Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
Home Reportase

REPORTASE: KESADARAN RIMPANG

Redaksi Kenduri Cinta by Redaksi Kenduri Cinta
October 19, 2026
in Reportase
Reading Time: 23 mins read
REPORTASE: KESADARAN RIMPANG

JUMAT SORE, 9 Oktober 2026, suasana teduh menyelimuti Jakarta. Di Plaza Teater Besar, Taman Ismail Marzuki (TIM), para jamaah mulai berkumpul untuk hadir dalam forum Kenduri Cinta. Pada edisi bulan ini, Kenduri Cinta berkolaborasi dengan Madani Film Festival, menghadirkan ruang perjumpaan antara refleksi, sinema, pengalaman spiritual melalui pemutaran film dokumenter dan diskusi.

Selepas pukul 19.30 WIB, para penggiat Kenduri Cinta membuka forum dengan lantunan sholawat yang dipimpin oleh Rizal, Munawwir, Haddad, Mizani, dan Hermanto. Lantunan tersebut mengawali malam dengan suasana khidmat.

Pukul 20.30 WIB, pemutaran film dokumenter produksi Mizan dimulai. Jamaah semakin memadati area acara untuk menyaksikan kisah perjalanan Haddad Alwi, sejak awal berkarya hingga saat ini. Melalui dokumenter tersebut, jamaah diajak mengenali lebih dekat perjuangan dan ketekunan dalam merawat kecintaan terhadap sholawat. Potongan-potongan perjalanan hidup yang ditampilkan menghadirkan suasana haru, mengingatkan bahwa di balik karya yang dikenal luas, terdapat proses panjang yang tidak selalu terlihat.

Kolaborasi Kenduri Cinta dengan Madani Film Festival pada bulan ini menjadi ruang untuk mempertemukan pengalaman sinema dengan perenungan bersama. Film tidak berhenti sebagai tontonan, tetapi menjadi pintu masuk untuk memahami perjalanan manusia, relasi yang membentuknya, serta nilai-nilai yang terus hidup melalui karya dan pengabdian.

USAI pemutaran film, Haddad Alwi naik ke panggung dan membawakan lagu “Ibu”. Suasana yang semula dipenuhi perhatian terhadap layar berganti menjadi lebih personal dan emosional. Lantunan lagu tersebut mengundang kenangan tentang kasih sayang seorang ibu, menghadirkan kerinduan yang mungkin tersimpan dalam pengalaman masing-masing jamaah. Sambutan hangat mengiringi penampilannya, sementara suasana haru menyelimuti ruang pertemuan.

Tepat pukul 21.32 WIB, Haddad Alwi menyapa jamaah dan menyampaikan terima kasih kepada Madani Film Festival serta Kenduri Cinta atas kesempatan untuk hadir. Ia kemudian mengajak jamaah menghadiahkan Surah Al-Fatihah untuk Cak Nun.

Haddad Alwi mengungkapkan rasa harunya setelah menyaksikan film dokumenter tentang perjalanan hidupnya sendiri. Film itu mengingatkannya pada sang ibu dan Cak Nun, sosok yang telah mendidik serta membimbingnya hingga mampu berdiri dan berkarya di hadapan publik. Dalam momen tersebut, perjalanan seorang Haddad Alwi yang akrab dipanggil “Abi” itu tidak hanya hadir sebagai kisah pencapaian, tetapi juga sebagai rangkaian hubungan, kasih sayang, dan bimbingan yang turut membentuk dirinya.

Sebelum mengakhiri penampilannya, Haddad Alwi membawakan lagu Cinta Rasul. Jamaah turut bernyanyi, menyatukan suara dalam lantunan yang memenuhi ruang acara. Malam itu menjadi pertemuan antara kenangan dan rasa syukur, antara perjalanan pribadi dan pengalaman bersama.

Dalam semangat Kesadaran Rimpang yang menjadi tema diskusi Kenduri Cinta malam itu, kisah Haddad Alwi memperlihatkan bahwa pertumbuhan manusia tidak pernah berlangsung sendirian. Ada akar yang menumbuhkan, ada tangan yang membimbing, dan ada perjumpaan yang memungkinkan seseorang terus berkembang. Seperti rimpang yang menjalar dan saling terhubung di bawah permukaan tanah, kehidupan pun bertumbuh melalui hubungan-hubungan yang terkadang tak terlihat, tetapi memberi kekuatan bagi perjalanan setiap manusia.

“Setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencintai Rasulullah, apa pun latar belakangnya. Jangan pernah berpikir bahwa kita lebih baik dari orang lain.” (Haddad Alwi)

Dialog Bersama Haddad Alwi

USAI membawakan lagu Cinta Rasul, Haddad Alwi melanjutkan pertemuan dengan berdialog bersama jamaah. Fahmi membuka percakapan dengan mengajaknya berbagi pengalaman tentang perjalanan gerakan sholawat dan pesan yang dapat disampaikan kepada generasi muda.

Haddad Alwi kemudian menceritakan pengalamannya tampil di Synchronize Fest 2024. Baginya, momen tersebut menjadi salah satu bukti kebesaran dan kuasa Allah. Pada awalnya, ia sempat kebingungan karena area depan panggung belum dipenuhi penonton. Namun, ketika musik mulai dimainkan, anak-anak muda berdatangan hingga memenuhi area pertunjukan.

Ia terharu melihat anak-anak muda yang larut dalam lantunan sholawat. Salah satunya adalah Silvi, seorang penonton yang menangis ketika lagu Rindu Muhammad dibawakan. Mereka bahkan hafal lagu-lagu yang dinyanyikan hingga penampilan berakhir. Pengalaman itu membuat Haddad Alwi menyadari bahwa Allah memiliki banyak cara untuk menggerakkan hati manusia. Setiap orang memiliki jalan masing-masing untuk mengenal dan mencintai Tuhan serta Rasul-Nya.

Selepas pertunjukan, sejumlah penonton mengirimkan pesan langsung kepadanya dan berbagi pengalaman spiritual. Salah satunya bercerita bahwa ia kemudian memeluk ibunya dan ingin kembali menjalankan sholat lima waktu. Bagi Haddad Alwi, pengalaman-pengalaman tersebut menunjukkan bahwa sholawat dapat menyentuh manusia melalui jalan yang tidak selalu terduga.

Ia mengingatkan bahwa penampilan fisik bukanlah ukuran utama untuk menilai kecintaan seseorang kepada Rasulullah. Setiap orang memiliki hak yang sama untuk mencintai Rasulullah, apa pun latar belakangnya. Keberagamaan pun tidak cukup diukur dari sholat, dzikir, dan sholawat, tetapi juga dari bagaimana ibadah membentuk perilaku dan hubungan seseorang dengan sesama.

Haddad Alwi mengajak jamaah untuk terus menjaga cinta kepada tetangga dan sesama manusia, sekaligus menghindari perasaan bahwa diri sendiri lebih baik daripada orang lain. Ia menegaskan, “Jangan pernah berpikir bahwa kita lebih baik dari orang lain.”

Setelah mendengarkan kisah tersebut, Sabrang turut menyampaikan refleksinya. Ia mengungkapkan bahwa momen itu begitu emosional hingga membuatnya menangis lagi untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir. Ia merasa terharu menyaksikan kedekatan serta perjalanan Cak Nun bersama Haddad Alwi dalam menghidupkan dan memperjuangkan sholawat.

Bagi Sabrang, perjalanan tersebut merupakan perjuangan yang membutuhkan konsistensi dan istiqomah. Ketika sebuah gerakan sedang sepi, keadaan itu mungkin menjadi ujian untuk mengukur keteguhan orang-orang yang menjalaninya. Tidak setiap perjuangan langsung memperoleh sambutan, tetapi kesunyian tidak selalu berarti bahwa sesuatu yang dikerjakan kehilangan makna.

Sabrang kemudian menggambarkan Maiyah sebagai ruang bagi siapa pun yang mungkin tidak menemukan tempat di kelompok lain, tetapi tetap memiliki kesempatan untuk belajar dan bertumbuh bersama. Ia menyebut, bahwa “Maiyah adalah kumpulan rambutan protol”, sebuah ungkapan yang menggambarkan orang-orang yang terlepas dari ikatan tertentu, tetapi menemukan ruang untuk berkumpul tanpa harus menyeragamkan latar belakang.

Dalam pandangannya, Maiyah menerima siapa pun tanpa mensyaratkan keterikatan pada kelompok tertentu. Di tengah berbagai perbedaan, setiap orang tetap memiliki kesempatan untuk berkontribusi dan berjalan bersama.

Sabrang juga mengajak jamaah untuk tidak menyerah menghadapi keadaan. Indonesia, menurutnya, tidak semata-mata berada dalam kegelapan, melainkan sedang menempuh perjalanan menuju cahaya. Setiap orang dapat mengambil bagian dalam perjalanan tersebut sesuai kemampuan masing-masing. Ketika belum mampu melakukan aksi nyata, seseorang tetap dapat berdoa dan bersila, menjaga kesadaran serta keteguhan dalam menjalani kehidupan.

Haddad Alwi menjadi salah satu contoh bagaimana kecintaan kepada Rasulullah dapat dihidupkan dan disampaikan kepada berbagai kalangan, termasuk generasi muda yang mungkin memiliki cara berbeda dalam mengekspresikan kecintaannya.

Haddad Alwi menyampaikan harapannya agar pada masa mendatang dapat berkolaborasi dengan KiaiKanjeng untuk mengadakan pertunjukan di Jakarta. Harapan itu disambut riuh tepuk tangan jamaah, mengakhiri dialog sekaligus menandai dimulainya diskusi Kenduri Cinta.

Pertemuan tersebut menyisakan satu perenungan, bahwa cinta tidak selalu hadir melalui jalan yang sama. Ada yang menemukannya melalui sholawat, ada yang melalui musik, ada pula yang menemukannya melalui perjumpaan dengan orang lain. Sebagaimana rimpang yang tumbuh menjalar melalui banyak arah, perjalanan menuju kesadaran pun tidak harus seragam. Yang terpenting adalah bagaimana cinta itu berakar, bertumbuh, dan menghadirkan kebaikan bagi kehidupan bersama.

“Dalam semangat rimpang, pertumbuhan tidak hanya berlangsung melalui apa yang telah dimiliki, tetapi juga melalui kesediaan untuk menerima hal-hal baru.” (Dewi Umaya)

Kesadaran Rimpang: Menemukan Akar, Merawat Pertumbuhan

SETELAH dialog bersama Haddad Alwi berakhir, Kenduri Cinta berlanjut ke sesi diskusi utama. Mizani dan Karim membuka pembahasan dengan mengajak jamaah menelusuri filosofi rimpang dan relevansinya dengan perjalanan Maiyah. Sebelum memasuki diskusi, Mizani mengajak Munawir membacakan puisi karya Cak Nun, mengantarkan suasana menuju perenungan bersama. Kemudian Mizani sebagai salah satu moderator malam itu mengundang Fahmi, Dewi Umaya Rachman, dan Sabrang untuk turut membersamai diskusi.

Mizani mengingatkan bahwa manusia masih memiliki banyak keterbatasan dalam memahami kehidupan. Karena itu, Maiyah perlu terus menjadi ruang belajar bersama, tempat setiap orang dapat memperluas pengetahuan tanpa merasa telah mengetahui segalanya. Ia kemudian mengajak jamaah melihat rimpang sebagai tanaman yang menjalar di bawah permukaan tanah, tidak selalu terlihat, tetapi memiliki manfaat bagi kehidupan.

Karim melanjutkan dengan menghubungkan filosofi rimpang dengan perjalanan Maiyah. Baginya, salah satu akar penting gerakan Maiyah adalah sholawat. Ia mengingat kembali bagaimana sholawat menjadi bagian dari berbagai forum Maiyah, termasuk ketika para penggiat mendatangi kampung-kampung untuk menemani masyarakat kecil. Pada masa setelah Reformasi, kegiatan sholawat keliling di Jakarta menjadi salah satu bentuk upaya mendekatkan diri kepada masyarakat.

Karim juga mengingat masa ketika sholawat dianggap kuno atau bahkan dipandang bidah oleh sebagian kalangan. Dalam konteks itu, Kiai Kanjeng turut mengambil bagian dalam menghidupkan kembali tradisi sholawat melalui pendekatan kesenian. Ia mengajak jamaah mencari titik temu antara sholawat, perjalanan Maiyah, dan kehidupan berbangsa. Rimpang, dalam pemaknaan tersebut, menjadi gambaran gerakan yang bertumbuh melalui akar-akar yang saling terhubung.

Fahmi kemudian mengajak jamaah menjadikan semangat rimpang sebagai nilai yang hidup dalam keseharian para penggiat Maiyah. Ia menghubungkan tema Kesadaran Rimpang dengan perjalanan Maiyah selama kurang lebih tiga dekade, termasuk peran Haddad Alwi sebagai salah satu saksi perjalanan awal album Kiai Kanjeng. Keduanya, menurut Fahmi, memiliki semangat yang sama dalam menghidupkan kembali sholawat di tengah masyarakat.

Fahmi juga mengingat perjuangan Cak Nun pada era 1980-an melalui drama Lautan Jilbab, yang turut membuka ruang bagi perempuan muslim untuk mengenakan jilbab. Setelah Reformasi, Cak Nun bersama adiknya dan sejumlah personel kembali mendekat kepada rakyat kecil melalui kegiatan sholawat keliling di Jakarta. Pertemuan dan konsolidasi para penggiat kemudian menjadi salah satu titik penting yang mengantarkan pada berdirinya Kenduri Cinta pada tahun 2000.

Dalam refleksinya, Fahmi mengutip pandangan Cak Priyo Aljabar bahwa Maiyah merupakan forum tempat semua orang dapat diterima. Prinsip sinau bareng atau belajar bersama menjadi landasan yang terus dirawat. Namun, ia mengingatkan bahwa tantangan zaman terus berubah. Maiyah perlu terus belajar, beradaptasi, dan mengejar ketertinggalan agar tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Dewi Umaya Rachman dari Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) turut berbagi perspektif mengenai peran kesenian dalam kehidupan sosial. Ia menjelaskan bahwa DKJ berupaya menghadirkan ruang dan media ekspresi seni bagi masyarakat Jakarta. Dengan pengalaman sekitar 35 tahun di dunia perfilman, termasuk bekerja bersama Sabrang, Dewi melihat film sebagai salah satu medium untuk menyampaikan nilai kepada masyarakat. Ia mencontohkan film Rayya sebagai karya yang dapat menjadi sarana penyebaran gagasan melalui kesenian.

Dewi juga menceritakan pengalamannya mengikuti Maiyah sejak 2010 sebagai proses belajar dan bertumbuh bersama. Ia mengajak jamaah untuk terus membuka diri terhadap pengetahuan dan pengalaman baru, tanpa merasa paling tahu. Dalam semangat rimpang, pertumbuhan tidak hanya berlangsung melalui apa yang telah dimiliki, tetapi juga melalui kesediaan untuk menerima hal-hal baru.

Maiyah bukan ruang yang menuntut semua orang menjadi seragam, melainkan ruang untuk menumbuhkan akar masing-masing agar dapat memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

DISKUSI kian hangat, Sabrang mengajak jamaah melihat sholawat dan sholat tidak semata-mata sebagai persoalan bentuk ritual. Menurutnya, sholawat memiliki ruang ekspresi yang luas karena setiap orang dapat memiliki cara berbeda dalam mengungkapkan kecintaan kepada Rasulullah. Yang perlu dipahami bukan hanya bentuk luarnya, melainkan juga makna yang tumbuh di baliknya.

Ia kemudian mengajak jamaah merefleksikan esensi sholat sebagai upaya menghadirkan Tuhan dalam pikiran dan kehidupan sehari-hari. Kehadiran Tuhan, dalam pemahaman tersebut, semestinya tidak berhenti ketika ritual selesai, tetapi turut memengaruhi cara seseorang berpikir, mengambil keputusan, dan memperlakukan sesama.

Untuk menjelaskan hal itu, Sabrang menggunakan contoh pengemudi bus yang berkendara secara ugal-ugalan dan orang yang melakukan korupsi. Kedua contoh tersebut mengajak jamaah mempertanyakan sejauh mana kesadaran moral dan ketuhanan benar-benar hadir dalam tindakan manusia. Sebab, ibadah tidak hanya berkaitan dengan hubungan vertikal, tetapi juga dengan tanggung jawab terhadap kehidupan bersama.

Sabrang kemudian kembali pada filosofi rimpang. Sebagaimana bibit harus menembus tanah sebelum tumbuh ke permukaan, manusia juga perlu melewati keterbatasan dirinya sebelum mampu memberikan manfaat bagi orang lain. Pendidikan menjadi salah satu jalan untuk mengenali keterbatasan tersebut, sedangkan proses memahami dan mengolah pengetahuan membantu seseorang membangun landasan sebelum menyampaikan gagasan kepada orang lain.

Dalam konteks ini, Maiyah diibaratkan sebagai akar yang menembus bumi. Keberadaannya mungkin tidak selalu terlihat, tetapi dapat memberikan manfaat ketika masyarakat membutuhkannya. Sabrang menyampaikan keyakinannya bahwa suatu saat Indonesia akan mencari dan membutuhkan rimpang-rimpang yang mampu memberikan penyembuhan bagi kehidupan masyarakat.

Ia juga menanggapi anggapan bahwa Letto tidak pernah ber-sholawat. Baginya, pemahaman terhadap sholawat dapat berkembang seiring waktu, sebagaimana seseorang bisa menemukan makna baru dalam sebuah karya setelah melewati proses pengalaman dan perenungan. Ia memberikan contoh lagu Sandaran Hati, yang baru dipahami oleh sebagian orang sebagai lagu tentang Tuhan setelah enam tahun sejak dirilis.

Rangkaian diskusi malam itu mempertemukan beragam sudut pandang tentang kesenian, sejarah gerakan, pendidikan, spiritualitas, dan kehidupan sosial. Semua mengarah pada satu perenungan bahwa pertumbuhan tidak selalu harus terlihat, dan manfaat tidak selalu datang dari sesuatu yang berada di pusat perhatian.

Kesadaran tumbuh melalui proses panjang, hubungan yang saling menguatkan, serta kesediaan untuk terus belajar. Maiyah, dalam gambaran tersebut, bukan ruang yang menuntut semua orang menjadi seragam, melainkan ruang untuk menumbuhkan akar masing-masing agar dapat memberi manfaat bagi kehidupan bersama.

Di sela diskusi yang makin khidmat, Bedur meramaikan panggung dan membawakan empat buah lagu  sebagai jeda. Pergantian sesi ini menghadirkan suasana yang lebih cair. Jamaah turut bernyanyi bersama, menyatukan suara dalam suasana kebersamaan. Musik menjadi ruang jeda sekaligus medium perjumpaan, sebelum diskusi kembali dilanjutkan.

Dalam semangat Kesadaran Rimpang, perbedaan usia, pengalaman, dan pengetahuan bukanlah penghalang untuk saling terhubung.

Sesi Tanya Jawab Jamaah

SETELAH jeda penampilan Bedur, diskusi Kenduri Cinta kembali berlanjut melalui sesi tanya jawab jamaah. Berbagai pengalaman dan pertanyaan mengemuka, mulai dari pendidikan keluarga, sikap menghadapi persoalan sosial, kerukunan di tengah perbedaan, hingga pemaknaan Islam dalam perspektif Cak Nun.

Salah satu momen menarik hadir ketika Aang, seorang anak kelas 5 SD, diajak oleh Karim dan Mizani untuk ikut membersamai diskusi. Dengan percaya diri, Aang mengambil bagian dalam percakapan bersama jamaah yang lebih dewasa. Kehadirannya menjadi gambaran bahwa ruang belajar tidak mengenal batas usia. Anak-anak pun memiliki pengalaman, pemikiran, dan kejujuran yang layak didengarkan.

Aang menceritakan perjalanannya mengikuti forum diskusi dan proses memahami dunia, termasuk pengalamannya di Sekolah Motekar dan forum Nujuh Likuran. Ia menyampaikan refleksi bahwa membenci orang lain sama seperti meracuni diri sendiri sambil berharap orang lain yang mati karena racun tersebut. Ia juga mengingat ungkapan yang sering didengarnya: “Sadar, mau, mampu bertahan, berubah.”

Menanggapi cerita Aang, Sabrang mengangkat kejujuran anak-anak sebagai pelajaran bagi orang dewasa. Keterbukaan mereka menjadi salah satu alasan untuk tetap optimistis terhadap masa depan Indonesia. Kehadiran Aang malam itu seolah menegaskan bahwa keberanian untuk berpikir dan menyampaikan pendapat tidak harus menunggu seseorang menjadi dewasa.

Pertanyaan berikutnya datang dari Qori, jamaah asal Jakarta Selatan. Ia ingin mengetahui bagaimana orang tua Aang membangun suasana keluarga yang terbuka terhadap diskusi dan pertukaran gagasan. Sebagai calon ibu, Qori tertarik memahami pola pengasuhan yang dapat membentuk generasi kritis, terbuka, dan berani menyampaikan pendapat.

Rista kemudian menyampaikan kegelisahannya kepada Sabrang mengenai ajakan untuk berkhusnudzon ketika menghadapi persoalan sosial dan kebijakan publik, termasuk persoalan yang berkaitan dengan paman, MBG, dan Kopdes. Ia mengakui bahwa dalam situasi tertentu, mempertahankan prasangka baik bukan perkara mudah. Terkadang, respons yang muncul justru hanya berupa ungkapan “pret”.

Untuk memperjelas pertanyaannya, Rista menggunakan analogi sholat berjamaah: bagaimana jika seorang imam kentut, tetapi tetap melanjutkan perannya meskipun sudah tidak memenuhi syarat untuk menjadi imam? Analogi tersebut mengantarkan pembicaraan pada persoalan kesadaran dan tanggung jawab seseorang ketika mengetahui bahwa dirinya tidak lagi layak menjalankan suatu peran.

Dalam kesempatan yang sama, Rista menanyakan gerakan Balung Pisah yang merupakan gagasan Sabrang  dan mengajak jamaah bergabung agar inisiatif tersebut dapat segera terlaksana. Ia juga menceritakan kontribusinya dalam bidang pendidikan anak usia dini, termasuk pendampingan bagi orang tua. Ia berharap berbagai wadah kolaborasi yang tersedia dapat terus berkembang dan memberikan manfaat nyata. Kepada Aang, ia kemudian mengajukan pertanyaan: dalam analogi imam yang batal wudhunya, apakah orang tersebut sebaiknya ditarik dari posisinya atau mengundurkan diri atas kesadarannya sendiri?

Pembicaraan kemudian bergerak menuju persoalan kerukunan masyarakat. Aryonto, jamaah asal Tarik, Sidoarjo, membagikan pengalamannya menghadiri Kenduri Cinta untuk pertama kalinya. Ia mengingat sholawat sebagai salah satu penanda khas forum tersebut serta pesan Simbah, “Kabeh iki putuku” yang menggambarkan penerimaan terhadap semua orang sebagai bagian dari keluarga besar.

Aryonto juga menceritakan tradisi Tari Ujung di daerahnya, sebuah tarian pertarungan yang dapat menyebabkan luka, tetapi para pelakunya saling berpelukan setelah pertunjukan selesai. Ia menghubungkan tradisi tersebut dengan dinamika pemilu, ketika perbedaan pilihan dapat membuat orang saling bertikai, padahal setelahnya mereka tetap harus hidup berdampingan.

Dari pengalaman itu, ia mempertanyakan apakah negara ini dirancang sedemikian rupa sehingga masyarakat kesulitan hidup rukun. Ia juga ingin mengetahui bagaimana kerukunan dapat dibangun dari tingkat akar rumput (grassroots), terutama ketika masyarakat memiliki pandangan dan kepentingan yang berbeda.

Pertanyaan mengenai filosofi rimpang kembali mengemuka melalui Dubi Aryamahendra dari Tulungagung. Ia mempertanyakan apakah rimpang hanya menggambarkan pertumbuhan di bawah permukaan tanah atau juga dapat berkembang menjadi sesuatu yang besar, menjulang, dan memberikan keteduhan. Ia ingin memahami hubungan antara pertumbuhan yang tidak terlihat dan kemampuan sebuah gerakan untuk meluas serta menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

Sementara itu, Hamdani dari Karawang menceritakan bahwa dirinya telah mengenal Cak Nun sejak SMA, tetapi merasa belum sepenuhnya memahami pemikiran beliau. Ia menyoroti sikap Cak Nun yang tidak ingin disebut sebagai kiai atau ulama, sekaligus mengingat kritik terhadap ulama arus utama yang pernah dibacanya dalam salah satu buku Cak Nun.

Hamdani kemudian mengajukan pertanyaan kepada Sabrang tentang bagaimana memahami Islam dalam perspektif Cak Nun dan apa yang membedakan cara Cak Nun memandang serta menjalani Islam dari pemahaman keislaman yang lebih umum atau arus utama.

Beragam pertanyaan tersebut memperlihatkan bahwa diskusi Kenduri Cinta bukan sekadar ruang untuk mencari jawaban tunggal. Jamaah membawa pengalaman dan kegelisahan masing-masing untuk dibicarakan bersama, mulai dari ruang keluarga hingga kehidupan berbangsa, dari tanggung jawab pemimpin hingga hubungan antarwarga.

Di antara seluruh percakapan itu, kehadiran Aang menjadi pengingat sederhana bahwa ruang belajar bersama semestinya terbuka bagi siapa pun. Seorang anak kelas 5 SD dapat duduk dan berdiskusi dengan orang-orang yang lebih dewasa, menyampaikan gagasannya, serta mendapatkan kesempatan untuk didengarkan.

Dalam semangat Kesadaran Rimpang, perbedaan usia, pengalaman, dan pengetahuan bukanlah penghalang untuk saling terhubung. Setiap orang memiliki akar pemahamannya sendiri, tetapi melalui perjumpaan, akar-akar itu dapat saling menjalar dan menguatkan. Dari sanalah kesadaran bertumbuh: bukan dengan menyeragamkan semua pandangan, melainkan dengan menyediakan ruang bagi setiap orang untuk belajar, mengoreksi diri, dan menemukan cara hidup bersama.

Sesi Jawab dan Pendalaman Diskusi

DISKUSI berlanjut dengan keikutsertaan Virdian Aurello, aktivis muda yang aktif menggunakan media sosial untuk menyuarakan kegelisahan masyarakat terhadap berbagai persoalan sosial. Kehadirannya meramaikan sesi tanya jawab dengan membawa pengalaman langsung dari lapangan, sekaligus mempertanyakan bagaimana masyarakat seharusnya menyikapi ketidakadilan yang terus berlangsung.

Virdian baru kembali ke Jakarta setelah 14 hari berada di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah untuk menyalurkan donasi dari masyarakat kepada warga terdampak kebakaran hutan dan lahan. Pengalaman tersebut membawanya pada persoalan lingkungan sekaligus realitas sosial yang dihadapi masyarakat di wilayah terdampak.

Ia menyampaikan temuannya bahwa sekitar 60 persen hutan yang terbakar berada di lahan konsesi perusahaan, dengan pembukaan lahan untuk perkebunan sawit sebagai salah satu konteks yang ia soroti. Virdian kemudian melontarkan pernyataan satir, “Semoga udara Karhutla sampai Jakarta,” sebagai sindiran atas persoalan yang dampaknya dirasakan masyarakat, sementara perhatian terhadapnya dinilai belum memadai.

Ia juga mengingat seruan dari penggiat Maiyah di Banjarmasin agar presiden dan para pejabat berkantor di Kalimantan, wilayah yang tengah menghadapi kebakaran hutan. Menurut Virdian, kebakaran terjadi di Kalimantan, tetapi panasnya seolah-olah berada di istana. Ia mengkritik kekuasaan yang dinilainya kerap sibuk dengan teatrikalnya sendiri, sementara persoalan masyarakat belum tertangani sebagaimana mestinya.

Bagi Virdian, kegelisahan tersebut tidak berhenti sebagai bahan pembicaraan di media sosial. Pengalamannya turun langsung menyalurkan bantuan mempertemukannya dengan persoalan yang dihadapi masyarakat. Ia menggambarkan Indonesia sebagai negara dengan tingkat kesabaran masyarakat yang tinggi di tengah berbagai bentuk penindasan struktural.

Dari kegelisahan itu, Virdian mengajukan pertanyaan kepada Sabrang, “Apakah rakyat boleh marah ketika menghadapi ketidakadilan, dan bagaimana sebaiknya kemarahan tersebut disikapi?”

Di sela pendalaman persoalan sosial, Karim mengundang Aang dan ayahnya, Deni, untuk berbagi pengalaman mengenai pendidikan dalam keluarga serta menjawab pertanyaan dari Jamaah yang sudah diajukan sebelumnya. Aang menjelaskan bahwa dirinya dididik dengan mempertimbangkan ketertarikan dan kecenderungan pribadinya. Menurutnya, tugas orang tua bukan semata-mata memberikan larangan, melainkan mendampingi anak agar mereka dapat mengenali potensi dan bakatnya.

Deni kemudian menceritakan bahwa ia ingin Aang tidak harus mengalami perjalanan hidup yang sama seperti dirinya. Ia merasa baru mulai membangun kesadaran hidup sejak 2016, termasuk mengenai pentingnya memahami pendidikan dan cara mendampingi anak. Baginya, pendidikan perlu dipahami secara mendasar, mulai dari mengenali sebab-akibat, merancang pendekatan, hingga menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kesadarannya semakin berkembang setelah mengenal Sekolah Motekar di Ciamis, yang menerapkan pendekatan bahwa setiap anak memiliki kurikulum sesuai kebutuhan dan potensinya. Deni menekankan bahwa anak tidak semestinya dipaksa mengikuti ukuran yang sama dengan anak lain.

“Kalau kamu ikan, jangan ikut lomba terbang.”

Ungkapan itu merangkum pentingnya memahami karakter dan kemampuan setiap anak yang ia dapatkan dari pernyataan Cak Nun. Orang tua perlu mengenali anaknya sendiri agar dapat memberikan pendampingan yang tepat, alih-alih sekadar menuntut pencapaian berdasarkan ukuran yang berlaku bagi orang lain. Deni mengakui bahwa proses belajar tersebut merupakan salah satu hal penting yang ia peroleh melalui keterlibatannya dalam Maiyah.

“Meskipun keadaan terasa berat, masyarakat tetap perlu mencari jalan untuk bertahan, berjuang, dan menjadi manusia yang bermanfaat.” (Fahmi)

DEWI Umaya kemudian mengingatkan jamaah pada pesan Cak Nun tentang pentingnya terus belajar dan memberikan kontribusi kepada sesama. Menurutnya, manusia dapat dilihat dari manfaat yang diberikan kepada orang lain. Setiap orang memiliki peran sebagai khalifah dan tidak harus selalu menghasilkan sesuatu yang besar untuk dapat berkontribusi.

Dewi juga mengajak jamaah untuk tidak terjebak dalam kebisingan informasi (noise) yang dapat menutupi persoalan utama. Di tengah derasnya berbagai isu, energi perlu diarahkan pada hal-hal yang menjadi prioritas dan dapat dikerjakan sesuai kapasitas masing-masing. Ia berharap kontribusi kecil yang dilakukan secara konsisten dapat menjadi bagian dari perubahan yang lebih baik.

Fahmi melanjutkan dengan menegaskan pentingnya terus berikhtiar menghadapi tantangan zaman. Ia mengingatkan bahwa persoalan yang dihadapi sekarang berbeda dengan situasi 10–15 tahun lalu sehingga membutuhkan cara berpikir dan pendekatan yang sesuai. Setiap orang perlu belajar dari kesalahan sebelumnya dan menyadari bahwa dirinya memiliki peran dalam kehidupan bersama.

Menurut Fahmi, Kenduri Cinta merupakan salah satu bentuk ikhtiar kolektif untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Ia menyinggung sejumlah fenomena publik yang dinilainya sulit diterima akal sehat, termasuk isu rumah dinas TNI yang disebut menjadi markas judi daring serta polemik ijazah. Berbagai persoalan tersebut membawanya pada pertanyaan mendasar: siapa yang memperhatikan masyarakat ketika masalah-masalah itu terjadi?

Fahmi juga mengingatkan bahwa menjadi warga negara Indonesia bukanlah pilihan yang ditentukan seseorang sejak lahir. Karena itu, meskipun keadaan terasa berat, masyarakat tetap perlu mencari jalan untuk bertahan, berjuang, dan menjadi manusia yang bermanfaat.

Ia mengajak jamaah melihat kembali perjalanan Kenduri Cinta selama 26 tahun. Gerakan tersebut tidak dibangun dengan kepastian mengenai hasil akhirnya. Perjalanan harus terus dijalankan meskipun manfaatnya belum selalu terlihat secara langsung.

Setidaknya, setiap orang masih memiliki pilihan untuk tidak ikut merusak keadaan dan mengambil bagian dalam kebaikan. Fahmi mengilustrasikannya melalui kisah semut yang berusaha membantu Nabi Ibrahim. Sekecil apa pun kemampuan seseorang, usaha untuk berpihak pada kebaikan tetap memiliki arti.

Menanggapi kegelisahan Virdian Aurello mengenai ketidakadilan dan pertanyaan tentang apakah rakyat boleh marah, Sabrang mengawali jawabannya dengan mengingat pesan Cak Nun: “Kalau kamu belum putus asa, kamu belum tahu Indonesia.” Namun, menurutnya, keputusasaan tidak memberikan manfaat. Kalaupun seseorang sampai putus asa terhadap Indonesia, jangan sampai ia kehilangan harapan kepada Tuhan.

Sabrang kemudian mengajak jamaah merefleksikan cara manusia menyikapi keadaan. Ia mengamati bahwa lirik-lirik lagu masa kini cenderung semakin harfiah dalam menyampaikan pesan. Baginya, hal tersebut dapat menjadi pintu masuk untuk memahami bagaimana manusia mengekspresikan pikiran dan perasaannya secara langsung.

Dalam persoalan suuzan dan husnuzan, Sabrang menekankan bahwa keputusan harus diikuti tindakan. Energi kita perlu diprioritaskan pada hal-hal yang masih dapat diubah, dimulai dari lingkaran keluarga hingga lingkungan yang lebih luas. Seseorang mungkin bukan aktor utama dalam sebuah perubahan, tetapi tindakan kecilnya tetap dapat menjadi bagian penting dari proses tersebut.

Ia juga menegaskan bahwa husnuzan bukan berarti harus menyetujui segala sesuatu. Sebaliknya, bersikap kritis tidak otomatis berarti berprasangka buruk. Keduanya perlu ditempatkan secara proporsional agar manusia tetap mampu menilai keadaan dengan jernih tanpa menghabiskan energi dalam prasangka.

Menjawab pertanyaan Virdian tentang kemarahan, Sabrang menyatakan bahwa masyarakat boleh marah. Kemarahan merupakan ekspresi yang sah dan dapat menjadi bagian dari tindakan. Namun, ia mengajak jamaah mempertanyakan arah kemarahan tersebut: setelah berteriak, apa yang hendak dilakukan, dan perubahan apa yang ingin dicapai?

Menurutnya, Indonesia merupakan ruang sosial yang sangat kompleks. Tidak ada satu hal pun yang sepenuhnya disepakati bersama, terlebih dalam kehidupan demokrasi. Karena itu, ia berharap generasi Z yang turun menyuarakan aspirasi dapat bergerak dengan prinsip yang jelas. Kemarahan perlu diolah agar tidak berhenti sebagai ekspresi, tetapi menjadi energi untuk memahami persoalan dan mendorong perubahan.

“Kemarahan perlu diolah agar tidak berhenti sebagai ekspresi, tetapi menjadi energi untuk memahami persoalan dan mendorong perubahan.” (Sabrang)

SABRANG kemudian melanjutkan bahwa kemarahan yang ia maksud bukan sekadar ekspresi personal, melainkan respons terhadap persoalan struktural. Berbagai bentuk kemarahan telah disuarakan oleh banyak orang, tetapi persoalan mendasarnya masih belum terselesaikan. Demonstrasi telah dilakukan, pemilihan umum telah berlangsung, Reformasi telah terjadi, bahkan berbagai gagasan alternatif telah diajukan. Namun, ketidakadilan masih menjadi kegelisahan bersama.

Sabrang mempertanyakan apakah masyarakat selama ini telah mengidentifikasi akar masalah dengan tepat. Ia mengajukan persoalan yang lebih mendasar: bagaimana sebuah sistem dapat terus bertahan ketika kejahatan dan ketidakadilan berlangsung? Keseimbangan seperti apa yang menopang keadaan tersebut sehingga sistem tidak mengalami keruntuhan?

Sebagai salah satu gagasan awal, ia menyebut kemungkinan pembentukan dewan etik peemrintah yang bertugas melakukan pengawasan. Ia juga mengibaratkan hukum sebagai kapal yang berlayar di lautan etika menuju pulau keadilan. Metafora tersebut menempatkan etika sebagai ruang yang perlu dilalui agar hukum dapat mencapai tujuan keadilan.

Dari persoalan ketidakadilan, pembahasan kembali pada tema utama Kenduri Cinta malam itu: Kesadaran Rimpang. Sabrang mengingatkan jamaah agar tidak pernah mengecilkan rimpang. Manusia tidak selalu mengetahui mana yang kelak akan tumbuh besar dan mana yang pada akhirnya memberikan manfaat. Karena itu, perhatian tidak semestinya hanya tertuju pada hasil akhir, tetapi juga pada proses pertumbuhan.

Ia mengingatkan bahwa orang yang tidak bersedia memahami proses dari akar berisiko kehilangan pemahaman tentang dasar-dasar yang menopang kehidupannya. Dalam konteks tersebut, ia menyampaikan sebuah kalimat reflektif:

“Alam mengajarkan, tidak ada pohon yang besar tanpa akar yang menghunjam dalam.”

Rimpang–dalam pemaknaan ini–mengajak manusia untuk tidak tergesa-gesa menilai sesuatu berdasarkan apa yang tampak di permukaan. Ada proses pembentukan diri yang berlangsung dalam diam, ada pengetahuan yang harus diolah, dan ada kedalaman yang perlu dibangun sebelum seseorang mampu memberikan manfaat lebih luas.

“Maiyah berperan sebagai obor yang membantu manusia menemukan arah di tengah keadaan yang tidak selalu terang.” (Sabrang)

SABRANG kemudian membawa diskusi pada pertanyaan mendasar tentang tujuan kehadiran jamaah di Maiyah dan bagaimana memahami Islam dalam perspektif Cak Nun.

Ia menjelaskan bahwa Cak Nun tidak berani mengaku telah menjadi Muslim yang sempurna, melainkan terus belajar menjadi Muslim. Sabrang membedakan keluasan pengetahuan dalam berbagai bidang dengan penguasaan ilmu agama secara khusus. Ia menyebut fuqaha sebagai orang-orang yang mendalami ilmu agama.

Di sinilah pentingnya prinsip sinau bareng. Tidak ada manusia yang selesai dalam proses belajar. Menurut Sabrang, Cak Nun tidak terlalu mempersoalkan apakah dirinya disebut ulama atau bukan. Yang lebih penting adalah berusaha berbuat sebaik-baiknya.

Ia mengajak jamaah mempertanyakan sikap merasa paling benar. Jika seseorang sudah merasa paling benar, untuk apa ia masih belajar? Dalam pemahaman tersebut, agama seharusnya membantu manusia menjalani kehidupan dengan mengurangi kesalahan dan memperbaiki tindakan, bukan menjadi alasan untuk berhenti mempertanyakan diri sendiri.

Sabrang juga mengajak jamaah merenungkan pilihan hidup Nabi Muhammad yang dekat dengan kesederhanaan dan mayoritas masyarakat yang hidup dalam keterbatasan. Ia menghubungkannya dengan pertanyaan tentang makna pengabdian dan keberpihakan dalam kehidupan.

Baginya, ukuran kemuliaan dalam Islam berkaitan dengan ketakwaan kepada Tuhan. Ia kemudian menyampaikan metafora, “Pohon yang bisa menuju surga, akarnya sampai ke neraka.”

Metafora tersebut menjadi bahan perenungan mengenai kedalaman pengenalan diri, termasuk keberanian menghadapi sisi-sisi gelap yang masih tersembunyi dalam diri manusia. Sabrang menyinggung istilah demit sebagai gambaran sisi diri yang belum sepenuhnya dikenali. Manusia perlu berani memahami sisi tersebut agar tidak terus-menerus dikendalikan olehnya tanpa kesadaran.

Menjelang akhir pendapatnya, Sabrang merekomendasikan salah satu buku sebagai bahan refleksi tentang pembelajaran dan perubahan generasi. Ia mengangkat gagasan bahwa generasi Z dapat mengambil peran sebagai artist, yakni pencipta yang menghasilkan sesuatu, bukan sekadar mengikuti pola yang sudah tersedia.

Ia juga menyinggung gagasan mengenai siklus perubahan besar dalam rentang sekitar 80–100 tahun. Dalam kerangka tersebut, generasi sekarang perlu menyadari bahwa mereka hidup di tengah kemungkinan perubahan mendasar. Tantangannya bukan sekadar melanjutkan apa yang diwariskan, melainkan memastikan bahwa nilai dan kesadaran yang dibangun benar-benar dipahami dan dipilih secara sadar.

Sabrang mengajak generasi muda untuk tidak sekadar menjadi kelanjutan dari generasi sebelumnya, atau menjadi wayang yang hanya mengulang pola lama. Perubahan dapat dimulai dari lingkaran kecil: keluarga, lingkungan pertemanan, dan komunitas. Nilai-nilai perlu dijaga melalui tindakan nyata, meskipun dampaknya belum langsung terlihat.

Pada bagian akhir, ia menggambarkan Maiyah sebagai obor yang membantu manusia menemukan arah di tengah keadaan yang tidak selalu terang.

“Orang yang tidak bersedia memahami proses dari akar berisiko kehilangan pemahaman tentang dasar-dasar yang menopang kehidupannya. Alam mengajarkan, tidak ada pohon yang besar tanpa akar yang menghunjam dalam.” (Sabrang)

KARIM kemudian menutup diskusi dengan mengajak jamaah kembali memahami demit dalam diri masing-masing. Ia mengingatkan bahwa filosofi rimpang tidak cukup dipahami sebagai gerakan yang hanya tumbuh di bawah tanah. Pertumbuhan tersebut juga perlu menemukan bentuk kontribusi nyata bagi kehidupan dan masyarakat.

Malam itu, diskusi Kesadaran Rimpang mempertemukan kegelisahan terhadap ketidakadilan, pertanyaan tentang agama, dan tanggung jawab generasi dalam menghadapi perubahan. Benang merahnya terletak pada ajakan untuk tidak berhenti pada kemarahan, prasangka, atau perasaan paling benar. Semua perlu diolah menjadi kesadaran yang mendorong tindakan.

Sebagaimana akar yang menghujam sebelum pohon menjulang, perubahan membutuhkan kedalaman sebelum menghadirkan manfaat. Dan sebagaimana obor yang menerangi jalan, Maiyah diharapkan menjadi ruang untuk terus belajar, menjaga nilai, serta menemukan cara agar kesadaran yang tumbuh di dalam diri dapat memberi arti bagi kehidupan bersama.

Sekitar pukul 01.16 WIB diskusi ditutup hangat oleh Mizani dan Karim. Seperti biasa, rangkaian Kenduri Cinta malam itu diakhiri dengan indal qiyam. Jamaah berdiri bersama dalam suasana khidmat. Setelah melalui rangkaian kisah, pertanyaan, dan perenungan tentang Kesadaran Rimpang, malam ditutup dengan kebersamaan dalam doa. +++

SendTweetShare
Previous Post

Mukadimah: Kesadaran Rimpang

Redaksi Kenduri Cinta

Redaksi Kenduri Cinta

Redaktur Kenduri Cinta

Related Posts

REPORTASE: HAMBA YANG GREEN FLAG
Reportase

REPORTASE: HAMBA YANG GREEN FLAG

August 25, 2026
Reportase: Melipat Jarak
Reportase

Reportase: Melipat Jarak

July 21, 2026
Reportase: Sawang Sinawang
Reportase

Reportase: Sawang Sinawang

June 13, 2026
Reportase: Langgam Qaraba
Reportase

Reportase: Langgam Qaraba

May 16, 2026
REPORTASE: AKTIVASI NASIB
Reportase

REPORTASE: AKTIVASI NASIB

April 17, 2026
Reportase: Upa Angkara
Reportase

Reportase: Upa Angkara

March 12, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan

Copyright © 2025 Kenduri Cinta