Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
Home Mukadimah

Langgam Qoroba

Redaksi Kenduri Cinta by Redaksi Kenduri Cinta
May 6, 2026
in Mukadimah
Reading Time: 5 mins read
Langgam Qoroba

Dalam rumpun bahasa Melayu modern, makna kata korban telah mengalami pergeseran yang cukup jauh. Kini, kata tersebut lebih sering kita gunakan untuk merujuk pada fatalitas atau hilangnya nyawa dalam suatu tragedi. Sebenarnya, pergeseran ini tidak terjadi tanpa alasan, apalagi dianggap sepenuhnya buruk.

Awalnya, penggunaan kata korban dalam konteks bencana berfungsi sebagai eufemisme—sebuah upaya untuk meringankan duka keluarga yang ditinggalkan. Ini adalah bentuk penghiburan spiritual yang menyiratkan bahwa kehilangan orang tercinta akan diterima sebagai bentuk pendekatan diri kepada-Nya. Tentu saja, jika dilambari dengan keikhlasan.

Jika demikian, apa sejatinya akar kata dari korban? Jika kita telusuri, ia berasal dari kata qoroba. Dalam rumpun Bahasa Semitik, termasuk Arab, maknanya adalah dekat. Dari akar ini, muncul berbagai derivasi: qurban (kedekatan) sebagai nomina, yaqrabu (mendekat) atau taqarrub (tekun mendekati) sebagai verba, serta qariib (dekat) sebagai kata sifat dengan bentuk superlatif aqrab (paling dekat).

Dalam tradisi Wahyu, algoritma qurban selalu terkait dengan sebuah konstanta: Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dialah Sang Aqrab yang senantiasa qariib pada hamba-hamba-Nya (Q.S. Al Baqarah: 186). Sementara itu, variabel primordialnya adalah Kanjeng Nabi Ibrahim sebagai muqarrab (yang diajak dekat), yang dengan puncak persembahan di “titik nol”, beliau jumeneng menjadi seorang abdi yang muqarrabin—sosok yang selalu didekatkan oleh dan dengan-Nya.

Atas dasar itu, Ibrahim diangkat menjadi sang khalil (trustee sekaligus kekasih-Nya) serta patriarch—bapa tertinggi dan penghulu pranata ayah bagi kaum beriman. Sosok dan “rumus” Ibrahim menjadi patrap penentu antara qurban Rabbani dan qurban Watsaniy. Standarnya sederhana, dilihat dari konstanta mana yang dituju. Jika untuk-Nya, dalam formula lillaahi rabbil ‘aalamiin, maka ia Rabbani. Jika ditujukan kepada selain-Nya, maka ia Watsaniy.

Pranata peradaban ntuk mempersembahkan hasil bumi, hewan, atau diri sendiri demi mendekat kepada sesembahan, barangkali memang telah berusia setua Bani Adam—setidaknya dimulai di “angkatan” Qabil dan Habil. Tapi motifnya seringkali melenceng: mulai dari motif syahwat dan kekikiran seperti Qabil, atau motif penyembahan kepada selain-Nya seperti penyembah Ba’al di era Nabi Elijah AS, atau bahkan gengsi sosial yang ngawur seperti kafir Quraisy di era pra-kenabian Nabi Muhammad SAW), hingga ketakutan akan kemiskinan dalam peradaban modern saat ini.

Semua varian itu melibatkan persembahan laku pendekatan alias qurban, tapi untuk tujuan yang batil. Mulai dari praktik ekstrem menyembelih anak orang lain, anak perempuan sendiri, atau takut menikah dan takut punya anak lantaran ditakut-takuti dengan Ricardian Scarcity dan Malthusian Scarcity—sebuah manifestasi dari imlaq atau ketakutan akan kemiskinan (Q.S. Al-Isra’: 31). Fenomena ini jelas bukan Qurban Ibrahimi, bukan pula Qurban Rabbani. Dari titik inilah, ilmu kurban yang hakiki seharusnya menjadi cetak biru untuk merombak tatanan Watsaniy menjadi pranata Rabbani.

Posisi patriarch Ibrahim di sini adalah apa yang disebut Cak Nun pada awal Reformasi 1998 sebagai “Revolusi Top-Down“—sebuah perombakan tatanan yang dimulai dari atas. Perombakan yang diinisiasi oleh sang patriarch sendiri melalui persembahan putranya sendiri, bukan putra orang lain. Dilandasi keikhlasan total, langkah ini menjadi kekuatan yang digdaya, nir-baya, dan nir-residu.

Tentunya, revolusi sejati Patriarch Ibrahim tak akan mewujud tanpa dukungan Matriarch Hajar dan Filiarch Ismail—Sang Nahar Udhiyah Nusukiyah alias kurban itu sendiri. Lontaran mematikan dari tiga abdi Sang Maha Kudus ini telak menghajar Azazil di tiga koordinat: ‘Aqabah, Wustha, dan ‘Ula. Peristiwa agung ini diabadikan bukan sekadar dalam Ibadah Haji, Doa Iftitah, atau Maqam Ibrahim yang statis, melainkan pada setiap batu, panah, peluru, misil, bahkan kalimatul haq yang dilepaskan melawan kebatilan. Inilah jejak para Senapati Kebenaran di sepanjang jalan peperangan kudus nan abadi—mulai dari Pangeran Daud, Pangeran Ali, Pangeran Diponegoro, hingga Kanjeng Gusti Pangeran Arya Al-Mahdi.

Perombakan tatanan ini luhur, berbeda dari revolusi Watsaniy yang Azazili—sebuah perombakan dari bawah di atas jalan kobaran kesumat yang akhirnya hanya akan runtuh menimpa diri dan pengikutnya dalam fatalitas revolusi palsu yang selalu memakan anak-anaknya sendiri. Inilah perlawanan semu yang diinisiasi oleh Azazil, sosok yang berdiri kacak pinggang, menolak sujud ke arah kiblat yang diperintahkan kepadanya.

Revolusi Ibrahimi adalah perombakan tatanan yang haqiqi, di atas Haq. Tidak seperti perombakan palsu Azazili yang bahkan menelan korban (bukan qurban) yang lebih banyak lagi, dan semakin jauh dari tujuan haqiqinya.

Sejarah manusia sejatinya adalah benturan perenial—atau dialektika historis, bagi Anda tresno dan kulino dengan istilah ini—antara jalan Ibrahimi dan jalan Azazili. Dalam pertarungan ini, dialektika materialisme historis mutlak berada di sisi Azazili. Sandiwara berdarah ini memang berhasil memikat mayoritas manusia dengan logika internalnya sendiri, baik yang memihak pada akumulasi eternal batil, maupun perlawanan perpetual palsu yang musykil.

Tipuan ini begitu “seru” hingga membuat mayoritas manusia meninggalkan poros perlawanan sejati Ibrahimi demi memperebutkan dunia—yang dalam lisan Kenabian bahkan diibaratkan sebagai bangkai—bukan pada esensi persembahan itu sendiri. Padahal, qurban sejati pada akhirnya tidak menuntut sebujur mayat pun. Sebab, Tuhan Maha Kudus; Dia suci dari kebutuhan untuk makan, minum, dan segala atribut kemakhlukan lainnya.

Akhirnya, ini semua ternyata tentang kepada siapa pengorbanan itu dipersembahkan. Jika pada-Nya, maka cinta-Nya adalah resultan akhir. Jika bukan pada-Nya, maka murka-Nya lah yang akan datang. Itulah mengapa kedua sisi di luar jalan Ibrahim, baik kanan maupun kiri, disebut maghdhub (yang dimurkai) dan dhallin (yang tersesat). Bisa jadi.

Satu hal yang pasti, ketika Cak Nun mengutarakan sosok Pemimpin yang “TUHAN”, beliau membuka mata rohani kita: bahwa revolusi perbaikan insani, perbaikan society, perbaikan negeri, bahkan perbaikan semesta, hanya bisa dimulai dari atas, ala Ibrahimi—bukan dari jalanan ala Azazili, apa pun warna dan baju kepalsuan yang dikenakannya.

Pemimpin yang “TUHAN” itu pantulannya bisa dimaknai sebagai sosok patriacrh yang “Nuhani” (baca: rabbani), kholili (kekasih-Nya dan dikasihi oleh-Nya), dan mutlak harus waskita secara ruhani. Rajawali. Raja yang wali, dan wali yang raja.

Semuanya bermula dari memahami “Algoritma Qoroba“. Agar darinya, tabuhan gamelan kehidupan akan mengalun gayeng dengan Langgam Qoroba: sebuah irama yang dinamis, menyadarkan, memakmurkan, membangkitkan, dan membebaskan secara hakiki. Ia hadir untuk melipur lara dan menghibur para papa—bukan dengan candu, dan bukan pula dengan euthanasia berupa perlawanan palsu.

SendTweetShare
Previous Post

Legitimasi Bukan Warisan

Redaksi Kenduri Cinta

Redaksi Kenduri Cinta

Redaktur Kenduri Cinta

Related Posts

Mukadimah: Aktivasi Nasib
Mukadimah

Mukadimah: Aktivasi Nasib

April 8, 2026
Mukadimah : Upa Angkara
Mukadimah

Mukadimah : Upa Angkara

March 5, 2026
Mukadimah: Metronom
Mukadimah

Mukadimah: Metronom

February 10, 2026
Mukadimah: Millata Hanifa
Mukadimah

Mukadimah: Millata Hanifa

January 7, 2026
Mukadimah: Warthasastra
Mukadimah

Mukadimah: Warthasastra

December 9, 2025
Mukadimah

Mukadimah: Fragmen Kesadaran

November 12, 2025

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download

Copyright © 2025 Kenduri Cinta