Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
Home Mukadimah

Mukadimah: Bahasa Egologi

Redaksi Kenduri Cinta by Redaksi Kenduri Cinta
September 10, 2026
in Mukadimah
Reading Time: 5 mins read
Mukadimah: Bahasa Egologi

DALAM tradisi spiritual Wilayah (kewalian) Nusantara, rahim tempat Maiyah tumbuh dan berakar, relasi manusia dengan alam tidak pernah terputus dari relasinya dengan Sang Pencipta. Merusak alam pada hakikatnya adalah bentuk pengingkaran terhadap amanah kekhalifahan yang diemban Bani Adam untuk memakmurkan alam. Memayu hayuning bhawono.

Oleh karena itu, segala bentuk kerusakan pada alam—baik di darat, laut, dirgantara, antariksa, maupun mayantara—mutlak menuntut pertobatan. Tentu saja, lokasi tobat itu hakikatnya ada di relung batin terdalam; bukan simbolis, apalagi sekadar pencitraan publik yang kosmetis. Ia harus hadir sejati.

Indikatornya adalah istigfar yang melahirkan aksi. Tobat batin menuntut transformasi sistemis, dari rasa bersalah yang reflektif menjadi laku hidup yang proaktif. Langkahnya dimulai dari hal-hal terkecil di ruang privat terdalam, yakni ruang sadar alias shadr (rongga dada tempat bersemayamnya nafsu nafsiyah), kemudian meluas menjadi solidaritas sosial untuk melindungi ruang hidup yang tersisa.

Transformasi ini tak mungkin berjalan tanpa proses tadabbur atas fenomena alam. Kita perlu belajar kembali mendengarkan tembang-Nya yang terbungkus pesan-pesan sunyi dari hutan yang terbakar, tanah yang retak, dan angin yang berubah arah. Seluruhnya mengandung pesan bahwa sudah saatnya manusia berhenti merasa sebagai pusat semesta dan mulai kembali bersujud bersama alam. Ketundukan kosmis ini tercermin jelas dari perintah-Nya kepada Nabi Daud a.s. untuk bertasbih bersama burung dan gunung (Q.S. Shad: 18, Q.S. Saba’: 10, Q.S. Al-Anbiya’: 79).

Ini adalah tradisi kenabian dan kewalian yang semakin banyak dilupakan oleh insan. Ingatlah bahwa insan berasal dari bahasa Semitik purwa, naasi atau an-naasi, yang berarti “yang lupa”, makhluk yang tabiat dasarnya memang pelupa. Maka, titik awal dari perjalanan tobat ekologis ini adalah liutammima makarimal akhlaq, agar tidak terjebak dalam pusaran egologi.

Egologi adalah eksploitasi alam yang dikendalikan oleh ketamakan ego, dalam istilah lain disebut nafsiyah atau nafsul ammarah, yakni jiwa yang terus mendorong ketamakan dan kerusakan. Nabi Yusuf a.s. sudah mewanti-wanti bahwa sifat nafsiyah adalah ammarah—terus-menerus mengajak pada kerusakan dan brangasan—kecuali yang dilembutkan dengan rahmat-Nya (Q.S. Yusuf: 53).

Akhlak adalah cermin rahmat, dan itu hakikat yang fundamental. Bahkan ber-Tuhan pun akan sia-sia jika tak berakhlak. Ber-Tuhan tanpa akhlak hanyalah klaim kebersamaan sepihak yang hampa tanpa kehadiran rahmat-Nya. Padahal, rahmat itu adalah hakikat dari Kenabian Pamungkas (Q.S. Al-Anbiya’: 107)

Alam, bumi, dan seluruh isinya adalah amanah Tuhan untuk dikelola sebagai khalifah. Tanpa akhlak, yang terjadi adalah keserakahan. Dengan rahmat yang mewujud menjadi akhlak, yang lahir adalah manfaat kebaikan untuk semua makhluk. Di sinilah perbedaan hakiki antara memakmurkan ekologi sebagai khalifatullah, atau menghancurkannya dengan “egologi”, yaitu eksploitasi ekologi menggunakan nafsul ammarah alias ketamakan ego.

Dalam filsafat, egologi sering dikaitkan dengan cara pandang, nilai, dan mental manusia yang menempatkan kesadaran diri berikut ego (keakuan) sebagai pusat realitas, kebenaran, dan pengetahuan. Selaras dengan prinsip filsuf Perancis Rene Descartes, “Cogito ergo sum“ (“Aku berpikir, maka aku ada”). Dalam kerangka ini, alam semesta berikut makhluknya direduksi menjadi objek yang sah dieksploitasi demi memuaskan kepentingan sekelompok manusia.

Tiga abad berselang, paham rasionalisme yang egosentris ini dikritisi Emmanuel Levinas karena dipandang cenderung mengabaikan, mendominasi, atau meniadakan eksistensi orang lain (The Other). Keberagaman dipaksa untuk tunduk atau disamakan dengan cara pandang diri sendiri. Penguasa meracik narasi hukum untuk melegitimasi pemaksaan kehendak tanpa memperhatikan hak publik yang dilanggar. Mirisnya, tradisi ini juga melekat pada konsorsium akademisi hingga elit keagamaan yang dengan mudah memonopoli tafsir kebenaran dengan menafikan The Other, menuding pemikiran di luar dogma resmi sebagai pseudosains atau bahkan heretik dan kafir.

Cak Nun berulang kali mengingatkan tafsir pemahaman atas Al-Qur’an bisa berjumlah sebanyak manusia. Sebab, proses perenungan atau tadabbur bersifat personal, menyatu dengan pengalaman batin, moral, dan spiritual tiap individu. Kenduri Cinta sebagai “dinas gangguan pikiran”, hadir untuk memantik perenungan ayat secara merdeka agar menemukan relevansi langsung bagi keselamatan hidup pribadi. Al-Qur’an tak terbatas versi mushaf namun juga meliputi perumpamaan ‘’Dan seandainya pohon-pohon di bumi menjadi pena dan lautan (menjadi tinta), ditambahkan kepadanya tujuh lautan (lagi) setelah (kering)nya, niscaya tidak akan habis-habisnya (dituliskan) kalimat-kalimat Allah.’’ (Q.S. Luqman: 27).

Bahkan, pemutlakan sudut pandang subjektif berbasis ego tak lain adalah warisan angkara murka dari ego sang Iblis, yang sampai nekat menyalahkan-Nya dalam pengutamaan Adam a.s. sebagai wakil-Nya, hanya karena tak sesuai dengan sudut pandang dan kalkulasi egonya.

“Aku lebih baik darinya (Adam). Aku kau ciptakan dari api, sedangkan dia kau ciptakan dari tanah,” katanya (Q.S. Al-A’raf: 12). Dengan kesombongan itulah ia bertukar maqam, dari Azazil yang berderajat tinggi, menjadi Iblis, yang terkutuk dan terusir.

Aku alias Ego. Nafsiyah. Materi. Api. Membakar. Musnah. Binasa dan terhina. Dari sinilah Kanjeng Nabi Yusuf a.s. berwasiat tentang bahayanya nafsiyah yang liar dan ammarah, yang tiada seorang pun tabib dapat mengobati, kecuali hanya satu: rahmat-Nya.

Rahmat menjadi akhlak, akhlak melahirkan keseimbangan.

Sebagaimana yang sering diwanti-wanti oleh Cak Nun, manusia adalah “makhluk kemungkinan”. Ia selalu berada di persimpangan jalan antara kebaikan, kebenaran, dan keindahan, sekaligus keburukan, kesalahan, dan kerusakan.

Manusia adalah simpul paradoks yang merangkum unsur-unsur yang saling bertolak belakang, berlawanan, dan saling meniadakan. Maka keseimbangan antara unsur-unsur itu adalah niscaya mutlak sifatnya. Sekali manusia nekat meninggalkan titik rapuh keseimbangan itu, maka sirnalah jati dirinya, gugurlah fungsi kekhalifahannya, padamlah Nur di dalam dadanya, dan binasalah ia ke maqam asfala safiliin (Q.S. At-Tin: 5).

Karena itu, manusia adalah “makhluk kompromi”. Tidak selalu yang diniatkan benar itu baik, dan tidak selalu yang diniatkan baik itu dilakukan dengan benar. Kadang, yang benar, baik, dan indah justru menuntut sedikit disharmoni atau nada fals, agar harmoni dalam musik menjadi hidup.

Di ruang ambigu inilah intervensi manusia atas alam bisa menjadi benar, atau bahkan wajib, demi kemaslahatan yang lebih luas. Tapi segala sesuatunya wajib memiliki takaran.

Secara estetika, nada fals memang sering kali menjadi anomali yang baik dalam sebuah orkestrasi, laksana gingsul di sudut senyum bidadari yang justru membuatnya semakin memikat hati. However/namun, jika semua nada berbunyi fals, atau semua gigi menjadi gingsul, tentu bukan keelokan yang diperoleh, melainkan kerusakan.

Di keseimbangan itulah terletak ridha atau murka-Nya. Malangnya, titik ambigu itu diamanahkan pada insan, yang sering lupa.

SendTweetShare
Previous Post

Merawat Jiwa di Pasar Atensi

Redaksi Kenduri Cinta

Redaksi Kenduri Cinta

Redaktur Kenduri Cinta

Related Posts

Mukadimah: Hamba yang Green Flag
Mukadimah

Mukadimah: Hamba yang Green Flag

August 12, 2026
Mukadimah Melipat Jarak
Mukadimah

Mukadimah Melipat Jarak

July 8, 2026
Mukadimah: Sawang-Sinawang
Mukadimah

Mukadimah: Sawang-Sinawang

June 3, 2026
Langgam Qoroba
Mukadimah

Langgam Qoroba

May 6, 2026
Mukadimah: Aktivasi Nasib
Mukadimah

Mukadimah: Aktivasi Nasib

April 8, 2026
Mukadimah : Upa Angkara
Mukadimah

Mukadimah : Upa Angkara

March 5, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan

Copyright © 2025 Kenduri Cinta