Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan
No Result
View All Result
Home Reportase

Reportase: Melipat Jarak

Redaksi Kenduri Cinta by Redaksi Kenduri Cinta
July 21, 2026
in Reportase
Reading Time: 24 mins read
Reportase: Melipat Jarak

Jakarta, 10 Juli 2026

SENJA telah lama menanggalkan warna jingganya ketika Plaza Teater Kecil Taman Ismail Marzuki mulai dipenuhi orang-orang yang datang dengan langkah tanpa tergesa. Di bawah langit Jakarta yang malam itu bersih dari mendung, riuh peringatan seabad Ali Sadikin memenuhi berbagai sudut kompleks kesenian yang selama puluhan tahun menjadi rumah bagi beragam percakapan kebudayaan. Di antara keramaian itu, Kenduri Cinta kembali digelar.

Seperti biasa, sebuah panggung pendek berdiri sederhana. Di sekitarnya, beberapa jamaah sudah duduk bersila di atas terpal. Sebagian bahkan hanya mengganjal tubuh mereka dengan sandal yang dilepas sebelum duduk. Pukul 19.53 WIB, tawashshul mengalun. Lantunan shalawat bergema pelan diiringi oleh tabuhan hadrah, menyelimuti ruang terbuka itu dengan suasana yang khusyuk. Tidak ada tepuk tangan dan musik pembuka. Yang terdengar hanyalah suara manusia yang bersama-sama nyuwun paring-paring, membuka sebuah perjalanan panjang untuk malam yang masih sangat muda.

“Kalau ingin cepat, berjalanlah sendirian. Kalau ingin jauh, berjalanlah bersama.” —Ibnu

Melipat Jarak Empat Belas Abad

Tema edisi ke-270 malam itu terdengar sederhana: Melipat Jarak. Namun, seperti tema-tema Kenduri Cinta sebelumnya, kesederhanaan sebuah judul sering kali hanyalah pintu masuk menuju labirin makna yang jauh lebih kompleks.

Sebelum masuk ke tema utama, Rizal mengawali dengan sejarah tempat Kenduri Cinta biasa diselenggarakan. Malam itu bertepatan dengan rangkaian peringatan seratus tahun Ali Sadikin, sosok yang berperan besar dalam menjadikan Taman Ismail Marzuki sebagai rumah bagi kehidupan kebudayaan. Pengantar itu menjadi pengingat bahwa ada jarak sejarah yang perlu terus dirawat agar masyarakat tidak tercerabut dari ingatannya sendiri.

Dari sana, Rizal membawa jamaah pada paradoks zaman. Teknologi diklaim mampu “melipat jarak”, tetapi justru memperlebar jarak batin. Orang dapat berbicara dengan siapa pun di berbagai belahan dunia melalui telepon genggam, sementara hubungan dengan tetangga sendiri semakin renggang.

Setelah Mizani memperkenalkan para pembicara, Pram menggeser pembahasan dari ruang menuju waktu. Baginya, masa depan adalah jarak yang belum pernah ditempuh sehingga memunculkan kecemasan, sedangkan masa lalu adalah jarak yang tak mungkin didatangi kembali. Ketika manusia terlalu lama hidup dalam nostalgia atau penyesalan, ia kehilangan kemampuan menikmati hari ini.

Dari sana, Pram mengkritik kecenderungan banyak orang: kesetiaan pada “kepribadian”

“Saya orang teknis. Saya tidak bisa administrasi. Saya memang begini,” jelasnya.

Menurutnya, kalimat-kalimat seperti itu sering dijadikan alasan untuk menolak berubah. Belajar semestinya membuat seseorang semakin mampu memahami orang lain, bukan semakin terkurung oleh dirinya sendiri.

Benang pikiran itu kemudian disambung Feri, tetapi dari arah yang berbeda. Ia justru mempertanyakan metafora “melipat jarak” itu sendiri.

“Yang bisa dilipat itu baju. Yang bisa dilipat itu sajadah,” ujarnya.

Kalau begitu, apa sebenarnya yang dimaksud melipat jarak? Baginya, tidak semua jarak perlu dipendekkan. Ada jarak yang justru harus dipelihara, seperti jarak antara informasi dan reaksi. Di tengah derasnya media sosial, manusia terbiasa merespons sebelum berpikir. Padahal jeda itulah yang menjaga seseorang dari keputusan impulsif.

Sebaliknya, ada pula jarak yang layak dilipat. Empat belas abad yang memisahkan umat Islam dari Nabi Muhammad SAW memang tak mungkin ditempuh secara fisik, tetapi dapat didekatkan melalui akhlak, keteladanan, dan pembacaan sirah. Kedekatan spiritual, menurutnya, lebih penting daripada kedekatan geografis.

Menanggapi Pram, Feri menambahkan bahwa kepribadian bukanlah penjara. Manusia memang memiliki faktor bawaan (nature), tetapi lingkungan (nurture) ikut membentuk siapa dirinya.

Ibnu menyambung diskusi dengan menjelaskan bahwa tema malam itu lahir dari kesadaran akan adanya jarak antara kenyataan hari ini dan cita-cita yang ingin dicapai. Jarak itu tidak selalu harus dihapus. Kadang justru harus ditempuh dengan kesabaran.

“Kalau ingin cepat, berjalanlah sendirian. Kalau ingin jauh, berjalanlah bersama,” ujarnya.

Pepatah itu digunakannya untuk menjelaskan apa yang ia sebut sebagai kesabaran revolusioner: kesediaan menjalani proses panjang tanpa kehilangan arah.

Ibnu kemudian mengajak jamaah memikirkan kembali makna waktu. Waktu bukan sekadar hitungan jam, tapi soal kesadaran. Dua jam menjelang berbuka puasa dapat terasa sangat lama, sementara malam bersama orang-orang yang dicintai berlalu begitu cepat.

Pengalaman menerima kabar wafat ayahnya menjadi contoh paling nyata. Rentang beberapa jam sebelum ia bisa pulang terasa seperti waktu yang tak berujung. Dari pengalaman itu ia menyimpulkan bahwa waktu bekerja mengikuti kesadaran manusia.

Karena itu, ia mengkritik kehidupan modern yang terobsesi pada efisiensi. Deadline, target, dan percepatan sering membuat manusia kehilangan kemampuan menyadari dirinya sendiri. Bahkan dalam kebijakan publik, terlalu banyak keputusan diambil tergesa-gesa tanpa memberi ruang bagi proses.

Sebagai penutup, Ibnu menggunakan analogi kosmologis. Jarak antara Matahari dan Bumi bukan kesalahan yang harus diperbaiki. Justru karena jaraknya presisi, kehidupan dapat berlangsung. Terlalu dekat, bumi terbakar. Terlalu jauh, bumi membeku. Sebagian jarak ternyata merupakan syarat bagi kehidupan.

“Belajar semestinya membuat seseorang semakin mampu memahami orang lain, bukan semakin terkurung oleh dirinya sendiri.” —Pramono

Hermanto kemudian mengajak jamaah menjadi pembelajar sebelum menjadi pembawa kabar gembira. Menurutnya, manusia perlu terus menyaring apa yang diambil dan dibuang dari kehidupan agar mampu menyampaikan kebaikan dengan penuh kenikmatan. Ia juga menyoroti kecenderungan masyarakat menikmati konflik antarelite, padahal yang paling dirugikan tetap rakyat, serta mengaitkan apatisme politik dengan panjangnya warisan trauma Orde Baru.

Mizani kemudian mempersilakan Adi Pudjo dan Arista berbagi pandangan.

Arista melihat paradoks dunia digital. Teknologi tidak sekadar melipat jarak, tetapi nyaris menghapusnya. Orang yang berada ribuan kilometer terasa begitu dekat melalui layar, sementara mereka yang duduk di sebelah justru sering diabaikan.

Ia juga menunjukkan bahwa jarak dapat menjadi sangat relatif. Tiket pesawat menuju Padang, misalnya, kadang lebih mahal daripada ke Malaysia sehingga orang memilih rute yang secara fisik lebih jauh demi biaya yang lebih murah.

Arista juga membuktikan relativitas jarak melalui logika transaksional: tiket pesawat ke Padang bisa lebih mahal daripada ke Malaysia, sehingga orang memilih transit lebih jauh secara fisik demi biaya yang lebih murah. Jarak, ternyata, sangat subjektif dan bisa juga ditentukan oleh “biaya”.

Lebih jauh, Arista membagikan pengalaman spiritualnya. Kenduri Cinta mengubah pandangannya tentang Tuhan, dari sosok yang semula ia dekati dengan rasa takut menjadi sumber kasih sayang. Tawashshul, salawat, dan Al-Fatihah menjadi cara baginya melipat jarak kerinduan kepada Rasulullah SAW sekaligus kepada Cak Nun.

Adi Pudjo kemudian menjelaskan konsep tawashshul melalui bahasa yang akrab bagi generasi digital. Ia mengibaratkan salawat sebagai fitur mention di media sosial. Sebagaimana seseorang menyebut akun tertentu agar pesannya lebih mudah sampai, salawat dipahami sebagai jalan mendekatkan diri kepada Allah melalui Rasulullah SAW.

Menjelang akhir sesi pertama, Mizani mengingatkan bahwa seluruh percakapan malam itu baru sebatas meletakkan fondasi. Berbagai pengertian tentang “melipat jarak” telah dipertemukan, tetapi perjalanan untuk memahami tema itu masih panjang.

Di bawah langit Jakarta yang semakin larut, jamaah tetap bertahan dalam duduknya. Sebagian menyeruput kopi yang mulai dingin, sebagian lain masih sibuk mencatat. Seolah mereka sepakat bahwa malam itu adalah soal melatih diri untuk berjalan perlahan di antara berbagai makna. Sebab, tidak semua jarak memang harus segera dihapus. Ada yang justru perlu ditempuh dengan sabar agar manusia benar-benar tiba.

Dari panggung yang sama, Billy Valentino mengambil alih. Suaranya merambat pelan, menyatu dengan aroma kopi dan udara malam Jakarta yang mulai mengental. Lagu-lagunya menjadi ruang bagi jamaah mengendapkan percakapan yang sejak awal malam bergerak dari teknologi, waktu, hingga kedekatan spiritual. Musik menggantikan kata-kata yang mulai mencapai batasnya.

Me-reset Kesadaran

Malam semakin dalam ketika sesi kedua dimulai. Udara Cikini terasa lebih sejuk, tetapi lingkaran jamaah justru semakin rapat. Mereka yang sejak sore memenuhi Plaza Teater Kecil tetap bertahan, sebagian baru kembali dengan secangkir kopi, sebagian lain masih memandangi panggung kecil tempat berbagai gagasan saling bertemu.

Muftie membuka sesi dengan mengajak jamaah kembali menoleh pada sejarah Taman Ismail Marzuki. Kawasan itu, katanya, dahulu merupakan kebun binatang milik Raden Saleh sebelum dipindahkan ke Ragunan. Di atas lahan itulah Ali Sadikin membangun ruang yang kemudian menjadi salah satu pusat kebudayaan paling penting di Indonesia. Karena itu, memperingati seabad Ali Sadikin di tempat tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan penghormatan kepada seseorang yang percaya bahwa kebudayaan membutuhkan rumah.

Ia kemudian menjelaskan bahwa tema Melipat Jarak terinspirasi dari puisi Sapardi Djoko Damono. Sebelum diskusi dimulai, Muftie membacakan puisi itu. Jamaah mendengarkan dalam hening, seolah setiap larik menjadi jembatan yang menghubungkan percakapan malam itu dengan dunia sastra.

Usai pembacaan puisi, Karim membuka diskusi dengan mengingatkan bahwa Maiyah telah lama “melipat jarak”, salah satunya melalui cara membaca Al-Qur’an. Di banyak ruang keagamaan, perhatian sering tertuju pada tafsir yang memerlukan otoritas keilmuan tertentu. Di Maiyah, yang dikembangkan adalah tadabur—cara mendekati ayat-ayat Tuhan melalui perenungan yang dapat dilakukan siapa saja dengan kesungguhan.

Karim lalu menghubungkan tema malam itu dengan ironi sosial yang tengah ramai diperbincangkan. Belum lama sebelumnya publik dikejutkan oleh penyitaan puluhan kilogram emas dan uang bernilai ratusan miliar rupiah. Di saat yang sama, jutaan orang masih sibuk memikirkan biaya sekolah anak, cicilan rumah, atau sekadar memastikan dapur tetap mengepul.

“Jarak bukan lagi persoalan kilometer, tapi gap kesejahteraan yang terus melebar,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa melipat jarak tidak selalu berarti menghapus semua batas. Ada saat ketika manusia justru perlu menjaga jarak agar tetap memiliki arah.

Benang pemikiran itu diteruskan Fahmi melalui pembahasan tentang kesabaran.

“Bersabar itu tidak sama dengan diam,” jelasnya.

Kalimat itu diucapkannya perlahan, tetapi menjadi salah satu gagasan yang terus berulang sepanjang malam. Baginya, kesabaran adalah tindakan yang terus berlangsung. Seorang petani tidak sekadar menunggu panen, tetapi terus mengolah tanah, menanam, merawat, dan menjaga tanamannya hingga tiba waktunya memetik hasil. Kesabaran adalah proses aktif, bukan kepasrahan.

Untuk memperjelas maksudnya, Fahmi menggunakan analogi sepak bola. Ia menggambarkan sebuah tim besar yang terus membangun serangan dengan sabar hingga akhirnya mencetak gol pada menit-menit akhir. Gol itu bukan hasil keberuntungan, melainkan akumulasi dari usaha yang terus dilakukan.

Dari sana, Fahmi kembali menyinggung kesenjangan sosial yang disampaikan Karim. Di satu sisi ada kabar tentang kekayaan dalam jumlah fantastis, sementara di sisi lain banyak orang masih memikirkan bagaimana membayar sekolah anak atau mencari pekerjaan. Dengan gaya khasnya, ia menyelipkan humor yang mengundang tawa jamaah.

“Kalau nanti kita sudah melewati Sidratul Muntaha,” ujarnya, “mungkin Malaikat Ridwan tidak perlu bertanya amal kita. Cukup ditanya, ‘Dari mana?’ Kalau jawabannya Indonesia, langsung dipersilakan masuk karena cobaan hidupnya sudah terlalu berat.”

Di balik kelakar itu, Fahmi mengajak jamaah merenungkan perjalanan bangsa. Indonesia telah melewati berbagai pergantian rezim, tetapi mengapa persoalan mendasar terus berulang?

“Kalau rezim diganti, siapa yang menjamin penggantinya tidak mengulangi kesalahan yang sama?” tanyanya,

“Mungkin diri kita sendirilah yang harus kita reset terlebih dahulu,” ujarnya.

Menurutnya, yang pertama kali perlu di-reset bukanlah sistem, melainkan kesadaran manusianya. Mengubah struktur tanpa mengubah cara berpikir hanya akan melahirkan pengulangan sejarah dengan pemain yang berbeda.

Ia juga mengingatkan pesan yang kerap disampaikan Cak Nun tentang korupsi. Yang paling mengkhawatirkan bukan sekadar hilangnya uang negara, tetapi ketika pelakunya tidak lagi merasa sedang melakukan kesalahan. Perilaku buruk yang terus diwariskan lambat laun berubah menjadi cara berpikir kolektif masyarakat.

Menjelang akhir paparannya, Fahmi mengajak jamaah memandang hidup sebagai waktu yang dipinjamkan. Yang terpenting bukan seberapa panjang usia seseorang, tapi ke mana seluruh perjalanan itu diarahkan.

Di penghujung sesi, ia menyampaikan salam dari Habib Jafar yang berhalangan hadir sekaligus memperkenalkan film Seni Merayu Tuhan, adaptasi dari buku Habib Jafar yang akan tayang pada Agustus. Kehadiran penulis skenario Salman Aristo dan sutradara Kesa David Lukmansyah menunjukkan bagaimana ruang kebudayaan dapat saling bertemu melalui medium yang berbeda.

Ketika menerima mikrofon, Salman Aristo mengaku baru pertama kali menghadiri Kenduri Cinta secara langsung meski telah lama mengikutinya melalui siaran daring.

Baginya, film bukan sekadar hiburan. Bioskop dapat menjadi ruang refleksi yang membantu manusia menemukan kembali hubungan yang mulai renggang dengan dirinya sendiri, dengan sesama, bahkan dengan Tuhan.

Pernyataan itu terasa menyambung percakapan yang telah berlangsung sejak awal malam. Jika puisi mampu melipat jarak melalui kata-kata, film dapat melakukannya melalui cerita.

Malam itu, di tengah terpal-terpal yang semakin penuh oleh jamaah, Kenduri Cinta perlahan memperlihatkan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari pidato keras. Kadang ia lahir dari sebuah puisi, sebuah kisah, atau satu pertanyaan sederhana yang terus dibawa pulang oleh setiap orang: sudah sejauh apa sebenarnya jarak antara diri kita dengan manusia yang ingin kita menjadi?

“Film bukan sekadar hiburan, namun ruang refleksi yang membantu manusia menemukan hubungan dengan dirinya, sesama, bahkan dengan Tuhan.” — Salman Aristo

Penyingkiran Hijab Ego

Jika diskusi sebelumnya banyak berbicara tentang kesabaran sebagai cara menempuh jarak, maka bagian berikutnya membawa percakapan ke wilayah kebangsaan. Malam telah jauh beranjak, tetapi jamaah di Plaza Teater Kecil justru semakin tenggelam dalam diskusi.

Angin malam sesekali menggeser ujung-ujung terpal. Di antara gelas kopi yang mulai kosong dan wajah-wajah yang tetap terjaga, pembicaraan beralih dari perenungan personal menuju pertanyaantentang bagaimana jarak bekerja di tengah kehidupan berbangsa.

Virdian menjadi pembicara pertama. Meski usianya baru seperempat abad, ia tampil dengan kegelisahan seorang anak muda yang enggan menjadi penonton. Ia mengingatkan bahwa masyarakat sipil kerap merasa kecil karena tidak memiliki kekuasaan formal. Padahal ruang-ruang berkumpul seperti Kenduri Cinta, forum kampus, warung kopi, hingga aksi Kamisan merupakan cara masyarakat menjaga kewarasan demokrasi ketika kepercayaan terhadap institusi mulai memudar.

“Senjata orang-orang lemah adalah berkumpul,” ujarnya.

Baginya, berkumpul bukan sekadar aktivitas sosial, melainkan cara merawat kesadaran kolektif.

Virdian kemudian mengajak jamaah melihat berbagai peristiwa politik dengan lebih kritis. Konflik antarelite negara, menurutnya, tidak selalu mencerminkan mekanisme check and balances. Tidak sedikit yang sebenarnya merupakan benturan kepentingan atau penegakan hukum yang berlangsung secara selektif.

“Kalau penegakan hukum hanya menjadi alat dendam politik,” ujarnya, “kita tidak akan pernah menyelesaikan akar persoalan Indonesia.”

Ia mencontohkan berbagai ketimpangan yang dirasakan anak muda. Mahasiswa dapat kehilangan beasiswa karena satu ucapan, sementara pejabat yang berulang kali melontarkan pernyataan bermasalah tetap memperoleh jabatan strategis. Di tengah persoalan pengangguran yang terus membayangi generasi muda, banyak posisi penting justru ditentukan oleh kedekatan politik, bukan kompetensi.

Virdian mengaku sedang melakukan survei terhadap ribuan anak muda. Dari jawaban yang terkumpul sejauh ini, satu persoalan selalu muncul paling atas: pekerjaan. Bukan ideologi. Bukan identitas. Tapi, bagaimana bertahan hidup.

“Yang salah saat ini,” katanya, “adalah kalau kita sudah kehilangan rasa memiliki terhadap negeri ini.”

Karena itu, ia mengajak generasi muda tidak menggantungkan seluruh harapan kepada tokoh politik mana pun. Menjelang peringatan seratus tahun Sumpah Pemuda pada 2028, ia berharap lahir “sumpah” baru yang mampu menjawab tantangan zaman.

“No one can do everything, but everyone can do something,” pungkasnya.

“No one can do everything, but everyone can do something.” —Virdian

Karim kemudian menghubungkan semangat itu dengan buku The Art of Not Being Governed. Baginya, Kenduri Cinta sendiri telah menunjukkan bahwa sebuah komunitas dapat bertahan lebih dari dua dekade tanpa bergantung pada struktur birokrasi formal.

Perspektif berikutnya datang dari Tum Sa’ad, yang mengawali paparannya dengan satu pertanyaan mendasar.

“Usia Indonesia hari ini bisa saja hanya sekadar angka, bukan pertumbuhan.” ujarnya membuka penjelasan.

Menurutnya, persoalan bangsa bukan terletak pada kurangnya orang baik. Orang baik selalu ada. Yang belum banyak adalah orang baik yang cukup kuat untuk mengubah sistem. Di sinilah ia membedakan “kumpulan” dan “barisan”. Sebuah komunitas dapat menjadi kumpulan orang-orang baik, tetapi tanpa kaderisasi, kurikulum, dan arah perjuangan yang jelas, energi itu akan berhenti sebagai percakapan.

Ia lalu melempar pertanyaan, “Maiyah yang sudah berjalan 26 tahun ini, sebenarnya mau ke mana?”

Pertanyaan itu bukan sindiran, tapi ajakan untuk memikirkan kembali arah perjalanan sebuah komunitas.

Menurut Sa’ad, bangsa ini sedang mengalami “kecelakaan beruntun”. Berbagai institusi negara saling bertabrakan karena hilangnya jarak untuk berhenti, mengevaluasi, dan mengambil keputusan secara jernih. Dalam konteks itulah ia mengutip Al-Hikam karya Ibnu Athaillah. Melipat jarak, katanya, bukan terutama soal perpindahan fisik, melainkan upaya menyingkirkan hijab-hijab ego yang menghalangi manusia mendekat kepada Tuhan.

Selanjutnya, ia menjelaskan bahwa korupsi bukan lagi tindakan kriminal. Korupsi telah berubah menjadi pola pikir. Lalu bagaimana pola pikir itu terbentuk?

Segala sesuatu bermula dari informasi yang masuk melalui pancaindra. Informasi diberi makna. Makna berubah menjadi pikiran. Pikiran yang terus dibenarkan berubah menjadi keyakinan. Keyakinan yang terus diulang akhirnya membentuk mindset. Mindset itulah yang menggerakkan seluruh tindakan manusia.

Untuk menjelaskan gagasan tersebut, Sa’ad bercerita tentang ayahnya. Semasa kecil, ia sering ikut sang ayah memulung. Setelah selesai mencari barang bekas, ayahnya selalu merapikan kembali tempat sampah yang telah dibongkar.

“Yah,” tanya Sa’ad kecil waktu itu, “buat apa dirapikan lagi? Nanti juga ada petugas kebersihan.”

Jawaban ayahnya tidak pernah ia lupakan.

“Ayah bukan pejabat yang bisa mendapat pahala dari kebijakannya. Ayah bukan guru yang bisa mendapat pahala dari ilmunya. Ayah bukan orang kaya yang bisa bersedekah banyak. Biarlah ini menjadi amal ibadah ayah.”

Bagi Sa’ad, yang membedakan seseorang bukan pekerjaannya, melainkan makna yang ia tanamkan pada pekerjaannya. Karena itu, perubahan besar hanya mungkin lahir melalui proses panjang membangun manusia.

Ia mencontohkan bagaimana Turki membangun kembali kekuatan politiknya melalui pendidikan, jaringan, dan kaderisasi yang berlangsung bertahun-tahun sebelum akhirnya memasuki pusat kekuasaan.

“Mendapatkan sesuatu yang belum pernah kita miliki mengharuskan kita melakukan sesuatu yang belum pernah kita lakukan,” ujarnya.

Menjelang akhir sesi, Salman Aristo kembali diminta berbicara. Jika pembicara sebelumnya banyak mengulas politik dan perubahan sosial, Salman mengingatkan bahwa setiap perubahan besar selalu berawal dari cerita.

“Story is the thing that changes civilization,” ia mengutip Robert McKee dan Ben Okri untuk menegaskan bahwa peradaban dibentuk oleh narasi yang dipercaya masyarakatnya.

“Kalau mau meracuni sebuah bangsa, racuni dulu ceritanya,” ujarnya

Menurutnya, dunia hari ini semakin performatif. Keadilan sering baru dianggap penting setelah menjadi viral, seolah penderitaan harus lebih dulu menjadi tontonan sebelum layak diperjuangkan. Film Seni Merayu Tuhan lahir dari kegelisahan itu. Ia berharap bioskop dapat menjadi ruang yang membantu manusia pulang kepada dirinya sendiri, kepada sesama, dan akhirnya kepada Tuhan.

“Sebab, sebelum mengubah dunia, manusia perlu lebih dahulu menemukan cerita yang benar tentang dirinya sendiri,” tuturnya.

Di penghujung sesi, benang merah percakapan malam itu semakin tampak. Politik, pendidikan, komunitas, hingga seni ternyata sedang membicarakan persoalan yang sama: perubahan tidak hanya memerlukan sistem yang lebih baik, tetapi juga manusia yang bersedia mengubah cara berpikirnya. Sebab sebelum memperpendek jarak dengan dunia, seseorang terlebih dahulu harus berani memperpendek jarak dengan dirinya sendiri.

Penjara Yang Tak Disadari

Selepas uraian Salman Aristo, Muftie mengajak jamaah berhenti sejenak pada Surah Al-A’raf ayat 179, tentang manusia yang memiliki hati, mata, dan telinga, tetapi tidak menggunakannya untuk memahami tanda-tanda Tuhan. Ayat itu menjadi poros baru yang menggeser diskusi dari kritik sosial menuju cara manusia memaknai kenyataan.

Muftie kemudian mempersilakan Hendri Satrio berbicara. Berbeda dengan pembicara sebelumnya yang banyak menyoroti politik, Hensa mengawali dari sesuatu yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari: komunikasi.

Baginya, melipat jarak pertama-tama adalah soal memahami pesan. Yang sering terjadi justru sebaliknya, manusia terlalu cepat berasumsi sebelum benar-benar mendengarkan.

Ia mengisahkan percakapannya di dalam LRT ketika pemberitaan tentang penyitaan puluhan kilogram emas sedang ramai diperbincangkan. Satu berita yang sama melahirkan beragam tafsir. Ada yang melihatnya sebagai pertarungan elite, ada yang sibuk membayangkan isi brankas, ada yang menganggapnya sekadar pengalihan isu. Pengalaman itu, menurutnya, menunjukkan bahwa jarak sering kali bukan terletak pada informasi, melainkan pada cara setiap orang memaknainya.

Hendri Satrio tersenyum ketika menceritakan keragaman respons tersebut. Menurutnya, berita yang sama ternyata tidak pernah benar-benar sama ketika memasuki kepala manusia. Setiap orang membawa pengalaman, kepentingan, dan prasangkanya masing-masing. Maka, yang disebut “jarak” sering kali bukan berada di luar diri, melainkan di antara informasi dan cara manusia memaknainya. Karena itulah, katanya, Kenduri Cinta selalu memberi ruang bagi banyak tafsir.

“Di Kenduri Cinta, kita boleh menebarkan harapan. Kita boleh bermimpi banyak,” ujarnya.

Kalaupun selepas pulang mimpi itu berubah, atau bahkan hilang setelah tidur semalam, tidak menjadi soal. Yang lebih penting adalah keberanian untuk terus membayangkan kemungkinan-kemungkinan baru.

Karim kemudian mengambil alih forum. Ia tersenyum melihat bagaimana para pembicara sejak awal malam justru memperluas cakrawala persoalan. Bukannya memperpendek jarak, mereka menghadirkan semakin banyak dimensi agar kenyataan dapat dipandang lebih utuh.

Perspektif itu diteruskan Sabrang. Ia mengibaratkan seluruh pembicaraan sebelumnya sebagai ranting-ranting pohon. Masing-masing memiliki tempatnya, tetapi baru memperoleh makna ketika dihubungkan pada batang yang sama.

Menurut Sabrang, persoalan terbesar manusia adalah hidup di dalam penjara yang tidak disadarinya. Penjara itu bukan bangunan atau jeruji besi, melainkan cara berpikir yang diterima begitu saja tanpa pernah dipertanyakan.

Ia lalu menunjukkan paradoks yang kerap terjadi. Masyarakat menuntut pemerintah menyelesaikan berbagai persoalan, tetapi pada saat yang sama juga percaya bahwa sebagian kerusakan justru dilakukan oleh mereka yang berada di dalam pemerintahan.

“Yang merusak,” ujarnya, “kok diminta membetulkan sendiri.”

Kalimat itu memancing tawa kecil, tetapi sekaligus menyisakan keganjilan yang sulit dibantah.

Menurutnya, manusia juga sering terjebak karena terlalu yakin pada pendapatnya sendiri. Setiap orang dapat berdebat panjang tentang tinggi sebuah atap, tetapi hanya penggarislah yang mampu mengukurnya. Karena itu, manusia memerlukan sesuatu di luar dirinya sebagai alat ukur, sesuatu yang ia sebut sebagai external thinking.

Dari sanalah Sabrang memperkenalkan makna “wali”. Selama ini istilah itu sering dipahami semata sebagai sosok yang dekat dengan Tuhan. Baginya, setiap wali adalah pencipta dunia. Wali murid membangun dunia bagi anaknya, wali kelas membangun dunia belajar bagi murid-muridnya, sebagaimana para guru, nabi, atau pemimpin membentuk lingkungan tempat manusia hidup.

Setiap dunia memiliki aturan mainnya sendiri. Dunia sepak bola berbeda dengan dunia lalu lintas; kartu kuning tidak berlaku bagi pelanggar lampu merah. Begitu pula demokrasi. Demokrasi bukanlah dunia yang diturunkan Tuhan, melainkan dunia yang dibangun manusia. Ketika aturan di dalamnya dibajak, manusia tidak harus terus bertarung di arena yang sama. Ia dapat berpindah kepada dunia yang lebih besar: dunia Tuhan.

Di situlah Sabrang memberi makna lain pada kesabaran. Sabar bukan berarti diam menerima keadaan, melainkan kemampuan tetap hidup dalam nilai-nilai Tuhan sambil menjalankan tanggung jawab di dunia manusia. Nabi Muhammad SAW tetap mengambil keputusan, menghadapi ancaman, bahkan berperang ketika diperlukan, tetapi seluruh tindakan itu dilakukan tanpa melepaskan kesadaran bahwa hukum tertinggi tetap milik Tuhan.

“Semua ciptaan manusia, adalah permainan,” ujarnya.

Yang tidak berubah, katanya, bukanlah sistem politik atau bentuk pemerintahan, melainkan nilai-nilai seperti keadilan, kasih sayang, kepedulian, dan tanggung jawab terhadap kehidupan.

Karena itu, perlawanan tidak selalu harus mengikuti cara yang dipilih penguasa. Ada bentuk perlawanan yang lebih sunyi: menarik pengakuan moral. Seseorang mungkin masih memiliki kekuasaan, tetapi tanpa kepercayaan masyarakat, kekuasaan itu kehilangan maknanya.

“Kalau perlu,” ujarnya, “balikkan saja badanmu.”

Menurut Sabrang, manusia berhak memilih dunia nilai yang ingin ia hidupi. Perubahan juga tidak cukup berhenti pada keinginan mengganti sistem. Jika fondasinya tetap sama, yang berubah hanyalah nama permainannya. Setiap gagasan perlu lebih dahulu berakar pada “permainan Tuhan” sebelum diterjemahkan menjadi sistem sosial.

Menjelang akhir paparannya, Sabrang kembali mengingat tulisan lamanya, Generasi Larva. Ia melihat generasi berusia sekitar empat puluh hingga lima puluh tahun memiliki tugas penting sebagai jembatan: cukup tua untuk memahami sejarah, tetapi masih cukup muda untuk menyiapkan masa depan.

“Satu generasi yang bersedia menjadi jembatan menyeberangi api,” katanya.

Kalimat itu menjadi simpul dari seluruh percakapan malam itu. Melipat jarak ternyata bukan terutama soal mempercepat langkah atau menghapus batas, melainkan berpindah dari dunia yang sempit menuju dunia nilai yang lebih luas. Hanya dari pijakan itulah perubahan memiliki peluang untuk tidak sekadar mengulang kesalahan yang sama dengan wajah yang berbeda.

Sesudahnya, forum kembali memberi ruang bagi jeda. Mouri naik ke panggung dengan gitar akustiknya. Tanpa aransemen yang rumit, ia menghadirkan suasana yang membiarkan seluruh gagasan malam itu mengendap. Jika sebelumnya para pembicara mengajak jamaah berpikir, kini musik mengajak mereka merasakan.

Di bawah langit Jakarta yang sudah lewat tengah malam, petikan gitar dan suara Mouri menjadi pengingat bahwa sebelum manusia mampu mengubah dunia, ia perlu lebih dahulu berdamai dengan dirinya sendiri. Sebab tidak semua perjalanan menuju makna ditempuh melalui kata-kata; sebagian justru lahir dari keheningan yang memberi ruang bagi hati untuk mendengarkan.

“Melipat jarak bukan soal perpindahan fisik melainkan upaya menyingkirkan hijab-hijab ego yang menghalangi manusia mendekat kepada Tuhan.” —Saad

Bagian Lima

Waktu telah jauh melewati tengah malam ketika Karim kembali membuka ruang bagi jamaah untuk bertanya. Tidak banyak forum yang masih dipenuhi peserta pada jam-jam seperti itu. Namun di Kenduri Cinta, larut malam justru menjadi saat ketika pertanyaan-pertanyaan paling jujur bermunculan. Karim kembali mengundang Sabrang, Tum Sa’ad, dan Virdian ke panggung.

Empat penanya dipilih agar diskusi tidak berakhir terlalu larut. Di sela pengumuman itu, Karim sempat berkelakar tentang jamaah yang menunggu pertandingan sepak bola Spanyol melawan Belgia. Tawa pun pecah, mengingatkan bahwa forum yang sejak sore membicarakan filsafat, politik, dan agama tetap menyisakan ruang untuk bersenda gurau.

Empat pertanyaan yang terpilih merangkum kegelisahan yang mengalir sepanjang malam. April dari Jakarta Timur mempertanyakan bagaimana demokrasi dapat diperbaiki ketika terus melahirkan ketimpangan dan korupsi, serta apakah jalan panjang seperti yang ditempuh Turki masih mungkin dilakukan di Indonesia.

Pipit dari Jakarta Selatan mengangkat persoalan lain. Sebagai orang tua yang anaknya akan tumbuh di era Indonesia Emas 2045, ia bertanya bagaimana manusia dapat mempercepat proses menjadi pribadi yang bijaksana, jika keserakahan dan kebijaksanaan sama-sama merupakan potensi yang dimiliki setiap orang.

Wildan Miftahuddin, mahasiswa Fakultas Ushuluddin UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, menghubungkan tema malam itu dengan perjalanan para nabi. Ia ingin mengetahui kapan seseorang perlu mengambil jarak dari kekuasaan, dan kapan saat yang tepat untuk kembali mendekat.

Sementara Huda, perantau asal Madura yang tinggal di Kebayoran Lama, bertanya apakah mengelola emosi merupakan salah satu bentuk “melipat jarak” di tengah kehidupan modern yang menuntut segala sesuatu berlangsung cepat.

Virdian menjadi orang pertama yang menjawab. Ia mengaku tidak memiliki teori besar tentang cara mengubah negara. Yang ia miliki hanyalah pengalaman berkeliling berbagai daerah dan melihat bagaimana perubahan selalu bermula dari ruang-ruang kecil.

Menurutnya, langkah pertama adalah menemukan peran masing-masing. Masyarakat terlalu sering menunggu tokoh penyelamat, padahal pergantian pemimpin tidak akan banyak berarti apabila budaya dan mental masyarakat tetap sama.

Langkah kedua adalah membangun simulasi perubahan.

Ia mencontohkan berbagai gerakan pendidikan yang mampu membangun sekolah di daerah terpencil tanpa menunggu kekuasaan negara. Dari pengalaman itu, ia percaya perubahan tidak selalu dimulai dari Istana Negara. Ia dapat tumbuh dari desa, sekolah, atau komunitas-komunitas kecil yang memilih bergerak.

“Jangan menyerah pada bangsa ini,” pesannya kepada para pemuda.

“Kita tidak perlu mengubah seluruh Indonesia sekaligus. Kita hanya perlu mengubah akar, sistem, dan aktor-aktor di dalamnya.”

Tum Sa’ad kemudian menanggapi pertanyaan tentang Turki. Menurutnya, perubahan di negara itu tidak lahir karena tiba-tiba memiliki pemimpin yang baik, melainkan melalui proses kaderisasi yang panjang. Ketika ruang politik tertutup, mereka membangun sekolah, memperkuat jaringan, mencetak kader, lalu perlahan memasuki berbagai institusi.

Indonesia, menurut Sa’ad, memiliki arena yang berbeda. Arena itu bernama demokrasi. Karena itulah, mereka yang ingin memperbaiki bangsa tidak cukup hanya berdiri di luar pagar sambil mengkritik. Pada saat tertentu, mereka perlu masuk ke dalam sistem dengan membawa nilai-nilai yang telah dibangun sebelumnya.

Namun sebelum memasuki sistem, manusia perlu terlebih dahulu menyusun ulang cara berpikirnya.

Menurut Sa’ad, “melipat jarak” maupun “mengambil jarak” sesungguhnya adalah latihan berpikir. Manusia modern terlalu cepat bereaksi. Tanda seseorang benar-benar berpikir bukanlah keyakinan yang semakin kuat, melainkan keberanian untuk meragukan dirinya sendiri agar tetap terbuka pada kemungkinan bahwa ia belum sepenuhnya benar.

Karim kemudian menyerahkan tiga pertanyaan lainnya kepada Sabrang.

“Manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mencari kebenaran.” —Sabrang

Menanggapi Wildan, Sabrang mengatakan bahwa ukuran paling sederhana adalah melihat apakah seseorang telah berdaulat atas dirinya sendiri.

“Kalau kamu berkumpul dengan kambing, kamu menjadi kambing, maka kamu perlu mengambil jarak,” ujarnya, disambut tawa jamaah.

Selama seseorang masih mudah dipengaruhi lingkungannya, mengambil jarak adalah pilihan yang bijak. Sebaliknya, ketika ia telah menemukan pijakan dirinya sendiri, ia dapat masuk ke lingkungan mana pun tanpa kehilangan identitas.

Menjawab pertanyaan Pipit, Sabrang tidak sepakat bahwa kebijaksanaan semata-mata ditentukan oleh aspek biologis otak. Kebijaksanaan lahir ketika pengalaman hidup diolah menjadi makna. Karena itu, cara mempercepatnya bukan dengan menambah hafalan, melainkan memperluas pengalaman.

Ia mendorong agar anak-anak bertemu dengan beragam manusia dan mengalami dunia dari banyak sudut.

“Kalau anak bertanya sepuluh hal,” katanya, “jawablah delapan. Biarkan dua sisanya dia temukan sendiri.”

Menurutnya, manusia tidak hanya membutuhkan pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mencari kebenaran.

Terakhir, ia menjawab pertanyaan Huda tentang regulasi emosi. Baginya, mengelola emosi adalah bentuk lain dari melipat jarak. Banyak orang memperlakukan sesamanya secara berbeda hanya karena status sosial. Ketika seseorang mampu menyadari dorongan-dorongan itu dan memilih sikapnya secara sadar, saat itulah ia menjadi pribadi yang merdeka.

“Jangan bermain di sebuah tempat tanpa sadar bahwa kamu sedang bermain. Sebab itu sama saja dengan hidup di dalam penjara,” ujarnya.

Menjelang akhir forum, Sabrang menyampaikan kegelisahan yang lebih luas. Ia melihat perebutan kekuasaan semakin bergerak melalui perubahan-perubahan kecil di berbagai lini pemerintahan. Ia mengaku tidak memiliki kekuatan politik untuk menghentikan semuanya. Yang dapat ia lakukan hanyalah membagikan kegelisahan itu kepada jamaah.

“Mari kita cintai Indonesia dengan sungguh-sungguh,” ucapnya pelan.

Kalimat itu terdengar lebih seperti doa daripada seruan politik. Sebuah harapan agar kecintaan kepada negeri tidak berhenti pada kemarahan, tetapi berubah menjadi kesediaan untuk merawatnya, sekecil apa pun peran yang dapat dilakukan setiap orang.

Tepat pukul 02.30 WIB, percakapan yang sejak sore mengalir melalui sejarah, teknologi, politik, pendidikan, seni, hingga spiritualitas mencapai penghujungnya. Forum ditutup dengan indal qiyam dan lantunan Shohibu Baity yang merambat pelan di udara Jakarta dini hari.

Jika sepanjang malam para pembicara mengajak jamaah mengambil jarak dari ego, prasangka, dan permainan manusia, maka pada detik-detik terakhir itu mereka bersama-sama mempraktikkan cara melipat jarak menuju Sang Pencipta.

Kenduri Cinta malam itu meninggalkan satu pelajaran sederhana. Melipat jarak bukanlah soal bergerak lebih cepat atau menghapus semua batas. Ia adalah kemampuan memahami kapan harus mendekat dan kapan mengambil jarak; kapan berbicara dan kapan mendengarkan; kapan mengubah dunia di luar diri, dan kapan lebih dahulu membenahi dunia di dalam diri.

(RedKC/Haddad)

SendTweetShare
Previous Post

Geometri Kedekatan: Merenungkan Melipat Jarak

Redaksi Kenduri Cinta

Redaksi Kenduri Cinta

Redaktur Kenduri Cinta

Related Posts

Reportase: Sawang Sinawang
Reportase

Reportase: Sawang Sinawang

June 13, 2026
Reportase: Langgam Qaraba
Reportase

Reportase: Langgam Qaraba

May 16, 2026
REPORTASE: AKTIVASI NASIB
Reportase

REPORTASE: AKTIVASI NASIB

April 17, 2026
Reportase: Upa Angkara
Reportase

Reportase: Upa Angkara

March 12, 2026
REPORTASE: METRONOM
Reportase

REPORTASE: METRONOM

February 20, 2026
REPORTASE: MILLATA HANIFA
Reportase

REPORTASE: MILLATA HANIFA

January 15, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Sumur
  • Mukadimah
  • Esensia
  • Reportase
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Tawashshulan

Copyright © 2025 Kenduri Cinta