ADA MASA ketika orang percaya sejarah telah selesai. Bahwa setelah runtuhnya Tembok Berlin, dunia akan berjalan lurus seperti rel kereta: dari pasar bebas ke demokrasi, dari demokrasi ke kemakmuran, dari kemakmuran ke kedamaian.
Seorang ilmuwan politik Amerika, Francis Fukuyama, menulis dengan percaya diri tentang the end of history. Seolah manusia akhirnya menemukan bentuk final dari pemerintahan: liberalisme. Tak ada lagi pertarungan besar. Tak ada lagi ideologi tandingan.
Namun sejarah, seperti kata penyair Rusia Osip Mandelstam, selalu “berjalan dengan langkah yang tidak bisa ditebak”. Ia tidak tunduk pada teori. Ia tidak pernah benar-benar selesai.
Hari ini kita menyaksikan sesuatu yang aneh: liberalisme tidak runtuh, tetapi ia juga tidak menang sepenuhnya. Ia berubah. Dulu ia adalah ideologi—sebuah pilihan politik di antara pilihan-pilihan lain: sosialisme, konservatisme, komunisme, bahkan fasisme. Kini ia lebih menyerupai udara. Tak terlihat. Tak diperdebatkan. Namun dihirup setiap hari.
Kita bekerja dalam logika kompetisi. Kita menilai diri dengan angka produktivitas. Kita mengukur harga diri dengan pencapaian pribadi. Tanpa sadar, kita hidup dalam sistem yang tidak lagi kita pilih, tetapi kita jalani. Di titik ini, liberalisme seolah-olah tidak lagi berdiri sebagai program politik. Ia menjadi kebiasaan. Ia menjadi etika sehari-hari. Ia menjadi gaya hidup.
Seorang pemikir Jerman yang kontroversial, Carl Schmitt, pernah mengatakan bahwa politik lahir dari pembedaan antara kawan dan lawan. Tanpa musuh, politik kehilangan maknanya. Kalimat itu terdengar keras, bahkan sinis. Tetapi ia mengandung sebuah ironi.
Ketika liberalisme mengalahkan rival-rival ideologinya pada akhir abad ke-20, ia juga secara tidak sengaja menghilangkan medan tempur itu sendiri. Tanpa lawan, politik menjadi administrasi. Tanpa konflik, keputusan menjadi teknokrasi. Tanpa pertarungan, warga berubah menjadi konsumen. Di sinilah paradoks itu muncul: kemenangan total sebuah ideologi justru bisa mengakhiri politik.
Tanpa lawan, politik menjadi administrasi. Tanpa konflik, keputusan menjadi teknokrasi. Tanpa pertarungan, warga berubah menjadi konsumen.
Namun sejarah tidak suka ruang kosong. Ketika politik seolah menghilang dari panggung resmi, ia kembali melalui pintu belakang. Kadang dalam bentuk nasionalisme. Kadang dalam bentuk identitas budaya. Kadang dalam bentuk kemarahan yang tidak terartikulasikan.
Di Eropa, suara-suara konservatif kembali bangkit. Di Asia, negara-negara besar mulai menggabungkan kapitalisme dengan otoritarianisme. Di berbagai tempat, orang mulai meragukan janji globalisasi. Fenomena seperti ini merupakan perlawanan pinggiran terhadap pusat—periphery against the centre. Ia tidak berbicara tentang perang militer. Ia berbicara tentang sesuatu yang lebih halus: keinginan untuk mempertahankan identitas di tengah arus homogenisasi global.
Dalam dunia yang semakin seragam, perbedaan menjadi bentuk perlawanan. Tetapi perlawanan hari ini tidak seperti revolusi abad ke-20. Ia tidak datang dengan manifesto tebal.
Ia tidak membawa bendera merah atau hitam. Ia tidak mengusung ideologi yang rapi. Ia datang dalam bentuk yang tercerai-berai: gerakan lokal, komunitas kecil, identitas budaya, bahkan pilihan gaya hidup. Perlawanan menjadi fragmentaris. Politik menjadi personal.
Seorang filsuf Prancis lain, Michel Foucault, menyebut perubahan ini sebagai biopolitik—politik yang mengatur kehidupan sehari-hari, bukan hanya negara. Bukan lagi soal siapa yang memerintah. Tetapi bagaimana kita makan, bekerja, berbelanja, dan menampilkan diri di ruang publik.
Di era ini, kekuasaan tidak selalu datang dari istana atau parlemen. Ia datang dari algoritma. Dari pasar. Dari norma sosial yang tampak netral. Maka pertanyaan besar muncul: jika politik telah berubah menjadi sesuatu yang halus dan tak terlihat, bagaimana kita bisa melawannya?
Bagaimana melawan udara? Bagaimana menentang kebiasaan? Bagaimana menolak sesuatu yang terasa alami? Di sinilah sebagian pemikir mencoba membayangkan jalan baru. Seorang intelektual Rusia kontemporer, Aleksandr Dugin, menyebutnya Teori Politik Keempat. Sebuah gagasan yang ingin melampaui liberalisme, komunisme, dan fasisme sekaligus.
Ia bukan nostalgia terhadap masa lalu. Ia juga bukan sekadar kritik terhadap Barat. Ia adalah upaya—mungkin putus asa—untuk menemukan kembali politik dalam dunia yang telah kehilangan bentuknya. Tetapi setiap teori besar selalu membawa risiko.
Sejarah abad ke-20 memberi pelajaran pahit: ideologi yang terlalu yakin pada dirinya sendiri bisa berubah menjadi mesin penindasan. Komunisme menjanjikan kesetaraan, tetapi melahirkan totalitarianisme. Fasisme menjanjikan kejayaan nasional, tetapi menghasilkan perang dan kehancuran. Kita tahu itu. Kita mengingatnya. Ingatan itu seharusnya membuat kita berhati-hati. Karena politik bukan hanya soal sistem. Ia soal manusia. Tentang ketakutan. Tentang harapan. Tentang keinginan untuk hidup bermakna di tengah dunia yang berubah.
Di sebuah desa kecil—di mana pun itu, mungkin tidak jauh dari tempat kita duduk sekarang—politik tidak hadir dalam bentuk teori. Ia hadir dalam bentuk yang sederhana: harga pupuk, akses pendidikan, kesehatan, pekerjaan anak muda, dan rasa keadilan.
Di sana, politik bukan ideologi. Ia pengalaman sehari-hari. Di situlah jawabannya tersembunyi. Bukan pada sistem besar yang sempurna. Bukan pada teori yang final. Tetapi pada kemampuan manusia untuk terus bertanya, terus meragukan, dan terus mencari bentuk kehidupan bersama yang lebih adil.
Sejarah belum selesai. Politik belum mati. Ia hanya berubah bentuk—menjadi lebih sunyi, lebih tersembunyi, lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari. Politik selalu dimulai dari satu tindakan sederhana: berani muncul di ruang publik dan berbicara sebagai manusia.






