Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
Home Blog

Reportase: Bahasa Egologi

Redaksi Kenduri Cinta by Redaksi Kenduri Cinta
September 22, 2026
in Blog
Reading Time: 39 mins read
Reportase: Bahasa Egologi

SIANG masih menyisakan panasnya ketika halaman Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Matahari Jakarta yang belakangan terasa lebih panjang di tengah kemarau membuat udara seakan tertahan di antara beton, pepohonan, dan bangunan-bangunan di sekitarnya. Peluh masih mengalir meski sore perlahan datang dan matahari mulai kehilangan teriknya. Satu per satu jemaah Kenduri Cinta terus berdatangan.

Halaman yang sejak siang dipeluk panas mulai berubah suasana. Langit beranjak redup, udara mulai beranjak sejuk, dan malam pun pelan-pelan mengambil tempat. Membuka forum Kenduri Cinta edisi 272 dengan tema “Bahasa Egologi”.

Seperti biasa, forum dibuka dengan sesi Tawashshulan yang dibersamai oleh Farhan, Haddad, Mizani, Munawir, dan Rizal. Tawashshulan menjadi semacam pintu awal untuk menundukkan diri, mengingat kembali kepada siapa segala perjalanan dan ikhtiar bermuara, sekaligus mempersiapkan batin untuk menyimak apa yang akan diperbincangkan sepanjang malam.

Usai Tawashshulan, suasana hening perlahan mencair. Jemaah menata posisi. Malam semakin turun, membawa suasana yang berbeda dari panas yang sejak siang menyelimuti Jakarta. Dari ketenangan doa, forum bergerak menuju ruang perjumpaan, tempat jemaah tidak hanya duduk mendengarkan, tetapi juga saling menyapa, bertukar pandangan, dan bersama-sama mengikuti pembahasan yang akan berlangsung.

SESI pertama dimulai. Ansa dan Ibnu sebagai moderator mengawali sesi dengan rasa syukur karena perjalanan forum yang telah berlangsung selama 26 tahun di Taman Ismail Marzuki.

“Alhamdulillah, ini adalah Kenduri Cinta edisi September 2026. Kita senantiasa bersyukur forum ini telah berjalan selama 26 tahun hingga hari ini,” ujar Ibnu. Ia kemudian mengajak jemaah yang baru tiba untuk merapat ke area depan panggung supaya percakapan malam itu dapat berlangsung dalam suasana yang lebih hangat dan mesra.

Para narasumber sesi pertama dipersilakan naik: Auval, Arijuddin, Ian L Bets, dan Pramono Abadi, para penggiat Kenduri Cinta. Suasana perjumpaan malam itu pun menemukan bentuknya.

Memasuki pembahasan, Ibnu mengalasi dan mengurai tema Bahasa Egologi yang menjadi pijakan diskusi malam itu. Ia menjelaskan bahwa tema tersebut dibentuk dari dua kata, yakni ego dan logi yang berakar dari logos atau ilmu.

Dari pengertian itu, pembahasan diarahkan untuk melihat bagaimana ego manusia bekerja. Bukan hanya dalam ruang pribadi, tapi juga dalam cara manusia mengelola kehidupan dan lingkungan.

Dari sana, Ibnu membawa jemaah melihat bagaimana ego dapat hadir dalam cara kekuasaan mengambil keputusan. Ia menyinggung kenyataan bahwa berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat di daerah sering kali tidak sepenuhnya terbaca dari pusat kekuasaan. Namun, persoalan tersebut ditarik lebih jauh: “Ketika keputusan hari ini dibuat berdasarkan kepentingan generasi yang sedang berkuasa, siapa yang akan menanggung akibatnya di masa mendatang?”

Ansa menebalkan gagasan keadilan antargenerasi. Kekuasaan semestinya dijalankan dengan kepedulian dan tanggung jawab, karena keputusan hari ini menentukan kehidupan generasi yang belum lahir.

“Sayangnya, bukan kita yang mengambil keputusan penting untuk negara ini. Dari situ kita angkat soal keadilan antargenerasi,” ujar Ansa.

Keadilan antargenerasi menjadi pengingat agar manusia tidak berhenti pada kepentingannya sendiri. Udara bersih, air layak, lingkungan sehat, dan keberlanjutan kehidupan adalah hak mereka yang kelak datang. Di titik itu tema “Bahasa Egologi” menemukan persoalan lebih luas: bagaimana manusia mengenali egonya ketika diberi kuasa menentukan masa depan orang lain. Ansa mempersilakan Pramono merespons.

Pramono memulai penjelasannya dengan mengurai hubungan antara bahasa, ego, dan sifat dasar manusia. Baginya, bahasa merupakan karunia yang secara khusus diberikan kepada manusia. Ia mengaitkannya dengan kisah Nabi Adam yang diajarkan nama-nama benda, sehingga manusia memiliki kemampuan untuk mengenali, menyebut, dan berkomunikasi. Sementara itu, ego ia dekati melalui konsep nafsu dalam terminologi Jawa, termasuk nafsu amarah dan lawamah.

Dari sana, Pramono membawa pembahasan pada salah satu bentuk ego yang paling mudah terlihat dalam kehidupan manusia: keserakahan. Ia mengutip hadis yang menggambarkan bahwa keinginan manusia tidak mudah berhenti ketika berhadapan dengan harta.

“Anak Adam ini kalau dikasih satu lembah emas, dia akan mencari lembah yang kedua dan seterusnya. Dia tidak akan berhenti sampai tanah kuburan memenuhi mulutnya,” tuturnya.

Gambaran tersebut ia hubungkan dengan cara manusia memperlakukan sumber daya. Manusia, menurut Pramono, memegang amanah sebagai khalifah untuk mengelola sumber daya alam. Karena itu, pengelolaan sumber daya semestinya tidak berhenti pada manfaat sebesar-besarnya, tetapi juga bagaimana manfaat tersebut menjadi kebaikan yang berkelanjutan. Ia mengingatkan prinsip dalam doa rabbana atina fid dunya hasanah wa fil akhirati hasanah—memohon kebaikan di dunia sekaligus kebaikan di akhirat.

Namun, ketika pengelolaan sumber daya dipisahkan dari amanah tersebut, ego menjadi watak eksploitatif. Pramono menyoroti cara berpikir ekonomi yang mengejar keuntungan sebesar-besarnya dengan modal dan kerja seminimal mungkin. Ketika kekuasaan dan sumber daya berada di tangan satu generasi, cara berpikir semacam itu berisiko membuat mereka mengambil sebanyak-banyaknya tanpa memikirkan keberlanjutan kehidupan setelahnya.

“Mumpung generasi saya lagi berkuasa dan mengelola, saya akan ambil semuanya secara eksploitatif, tanpa menyisakan bagian untuk anak cucunya,” ujarnya.

Persoalannya bukan hanya apa yang diambil, tetapi apa yang ditinggalkan. Alam membutuhkan waktu untuk memulihkan dirinya, sementara manusia terus bergantung pada sumber daya yang sama. Ketika generasi hari ini menghabiskan sumber daya demi kepentingannya sendiri, generasi berikutnya hanya mewarisi akibatnya.

Ego tidak semestinya berhenti pada keinginan memiliki dan menguasai. Ketika bertemu kekuasaan, sumber daya, dan kepentingan ekonomi, ego dapat menjadi keserakahan yang merugikan manusia lain dan mengorbankan generasi mendatang. Sebaliknya, kekuasaan atas sumber daya adalah amanah untuk menghadirkan kebaikan lebih luas.

“Sumber daya boleh kita kumpulkan, namun pemanfaatannya harus ditujukan untuk kebaikan bersama yang lebih besar. Itulah yang diceritakan dalam Al-Qur’an,” tegasnya.

“Di balik pertumbuhan dan pembangunan, wajib ada pemerataan agar seluruh kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.” (Ibnu Faisal)

PAPARAN Pramono menjadi pijakan bagi Ibnu untuk membawa pembicaraan lebih luas. Jika sebelumnya ego dibicarakan dalam hubungannya dengan penguasaan sumber daya, Ibnu melihat bahwa persoalan tersebut tidak berhenti pada manusia dan alam semata. Ada hubungan yang lebih panjang antara dorongan ego, kepentingan ekonomi, dan kondisi ekologis yang membentuk kehidupan bersama.

Ibnu lalu mengajak jemaah mencermati tiga istilah yang saling berkelindan: egonomi, egologi, dan egosistem. Ia melihat ketiganya sebagai cara untuk membaca bagaimana ego manusia bekerja ketika berhadapan dengan kepentingan ekonomi dan lingkungan. Setelah itu, ia mempersilakan Auval menyampaikan pandangannya.

Kegelisahan Ibnu tentang tanggung jawab antargenerasi disambut oleh Auval dengan membawa pembicaraan pada kenyataan yang lebih dekat. Jika sebelumnya persoalan dibicarakan dalam kerangka gagasan, Auval mengajak jemaah melihat bagaimana persoalan tersebut benar-benar terjadi di lapangan. Ia memulainya dengan meluruskan pandangan terhadap LSM yang selama ini kerap dicurigai sebagai pihak yang bekerja untuk kepentingan asing.

Menurut Auval, anggapan bahwa LSM merupakan “antek asing” tidak sesederhana itu. Ada konteks tanggung jawab moral yang melatarbelakanginya. Negara-negara yang menghasilkan emisi karbon, menurutnya, turut memiliki tanggung jawab karena sebagian karbon yang mereka hasilkan diserap oleh kawasan hutan di Indonesia. Karenanya, dukungan terhadap LSM juga menjadi bagian dari upaya menjaga lingkungan yang manfaatnya dirasakan bersama.

Kehadiran organisasi masyarakat sipil juga muncul ketika terdapat ruang yang belum mampu diisi oleh pemerintah. Auval mencontohkan kerja advokasi terhadap masyarakat di Sumatera yang tanahnya diambil secara sepihak oleh perusahaan.

“Banyak organisasi masyarakat sipil yang bertujuan mengisi kekosongan peran pemerintah demi membela hak-hak rakyat,” jelasnya.

Auval membawa jemaah kepada pengalaman yang ia alami sendiri dalam melihat kerusakan lingkungan. Ia menceritakan bagaimana lahan seluas 100 hektar yang telah ditanami pepohonan sejak 2016 habis terbakar. Upaya yang telah dilakukan bertahun-tahun untuk menumbuhkan kembali kawasan tersebut dan menyerap karbon seketika harus dimulai dari awal.

Kisah itu menjadi pintu masuk bagi Auval untuk menggambarkan kondisi di Kalimantan Tengah. Sungai-sungai besar mengering akibat kerusakan kawasan hulu, sementara tambang liar dan pembabatan pohon terus berlangsung. Di tengah kondisi tersebut, perhatian publik justru sering terseret pada persoalan pribadi para tokoh yang sensasional yang tidak menyentuh akar persoalan lingkungan.

Ia juga menceritakan pengalamannya melihat langsung kawasan Food Estate yang diresmikan pemerintah. Hutan seluas 600 hektar dibuka untuk ditanami singkong, tetapi kondisi tanah yang berpasir membuat tanaman tersebut tidak tumbuh sebagaimana yang diharapkan. Kawasan yang sebelumnya merupakan hutan justru berubah menjadi lahan tandus.

Menurutnya, kerusakan semacam itu dapat terjadi dengan mudah ketika kepentingan ekonomi dan kekuasaan berjalan tanpa pengawasan yang memadai. Cukup dengan membayar oknum aparat dan membawa alat berat, hutan dapat dibuka. Bahkan ketika proyek gagal, kerusakan yang telah terjadi tidak serta-merta dapat dikembalikan seperti semula. Singkong yang tumbuh kerdil kemudian membuat pengelola beralih menanam jagung di dalam polybag menggunakan tanah yang didatangkan dari luar.

Yang tersisa dari rangkaian proses tersebut bukan hanya kegagalan sebuah proyek, tetapi persoalan yang harus ditanggung masyarakat. Perampasan tanah, pencemaran sungai oleh merkuri, kesulitan air bersih, udara yang tercemar asap kebakaran hutan, serta tanah yang semakin tandus menjadi bagian dari kehidupan masyarakat yang berada di sekitar kawasan tersebut.

Baginya, bangsa ini sedang menghadapi krisis karena orang-orang yang seharusnya menjadi panutan justru berada di dalam pusaran kepentingan yang merusak lingkungan.

“Saya merasa saat ini kita berada dalam fase krisis keteladanan, sebab oknum ulama terlibat pertambangan, presiden memiliki kebun sawit, dan para pejabat menguasai konsesi tambang,” tegas Auval.

Sementara itu, orang-orang yang berusaha mempertahankan lingkungan dan memperjuangkan hak masyarakat justru tidak jarang menghadapi tekanan: dikriminalisasi, ditangkap, bahkan dicibir karena dianggap sok suci atau merasa paling benar. Di tengah keadaan tersebut, Auval mengajak jemaah untuk tidak sibuk saling menjatuhkan orang-orang yang sedang berusaha berbuat baik. Baginya, hal yang lebih penting adalah membangun keberpihakan kepada siapa pun yang sungguh-sungguh berusaha menjaga lingkungan dan memperjuangkan masyarakat yang ditinggalkan oleh negara.

“Sumber daya boleh kita kumpulkan, namun pemanfaatannya harus ditujukan untuk kebaikan bersama yang lebih besar.” (Pramono)

SETELAH penjelasan Auval, Ian L. Betts membawa pembicaraan kembali pada posisi manusia sebagai bagian dari persoalan. Ia mengajak jemaah melihat persoalan ekologi sebagai persoalan cara manusia menjalani kehidupan sehari-hari, bukan hanya sebagai perkara perusahaan, pemerintah, atau pihak-pihak yang memiliki kuasa atas sumber daya alam.

Setiap hari manusia menggunakan listrik, air bersih, makanan, bahan bangunan, rumah, jaringan internet, telepon genggam, televisi, hingga plastik. Semua kebutuhan tersebut memiliki hubungan dengan sumber daya alam dan proses produksi yang berlangsung di belakangnya. Karena itu, kritik terhadap pihak lain tidaklah cukup. Ada tanggung jawab yang harus dimulai dari pilihan dan tindakan masing-masing.

“Sangat mudah untuk menyalahkan perusahaan, pemerintah, atau pihak lain. Namun, untuk menyelesaikan krisis ini, kita harus memulainya dari diri sendiri sebagai pihak yang juga bertanggung jawab,” tegasnya.

Dari tanggung jawab individu, Ian membawa pembahasan pada potensi Indonesia. Sebagai negara kaya sumber daya, Indonesia tidak hanya memiliki minyak dan gas, tetapi juga potensi energi terbarukan yang besar: panas bumi, surya, air, hingga angin. Potensi tersebut semestinya dikelola dengan baik untuk menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus menjaga keberlanjutan lingkungan.

Ian juga menyinggung komitmen pembangunan energi terbarukan hingga 100 GW yang pernah disampaikan Presiden Prabowo. Bagi Ian, persoalannya bukan sekadar seberapa besar potensi, tetapi bagaimana sumber daya tersebut dikelola. Dengan jumlah penduduk sekitar 290 juta jiwa, kebutuhan akan energi dan pembangunan memang tidak dapat dihindari.

“Yang dibutuhkan adalah tata kelola dengan aturan main yang jelas, integritas perusahaan, serta keberanian memberantas korupsi yang dapat merusak pengelolaan sumber daya,” ujarnya.

Hal yang sama berlaku dalam persoalan tata kota. Jakarta, misalnya, dengan jumlah penduduk yang sangat besar, membutuhkan pembangunan infrastruktur, permukiman, dan transportasi yang tidak hanya mampu melayani kebutuhan masyarakat, tetapi juga memperhatikan keberlanjutan lingkungan.

Dalam pandangannya, prinsip tersebut sejalan dengan amanat Pasal 33 UUD 1945: sumber daya yang dimiliki negara semestinya dikelola oleh rakyat dan untuk sebesar-besarnya kepentingan rakyat. Bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan generasi yang hidup hari ini, tetapi juga memastikan bahwa generasi setelahnya masih memiliki sumber daya dan lingkungan yang layak untuk menjalani kehidupan.

Pembahasan bergerak memasuki tantangan zaman yang semakin kompleks. Ian menyinggung modernitas dan perkembangan teknologi yang kini hadir begitu dekat dengan kehidupan masyarakat. Artificial Intelligence seperti ChatGPT, Gemini, dan Claude dapat diakses secara luas. Kemampuan teknologi yang semakin besar tersebut juga membawa tanggung jawab moral dan ekologis yang semakin besar pula.

Dari sana, Ian mengingatkan tentang solidaritas sebagai bangsa. Bencana yang menimpa satu wilayah di Indonesia tidak semestinya dipandang sebagai persoalan wilayah tersebut semata. Ketika satu daerah mengalami musibah, penderitaan itu pada dasarnya merupakan bagian dari pengalaman bersama sebagai satu bangsa. Kesadaran semacam itu diperlukan agar manusia tidak terjebak pada egonya sendiri dan hanya memikirkan keselamatan kelompoknya.

Menjelang akhir pemaparannya, Ian membawa jemaah kepada sosok Cak Nun. Ia melihat perjalanan puluhan tahun Cak Nun bersama masyarakat melalui ruang-ruang Maiyah—Kenduri Cinta, Padhangmbulan, Mocopat Syafaat, dan berbagai ruang lainnya—sebagai salah satu contoh bagaimana seseorang dapat menjalani kehidupan tanpa menjadikan ego pribadi sebagai pusat.

Karya-karya Cak Nun, termasuk Markesot Bertutur hingga Markesot ke New York turut mengajarkan cara melihat kehidupan dengan melepaskan kepentingan diri dan memperluas perhatian kepada kehidupan bersama. Cinta, dalam pengertian itu, bukan sekadar perasaan, tetapi tindakan dan perjuangan bersama untuk merawat kehidupan, alam, dan sesama.

“Semua pelajaran itu mengajarkan kita untuk hidup tanpa ego. Kehidupan ini bukan hanya tentang diri kita sendiri, melainkan ada keluarga, tempat kerja, komunitas, serta tanggung jawab terhadap negara,” pungkas Ian.

Usai pemaparan Ian L. Betts, Ibnu kembali mengambil alur pembicaraan. Ia menyoroti kembali gagasan tentang keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian lingkungan yang disampaikan Ian.

“Di balik pertumbuhan dan pembangunan, wajib ada pemerataan serta penerapan Pasal 33 UUD 1945, agar seluruh kekayaan alam dipergunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat,” ujar Ibnu.  Agar kekayaan alam tidak berhenti menjadi sumber keuntungan bagi segelintir pihak.

Setelah menyampaikan penekanan tersebut, Ibnu mempersilakan Arijuddin untuk menyampaikan pemaparan berikutnya, sekaligus melanjutkan benang merah pembahasan “Bahasa Egologi” yang sejak awal malam itu mengajak jemaah melihat kembali hubungan antara ego, kekuasaan, sumber daya, dan kehidupan bersama.

Baginya, pembicaraan mengenai ekologi yang sejak awal mengisi ruang diskusi malam itu sesungguhnya bukanlah tujuan akhir. Persoalan lingkungan justru menjadi pintu masuk untuk melihat sesuatu yang lebih mendasar dalam diri manusia: bagaimana ego bekerja dan bagaimana manusia membentuk akhlaknya agar mampu mengendalikan dorongan tersebut.

Dari titik itu, Arijuddin mengajak jemaah melihat kembali hubungan antara kebutuhan manusia dan cara manusia mengambil sumber daya dari alam. Pembukaan lahan, misalnya, dapat saja dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pangan dan menjaga ketahanan hidup. Pada batas tertentu, pemanfaatan alam untuk memenuhi kebutuhan merupakan sesuatu yang wajar. Persoalannya muncul ketika kebutuhan tersebut bergeser menjadi keinginan untuk memiliki lebih banyak daripada yang sebenarnya diperlukan.

Ia menggambarkan pergeseran tersebut seperti gunung es. Apa yang terlihat di permukaan bisa saja tampak sebagai sebuah kebijakan yang memiliki tujuan baik—memenuhi kebutuhan pangan, membangun ekonomi, atau menyediakan sumber daya bagi masyarakat. Namun, di bawah permukaan dapat tersembunyi dorongan lain yang tidak segera terlihat: keinginan untuk menguasai lebih banyak, menumpuk keuntungan, atau mengambil sesuatu melampaui batas kebutuhan.

Ia berpendapat, egologi memiliki peran penting. Ia adalah sebuah usaha untuk melatih kesadaran dorongan-dorongan yang bekerja di balik setiap tindakan, kemudian mengendalikannya melalui pembentukan akhlak.

“Memenuhi sesuatu berdasarkan kebutuhan adalah hal yang wajar. Namun, ketika hal itu didorong oleh keinginan untuk mendapatkan lebih dari yang seharusnya, di situlah ego bekerja,” ujar Arijuddin.

Setelah Arijuddin mengembalikan pembahasan ekologi kepada persoalan ego dan pembentukan akhlak, Ansa mengambil kendali forum untuk merangkum keresahan yang telah mengemuka sepanjang sesi pertama. Ia mengajak jemaah melihat persoalan pengelolaan sumber daya alam bukan hanya sebagai persoalan lingkungan, tetapi juga sebagai persoalan tentang siapa yang menikmati kekayaan tersebut dan untuk kepentingan siapa kekayaan negara dikelola.

Menurut Ansa, Indonesia memiliki kekayaan alam yang melimpah, tetapi penguasaan atas kekayaan tersebut pada kenyataannya masih berada di tangan segelintir kelompok.

“Kekayaan alam yang dikeruk hanya dikuasai oleh segelintir orang di Indonesia. Bahkan lebih dari 40% APBN justru tersedot untuk operasional pemerintah, sebuah kenyataan yang patut kita renungkan bersama,” ujar Ansa.

Di saat yang sama, ia mengajak jemaah mencermati bagaimana anggaran negara digunakan. Persoalan tersebut memperlihatkan adanya kerancuan yang perlu direnungkan bersama antara kepentingan negara, kepentingan pemerintah, dan tujuan utama pengelolaan kekayaan alam untuk kemakmuran rakyat.

Dari kritik terhadap sistem, Ansa membawa jemaah kepada sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: lingkar pengaruh. Ia mengingatkan kembali ajaran mengenai lingkup dan lingkar pengaruh yang pernah disampaikan Mas Sabrang dan Cak Nun. Perubahan tidak harus selalu dimulai dari sesuatu yang besar atau dari keinginan untuk mengubah seluruh dunia sekaligus. Ia dapat dimulai dari kemampuan seseorang untuk memengaruhi dan memperbaiki dirinya sendiri, kemudian meluas kepada keluarga, lingkungan masyarakat, bangsa, hingga kehidupan yang lebih luas.

Dengan cara pandang tersebut, kritik terhadap keadaan tidak berhenti sebagai keluhan. Ada wilayah yang dapat disentuh oleh setiap orang melalui tindakan dan keteladanan yang dimilikinya sendiri. Apa yang dilakukan seseorang hari ini mungkin tidak langsung menghasilkan perubahan besar, tetapi dapat menjadi bagian dari rangkaian kebaikan yang pengaruhnya baru terlihat jauh setelahnya.

Menutup sesi pertama, Ansa mengingatkan sebuah filosofi yang kerap disampaikan Cak Nun: belajar menanam tanpa memikirkan hasil panen.

“Sebab jika kita menanam pohon hari ini, belum tentu kita yang akan menikmati buahnya,” pungkas Ansa. Sebuah pohon yang ditanam hari ini belum tentu akan dinikmati buahnya oleh orang yang menanamnya. Namun, menanam tetap merupakan bagian dari kewajiban manusia untuk menghadirkan kebaikan bagi kehidupan yang akan datang.

Sesi pertama pun ditutup oleh Ansa dengan sebuah pengingat sederhana: bahwa kehidupan tidak hanya diukur dari apa yang sempat dinikmati oleh satu generasi. Ada sesuatu yang harus ditanam, dirawat, dan diwariskan, meskipun buahnya mungkin baru akan dirasakan oleh mereka yang datang setelah kita.

Usai Ansa menutup sesi pertama, pembahasan yang sejak awal membawa jemaah menyusuri persoalan ego, sumber daya alam, kerusakan lingkungan, hingga tanggung jawab antargenerasi pun menemukan jedanya.

Malam semakin larut. Setelah cukup lama duduk menyimak dan bertukar keresahan, jemaah sejenak diberi ruang untuk mengendurkan pikiran. Percakapan-percakapan kecil kembali terdengar di antara jemaah. Sebagian masih membicarakan materi yang baru saja disampaikan, sementara suasana panggung perlahan berubah. Mikrofon dan perangkat musik mulai dipersiapkan.

JEDA malam itu diisi oleh penampilan One Month Notice. Musik hadir sebagai warna lain di tengah perjumpaan Kenduri Cinta. Ia memberi ruang bagi jemaah untuk menikmati malam, bernapas sejenak dari pembahasan yang serius, sekaligus tetap berada dalam suasana kebersamaan.

One Month Notice membuka penampilannya dengan lagu Lelah. Setelah itu, suasana berlanjut melalui Proyek Pembuat Nelangsa (PPN) dan Lahir Untuk Hal Besar. Lagu-lagu tersebut mengalir di Plaza Teater Kecil, menemani jemaah yang tetap bertahan hingga malam semakin dalam.

Menjelang akhir penampilan, One Month Notice membawakan Sebelum Cahaya milik Letto. Musik pun menjadi semacam jembatan dari ruang perenungan yang baru saja dilalui menuju sesi berikutnya.

Setelah lagu terakhir selesai, suasana halaman Teater Kecil kembali berubah. jemaah yang sempat menikmati musik mulai kembali mengambil posisi. Percakapan-percakapan kecil perlahan mereda, sementara perhatian kembali mengarah ke panggung. Malam yang sebelumnya diisi lantunan lagu kini bersiap memasuki pembahasan utama.

Muftie dan Karim mengambil tempat sebagai moderator. Sesi kedua dibuka dengan suasana lebih tenang dan serius. Setelah sesi pertama mengajak jamaah melihat persoalan dari banyak sisi, pembicaraan kini diarahkan kembali kepada latar belakang yang membuat kegelisahan itu muncul.

“Pembahasan kita mengenai bagaimana karbon dioksida direduksi oleh bumi akhirnya mengantarkan kita pada tema Bahasa Egologi, yang sebenarnya berangkat dari kekhawatiran awal para malaikat,” ujarnya. Dari pembahasan tersebut, perhatian bergeser kepada pertanyaan yang lebih mendasar tentang manusia dan hubungannya dengan kerusakan bumi.

Ia mengaitkannya dengan kisah ketika para malaikat mempertanyakan penciptaan manusia yang dikhawatirkan akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah di bumi. Namun Allah menjawab, Qala inni a’lamu ma la ta’lamun—Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.

Pertanyaan itu semakin terasa ketika Muftie membawa jemaah kepada keadaan alam saat ini. Kemarau panjang dan El Niño membuat persoalan air semakin nyata. Di Jakarta, air tanah yang sulit bahkan membuat pompa menyedot lumpur. Di Kalimantan, Sungai Kapuas pernah menyusut hingga menyisakan pasir dan lempung, sebagaimana didokumentasikan Farid Gaban.

Bagi Muftie, kenyataan itu mengajak manusia memeriksa akhlaknya. Ajaran Nabi Muhammad SAW tentang penyempurnaan akhlak tidak hanya menyangkut hubungan antarmanusia, tetapi juga cara manusia memperlakukan Sang Pencipta dan seluruh makhluk.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak. Akhlak kita tidak hanya ditujukan kepada makhluk yang kasat mata, tetapi juga kepada Rabbul ‘alamin dan alam yang telah Allah titipkan kepada kita,” ujar Muftie.

Setelah membuka kembali persoalan tersebut, Muftie dan Karim mempersiapkan jemaah untuk menyimak pemaparan para narasumber sesi utama. Prof. Erma, Hendri Satrio, Noel, dan Sabrang dipersilakan mengambil tempat di panggung. Perhatian jemaah pun kembali terpusat, menandai dimulainya sesi utama malam itu.

Setelah para narasumber mengambil tempat di panggung, Karim mengajak jemaah untuk bersama-sama membaca Surah Al-Fatihah. Doa tersebut dipanjatkan untuk kesehatan Cak Nun, keluarga besar Maiyah, serta para narasumber dan seluruh pegiat Kenduri Cinta. Suasana sejenak kembali hening, sebelum Karim membuka percakapan dengan sebuah cara pandang yang menjadi pijakan diskusi malam itu.

“Selama ini ketika berbicara tentang ekologi, kita selalu menunjuk alam. Padahal manusia adalah bagian integral dari alam, sehingga yang perlu kita pelajari lebih detail adalah ego diri kita sendiri yang menjadi akar kerusakan,” ujar Karim.

Dari cara pandang tersebut, Karim membawa pembahasan kepada persoalan yang lebih dekat: manusia itu sendiri. Bukan hanya bagaimana manusia memperlakukan alam, tetapi bagaimana ego bekerja dalam diri seseorang hingga memengaruhi cara ia mengambil keputusan, menggunakan sumber daya, bahkan ketika berada dalam lingkup kekuasaan dan tata kelola negara.

Karim lalu menggambarkan komunitas Maiyah sebagai sebuah ruang yang dapat ikut membentuk dan menyeimbangkan iklim sosial. Pertemuan yang berlangsung secara rutin tidak hanya dimaksudkan sebagai tempat bertukar pikiran, tetapi juga sebagai ruang untuk mengoreksi perilaku manusia agar kembali selaras dengan hukum-hukum alam. Bencana, baginya, bukan peristiwa yang berdiri sendiri, melainkan akibat ketidakselarasan manusia dalam menjalani kehidupan.

Dari kerangka tersebut, Karim membuka pertanyaan pertama kepada Hendri Satrio. Pembicaraan diarahkan pada bagaimana bahasa komunikasi politik bekerja, bagaimana sebuah rezim merespons krisis ekologi, dan bagaimana sikap kekuasaan ketika berhadapan dengan kesedihan serta keresahan rakyat. Pertanyaan itu menjadi pintu masuk bagi pembahasan berikutnya.

“Kerusakan alam terjadi bergantung pada bagaimana manusia memandang alam—apakah sekadar alat atau bagian dari dirinya.” (Noel)

PERTANYAAN Karim kemudian dijawab oleh Hendri Satrio, atau yang akrab disapa Bang Hensa, dengan membawa pembahasan pada kenyataan politik yang dihadapi warga negara sehari-hari. Ia melihat bahwa “Bahasa Egologi” tidak hanya dapat dibaca dari cara pemerintah mengambil kebijakan, tetapi juga dari bagaimana hubungan antarsesama warga negara berlangsung ketika masing-masing berusaha mempertahankan kepentingannya.

Bang Hensa menyindir kecenderungan pemerintah yang seolah menyerahkan kemampuan bertahan hidup kepada individu. Persoalannya menjadi rumit ketika warga yang berusaha bertahan hidup atau menyampaikan pendapat justru berhadapan dengan tekanan dari sesama warga, bahkan oknum pejabat.

Ia lalu menceritakan pengalamannya di ruang opini publik media sosial, termasuk ketika mengunggah pandangan mengenai sejumlah figur pejabat, salah satunya Teddy Indrawijaya. Respons yang muncul memperlihatkan bagaimana anak muda, khususnya Gen Z, punya cara pandang dan penilaian tersendiri terhadap kesibukan maupun kapasitas tokoh politik nasional.

Pengalaman tersebut sekaligus menunjukkan betapa sensitifnya ruang opini publik hari ini. Perbedaan pandangan mudah berkembang menjadi perdebatan, bahkan serangan dari sesama warga. Ruang digital yang seharusnya menjadi tempat bertukar gagasan dapat berubah menjadi arena saling berhadapan ketika ego masing-masing pihak ikut mengambil posisi.

Dari pengalaman di ruang publik, Bang Hensa membawa jemaah melihat dinamika yang berlangsung di antar-elite politik. Menurutnya, situasi politik saat ini belum sepenuhnya menunjukkan pertentangan terbuka. Mereka justru berada dalam posisi saling mengamati—atau dalam istilah yang ia gunakan, saling “ngintip”—untuk membaca gerakan satu sama lain agar tidak tertinggal dari perahu kekuasaan.

Di saat yang sama, para elite juga terus berupaya mengumpulkan modal untuk menghadapi kontestasi politik. Menurut Bang Hensa, mahalnya biaya politik membuat kekuatan finansial menjadi salah satu faktor penting dalam memenangkan pemilu. Dalam kondisi tersebut, politik uang bahkan dapat dipandang sebagai sebuah strategi oleh pihak yang berhasil memenangkan pertarungan.

Pembicaraan bergerak pada kebijakan publik dan bagaimana masyarakat menempatkan diri terhadap pemerintahan yang berjalan. Bang Hensa menyinggung program seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), yang menurutnya tetap mungkin dievaluasi bila tekanan dan kekecewaan masyarakat semakin besar. Kebijakan pemerintah, baginya, bukan sesuatu yang tidak dapat dikritik atau diperbaiki. Namun, kritik terhadap kebijakan tidak harus berujung pada penolakan terhadap pemerintahan secara keseluruhan.

Usai pemaparan Bang Hensa, Muftie kemudian membawa pembicaraan pada persoalan bahasa. Baginya, bahasa merupakan medium untuk menyampaikan pesan dari satu pihak kepada pihak lain. Namun, bahasa tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata secara langsung. Alam pun seolah memiliki bahasa dan simbolnya sendiri yang dibaca manusia. Ia mencontohkan istilah “wedus gembel” yang digunakan masyarakat Jawa untuk menyebut awan panas yang muncul ketika gunung meletus. Istilah tersebut menjadi salah satu cara masyarakat mengenali dan mengomunikasikan sebuah gejala alam.

Muftie menghubungkannya dengan cara para tokoh menyampaikan gagasan. Ia menyoroti Gus Baha dan Mbah Nun yang mampu menyampaikan pesan berat dan mendalam melalui bahasa sederhana, singkat, dan mudah dipahami. Baginya, kemampuan menyederhanakan pesan tanpa menghilangkan kedalaman justru membuat gagasan menjangkau lebih banyak orang.

Karim menambahkan perlunya menemukan bentuk komunikasi yang sesuai dengan karakter generasi hari ini. Bagi Gen Z, gagasan kompleks tidak selalu harus disampaikan dengan bahasa rumit. Diperlukan kemampuan menerjemahkan gagasan, teori, dan temuan empiris ke dalam bahasa yang dekat dengan keseharian mereka.

“Upaya ini menyederhanakan cara komunikasi yang kompleks berlandaskan teori dan bukti empiris ke dalam bahasa yang relevan bagi Gen Z,” tambahnya.

Bahasa pun tidak hanya menjadi alat menyampaikan pikiran, tetapi juga jembatan agar gagasan dapat dipahami lintas generasi. Dari ruang Kenduri Cinta, pembicaraan bergerak menuju pertanyaan berikutnya: bagaimana gagasan kompleks tentang kehidupan, masyarakat, dan lingkungan dapat diterima generasi muda melalui bahasa yang mereka kenali.

Forum Kenduri Cinta menjadi sarana penyucian diri bersama untuk menyegarkan pikiran dan hati dari polusi informasi. (Karim)

PERSPEKTIF tentang generasi muda mendapat warna berbeda ketika Noel berbicara. Ia mengawali dengan cerita ringan tentang keberadaannya di atas panggung malam itu. Niat awalnya hanya hadir sebagai jamaah, tetapi diajak naik ke panggung oleh Mas Sabrang. Baginya, ajakan itu menjadi bagian dari proses pertumbuhan dirinya.

Selama kurang lebih tiga tahun mendampingi Mas Sabrang, Noel merasakan interaksi mereka perlahan mengubah cara berpikirnya. Setiap kali mengajukan inisiatif, ia tidak cukup hanya menyampaikan apa yang ingin dilakukan; ia selalu ditanya alasannya—”ngopo”, mengapa hal itu perlu dilakukan. Pertanyaan sederhana itu terus mengikis keyakinan lama yang selama ini ia anggap benar.

“Setiap kali saya mengajukan inisiatif, saya selalu ditanya alasannya hingga keyakinan lama saya terkikis; perubahan terbesar selama tiga tahun mendampingi Mas Sabrang adalah pemahaman tentang ego,” ungkap Noel.

Dari pengalaman tersebut, Noel membawa pembicaraan pada upaya memahami ego secara lebih mendasar. Ia mengajak jemaah melihat ego bukan sebagai bagian dari mekanisme manusia dalam memahami dunia.

Ia merujuk eksperimen Jean Piaget pada dekade 1960-an mengenai tiga gunung untuk melihat kemampuan anak memahami perspektif orang lain. Eksperimen itu memperlihatkan bagaimana anak di bawah usia tertentu masih melihat dunia berdasarkan perspektif dirinya sendiri. Dari sini, Noel menjelaskan ego sebagai semacam meaning-making engine yang membantu manusia memahami realitas.

Dalam perjalanan hidup, cara manusia membuat makna terus berkembang. Piaget mendefinisikan ego sebagai organ pembuat makna yang berevolusi dari berpusat pada diri sendiri menuju pemikiran atas kepentingan bersama yang lebih besar. Pada usia dini, manusia lebih banyak merespons berdasarkan dorongan dan kebutuhan sendiri. Seiring bertambahnya usia, ia mulai mengenali norma sosial, mempertimbangkan keberadaan orang lain, hingga pada tahap tertentu mampu melakukan sesuatu yang tidak nyaman demi kepentingan yang lebih besar.

Noel merangkum ego ke dalam tiga aspek. Pertama, ego adalah bagian diri yang membuat makna dari realitas di luar dirinya. Kedua, cara ego bekerja terus berkembang sepanjang kehidupan manusia. Ketiga, ego berfungsi seperti penggaris yang menentukan batas antara “diri” dan “bukan diri”.

Batas itu tidak selalu berhenti pada tubuh seseorang. Noel memberi gambaran tentang anak dan orang tuanya. Ketika anak terjatuh dan merasa sakit, orang tuanya dapat ikut merasakan kesakitan secara emosional. “Melalui sudut pandang ini, ego diibaratkan seperti penggaris yang menentukan batas diri—apakah hanya sebatas fisik atau mencakup hal-hal di luar diri kita,” ujarnya. Hal itu terjadi karena dalam kesadaran orang tua, anak telah menjadi bagian dari dirinya. Batas antara “aku” dan “yang lain” menjadi lebih luas.

Dari batas diri itulah Noel menghubungkan egologi dengan ekologi. Persoalan lingkungan, baginya, tidak cukup diselesaikan pada tingkat pengelolaan teknis. Upaya mengurangi dampak kerusakan, mengatur penggunaan sumber daya, atau membuat kebijakan lingkungan berada pada satu lapisan pembahasan. Namun, ada lapisan lebih mendasar: bagaimana manusia memaknai alam itu sendiri.

Noel membedakan antara ekologi dangkal (shallow ecology) dengan ekologi mendalam (deep ecology). Ekologi dangkal lebih banyak berbicara mengenai tata kelola dan upaya mitigasi terhadap kerusakan yang telah atau mungkin terjadi. Sementara itu, ekologi mendalam membawa pertanyaan hingga ke sumber cara manusia memandang dunia: bagaimana manusia membuat makna terhadap alam dan menempatkan dirinya di dalamnya.

“Ada tingkatan yang lebih fundamental, yaitu manusia beserta mesin pembuat maknanya; kerusakan alam terjadi bergantung pada bagaimana manusia memandang alam—apakah sekadar alat atau bagian dari dirinya,” pungkas Noel.

Jika alam hanya dipandang sebagai sesuatu di luar diri, pohon, sungai, tanah, dan sumber daya mudah ditempatkan sebagai objek untuk memenuhi kepentingan manusia. Namun, ketika batas diri diperluas dan alam dipahami sebagai bagian dari kehidupan yang berhubungan dengan keberadaan manusia, cara memperlakukannya pun dapat berubah.

Setelah Noel mengajak jemaah melihat ego sebagai meaning-making engine dan bagaimana batas diri manusia dapat diperluas hingga mencakup alam, Muftie memberikan tanggapan dari sudut pandang yang berbeda. Ia membawa pembahasan pada naluri dasar manusia untuk mempertahankan kehidupan, sekaligus melihat bagaimana perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi turut mengubah cara manusia menghadapi alam.

Muftie mengutip pemikiran Yuval Noah Harari dalam Homo Deus mengenai kecenderungan alami manusia untuk bertahan hidup. Sains seharusnya membuat manusia lebih peduli dan meningkatkan keselamatan hidup. Kemajuan di bidang kesehatan menjadi salah satu contoh yang paling mudah ditemui. Teknologi seperti ultrasonografi (USG) memungkinkan kondisi ibu dan janin dipantau dengan lebih baik, sementara operasi caesar menjadi salah satu bentuk intervensi medis yang dapat menyelamatkan ibu maupun bayi dalam kondisi tertentu.

Namun, perkembangan teknologi membawa pertanyaan lain ketika kemampuan manusia semakin jauh melakukan intervensi terhadap alam. Jika teknologi diciptakan untuk membantu manusia bertahan hidup, sampai sejauh mana manusia boleh mengubah kondisi alam demi kepentingannya? Muftie menyinggung rekayasa cuaca sebagai contoh. Kemampuan memengaruhi kondisi alam membawa harapan, tetapi juga menyisakan pertanyaan tentang keseimbangan ekologis dan dampak yang mungkin muncul kemudian.

Pertanyaan itu menjadi pintu masuk bagi pembahasan lebih spesifik mengenai perubahan dan ekstremitas iklim. Karim menyambut kehadiran Prof. Erma, narasumber berkeahlian di bidang iklim. Ia mengajak jamaah tidak hanya memahami perubahan iklim sebagai wacana besar, tetapi juga mencari jawaban yang dapat diterapkan sehari-hari.

“Hati seorang presiden harus dipenuhi oleh kepentingan seluruh rakyat Indonesia; ego pribadinya harus meniada agar seluruh kebijakan berorientasi pada kemakmuran rakyat.” (Prof. Erma)

KARIM memberikan pertanyaan kepada Prof. Erma: “Dalam kehidupan sehari-hari, apa yang harus kita lakukan menghadapi kondisi iklim yang makin ekstrem agar kita bisa bersikap lebih bijak tanpa menambah stres?” tanya Karim.

Prof. Erma menyambut pertanyaan itu. Sebelum menjelaskan iklim, ia menyampaikan kesannya terhadap suasana Kenduri Cinta malam itu. Sebagai ilmuwan yang meneliti iklim lebih dari 15 tahun, ia merasa menemukan sesuatu yang berbeda dalam ruang Maiyah: ada kejujuran dan suasana yang genuine. Kekagumannya semakin kuat ketika melihat kecermatan pemikiran Cak Nun dalam membaca fenomena alam.

“Sebagai ilmuwan yang telah meneliti iklim selama lebih dari 15 tahun, saya sangat terkejut karena fenomena El Niño dan erupsi gunung yang diprediksi oleh Cak Nun terbukti nyata pada tahun 2026,” ungkapnya. Bagi ilmuwan iklim, fenomena itu bukan sekadar cerita, tetapi dapat dibandingkan dengan data dan pengamatan ilmiah.

Setelah itu, Prof. Erma menjelaskan fenomena iklim dengan bahasa sederhana. Ia mengajak jamaah membayangkan bumi sebagai sistem besar dengan wilayah-wilayah penting penghasil awan dan hujan. Di khatulistiwa, ada tiga wilayah utama penghasil hujan dunia: Afrika, Amerika Selatan dengan Amazon, dan Indonesia.

Persoalan muncul ketika terjadi Super El Niño. Menurut Prof. Erma, fenomena itu ditandai kenaikan suhu permukaan laut di Pasifik hingga lebih dari dua bahkan tiga derajat Celsius. Pola pembentukan awan dan hujan pun berubah besar. Terdapat tiga wilayah utama di dunia yang menghasilkan hujan terbesar, yaitu Afrika, Amerika Selatan, dan Indonesia. Namun saat ini, kendali pembentukan awan dan hujan sepenuhnya diambil alih oleh Samudra Pasifik. Di sisi lain, Indonesia justru semakin kering.

Penjelasan itu membuat fenomena yang sebelumnya terasa jauh lebih mudah dibayangkan. Kekeringan yang dirasakan masyarakat bukan berdiri sendiri, melainkan bagian dari perubahan sistem iklim yang saling berhubungan. Apa yang terjadi di satu kawasan dapat memengaruhi kawasan lain, sehingga perubahan iklim menjadi persoalan bersama yang tidak mengenal batas wilayah.

“Perubahan iklim merupakan bukti paling nyata atas kegagalan manusia di seluruh bumi dalam menjalankan perannya sebagai khalifah di muka bumi,” tegas Prof. Erma.

Aktivitas manusia telah mengubah komposisi kimiawi dan proses fisika atmosfer, terutama melalui peningkatan emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida. Akhirnya, sejak 1980 suhu bumi menunjukkan lonjakan tajam, dikenal sebagai hockey stick curve.

Namun, pembicaraan tidak berhenti pada kritik. Prof. Erma mengajak jamaah melihat apa yang masih dapat dilakukan dalam lingkup masing-masing. Pada skala individu, manusia dapat membantu bumi memulihkan diri dengan menghemat energi dan air serta menerapkan pola hidup lebih alami. Ia juga mendorong pola living program, termasuk memilih makanan yang tidak melalui terlalu banyak proses pengolahan.

Dari tindakan-tindakan sederhana tersebut, Prof. Erma menghubungkannya kembali dengan persoalan kepemimpinan dan ego. Baginya, persoalan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh pilihan individu, tetapi juga oleh bagaimana seseorang menjalankan amanah ketika memperoleh kekuasaan. Ia mengutip kembali pelajaran yang sering disampaikan Cak Nun mengenai pentingnya meniadakan ego pribadi ketika seseorang menerima amanah untuk memimpin.

“Hati seorang presiden harus dipenuhi oleh kepentingan seluruh rakyat Indonesia; ego pribadinya harus meniada agar seluruh kebijakan berorientasi pada kemakmuran rakyat,” ujarnya. Ketika seseorang telah menerima amanah untuk memimpin ratusan juta manusia, kepentingan yang berada di dalam dirinya semestinya bukan lagi kepentingan dirinya sendiri, melainkan kepentingan seluruh rakyat yang dipimpinnya.

Usai Prof. Erma menyampaikan penjelasan, Karim memberikan ruang kepada Mas Sabrang untuk menyampaikan pandangannya. Perhatian jemaah pun kembali tertuju ke panggung, menunggu bagaimana pembahasan mengenai ego, manusia, teknologi, dan perubahan iklim akan dibaca dari sudut pandang berikutnya.

Setelah Karim merangkum pembahasan Prof. Erma melalui gagasan tentang peniadaan ego dan keseimbangan akhlak, Mas Sabrang kemudian mengambil alih ruang pembicaraan. Ia membawa jemaah kembali kepada persoalan ego, tetapi dengan membedahnya dari sisi cara manusia berpikir, mengambil keputusan, dan membangun sistem kehidupan bersama.

“Revolusi bukanlah metode yang tepat untuk kondisi saat ini, karena persoalan utamanya bukan sekadar menggeser status quo, melainkan siapa dan bagaimana sistem penggantinya.” (Sabrang)

MAS SABRANG memulai dengan merujuk pada teori psikoanalisis Sigmund Freud. Dalam kerangka itu, manusia berada di antara dorongan naluriah (id) dan tuntutan atau ekspektasi lingkungan (super-ego). Di antara keduanya terdapat ego yang bekerja sebagai mesin pembuat makna, mengolah dorongan dan kenyataan di luar diri menjadi dasar penentuan sikap.

Dari cara kerja itu, Mas Sabrang menghubungkannya dengan egologi. Ketika cara manusia memberi makna terhadap dirinya dan lingkungannya menghasilkan pola tertentu dalam mengambil keputusan, pola itu berpengaruh pada perilaku ekonomi. Perilaku ekonomi yang dilakukan terus-menerus akhirnya membentuk ekosistem kehidupan manusia.

“Ego berada di antara naluri dasar (id) dan ekspektasi lingkungan (super-ego); pemikiran egologi memicu perilaku ekonomi yang pada akhirnya membentuk suatu ekosistem,” jelas Mas Sabrang.

Hubungan itu semakin penting ketika pembicaraan diarahkan pada ancaman krisis global. Mas Sabrang mengingatkan kondisi El Niño yang dapat mencapai kisaran 2,5 hingga 3 derajat Celsius. Ia membawa ingatan pada fenomena serupa pada 1877–1878 yang pernah berkontribusi terhadap bencana kelaparan besar di berbagai wilayah dunia. Angka dan peristiwa itu menggambarkan bahwa perubahan pada sistem alam dapat membawa dampak jauh melampaui satu wilayah dan satu generasi.

Dari ancaman global itu, Mas Sabrang mengajak jamaah melihat bagaimana persoalan kompleks seharusnya dihadapi. Ia menggunakan contoh pemulihan ekosistem di Taman Nasional Yellowstone, ketika serigala diperkenalkan kembali untuk membantu mengembalikan keseimbangan rantai ekologi. Contoh itu menunjukkan bahwa persoalan tidak selalu dapat diselesaikan dengan memperbaiki satu titik secara terpisah. Diperlukan pemetaan hubungan antarelemen dalam sebuah sistem.

Cara berpikir sistemik tersebut kemudian ia gunakan untuk membaca sejumlah program pemerintah, termasuk Food Estate dan Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, sebuah program besar dapat saja memiliki niat dan momentum yang tepat, misalnya untuk menjawab kebutuhan ketahanan pangan. Namun, gagasan yang baik belum tentu menghasilkan pelaksanaan yang baik ketika tidak ditopang oleh tata kelola, manajemen risiko, dan mekanisme pengawasan yang memadai.

“Program berskala besar tidak dapat berjalan tanpa ketersediaan GRC (Governance, Risk, and Compliance) yang matang, sehingga kegagalan teknis di lapangan tidak serta-merta menimpakan kesalahan pada pembuat gagasan utama,” ujarnya.

Dari tata kelola, Mas Sabrang membedakan dua bentuk sistem: egosistem dan ekosistem. Dalam egosistem, hubungan dibangun hierarkis dan bertingkat. Pemimpin berada di puncak, sementara orang di bawahnya cenderung menunggu perintah dan persetujuan.

“Egosistem berbentuk piramida di mana pemimpin bertindak seperti dalang dan bawahan menjadi wayang; sebaliknya, ekosistem menempatkan pemimpin sebagai orkestrator yang mengorganisasi kebutuhan bersama.” Mereka tidak berani mengambil keputusan sendiri karena seluruh arah bergantung pada sosok di atasnya.

Dalam ekosistem, hubungan itu berubah. Tidak ada satu orang yang harus menjadi pusat seluruh keputusan. Pemimpin berfungsi sebagai orkestrator—mengatur berbagai bagian agar bekerja bersama sesuai kebutuhan. Kepemimpinan bukan lagi memperbesar kehendak pribadi, melainkan menghilangkan kepentingan diri agar kebutuhan bersama terorganisasi dengan baik.

Dari sini, Mas Sabrang membawa jemaah pada sebuah fenomena yang tampaknya kecil tetapi dapat menghasilkan dampak besar: Butterfly Effect. Sebuah tindakan kecil di satu tempat dapat menimbulkan perubahan yang jauh lebih besar di tempat lain. Karena itu, seseorang tidak pernah benar-benar dapat menganggap tindakannya tidak berarti hanya karena skalanya kecil.

Ia kemudian menggunakan analogi tentang dongkrak mobil yang seolah tidak berguna sepanjang waktu. Namun, ketika mobil mengalami keadaan darurat dan membutuhkan dongkrak, benda tersebut justru menjadi sangat berharga. Bagi Mas Sabrang, manusia pun demikian.

“Seseorang tidak perlu menjadi pahlawan sepanjang hidupnya; cukuplah membuat keputusan yang benar saat kesempatan krusial itu datang,” tutur Mas Sabrang mengutip dialog dari film Deadpool.

Pandangan itu mengembalikan pembicaraan kepada kehidupan setiap individu. Jika perubahan dalam sebuah sistem dapat dipengaruhi tindakan kecil, manusia tidak perlu menunggu memiliki kekuasaan besar untuk mulai berbuat benar. Yang dibutuhkan adalah kesiapan menjaga akhlak dan mengambil keputusan tepat ketika kesempatan penting datang.

Dari individu, pembahasan Mas Sabrang kemudian bergerak menuju identitas yang lebih besar: Indonesia. Ia mengajak jemaah membedakan antara kesetiaan kepada Indonesia dan kesetiaan kepada orang-orang yang sedang menjalankan kekuasaan. Menurutnya, mencintai Indonesia berarti setia kepada cita-cita yang terkandung di dalam identitas tersebut—mencerdaskan kehidupan bangsa, memakmurkan kehidupan bersama, serta ikut menjaga perdamaian dunia.

Kesetiaan kepada Indonesia tidak semestinya berubah menjadi pembelaan terhadap oknum yang menyalahgunakan kekuasaan. Identitas kebangsaan justru harus membawa manusia keluar dari batas ego pribadi maupun kelompok menuju identitas kemanusiaan yang lebih luas. Dalam tradisi Jawa yang ia singgung, seseorang baru dianggap siap menerima ilmu lebih tinggi ketika identitas dirinya berkembang dari kepentingan egosentris dan kelompok menuju identitas sebagai manusia.

Pada titik tersebut, Mas Sabrang mengajak jemaah Maiyah untuk membangun apa yang ia sebut sebagai “mini super-ego”: sebuah kesadaran bersama yang dapat menjadi pengarah agar individu dan komunitas tidak kembali dikuasai kepentingan egonya masing-masing. Kesadaran tersebut perlu diwujudkan dalam ekosistem ekonomi dan kehidupan bersama yang sehat.

“Jika kita mengemban identitas Indonesia, kita wajib setia pada cita-citanya; apabila perahu utama hendak karam, mari kita bangun perahu baru agar Sang Merah Putih tetap berkibar,” pungkas Mas Sabrang.

Setelah Mas Sabrang menutup pemaparannya, Karim mengajak jemaah beristirahat sejenak sebelum memasuki sesi berikutnya, yakni sesi tanya jawab. Jeda tersebut menjadi ruang bagi jemaah untuk mengendapkan kembali berbagai pembahasan yang telah berlangsung sejak awal malam.

“Jika kita mengemban identitas Indonesia, kita wajib setia pada cita-citanya; apabila perahu utama hendak karam, mari kita bangun perahu baru agar Sang Merah Putih tetap berkibar.” (Sabrang)

JEDA sesi kedua diisi oleh Ginanjar. Ia hadir membawa suasana yang lebih cair melalui lagu Orkes Gombal dan beberapa lagu karyanya sendiri. Setelah cukup lama jemaah menyimak pembahasan mengenai ego, ekologi, iklim, teknologi, hingga cara manusia membangun kehidupan bersama, musik menjadi ruang untuk sejenak mengendapkan berbagai gagasan yang telah disampaikan.

Jemaah menikmati lantunan lagu dalam suasana yang perlahan berubah menjadi lebih tenang. Percakapan kecil masih terdengar di antara mereka, sementara sebagian lainnya memilih tetap duduk menikmati musik. Malam di halaman Teater Kecil pun semakin larut, dan suasana kebersamaan terasa semakin intim.

Menjelang akhir jeda, Mas Sabrang turut bergabung bersama Ginanjar. Keduanya kemudian membawakan lagu-lagu Letto, Sebening Senja, dan Ruang Rindu. Kehadiran Mas Sabrang di tengah lantunan musik membuat suasana malam itu semakin syahdu. Jemaah turut larut dalam alunan lagu, sejenak meninggalkan percakapan dan hiruk-pikuk keseharian, menyimak dalam suasana yang khidmat.

Suasana syahdu yang tercipta dari penampilan Ginanjar bersama Mas Sabrang membuka ruang bagi percakapan yang lebih ringan mengenai musik. Mas Sabrang menyinggung perkembangan dunia penulisan lirik yang menurut pengamatannya terus mengalami perubahan. Ia melihat adanya pergeseran dari gaya lirik pada eranya yang cenderung puitis dan penuh kegelisahan menuju gaya penulisan yang semakin literal, langsung, dan blak-blakan.

Percakapan singkat mengenai musik tersebut menjadi warna tersendiri setelah jemaah sebelumnya mengikuti rangkaian diskusi yang cukup panjang. Dari lirik, makna, hingga pengalaman mendengarkan lagu, malam itu kembali menunjukkan bahwa ruang Kenduri Cinta dapat bergerak dari satu khazanah ke khazanah lainnya tanpa kehilangan suasana perjumpaan.

Setelah jeda selesai, jemaah pun kembali bersiap memasuki sesi berikutnya. Kali ini, ruang pembicaraan tidak lagi sepenuhnya berada di tangan para narasumber. Pertanyaan, kegelisahan, dan pengalaman jemaah akan mendapatkan tempat untuk disampaikan dalam sesi tanya jawab.

Kesadaran yang telah terbentuk perlu menemukan bentuknya dalam tindakan nyata dan menjadi bagian dari ekosistem kehidupan. Dengan demikian, pembongkaran pola lama tidak berhenti pada diri seseorang, tetapi dapat menjadi awal bagi lahirnya cara hidup dan sistem yang lebih baik. (Prof. Erma)

SETELAH suasana kembali tenang, Muftie dan Karim mengambil alih panggung untuk membuka sesi tanya jawab. Waktu semakin mendekati subuh, sehingga jemaah yang berada di bagian depan kembali diajak untuk merapat agar percakapan dapat berlangsung lebih hangat dan efektif.

Dengan pengondisian tersebut, sesi berikutnya pun dimulai. Beberapa jemaah maju membawa pertanyaan dan kegelisahan masing-masing, melanjutkan percakapan yang sejak awal malam telah bergerak dari persoalan ego, ekologi, kepemimpinan, hingga kehidupan manusia dalam menghadapi perubahan zaman.

Penanya pertama, Arkan dari Depok, mengangkat kembali perbedaan antara ekosistem dan egosistem melalui analogi tanaman hias. Menurutnya, ekosistem sejati justru tumbuh dari keberagaman, sementara sesuatu yang terlalu dikotak-kotakkan demi keindahan tertentu dapat berubah menjadi sekadar tampilan. Dari analogi tersebut, ia mempertanyakan posisi orang-orang kaya yang dalam tata kehidupan bersama terkadang justru dipandang sebagai pengganggu: apakah keberadaan mereka benar-benar membangun ekosistem atau malah membentuk egosistem?

Ia melanjutkan pertanyaannya, “Apa sebenarnya peran atau guna orang-orang kaya yang terkesan hanya menjadi pengganggu dalam ekosistem tersebut?”

Pertanyaan berikutnya datang dari Tio, jemaah asal Magelang. Ia membawa persoalan yang lebih dekat dengan pergulatan diri. Merantau ke Jakarta pada usia awal 20-an membuatnya berhadapan dengan beragam karakter dan nilai yang berbeda. Pengalaman tersebut membuatnya merasa mengalami quarter-life crisis dan mempertanyakan kembali jati dirinya.

“Ketika saya memilih untuk tidak melakukan hal buruk yang orang lain lakukan, saya mempertanyakan apakah itu murni dari prinsip diri atau hanya karena saya kurang pergaulan,” tanyanya. Ia pun meminta pandangan dari perspektif psikologi mengenai pertentangan nilai tersebut.

Sementara itu, Dimas dari Purwokerto membawa kembali pembicaraan pada gagasan perubahan bangsa yang sempat disampaikan Mas Sabrang. Ia merespons tesis bahwa revolusi bukanlah metode yang tepat untuk kondisi saat ini dengan sebuah pertanyaan.

“Metode seperti apa yang paling tepat untuk memperbaiki kondisi negara kita saat ini, dan apakah tujuan kita berhimpun di Maiyah ini sebatas membentuk pola pikir?” tanyanya.

Menanggapi kegelisahan Tio, Noel membawa pembicaraan pada fenomena yang lebih luas yang dialami generasi muda. Ia menyinggung data yang berkaitan dengan Suicide Prevention Day mengenai fenomena helplessness atau ketidakberdayaan serta apa yang disebut sebagai loneliness epidemic.

“Data statistik menunjukkan bahwa di zaman hiperkonektivitas ini kita mengalami wabah kesepian, di mana seseorang tetap merasa hampa meskipun berada di tengah keramaian,” jelas Noel.

Noel lalu membagikan pengalamannya mengalami multiple quarter-life crisis. Interaksinya selama beberapa tahun bersama Mas Sabrang membuat pola pikir dan ukuran validasi sosial yang ia bangun semasa kuliah perlahan dipertanyakan, bahkan dibongkar. Proses itu tidak selalu nyaman, tetapi menjadi bagian penting dari pertumbuhan.

“Faktor utama yang mempercepat penyelesaian quarter-life crisis adalah keberanian dan kemauan diri untuk membongkar total belief system yang selama ini kita miliki,”  jelasnya.

Ia melanjutkan pembahasan dengan membedakan state dan identity. Kebodohan atau ketidakmampuan memahami sesuatu tidak harus diterima sebagai identitas permanen.

“Titik balik terpenting adalah menyadari bahwa menjadi bodoh itu nyaman jika kebodohan dianggap sebagai keadaan sementara (state), bukan sebagai identitas permanen,” ujar Noel. Semua itu keadaan sementara yang memungkinkan manusia terus belajar.

Dari sana, Noel melihat perjumpaan dengan nilai berbeda justru dapat menjadi kesempatan berkembang. Pertemuan dengan orang lain yang punya cara pandang, prinsip, dan pengalaman berbeda dapat menjadi katalisator untuk menguji kembali keyakinan yang dianggap benar.

Prof. Erma menjawab dengan melihat krisis bukan hanya persoalan fase tertentu dalam kehidupan. Generasi saat ini berhadapan dengan tekanan hampir setiap hari. Tuntutan berprestasi berjalan bersamaan dengan persoalan sosial dan krisis iklim, sehingga seseorang dapat mengalami everyday crisis atau bahkan whole-life crisis. Tekanan terus-menerus itu dapat membuat seseorang kehilangan arah. Ketika terlalu banyak persoalan hadir bersamaan, manusia tidak selalu tahu dari mana memulai perubahan. Kebingungan itu dapat melahirkan sikap apatis.

“Krisis kehidupan menciptakan krisis harian yang membuat seseorang menjadi apatis karena bingung dari mana harus memulai sebuah perubahan,” jelas Prof. Erma.

Dalam kondisi itu, forum Maiyah dan Kenduri Cinta memiliki fungsi penting. Ruang perjumpaan semacam ini dapat menjadi tempat melepaskan tekanan sekaligus memeriksa kembali alur berpikir yang dianggap benar. Prosesnya tidak selalu melalui perdebatan berat; refleksi dapat berlangsung melalui kegembiraan, humor, atau cara sederhana yang membuat seseorang melihat sesuatu dari sudut pandang berbeda.

Ia mencontohkan cara Cak Nun mendekonstruksi pemahaman tentang label halal. Sesuatu yang diterima begitu saja dapat dibongkar melalui pertanyaan dan cara berpikir yang membuat orang melihat dari sisi lain. Perubahan kesadaran tidak selalu dimulai dari jawaban baru, tetapi dari keberanian mempertanyakan kembali kerangka berpikir lama.

“Anak Krakatau membangun dirinya dengan cara menghancurkan bentuk lamanya terlebih dahulu demi melahirkan tatanan dan pertumbuhan yang baru,” jelasnya. Bagi Prof. Erma, mekanisme alam tersebut dapat menjadi gambaran tentang proses pertumbuhan manusia: terkadang seseorang perlu membongkar bahkan menghancurkan tatanan berpikir lama agar memiliki ruang untuk melahirkan kesadaran yang baru.

Namun, pembongkaran cara berpikir tersebut tidak berhenti pada kesadaran pribadi. Prof. Erma mengakui bahwa keresahan terhadap keadaan yang berjalan tidak hanya dirasakan oleh masyarakat umum. Mereka yang berada di lingkungan intelektual pun menghadapi kegelisahan yang mendalam ketika melihat sistem yang dianggap tidak berjalan sebagaimana mestinya.

“Jangankan masyarakat umum, kaum intelektual pun saat ini mengalami krisis keresahan mendalam terhadap sistem yang berjalan sangat buruk,” tegasnya.

Karena itu, keresahan tidak cukup dipelihara sebagai pikiran atau keluhan. Kesadaran yang terbentuk perlu menemukan bentuk dalam tindakan nyata dan menjadi bagian ekosistem kehidupan. Pembongkaran pola lama tidak berhenti pada diri seseorang, tetapi dapat menjadi awal lahirnya cara hidup dan sistem yang lebih baik.

“Kejujuran pada diri sendiri adalah kompas kehidupan; sekali kamu membohongi diri sendiri, kompas itu rusak dan kamu kehilangan arah tujuan penciptaanmu.” (Sabrang)

PEMBAHASAN mengenai krisis dan keresahan kemudian berlanjut melalui perspektif Hendri Satrio. Bang Hensa mengajak jemaah melihat bahwa tekanan hidup tidak hanya dialami oleh mereka yang sedang berada dalam kesulitan. Setiap orang memiliki persoalan dan beban masing-masing, baik sebagai karyawan, pengusaha, maupun pejabat. Karena itu, kehidupan tidak selalu harus dihadapi dengan ketegangan yang berlebihan.

Pandangan tersebut kemudian ia hubungkan dengan pengalaman pribadinya. Sebelum berada di posisi seperti sekarang, Bang Hensa pernah menjalani berbagai pekerjaan dari bawah. Ia pernah menjadi petugas paging di hotel dan menghadapi kemarahan orang lain ketika menjalankan pekerjaannya. Ia juga pernah mengalami kejadian ketika mengendarai sepeda motor dalam kondisi micro-sleep hingga terjatuh ke sawah.

Berbagai pengalaman tersebut menjadi bagian dari prosesnya dalam menghadapi tekanan hidup. Alih-alih terus-menerus melihat pengalaman buruk sebagai sesuatu yang harus diratapi, Bang Hensa justru belajar menertawakan dirinya sendiri. Humor menjadi salah satu cara untuk menjaga jarak dari ego dan rasa malu, sehingga sebuah kegagalan tidak harus berubah menjadi beban yang terus dibawa.

“Jangan memaksakan matahari untuk terbit lebih cepat; bersabarlah menunggu karena pada waktunya ia akan terbit sendiri,” tuturnya. Ada saat ketika seseorang harus berhenti memaksa keadaan dan belajar menunggu. Tidak semua hal dapat dipaksakan terjadi sesuai dengan keinginan manusia.

Dari pengalaman tersebut, Bang Hensa mengajak jemaah untuk memiliki kemampuan menerima kenyataan tanpa kehilangan daya untuk melanjutkan perjalanan. Menertawakan diri sendiri bukan berarti meremehkan persoalan yang sedang dihadapi, melainkan memberi ruang bagi diri untuk melihat masalah dengan lebih jernih. Ketika seseorang mampu berdamai dengan rasa malu, kegagalan, dan tekanan yang pernah dialaminya, ia dapat kembali bertanya tentang langkah berikutnya.

“Kadang kita harus mampu menertawakan hidup kita sendiri agar kita bisa menerima realitas dan bertanya: ‘Setelah ini apa lagi?’” pungkas Bang Hensa.

Menanggapi pertanyaan Arkan, Mas Sabrang terlebih dahulu membawa jemaah pada persoalan yang lebih mendasar tentang manusia: kemampuan untuk memilih.

“Hal paling berharga dari diri manusia adalah kemampuan membuat pilihan; sekali pilihan itu direbut, manusia akan kehilangan banyak hal dalam dirinya,” ujar Mas Sabrang.

Dari gagasan tentang pilihan, Mas Sabrang mengajak jemaah melihat kehidupan seperti permainan. Dalam permainan, ada perbedaan jelas antara pemain dan karakter yang dimainkan. Persoalan muncul ketika seseorang terlalu larut ke dalam karakter yang dijalankan hingga lupa bahwa dirinya bukan karakter tersebut.

“Apakah pilihanmu setiap hari mencerminkan dirimu yang sejati ataukah kamu sekadar memainkan suatu karakter? Sebab jika hidup adalah permainan, maka kamu sedang memainkan game kehidupan,” jelasnya.

Cara pandang itu ia hubungkan dengan bagaimana manusia menghadapi masalah. Sesuatu yang dianggap beban menghasilkan respons berbeda dibandingkan ketika persoalan sama dilihat sebagai tantangan. Ketika merasa terancam, tubuh masuk mekanisme pertahanan. Sebaliknya, ketika persoalan dibaca sebagai tantangan, manusia punya ruang lebih besar mencari kemungkinan dan menghasilkan kreativitas.

“Melihat masalah sebagai beban akan memicu hormon kortisol dan stres, sedangkan melihat masalah sebagai tantangan akan membuat kita bersemangat menghadapinya,” tutur Mas Sabrang.

Dari pembahasan pilihan, Mas Sabrang merespons pertanyaan Arkan mengenai orang yang dianggap mengganggu keseimbangan ekosistem. Ia menjelaskan bahwa sistem sehat justru membutuhkan tension atau tegangan. Seperti dua kutub berlawanan, keberadaan pihak berbeda pandangan dapat menjaga sistem agar tidak berhenti pada satu arah.

Dalam kehidupan sosial, keberadaan pihak berseberangan atau rebel tidak selalu berarti ancaman. Selama perbedaan diarahkan untuk kepentingan lebih besar, ketegangan dapat menjadi bagian mekanisme menjaga keseimbangan. Seperti tempered glass yang memperoleh kekuatan dari tegangan di dalam material, sistem sosial juga membutuhkan dinamika dan koreksi dari berbagai arah.

Dengan demikian, perbedaan tidak harus selalu dihilangkan. Yang menjadi persoalan adalah ke mana perbedaan tersebut diarahkan dan apakah ia masih mengabdi kepada greater good atau kepentingan bersama yang lebih besar.

Beranjak dari pertanyaan Arkan, Mas Sabrang merespons kegelisahan Tio mengenai prinsip diri dan pencarian jati diri. Menurutnya, manusia membutuhkan kompas untuk menentukan arah hidup. Kompas itu adalah kejujuran kepada diri sendiri.

“Kejujuran pada diri sendiri adalah kompas kehidupan; sekali kamu membohongi diri sendiri, kompas itu rusak dan kamu kehilangan arah tujuan penciptaanmu,” tegas Mas Sabrang.

Kejujuran itu menuntut keberanian mengakui bahwa diri seseorang dapat berubah. Apa yang dahulu dianggap benar belum tentu harus dipertahankan selamanya hanya karena bagian dari identitas. Dalam pertumbuhan, manusia terkadang harus berani meninggalkan versi dirinya yang lama.

Mas Sabrang menggunakan proses pergantian kulit pada kepiting atau ecdysis sebagai perumpamaan. Kepiting harus melepaskan cangkang lama agar tubuhnya berkembang. Demikian pula manusia: pertumbuhan membutuhkan keberanian meninggalkan batas lama yang tidak lagi sesuai.

“Jika kamu tidak berani membuang versi dirimu yang lama, kamu tidak akan pernah menemukan versi dirimu yang baru,” ujarnya.

Dalam konteks itu, pergulatan nilai tidak selalu harus dipandang sebagai persoalan yang segera dihilangkan. Pertemuan dengan pandangan berbeda dapat menjadi kesempatan memeriksa kembali siapa dirinya, apa yang diyakininya, dan pilihan seperti apa yang ingin dijalani.

Setelah menjawab persoalan pilihan dan pertumbuhan diri, Mas Sabrang memasuki pertanyaan Dimas mengenai perubahan negara dan kemungkinan revolusi. Ia menegaskan perubahan besar tidak cukup dilakukan dengan mengganti orang atau meruntuhkan sistem lama secara tiba-tiba. Tanpa kesiapan sistem pengganti, revolusi fisik berisiko mengulang persoalan sama dalam bentuk berbeda.

Ia mengajak jemaah melihat kembali Reformasi 1998. Perubahan politik besar memang terjadi, tetapi pergantian struktur kekuasaan tidak otomatis menyelesaikan persoalan ketika setelahnya muncul perebutan hegemoni dan kepentingan. Bagi Mas Sabrang, persoalan utama perubahan bukan sekadar mengganti siapa yang berada di atas, melainkan membangun sistem yang mampu bekerja dengan pola pikir dan keseimbangan berbeda.

Untuk menjelaskan gagasan itu, ia memperkenalkan Twin Loop Model yang dikembangkan dalam kajian System Innovation Network.

“Perubahan paling permanen terjadi melalui model twin-loop; sistem baru bukan sekadar pergantian pemerintahan, melainkan hadirnya pola pikir dan keseimbangan yang baru.” Dalam model ini, perubahan tidak harus menghancurkan sistem lama secara langsung. Ketika kepercayaan masyarakat terhadap sistem lama berkurang, sistem itu kehilangan daya hidupnya perlahan. Pada saat yang sama, masyarakat membangun lingkaran atau ekosistem baru dengan prinsip berbeda.

Perubahan itu dapat dimulai dari tingkat yang lebih dekat dengan masyarakat: komunitas, lingkungan, atau jaringan ekonomi. Ia mencontohkan koperasi Mondragon di Spanyol yang dibangun puluhan tahun melalui perubahan pola pikir, pola interaksi, serta praktik ekonomi lebih adil. Perubahan tidak datang sebagai ledakan sesaat, melainkan tumbuh melalui ekosistem yang dibangun dan dirawat terus-menerus.

Dari sana, Mas Sabrang mengajak anak muda yang bergerak sebagai pengusaha maupun profesional membangun jaringan ekonomi baru. Bukan sekadar jaringan bisnis, melainkan ekosistem dengan prinsip keadilan, transparansi, dan kesadaran bahwa perubahan membutuhkan waktu.

Ia menghubungkan gagasan itu dengan filosofi Maiyah yang sering disampaikan Cak Nun: Maiyah bukan jalan memperoleh hasil cepat. Maiyah adalah proses panjang menanam sesuatu yang mungkin belum sempat dinikmati oleh yang menanamnya.

“Maiyah adalah rakaat yang panjang; Maiyah menanam pohon jati, bukan menanam padi. Pohon jati itulah yang kelak dipanen oleh anak cucu kita.” (Sabrang)

SETELAH seluruh pertanyaan dan tanggapan selesai, Muftie dan Karim kembali mengambil tempat sebagai moderator. Malam semakin larut, bahkan mendekati subuh. Sebagian besar jemaah masih bertahan di halaman Teater Kecil, mengikuti rangkaian pembahasan sejak awal hingga sesi tanya jawab.

Muftie menyampaikan apresiasi kepada seluruh jemaah yang bertahan hingga penghujung malam. Baginya, panjangnya waktu bukan sekadar ukuran ketahanan duduk dan mendengarkan, tetapi bagian dari proses belajar bersama mengenali sekaligus meredam ego masing-masing.

“Malam ini kita telah berlatih bersama untuk meredam ego diri kita, dan kita semua berhasil lulus,” ujar Muftie.

Setelah memastikan rangkaian forum mendekati penghujungnya, moderator kemudian mengajak seluruh jemaah untuk menundukkan hati dalam doa bersama. Doa dipanjatkan untuk keselamatan dan kesehatan Mbah Nun, keluarga, para narasumber, serta seluruh jemaah dan keluarga besar Maiyah.

Malam yang sejak sore diawali dengan kedatangan jemaah, dilanjutkan Tawashshulan, diskusi panjang mengenai ego, ekologi, iklim, pilihan hidup, hingga perubahan sosial, akhirnya menemukan penghujungnya dalam doa. Pada pukul 03.12, forum Kenduri Cinta edisi September 2026 ditutup dengan lantunan Shohibu Baity.

Perjumpaan malam itu pun berakhir. jemaah perlahan meninggalkan halaman Teater Kecil, membawa pulang percakapan, pertanyaan, dan perenungan masing-masing—setelah semalam belajar bersama tentang manusia, egonya, serta pilihan-pilihan yang menentukan bagaimana ia menjalani kehidupan. (RedKC/Rizal-Farhan)

SendTweetShare
Previous Post

Mukadimah: Bahasa Egologi

Redaksi Kenduri Cinta

Redaksi Kenduri Cinta

Redaktur Kenduri Cinta

Related Posts

No Content Available

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan

Copyright © 2025 Kenduri Cinta