Dua puluh enam tahun lalu, Kenduri Cinta lahir dari sebuah kerinduan sederhana: kerinduan untuk terus bersama dalam “sinau bareng”. Berawal dari kegelisahan dan harapan teman-teman di Jakarta yang pernah mengikuti perjalanan bersama Emha Ainun Nadjib, tumbuhlah sebuah ruang yang tidak dibangun oleh kemewahan, bukan pula oleh kekuasaan, melainkan oleh keteguhan niat, istiqamah, dan cinta kepada ilmu kehidupan.
Kenduri Cinta hanyalah salah satu simpul kecil dari hamparan Maiyah di Nusantara. Namun dari simpul kecil inilah, selama seperempat abad lebih, ribuan langkah, pikiran, doa, dan pencarian makna saling bertemu. Sebab Maiyah, sebagaimana sering diuraikan Cak Nun, bukan sekadar forum atau perkumpulan. Maiyah adalah kebersamaan. Berasal dari kata ma’a — bersama. Bersama sesama manusia, dan bersama Allah.
Maiyah adalah kesadaran bahwa di mana pun kita berada, dalam keadaan apa pun, kita tidak pernah sendiri. Ada kebersamaan horizontal antarmanusia, dan ada kebersamaan vertikal dengan Allah SWT. Kesadaran itulah yang selama ini menghidupi Kenduri Cinta: melingkar bersama, belajar bersama, bertumbuh bersama.
Maka perjalanan 26 tahun Kenduri Cinta bukan semata perjalanan waktu. Ia adalah perjalanan jiwa. Perjalanan manusia-manusia biasa yang mencoba menjaga nyala akal sehat, menjaga kejernihan hati, dan menjaga martabat kemanusiaan di tengah dunia yang terus berubah.
Kenduri Cinta tidak pernah dibangun sebagai organisasi yang mengejar kekuasaan. Sejak awal, KC bukanlah “perabot”. Meminjam ungkapan Cak Nun: “Kita bukan perabot. Kita adalah ruang.” Ruang yang terbuka seluas-luasnya bagi siapa pun untuk datang, duduk melingkar, mendengar, berbicara, berpikir, bahkan berbeda pandangan tanpa kehilangan persaudaraan.
Di ruang ini, manusia belajar kembali menjadi manusia. Belajar bahwa harga diri tidak ditentukan jabatan, kekayaan, atau tepuk tangan massa. Bahwa seseorang tetap bisa tegak, tetap mulia, tetap gagah, meski hanya mengenakan kaos sederhana dan tidak memiliki apa-apa selain kejujuran dirinya. Di ruang ini pula kita diingatkan bahwa perjuangan terbesar bukanlah melawan seseorang, melainkan menyelamatkan manusia agar tidak terjajah pikirannya, perasaannya, dan perilakunya.
Selama 26 tahun, banyak gagasan lahir dari Kenduri Cinta. Ada harapan agar KC berkembang menjadi lembaga kajian, lembaga pengabdian masyarakat, ruang advokasi rakyat, bahkan penguatan ekonomi umat. Semua itu adalah cita-cita baik yang tumbuh dari semangat mencintai kehidupan dan kemanusiaan.
Namun di atas semua wacana itu, ada satu hal yang harus terus dijaga: kesadaran bahwa Kenduri Cinta adalah ruang. Sebuah kosmos kecil tempat manusia belajar saling menyambung hati, menyambung pikiran, dan menyambung kasih sayang dalam lingkaran Maiyah.
Karena mungkin, di masa depan nanti, yang paling dibutuhkan dunia bukan sekadar institusi besar atau kekuatan politik, melainkan manusia-manusia yang mampu duduk melingkar, saling mendengarkan, saling menjaga, dan terus menyadari bahwa “Innallaha ma’ana” — Allah bersama kita.
Di usia yang ke-26, Kenduri Cinta bukan sedang merayakan usia semata. Kita sedang mensyukuri perjalanan. Mensyukuri setiap langkah para penggiat, jamaah, sahabat, dan semua yang pernah hadir, meski hanya sekali duduk di lingkaran ini.
Semoga Kenduri Cinta tetap menjadi ruang yang hidup. Ruang tempat ilmu bertumbuh tanpa kesombongan. Tempat cinta berjalan tanpa kepentingan. Tempat manusia dipulihkan harkatnya sebagai manusia.
Dan semoga lingkaran kecil ini terus sambung-menyambung menjadi rantai Maiyatullah — kebersamaan bersama Allah — bagi Indonesia, bagi kemanusiaan, dan bagi generasi yang akan datang.






