Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
Home Mukadimah

Mukadimah: Kesadaran Rimpang

Redaksi Kenduri Cinta by Redaksi Kenduri Cinta
October 7, 2026
in Mukadimah
Reading Time: 6 mins read
Mukadimah: Kesadaran Rimpang

ALAM SEMESTA adalah Amtsal-Nya, dan Dia mengajar manusia dengan Amtsal-Nya itu (Q.S. Al-Kahfi: 54). Dia bahkan tidak malu mengambil amtsal yang sederhana (Q.S. Al-Baqarah: 24).

Salah satu amtsal-Nya yang banyak kita temukan di dalam kitab suci adalah pohon–karena secara visual maupun biologis sangat mirip dengan kehidupan rohani manusia. Mulai dari akar yang memiliki karakter tersembunyi dan berfungsi sebagai penopang, batang dan ranting yang mengisyaratkan koneksi atau keterhubungan, dan buah yang menandai hasil dari sebuah kerja nyata.

Edisi Kenduri Cinta edisi ke-273 bulan Oktober 2026 ini kita fokuskan untuk mendiskusikan dan mentadabburi akar. Untuk Kalimat-Nya, Dia berkenan mengambil amtsal berupa akar tunjang yang menghujam ke bumi dan pohonnya menjulang tinggi hingga ke langit (Q.S. Ibrahim: 24). Adapun bagi ummat pilihan-Nya, Dia memberikan amtsal berupa akar-akaran dan rerumputan. Selalu didera angin cobaan, tapi tak pernah tumbang. Seolah lemah, tapi sejatinya berakar kuat. Demikian sifat ummat ini menurut sabda Utusan-Nya.

Amtsal lainnya terkait akar, adalah akar rimpang. Akar yang batang, batang yang akar. Tak menjulang, hanya menjalar. Sehari-hari biasa kita temui karakter kesederhanaan yang menyimpan kewaskitaan dan manfaat luar biasa untuk manusia, berupa lengkuas, kunyit, jahe, kencur, dan temulawak.

Dari namanya saja, mereka sudah unik dan mengandung banyak kode, pesan, maupun ajaran leluhur. Manakala diramu dalam bentuk jamu, khasiat dari seduhannya sudah lama dikenal sebagai media pengobatan. Ketika bersanding dengan hidangan dalam perjamuan, kenduri, atau perhelatan, mereka beralih fungsi untuk memanjakan citarasa yang membekaskan kesan mendalam kepada semua penikmatnya.

Itulah rimpang. Ia bisa menjadi jamu, pahit tetapi menjadi kunci sehat tanpa efek samping. Ia juga bisa menjadi rempah yang menyempurnakan sesajian untuk perjamuan, sebagai kunci sedap, nikmat, yang tetap sehat.

Rerimpangan juga sebuah kisah kebersahajaan. Tersembunyi di bawah tanah, underground, berteman dengan cacing dan aneka rupa unsur hara tanah, muasal dari penciptaan manusia. Rimpang tidak tumbuh seperti pohon yang menonjolkan kekekaran batang, memamerkan keindahan mahkota, dan menyombongkan kerimbunan buahnya. Ia merambat diam-diam, bercabang sunyi ke segala arah, mengolah, mencerna, dan menyimpan unsur-unsur penyembuh penyakit kehidupan dalam gelap yang lembab. Temulawak, jahe, kunci atau temukunci, kencur, kunyit, lengkuas—masing-masing menempuh jalurnya sendiri, mekanisme kimiawi dan bilologisnya sendiri, tetapi semuanya tentu berakar pada bumi yang sama.

Dalam khazanah kewalian, rerimpangan juga berperan senyap dalam tradisi medisinal Timur yang khas. Ia lebih menekankan pranata kesehatan jiwa, jasad, diri, dan masyarakat secara preventif melalui properti kimiawi alamiah rerimpangan yang menunjang homeostatis alias keseimbangan sistem. Ini lebih alami daripada pendekatan kuratif yang interventif dengan kimia artifisial yang polanya adalah menumpas penyakit setelah terjadi. Tradisi herbal dari qahwah zanjabil (kopi jahe) hingga wedang uwuh, kunyit asem, beras kencur, bandrek, bajigur, dan jamu gepyokan, semuanya mengandung rerimpangan di dalamnya.

Rerimpangan memang unik, tak ada satu batang pusat kasat-mata yang memerintah seluruh jaringan itu; yang ada ialah sublimasi Kuasa Ilahi dalam jalaran hubungan, pertemuan, dan daya tumbuh yang saling menyambung. Seperti menyambungnya noktah menjadi sapuan huruf, dan huruf membentuk makna, makna membentuk waskita.

Barangkali begitulah perjalanan laku batin: bukan garis lurus bagaikan jalan tol menuju puncak, melainkan jejaring perjalanan yang menuntun manusia kembali kepada akar sejati hidupnya, Sang Gusti Allah.

Dalam konteks sosial, rimpang atau rizomatik adalah cara tumbuh yang tidak mengenal satu pusat. Seperti jahe dan kunyit, ia menjalar ke berbagai arah, saling terhubung, tanpa batang utama yang menentukan ke mana semua harus bergerak. Ia bisa menjadi metafora bagi gerakan masyarakat yang tumbuh secara horizontal, terdesentralisasi, spontan, dan adaptif. Ia tidak bergantung pada satu pemimpin, tidak mudah dipadamkan. Ketika satu bagian mati, bagian lain telah lebih dulu tumbuh di tempat berbeda. Media sosial menjadi tanah subur bagi rimpang semacam ini: kegelisahan seseorang dapat menjalar menjadi kesadaran bersama, solidaritas, bahkan gerakan. Namun, kekuatannya sekaligus menjadi kelemahannya—ia kuat untuk mengguncang, tetapi belum tentu cukup terorganisasi untuk mengubah struktur kekuasaan dalam jangka panjang.

Di panggung kebudayaan, rimpang menemukan bentuknya dalam kreasi yang tumbuh di luar pusat industri. Musik underground, seni jalanan, komunitas kecil, dan para seniman independen menjalar tanpa terlalu peduli pada pakem, label, atau hitungan pasar. Karya tidak lagi semata lahir dari ego seorang genius tunggal, tetapi dari perjumpaan antara keresahan, ruang publik, komunitas, dan keberanian untuk mencoba. Mereka merilis karya tanpa terlalu sibuk bertanya akan laku atau payu. Ketika industri hanya berani menawarkan single, mereka justru membuat album, bahkan tanpa harus menunggu restu raksasa label. Pelan-pelan, gerak yang semula dianggap berada di pinggiran ini justru ikut mengubah lanskap musik dari bawah. Barangkali karena itu, siapa pun yang pernah merasa menjadi bagian dari panggung utama pun kini perlu menengok kembali ke bawah—ke tempat akar-akar baru sedang menjalar. Rimpang pada ketepatannya, tidak datang untuk meminta tempat. Ia tumbuh. Ketika ia telah menjalar cukup jauh, permukaan tanahlah yang akhirnya berubah.

Dalam tradisi tashawwuf (disiplin penjernihan relung hati), perjalanan sejati justru bukan perkara berpindah tempat. Ia adalah perpindahan kesadaran: dari merasa memiliki, menuju menyadari bahwa diri hanyalah titipan; dari sibuk menuntut hak memperbesar diri, menuju belajar tunduk kepada Yang Maha Menggenggam diri dan dunia itu sendiri. Perubahan itu kerap berlangsung seperti rimpang yang menembus tanah: pelan, tersembunyi, dan nyaris tak tampak dari permukaan.

Sebut saja temulawak, sebagai bagian dari keluarga rimpang. Temulawak mengajarkan, penyembuhan tak selalu terasa manis. Pertemuan pelawak sejati tak selamanya berisi kelakar humoris. Kejujuran itu pahit, tapi menciptakan kebahagiaan sejati dan kegembiraan yang hakiki, sementara kedustaan itu, tak peduli betapa jenakanya dirasa, akhirnya akan terungkap jua kepalsuannya.

Jahe memiliki kisah lain. Rimpang yang satu ini di bumi setia menemani cengkerama para salik. Dalam kosakata-Nya, rimpang ini identik dengan minuman khas surgawi. Ia menghangatkan tubuh dari dalam tanpa api. Kehangatannya menyebar, meski akar itu sendiri tersembunyi di dalam tanah. Persis seperti kalimah Tahlil yang di bilangan kesekian menciptakan energi panas dalam jasad para salik, meskipun sirr-nya tertanam jauh di dalam rongga dada.

Kunyit punya kisah lain lagi. Ia memberi warna keemasan, baik pada jamu maupun hidangan perjamuan. Ia tak semahal saudarinya saffron, tapi dalam kesederhanaannya, tak kurang ia mampu mengubah rupa hidangan tanpa harus mendominasi seluruh hidangan itu. Kuningnya sang kunyit boleh jadi tak secerah pewarna artifisial industrial, tapi apapun yang disentuhnya, takkan bisa kembali ke warna aslinya. Ia mewakili kekuatan transformatif, tanpa gegap-gempita.

Kunci atau temukunci dan lengkuas punya kisah yang lain lagi, yakni bagaimana aroma kuat sanggup menyulap karakter pada masakan, tanpa menelan rasa yang lain. Keteguhan ruhani yang tumbuh dari akar iman, mampu mengubah diri, keluarga, masyarakat, dan dunia, dengan kekuatannya yang tidak menjadi kasar, kokoh tanpa merendahkan, berprinsip tanpa kehilangan kelembutan.

Pada akhirnya, temulawak, jahe, kunyit, dan lengkuas hanyalah amtsal. Dari amtsal ini, sebuah kiasan majazi dapat menjadi nasihat lembut Ilahi: kewaskitaan batin tumbuh di tempat yang tak selalu terlihat; rasa pahit dapat mengajarkan kejujuran; kehangatan zikir dapat menghidupkan hati yang mati; sentuhan batin dapat mengubah tanpa merusak, dan keteguhan dapat berjalan bersama kelembutan.

Rerimpangan itu mengajarkan kepada kita tentang kebersahajaan yang tidak hanya berkhasiat, tetapi juga transformatif. Dengan sabar, rimpang membentuk jaringan di bawah permukaan. Bebatangan yang nampak terpisah, tapi sesungguhnya terhubung oleh tanah, air, dan akar yang saling menjangkau.

Rerimpangan adalah saksi hidup sublimasi Kuasa Ilahi dalam jalinan tertutup yang bersahaja. Klandestin dalam kebenaran dan perjuangan hakiki, bukan Klandestin dalam kepalsuan dan perlawanan palsu (Q.S. Al-Baqarah: 11-12; dan Al-Mujadilah: 8-10). Merimpang. Bukan menyimpang.

Level kesadaran untuk merimpang ini memang menuntut sekaligus menumbuhkan kerendahan hati. Perjalanan batin kembali kepada-Nya bukan perlombaan untuk menjadi yang paling. Namun ia adalah latihan untuk semakin menyadari diri secara bersahaja, apa adanya. Yang terpenting adalah agar dapat membawa manfaat dan bermakna.

Merimpang juga adalah pendadaran diri untuk kuasa dan digdaya dalam mencintai, bukan pendadaran dalam mencintai kuasa dan digdaya itu sendiri. Prasaja dalam merimpang ini menolak pemberhalaan semua braholo, termasuk angkara murka diri sendiri.

Karena semua adalah dari-Nya, milik-Nya, dan akan kembali kepada-Nya.

Seperti semua akar pada akhirnya mencari sumber kehidupan yang sama. Dalam diam, mereka menjalar; dalam gelap, mereka tumbuh; dan dalam kerendahan hati, mereka mengingatkan manusia kepada-Nya, Dzat Yang Maha Menumbuhkan.

SendTweetShare
Previous Post

Reportase: Bahasa Egologi

Redaksi Kenduri Cinta

Redaksi Kenduri Cinta

Redaktur Kenduri Cinta

Related Posts

Mukadimah: Bahasa Egologi
Mukadimah

Mukadimah: Bahasa Egologi

September 10, 2026
Mukadimah: Hamba yang Green Flag
Mukadimah

Mukadimah: Hamba yang Green Flag

August 12, 2026
Mukadimah Melipat Jarak
Mukadimah

Mukadimah Melipat Jarak

July 8, 2026
Mukadimah: Sawang-Sinawang
Mukadimah

Mukadimah: Sawang-Sinawang

June 3, 2026
Langgam Qoroba
Mukadimah

Langgam Qoroba

May 6, 2026
Mukadimah: Aktivasi Nasib
Mukadimah

Mukadimah: Aktivasi Nasib

April 8, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan

Copyright © 2025 Kenduri Cinta