KITA hampir selalu menyebut kebersamaan dengan diksi yang dianggap menyenangkan. Kata itu membuat orang membayangkan dalam sebuah rumah, pertemanan, musyawarah, jamaah, organisasi, juga bangsa yang saling menjaga. Namun, di balik pujian terhadap kebersamaan, sering bersembunyi hasrat yang lebih gelap: kita ingin bersama, tetapi diam-diam berharap orang lain berpikir seperti kita, memilih seperti kita, dan memandang dunia dengan ukuran yang kita anggap paling benar.
Di situlah kebersamaan pelan-pelan mulai bergeser. Ia tidak lagi menjadi ruang perjumpaan, melainkan ruang penyesuaian. Yang berbeda dianggap mengganggu irama. Yang tidak sejalan dianggap mengurangi kekompakan. Yang tidak masuk barisan dicurigai sebagai ancaman. Akibatnya, kita bisa ramai tanpa benar-benar rukun, dekat secara fisik, tetapi berjauhan secara batin. Keramaian semacam itu tampak kokoh dari luar, padahal rapuh di dalam.
Padahal, kehidupan tidak pernah tumbuh dari keseragaman yang dipaksakan. Ia justru matang ketika manusia belajar merawat perbedaan tanpa saling meniadakan. Bersama tidak identik dengan menjadi sama.
Bersama adalah kesediaan untuk tetap berjalan berdampingan, meski warna, jalan pikir, pengalaman hidup, dan pilihan-pilihan kita tidak seluruhnya serupa.
Rukun Bukan Berarti Serupa
Salah satu kekeliruan yang masih kuat hidup di tengah kita ialah anggapan bahwa damai hanya mungkin tercapai jika semua orang satu suara. Seolah-olah kerukunan harus dibayar dengan kesamaan pendapat, kesamaan cara hidup, bahkan kesamaan selera. Padahal, persaudaraan bukanlah penyerahan diri pada bentuk yang seragam. Persaudaraan adalah kemampuan untuk tetap terhubung tanpa harus saling menyalin.
Keseragaman memang tampak menenangkan. Ia membuat barisan terlihat rapi, memudahkan pengelolaan, dan memberi ilusi bahwa segala sesuatu sedang baik-baik saja. Akan tetapi, hidup yang terlalu dipaksa seragam lama-kelamaan kehilangan daya hidupnya. Tidak ada ruang bagi percakapan yang jujur. Tidak ada tempat bagi koreksi yang sehat. Tidak ada penghormatan terhadap keunikan yang justru membuat kehidupan menjadi kaya.
Kita bisa melihat gejalanya di mana-mana. Dalam keluarga, hubungan sering merenggang bukan karena tidak ada kasih sayang, melainkan karena masing-masing ingin menjadi ukuran bagi yang lain. Dalam pergaulan, orang mudah tersinggung hanya karena temannya tidak sepaham. Dalam masyarakat, perbedaan pilihan politik, keyakinan, atau gaya hidup cepat berubah menjadi jarak sosial. Kita terlalu sering memperlakukan perbedaan sebagai ancaman, padahal tidak setiap perbedaan adalah permusuhan.
Yang Menyatukan Bukan Kesamaan Melainkan Arah
Kalau kita mau belajar dari kehidupan, hampir semua yang hidup justru bekerja lewat perbedaan. Mata tidak sama dengan tangan. Tangan tidak sama dengan kaki. Tetapi, justru karena berbeda, tubuh bisa menjalankan fungsinya secara utuh. Hutan tidak tumbuh dari satu jenis pohon. Musik tidak menjadi indah karena semua alat memainkan bunyi yang sama. Harmoni lahir bukan dari penyeragaman, melainkan dari kemampuan tiap unsur menempati perannya.
Demikian pula hidup bersama. Komunitas, organisasi, dan bangsa tidak menjadi sehat karena semua anggotanya identik, melainkan karena mereka tahu untuk apa mereka bersama. Kesatuan tidak lahir dari hilangnya perbedaan, tetapi dari matangnya tujuan. Selama orientasinya adalah kebaikan bersama, perbedaan tidak perlu dibaca sebagai gangguan. Ia justru dapat menjadi sumber kejernihan, sumber koreksi, dan sumber kebijaksanaan.
Karena itu, masalah kita sesungguhnya bukan terlalu banyak perbedaan. Yang sering menjadi masalah adalah rapuhnya tujuan bersama dan kurangnya adab untuk mengelola perbedaan itu. Ketika tujuan bersama mengecil, yang membesar adalah ego kelompok. Ketika adab melemah, yang hadir bukan dialog, melainkan perlombaan untuk saling meniadakan.
Maiyah dan Adab Kebersamaan
Di titik inilah pandangan Cak Nun menjadi penting untuk dihadirkan. Dalam jagat Maiyah, kebersamaan tidak diletakkan sebagai proyek penyeragaman, melainkan sebagai ruang pertemuan yang menumbuhkan kejernihan. Dalam salah satu tulisan di CakNun.com dengan judul “Empat Poin Tentang Maiyah”, Maiyah digambarkan sebagai ruang tempat orang “duduk bareng, sinau bareng” untuk mencari jalan keluar atas pelbagai persoalan (Erika, 2022). Pada rumusan yang lain, disebut pula bahwa di Maiyah “semua adalah murid dan semua adalah guru” (Erika, 2022). Dua kalimat pendek ini menyimpan pandangan yang besar: kebersamaan yang sehat bukanlah hubungan antara yang paling tahu dan yang wajib tunduk, melainkan perjumpaan antarmanusia yang sama-sama belajar.
Gagasan itu penting, terutama di zaman ketika orang mudah sekali membangun kubu, memberi cap, dan merasa paling sahih sendiri. Dalam tulisan lain, pluralisme di Maiyah disebut “terejawantah dalam bentuk sinau bareng” yang bahkan bisa meretas konflik di akar rumput (Rony, 2024). Artinya, kebersamaan tidak berhenti pada slogan tentang toleransi. Ia harus diolah menjadi kebiasaan mendengar, kesediaan menimbang sudut pandang lain, dan keberanian menahan diri dari hasrat mendominasi.
Dari sini kita memperoleh pelajaran yang sangat berharga: yang perlu diperkuat lebih dahulu bukan kemenangan pendapat, melainkan adab perjumpaan. Sebab, tanpa adab, perbedaan sekecil apa pun mudah meledak menjadi pertengkaran. Tanpa kejernihan, kebersamaan hanya berubah menjadi kerumunan yang bising. Kita hadir bersama, tetapi tidak sungguh-sungguh bertemu.
Persaudaraan Adalah Latihan Batin
Persaudaraan tidak tumbuh dengan sendirinya. Ia memerlukan akar dan latihan. Ia memerlukan dasar batin yang membuat manusia tidak hidup semata-mata untuk menang sendiri. Ia juga memerlukan kedewasaan untuk mendengar tanpa tergesa membantah, memahami tanpa buru-buru menghakimi, dan memberi tempat tanpa merasa martabatnya berkurang.
Di sinilah kebersamaan menjadi lebih dari sekadar niat baik. Ia adalah kerja batin yang menuntut ketekunan. Orang perlu belajar membedakan mana prinsip yang memang harus dijaga dan mana hal-hal yang sesungguhnya hanya soal selera. Tidak semua perbedaan perlu dipertengkarkan. Tidak semua ketidaksamaan harus dianggap sebagai ancaman terhadap iman, identitas, atau harga diri.
Banyak hubungan retak bukan karena tidak ada cinta, melainkan karena tidak ada kelapangan. Banyak organisasi pecah bukan karena tidak punya tujuan, melainkan karena tidak cukup rendah hati untuk berbagi peran dan menerima koreksi. Banyak masyarakat tegang bukan karena terlalu beragam, melainkan karena terlalu sedikit kesediaan untuk mengelola keberagaman itu dengan kepala dingin dan hati yang jernih.
Merawat Indonesia Tanpa Menyeragamkan Indonesia
Bangsa ini sebenarnya sudah lama mewarisi kebijaksanaan semacam itu. Semboyan Bhinneka Tunggal Ika bukan ajakan untuk menghapus perbedaan, melainkan pengakuan bahwa kehidupan bersama memang dibangun di atas kenyataan yang majemuk. BPIP menjelaskan semboyan itu sebagai ikhtiar untuk tetap satu di tengah yang berbeda-beda (BPIP, 2023). Dengan kata lain, Indonesia sejak awal tidak dibayangkan sebagai negeri yang seragam, melainkan sebagai rumah bersama bagi banyak suara, banyak adat, banyak keyakinan, dan banyak cara hidup.
Sayangnya, semboyan sering berhenti sebagai hafalan. Ia indah diucapkan, tetapi belum selalu menjadi laku hidup. Kita bangga menyebut diri sebagai bangsa majemuk, tetapi dalam kehidupan sehari-hari masih mudah tergelincir pada kebiasaan mengotak-ngotakkan, mencurigai, dan menilai orang lain hanya dari identitas yang tampak di permukaan. Kita memuji keberagaman, tetapi sering panik ketika keberagaman itu hadir di depan mata kita sendiri.
Barangkali masalah kita bukan karena tidak tahu arti kebersamaan. Barangkali masalah kita justru karena terlalu ingin menguasainya. Kita ingin rukun, tetapi dengan syarat orang lain mengikuti bentuk yang kita sukai. Kita ingin damai, tetapi diam-diam tetap ingin menjadi pusat ukuran. Padahal selama kebersamaan masih dipahami sebagai penaklukan halus atas orang lain, selama itu pula persaudaraan akan mudah retak.
Saling Memberi Tempat
Karena itu, yang perlu kita rawat hari ini bukanlah keseragaman, melainkan kelapangan. Bukan sekadar barisan yang rapi, melainkan hati yang cukup luas untuk menerima kenyataan bahwa manusia memang diciptakan berbeda. Perbedaan tidak perlu dihapus agar persaudaraan tumbuh. Yang perlu dikurangi justru keangkuhan yang membuat kita merasa hanya diri kitalah ukuran yang sah bagi semua orang.
Bersama tanpa harus seragam adalah tanda kedewasaan. Ia lahir dari adab, dari kejernihan, dan dari kemampuan membedakan mana prinsip yang harus dijaga dan mana perkara-perkara kecil yang tidak perlu dibesarkan. Ia meminta kita untuk tidak panik pada perbedaan, tidak cepat memberi cap, dan tidak tergesa menyingkirkan yang tidak sama.
Pada akhirnya, yang membuat kita sungguh bersama bukan karena kita serupa, melainkan karena kita masih mau saling memberi tempat. Mungkin, justru di situlah persaudaraan menemukan bentuknya yang paling jernih: bukan ketika semua suara dipaksa menjadi satu, melainkan ketika banyak suara dapat tinggal dalam satu rumah tanpa saling meniadakan.
Catatan
Erika Novitasari, “Empat Poin Tentang Maiyah,” CakNun.com, terbit 14 Juli 2022, diperbarui 15 Juli 2022.
Rony K. Pratama, “Maiyah dalam Ruang Kajian Pluralisme,” CakNun.com, terbit 4 Agustus 2021, diperbarui 6 September 2024.
BPIP, “Begini Bunyi 5 Sila Pancasila, Lambang, dan Maknanya,” artikel BPIP, diakses April 2026; lihat pula BPIP, Garuda Pancasila: Sejarah Penciptaan Lambang Negara (2023).






