Jumat malam, 5 Juni 2026, suasana Plaza Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, tampak berbeda dari edisi-edisi Kenduri Cinta sebelumnya di tahun ini. Bertepatan dengan ulang tahun ke-26 Kenduri Cinta dan serangkaian peringatan hari ulang tahun Jakarta ke-499, forum Kenduri Cinta berkolaborasi dengan Jakarta Future Festival (JFF) 2026. Festival tahunan yang diinisiasi oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Provinsi DKI Jakarta bersama berbagai komunitas, institusi, pelaku kreatif, akademisi, dan masyarakat ini bertujuan untuk membangun ruang dialog mengenai masa depan Jakarta.
Perbedaan Kenduri Cinta edisi ke-269 kali ini terlihat sejak jamaah memasuki area forum. Tenda yang selama ini identik dengan kesederhanaan Kenduri Cinta malam itu berdiri lebih luas dan lebih megah, menyesuaikan semangat kolaborasi Jakarta Future Festival. Tata panggung, pencahayaan, dan area duduk tampak lebih tertata dari biasanya. Namun, kemegahan tersebut tidak mengubah wajah asli Kenduri Cinta. Tikar-tikar tetap digelar di lantai, jamaah duduk melingkar tanpa sekat, saling menyapa, berbagi tempat duduk, dan menikmati keakraban yang menjadi ruh forum sinau bareng.
Sejak selepas Magrib, jamaah mulai berdatangan dari berbagai penjuru Jakarta dan kota-kota di sekitarnya. Mereka datang bersama keluarga maupun sendiri. Tidak sedikit pula yang menempuh perjalanan jauh menggunakan kereta atau kendaraan umum, demi kembali duduk dalam lingkaran yang sama. Di tengah ramainya aktivitas Jakarta Future Festivaldi kawasan Taman Ismail Marzuki, Kenduri Cinta kembali menghadirkan ruang yang mengajak orang berhenti sejenak dari kesibukan kota untuk mendengarkan, berdialog, dan belajar bersama.
Sebagaimana tradisi yang telah lama dirawa, rangkaian forum dibuka dengan tawashshulan yang didampingi para penggiat Kenduri Cinta. Irama rebana mengalun mengiringi suara jamaah yang larut dalam doa dan pujian kepada Rasulullah SAW. Di atas panggung yang malam itu tampak lebih megah, suasana tetap terasa hangat dan khidmat. Kemasan boleh berubah, tetapi ruh kebersamaan yang menjadi napas Kenduri Cinta tetap hidup sebagaimana pertama kali forum ini digelar dua puluh enam tahun silam.

26 Tahun Kenduri Cinta Menjaga Cahaya Kebersamaan
Sekitar pukul 21.00 WIB, Ibnu membuka forum dengan mengingatkan bahwa malam itu merupakan pertemuan dua momentum penting: ulang tahun Jakarta dan ulang tahun Kenduri Cinta. Meski hadir dengan wajah yang berbeda, semangat yang dibangun tetap sama, yakni menghadirkan ruang untuk bershalawat, berdiskusi, dan belajar bersama.
Tema yang diangkat malam itu adalah Sawang Sinawang. Tema ini diharapkan dapat membawa diskursus bagi jamaah untuk memperluas cara pandang terhadap kehidupan, belajar bersyukur atas apa yang dimiliki, dan melihat perjalanan hidup secara lebih utuh. Di tengah semangat Jakarta Future Festival yang berbicara tentang masa depan kota, Kenduri Cinta menghadirkan perspektif bahwa masa depan juga dibangun dari cara manusia memandang dirinya sendiri, memandang sesamanya, dan memandang Tuhannya.
Sesi pembuka diisi berbagai kesaksian jamaah dan penggiat yang tumbuh bersama Kenduri Cinta. Cerita-cerita sederhana itu memperlihatkan bahwa forum ini bukan sekadar tempat berdiskusi, melainkan telah menjadi ruang pulang bagi banyak orang.
Munawir mengenang masa ketika dirinya datang ke Jakarta sebagai seorang perantau dan buruh. Awalnya, ia hanya mengikuti Kenduri Cinta sebagai jamaah biasa ketika Cak Nun masih rutin hadir. Setelah setahun mengikuti forum, ia memutuskan bergabung sebagai penggiat karena merasakan perubahan dalam cara memandang kehidupan. Baginya, Kenduri Cinta mengajarkan bahwa kesungguhan hidup tidak selalu diukur oleh materi, tetapi oleh kesediaan untuk terus belajar dan bertumbuh bersama.
Sementara Rio, seorang jamaah yang malam itu datang dari Bogor bersama keluarganya, juga berbagi pengalaman serupa. Sejak mengenal Kenduri Cinta pada 2024, ia rutin datang menggunakan kereta setiap bulan.

“Biar waras saja, Mas. Dengan ikut Kenduri Cinta, saya bisa menjaga kewarasan dan mengenal agama lewat pendekatan yang berbeda.”
Kesaksian tersebut seolah mewakili banyak jamaah yang hadir malam itu. Di tengah kehidupan kota yang semakin cepat dan arus informasi yang tak pernah berhenti, Kenduri Cinta menjadi ruang untuk memperlambat langkah dan kembali berdialog dengan diri sendiri.
Hermanto turut membagikan pengalamannya mengenal Kenduri Cinta sejak masih duduk di bangku SMK. Ia tertarik karena forum ini tidak mengenal batas pakaian, latar belakang, maupun usia. Tema-tema yang diangkat selalu beragam dan dibahas dalam suasana yang penuh kegembiraan. Ketertarikannya membuat ia mendalami karya-karya Cak Nun hingga akhirnya memilih menjadi penggiat.
Sementara itu, Arista mewakili jamaah perempuan menyampaikan pandangannya mengenai pentingnya keterlibatan perempuan dalam ruang-ruang pembelajaran, dialog, dan pengembangan komunitas. Menurutnya, perempuan memiliki peran strategis dalam pendidikan keluarga, pembentukan karakter generasi, serta pembangunan masyarakat yang berkelanjutan.
Rangkaian kisah tersebut kemudian diperdalam oleh Adi Pudjo, salah satu penggiat yang telah mendampingi Kenduri Cinta sejak awal berdiri. Ia mengajak jamaah mengingat masa ketika forum ini masih menggunakan panggung bambu sederhana di depan Taman Ismail Marzuki, bahkan pernah roboh diterpa angin. Bagi Adi, perjalanan panjang Kenduri Cinta membuktikan bahwa yang membuat forum ini bertahan bukanlah fasilitas atau kemegahan panggung, melainkan nilai-nilai kemanusiaan yang terus dirawat bersama.

“Di sini kita punya kesempatan untuk menjadi manusia, memaksimalkan penalaran dan perasaan. Nilai kemanusiaan akan terancam jika kita hanya menjadi konsumen atau perabot mesin.”
Refleksi tersebut menjadi pengingat bahwa di tengah perkembangan teknologi dan perubahan sosial yang begitu cepat, manusia tetap membutuhkan ruang untuk menjaga akal sehat, rasa, dan kemanusiaannya. Barangkali itulah yang membuat Kenduri Cinta terus bertahan selama dua puluh enam tahun: tidak karena kemegahan acaranya, melainkan karena kemampuannya menjaga kebersamaan dan menghadirkan ruang bagi siapa saja untuk terus belajar menjadi manusia.
Satu jam berlalu, suasana forum berubah ketika Methosa tampil malam itu. Band yang telah aktif sejak 2006 tersebut membawakan lagu-lagu bertema kritik sosial seperti Adu Domba, Kita Belajar Dulu, Kembalikan Terang, dan Bangun Orang Waras.
Vokalis Methosa, Munthe, engaku selalu merasa seperti kembali ke rumah setiap datang ke Kenduri Cinta. Ia juga menyinggung fenomena short-term memory yang semakin banyak dialami generasi muda akibat derasnya arus konten digital.
Menurutnya, masyarakat semakin mudah melupakan persoalan-persoalan mendasar karena perhatian terus berpindah dari satu isu ke isu lainnya. Kritik tersebut menjadi pengantar yang selaras dengan tema Sawang Sinawang, yakni pentingnya menjaga kejernihan cara pandang di tengah banjir informasi. Jamaah pun larut dalam lirik-lirik lagu Menthosa malam itu.

Merawat Kenduri Cinta dengan Keikhlasan, Menanam tanpa Menghitung Panen
Memasuki sesi utama, forum terus berlanjut dengan Mizani dan Rizal sebagai moderator. Mizani mengajak seluruh jamaah kembali melingkar dan mensyukuri perjalanan Kenduri Cinta selama dua puluh enam tahun. Rizal kemudian mengalasi tema Sawang Sinawang sebagai alat untuk memperdalam perspektif sekaligus memperkuat rasa syukur. Sesi diskusi dilanjutkan dan dibersamai Sabrang MDP, Iwan Gunawan, dan Fahmi. Sebelum diskusi dilanjutkan, pemotongan tumpeng sebagai simbol dua puluh enam tahun Kenduri Cinta tak lupa dilakukan sebagai bentuk rasa syukur.
Fahmi mengawali penyampaiannya dengan mengapresiasi kolaborasi Kenduri Cinta bersama Jakarta Future Festival yang untuk kedua kalinya digelar di Taman Ismail Marzuki (TIM). Menurutnya, kolaborasi tersebut menjadi pengakuan bahwa Kenduri Cinta telah menjadi bagian dari sejarah dan identitas budaya TIM selama lebih dari dua dekade.
Ia menjelaskan bahwa Kenduri Cinta sejak awal dibangun dengan berlandaskan nilai ketakwaan dan tawakal sebagaimana terkandung dalam Surah At-Talaq ayat 2–3. Forum ini tumbuh secara independen, tanpa bergantung pada sponsor, bukan karena sikap eksklusif, melainkan karena keyakinan bahwa keikhlasan akan selalu memperoleh pertolongan dari Allah SWT.
Fahmi mengajak jamaah untuk mensyukuri perjalanan Kenduri Cinta yang mampu bertahan hingga usia 26 tahun. Di tengah berbagai kegiatan yang semakin komersial, forum ini tetap menjadi ruang belajar bersama yang terbuka dan tidak berbayar. Ia juga mengingatkan pesan Cak Nun agar jamaah tidak terjebak pada kultus individu, melainkan mengambil nilai-nilai yang diwariskan melalui Maiyah.
Ia kemudian mengutip perumpamaan tentang “rumput tetangga yang lebih hijau”, seraya mengingatkan bahwa di balik kehijauan itu ada proses yang tidak selalu terlihat. Karena itu, manusia tidak cukup hanya melihat hasil, tetapi juga perlu memahami perjalanan di baliknya.
Menutup penyampaiannya, Fahmi mengibaratkan Kenduri Cinta seperti seorang petani yang bertugas menanam dan merawat, tanpa sibuk menghitung hasil panen. Begitu pula Kenduri Cinta yang terus dirawat dengan kesabaran dan keikhlasan, tanpa pernah mengetahui buah yang akan dihasilkannya. Dengan nada jenaka, ia menutup dengan kalimat yang disambut tawa jamaah, “Pokoknya kalau Agustus masih ada Maiyahan, berarti kita semua masih aman.”
Moderator kemudian memberikan kesempatan kepada Iwan Gunawan.

Iwan Gunawan, salah satu penggagas awal Kenduri Cinta, kemudian mengajak jamaah untuk membaca Surah Al-Fatihah yang dipersembahkan untuk Cak Nun, para pendahulu perawat Kenduri Cinta yang sudah berpulang ke haribaan-Nya, serta orang tua yang telah mendahului. Suasana hening menyelimuti Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, menghadirkan nuansa khidmat sebelum Mas Iwan Gunawan membagikan pengalamannya bersama Kenduri Cinta.
Di hadapan jamaah, Mas Iwan mengenang pertemuan pertamanya dengan Cak Nun pada tahun 2003 dalam sebuah pementasan teater di Universitas Gadjah Mada. Pertemuan itu meninggalkan kesan mendalam, terutama ketika Cak Nun melantunkan azan di atas panggung. Dalam lakon tersebut, digambarkan suara azan dari Kadilangu yang menggema hingga Makkah. Meski selama hidup telah berkali-kali mendengar azan, menurutnya, lantunan Cak Nun malam itu menghadirkan keindahan yang berbeda, membawa kesejukan dan keteduhan yang sulit diungkapkan dengan kata-kata.
Pengalaman itulah yang membuat dirinya “jatuh cinta” pada sosok Cak Nun dan Maiyah. Sejak saat itu, ia mengikuti perjalanan Kenduri Cinta yang pada awal tahun 2000 masih berpindah-pindah lokasi di kawasan Taman Ismail Marzuki, mulai dari pelataran depan, kemudian berpindah ke dekat pos pemadam kebakaran, lalu di bawah pepohonan, hingga akhirnya menetap di lokasi yang kini menjadi rumah bersama para jamaah.
Menurut Iwan, perpindahan tempat tersebut justru menjadi bagian dari sejarah yang menyatukan Kenduri Cinta dengan setiap sudut TIM. Ia bersyukur karena forum ini berkembang menjadi komunitas yang sangat lengkap, bukan karena fasilitas atau kemewahan yang dimiliki, melainkan karena adanya keikhlasan yang besar, cinta yang tidak berbatas, dan persaudaraan yang melampaui sekat-sekat sosial.
Ia menilai, banyak pelajaran kehidupan yang diperoleh dari forum ini yang tidak pernah ditemukan di bangku pendidikan formal. Di Kenduri Cinta, ilmu tidak hanya dipelajari sebagai pengetahuan, tetapi juga dihayati sebagai laku hidup melalui dialog, pengalaman, dan kebersamaan.
Iwan kemudian membagikan kisah sederhana tentang bagaimana Cak Nun pertama kali memperkenalkan istilah Maiyah kepadanya. Saat itu keduanya sedang menikmati teh di sebuah warung sederhana. Ketika Iwan memesan teh, Cak Nun sambil menyeruput minuman itu berkata berulang, “Maiyah ya, Maiyah ya.” Dari momen yang tampak sangat sederhana tersebut, Iwan memahami bahwa Maiyah adalah kebersamaan yang lahir dari berbagi, bahkan hanya melalui seteguk teh yang dinikmati bersama.

“Untuk apa kita berkumpul kalau bukan karena cinta?” — Iwan Gunawan
Ia juga mengingat kembali sebuah peristiwa ketika ada jamaah yang mencoba mengaitkan kegiatan Maiyah dengan kepentingan politik praktis. Menanggapi hal tersebut, Cak Nun memberikan analogi yang menurutnya sangat kuat: “Saya kasih air yang murni, kok malah kamu pakai untuk cebok.” Kalimat itu menjadi penegasan bahwa sejak awal Kenduri Cinta dihadirkan sebagai aliran air yang jernih, bersih, dan murni, yang seharusnya dijaga dari kepentingan-kepentingan sempit di luar semangat belajar bersama.
Menutup refleksinya, Iwan mengajak seluruh jamaah untuk terus mensyukuri keberadaan Kenduri Cinta. Menurutnya, forum ini telah melahirkan persaudaraan yang unik: orang-orang yang belum pernah saling mengenal dapat merasa begitu dekat satu sama lain. Bahkan, kedekatan itu terkadang melampaui hubungan yang dibangun melalui kedekatan fisik sehari-hari.
Bagi Iwan, salah satu nikmat terbesar dari ber-Maiyah adalah merasakan persaudaraan tanpa syarat, tanpa kepentingan, dan tanpa harus didahului perkenalan. Sebuah rasa memiliki yang lahir dari keikhlasan untuk terus belajar bersama dalam perjalanan panjang Kenduri Cinta.
Pembahasan kemudian diperdalam oleh Sabrang. Sabrang mengawali padangannya dengan membahas makna sawang sinawang, yakni kecenderungan manusia menilai kehidupan orang lain hanya dari apa yang tampak di permukaan. Padahal, yang terlihat belum tentu menggambarkan kenyataan yang sesungguhnya. Karena itu, rasa syukur tidak semestinya lahir dari melihat kesulitan orang lain, melainkan dari kemampuan memahami kehidupan secara lebih utuh.
Pembahasan kemudian diperdalam melalui konsep time horizon, yaitu kemampuan manusia memikirkan masa depan dalam rentang waktu yang panjang. Menurutnya, setiap orang memiliki cakrawala berpikir yang berbeda sesuai dengan tanggung jawab yang dipikul. Semakin besar tanggung jawab seseorang, semakin jauh pula horizon berpikir yang dibutuhkan untuk menghadapi kompleksitas masa depan.
Sabrang menjelaskan bahwa manusia bergerak dalam tingkat kesadaran yang beragam. Ada yang hanya bereaksi pada apa yang dilihat dan didengar, ada yang mampu memahami pola dan konsep, dan ada pula yang dapat membaca dampak sebuah keputusan jauh melampaui zamannya. Karena itu, persoalannya bukan siapa yang lebih tinggi atau lebih rendah, melainkan apakah seseorang berada pada peran yang sesuai dengan kapasitas berpikir dan tanggung jawabnya.
Konsep tersebut kemudian dihubungkan dengan perjalanan Kenduri Cinta yang telah berlangsung selama 26 tahun. Baginya, forum ini dibangun bukan untuk mengejar hasil yang cepat terlihat, melainkan sebagai bagian dari kerja peradaban yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan.

“Kita menanam sesuatu yang belum tentu bisa kita tuai.” — Sabrang MDP
Menurutnya, banyak pekerjaan peradaban yang hasilnya baru akan dirasakan oleh generasi berikutnya. Karena itu, manusia perlu belajar bekerja dengan ketulusan tanpa selalu mengukur segala sesuatu dari hasil yang segera tampak. Dalam perspektif tersebut, Maiyah memilih membangun sesuatu yang melampaui siklus lima tahunan dan logika hasil instan.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan manusia modern sering kali bukan kurangnya informasi, melainkan ketidakmampuan mengelola informasi yang terus mengalir. Overthinking, menurutnya, tidak selalu lahir dari kecerdasan, tetapi dari ketidakmampuan menghentikan arus pikiran yang terus bergerak tanpa arah.
Menutup pandangannya, Sabrang menegaskan bahwa Maiyah bukan ruang untuk menjadi manusia yang paling pandai, melainkan ruang belajar agar tidak “bodoh-bodoh amat”. Jika agama mengajarkan manusia agar tidak salah-salah amat dalam menjalani hidup, maka Maiyah adalah “rakaat panjang” untuk merawat dan menghidupkan nilai-nilai tersebut dalam keseharian.
Menanggapi diskusi yang berkembang, Fahmi mengingatkan bahwa menjadi teladan bukanlah jalan yang mudah. Menurutnya, setiap orang yang memilih menjadi contoh bagi orang lain harus siap menanggung konsekuensi, pengorbanan, bahkan penderitaan.
Ia menjelaskan bahwa dalam sejarah kenabian, para nabi tidak dikenal karena kemewahan atau kehidupan yang berfoya-foya. Justru, keteladanan mereka lahir dari kesediaan memikul amanah, menghadapi cobaan, dan mengutamakan kepentingan umat di atas kepentingan pribadi. Karena itu, Nabi Muhammad SAW. menjadi contoh utama bagaimana kepemimpinan dibangun melalui pengabdian, bukan kenyamanan.
Fahmi kemudian mengaitkan hal tersebut dengan perjalanan Kenduri Cinta. Menurutnya, forum yang kini telah berusia dua puluh enam tahun itu tidak lahir dari perencanaan besar atau dukungan sumber daya yang melimpah. Akar Kenduri Cinta justru berawal dari perjalanan Cak Nun bershalawat dan bersilaturahmi ke kampung-kampung kecil di Jakarta, membangun kedekatan dengan masyarakat secara sederhana dan penuh ketulusan.
Dari proses yang tampak sederhana itulah tumbuh ruang belajar bersama yang terus hidup hingga hari ini. Bagi Fahmi, perjalanan tersebut menjadi bukti bahwa perubahan besar sering kali lahir dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan istiqamah dan keikhlasan.
Menjelang dini hari, forum kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya-jawab terbuka.

Ruang Pertanyaan, Ruang Pembelajaran
Memasuki sesi tanya jawab, sejumlah jamaah mengangkat beragam persoalan. Topik yang dibahas mulai dari konsep time horizon yang sebelumnya disampaikan oleh Sabrang, peran individu dalam sistem sosial-politik, makna menanam tanpa berharap panen, hingga hubungan antara kecerdasan, agama, dan peradaban.
Ika menjadi penanya pertama. Ia tertarik pada penjelasan mengenai tingkatan kesadaran dan time horizon. Menurutnya, kemampuan berpikir abstrak memungkinkan manusia melihat hubungan sebab-akibat dalam rentang waktu yang lebih panjang dibanding sekadar berpikir simbolik. Ia kemudian bertanya bagaimana seseorang dapat mencapai tingkat abstrak tanpa terjebak dalam overthinking yang justru menimbulkan stres.
Pertanyaan berikutnya datang dari Sulhan, jamaah asal Bekasi yang mengaku telah mengikuti Kenduri Cinta sejak 2018. Ia menceritakan pengalamannya berkiprah dalam berbagai komunitas, pernah terlibat dalam partai politik tingkat kecamatan, hingga memperoleh kesempatan mengikuti program-program pemerintah. Ia mempertanyakan apakah wajar menikmati manfaat dari sistem yang ada, mengingat menurut pengalamannya perubahan tidak selalu bisa dilakukan dari luar sistem. Baginya, yang terpenting adalah tetap menjaga nilai-nilai yang diajarkan Cak Nun.
Ana dari Tanjung Barat, yang malam itu baru keempat kalinya mengikuti Kenduri Cinta, mengajukan dua pertanyaan. Pertama, mengenai konsep menanam tanpa kepastian memanen. Ia memberi contoh ketika seseorang meminjamkan uang kepada orang lain yang sedang membutuhkan; apakah tindakan tersebut dapat dianggap sebagai benih yang suatu saat akan berbuah atau justru berpotensi menjadi “gagal panen”. Kedua, ia bertanya apakah ketika seseorang menganggap hidup orang lain lebih enak, sebenarnya ia sedang melihat realitas atau justru memproyeksikan kekecewaan terhadap dirinya sendiri.
Penanya berikutnya mengaitkan tema Sawang Sinawang dengan Surah Al-Insyirah. Ia menyoroti perbedaan makna antara “setelah kesulitan ada kemudahan” dan “bersama kesulitan ada kemudahan”. Ia juga mengajukan refleksi tentang keridaan Allah dan hubungan timbal balik antara rakyat dan negara, sebelum menyampaikan pandangannya bahwa Maiyah berpotensi menjadi peradaban besar sebagaimana dinasti-dinasti Islam pada masa lalu.
Pertanyaan terakhir datang dari Ariwono yang menyinggung perspektif neurosains. Ia bertanya apakah peningkatan kecerdasan hingga tingkat luar biasa akan membawa manusia pada sekularisasi agama, serta bagaimana masyarakat dapat keluar dari jeratan perjudian daring yang semakin meluas.
Menanggapi berbagai pertanyaan tersebut, Fahmi kembali mengajak jamaah merujuk pada Surah At-Talaq ayat 2–3 sebagai fondasi berpikir. Menurutnya, Surah Al-Insyirah tidak menyatakan bahwa kemudahan datang setelah kesulitan, melainkan bahwa kemudahan hadir bersama kesulitan. Persoalannya terletak pada bagaimana manusia menyikapi keadaan yang sedang dihadapinya.
Tentang utang, Fahmi menyampaikan bahwa dalam Al Qur’an sudah ada rumusnya detail di Surat Al Baqoroh 280-282.
Ia juga menyoroti pentingnya keridaan manusia terhadap ketentuan Allah. “Apa gunanya Allah ridho kepada kita kalau kita tidak ridho kepada Allah?” Menurutnya, sikap menerima dan menjalani takdir dengan ikhlas merupakan bagian penting dari perjalanan spiritual manusia.
Iwan kemudian menanggapi pertanyaan Ana mengenai cinta. Ia mengisahkan riwayat tentang Nur Muhammad yang menjadi sumber cahaya dan ketertarikan manusia terhadap kebaikan. Baginya, setiap rasa cinta sejatinya adalah ketertarikan terhadap cahaya yang dipancarkan oleh sesuatu yang dicintai.

“Overthinking adalah ketidakmampuan untuk menyetop informasi.” — Sabrang MDP
Ia menjelaskan bahwa sejak awal, Cak Nun membangun Kenduri Cinta melalui bahasa, tulisan, teater, dan berbagai idiom yang bertujuan “mengkendurikan cinta”. Menurutnya, ikatan persaudaraan yang terasa begitu kuat di Maiyah lahir dari kemurnian niat dan bahasa cinta yang terus dirawat selama bertahun-tahun. Ia bahkan mengenang naskah Talbiyah Cinta yang dibacanya saat masih menjadi wartawan kampus sebagai salah satu karya yang memperlihatkan kedalaman visi spiritual Cak Nun tentang perjalanan manusia menuju Sang Kekasih.
Sementara itu, Sabrang menjawab pertanyaan tentang time horizon dengan memperluas pembahasannya ke konsep stratum, yaitu lapisan paradigma berpikir manusia. Ia menjelaskan bahwa setiap tingkat kesadaran masih terbagi lagi ke dalam kemampuan berpikir deklaratif, kumulatif, serial, dan paralel yang semakin kompleks.
Menurutnya, tidak semua orang harus mencapai tingkat abstrak yang sama. Yang terpenting adalah menemukan tempat dan peran yang sesuai dengan kapasitas masing-masing. “Kalau orang sudah punya pertanyaan, berarti dia sudah siap menerima jawaban.” Ia kembali menegaskan bahwa kebahagiaan manusia tidak ditentukan oleh posisi sosial, kekayaan, ataupun tingkat intelektual tertentu. Setiap orang memiliki “kurikulum” yang unik dari Tuhan dan sedang menempuh jalannya masing-masing menuju-Nya.
Terkait overthinking, Sabrang memberikan penjelasan singkat namun mengena.
Menurutnya, manusia modern sering kali tidak kekurangan informasi, melainkan kesulitan menghentikan arus informasi yang terus masuk ke dalam pikirannya.
Menanggapi pertanyaan tentang pekerjaan dan keterlibatan dalam sistem, ia menjelaskan bahwa pada dasarnya pekerjaan adalah bentuk pelayanan kepada orang lain. Persoalannya bukan berada di dalam atau di luar sistem, melainkan apakah seseorang tetap menjaga integritas dan memahami konsekuensi moral dari apa yang dikerjakannya.
Dalam bagian akhir jawabannya, Sabrang menyinggung hubungan antara kecerdasan dan agama. Menurutnya, semakin tinggi kecerdasan seseorang, semakin beragam pula cara ia memahami dunia. Namun, agama tidak hadir untuk membuktikan segala sesuatu secara matematis, melainkan untuk membantu manusia mengurangi kesalahan dalam menjalani hidup. “Yang dicari bukan kebenaran, tetapi mengeliminasi kesalahan,” ujarnya.
Ia kemudian menutup dengan refleksi tentang Maiyah. Baginya, Maiyah bukanlah identitas yang dapat dilekatkan begitu saja pada seseorang.

“Maiyah bukan identitas. Maiyah hidup ketika ada pelakunya.” — Sabrang MDP
Karena itu, institusi hanya berfungsi sebagai wadah. Yang membuatnya tetap hidup adalah gagasan, nilai, dan manusia-manusia yang terus menjalankannya melampaui zamannya. Dengan demikian, sebagaimana benih yang ditanam tanpa kepastian memanen, Maiyah terus bertumbuh melalui orang-orang yang memilih merawatnya dari generasi ke generasi.
Forum kemudian ditutup dengan lantunan hadroh bersama teman-teman Al-Hidayah, dilanjutkan doa bersama.
Meski waktu telah melewati dini hari, ratusan jamaah masih bertahan di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki. Di tengah udara malam Jakarta yang semakin sejuk, shalawat dan doa menjadi penutup yang khidmat bagi perayaan dua puluh enam tahun Kenduri Cinta.
Selama lebih dari dua dekade, Kenduri Cinta tetap berjalan dengan ruh yang sama: murni, konsisten, dan independen. Berawal dari shalawatan sederhana Cak Nun di kampung-kampung kecil, forum ini tumbuh menjadi ruang sinau bareng yang melekat dengan Taman Ismail Marzuki dan menjadi salah satu ruang intelektual-spiritual penting di Ibu Kota.
Sebagaimana pesan yang berulang sepanjang malam, Kenduri Cinta terus menanam tanpa sibuk menghitung panen. Dan hingga dini hari itu, benih-benih cinta, ilmu, dan persaudaraan masih terus dirawat bersama.
“Sejak awal Kenduri Cinta adalah air yang murni dan bening. Bersyukurlah atas cahaya dan aliran itu.” — Cak Nun






