METRONOM adalah alat untuk menciptakan interval yang kecepatannya adjustable, fungsinya untuk mengukur tempo. Ukuran tempo-nya menggunakan bunyi (atau tanda visual), dengan satuan detak per menit.
Metronom menyimulasikan fenomena alamiah dalam semesta yang bisa bersifat organik, semisal denyut nadi atau detak jantung mamalia, atau fenomena elektromagnetik semisal pulsar. Ini bintang neutron dengan core hyper-magnetic dan mengeluarkan emisi denyut (pulse) elektromagnetik dengan interval yang berpresisi tinggi, dari milliseconds hingga seconds.
Artinya, denyut ber-interval sifatnya sangat semesta. Organik, baik sentient maupun non-sentient, hingga fenomena elektromagnetik dalam kosmos, eksistensinya ditandai dengan denyutan. Semakin kuat dan aktif suatu entitas, semakin singkat interval denyutnya. Semakin lemah dan menurun aktivitas suatu entitas, semakin lambat pula interval-nya.
Uniknya, standar kecepatan metronom justru menyerupai langkah normal manusia dewasa, yakni 72-76 detak per menit, alias andante.
Selain urusan detak, metronom juga bicara titik simpangan terjauh dari titik setimbang bandulnya saat diam, alias amplitudo. Ia adalah titik terjauh ayunan pada gelombang atau getaran. Dalam fisika, amplitudo menentukan energi atau intensitas gelombang, seperti volume pada suara atau kecerahan pada gelombang cahaya.
Selanjutnya, selain urusan detak dan titik terjauh di kedua sisi, metronom juga bicara tentang titik setimbang di tengah. Pemaknaan di tengah bukanlah statik, tapi detak yang konstan justru berakar pada kemampuan titik tengah itu untuk mengukur titik terjauh di kedua sisi simpangan, karena tidaklah tengah itu menjadi tengah melainkan karena ia berada dengan stabil di antara kedua titik simpangan tersebut.
Dalam konteks kawruhan yang lebih luas, tengah yang sejati itu bukan hanya tahu di mana titik tengah ber-istiwa’, namun juga dapat menjelaskan tengah itu secara paripurna, dengan pemahaman paripurna tentang ekstremitas selainnya di kedua sisi penyimpangan.
Hal itulah yang dalam bahasa waskita Mbah Nun, disebut sebagai “pelancongan spiritual”. Artinya, tengah yang sejati itu punya bekal fondasi yang cukup kuat untuk melaksanakan “kunjungan ke kedua sisi ekstrem” dengan cukup energi untuk kembali ke tengah, tanpa kehilangan arah, atau malah terjebak pada salah-satu di antara kedua sisi ekstremitas. Inilah rahasia di balik pertanyaan Hudzaifah ibn Al Yaman kepada Gusti Kanjeng Nabi Muhammad
Dari Hudzaifah bin Al-Yaman; Manusia banyak bertanya kepada Rasulullah ﷺ tentang kebaikan. Namun aku akan bertanya kepada Beliau ﷺ tentang kejahatan karena aku takut kejahatan tersebut menimpa diriku (H.R. Bukhari)
Jadi, jika ada yang bertanya tentang dalil pelancongan spiritual khususnya untuk memahami kejahatan dengan paripurna, maka jawabannya adalah sebagaimana rujukan di atas. Mengapa demikian, karena inilah kehendak-Nya, yakni agar di antara peradaban manusia ada yang bertindak sebagai wasith.
Wasith? Ya, wasith itu asal katanya wasatha, wasith. Saksi yang adil, di tengah. Sistem-Nya digambarkan dalam Wahyu berikut:
Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (ummat Nabi terakhir), umat yang wasathan (pertengahan) agar kamu menjadi saksi atas manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas kamu. Dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang berbalik (mengikuti kaum-kaum terdahulu). Dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia (Al Baqarah 143)
Dan tidaklah sempurna ke-wasith-an seorang hakim jika ia hanya memahami sebab mengapa suatu kebaikan diperintahkan. Mengapa? Karena tanpa dilengkapi dengan kemampuan menjelaskan mengapa suatu kejahatan dilarang, maka ia tak ubahnya hanya menjadi penyeru dan pencegah dari sesuatu yang ia sendiri tak paham.
Dalam perluasan konteksnya, keseimbangan dinamis dan aktif itu bahkan bukan hanya dalam planar horizontal alias sumbu “X” dalam diagram Cartesius, tapi juga pada planar vertikal alias sumbu “Y”. Mbah Nun menyebut bahwa setiap makhluk memiliki arah gerak (termasuk pertumbuhan) ke atas dan ke bawah yang harus seimbang, sebagai syarat hakikat hidup.
Ibarat pepohonan, pohon yang menjulang ke langit tentu punya akar yang kuat menghujam ke dalam bumi. Demikian pula di lautan, kapal tiang tinggi yang berlayar bagaikan gunung di lautan, tentu harus memiliki lunas alias draught yang dalam di bawah waterline. Demikianlah hidup yang hakiki, berakar dalam dan kuat di bumi, serta menjangkau tinggi hingga ke langit.
Di sinilah niche peran peradaban, yang Maiyah mencoba memahami dan memberikan sumbangsih sekecil ataupun sebesar apapun yang dapat dipersembahkan, yakni setidaknya sebagai saksi yang wasith. Adil. Seimbang.
Kenduri cinta yang telah lebih dari seperempat abad menjadi oase di tengah-tengah pusat pertarungan politik, sentra persaingan niaga, dan sumbu perkembangan peradaban Indonesia modern tetap setia meniti jalan wasith itu. Dengan kesungguhan pribadi dan keguyuban kolektif, dengan kejelian pikiran dan ketajaman batin, serta dengan kedewasaan etik sekaligus keluwesan estetik, Kenduri Cinta terus setia melatih etos wasathiyah bersama.
Mengapa harus setia di jalan itu? Karena metronom yang tidak dikalibrasi dengan baik hanya akan melahirkan ritme yang timpang sebelah, alias waton sulaya. Sumbang, jauh dari kesan khidmat, gagah, apalagi gembira. Alih-alih demikian, ritme ini bahkan hanya akan memperdengarkan irama yang dalam kosakata generasi terakhir (diwakili alfabet Z), populer dengan sebutan cringe.






