambil contoh prasangka rasial: seorang anak kecil tidak lahir dengan kebencian terhadap suku atau ras tertentu, tetapi prasangka dapat tumbuh setelah ia menerima pengaruh dari lingkungan. Karena itu, Kris Tan mengajak manusia untuk kembali kepada fitrahnya.
“Sebenarnya kita harus balik lagi ke fitrah,” katanya. Menurutnya, proses menjadi manusia yang lebih baik bukan semata-mata menambahkan berbagai label moral, tetapi juga mengikis pengaruh buruk yang membuat manusia menjauh dari watak sejatinya.
“Kepada pohon yang mau tumbuh tegak akan dibantu tegak. Kepada pohon yang ingin condong akan dibantu condong.” Menurutnya, manusia selalu memiliki kecenderungan yang kemudian menentukan arah perjalanan hidupnya. Jalan menuju keburukan sering kali terasa lebih mudah, sementara jalan menuju kebaikan membutuhkan kesungguhan.
Menutup paparannya, Kris Tan menunjukkan keterbukaan tradisi Konghucu dalam menyikapi kebaikan dari tradisi lain. Ia bercerita bahwa keluarganya tetap merayakan Muludan karena memiliki akar keluarga Muslim, bahkan mengundang ustaz dan anak-anak untuk bershalawat bersama. Baginya, selama sesuatu membawa kebaikan, tidak ada alasan untuk menolaknya hanya karena berasal dari tradisi yang berbeda.
“Pokoknya yang bagus kita ambil,” ujarnya. Dari sini, ia menegaskan bahwa keberagamaan tidak harus dibangun dengan sikap saling menutup diri, melainkan dengan kemampuan mengenali dan mengambil nilai-nilai kebaikan yang dapat membuat manusia kembali kepada fitrahnya.

SETELAH Kris Tan mengajak jamaah melihat bagaimana nilai-nilai kebajikan dapat dipahami secara kontekstual dan lintas tradisi, Habib Ja’far melanjutkan pembahasan dari perspektif Islam. Ia membawa pembahasan pada makna dakwah. Menurutnya, Islam memiliki karakter dakwah yang membuat umatnya perlu memperluas spektrum kebaikan, termasuk dengan mengambil hikmah dari tradisi dan nilai yang telah ada.
“Nabi diutus untuk menyempurnakan, bukan membawa akhlak,” ujarnya. Karena itu, nilai-nilai baik dari Konghucu, Hindu, Buddha, maupun tradisi lainnya dapat diterima selama selaras dengan prinsip dasar Islam. Inilah yang ia sebut sebagai hikmah.
Gagasan tersebut kemudian ia hubungkan dengan film “Seni Merayu Tuhan”. Tokoh utama film bernama Hikmah, sebagai simbol dari perjalanan untuk belajar mengambil hikmah dari berbagai sudut pandang. Film ini sendiri tidak ditempatkan sebagai film religi, melainkan sebagai coming of age—sebuah perjalanan manusia untuk tumbuh dan menjadi dewasa, dengan Tuhan sebagai teman dalam perjalanan tersebut.
Dalam perjalanan Hikmah, sosok ibu menjadi titik penting. Habib Ja’far menjelaskan bahwa ibu merupakan eksistensi yang paling dekat dengan sifat rahim, yakni kasih sayang Tuhan. Karena itu, ketika seorang ibu meninggal, manusia seperti kehilangan wajah kasih sayang yang paling dekat dengannya dan dipaksa belajar mengenali Tuhan secara lebih langsung.
“Ibu adalah satu-satunya eksistensi di muka bumi ini yang di dalam tubuhnya ada sifat utamanya Allah yaitu rahim, kasih sayang,” ungkapnya.
Persoalan hubungan dengan orang tua kemudian mengarah pada realitas generasi muda. Habib Ja’far menceritakan pertanyaan yang pernah ia terima dari anak-anak muda: “Bib, kenapa saya dilahirkan?” Bahkan ada yang mempertanyakan mengapa orang tua melahirkan mereka tanpa persetujuan. Menurutnya, pertanyaan-pertanyaan tersebut menunjukkan adanya persoalan yang lebih dalam tentang hubungan manusia dengan dirinya sendiri, orang tua, dan Tuhan.
Dari persoalan tersebut, Habib Ja’far kembali kepada tema utama malam itu: “Hamba yang Green Flag”. Menurutnya, hamba justru merupakan salah satu sebutan tertinggi dalam Islam. Dalam peristiwa Isra Mi’raj, Allah menyebut Nabi Muhammad sebagai ‘abdun, seorang hamba. Maka, menjadi hamba bukan posisi yang rendah, melainkan puncak penghambaan manusia kepada Allah.
Dalam pengertian itu, hamba yang green flag adalah hamba yang tidak diperbudak oleh selain Allah. Bahkan ego dan keakuannya sendiri tidak menjadi pusat. Habib Ja’far mengaitkannya dengan kisah Sayyidina Umar ketika ditanya tentang kecintaannya kepada Nabi.
Ketika Umar mengatakan bahwa ia mencintai Nabi melebihi keluarganya, Nabi masih mengatakan, “Tidak cukup.”
Umar kemudian menjawab bahwa ia mencintai Nabi melebihi dirinya sendiri. Dari sini Habib Ja’far menegaskan, “Di hadapan Nabi aja diri ini sudah tidak boleh ada, apalagi di hadapan Allah.”
Kesadaran tersebut membawa manusia pada kesadaran al-faqir—menyadari bahwa dirinya tidak memiliki apa-apa secara mutlak dan bahwa segala sesuatu pada akhirnya berasal dari Allah. Karena itu, seorang hamba tidak merasa sebagai pencipta.
“Kita itu bukan pencipta. Kita itu cuma penemu. Semua yang dianggap diciptakan manusia itu temuan, bukan ciptaan. Yang mencipta adalah Allah.”
Jika kesadaran itu tumbuh, ibadah pun tidak lagi dijalankan sebagai transaksi. Habib Ja’far mengangkat teladan Rabi’ah al-Adawiyah yang beribadah bukan semata karena takut neraka atau mengharapkan surga, melainkan sebagai bentuk syukur kepada Allah. Ia juga mengingatkan bahwa manusia tidak seharusnya menghitung-hitung amal seolah-olah amal tersebut menjadi nilai tukar untuk memperoleh surga.
Pada akhirnya, Habib Ja’far membawa jamaah pada satu sikap: berserah dan menjadikan Allah sebagai tempat bergantung.
“Hasbunallah wa ni‘mal wakil”—cukup Allah sebagai penolong dan sebaik-baik tempat berserah. Bagi hamba yang benar-benar green flag, pusat kehidupannya bukan lagi dirinya sendiri, melainkan Allah.
Karim kemudian menarik pembahasan Habib Ja’far ke persoalan yang lebih dekat dengan kehidupan sosial hari ini. Ia menyoroti hilangnya sosok rahim—karakter feminin, keibuan, dan sifat mengayomi—dalam kehidupan masyarakat.
“Ibu Pertiwi di mana?” tanyanya, sembari mengaitkannya dengan semakin jauhnya keteladanan dari sosok ulama dan umara.

“Kita itu bukan pencipta. Kita itu cuma penemu. Semua yang dianggap diciptakan manusia itu temuan, bukan ciptaan. Yang mencipta adalah Allah.” (Habib Jaʼfar)
Sabrang kemudian mengajak jamaah mengambil satu langkah ke belakang untuk melihat persoalan dengan lebih jernih. Ia membuka dengan pertanyaan sederhana: siapa yang setuju dengan ungkapan “suara rakyat adalah suara Tuhan”? Mayoritas jamaah mengangkat tangan.
Menurutnya, jika demokrasi menjadikan pilihan rakyat sebagai dasar kekuasaan, maka konsekuensinya kita harus menerima hasil pilihan tersebut. Namun, persoalannya menjadi rumit ketika suara rakyat ternyata bisa salah. Dari sinilah ia mengajak jamaah mempertanyakan kembali: apakah setiap keputusan mayoritas otomatis merupakan kebenaran?
Ia kemudian membawa pembahasan pada persoalan informasi. Menurut Sabrang, Indonesia berada dalam kondisi yang paradoks: informasi sangat mudah ditemukan, tetapi justru sulit memastikan mana yang benar dan mana yang salah. Informasi yang valid bercampur dengan informasi yang keliru, sehingga banyaknya informasi tidak selalu membuat manusia semakin mampu memahami keadaan.
Dari persoalan informasi, Sabrang masuk pada persoalan yang lebih besar: korupsi dan kekuasaan. Menurutnya, korupsi tidak berhenti pada tindakan mencuri untuk kepentingan pribadi, tetapi dapat berkembang menjadi sindikasi dan kolusi. Ketika kepentingan sudah saling terikat, kekuasaan dan sumber daya kemudian menjadi alat untuk mempertahankan kelompok masing-masing.
Ukuran tersebut juga ia gunakan untuk melihat pemimpin. Menurutnya, pemimpin yang baik tidak takut ditanya dan tidak perlu menyembunyikan sesuatu. Sebaliknya, pemimpin yang tidak siap menerima pertanyaan justru menunjukkan adanya persoalan dalam kepemimpinannya.
Begitu pula dengan kritik. Kritik yang sehat seharusnya memiliki tujuan dan arah perbaikan. Sementara kritik yang hanya berhenti pada kalimat “ini salah, itu salah” tanpa mampu menawarkan jalan keluar, menurut Sabrang, lebih dekat kepada noise daripada sinyal.
Dari persoalan bangsa yang begitu besar, Sabrang justru mengajak jamaah kembali kepada lingkaran yang paling dekat. Menurutnya, kita tidak mungkin mengendalikan seluruh persoalan Indonesia, tetapi kita masih bisa memengaruhi kampung, keluarga, dan lingkungan tempat kita hidup.
Bagi Sabrang, kemerdekaan tidak harus dimulai dari negara; ia bisa dimulai dari kampung dan keluarga. Jika Indonesia Emas 2045 terasa terlalu besar untuk diwujudkan, setidaknya setiap orang dapat memastikan lingkungannya menjadi “emas” pada tahun tersebut.
Pada akhirnya, ia mengingatkan bahwa tugas manusia tidak berhenti pada urusan politik dan pergantian presiden. Urusan negara memang penting, tetapi manusia memiliki tanggung jawab yang lebih panjang: menjaga keselamatan diri dan sesamanya hingga kehidupan setelah dunia.
Karena itu, Sabrang mengajak jamaah untuk tidak mudah berputus asa ketika menghadapi kesulitan. Kesulitan tidak selalu merupakan hukuman; bisa jadi ia adalah petunjuk yang mengarahkan manusia kepada pelajaran yang lebih penting. Di situlah, menurutnya, salah satu cara manusia merayu Tuhan: tetap percaya kepada-Nya sambil terus memperbaiki apa yang berada dalam lingkaran kemampuannya.

“Kesulitan tidak selalu merupakan hukuman; bisa jadi ia adalah petunjuk yang mengarahkan manusia kepada pelajaran yang lebih penting.” (Sabrang)
KARIM kemudian menarik benang merah dari seluruh pembahasan malam itu. Menurutnya, setiap pembicara telah memberikan gambaran tentang bagaimana manusia mengukur dirinya sendiri sebagai green flag—dengan gradasi yang berbeda, dari “hijau daun”, “hijau muda”, hingga “hijau tua”. Namun, yang terpenting bukanlah labelnya, melainkan nilai-nilai baik yang dapat menjadi hasanah dan meringankan beban pikiran dalam menjalani kehidupan.
Malam yang semakin larut membawa jamaah memasuki jeda musik bersama Lahila. Dalam suasana yang tenang dan damai, mereka membawakan Dialog Diri, yang juga menjadi OST film Seni Merayu Tuhan, dilanjutkan dengan Atur Saja Tuhan, Selamat Ulang Tahun, Tor Monitor Ketua, dan Jaga Jakarta. Lantunan musik mengalir di tengah suasana malam yang semakin hening, memberi ruang bagi jamaah untuk sejenak beristirahat sebelum acara kembali dilanjutkan.
Memasuki sesi terakhir, Muftie dan Karim kembali naik ke panggung dan mengundang para narasumber untuk bergabung. Karim membuka ruang bagi enam penanya untuk menyampaikan pertanyaan, keresahan, maupun pengalaman. Setiap peserta menyebutkan nama, asal, serta kepada siapa pertanyaan ditujukan. Pertanyaan yang muncul membawa diskusi pada persoalan syukur, kehambaan, hubungan manusia dengan Tuhan, kausalitas, korupsi, hingga kebebasan manusia.
Ikin dari Cilacap membuka sesi dengan mempertanyakan pepatah “sesekali lihatlah ke bawah agar hati tak lupa bersyukur.” Baginya, ada keganjilan jika rasa syukur dibangun dengan melihat penderitaan orang lain. Jika seseorang sudah berada di posisi paling bawah, kepada siapa lagi ia harus melihat? Ia kemudian bertanya bagaimana seharusnya manusia memahami syukur sesuai ajaran Nabi Muhammad SAW, sekaligus meminta pandangan Kris Tan dari perspektif Konghucu.
Pertanyaan berikutnya datang disampaikan Toni dari Sragen yang mengangkat pengalaman pribadinya dalam menjalankan ibadah. Ia mengaku kerap melakukan tawar-menawar dengan Tuhan, terutama ketika sakit atau berada jauh dari masjid. Dengan nada jenaka, Toni mempertanyakan apakah sikap tersebut merupakan bentuk merayu Tuhan yang terlalu mesra, salah memahami sifat Tuhan Yang Maha Pemurah, atau justru tanda seorang hamba yang red flag.
Dimas dari Ciputat membawa pembahasan pada persoalan kehambaan dan kausalitas. Kepada Habib, ia mempertanyakan posisi hamba yang memiliki integritas dan hubungannya dengan empat golongan: nabiyin, shiddiqin, syuhada, dan shalihin. Kepada Sabrang, ia mempertanyakan hukum sebab-akibat yang tidak selalu berjalan linear. Orang yang rajin belajar bisa menjadi pintar, tetapi ada pula orang yang malas belajar namun memperoleh kecerdasan atau keberuntungan. Ia kemudian bertanya bagaimana hukum Tuhan dapat dinalar manusia ketika tidak semua kejadian bisa dijelaskan melalui kausalitas.
Cipa dari Makassar membawa persoalan korupsi melalui kisah seorang kepala dinas yang menggunakan uang hasil korupsi untuk membantu kebutuhan para pegawainya. Karena merasa memperoleh manfaat, para karyawan kemudian melindunginya. Cipa mempertanyakan apakah tindakan tersebut tetap merupakan dosa jika niatnya membantu orang lain, atau justru menjadi dosa bersama karena dinikmati bersama-sama.
Sementara Hari dari Trenggalek mempertanyakan hubungan manusia dengan Tuhan jika manusia berasal dari alam ruh dan hidup karena hembusan Tuhan. Apakah manusia yang menjadi bagian dari Tuhan harus “merayu” Tuhan? Pertanyaan tersebut membawa diskusi pada cara manusia memahami kedekatannya dengan Tuhan.
Khairil dari Tangerang meminta perspektif Kris Tan mengenai sosok hamba yang green flag dalam tradisi Konghucu dan bagaimana cara merayu Tuhan yang relevan. Kepada Habib, ia mengungkapkan keresahannya sebagai generasi Z yang merasa kehidupan Jakarta membuat keimanannya semakin berkurang. Ia kemudian bertanya bagaimana cara menjaga iman agar tidak terus menurun.

“Manusia sedang menjalani permainan. Menjadi manusia yang baik, warga yang baik, dan bagian dari keluarga yang baik merupakan rangkaian yang saling berkaitan.” (Sabrang)
Menjawab persoalan syukur, Kris Tan mengajak jamaah melihat bahwa keindahan dan kebahagiaan sangat bergantung pada perspektif.
“Everything has beauty in it, but not everyone sees it,” ujarnya. Dalam tradisi Konghucu, sesuatu yang disukai maupun dibenci banyak orang sama-sama perlu diperiksa. Tidak ditolak mentah-mentah, tetapi juga tidak diterima begitu saja. Manusia perlu merumuskan pandangannya sendiri.
Kris kemudian menjelaskan prinsip Wei Te, bahwa hanya kebajikanlah yang membuat Tuhan berkenan. Karena itu, cara manusia mendekati Tuhan bukan hanya melalui ritual, tetapi juga melalui kebajikan. Manusia diajak terus belajar, menempuh Tao, dan berhenti mengutuk kegelapan. Berbagai laku spiritual menjadi jalan untuk menemukan kembali hati yang lebih lepas dari keinginan yang tidak terkendali.
Aristo kemudian menjelaskan bahwa film “Seni Merayu Tuhan” berangkat dari kegelisahan tokoh Hikmah yang merasa telah berusaha mendekati Allah, tetapi justru semakin jauh. Melalui tokoh Khatib, ia menyampaikan apakah manusia benar-benar merayu Tuhan dengan tulus atau justru merasa sudah paling benar dalam beribadah. Film tersebut juga dihadirkan sebagai companionship bagi mereka yang sedang lelah menghadapi kehidupan: tidak apa-apa capek, berantakan, lalu berjalan pelan-pelan.
Habib Ja’far kemudian mengajak jamaah melihat pentingnya membangun social capital dari pranata-pranata terkecil. Ia juga menyoroti pentingnya ekosistem industri yang mampu menyeimbangkan motivasi, edukasi, dan spiritualisasi. Dalam konteks sedekah, ia menawarkan sudut pandang bahwa membeli dapat menjadi bentuk sedekah yang lebih besar daripada memberi, karena membeli membangun kedaulatan dan keberlanjutan, sementara memberi hanya memastikan seseorang tidak mati.
Menjawab persoalan tentang syukur, Habib Ja’far menjelaskan bahwa Islam memiliki layer terendah bagi manusia dengan tingkat kesadaran yang berbeda. Ada yang beribadah karena mengharapkan surga atau takut neraka, tetapi perjalanan beragama seharusnya terus bergerak menuju pemahaman yang lebih dalam. Islam tidak hanya mengatur hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga hubungan horizontal antarmanusia. Karena itu, ibadah idealnya memiliki dampak sosial dan spiritual.
Tentang empat golongan hamba, Habib Ja’far menjelaskan bahwa kehambaan merupakan konsep dasar. Nabi adalah hamba yang bersedia menjadi penyampai wahyu. Shiddiq adalah hamba yang jujur kepada dirinya sendiri. Syuhada adalah mereka yang merelakan diri untuk sesuatu yang lebih besar dari dirinya. Sedangkan shalihin bukan sekadar orang baik, melainkan orang yang mampu relevan dengan zaman dan tempatnya. Pada titik itu, ego melebur dengan kepentingan yang lebih besar.
Sabrang kemudian menutup pembahasan dengan konsep proksi. Menurutnya, banyak hal yang dikejar manusia sebenarnya merupakan perwakilan dari sesuatu yang lebih mendasar. Kekayaan dapat menjadi proksi rasa aman, kecantikan menjadi proksi kesehatan, dan jabatan menjadi proksi harga diri. Persoalan muncul ketika manusia lupa bahwa yang dikejarnya hanyalah proksi dan akhirnya terpenjara oleh permainan tersebut. Orang yang merdeka adalah orang yang sadar bahwa proksi dapat dipilih.
Pembahasan kemudian sampai pada Tuhan, kausalitas, dan kehendak bebas. Sabrang menjelaskan bahwa parameter fisik tidak selalu dapat digunakan untuk memahami hal-hal spiritual. Sains bekerja pada wilayah fisik, sementara logika dapat digunakan untuk menelusuri persoalan sebab dan akibat hingga gagasan tentang causa prima. Manusia tidak hanya diajak mengalami sebab-akibat, tetapi juga memahaminya dan mendesainnya.
Menjelang akhir, Sabrang mengingatkan bahwa manusia sedang menjalani sebuah permainan dengan batas dan aturan tertentu. Kebebasan seseorang berhenti ketika mulai mengganggu kebebasan orang lain. Karena itu, menjadi manusia yang baik, warga yang baik, dan bagian dari keluarga yang baik merupakan rangkaian yang saling berkaitan.
Pukul 02.52 WIB, rangkaian Kenduri Cinta kemudian diakhiri dengan indal qiyam. Setelah perjalanan panjang dari persoalan syukur, kehambaan, iman, korupsi, hingga kausalitas dan kebebasan, forum kembali pada satu ruang yang sama: manusia yang terus belajar memahami dirinya, sesamanya, dan Tuhannya.






