Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
Home Esensia

Adab, Ilmu, dan Disorientasi Epistemik

Novan Putra Pratama by Novan Putra Pratama
April 25, 2026
in Esensia
Reading Time: 5 mins read
Adab, Ilmu, dan Disorientasi Epistemik

AKHIR-AKHIR ini kita—khususnya Muslim di Indonesia—dihadapkan pada berbagai fenomena keagamaan yang bagi saya unik sekaligus pelik. Fenomena ini unik karena hadir dalam bentuk dan medium yang relatif baru, namun juga pelik karena berkelindan dengan pola-pola keagamaan, yang mana cara pola atau gagasan ini beredar dan dimaknai mengalami perubahan yang cukup mengakar. Di tengah arus wacana dengan transisi begitu cepat, terfragmentasi, dan kerap dikonsumsi dalam bentuk clipping-an singkat, membuat banyak sekali konsep keislaman yang hadir di tengah kita tidak mampu dicerna secara utuh, kita dipaksa langsung menerima suatu formula yang siap pakai dan bisa jadi sulit digugat.

Situasi ini diperparah oleh minimnya instrumen intelektual dan kultural yang memadai untuk mempertanyakan kemapanan, terlebih ketika kemapanan tersebut telah dibungkus dengan simbol-simbol agama.

Dalam lanskap semacam inilah, salah satu fenomena yang perlu kita dudukkan secara serius adalah kemunculan jargon al-Adab fauq al-‘Ilm beserta turunan dan efek sampingnya. Jargon ini santer dipakai dan menjadi sangat familiar di layar gawai kita: muncul di TikTok, dikutip ulang di Instagram, dijadikan quotes of the day, dikukuhkan sebagai hujjah dalam kolom komentar, dan direproduksi tanpa henti. Namun, di sini yang cukup mengganggu, intensitas kemunculannya tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman pemahamannya.

Sebagai muslim, yang sangat ingin berjalan dalam koridor keilmuan Islam justru sangat jarang kita menyadari dan merefleksikan hal ini atau jargon ini sebagai gagasan, sebagai informasi, sebagai knowledge, hingga berakibat pada pengimplementasian jargon ini yang lebih mengarah pada penanda sikap dan legitimasi tertentu.

Pola ini menunjukkan suatu kenyataan bahwa jargon yang muncul di tengah kita bukan terutama sebagai gagasan yang dipahami, tapi lebih pada formula yang berulang kali direproduksi. Efeknya, kita tak lebih dari sekadar mengutip dan menyalin tanpa upaya serius untuk memahami konteks, maksud, dan implikasinya. Sejauh ini, manfaat paling dhohir dari jargon al-Adab fauq al-‘Ilm—jika boleh dikatakan demikian—lebih sering berfungsi sebagai alat defensif untuk menjaga dan melanggengkan otoritas pihak-pihak yang memiliki kepentingan tertentu.

Pada titik ini, problem yang lebih mendasar sebetulnya muncul. Kita jarang, atau bahkan hampir tidak pernah, mencoba mendobrak kebisuan yang menyelimuti jargon ini. Misalnya, dengan menanyakan secara kritis dari mana asal-muasal jargon ini? Dalam konteks apa dan situasi bagaimana jargon ini pertama kali dimunculkan? Bagaimana kedudukan ontologis dan epistemiknya dalam tradisi keilmuan Islam? Relasinya dengan ilmu itu sendiri bagaimana? Apakah bersifat hierarkis yang menempatkan adab di atas ilmu secara kaku ataukah integratif? Atau justru bahu-membahu untuk saling menjaga ke-balance-an hidup, baik secara individual maupun sosial?

Berangkat dari satu logika sederhana, kita sepakat bahwa jendela tidak lebih dulu ada daripada cahaya. Tapi, kita juga harus sepakat bahwa ketiadaan jendela—atau jendela yang tertutup rapat di satu ruang—membuat cahaya apa pun tidak akan pernah benar-benar masuk ke ruang hidup kita sebagai manusia. Apa yang dapat kita tarik dari sini adalah bahwa adab dan ilmu bukan sesuatu yang mestinya kita pertentangkan begitu jauh, apalagi sekadar dipersoalkan siapa yang mendahului siapa, sebab dalam tatanan wujud (order of being) keduanya adalah realitas yang saling mengandaikan.

Namun, “saling mengandaikan” di sini tidak berarti menempati kedudukan ontologis yang sama. Ilmu, dalam kultur keislaman, dipahami sebagai penyingkapan makna dan kebenaran—sebagai cahaya yang memungkinkan sesuatu tampak sebagaimana adanya. Sementara itu, adab hadir sebagai kesiapan batin dan sikap keberadaan manusia dalam menyambut dan menempatkan penyingkapan itu secara tepat.

Kita sadar dan harus sangat menginsafi bahwa relasi ontologis semacam ini tidak boleh berhenti dan stagnan pada pemahaman metafisika belaka. Sebab, pada akhirnya akan selalu muncul tuntutan mengenai penjelasan lebih panjang tentang bagaimana manusia mengenali, mengakses, dan menghidupi relasi tersebut. Untuk memahami dimensi epistemologinya, kita dapat menggunakan analogi peta dan kompas. Peta—katakanlah Google Maps—memberi informasi tentang letak dan tujuan, sementara kompas menentukan arah perjalanan dari posisi kita. Sebagaimana peta dan kompas hanya bermakna ketika digunakan secara bersamaan, demikian pula adab dan ilmu dalam ranah epistemologi: ilmu menunjukkan ke mana perjalanan menuju kebenaran, sementara adab memastikan bagaimana dan dalam arah apa perjalanan itu ditempuh.

Jika menengok ke era Islamic Golden Age, ketika ilmu pengetahuan telah menjadi urat nadi peradaban, adab di sini difungsikan sebagai penata batin agar kemudian ilmu tidak menjadi instrumen kesombongan, perebutan otoritas, atau pengacau makna. Ada ungkapan menarik, “Kami mempelajari adab selama 30 tahun, sedangkan kami mempelajari ilmu selama 20 tahun,” yang kerap kita salah artikan. Ketika kita melihat adanya kesenjangan waktu tempuh untuk mempelajari keduanya, spekulasi liar kita otomatis mengatakan: “Oh oke, berarti adab ini lebih lama untuk dipelajari, mungkin karena dia lebih penting.”

Padahal tidak demikian. Di kala itu, khazanah ilmu pengetahuan sudah semerbak. Pikiran dituangkan dalam tulisan, metodologinya mapan, argumentasi dipertarungkan. Jadi, membumisasikan adab kala itu menjadi sebuah ikhtiar menata batiniyah di tengah keberlimpahan ilmu pengetahuan.

Situasi di atas berbanding terbalik dengan apa yang berkembang hari ini. Ilmu pengetahuan tidak mengakar, tetapi jargon ini diterima dengan lapang dan antusias. Relasi ontologis dan epistemologis semacam ini tidak berhenti pada wilayah konseptual belaka.

Cara kita memahami adab dan ilmu akan selalu berdampak pada cara keduanya bekerja dalam realitas sosial. Ketika relasi tersebut direduksi menjadi slogan normatif, implikasinya tidak hanya memiskinkan interpretasi, tetapi juga membentuk konfigurasi otoritas tertentu.

Sekurangnya ada dua elemen yang merasa diuntungkan dengan viralnya jargon ini. Pertama, pihak-pihak yang sudah memiliki otoritas simbolik keagamaan dan sosial. Berkat jargon ini, muncul apa yang disebut oleh Foucault sebagai relasi kuasa yang semakin kuat, dan legitimasi moral ketokohan yang semakin kokoh. Tokoh-tokoh ini memang tak secara eksplisit menuangkan satu aturan agar pengikutnya tunduk, tapi dari pengulangan jargon, gestur, lebih-lebih penegasan nasab, ini yang kemudian membentuk iklim ketundukan, membentuk rasa sungkan, segan, bahkan takut.

Tokoh-tokoh ini pun, dalam banyak kasus, tidak selalu ditopang oleh keahlian dan tradisi keilmuan yang mumpuni. Seperti dikatakan sebelumnya, otoritas mereka lebih sering lahir dari simbol-simbol eksternal: garis keturunan yang terus ditegaskan, performa religius yang rapi, gaya tutur yang menenangkan, serta pengulangan jargon yang terdengar normatif dan “cari aman”. Dalam iklim semacam ini, keilmuan tidak lagi menjadi prasyarat utama bagi kewibawaan seorang tokoh, otoritas akhirnya bergeser ke arah representasi dan citra.

Kedua, dari sisi kita sebagai orang awam yang memang tidak terus menerus hidup dalam tradisi keilmuan yang serius, al-Adab fauqa al-‘Ilm ini menjadi justifikasi yang meninabobokan. Kita gembira ada hujjah yang bisa kita jadikan tameng untuk melindungi keengganan kita berproses secara intelektual. Bahasa konyolnya: “Percuma berilmu tapi korupsi,” atau “Percuma berilmu jika tak punya sopan santun,” hingga “Tak apa tak berilmu, yang penting beradab.” Adab saat ini diresepsi oleh kita sebagai sifat pasif untuk cari aman, tak peduli pergulatan intelektualnya seperti apa. Si tokoh ingin otoritasnya stabil, sedangkankita ingin kenyamanan kita tidak terusik.

Akhirnya, yang perlu sekali kita insafi adalah bahwa hari ini, al-Adab yang begitu kita sanjung itu—yang kita ulang-ulang hingga menjadi notifikasi wajib di majelis-majelis, di mimbar-mimbar, hingga di beranda-beranda gawai—yang kita bayangkan posisinya ada di atas dan mendahului segalanya, justru kini tereduksi oleh ketidakmampuan kita untuk mengupayakannya terus berjalan bersisian bersama al-‘Ilm.

Maka yang perlu kita pulihkan barangkali adalah kesadaran bahwa keduanya hanya bermakna ketika diupayakan hadir dengan saling mengandaikan dalam kehidupan berpikir dan bersikap. Tanpa ilmu, adab sudah barang pasti berubah menjadi kepatuhan yang kosong; tanpa adab, ilmu mudah dibelokkan menjadi instrumen kesombongan. Keduanya perlu kita ikhtiarkan bersama dalam praksis hidup yang dewasa.

SendTweetShare
Previous Post

Buku, Pena, dan Putus Asa

Novan Putra Pratama

Novan Putra Pratama

Related Posts

Buku, Pena, dan Putus Asa
Esensia

Buku, Pena, dan Putus Asa

April 23, 2026
Jeda Antara Mandat dan Nurani
Esensia

Jeda Antara Mandat dan Nurani

April 21, 2026
Peradaban di Tepi Kata
Esensia

Peradaban di Tepi Kata

April 19, 2026
Esensia

Gema di Jalan Sunyi

April 17, 2026
Media Teknologi yang Membentuk Kemanusiaan
Esensia

Media Teknologi yang Membentuk Kemanusiaan

April 15, 2026
Psiko-propaganda Membajak Emosi Kita
Esensia

Psiko-propaganda Membajak Emosi Kita

April 9, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download

Copyright © 2025 Kenduri Cinta