Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
Home Reportase

Reportase: Langgam Qaraba

Redaksi Kenduri Cinta by Redaksi Kenduri Cinta
May 16, 2026
in Reportase
Reading Time: 18 mins read
Reportase: Langgam Qaraba

Di tengah keramaian pengunjung Taman Ismail Marzuki yang menghadiri berbagai acara malam itu, udara di Plaza Teater Kecil membawa nuansa yang spesial. Sebuah atmosfer yang setidaknya sekali dalam sebulan senantiasa menyelimuti Taman Ismail Marzuki dalam rangkaian rutin sinau bareng di Kenduri Cinta.

Kenduri Cinta malam itu dibuka dengan tawashshulan, rebana mengiringi lantunan sholawat dengan irama yang menenangkan. Awan kemudian membacakan puisi berjudul Memecah Mengutuhkan karya Emha Ainun Nadjib (1987). Dalam penghayatan, suaranya menghiasi malam yang kian larut, mengajak setiap jamaah untuk menep sebelum memulai diskusi.

Rizal lantas membuka sesi pertama Kenduri Cinta edisi ke-268 dengan hangat. Ia menyebut bulan Mei sebagai “Bulannya Cak Nun”, yang kebetulan juga bertepatan dengan momentum menyambut Hari Raya Idul Adha. Ia mengajak jamaah untuk merapat ke depan panggung agar suasana sinau bareng terasa lebih akrab dan intim. Dari keakraban fisik inilah, diskusi malam itu mengambil napas: Langgam Qoroba. Sebuah judul yang merujuk pada akar kata Arab qaraba (dekat), sebuah undangan untuk mempertanyakan motivasi mendekat, mendekonstruksi makna pengorbanan, dan belajar membaca tanda-tanda kehidupan dengan “langgam” yang tepat.


Menyambut benang pengantar tersebut, Adi Pujo langsung menangkap esensi “kedekatan” bukan sebagai konsep spiritual dari hal paling nyata.

“Jalan mengenal Allah dimulai dengan mengenal makhluk ciptaan-Nya. Maka, esensi utama kita berkumpul di sini bukan sekadar sinau bersama, tetapi juga saling mengenal satu sama lain,” ujar Adi membuka elaborasi.

Untuk membumikan konsep tersebut, Adi mengingatkan kembali tentang fondasi utama dalam Maiyah, yaitu kebersamaan yang divisualisasikan melalui “Segitiga Cinta”: hubungan antara manusia, Rasulullah, dan Allah. Ia menegaskan bahwa jalan untuk mencintai Allah tidak bisa ditempuh secara isolatif; manusia justru harus mendekat kepada sesama makhluk-Nya terlebih dahulu.

Lebih jauh, Adi mengajak jamaah merenung melalui sebuah pertanyaan retorik: apakah kita benar-benar ingin mendekat kepada Allah, atau kita hanya terjebak dalam rutinitas belaka? Dengan jujur, ia mengakui bahwa keinginan untuk benar-benar “dekat” itu terasa berat dan belum tentu murni seratus persen hadir dalam diri setiap orang. Pengakuan ini justru menjadi pintu masuk untuk sinau bareng. Di ruang ini, tidak ada yang mengklaim paling tahu; yang ada hanyalah kesediaan untuk saling menyampaikan, mendengar, dan mengikis jarak satu sama lain demi satu tujuan yang sama.

Rizal merespons dengan mengajak jamaah merapat ke panggung sebagai simbol keakraban, sebelum menyerahkan panggung pada Pram. Pram mengambil pelajaran dari dialog Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail ketika Nabi Ibrahim mendapatkan wahyu untuk menyembelih putra kesayangannya (QS. As-Saffat: 102). Nabi Ibrahim tidak serta merta menyembelih Nabi Ismail, tetapi menanyakan pendapat Nabi Ismail terlebih dahulu.

“Ilmu yang saya tangkap dari Cak Nun adalah kemampuan untuk mempertanyakan kembali dan membuka ruang diskusi. Tidak sekadar menerima informasi satu arah, tapi kita berani menguji: ‘Benarkah demikian narasinya?'” ujar Pram.

Ia menekankan bahwa sinau dalam konteks ini tidak boleh bersifat pasif. Forum seperti Kenduri Cinta justru dirancang agar setiap jamaah dapat menyuarakan pergumulan, saling bertukar pandangan, dan menguji gagasan bersama. Interaksi inilah yang melatih kita untuk tidak sekadar menjadi penonton, melainkan peserta aktif dalam pencarian makna.

Dengan kerangka berpikir itulah, Pram kemudian mengajak jamaah menatap realitas sosial yang sering luput dari perhatian. Ia menyoroti kebijakan pemerintah yang kerap digulirkan tanpa dialog dengan mereka yang paling merasakan dampaknya. Dalam pandangannya, dari sistem yang timpang itu, kemiskinan lahir.

“Kemiskinan yang terjadi hari ini bersifat struktural. Bukan karena individu bodoh atau kurang kerja keras, tetapi karena struktur kesempatan yang tidak setara antara pemilik modal dan pekerja,” tegasnya.

Ketimpangan ini, lanjutnya, telah melahirkan bentuk “perbudakan” modern: banyak orang tercerabut dari akar dan tanah kelahiran, direduksi sekadar menjadi tenaga kerja yang mengabdi pada kepentingan modal. Namun, di tengah struktur yang keras itu, perjuangan sehari-hari memenuhi kebutuhan keluarga tetaplah sebuah fardu ain yang mulia. Di sinilah letak ujian sekaligus panggilan kita untuk terus membuka mata, mempertanyakan struktur yang ada, dan belajar bersama dengan rendah hati agar setiap langkah menuju Sang Pencipta tidak terlepas dari kepedulian pada sesama.

“Jalan mengenal Allah dimulai dengan mengenal makhluk ciptaan-Nya.” Adi Pudjo


Ali kemudian memperdalam dengan memaparkan landasan teologisnya. Ia mengajak jamaah membedah kembali makna “kurban” yang sering rancu dengan kata “korban”. Ia menegaskan perbedaan mendasar: “korban” adalah objek yang pasif dan teraniaya, sedangkan “kurban” adalah subjek yang aktif memilih untuk mendekatkan diri. Motivasi utamanya haruslah cinta, bukan rasa takut atau sekadar transaksi pahala.

“Hikmah kurban yang sesungguhnya adalah latihan tahunan untuk ‘menyembelih’ ego kita dan melepaskan keterikatan hati pada apa pun yang selain Allah,” jelas Ali.

Menurutnya, kisah Nabi Ibrahim yang rela menyerahkan Ismail adalah bukti tertinggi dari cinta yang mempercayakan segala sesuatu kepada Sang Pencipta. Dalam konteks ini, kurban menjadi cermin bagi kita untuk terus mengikis ketergantungan pada duniawi dan melatih hati agar lebih ringan melangkah menuju-Nya.

Refleksi tentang penyelarasan kehendak ini kemudian diperdalam Ali melalui simbolisme ritual haji, khususnya tawaf dan sai. Ia menjelaskan bahwa tawaf yang bergerak berlawanan arah jarum jam mengelilingi Ka’bah sebenarnya lebih dari sekadar manasik, ia adalah simbolisme kosmis yang mengingatkan kita bahwa seluruh kehidupan dan alam semesta sejatinya berpusat dan mengitari Allah. Sementara sai, yang mereplikasi ikhtiar Siti Hajar berlari kecil antara Shafa dan Marwah, mengajarkan etos “berusaha maksimal tanpa jaminan hasil”, karena akhir dari segala urusan sepenuhnya berada di tangan Allah.

Ali pun mengkritik pendangkalan makna ritual yang kerap terjadi saat ini, baik dalam kurban maupun haji. Fokus yang terlalu sempit pada tata cara fisik, justru mengaburkan esensi spiritual dan dampak perbaikan moral. Ritual, baginya, harus berakhir pada transformasi karakter, bukan berhenti di permukaan kulit.

Hendra mengikat diskusi dengan refleksi sederhana: pengorbanan yang dilandasi cinta tidak terasa sebagai beban. Begitu pula kisah Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail; jika landasan ketaatan mereka murni Lillahi Ta’ala, maka perintah penyembelihan bukanlah penderitaan, melainkan puncak wujud cinta.

“Ketika landasannya adalah cinta, rasa berat itu hilang. Rela mengantar pasangan hujan-hujan atau begadang belajar bukanlah ‘pengorbanan’ yang memberatkan, melainkan ekspresi cinta untuk meraih sesuatu yang lebih besar,” tutur Hendra. Dari landasan cinta itu, Hendra menarik garis lurus pada dua jalur kepemimpinan yang sering kali dipertontonkan di hadapan kita. Ia membandingkan Jalan Ibrahim dengan Jalan Azazil.

“Jalan Ibrahim dimulai dari idealisme yang tulus menuju kebenaran dan kedekatan dengan Tuhan. Sebaliknya, jalan Azazil mungkin bermula dari idealisme, namun isinya adalah kemarahan yang kontraproduktif dan berujung pada keterputusan,” jelasnya.

Hendra mengajak jamaah untuk berhenti sejenak dan melakukan introspeksi: kapan terakhir kali kita benar-benar merasa dekat dengan apa yang kita kejar? Apakah langkah kita masih dipandu oleh kerinduan pada Sang Pencipta, atau telah terseret oleh dendam dan ambisi yang mengikis makna?

Ian L. Betts menutup sesi pertama dengan pesan universal yang disampaikan dalam bahasa Inggris, menekankan bahwa tujuan fundamental Kenduri Cinta bukanlah ritual, tapi kedekatan—penyatuan diri dengan Sang Pencipta. Menurut Ian, jalan menuju kedekatan itu ditempuh melalui “ritme” Islam yang berdenyut teratur: shalawat, zikir, serta siklus ibadah seperti puasa dan kurban.

“We all have, sometimes within us, that small God called ego.” —Ian L. Betts


“We learn that Cak Nun makes the distinction between religion as the institution, religion as the ritual, and religion as the method towards closeness and unification with God,” ujarnya mengingatkan pembedaan mendasar yang kerap diajarkan Cak Nun. Dalam kerangka ini, agama bukan sekadar wadah kelembagaan atau rutinitas belaka, melainkan metode hidup yang mengarahkan hati pada penyatuan Ilahi.

Namun, Ian juga memperingatkan bahaya pengorbanan yang tersesat arah. Dalam kehidupan modern, kita sering mengorbankan keluarga demi status, kebenaran demi kuasa, kedamaian demi ambisi, atau nurani demi ideologi. Idola terbesar yang sebenarnya menuntut pengorbanan adalah ego di dalam diri kita sendiri.

“We all have, sometimes within us, that small God called ego, and the biggest sacrifice we can make is to let our ego go; otherwise, we become slaves to a system that we create ourselves,” tegas Ian. Jika ego tidak dikurbankan setiap hari, manusia justru akan diperbudak oleh sistem ciptaannya sendiri, semakin menjauh dari hakikat taqarrub.

Mengaitkan hal ini dengan kisah Nabi Ibrahim, Ian menyebutnya sebagai sebuah revolusi personal yang bermula dari tanggung jawab. Kepemimpinan sejati, seperti yang dicontohkan Ibrahim, lahir dari pengorbanan diri dan keberanian memikul akuntabilitas. Perubahan tidak bisa dimulai dari luar; ia harus tumbuh dari akal yang jernih dan adab yang terjaga, yang keduanya mensyaratkan pengorbanan ego yang berat namun niscaya. Dalam ritme tanggung jawab inilah, setiap langkah kecil menuju keluarga dan komunitas menjadi bagian dari ibadah yang sesungguhnya.

Ian lalu menyelipkan refleksi pribadi yang menyentuh: pertemuannya dengan Cak Nun pada Mei 1998. Tanggal itu bukan kebetulan, melainkan resonansi antara ritme hidupnya dengan ritme sejarah bangsa saat Reformasi bergulir. Dari pertemuan itulah, ia menemukan pola yang konsisten hingga hari ini. Menutup bagiannya, Ian mengajak seluruh jamaah untuk menyatukan niat malam ini: berusaha mendekat kepada Allah, meski menyadari bahwa kedekatan sempurna mungkin takkan pernah sepenuhnya tergapai. Justru dalam ikhtiar itulah esensi jalan spiritual kita terletak.

Sebagai penegasan atas ajakan itu, suasana kemudian beralih ke dimensi puitis ketika Munawir membacakan puisi berjudul Berdekatkankah Kita karya Emha Ainun Nadjib. Lewat bait-bait yang mempertanyakan paradoks jarak dan rasa, beliau menulis: “Berdekatkankah kita sedang rasa teramat jauh? Tapi berjauhkankah kita sedang rasa begini dekat?” Puisi ini menjadi representasi kerinduan spiritual—baik kepada Mbah Nun maupun kepada Sang Kekasih (Tuhan), di mana keheningan mengajarkan komitmen cinta yang “tak mendua”.

Merespon pembacaan tersebut, Ian menegaskan bahwa meski secara fisik mungkin terpisah, kehadiran di forum Maiyah justru merajut hati menjadi dekat. Ia kemudian memimpin bacaan Al-Fatihah, mengalirkan doa dan ketenangan untuk almarhum Mas Uki Bayu Sejati, sebagai bentuk penghormatan dan pengingat akan kefanaan yang justru mempertajam kerinduan pada Yang Kekal.

Rizal menutup rangkaian sesi pertama dengan sebuah metafora sederhana. Ia mengingatkan bahwa debu yang beterbangan sendirian mungkin tampak hina dan mengganggu, namun ketika berkumpul, ia justru bisa menjadi suci dan mensucikan. Pesan ini selaras dengan semangat sinau bareng: dalam kebersamaan, kelemahan individu lebur menjadi kekuatan kolektif yang membersihkan hati. Usai penutupan itu, acara memasuki jeda pertama. Tim Hadroh Al-Hidayah yang memang sekampung dengan Munawir diundang naik ke panggung, membawa alunan yang akan mengantar jamaah memasuki suasana refleksi berikutnya.

“Bekerja untuk menafkahi diri/keluarga adalah jihad fisabilillah.” —Habib Jafar


Setelah jeda penampilan tim hadroh Al-Hidayah, sesi kedua dibuka oleh Fahmi. Dengan hangat, ia menyambut kehadiran Habib Ja’far yang akhirnya bisa melingkar bersama setelah jadwal yang belum berjodoh. Fahmi kembali memperkenalkan tema malam ini, Langgam Qoroba, yang mengajak jamaah merenungkan hikmah Idul Adha melalui kisah Nabi Ibrahim dan Ismail. Poin kuncinya tegas: pengorbanan sejati bukan sekadar memberi apa yang kita miliki, seperti sedekah harta, melainkan rela melepaskan sesuatu yang paling dicintai, dirindukan, dan telah lama dinanti.

Dari situ, Fahmi mengajukan pertanyaan pemantik yang menghubungkan kisah kurban dengan konsep Fatwa Hati dalam lagu Letto. Jika Nabi Ibrahim mendapatkan “pertanda” yang jelas untuk menyembelih Ismail, bagaimana manusia modern memastikan bahwa mereka sedang menangkap “pertanda” yang sahih, bukan sekadar impuls atau “mak jedul”? Ia juga meminta perspektif lintas iman dari Kris Tan mengenai apakah tradisi Konghucu memiliki ajaran serupa.

Sebelum masuk ke inti pesan, Habib Ja’far membuka tanggapan dengan candaan ringan bahwa dirinya kini telah menjadi “Habib default” di Kenduri Cinta karena disambut dengan hadroh. Ia melanjutkan bahwa langgam pada hakikatnya adalah soal “cara membaca”. Dalam Islam, perintah Iqra tidak pernah direduksi sekadar membaca huruf di atas kertas, melainkan membaca realitas, dimensi spiritual, hingga diri sendiri (fil afaq wa anfusihim).

Habib Ja’far mencontohkan betapa krusialnya “langgam” atau cara membaca dalam kehidupan sehari-hari. Salah membaca nada “terserah” di WhatsApp pasangan, misalnya, bisa memicu pertengkaran. Begitu pula dalam konteks keagamaan: pertanyaan “Bolehkah menikah dengan orang Konghucu?” yang dijawab “Tidak harus Islam” akan bermakna beda total tergantung di mana pembaca berhenti, apakah berhenti setelah kata “tidak” atau setelah kata “Islam”.

“Kesalahan ‘langgam’ atau cara membaca dapat menghasilkan pengetahuan yang salah. Cara berhenti (wakaf) yang berbeda mengubah makna secara fundamental,” tegasnya. Ia bahkan menyoroti tiga momen kritis dalam shalat—takbiratul ihram, sujud, dan bacaan Iyyaka na’budu—di mana ketepatan “cara baca” bukan hanya soal tata bahasa, melainkan kehadiran hati dan penghambaan total.

Habib Ja’far lalu mengutip imajinasi Cak Nun: seandainya Nabi Ibrahim muncul hari ini dan menyatakan akan menyembelih anaknya, masyarakat mungkin langsung viral-kan di TikTok untuk mencegah “kekejaman”. Ini menunjukkan kita memang semakin peka membaca tanda di permukaan, tetapi justru sering gagal membaca tanda yang lebih dalam, seperti mimpi yang menjadi ujian keimanan.

Hidup, menurut Habib Ja’far, adalah seni membaca tanda: kapan berangkat, kapan pulang, kapan cukup, kapan berhenti. Dari sini, ia melakukan dekonstruksi epistemologis terhadap kata “korban”. Selama ini, kata itu dipahami sebagai objek dalam narasi duka. Padahal, dari akar qoroba, “korban” seharusnya dimaknai sebagai subjek aktif dalam konteks suka yang dirayakan.

“Jangan mau jadi korban yang pasif, tapi jadilah pelaku kurban yang sadar,” ujarnya. Beliau memperluas makna jihad: bukan hanya perang, tapi juga jihad tarbawi (pendidikan), jihad iqtisadi (ekonomi). Bekerja untuk menafkahi diri/keluarga adalah jihad fisabilillah. Kuncinya ada pada niat dan perspektif. Apakah kita merasa “dimanfaatkan” (objek) atau “bermanfaat” (subjek)? Selaras dengan itu, pertanyaan eksistensial “Kenapa harus hidup?” muncul dari mentalitas korban. Ubah menjadi “Apa peran yang Tuhan kehendaki?”, maka hidup bermakna. Pergeseran perspektif semacam inilah yang mengubah narasi korban menjadi ruang yang bermakna.

Lebih dalam lagi, Habib Ja’far mengingatkan tentang bahaya rasa kepemilikan (sense of ownership) yang berlebihan. Nabi Ibrahim lama menanti kelahiran Nabi Ismail, lalu diuji untuk melepaskannya. Ini mengajarkan bahwa segala yang kita cintai sejatinya adalah amanah. Ujian terbesar sering kali berupa “Ismail” kita sendiri: jabatan, harta, keturunan, hobi, atau gengsi yang justru berpotensi melalaikan kita dari Allah.

“Cari ‘Ismail’-mu dengan ‘langgam’ membaca yang tepat. Kita harus mengidentifikasi ‘Ismail’ kita, segala sesuatu yang kita cintai secara berlebihan, hingga cinta itu membutakan dan melalaikan kita dari cinta kepada Allah dan Rasul-Nya,” pungkasnya.

“Konghucu adalah tradisi yang terbuka terhadap jalan spiritual lain.” —Kris Tan


Sebelum mengalihkan diskusi ke Kris Tan, Fahmi menambahkan betapa distraksi bisa merasuki ruang paling suci sekalipun: saat tahiyat akhir di depan Ka’bah, banyak jamaah yang pikirannya sudah lari berebut mencium Hajar Aswad—padahal hukumnya tidak wajib. Ini membuktikan bahwa godaan justru sering membesar ketika kita merasa sudah berada di “puncak” spiritual.

Kris Tan melanjutkan diskusi dengan jawaban jujur: tradisi Konghucu tidak memiliki kisah yang persis mirip Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun, ia menyoroti kemiripan arketipe, seperti kisah Nabi Nuh dengan Sheng Ren Fu Xi, atau Nabi Yusuf dengan Sun the Great.

Ia lalu menjelaskan tradisi berkurban dalam Konghucu yang biasanya dilakukan saat Imlek, menggunakan sapi, babi, atau kambing. Kambing dipilih bukan tanpa alasan; posisi kaki anak kambing saat menyusu menyerupai sikap sujud, menjadikannya simbol kepatuhan. Hewan kurban pun harus yang terbaik, tanpa cacat, sebagai wujud keseriusan relasi dengan Sang Hyang Tian. Sayangnya, pragmatisme modern mengganti hewan kurban dengan boneka atau kue, dengan dalih pengaruh Buddhisme Mahayana yang melarang membunuh makhluk hidup karena konsep reinkarnasi.

Inti ajaran Konghucu, menurut Kris Tan, terletak pada wasathiah (keseimbangan) dan proses bertahap. Kitab Shie Jing (The Great Learning) mengajarkan alur yang runtut: dari meneliti hakikat, meluaskan pengetahuan, meneguhkan hati, memperbaiki diri, hingga berdampak pada keluarga, masyarakat, negara, dan alam semesta. Meski demikian, Kris Tan menegaskan bahwa Konghucu adalah tradisi yang terbuka terhadap jalan spiritual lain, sehingga ia merasa nyaman belajar dari forum ini dan mengapresiasi kedalaman pembahasan Habib Jafar.

“Dengan keseimbangan, alam semesta akan berbicara kepada kita.” —Sabrang


Sabrang menyambung diskusi dengan pendekatan analitis yang tajam. Pertama-tama, ia mempertanyakan definisi “membaca”.

“Membaca adalah menangkap realitas di luar diri dan mengubahnya menjadi ‘makna’. ‘Makna’ sendiri adalah segala sesuatu yang, setelah diserap, menghasilkan transformasi dalam diri individu,” jelasnya.

Bagi Sabrang, membaca bukan sekadar memindai teks, melainkan menangkap realitas di luar diri dan mengubahnya menjadi makna, di mana makna itu sendiri adalah segala sesuatu yang melahirkan transformasi internal, baik berupa pemahaman, getaran hati, maupun perubahan perilaku.

Sabrang lalu memperkenalkan konsep “indra dalam”. Selain lima indra fisik dan akal, manusia dikaruniai dimensi batin (hati) yang menangkap informasi dari alam non-fisik. Fatwa Hati (istafti qolbaka) adalah mekanisme kerja indra dalam ini. Masalahnya, indra fisik yang terlalu dominan dan “berisik” sering kali mematikan sensitivitas kita terhadap sinyal batin. Puasa, salat, dan ibadah lainnya justru berfungsi untuk “menenangkan” dominasi indra lahiriah sementara, agar indra dalam bisa bersuara dan membimbing kita pada “dunia yang sesungguhnya”.

Overthinking, menurut Sabrang, adalah gejala ketidakseimbangan—ketika satu indra (biasanya akal) mengambil alih. Solusinya adalah kembali pada harmoni melalui metodologi qurban dan prinsip wasathiah. Ketika semua indra seimbang, manusia selaras dengan alam semesta, mampu “mendengar” apa yang alam katakan, dan bertindak dengan keyakinan yang jernih tanpa perlu konfirmasi berlebihan. Pada level ini, “korban” bukan lagi narasi pasif, melainkan teriakan informasi penting yang mengingatkan manusia untuk kembali menjaga keseimbangan.

“Tidak ada kata ‘korban’ dalam arti pasif, yang ada adalah proses aktif menuju harmoni. Dengan keseimbangan, alam semesta akan berbicara kepada kita,” ujarnya.

Dengan penutup yang menggugah dari Sabrang, sesi kedua mencapai klimaks reflektifnya. Sebelum memasuki jeda dua, jamaah diajak kembali merenungkan bahwa qoroba bukanlah tujuan akhir yang statis, melainkan jalan dinamis yang menuntut pembacaan yang jernih, pengorbanan yang sadar, dan keseimbangan yang terus dijaga. Tim Hadroh Al-Hidayah kemudian kembali mengisi jeda dengan alunan sholawat yang menenangkan, mengantar jamaah ke dalam keheningan sebelum melanjutkan rangkaian malam.

“Cintailah Tuhanmu melebihi cintamu kepada manusia.” —Habib Jafar


Sesi ketiga dibuka oleh Mizani, yang mengatur mekanisme tanya jawab dengan mengundang Sabrang, Kris Tan, Habib Ja’far, dan Fahmi kembali ke panggung. Mizani membuka peluang bagi jamaah yang ingin bertanya.

Muhammad Zainal Abidin dari Tangerang membuka dengan testimoni transformatif: pengalamannya dalam sinau bareng di Kenduri Cinta, menggeser pandangan keislamannya dari hitam-putih menjadi lebih lentur dan berwarna. Ia juga menginternalisasi filosofi hujan yang kerap dibahas Cak Nun dengan merujuk pada firman Waja’alna minal ma’i kulla syai’in hayin, lalu mengikatnya dengan ikhtiar pribadi—mandi dan minum air hujan bersama istri setelah lama menanti keturunan.

“Keterhubungan antara konsep spiritual, firman Tuhan, dan elemen alam ini menjadi landasan ikhtiar saya, yang akhirnya membuahkan anugerah keturunan,” ujarnya, sebelum mengajukan pertanyaan mendasar: bagaimana cara menjadi orang tua yang baik dan benar?

Pertanyaan berikutnya dilontarkan Yogi Saputra dari Flores, yang mengutip nasihat Habib Ja’far “Cintailah Tuhanmu melebihi cintamu kepada manusia”. Ia bertanya, bagaimana jika cinta kepada sesama justru lahir karena kita melihat manifestasi Tuhan dalam diri mereka? Apakah cinta yang demikian bisa dikategorikan sebagai bagian dari cinta kepada Tuhan itu sendiri?

Firdaus dari Makassar membawa diskusi ke ranah epistemologis. Ia mendefinisikan intelijensi sebagai kemampuan membedakan persamaan dan perbedaan, lalu mengaitkannya dengan Surah Al-Baqarah ayat 31 tentang Adam yang diajari “nama-nama” segala sesuatu. Pertanyaannya: apakah tugas manusia sebagai khalifah di muka bumi ini sesungguhnya “menemukan kembali” nama-nama yang telah tercatat di Lauhul Mahfuz melalui penelurusan ilmu, sebagai upaya mendekati pemahaman Tuhan yang maha spesifik?

Pertanyaan praktis sekaligus kultural kemudian diajukan Hisyam dari Cilacap. Ia menanggapi penjelasan Habib Ja’far sebelumnya dengan menanyakan kualifikasi “guru yang mati syahid”—apakah mensyaratkan kompetensi formal, atau cukup dengan aktivitas mengajar itu sendiri? Lebih lanjut, ia meminta pandangan Sabrang tentang bagaimana pendidikan dapat dikontekstualisasikan agar tetap berakar pada kebudayaan lokal, namun tidak kehilangan relevansinya di tengah arus peradaban modern yang terus bergerak.

“Ketelitian berbahasa secara literal membentuk struktur otak.” —Sabrang


Habib Ja’far menanggapi dengan membuka ruang optimisme spiritual. Mengutip Wallahu mu’adzdzibuhum wa anta fihim, ia menegaskan bahwa kehadiran Nabi Muhammad kini bersifat batiniah, yang dapat diundang secara mudah melalui shalawat, jauh melampaui protokol keduniawian.

Menanggapi testimoni tentang hujan, Habib mengingatkan bahwa air adalah sumber kehidupan empiris, dan bencana yang terjadi bukan karena airnya salah, melainkan akibat ketidakbecusan manusia mengelola alam. Prinsip husnudzan terhadap fenomena alam, menurutnya, harus dipegang teguh.

Ia juga menyindir keras kebangkitan “agama-agama baru” seperti veganisme ekstrem atau saintisme yang justru lebih kaku dan takfiri daripada agama konvensional, sembari mengingatkan bahwa dalam Islam, alam adalah subjek yang bertasbih dan hewan kurban pun memiliki aspirasi spiritual.

Terkait parenting, Habib menekankan tiga hak anak yang sering terlupakan: didoakan (bahkan dalam kemarahan), diberi nama yang baik (berbasis Al-Qur’an, bukan tren AI atau selebritas, karena nama adalah doa), dan mendapat akses pendidikan.

“Diskursus kita sering timpang. Kita kaya akan teori tentang ‘anak durhaka’, tetapi nyaris tidak memiliki kosakata untuk ‘orang tua durhaka’. Kita fasih menuntut HAM, tetapi lupa pada WAM (Wajib Asasi Manusia),” ujarnya.

Ia menutup responsnya dengan konsep cinta Ibn Arabi: cinta kepada makhluk sejatinya adalah tangga menuju cinta Sang Pencipta, karena Tuhan bersifat “pencemburu” yang rindu dilampaui oleh segala bentuk kasih manusia.

Kris Tan melengkapi perspektif ini dengan membedakan Agape (cinta memberi tanpa pamrih) dan Amor (cinta yang menuntut timbal balik). Dalam tradisi Timur, spiritualitas dimaknai sebagai pencarian “hati yang lepas”, di mana Taoisme mengajarkan wu wei (mengalir tanpa memaksa) dan Konghucu menekankan harmoni serta perbaikan diri.

Melalui analogi klasik tiga tradisi mencicipi cuka—Konfusius menyebutnya asam, Buddha menyebutnya pahit, Laozi menyebutnya manis—Kris Tan menunjukkan bahwa realitas yang sama dapat dimaknai berbeda tergantung sudut pandang dan respons kita. Kunci hidup harmonis, lanjutnya, terletak pada kemampuan mengendalikan hawa nafsu di titik tengah, menjaga ritme relasi dengan Tuhan melalui ritual, dan terus belajar dari tingkat rendah menuju tinggi.

Sabrang kemudian masuk dengan pendekatan analitis mengenai bahasa dan simbol. Ia menjelaskan konsep Homo Symbolicum: manusia mampu memberi nama dan simbol pada pengalaman, sehingga memiliki “alam semesta dalam kepala” yang memungkinkan simulasi mental dan pembelajaran tanpa pengalaman langsung. Namun, bahasa juga memiliki batas; ia membentuk realitas sosial, tetapi sering kali gagal menerjemahkan pengalaman subjektif yang intim.

“Ketelitian berbahasa secara literal membentuk struktur otak. Riset menunjukkan bahwa multilingualisme tidak hanya meningkatkan ketajaman kognitif, tetapi juga secara signifikan menurunkan risiko penyakit neurodegeneratif seperti stroke,” tegas Sabrang.

Ia menjawab pertanyaan Hisyam dengan membedakan pendidikan (transfer ilmu) dan budaya (yang harus dihidupi). Budaya, baginya, adalah komunikasi tanpa kata yang menyampaikan makna. Mengajarkannya secara kognitif adalah kekeliruan; ia hanya lahir melalui praktik konsistensi, sebagaimana Maiyah yang selama puluhan tahun membangun budaya baru lewat kebersamaan, belajar, dan tanggung jawab tanpa doktrin kaku.

Pukul 02.04 WIB, rangkaian Kenduri Cinta mencapai puncak reflektifnya ketika lantunan Shohibu Baiti berkumandang, membawa seluruh jamaah ke dalam kesadaran yang menyatukan segala pembahasan malam ini: Allah adalah tuan rumah hati kita semua.

Segala diskusi tentang pengorbanan, cara membaca tanda, keseimbangan indra, hak anak, etika guru-murid, hingga bahasa dan budaya, pada hakikatnya adalah upaya merapikan “rumah” batin agar layak dihuni oleh Sang Pemilik sejati. Ketika Nabi Ibrahim rela melepaskan Ismail, ketika kita belajar membedakan korban dan kurban, ketika Habib Ja’far mengingatkan tentang husnudzan dan nama yang penuh doa, ketika Kris Tan mengajak kita mengalir dalam wu wei, dan ketika Sabrang menegaskan bahwa budaya adalah laku tanpa kata—semuanya menuntun pada satu simpul: qoroba.

Bukan tentang meninggalkan dunia, tetapi tentang menjadikan setiap detak hati, setiap pilihan kata, dan setiap interaksi sebagai ruang tamu yang senantiasa siap menyambut kehadiran-Nya. Di bawah naungan Shohibu Baiti, jamaah diajak menyadari bahwa sejauh apa pun kita berkelana, sejauh apa pun ego dan “Ismail” kita menggoda, pintu hati tetap harus terbuka, karena pada akhirnya, hanya Dialah yang berhak memimpin, menjaga, dan memenuhi setiap ruang di dalamnya.

Teks: Redaksi KC / Haddad

Foto: Redaksi KC / Yudi – Auval

SendTweetShare
Previous Post

Bersama Tanpa Harus Seragam

Redaksi Kenduri Cinta

Redaksi Kenduri Cinta

Redaktur Kenduri Cinta

Related Posts

REPORTASE: AKTIVASI NASIB
Reportase

REPORTASE: AKTIVASI NASIB

April 17, 2026
Reportase: Upa Angkara
Reportase

Reportase: Upa Angkara

March 12, 2026
REPORTASE: METRONOM
Reportase

REPORTASE: METRONOM

February 20, 2026
REPORTASE: MILLATA HANIFA
Reportase

REPORTASE: MILLATA HANIFA

January 15, 2026
REPORTASE: WARTHASASTRA
Reportase

REPORTASE: WARTHASASTRA

December 18, 2025
Reportase: Fragmen Kesadaran
Reportase

Reportase: Fragmen Kesadaran

November 19, 2025

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download

Copyright © 2025 Kenduri Cinta