SAAT INI kita sedang hidup dalam suatu era di mana kecepatan jari lebih cepat bekerja dibandingkan kecepatan berpikir. Tampaknya, kita telah memasuki era post truth sehingga sulit sekali membedakan antara kebenaran dan kepalsuan. Banyak sekali informasi yang datang secara bertubi-tubi dan berseliweran di era digital. Algoritma media teknologi di era digital pun nyaris tidak pernah menemukan titik kesunyian. Banjir informasi seolah hadir seperti sebuah gelombang tsunami yang secara tiba-tiba hadir menggulung tanpa diminta.
Sejenak, mari kita coba untuk mengingat-ingat kembali aktivitas yang mungkin sebagian orang juga mengalaminya. Seperti pada saat bangun tidur, sering kali refleks tangan kita pertama kali biasanya adalah mengambil ponsel. Bahkan, kita sering kali lupa untuk berdoa atau bersyukur terlebih dahulu, tetapi lebih ingat pada sebuah notifikasi yang muncul untuk meminta sebuah respons. Memang, semua kemudahan bisa lebih mudah didapatkan di era kemajuan teknologi. Namun, ada satu hal yang tertinggal, yakni waktu untuk sejenak merenung sambil berpikir pelan.
Kemajuan teknologi sebenarnya bukan hanya sekadar alat bantu dalam sebuah kehidupan modern. Ia merupakan sebuah ruang sosial baru yang membentuk cara manusia belajar, berinteraksi, dan memaknai diri. Sebagaimana yang pernah dikatakan oleh para pemikir seperti McLuhan, Bauman, dan Freire, bahwa kemajuan manusia tidak selalu sejalan dengan kematangan manusia di era digital.
Sejenak, mari mencoba untuk memahami sebuah kejadian kecil, seperti sebuah pesan dalam potongan video di media sosial yang bisa membuat orang marah sehingga membuat algoritma emosi bergerak lebih cepat daripada nalar. Kecepatan teknologi membawa manusia pada sebuah habits baru, yakni cepat membaca, cepat menilai, cepat marah, dan cepat lupa. Banyak sekali hal yang bisa kita ketahui informasinya dari sebuah teknologi, tetapi sering kali kita tak sempat untuk memahami makna persoalannya.
Menguji Kemanusiaan
Hari ini, banyak sekali orang berbincang, tapi jarang berkomunikasi; banyak pula orang berjumpa, tapi tidak bertemu. Artinya, ini bukan soal sepi atau ramai, melainkan perihal kehadiran makna. Banyak sekali orang berbincang tapi jarang berkomunikasi karena pada era digital sering kali terjadi perbincangan dalam pertukaran kata, seperti komentar, emoji, atau respons dalam merefleksi sebuah persoalan.
Padahal, komunikasi sesungguhnya lebih dari sekadar pertukaran kata, tapi adanya sebuah niat untuk memahami, kesediaan dalam mendengarkan, dan sebuah ikhtiar dalam memahami makna di balik sebuah kata. Ketika kebanyakan orang ingin didengar, tapi tidak mau mendengarkan, maka percakapan akan berubah menjadi sebuah monolog yang saling bertabrakan sehingga perbedaan kecil membesar menjadi sebuah konflik. Bukan karena perbedaan itu sendiri, melainkan karena potongan sebuah konteks dan menafsirkannya secara sepihak tanpa mendengar secara utuh akibat kurang adanya kesediaan untuk memahami.
Banyak pula orang berjumpa, tapi tidak bertemu karena sering kali kita berada pada suatu ruang yang sama seperti rumah, forum, atau pun tempat nongkrong namun jarang memperhatikan percakapan atau komunikasi yang berlangsung. Contohnya, saat dua orang saling berjumpa pada satu meja di sebuah tempat nongkrong. Satu orang sedang bercerita dengan lawan bicaranya, bermaksud ingin didengarkan, diperhatikan, dan direspons ceritanya, sedangkan orang kedua atau lawan bicaranya malah sibuk bermain gadget atau handphone. Akibatnya, tubuhnya hadir secara fisik, tapi batinnya jauh secara manusiawi karena kurangnya simpati dan empati terhadap lawan bicara saat komunikasi berlangsung.
Membiasakan Kesadaran Kritis
Saat ini, ruang digital menjelma menjadi sebuah laboratorium kepribadian yang memproduksi dan mereproduksi nilai, identitas, dan perilaku manusia setiap hari. Maka dari itu, kesadaran kritis dalam merefleksikan ruang digital sangatlah penting agar manusia tidak lagi menjadi objek yang dibentuk, namun bisa menjadi subjek yang mampu untuk mengendalikan ruang digital.
Secara tidak sadar, sering kali pandangan manusia dibentuk oleh algoritma arus informasi yang bersumber dari media. Hal tersebut sejalan dengan konsep yang pernah dituangkan oleh Edward Bernays tentang organized habits yang menjelaskan bahwa kebiasaan dan preferensi individu dibentuk melalui pengulangan pesan yang terencana. Artinya, kepribadian kita dalam dunia digital tidak sepenuhnya dibentuk oleh pemikiran dan pilihan pribadi, tapi lebih banyak dipengaruhi oleh cara media menyajikan informasi yang membentuk kebiasaan kita.
Oleh karena itu, manusia tidak boleh berhenti pada posisi sebagai objek yang dibentuk dan dikendalikan oleh media. Syarat utama agar setiap individu yang mengonsumsi media bisa berdaulat atas identitas dan tindakannya adalah membangun kesadaran kritis dalam literasi digital. Dengan begitu, media menjadi suatu ruang pembelajaran dan wadah ekspresi agar tidak menjadi sebuah laboratorium manipulatif yang membentuk manusia sesuai dengan kepentingan sistem. Tanpa pemikiran kritis dan sikap reflektif, manusia hanya akan dipimpin tanpa pernah menyadari siapa yang memegang kendali, seperti yang pernah dinyatakan oleh Edward Bernays dalam bukunya yang berjudul Propaganda: Manipulasi Opini Masyarakat.
Media teknologi hanyalah sebuah alat bantu, bukan musuh manusia. Hal yang harus kita waspadai adalah ketika manusia berhenti menjadi pengendali media teknologi, lalu berubah menjadi manusia yang reaktif tanpa menggunakan kesadaran dan pemikiran kritis. Padahal, diciptakannya sebuah media teknologi awal mulanya adalah untuk membantu mempermudah manusia dalam menjalani kehidupan. Tetapi, mengapa dengan adanya segala kemudahan malah membuat manusia merasa cepat sensitif dan mudah tersulut emosi? Bisa jadi, bukan media teknologinya yang dipersalahkan, melainkan masih adanya kesalahan dari cara manusia menyikapi media teknologi. Maka dari itu, saat kita menggunakan teknologi dan mengonsumsi media, kita juga perlu berpikir kritis sebelum bereaksi.






