Teruntuk perempuan-perempuan Maiyah; para penjaga nyala di ceruk dapur dan nalar, serta para pendamping setia yang bersama-sama merawat kedaulatan jiwa di tengah bisingnya zaman.
DI RUANG keluarga yang tampak tenang, sebuah peradaban sedang digeser secara perlahan tanpa gairah perlawanan. Tak ada tangis yang meledak, tak ada rengekan yang menuntut kehadiran, bahkan tak ada lagi gesekan antusiasme antara orang tua dan anak. Semua tunduk pada satu komando dari pengasuh yang tak kasat mata: the invisible nanny.
Ia hadir tanpa raga, tak butuh upah, dan tak pernah mengenal lelah. Ia adalah algoritma, media sosial, dan kecerdasan buatan yang kini tampak lebih fasih mengeja bahasa batin anak-anak kita daripada kita sendiri sebagai pemilik rahim dan pemegang mandat nafkah. Di balik layar yang berpendar itu, anak-anak kita tidak sedang bermain; mereka sedang “diasuh” oleh kode-kode dingin yang dirancang untuk mengikat perhatian, bukan untuk merawat masa depan.
Fenomena ini adalah bentuk penyapihan model baru. Jika dulu seorang anak disapih dari air susu ibu untuk mulai mengenal dunia luar, hari ini mereka “disapih” dari tatapan mata orang tua menuju pendar cahaya layar. Kita sering kali merasa lega saat rumah menjadi hening karena anak-anak asyik dengan gawainya. Kita menganggap keheningan itu sebagai kedamaian, padahal ia adalah tanda bahwa frekuensi komunikasi alami telah mati. Kita sedang mendelegasikan fungsi “pengasuhan” kepada entitas yang “mahatahu” segala informasi, namun maha tidak-hadir dalam setiap kegelisahan batin anak.
Saya teringat suatu sore di sebuah cafe sudut kota, melihat sepasang orang tua dan anak duduk semeja. Sang ayah sibuk membalas email otomatis dari kliennya, sang ibu asyik dengan linimasa sosial medianya setelah mengunggah foto secangkir kopi di story Instagram, dan sang anak tenggelam dalam riuhnya video pendek di tabletnya. Secara fisik, jarak mereka tak sampai satu jengkal, namun secara frekuensi, mereka berada di galaksi yang berbeda. Di sanalah saya menyadari: yatim piatu bukan lagi soal kehilangan orang tua secara biologis, melainkan tentang anak-anak yang kehilangan “kehadiran” orang tuanya tepat di depan mata mereka sendiri. The invisible nanny tidak hanya mengasuh anak kita, ia juga sedang mengisolasi kita satu sama lain di dalam rumah yang kita sebut tempat pulang.
Barangkali kita perlu menyadari bahwa saat seorang anak menatap layar, ia sesungguhnya tidak sedang bermain sendirian. Ia sedang melangkah masuk ke dalam sebuah laboratorium raksasa yang bekerja dua puluh empat jam tanpa henti. Di balik pendar cahaya itu, ada ribuan, bahkan jutaan engineer dan ilmuwan data yang dibekali algoritma paling mutakhir, yang tugas tunggalnya adalah satu: mengikat perhatian anak kita sekuat mungkin. Mereka membedah perilaku, memetakan hasrat, dan memasang jerat-jerat dopamin digital agar jemari kecil itu tidak pernah sanggup berhenti menggulir layar. Ini adalah pertempuran asimetris antara nalar seorang bocah melawan kolektif kecerdasan mesin yang dirancang untuk menang. Di laboratorium ini, anak kita bukanlah subjek yang sedang belajar, melainkan komoditas yang sedang ditambang waktunya.
Kecerdasan buatan kini mulai mengambil alih peran sebagai “berhala jawaban”. Anak-anak kita tidak lagi diajak untuk menggali kedalaman samudera pengetahuan melalui rasa ingin tahu (curiosity). Mereka cukup mengetikkan satu baris perintah, dan AI akan menyuguhkan jawaban final yang seolah tanpa cela. Keajaiban proses—getir dan manisnya mencari kebenaran—kini telah dibunuh oleh kecepatan instan. AI diperlakukan bukan sebagai alat untuk menggali, melainkan sebagai mesin penjawab otomatis yang memadamkan api kritis dalam nalar mereka. Ketergantungan ini perlahan-lahan mengikis kemampuan anak untuk berdialog dengan ketidaktahuan; mereka mahir mengeksekusi perintah (prompting), namun gagap dalam merumuskan pertanyaan yang lahir dari kedalaman renungan.
Inilah yang saya sebut sebagai delegasi nurani. Saat orang tua memberikan gawai hanya agar mereka bisa beristirahat dari keriuhan anak, mereka sebenarnya sedang melakukan transaksi yang mahal: menukar waktu berkualitas dengan kemudahan yang semu. Kita memberikan “asisten” digital bagi anak, tanpa sadar bahwa asisten tersebut perlahan-lahan mengambil alih peran sebagai guru moral, pembentuk standar estetika, hingga pendikte cara berpikir. Anak-anak kita mungkin menjadi sangat lincah berselancar di samudera informasi, namun mereka tumbuh menjadi yatim piatu di tengah keramaian layar—kehilangan nakhoda yang seharusnya membimbing mereka memahami makna empati dan kemanusiaan.
Kegelisahan ini kian berlipat saat kita melihat otoritas pendidikan seolah gagap menghadapi laju zaman. Kurikulum kita masih sibuk bergelut dengan tumpukan administrasi, sementara batin anak-anak kita setiap detik sedang dibentuk oleh algoritma global yang tanpa filter. Ada absennya kedaulatan dalam ruang digital kita; negara seolah membiarkan generasi muda bertarung sendirian melawan kecerdasan buatan yang dirancang untuk mengeksploitasi psikologi manusia. Kita tahu, ada tetangga-tetangga kita di Asia yang sudah sangat tegas memasang pagar; membatasi jam layar dan mengatur jenis konten demi menjaga kewarasan warga mudanya. Namun di sini, kita justru membiarkan pintu rumah terbuka lebar tanpa pengawasan, membiarkan jiwa anak-anak menjadi ladang tambang data bagi korporasi, sementara fondasi pendidikan karakter di dunia nyata justru sedang dibiarkan runtuh perlahan.
“Pengasuh” nirkabel ini memang sangat cerdas, tapi ia nirlaba rasa. Ia bisa menjawab keingintahuan dalam sekejap, tapi ia tak punya tangan untuk mengusap air mata saat si kecil merasa hampa. Kita sedang mempertaruhkan pembentukan karakter anak-anak kita pada algoritma yang hanya mengenal benar dan salah secara biner, tanpa pernah menyentuh wilayah timbang rasa. Kita menciptakan generasi yang mungkin sangat pintar secara teknis, namun gagap saat harus menyentuh realitas kemanusiaan di sekitarnya. Mereka lebih peduli pada jumlah “suka” di media sosial daripada senyum tulus tetangga di sebelah rumah.
Kita tidak perlu menjadi anti-AI atau menutup mata dari derap kemajuan. Tugas kita adalah menguasainya sebagai alat bantu—sebagai cangkul untuk memperdalam galian nalar, bukan sebagai berhala yang menyuapkan jawaban instan. Terkhusus bagi para ibu, barangkali ini saatnya kita berhenti berperan sebagai ‘polisi’ yang hanya sibuk merazia gawai dan melarang layar, lalu beralih menjadi ‘kompas’ yang memberikan arah. Seorang polisi hanya bisa membatasi gerak, namun seorang kompas akan memberikan navigasi agar anak-anak kita tidak tersesat saat mereka harus mengarungi rimba digital sendirian kelak.
Kita harus berani mendudukkan perkara pada tempatnya: bahwa AI dan segala kecanggihannya hanyalah sekadar alat, sekumpulan kode mati yang tak akan pernah memiliki detak empati. Sementara manusia, dengan segala kerapuhan dan rasa ingin tahunya, adalah pemilik jiwa yang tak bisa digantikan oleh mesin mana pun. Hari raya bagi nurani kita adalah ketika kita mampu memadamkan pendar layar dan kembali saling menemukan dalam hangatnya tatapan mata yang jujur. Di sanalah, bimbingan yang bersumber dari jernihnya nurani akan selalu jauh lebih sakral daripada ribuan baris kode yang tak pernah mengenal rasa cinta.






