CAK NUN tentu sangat mencintai putra semata wayangnya saat itu: Sabrang Mowo Damar Panuluh. Kala itu, Sabrang masih duduk di kelas 6 SDN di Kota Metro, Lampung. Tinggal bersama ibundanya, Mbak Neneng Suryaningsih, setelah berpisah dengan Cak Nun. Meski tak lagi satu atap, jembatan kasih sayang dan komunikasi antara Cak Nun dan keluarga di Metro tetap terjalin sangat erat.
Hampir setiap bulan, Cak Nun, biasanya ditemani sahabat karibnya, wartawan Uki Bayu Sedjati, sibuk memilah buku untuk dikirimkan ke Metro. Jangan bayangkan kiriman itu berisi komik Manga Jepang atau buku pelajaran sekolah yang menjemukan. Buku-buku yang dikirim justru tergolong “berat” untuk ukuran anak SD: mulai dari Sufi Modern dan Tafsir Al-Azhar karya Buya Hamka, hingga karya sastra Mochtar Lubis.
Ajaibnya, setumpuk buku tebal itu ludes dibaca Sabrang dalam waktu kurang dari sebulan. Cak Nun sendiri sampai terheran-heran dan berkelakar kepada Mas Uki: “Iki dibaca opo dibakar sih, Ki?”
Dasarnya memang kutu buku, Sabrang kecil akan gelisah jika tak ada bacaan yang tersisa. Akhirnya, buku silat karya Bastian Tito seperti serial Wiro Sableng pun ikut jadi sasaran. Menariknya, di sini sisi kecerdikan Sabrang mulai tampak: ia menyewakan buku-buku itu kepada teman-temannya seharga seratus rupiah. Tapi dasar Sabrang, banyak temannya yang enggan membayar, dan ia pun tak tega menagihnya. Sejak dini, kecerdasan itu rupanya sudah berkelindan dengan laku welas asih.
Suatu ketika, Cak Nun meminta saya mencarikan guru mengaji untuk Sabrang. Saya lantas mendatangi Yayasan Tunas Melati dan bertemu Bapak Suroyo, hingga akhirnya menemukan seorang guru ngaji asal Kebumen. Saya antar langsung ke Metro untuk menetap selama tiga bulan di sana. Tiap malam, Sabrang mengaji di bawah bimbingan guru pilihan ayahnya.
Namun, cara Cak Nun mendidik memang berbeda. Cak Nun lebih banyak berdialog, bahkan sejak Sabrang masih sangat kecil. Ketuhanan dikenalkan bukan lewat doktrin kaku, melainkan lewat fenomena alam: tentang bagaimana siang berganti malam, gunung yang kokoh, hingga daun yang jatuh ke bumi. Sabrang diajak memahami Sang Pencipta melalui ciptaan-Nya.
Pernah suatu hari, Cak Nun menguji Sabrang dengan tugas yang sangat tak lazim: berjalan sejauh enam meter, tapi harus ditempuh dalam waktu lima belas menit.
Di saat dunia berlomba-lomba siapa yang tercepat, Cak Nun justru menguji siapa yang paling sabar. Sabrang melakukannya dengan serius, dan berhasil. Cak Nun begitu terharu hingga memeluk putranya erat-erat. Itu bukan sekadar permainan, melainkan latihan menahan diri, mengatur waktu batin, dan menjalani hidup dengan penuh kesadaran.
Hasil didikan itu membentuk Sabrang menjadi pribadi yang tenang, bahkan cenderung “dingin”. Ia tidak mudah meledak dalam sedih maupun bahagia. Begitu tenangnya, hingga Cak Nun sendiri pernah dibuat bingung.
Momen itu terjadi di Bandara Soekarno-Hatta saat Sabrang hendak berangkat kuliah ke Kanada. Ia justru berpelukan erat dengan ibu tirinya, Novia Kolopaking, tapi kepada Cak Nun? Ia tidak bersalaman sama sekali. Cak Nun hanya bisa bergumam heran, ”Yo opo anakku iki, berpisah kok gak gelem salaman…”
Di balik itu, Cak Nun adalah teladan kemandirian. Meski di Patangpuluhan banyak orang yang berebut ingin membantu, beliau tetap memilih mengunci pintu sendiri di malam hari atau mencuci mobilnya sendiri di pagi hari. Cak Nun tidak pernah memerintah.
Setiap libur sekolah, Sabrang sering ke Yogya diantar tantenya, Mbak Sari. Saya terkadang menemaninya berkeliling kota. Saat itu ia sudah SMP, dan sifat aslinya mulai keluar: usil luar biasa.
Pernah suatu malam di Stasiun Tugu, ia tiba-tiba menghilang di antara gerbong kereta. Ia sengaja bersembunyi, membuat saya kalang kabut setengah mati. Bayangkan perasaan saya: anak orang hilang, dan itu anaknya Cak Nun! “Asem betul Sabrang ini,” batin saya waktu itu.
Berjam-jam kemudian, ia muncul dengan senyum usil tanpa dosa. Cepat-cepat saya tuntun dia menuju Lesehan Malioboro, di depan kantor Biro Jawa Pos, tempat Cak Nun, Arief Afandi, dan kawan-kawan sedang nongkrong.
Di lesehan itulah, di antara kepulan asap rokok dan obrolan berat para tokoh, seperti Ashadi Siregar, Umar Kayam, hingga Yahya Staquf, Sabrang duduk menyempil. Ia belum banyak bicara, tapi di sana, di antara para pemikir besar itu, Sabrang sudah belajar satu hal penting: mendengar.






