KEMBALI merenungi perjalanan Kenduri Cinta yang kini memasuki usia 26 tahun. Sejak Juni 2000 di pelataran Taman Ismail Marzuki, forum ini menjadi wadah masyarakat urban untuk berekspresi, berdialog, dan sinau bareng. Kenduri Cinta bukan sekadar forum bulanan, melainkan ruang panjang untuk merawat kewarasan di tengah hiruk-pikuk Jakarta. Orang-orang datang bukan untuk digurui, melainkan duduk setara, saling mendengar, dan saling belajar.
Jejak itu sesungguhnya telah ditanam sejak Padhang mBulan awal 1993 di Menturo, Jombang, lalu bertumbuh di Mocopat Syafaat, Gambang Syafaat, Bangbang Wetan, Juguran Syafaat, ReLegi dan simpul-simpul Maiyah lain-lainnya di berbagai kota bahkan di Luar Negeri. Keseluruhan simpul ini membentuk jaringan spiritual-intelektual yang tak pernah berhenti berdenyut. Cak Nun menghamparkan forum yang tidak sibuk membangun pengikut, melainkan menumbuhkan manusia agar akrab dengan dirinya sendiri, dengan Allah, Rasulullah, dan dengan sesamanya.
Refleksi ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan kesadaran bahwa Maiyah telah menyalakan obor pengetahuan, cinta, dan kebersamaan. Puluhan buku, ratusan judul, bahkan jutaan artikel lahir dari denyut ini. Kenduri Cinta bukan hanya forum, melainkan ekosistem spiritual-intelektual yang terus mengasah kejujuran hati dan ketajaman nalar. Saya bersyukur menjadi bagian dari perjalanan panjang ini, menulis puluhan kali tentang Cak Nun, Sabrang, dan Maiyah, menyaksikan bagaimana kata-kata menjelma cahaya yang menuntun kita memahami diri, sesama, dan Tuhan.
Refleksi saya tidak hanya bersandar pada pengalaman hadir langsung, tetapi juga pada ribuan jejak yang tersebar di media cetak, kanal audio-visual, siaran suara, dan video dokumentasi. Dari buku-buku Cak Nun yang jumlahnya puluhan, hingga artikel dan kolom yang mungkin sudah jutaan, semua menjadi reservoir pengetahuan yang terus mengalir. Dokumentasi Kenduri Cinta di kanal daring, bersama simpul-simpul lain, memperlihatkan bagaimana Maiyah merawat kebersamaan lintas generasi.
Saya menyaksikan bagaimana Cak Nun menyalakan obor kebijaksanaan, bagaimana Sabrang menambahkan perspektif saintifik dan futuristik, dan bagaimana Maiyah sendiri menjadi ekosistem yang menghubungkan teks, konteks, dan praksis. Kenduri Cinta bukan sekadar forum bulanan, melainkan ruang belajar yang menyalurkan energi cinta, nalar, dan iman.
Bagi saya, menulis puluhan kali tentang Maiyah adalah bagian dari perjalanan spiritual sekaligus intelektual. Setiap kata yang saya tuangkan adalah upaya menangkap denyut yang tak pernah padam, denyut yang kini juga hidup dalam bentuk siaran audio dan video dokumentasi. Semua itu memperkaya khazanah, memperluas jangkauan, dan memastikan bahwa pelita Kenduri Cinta tetap menyala di hati masyarakat.
Puluhan buku, ribuan tulisan, serta forum Maiyahan yang tak terhitung jumlahnya, pada akhirnya bermuara pada satu ikhtiar: menjaga manusia agar tidak tercerabut dari cinta, nalar, dan kebersahajaan. Kenduri Cinta telah 26 tahun membuktikan bahwa dialog yang jujur dan persaudaraan yang hangat masih mungkin hidup di tengah zaman yang gaduh.






