JAKARTA hari itu diguyur cuaca yang tak menentu. Hujan, panas, gerimis, lalu hujan kembali silih berganti sejak siang. Namun ketika malam tiba, perubahan cuaca itu justru menjadi latar yang mengantar jamaah berkumpul, menyiapkan diri memasuki Kenduri Cinta edisi Januari 2026.
Tepat pukul 20.00 WIB, forum dibuka dengan pembacaan Tawashshulan. Mizani, Munawir, Haddad, Rizal, dan Awan duduk di panggung, membersamai jamaah dalam lantunan sholawat dan doa yang mengalir tenang. Seperti biasa, pembukaan ini menjadi penanda awal perjumpaan: menyatukan niat, menata rasa, dan membuka ruang kebersamaan.
Suasana kemudian dilanjutkan dengan pembacaan puisi Masih Perlukah Air Mata karya Emha Ainun Nadjib. Jay—penggiat Kenduri Cinta sekaligus seniman Taman Ismail Marzuki—membacakan puisi tersebut, menghadirkan kata-kata yang menggugah sebagai pengantar refleksi sebelum forum bergerak ke sesi-sesi berikutnya.
Sesi mukadimah dimulai dengan sapaan hangat dari Mizani dan Ibnu kepada para jamaah, sebelum mengundang narasumber Pram, Juddin, Amien, dan Tri untuk naik ke panggung. Forum malam itu menjadi bagian dari Kenduri Cinta edisi 264: Millata Hanifa, tema yang telah digali secara mendalam selama empat minggu melalui forum rutin Reboan.

“Millah adalah jalan. Kita harus menjalaninya selangkah demi selangkah, bukan hanya terpaku pada hasil” —Ibnu
Mizani memoderasi sesi malam itu dengan tenang, dibantu oleh Ibnu yang kembali hadir setelah absen pada bulan sebelumnya. Kehadiran Ibnu terasa alami di panggung—menambah keseimbangan dan ritme, tanpa mengganggu alur, seolah menjadi bagian dari energi kolektif yang selalu hidup dalam setiap pertemuan Kenduri Cinta.
Ibnu membuka diskusi dengan mengajak jamaah mendoakan saudara-saudara di Sumatera yang tengah berduka, semoga Tuhan mengganti kerugian dan memberi kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan.
Ia kemudian menyinggung tema “Millata Hanifa”, jalan kebenaran yang terinspirasi dari kisah Nabi Ibrahim AS. Keberanian Nabi Ibrahim mempertanyakan kepercayaan umum, bahkan ayahnya sendiri, menjadi teladan mencari jalan lurus dalam dimensi sejarah, filosofis, dan spiritual.
Ibnu menekankan relevansi kisah itu hari ini: “Pemberhalaan kini bukan patung atau batu, tapi apa pun yang menguasai hidup kita—pekerjaan, jabatan, atau kekuasaan—hingga mengaburkan kesadaran dan kepekaan terhadap lingkungan sekitar.”
Pram membuka sesi dengan menjelaskan bahwa “millah” berarti jalan. Meski tampak ruwet, tujuannya tetap satu—keruwetan sering muncul karena nafsu manusia ingin diakui atau mengakomodasi kepentingannya sendiri. “Millah adalah jalan. Kita harus menjalaninya selangkah demi selangkah, bukan hanya terpaku pada hasil,” ujarnya.
Ia menekankan ajaran Nabi Ibrahim sebagai jalan yang lurus, berbeda dengan politeisme kuno yang bersifat transaksional. Tindakan Nabi Ibrahim menghancurkan patung dan mukjizat api yang dingin saat dibakar Raja Namrud, menurut Pram, menjadi pelajaran creative thinking dan pengendalian nafsu.
Forum Kenduri Cinta dianggap sebagai ruang untuk mengasah self-awareness dan kreativitas, sekaligus menanggalkan rasa superioritas agar diskusi berjalan terbuka. Pendekatan tadabbur, bukan sekadar tafsir, menumbuhkan rasa ingin tahu terhadap pesan Tuhan dalam Al-Qur’an.
Pram mengingatkan bahwa Allah menilai usaha, bukan hanya hasil. Tantangan dalam menempuh jalan ini adalah godaan untuk terlihat pintar atau terjebak budaya like and dislike di media sosial. “Sering kali orang bertindak demi pengakuan, bukan misi yang diemban. Hal inilah yang menjebak kita,” katanya.
Ia menekankan pentingnya bekerja profesional untuk menghidupi keluarga tanpa meninggalkan ibadah yang tepat. Menurutnya, niat utama kita seharusnya kembali kepada Allah sambil melayani sesama sebanyak-banyaknya, sebagai cara menumbuhkan integritas dan menghindari perilaku koruptif.

“Niat utama kita seharusnya kembali kepada Allah sambil melayani sesama sebanyak-banyaknya” —Pramono
Menanggapi paparan Pram, Ibnu menekankan bahwa forum Kenduri Cinta adalah wadah saling melayani. “Panggung ini bisa berdiri karena kontribusi bersama para jamaah,” ucapnya, mengingatkan bahwa keberlangsungan forum lahir dari partisipasi kolektif.
Ia lalu mengajak jamaah yang duduk di belakang untuk maju mengisi barisan depan, menegaskan bahwa keterlibatan setiap orang penting untuk membangun kebersamaan. Setelah itu, Ibnu mempersilakan Juddin untuk memberikan perspektifnya mengenai alasan pentingnya membahas tema Millata Hanifa dalam konteks hidup dan masyarakat saat ini.
Juddin menyoroti Nabi Ibrahim sebagai sosok disruptor yang melintasi zaman. Perjuangannya tidak hanya menghancurkan berhala fisik, tetapi juga berhala rohani. Ia menekankan bahwa tindakan Nabi Ibrahim menghancurkan produk bengkel ayahnya sendiri memunculkan pertanyaan: saleh atau durhaka? Namun, melalui kontemplasi dan leap of faith, perjalanan itu dipahami sebagai arahan langsung dari Allah.
Menurut Juddin, Nabi Ibrahim mengajarkan meminta keberkahan langsung kepada Tuhan tanpa perantara dan menempatkan skeptisisme serta keberanian menerima kenyataan sebagai etos dasar pencarian kebenaran. “Keinginan mencari kebenaran secara konsisten merupakan etos dasar yang memungkinkan manusia memajukan peradabannya,” ujarnya.
Ia kemudian menyinggung analogi lokal: perjuangan Nabi Ibrahim kini bisa ditemui dalam sosok “Boim” versi Betawi, menghadapi jebakan zaman dari pengaruh kumpeni hingga company. Berhala yang dulu berupa patung, kini muncul sebagai rekayasa finansial atau penggelapan pajak, yang menguji kesetiaan manusia kepada Allah.
Menutup paparan, Juddin mengajak jamaah merenung: “Apakah diri kita sudah menghancurkan berhala-berhala yang tidak terlihat itu?”. Sebuah pertanyaan sederhana, namun menggugah refleksi pribadi bagi jamah yang hadir.
Mizani menambahkan nuansa reflektif dengan mengutip kisah seekor semut yang mencoba memadamkan api yang membakar Nabi Ibrahim. Ia menekankan, meskipun peran semut itu kecil, keberpihakannya pada kebenaran menjadi simbol penting: bahwa setiap upaya, sekecil apapun, bermakna ketika diarahkan pada jalan yang lurus. Kisah ini mengingatkan jamaah bahwa kesadaran dan tindakan benar tidak selalu harus besar atau spektakuler; bahkan kontribusi terkecil, jika tulus, memiliki dampak moral dan spiritual
Amien membuka pemaparannya dengan kalimat sederhana: “Setiap zaman ada berhalanya. Bahkan kesenangan kita pun sering kali menjadi berhala.”
Ia menjelaskan, di era modern, berhala hadir dalam bentuk yang lebih beragam dibanding zaman nabi-nabi terdahulu. Uang, misalnya, sering dianggap sebagai berhala terbesar, menjadi alasan utama orang bekerja atau beraktivitas. Namun Amien menekankan perbedaan halus antara “memberhalakan uang”, yang menyadari hakikat benda mati, dengan “menuhankan uang”, yang menempatkannya sebagai pusat kehidupan.
Dalam forum reboan, Amien mengamati cara belajar bersama tanpa pihak dominan, sejalan dengan pesan Cak Nun tentang pentingnya berkumpul dalam kelompok kecil untuk mencari kebaikan. Semangat ini ia sebut sebagai “Ruang Ketiga”, ruang di luar aktivitas pekerjaan untuk saling berbagi pengalaman hidup. Reboan bukan soal label atau logo, melainkan semangat sinau bareng, belajar bersama tanpa hierarki.
Menyinggung kisah Nabi Ibrahim dan ayahnya, Amien menyoroti dinamika unik antara anak yang meneguhkan iman berbeda dengan profesi orang tua sebagai pembuat patung. Bahkan, ia berkelakar bahwa penghancuran patung bisa dimaknai sebagai strategi cerdas—agar terjadi “repeat order”—yang memicu refleksi dan perenungan jamaah.
Sebagai penutup, Amien mengulas kembali lima prinsip jalan kenabian menurut almarhum Syekh Nur Samad Kamba: kemandirian, penyucian jiwa, kearifan dan kebijaksanaan, amanah, dan cinta kasih. Prinsip-prinsip ini ia tekankan sebagai panduan praktis untuk menjalani kehidupan dengan integritas, kesadaran, dan keberpihakan pada kebenaran.
Tri membuka paparannya dengan menekankan panjangnya pembahasan tema Millata Hanifa di forum “reboan”, yang sampai membutuhkan empat sesi untuk menyingkap berbagai dimensi sosok Nabi Ibrahim. Ia memegang prinsip “Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya” sebagai pedoman hidup selama lima tahun terakhir.

“Keinginan mencari kebenaran secara konsisten merupakan etos dasar yang memungkinkan manusia memajukan peradabannya” —Arijuddin
Ia menyoroti berhala modern, yang tak lagi hanya berupa patung atau batu. Bagi generasi muda, ia muncul dalam bentuk likes, validasi eksternal, dan algoritma media sosial yang memicu hawa nafsu. “Berhala bukan sekadar patung fisik, melainkan sistem apa pun yang berpotensi mematikan akal dan nurani manusia. Yang paling berbahaya bukan orang bodoh, tetapi orang pintar yang kehilangan nuraninya,” tegasnya.
Tri mengaitkan hal ini dengan praktik spiritual dalam kehidupan sehari-hari. Ia menekankan pentingnya disiplin, seperti salat Subuh, yang melahirkan integritas dan kepercayaan, yang pada gilirannya mendatangkan rezeki. Uang, ia tambahkan mengutip Ryu Hasan, bisa membahagiakan asalkan tetap dalam konteks merohanikan materi.
Dalam perspektif historis, Nabi Ibrahim berada pada siklus brahmana, di mana ayahnya adalah pembuat patung. Dari situ, Ibrahim terbiasa mempertanyakan kebenaran ketuhanan dan menempuh jalan radikal untuk menyadarkan umatnya. Tri membandingkan fenomena ini dengan struktur masyarakat Jawa kuno, di mana pemikiran tentang ketuhanan dan strategi muncul dari kalangan istana atau padepokan. Kenduri Cinta, menurutnya, berperan sebagai padepokan spiritual di Jakarta, yang konsisten memadukan diskusi, pembelajaran, dan shalawat.
Mizani menambahkan kilas balik 2018, ketika Tri menyatakan bahwa ia bertahan di Kenduri Cinta untuk “gondelan” kepada Cak Nun. Ia berharap jamaah bisa menjadi “semut Ibrahim”, tetap berada di pihak yang benar meski perannya kecil.
Tri menutup sesi dengan pengingat praktis: merumuskan mukadimah untuk setiap edisi Kenduri Cinta bukan hal mudah, bahkan ia harus membacanya berkali-kali. Ia menegaskan bahwa fondasi agama kini bersifat mandatory, melindungi diri dan keluarga dari fenomena merusak seperti pornografi, judi online, dan pinjaman online. Ia juga memperingatkan risiko penipuan atas nama syariah yang merugikan dana umat. Sebagai penutup, Tri mengumumkan kegiatan mendatang: Kenduri Cinta Academy yang akan membahas Kitab Ketenteraman pada bulan Februari.

“Setiap zaman ada berhalanya. Bahkan kesenangan kita pun sering kali menjadi berhala” —Amien Subhan
Setelah sesi mukadimah, forum memasuki jeda. Lahila mengisi ruang dengan alunan musik, menyanyikan lagu-lagu seperti Kepada Noor, Atur Saja Tuhan, dan Sedia Aku Sebelum Hujan. Nada-nada lembut itu memberi waktu bagi jamaah untuk merenungkan pembahasan sebelumnya, sambil menenangkan hati sebelum diskusi berikutnya dimulai. Fahmi dan Karim naik ke panggung, menyapa jamaah, dan mengajak mereka merapat.
Karim mengingatkan bahwa di Maiyah, banyak istilah untuk “jalan”: shirot, sabil, millah, dan sebagainya. Ia kemudian mempersilakan narasumber untuk naik ke panggung: Ust. Noorshofa, Ismail Fahmi, Kris, Arya Palguna, dan Sabrang.
Fahmi menekankan bahwa tema Millata Hanifa mengajak jamaah meneladani Nabi Ibrahim AS dalam mencari jalan kebenaran. Tindakan Nabi Ibrahim menghancurkan berhala, termasuk bisnis ayahnya sendiri sebagai pembuat patung, menjadi simbol keberanian menolak pemberhalaan yang nyata maupun terselubung. Ia menegaskan bahwa fenomena ini penting di-tadabburi agar jamaah merenungkan: apakah hari ini manusia masih memberhalakan hal-hal yang bukan sekadar patung?
Ust. Noorshofa menyapa jamaah dengan penuh kegembiraan karena bisa kembali ke Kenduri Cinta setelah satu tahun absen. Sebelum masuk ke materi utama, beliau mengajak semua jamaah membaca Suratul Fatihah untuk gurunya, Prof. Dr. K.H. Amal Fathullah Zarkasyi, pimpinan Pondok Pesantren Modern Gontor, dengan harapan beliau ditempatkan di sisi Allah.
Mengutip pengalaman hidupnya yang telah memasuki usia 66 tahun, Ust. Noorshofa mengingatkan singkatnya waktu hidup di dunia, serta membandingkan kecerdasan dalam urusan dunia dan akhirat: mereka yang cerdas urusan dunia sering menemui kesulitan, sedangkan yang cerdas urusan akhirat akan mendapatkan kemudahan. Ia juga menceritakan kisah jenaka tentang Udin yang mencoba menipu Malaikat Izrail, namun tetap meninggal, sebagai pengingat bahwa hidup dan mati berada di tangan Allah.
Dalam pembahasan Millata Hanifa, beliau menekankan posisi Nabi Ibrahim sebagai bapak para Nabi. Dari 124.000 nabi dan 313 rasul, Allah memilih sebagian untuk menjadi teladan, hingga Muhammad SAW yang diminta mengikuti jalan Ibrahim, menegaskan bahwa Islam melanjutkan risalah Nabi Ibrahim melalui proses berpikir dan keyakinan hati. Nabi Ibrahim mencapai maqam “Taslim” saat hendak dibakar Raja Namrud, menolak bantuan Malaikat Jibril karena sepenuhnya bersandar pada Allah.
Saat hujan mulai deras dan jamaah merapat ke panggung, Ust. Noorshofa menutup sesi dengan kisah ujian terbesar Nabi Ibrahim: diperintah menyembelih putra kesayangannya, Ismail. Godaan setan berhasil diatasi oleh Ibrahim, Hajar, dan Ismail dengan melempar setan menggunakan batu—yang kemudian menjadi asal-usul ibadah lempar jumrah. Karena keberhasilan pengorbanan ini, Allah mengganti Ismail dengan domba.

“Barang siapa mengenal dirinya maka dia mengenal Tuhannya” —Tri Mulyana
Setelah Ust. Noorshofa membagikan pandangan dan kisah-kisahnya, Arya Palguna melanjutkan diskusi dengan kegembiraan melihat alih generasi di Kenduri Cinta. Meskipun sudah lama tidak hadir secara fisik, ia tetap menjaga komunikasi dengan beberapa penggiat. Baginya, keberadaan wajah-wajah baru justru memperkuat semangat Kenduri Cinta sebagai ruang belajar dan berbagi bagi masyarakat dari berbagai latar belakang, sekaligus menjadi tempat memperkuat kesehatan mental dalam menghadapi persoalan kota besar.
Arya kemudian mengaitkan tema Millata Hanifa dengan perspektif ekonomi. Ia menekankan bahwa apabila dasar pemikiran ekonomi berlandaskan tauhid—keyakinan bahwa Allah mengatur hidup manusia—maka sistem ekonomi harus didasarkan pada keadilan. Kekayaan tidak boleh terkonsentrasi pada pihak tertentu, melainkan harus terdistribusi secara inklusif untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, Arya menjelaskan konsep Narrative Economics dari Robert Shiller: dunia ekonomi sering digerakkan oleh cerita atau opini, bukan semata data objektif. Misalnya, narasi tentang Artificial Intelligence (AI) sebagai solusi masa depan dapat mendorong harga saham melebihi kenyataan yang ada.
Ia juga menyoroti ketidakpastian ekonomi global di 2026, menekankan bahwa resesi bukanlah “kiamat”, melainkan peluang untuk menata strategi baru. Dengan merujuk tiga pelajaran sejarah—Krisis 1929, Krisis Asia 1997–1998, dan Krisis 2008—Arya menekankan pentingnya membuat keputusan berbasis data valid, bukan narasi semu yang bisa menyesatkan. Menutup pemaparannya, ia menekankan bahwa akar permasalahan bangsa bukanlah kemampuan memetakan data, melainkan persoalan kejujuran. “Masalah mendasar bangsa kita bukanlah pada kemampuan memetakan data, melainkan pada persoalan kejujuran.”

“Salat tidak hanya bermakna hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan dalam ‘salat sosial’ untuk menciptakan keadilan.” —Arya Palguna
Karim menanggapi diskusi sebelumnya dengan mengamati bahwa mayoritas jemaah tengah menghadapi “resesi harian” secara finansial, namun tetap teguh mendoakan Indonesia. Ia kemudian membuka jalan bagi Ismail Fahmi untuk membahas dunia maya dan algoritma, serta Kris untuk membahas dunia hukum.
Ismail Fahmi menyoroti ketakutan masyarakat saat ini yang lebih besar pada “polisi viral” dan sanksi sosial di media sosial dibandingkan takut kepada Tuhan. Platform seperti Twitter/X, Instagram, dan TikTok memprioritaskan konten yang memicu emosi kuat, sehingga logika atau konten edukatif sering tersisih. Kondisi ini menciptakan echo chamber dan polarisasi yang tajam.
Dalam konteks itu, ia mengajak jamaah untuk meneladani Nabi Ibrahim di dunia digital: tetap tenang menghadapi komentar negatif dan hujatan, tidak fanatik pada tokoh atau organisasi, serta berani melawan arus algoritma yang memecah belah. Dengan begitu, esensi Millata Hanifah dapat diterapkan di era modern.
Kris, dosen hukum di Universitas Indonesia sekaligus Staf Khusus Menteri Pertahanan bidang Tata Negara, menekankan bahwa ilmu pengetahuan bukan untuk “dikeramatkan”, sehingga ia menghindari sikap memberhalakan wawasannya sendiri. Dari pengamatannya, peradaban Indonesia berdiri di atas dua pilar: spiritualisme yang menomorsatukan nilai ketuhanan, dan komunalisme yang menekankan kebersamaan.
Ia menyoroti ketahanan bangsa Indonesia yang tinggi dalam menghadapi tekanan, karena masyarakat terbiasa menyelesaikan masalah secara kolektif dengan keyakinan bahwa Tuhan akan menolong. Kris menjelaskan bahwa kedaulatan Indonesia berjalan beriringan: rakyat, hukum, dan Tuhan, yang tidak bisa dipisahkan. Ia menolak prinsip Vox Populi Vox Dei karena, menurutnya, “rakyatlah yang harus bertuhan dan beribadah kepada-Nya.”
Mengutip Kitab Sutasoma, Kris menekankan bahwa segala sesuatu berasal dari satu sumber—Tuhan—dan kebenaran itu tunggal. Ia menambahkan bahwa ancaman global, seperti ketegangan di Selat Taiwan dan Ukraina, menunjukkan bahwa keselamatan bangsa tidak bisa dianggap remeh. Tugas pertahanan harus berdasar kesadaran kolektif dan “sambung rasa” antara pemimpin dan rakyat.
Sebagai penutup, Kris menyebutkan keberadaan KUHP nasional baru yang menggantikan KUHP kolonial Belanda, menekankan bahwa hukum ini dirancang untuk memenuhi kebutuhan bangsa sambil menyediakan mekanisme bagi masyarakat yang ingin memberi masukan atau keberatan.

“Tauhid adalah pilihan dalam memandang dunia: apakah hanya mengalami dunia itu sendiri, atau memperlakukan dunia sebagai sarana untuk melihat Tuhan” —Sabrang MDP
Sabrang membuka pembicaraannya dengan menyapa jamaah di tengah hujan yang deras, menekankan bahwa kondisi yang tidak ideal seharusnya tidak menghentikan manusia untuk berbuat dan mencari harapan. Ia mengajak jamaah melihat hujan bukan sebagai hambatan, melainkan sebagai tantangan yang menguji keteguhan hati.
Pelajaran dari Nabi Ibrahim, menurutnya, bukan hanya soal menghancurkan patung fisik, tetapi juga menghancurkan ide atau konsep yang salah. Dengan meletakkan kapak di leher patung terbesar, Ibrahim menembus lapisan makna di balik kepercayaan kaumnya, menunjukkan bahwa akal harus mampu menembus “hijab” atau lapisan makna di balik setiap kejadian. Hujan, misalnya, bisa dilihat sekadar basah, tetapi bagi yang memahami, ia adalah tes keteguhan hati.
Sabrang menyoroti generasi sekarang, khususnya Gen Z, yang cenderung mudah stres karena tidak terlatih melihat pola di balik kenyataan dan sering membiarkan prasangka atau imajinasi mengalahkan fakta. Ia mengingatkan bahwa manusia modern masih sering terjebak dalam pemberhalaan—entah itu idol, uang, atau ketakutan berlebihan kepada atasan. Siapa pun yang ketaatannya melebihi ketaatan kepada Tuhan, itulah yang sedang disembah sebagai berhala.
Inti tauhid, menurutnya, adalah pilihan dalam memandang dunia: apakah hanya mengalami dunia itu sendiri, atau memperlakukan dunia sebagai sarana untuk melihat Tuhan. Segala kejadian, termasuk penderitaan atau hujan, adalah cara Tuhan “berinteraksi” dengan hamba-Nya. Sejalan dengan itu, ia mengutip Cak Nun yang menekankan bahwa kebahagiaan bukanlah hasil akhir, tetapi modal awal yang memberi kekuatan untuk melahirkan ide baru, pemahaman, dan keberanian melangkah ke tahap berikutnya.

“Anak-anak kita bukanlah milik kita sepenuhnya; mereka memiliki perjalanan hidup dan takdirnya sendiri” —Ismail Fahmi
Sesi tanya jawab dimulai dengan Ali, seorang anak muda, yang mengungkapkan kegelisahannya terhadap arus informasi yang bias, terutama terkait ormas keagamaan. Ia bertanya bagaimana cara menjaga prinsip dan jati diri agar tidak mudah goyah di tengah derasnya opini publik. Fahri dari Tangerang menambahkan keresahannya sebagai orang tua, yang masih merasa belajar sambil membimbing anak-anaknya menemukan jalan hidup yang benar.
Asrin mengangkat isu yang lebih luas tentang intervensi asing melalui transformasi digital. Ia mengusulkan agar pihak Kementerian Pertahanan mengundang perwakilan mahasiswa untuk berdialog, guna membendung adu domba dan memperkuat keamanan kognitif. Irfan dari Bogor menutup pertanyaan awal dengan meminta Sabrang menjelaskan konsep “epistemologi cahaya” sebagai panduan menempuh jalan kebenaran atau Millata Hanifa.
Menanggapi pertanyaan tentang intervensi asing, Kris menegaskan bahwa upaya pihak luar untuk mengadu domba memang nyata. Ia memaparkan data yang menunjukkan posisi strategis Indonesia dan menekankan bahwa pertahanan bangsa paling kuat lahir dari keyakinan kolektif rakyat terhadap tanah air sebagai anugerah Tuhan. “Kekuatan pertahanan terbaik bangsa ini adalah keyakinan kolektif bahwa tanah air kita merupakan anugerah dari Allah yang wajib dijaga,” ujarnya.
Ismail Fahmi menyoroti pentingnya keamanan kognitif di era digital. Ia memperkenalkan istilah cognitive security untuk melawan serangan pikiran (cognitive warfare) yang disebarkan perlahan, termasuk melalui algoritma media sosial. Mengutip pengalaman pribadinya sebagai orang tua, ia menekankan pentingnya memberi perhatian penuh kepada anak, mendampingi mereka dengan contoh nyata, dan menerima bahwa anak memiliki perjalanan hidup sendiri. “Anak-anak kita bukanlah milik kita sepenuhnya; mereka memiliki perjalanan hidup dan takdirnya sendiri,” jelasnya.
Arya menambahkan bahwa kekuatan mental masyarakat Indonesia, termasuk komunitas Kenduri Cinta, sudah terbiasa menghadapi tantangan multidimensional. Ia menekankan agar salat tidak hanya dimaknai secara vertikal, tetapi juga diwujudkan dalam praktik sosial: melawan ketidakadilan dan memperkuat yang lemah. “Salat tidak hanya bermakna hubungan vertikal dengan Tuhan, tetapi juga harus diwujudkan dalam ‘salat sosial’ untuk menciptakan keadilan,” tuturnya.
Sabrang menutup sesi tanya jawab yang pertama dengan menekankan perbedaan antara “benar/salah” dan kebenaran mutlak. Ia mengingatkan bahwa organisasi keagamaan seperti NU atau Muhammadiyah hanyalah jalan, bukan tujuan akhir, dan menekankan pentingnya epistemologi cahaya—melangkah dengan logika abduktif meski cahaya hanya menerangi sebagian jalan. Kepada orang tua, ia menekankan belajar berjalan bersama anak, sambil percaya bahwa rezeki mereka sudah dijamin Allah. “Cara paling sederhana untuk menjadi sesat adalah dengan memutuskan untuk berhenti berjalan dan berhenti belajar,” pesannya.

“Kekuatan pertahanan terbaik bangsa ini adalah keyakinan kolektif bahwa tanah air kita merupakan anugerah dari Allah yang wajib dijaga” —Kris Wijoyo
Diskusi tanya jawab berlanjut dengan pertanyaan dari dua jamaah yang menyoroti praktik beragama dan tantangan zaman. Eni dari Cirebon bertanya tentang sejauh mana sikap kritis masih diberi ruang dalam kehidupan beragama tanpa dianggap ancaman bagi kekuasaan, sekaligus mempertanyakan fenomena akun lintas agama yang tidak di-take down oleh platform media sosial. Sementara Eko dari Lumajang menekankan perlunya sosok Ibrahim baru yang mampu meruntuhkan sistem yang penuh penipuan dan ketidakadilan.
Menanggapi pertanyaan Eni, Ismail Fahmi menjelaskan bahwa platform media sosial mendapat keuntungan dari konten yang memicu kebencian atau kemarahan. Ia mencontohkan pengalamannya di MUI, di mana menanggapi tokoh kontroversial justru memperkuat visibilitas mereka di algoritma. Ia mendorong jamaah untuk tidak terjebak dalam “pertempuran” daring yang dikuasai algoritma, melainkan fokus pada pengembangan diri, keluarga, dan komunitas nyata. Tantangan terbesar, menurutnya, adalah menjaga kewarasan di tengah tekanan media sosial yang mendorong ekstremitas dalam mencintai atau membenci sesuatu.
Kris menekankan bahwa semua teknologi dan keputusan manusia tetap berada di bawah izin Tuhan. Ia menyinggung teori Stephen Hawking yang mengabaikan Tuhan dalam penciptaan alam semesta dan menegaskan bahwa sains terbatas menjangkau Zat yang Mukhalafatul lil Hawaditsi. Menurut Kris, kebajikan bukan sekadar formalitas, tetapi tercermin melalui keimanan, kepedulian sosial, menepati janji, dan kesabaran menghadapi kesulitan. Kris sependapat dengan Arya bahwa kejujuran menjadi solusi utama bagi berbagai masalah, termasuk ekonomi. Ia menutup dengan harapan agar forum membantu peserta menemukan “jalan terang” melalui sinkronisasi akal, iman, dan sikap batin.
Sabrang memuncaki forum dengan menambahkan perspektif praktis. Ia menekankan bahwa kewajiban Tuhan—seperti puasa atau komitmen pernikahan—sering terasa tidak nyaman di awal, namun merupakan bagian dari proses kedewasaan. Menghadapi ketidaknyamanan media sosial, ia menyarankan untuk menyingkirkan aplikasi atau grup yang merusak ketenangan hati. Ia menyoroti kurangnya infrastruktur kepercayaan dalam masyarakat, di mana popularitas sering lebih dipercaya daripada keahlian atau integritas.
“Jangan mudah menghakimi orang lain, karena kesalahan utama kita adalah menilai diri sendiri berdasarkan niat, namun menilai orang lain hanya berdasarkan tindakannya,” jelas Sabrang. Manusia harus lebih adil dalam menilai orang lain, memahami konteks tindakan, dan menyadari bahwa kritik sejati selalu membawa risiko tidak disenangi, hal yang bahkan dialami para Nabi.

“Jangan mudah menghakimi orang lain, karena kesalahan utama kita adalah menilai diri sendiri berdasarkan niat, namun menilai orang lain hanya berdasarkan tindakannya” —Sabrang MDP
Malam itu, Kenduri Cinta menutup diskusinya bukan dengan jawaban pasti, melainkan dengan pertanyaan yang tetap menggantung: sejauh mana kita mampu menembus berhala-berhala modern yang membatasi hati dan pikiran? Dari penghancuran patung fisik oleh Nabi Ibrahim hingga ketidakjelasan algoritma di dunia maya, benih kesadaran ditanam dalam bentuk refleksi yang menuntut keberanian dan keteguhan hati.
Satu pesan jelas mengalir dari semua pembicara: kesadaran sejati bukan sekadar mengetahui, tetapi memilih untuk tetap teguh di tengah ketidakpastian—memilah informasi dengan bijak, memimpin diri sendiri sebelum memimpin orang lain, dan menempatkan nilai spiritual di atas ambisi semu. Bahkan hal-hal yang tampak kecil—seperti mendengar anak, mengatur hati di media sosial, atau menempatkan keadilan di ekonomi sehari-hari—adalah bagian dari praktik Millata Hanifa di zaman modern.
Pukul 01:41 WIB dinihari ditengah hujan, gelak tawa. forum ditutup dengan indal qiyam, jamaah berdiri bersama dan melantunkan Shohibu Baity suasana itu lebih dari sekadar ritual; ia menjadi cermin bahwa kebenaran dan kesadaran bukan hadiah instan, melainkan hasil keberanian untuk terus menembus lapisan-lapisan berhala—dari yang kasat mata hingga yang tersembunyi dalam hati dan pikiran. Malam itu meninggalkan pesan: perjalanan spiritual sejati menuntut keteguhan, kewarasan, dan keberanian untuk memilih dengan sadar, sehingga setiap langkah yang diambil tidak hanya meneguhkan diri, tetapi juga memberi manfaat nyata bagi dunia dan sesama.






