ARTI KATA “jarak” sendiri relatif. Jarak—dalam fisika— adalah ukuran sela antara dua titik. Namun, ketika kita memindahkan konsep ini dari fisika ke realitas manusia, kita menemukan sebuah paradoks: di zaman yang seolah telah menghapus ruang dan waktu, yang paling langka justru jarak itu sendiri. Di dalam jarak yang hilang itulah, sering kali kita kehilangan ruang untuk bernapas, berpikir, atau bahkan merindu.
Dalam memahami ruang dan waktu, sains modern melalui teori relativitas telah membuktikan bahwa keduanya adalah entitas yang relatif terhadap pengamat. Relativitas ini sesungguhnya telah lama diisyaratkan melalui sanepa dalam wahyu dan linuwih leluhur, jauh sebelum dunia modern mendengarnya dari Mas Albert (demikian konon Mrs. Einstein memanggil beliau).
Namun, yang terjadi justru kebalikannya. Waktu dan jarak kehilangan keberkahannya karena kita membanjirinya dengan kebisingan. Setiap hari, potongan-potongan kabar berseliweran datang dan pergi tanpa henti. Potongan kabar itu bahkan bercampur dengan tafsir, dugaan, kepentingan, bahkan ilusi terkait realita dan kondisi yang juga hasil reka cipta.
Katsirun kalam, bi laa salaam. Sarat kata, tapi nir makna, nir adab, nir keselamatan. Yang palsu diperlakukan seolah nyata hanya karena ia “hadir” di layar; yang asli dikata tiada hanya karena tidak diizinkan hadir dalam ruang yang kita sepakati sebagai “nyata”.
Kabar kehilangan makna karena tenggelam dalam riuhnya musabaqah cipta narasi dan cipta kondisi. Kita dipaksa lebih cepat bereaksi daripada memahami, dibiasakan bergegas mengambil posisi daripada mengambil waktu untuk belajar. Setiap kali itu terjadi, sesungguhnya ada satu hal yang lebih dulu hilang dari kita: jarak.
Di tengah keadaan seperti ini, wajar jika kita merindukan sosok yang mampu menghadirkan keluasan pandangan. Sosok yang tidak hanya memberi jawaban, tapi mampu menampung kegelisahan. Sosok yang tidak menambah panas suasana, tapi menghadirkan kesejukan. Sosok yang oleh Allah disebut sebagai mubasysyir, pembawa kabar gembira, tanpa mengaku sebagai mubasysyir.
Namun, kerinduan ini, jika tidak berimbang, sesungguhnya adalah gejala dari hilangnya jarak itu sendiri. Kita ingin memproyeksikan tanggung jawab berpikir dan menenangkan batin kita pada figur lain, karena kita kehabisan ruang redam internal. Di sinilah letak ujian yang sesungguhnya. Ujian itu menuntut kita untuk berhenti mencari penyelamat luar, dan mulai menjadi muta’allimul hayat, murid kehidupan yang sadar bahwa kedewasaan terletak pada kemampuan menjaga jarak. Jarak antara informasi dan kesimpulan, antara keyakinan dan kasunyatan, antara emosi dan keputusan, maupun jarak antara kegelisahan dan tindakan.
Untuk memahami bagaimana menjaga jarak, kita harus mendefinisikan ulang kesabaran. Kesabaran sering kali direduksi maknanya sebagai keadaan pasif: diam, menunggu, atau sekadar menahan diri. Padahal, kehidupan menunjukkan realitas yang berbeda. Dalam sepak bola, misalnya, kita sering memuji sebuah tim yang “sabar membongkar pertahanan lawan.” Kesabaran itu sama sekali bukan keadaan pasif. Bola terus bergerak, pemain terus berpindah ruang, tekanan tetap diberikan, dan intensitas permainan tetap tinggi. Yang tidak dilakukan hanyalah tergesa-gesa.
Mereka tidak asal mengumpan hanya karena ingin segera mencetak gol, dan tidak asal menembak hanya karena peluang sekilas tampak ada. Mereka mengelola jarak antarpemain, menjaga tempo, dan menunggu momentum. Mereka sadar bahwa peluang bukan sekadar soal kecepatan, melainkan soal ketepatan. Kesabaran, ternyata, bukanlah lawan dari gerak. Kesabaran adalah lawan dari grusa-grusu. Artinya, sabar bisa dilihat sebagai usaha mengatur jarak.
Dalam teori sistem, sebuah sistem yang sehat selalu membutuhkan buffer atau ruang redam. Tanpa ruang kosong ini, setiap guncangan kecil akan meretakkan seluruh sistem. Logika buffer ini bekerja secara universal, bahkan dalam hal yang paling fisik sekalipun. Bukankah banyak kecelakaan di jalan terjadi justru karena hilangnya jarak? Kendaraan yang melaju terlalu rapat tidak lagi memiliki ruang untuk mengantisipasi perubahan. Ketika kendaraan di depan mengerem mendadak, benturan pun tak terhindarkan. Masalahnya jelas: hilangnya jarak.
Begitu pula dalam kehidupan. Banyak benturan, konflik, bahkan keputusan yang kelak kita sesali, bukan terjadi karena kita kurang bergerak, tapi karena kita kehilangan jarak. Terlalu dekat dengan emosi sehingga logika terpinggirkan. Terlalu dekat dengan informasi sehingga tabayyun terabaikan. Terlalu dekat dengan ambisi sehingga nurani tak lagi terdengar. Kita bereaksi sebelum memahami, menyimpulkan sebelum menghayati, dan menghakimi sebelum mengenali.
Jangan-jangan, yang paling kita perlukan hari ini bukan tambahan informasi, bukan pula kepastian yang memuaskan rasa ingin tahu sesaat. Yang kita perlukan adalah pemahaman akan ilmu jarak. Sebab di dalam jarak itulah lahir kejernihan, kebijaksanaan, dan kesabaran. Untuk itu, sistem kesadaran kita memerlukan sebuah konstanta.
Sebagaimana Mas Albert berpijak pada postulatnya, keterbatasan kita sebagai hamba dalam menjangkau ruang dan waktu bermuara pada satu batas: kecepatan cahaya (c). Makanya, besaran itu seolah menjadi “konstanta” dalam mengukur jarak dan waktu di level kosmik. Cahaya, atau Nur. Dari esensi inilah entitas makhluk cahaya diciptakan, sehingga atas izin-Nya, lipatan ruang dan waktu tunduk pada mereka.
Isyarat-Nya tentang itu tak kurang-kurang. Sebut saja Al-Ma’arij ayat 4, As-Sajdah ayat 5, Al-Hajj Ayat 47, An-Naml ayat 38-40, dan tentu saja Al-Israa’ ayat 1, yang sekaligus menciptakan maqam shiddiq bagi yang menerimanya, dan maqam kadzdzab bagi yang mengingkarinya. Melalui pemahaman inilah konsep ruang dan waktu dipelajari dan ditundukkan atas izin-Nya. Termasuk, dalam menjaga jarak dengan amukan arus informasi yang sedang ber-tiwikrama di hadapan kita.
Nur itulah yang membuat para mubasysyirin menjadi diri mereka, sebagai pemandu muta’allimul hayat. Mereka terus bergerak dengan estafet suluh pelita cahaya tanpa terputus, tapi tidak tergesa-gesa. Terus berikhtiar, tapi tidak panik. Trengginas, tapi tidak frantic. Terus mencari, tapi tidak merasa paling tahu. Mereka memahami bahwa mengelola jarak bukanlah tentang menjauh dari dunia, tapi tentang menjaga agar cahaya tidak padam oleh terburu-burunya kita sendiri. Adapun kita hanyalah murid-murid kehidupan yang terus belajar membaca tanda-tanda-Nya melalui hamba-hamba pilihan-Nya.
Namun, kerinduan pada seorang mubasysyir, jika tidak diberi jarak yang tepat, akan mengunci kita pada romantisme yang melumpuhkan. Kita akan terus menunggu sosok itu datang, lupa bahwa kita harus berjalan sendiri. Mungkin inilah pelajaran yang sedang digulirkan oleh kehidupan, khususnya bagi mereka yang bertahun-tahun menyerap pemikiran Cak Nun. Allah mungkin sedang memindahkan pusat belajar kita: dari ketergantungan pada satu sosok, menuju satu proses menuju konstanta. Dari ketergantungan kepada seorang mubasysyir menuju keberanian menjadi besaran azali muta’allimul hayat. Guru boleh beristirahat, ulama boleh wafat, tetapi kehidupan tidak pernah berhenti menjadi madrasah.






