Republik Rem Blong
PUKUL sembilan malam di Terminal Giwangan, Yogyakarta. Hujan baru saja reda. Di warung kopi kecil dekat jalur keberangkatan bus antarkota, seorang...
Read moreDetailsPUKUL sembilan malam di Terminal Giwangan, Yogyakarta. Hujan baru saja reda. Di warung kopi kecil dekat jalur keberangkatan bus antarkota, seorang...
Read moreDetailsMINGGU sore sangat cerah, tetapi berdebu. Halaman tanah liat di depan rumah, pot-pot bunga, dan rumput liar tampak meranggas. Sudah lebih...
Read moreDetailsEra kontemporer ditandai dengan dominasi paradigma neoliberalisme yang merasuk ke hampir seluruh sendi kehidupan, termasuk dalam kebijakan publik secara global. Fenomena...
Read moreDetailsDi kampung saya, kalau musim hujan datang, halaman rumah selalu lebih cepat becek daripada ruang tamu. Orang-orang tua biasanya tidak langsung...
Read moreDetailsDUDUK bersila di atas terpal Kenduri Cinta pada malam 10 Juli 2026, sebuah tema menggelayut hangat di udara Jakarta yang lembap:...
Read moreDetailsKEMBALI merenungi perjalanan Kenduri Cinta yang kini memasuki usia 26 tahun. Sejak Juni 2000 di pelataran Taman Ismail Marzuki, forum ini...
Read moreDetailsDua puluh enam tahun lalu, Kenduri Cinta lahir dari sebuah kerinduan sederhana: kerinduan untuk terus bersama dalam “sinau bareng”. Berawal dari...
Read moreDetailsMALAM itu angin pelan bergerak di halaman. Kursi-kursi belum sepenuhnya kosong setelah forum Maiyah bubar. Beberapa orang masih bercakap kecil sambil...
Read moreDetailsGELANGGANG Mahasiswa UGM bukan sekadar gedung. Di era 80-an, aula multifungsi ini adalah saksi bisu bagaimana keringat atlet basket dan bela...
Read moreDetailsTeruntuk perempuan-perempuan Maiyah; para penjaga nyala di ceruk dapur dan nalar, serta para pendamping setia yang bersama-sama merawat kedaulatan jiwa di...
Read moreDetails