HUJAN turun hampir sepanjang hari, bahkan semakin deras menjelang acara dimulai—seolah berkah ditumpahkan tanpa jeda pada hari itu. Menjelang malam, hujan akhirnya mereda, memberi kesempatan para penggiat untuk kembali merapikan area tenda dan panggung Kenduri Cinta di Plaza Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki. Satu per satu jamaah mulai berdatangan; sebagian masih menenteng payung yang basah, sebagian lainnya melangkah cepat agar segera mendapatkan tempat di bawah tenda. Meski tanah masih lembap oleh sisa hujan, kehadiran mereka tetap mengalir—membawa semangat untuk kembali berkumpul dan sinau bareng di malam itu.
Rangkaian Kenduri Cinta edisi ke-266 bertema “Upa Angkara” yang digelar pada Jumat, 6 Maret 2026 pun diawali dengan lantunan tawashshulan pada pukul 20.25 oleh Awan, Haddad, Mizani, Munawir, dan Rizal, membuka malam kebersamaan jamaah dalam suasana yang teduh setelah hujan sepanjang hari.

Memasuki sesi pertama, Munawir membuka forum dengan menyapa jamaah dan memperkenalkan para narasumber yang hadir: Juddin, Pram, Ali Hasbullah, dan Muftie. Ia juga memberi pengantar bahwa Kenduri Cinta edisi ke-266 pada Maret 2026 mengangkat tema “Upa Angkara”. Tema tersebut sebelumnya telah dibahas secara lebih mendalam dalam forum Reboan.
Awan kemudian mengambil peran sebagai moderator, mengingat moderator utama belum bisa hadir. Ia menyampaikan permohonan maaf jika dalam memandu acara terdapat kekurangan, sekaligus mengingatkan bahwa forum yang lebih komprehensif untuk pendalaman materi biasanya berlangsung dalam Forum Reboan.
Setelah pengantar singkat tersebut, Munawir mempersilakan Pram sebagai narasumber pertama untuk memulai paparan. Pram mengawali pembahasan mengenai apa yang dimaksud dengan angkara serta kaitannya dengan praktik puasa.
Pram membuka paparannya dengan salam serta refleksi singkat tentang perjuangannya menembus hujan untuk hadir di lokasi acara. Ia kemudian menjelaskan makna tema “Upa Angkara”. Menurutnya, “angkara” berkaitan dengan kemarahan atau nafsu ammarah, yang dalam tradisi spiritual dipahami sebagai salah satu tingkatan nafsu manusia.
Sebagai pengantar, ia mengajak jamaah merenungkan kisah Nabi Adam yang diturunkan ke bumi—bukan sebagai hukuman, melainkan bagian dari ampunan Allah. Dari sana, ia menjelaskan bahwa akar angkara sering berangkat dari personal self-image, yaitu keinginan manusia untuk dipandang istimewa. Ketika seseorang merasa “lebih baik”, ia berisiko kehilangan kerendahan hati dan menutup diri dari belajar.
Ia mengaitkannya dengan kisah Iblis yang dahulu memiliki kedudukan tinggi, namun jatuh karena kesombongan saat berkata, “Ana khairu minhu”—merasa lebih baik dari Adam. Mentalitas inilah yang menurutnya menjadi sumber angkara, baik pada tingkat individu maupun kelompok yang merasa paling benar.
Karena itu, dalam sinau bareng, penting untuk menurunkan ego—baik intelektual, moral, maupun spiritual—agar tetap terbuka menerima pandangan baru. Ia juga mengingatkan bahwa manusia memiliki dua peran: sebagai hamba Allah dan sebagai khalifah di bumi.
“Sebagai khalifah kita kreatif mengatasi kesulitan, tapi jangan sampai kebablasan merasa paling tahu,” ujarnya. Kreativitas dan kemampuan berpikir adalah anugerah, namun bisa berubah menjadi kesombongan, terlebih di era teknologi dan AI yang sering membuat manusia ingin serba cepat.
Di akhir, Pram menyebut forum seperti Kenduri Cinta dan Reboan sebagai ruang komunal yang langka—tempat orang dari latar belakang berbeda dapat berkumpul, belajar, dan bercakap tanpa sekat di tengah budaya yang semakin individualis.

“Akar angkara yaitu keinginan manusia untuk dipandang istimewa. Ketika seseorang merasa “lebih baik”, ia berisiko kehilangan kerendahan hati dan menutup diri dari belajar.” —Pramono
Melanjutkan pembahasan Pram, Juddin membuka dengan salam dan menyebut suasana forum malam itu terasa istimewa karena berlangsung panjang dari buka hingga sahur, bertepatan dengan momentum Nuzululquran dan Jumat Pahing.
Ia kemudian mengulas istilah Upawasa dari bahasa Sanskerta yang memiliki kedekatan makna dengan puasa. Menurutnya, puasa bersifat counterintuitive: secara jasmani manusia mengalami lapar dan haus, tetapi justru dituntut meningkatkan ibadah dan aktivitas kebaikan. Ia mengibaratkan manusia seperti karbon yang menjadi berlian karena tekanan; demikian pula puasa menekan jasad untuk mengasah nilai rohani.
Ramadan, menurut Juddin, hanyalah satu bulan latihan dari dua belas bulan. Ia menjadi semacam kalibrasi hidup—“reset algoritma” kebiasaan manusia—yang mengubah ritme harian agar lebih sadar dan seimbang. Puasa juga diibaratkan seperti memanah, sebagaimana metafora Kahlil Gibran: anak panah harus ditarik ke belakang sebelum dilepas ke depan. Puasa adalah fase menahan dan mengarahkan diri sebelum melangkah.
Ia menambahkan bahwa prinsip ini tidak hanya berlaku bagi individu, tetapi juga bagi kelompok dan bangsa. Bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menahan diri, mengkalibrasi tujuan, lalu bergerak dengan arah yang jelas. Sebaliknya, bangsa yang menolak proses “puasa” sering runtuh oleh dirinya sendiri.
Menutup paparannya, Juddin menyimpulkan, “Puasa memaksa kita tertekan, dan dalam keterpaksaan itu membawa kita ke kepantasan, lalu ke kesederhanaan, dan akhirnya ke rasa syukur yang tiada habisnya.”
Setelah pemaparan Juddin tentang puasa sebagai proses kalibrasi diri, Ali Hasbullah melanjutkan sesi dengan membuka salam dan mengapresiasi konsistensi tawashshulan di Kenduri Cinta. Ia berharap keikhlasan jamaah yang berkumpul menjadi sebab turunnya perlindungan Allah, sekaligus mendoakan kesembuhan Cak Nun agar dapat kembali hadir bersama jamaah.
Ali kemudian menegaskan bahwa forum Maiyah berjalan dalam semangat sinau bareng, tanpa hierarki guru–murid. Ketika ayat Al-Qur’an dibahas, yang dilakukan adalah tadabur—refleksi personal—bukan tafsir otoritatif. Syarat utamanya adalah kebersihan hati karena Allah tidak menilai rupa atau status, melainkan hati manusia.
Menanggapi kisah Iblis yang sebelumnya disampaikan, ia menekankan bahwa kesombongan—sering kali disertai iri—adalah dosa purba yang memicu berbagai kerusakan. Ia mengaitkannya dengan kondisi dunia hari ini: konflik, perebutan kekuasaan, kesenjangan ekonomi, hingga konsentrasi teknologi seperti AI pada segelintir kekuatan besar. Dalam perspektif filsafat, ia merujuk pada pemikiran Plato yang membagi jiwa manusia menjadi dorongan nafsu, ambisi, dan akal budi yang seharusnya mengendalikan keduanya.
“Puasa adalah metode Allah untuk melatih jiwa: menahan diri adalah kunci keselamatan, dan semua tradisi spiritual mengenal ini,” ujarnya. Mengutip Cak Nun, ia juga menjelaskan bahwa Ramadan menjadi madrasah untuk belajar “ngerem” sebelum manusia melangkah lebih jauh dalam kehidupan sehari-hari. Ia menutup dengan mengingatkan teladan Ali bin Abi Thalib yang mampu menahan amarah, serta Muhammad yang memilih menjadi nabi-hamba—sebagai puncak teladan kerendahan hati dan pengendalian diri.

“Puasa adalah metode Allah untuk melatih jiwa: menahan diri adalah kunci keselamatan.” —Ali Hasbullah
Melengkapi rangkaian sesi pertama, Muftie menyampaikan paparannya dengan gaya ringan dan jenaka. Ia menyindir kebiasaan generasi muda yang bahkan sebelum Ramadan dimulai sudah sibuk menyusun daftar tempat dan menu untuk “bukber”. Menurutnya, hal itu menunjukkan bahwa puasa sering kali masih dipahami pada level fisik, belum sampai pada hakikatnya.
Ia kemudian menjelaskan makna imsak yang berasal dari akar kata “menjaga”. Artinya, puasa bukan sekadar larangan makan dan minum, melainkan latihan menjaga diri dari berbagai dorongan hawa nafsu—sejalan dengan tema “Upa Angkara” yang sebelumnya dibahas.
Muftie juga menyinggung ayat “la’allakum tattaqun” yang menegaskan tujuan puasa adalah mencapai ketakwaan. Ia mengingatkan bahwa puasa bukan hanya tradisi umat Islam, tetapi juga telah dijalankan oleh umat-umat sebelumnya. Sejarah para nabi menunjukkan berbagai bentuk puasa, mulai dari Nabi Adam, Nabi Daud, hingga Nabi Isa.
Menurutnya, ketika manusia mampu menahan sesuatu yang sebenarnya diperbolehkan, ia belajar menyadari batas dan kekuatan dirinya. Dari kesadaran itulah lahir rasa syukur dan ketakwaan. Ia juga mengkritik fenomena bukber yang sering kali berubah menjadi ajang pamer pencapaian, bukan momentum untuk memperdalam makna puasa.
Sebagai penutup, Muftie mencontohkan keteladanan para sahabat—seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab, dan Ali bin Abi Thalib—yang unggul di bidang masing-masing. Namun, puncak teladan tetaplah Muhammad karena beliau adalah manusia paling bertakwa. Dari situlah, ia menegaskan kembali bahwa tujuan puasa adalah menumbuhkan ketakwaan agar manusia mampu melahirkan kebaikan yang lebih besar dalam hidupnya.
Menutup sesi pertama, Munawir mengucapkan terima kasih kepada para narasumber dan jamaah, seraya berharap gagasan yang telah disampaikan dapat dicatat dan menjadi bekal pertanyaan untuk diskusi selanjutnya.
Ia kemudian mengumumkan jeda sejenak sebelum sesi berikutnya, yang akan diisi oleh penampilan Balte Irama, sekaligus menutup dengan salam dan permohonan maaf apabila terdapat kekurangan dalam memandu sesi.

“Ketika manusia mampu menahan sesuatu yang sebenarnya diperbolehkan, ia belajar menyadari batas dan kekuatan dirinya, dari kesadaran itulah lahir rasa syukur dan ketakwaan.” —Muftie
Jeda pertama diisi oleh penampilan Balte Irama yang membawakan tiga lagu: Bencana, Darah Muda, dan 200 Juta. Alunan musik menemani jamaah beristirahat sejenak, mencairkan suasana setelah rangkaian diskusi di sesi pertama sebelum forum kembali berlanjut.
Setelah jeda musik yang memberi ruang bagi jamaah untuk beristirahat sejenak, forum kembali dilanjutkan ke sesi kedua. Mizani membuka dengan salam dan rasa syukur atas berkumpulnya jamaah pada malam Nuzululquran.
Ia menjelaskan bahwa tema “Upa Angkara” diambil dari buku Tuhan pun Berpuasa karya Emha Ainun Nadjib, yang kemudian berkembang melalui diskusi di forum Reboan. Mizani juga memperkenalkan narasumber sesi ini, yaitu Fahmi dan Sabrang, sementara JS Kristan masih dalam perjalanan menuju lokasi.
Mengaitkan dengan diskusi bulan lalu tentang “Metronom”, ia menyebut Ramadan sebagai semacam metronom agung yang Allah hadirkan setahun sekali—untuk menata ulang ritme kehidupan ketika tempo dunia terlalu cepat, sementara dimensi spiritual tertinggal.
Mendampingi Mizani sebagai moderator, Karim kemudian melanjutkan pengantar sesi kedua. Ia menyapa jemaah, mengapresiasi momen forum yang bertepatan dengan malam Nuzululquran, serta bersyukur karena hujan deras yang turun sejak sore akhirnya mereda.
Ia kemudian mengajak jemaah membaca Al-Fatihah untuk Muhammad Ainun Nadjib (Cak Nun) beserta keluarga, Mas Sabrang, keluarga Kenduri Cinta, serta seluruh jemaah.
Karim juga menjelaskan makna tema “Upa Angkara”: upa berarti mendekat, sementara angkara merujuk pada hawa nafsu. Ia mengajak jamaah merenung di pertengahan Ramadan ini, apakah kita benar-benar mendekat kepada Allah atau justru terseret urusan dunia?
Sebagai pengantar diskusi, ia memaparkan arah pembahasan malam itu: Fahmi tentang puasa dan batas diri, JS Kristan tentang puasa dalam tradisi umat terdahulu, serta Sabrang tentang tantangan media sosial dan algoritma dalam kehidupan sehari-hari.

“Puasa mengajarkan batas: kapan menahan, kapan berbuka, serta bagaimana tidak melampiaskan keinginan secara berlebihan.” —Fahmi Agustian
Mengawali sesi utama, Fahmi mengaitkan puasa dengan peristiwa “mokel” sejak awal penciptaan manusia. Ia menyinggung kisah Nabi Adam yang mendekati pohon terlarang sebagai bentuk pelanggaran batas—sebuah pengingat bahwa puasa pada dasarnya adalah latihan mengenali dan menjaga batas diri, sebagaimana juga diwajibkan kepada umat-umat sebelum kita.
Merujuk pada buku Tuhan pun Berpuasa karya Emha Ainun Nadjib, Fahmi menjelaskan bahwa puasa tidak sekadar menahan makan dan minum, tetapi melatih manusia mengendalikan berbagai “lapar” yang berkembang dalam hidup—lapar materi, jabatan, atau pengakuan. Karena itu, puasa mengajarkan batas: kapan menahan, kapan berbuka, serta bagaimana tidak melampiaskan keinginan secara berlebihan.
Ia juga mengajak jamaah melihat puasa sebagai cara memahami rahmat Allah yang terus memberi kehidupan meski manusia sering melampaui batas. Dalam praktik sosial, Ramadan justru menjadi momentum berbagi—dari takjil hingga sedekah—yang menggerakkan kepedulian dan kebersamaan.
Di akhir paparannya, Fahmi mengingatkan pesan Cak Nun: “Lailatul Qadar bukan dikotomi malam ganjil; ia bisa hadir kapan saja saat kita menemukan pemaknaan baru dari Al-Qur’an.”
Menanggapi paparan Fahmi, Mizani mengapresiasi kedalaman refleksi yang disampaikan. Ia menambahkan bahwa forum Kenduri Cinta sendiri bisa bertahan hampir 26 tahun karena semacam “puasa sponsor”—hidup dari pengorbanan dan kontribusi jamaah yang terus menjaga keberlangsungannya.
Karim kemudian menyambung dengan mengaitkan momentum Nuzululquran. Ia menyinggung ayat pertama, Iqra’, yang dahulu menjadi pemantik peradaban ilmu pengetahuan, mengantarkan kejayaan Islam pada abad ke-8 hingga ke-13, sebelum kemudian dominasi beralih ke Barat dengan dinamika kekuasaan yang sering kali sarat angkara.
Menurut Karim, tantangan hari ini justru datang dari banjir informasi dan algoritma media sosial yang membuat manusia hampir tidak bisa “berpuasa” darinya. Dalam situasi seperti itu, ia mempertanyakan bagaimana manusia dapat mengelola angkara—amarah, kekuasaan, dan dorongan power—agar tidak berubah menjadi senjata yang justru menyerang dirinya sendiri.
Sebagai penutup pengantar, Karim kemudian mempersilakan Sabrang untuk menanggapi persoalan tersebut dari perspektif ilmu pertahanan.

“Puasa membantu menyingkap hijab identitas dan mengembalikan manusia pada kesadaran sebagai makhluk Tuhan.” —Sabrang MDP
Menanggapi pengantar moderator, Sabrang memulai dengan nada ringan menanggapi candaan Fahmi tentang AI, dengan mengatakan bahwa jauh sebelum teknologi modern, nenek moyang sudah mengenal konsep “ki ai”. Dari sana, ia mengingatkan bahwa kebutaan paling berbahaya adalah ketika seseorang merasa perspektifnya sendiri adalah satu-satunya kebenaran. Karena itu, puasa perlu dipahami dari berbagai sudut pandang—bukan hanya apa yang dilakukan, tetapi mengapa hal itu dilakukan.
Mengutip gagasan Cak Nun, Sabrang menjelaskan bahwa puasa pada dasarnya adalah tidak mengambil sesuatu yang sebenarnya menjadi hak kita. Dalam tradisi Jawa, misalnya, terdapat berbagai bentuk laku puasa seperti menahan cahaya atau membatasi jenis makanan. Intinya sama: manusia memiliki hak, tetapi memilih untuk tidak mengambilnya. Dari sudut ini pula muncul gagasan bahwa “Tuhan pun berpuasa”—yakni menahan kuasa-Nya untuk langsung menghukum manusia.
“Puasa adalah tidak melakukan yang kita sukai dan melakukan apa yang tidak kita sukai,“ jelasnya. Dengan menahan dorongan biologis yang paling dasar, manusia dapat melihat dunia dengan cara berbeda, tidak lagi semata sebagai arena menang-kalah, tetapi sebagai ruang komunikasi dengan Sang Pencipta.
Sabrang kemudian menjelaskan bahwa banyak konflik manusia lahir dari identitas yang menutup diri—sebagai individu, kelompok, atau bangsa—yang melahirkan lawan dan musuh. Puasa membantu menyingkap “hijab” identitas tersebut dan mengembalikan manusia pada kesadaran sebagai makhluk Tuhan.
Menurutnya, yang membedakan manusia dari makhluk lain bukanlah tindakannya, melainkan niatnya. Puasa melatih manusia melakukan sesuatu bukan demi dorongan diri semata, tetapi demi tujuan yang lebih besar—keluarga, masyarakat, hingga ketaatan kepada Tuhan. Di situlah puasa menjadi latihan kepasrahan dan jalan menuju makna Islam itu sendiri: berserah kepada Yang Maha Kuasa.

“Puasa mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang menguasai; kadang kita perlu belajar imsak, menahan diri.” —Maman Suherman
Menanggapi paparan Sabrang, Karim menambahkan bahwa Cak Nun membangun manusia dimulai dari “jiwa” melalui metode bermesraan dengan Tuhan. Sementara generasi setelahnya banyak mengembangkan “akal” melalui teknologi komunikasi. Namun pada akhirnya keduanya tetap menuju hal yang sama: berinteraksi dengan Yang Maha. Dalam kerangka itu, puasa menjadi salah satu metode paling mendasar untuk menjalin komunikasi tersebut.
Menutup sesi diskusi, Karim kemudian mengajak Maman Suherman—yang malam itu hadir di tengah jamaah—untuk membagikan catatan reflektifnya.
Kang Maman membuka dengan kisah pribadi saat menjadi wartawan muda di Kompas. Ia berkata, “Saya pernah ditugaskan mewawancarai seorang selebriti di Pondok Indah. Saat mengetuk pintu, tidak ada yang membuka. Hujan deras turun, saya tidak punya tempat berteduh. Ibu selebriti keluar dan bertanya dengan nada merendahkan, ‘Kamu mau apa? Gaji kamu berapa?’ Ketika saya jawab Rp300.000, ia berkata, ‘Kamu tahu nggak pagar yang kamu pegang itu stainless steel? Kalau rusak, gajimu nggak cukup untuk mengganti.’”
Dari pengalaman itu, Kang Maman menyadari, “Kemarahan dan luka yang tidak diproses bisa bertahan puluhan tahun. Angkara yang dibiarkan bisa menjadi hantu yang diam-diam memengaruhi perilaku kita.”
Saat ditanya mengapa tidak menyebut nama selebritas tersebut, ia menjawab, “Suatu hari mungkin saja saya sebut, tetapi malam ini saya memilih tidak melakukannya. Saya teringat Wahsyi bin Harb yang membunuh Hamzah bin Abdul-Muttalib. Jika Nabi membalas dendam, Wahsyi tidak akan sempat bertobat. Ketika kita membalas, kita menutup ruang perubahan orang lain. Menahan diri memberi kesempatan bagi mereka untuk berubah.”
Kang Maman menekankan, “Manusia biasanya berhasil menjalankan puasa perut—menahan lapar dan haus—tetapi ada puasa lain yang jauh lebih sulit, yaitu puasa kekuasaan. Menahan keinginan menguasai orang lain, menahan dorongan menang, dan menahan merasa paling benar. Lapar ada batasnya, tetapi kekuasaan hampir tak pernah puas. Puasa mengajarkan bahwa hidup tidak selalu tentang menguasai; kadang kita perlu belajar imsak, menahan diri.”
Ia berbagi pengalaman lain: “Ketika dihujat, saya tidak membalas. Saya malah mendoakan orang itu agar suatu hari bertobat. Sikap ini bukan kelemahan, tapi strategi spiritual untuk memutus siklus kemarahan. Dengan mendoakan, angkara tidak tumbuh dalam diri.”
Ia menambahkan, “Di era media sosial, kemarahan diproduksi dan disebarkan untuk menarik perhatian. Berita yang menenangkan jarang viral, tetapi berita yang memicu marah atau takut cepat menyebar. Ruang publik berubah menjadi arena konflik. Puasa menjadi antidot bagi budaya reaktivitas digital. Puasa melatih kita tidak mudah terpancing, tidak merasa wajib menjawab setiap serangan, dan tidak langsung marah. Kemarahan yang dipelihara justru menjadi makanan bagi angkara yang mengeruhkan batin.”
Kang Maman menegaskan, “Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga mengelola kekuasaan dalam diri—untuk marah, menyerang, memaksakan kehendak, dan merasa paling benar. Jika kekuasaan ini tidak dikendalikan, manusia bisa berbahaya. Tetapi jika mampu menahannya, manusia bisa bijaksana.”
Sebagai penutup, ia bertanya kepada jamaah, “Bukan sekadar apakah kita mampu berpuasa hari ini, tetapi apakah kita sudah belajar menahan angkara dalam diri?” Lalu ia mengutip lagu Sejenak dari Letto.
Luangkan sejenak detik dalam hidupmu. Berikanlah rindumu pada waktu. Luangkan sejenak detik dalam sibukmu. Dan lihatlah warna kemesraan dan cinta yang tak semu. Dan tak semudah itu.
Kang Maman menutup refleksinya dengan mengingatkan, “Sejenak memberi ruang pada hati adalah cara kita melihat dunia dengan lebih lembut. Dalam detik yang kita luangkan, di sanalah kemesraan dan cinta sejati muncul—tidak semu, tetapi nyata, menenangkan batin dan mengikat kita pada kemanusiaan yang tulus.”

“Puasa bukan hanya menahan lapar, tapi juga mengelola kekuasaan dalam diri—untuk marah, menyerang, memaksakan kehendak, dan merasa paling benar.” —Maman Suherman
Menutup rangkaian pemaparan narasumber, Karim memanjatkan doa singkat. Ia juga berharap seluruh jamaah senantiasa diberi kesehatan dan istiqamah untuk terus hadir dan merawat kebersamaan di forum Kenduri Cinta.
Setelah itu, Karim mempersilakan jamaah yang ingin bertanya atau menanggapi, menandai dimulainya sesi tanya jawab.
Memasuki sesi tanya jawab, Tyra mengangkat kembali pernyataan Sabrang pada pertemuan sebelumnya tentang survival di tengah serangan siber dan perang informasi yang memicu kecemasan. Ia bertanya, jika situasi itu nyata, apa yang perlu dipersiapkan manusia selain kemandirian pangan? Menurutnya, hal itu saja tidak cukup.
Selanjutnya, Haryo dari Jogja mengibaratkan hidup seperti supermarket: apakah manusia datang dengan “daftar belanja” yang sudah ditentukan (takdir) atau justru di sanalah kita belajar menahan diri agar tidak mengambil yang tidak perlu? Dalam situasi hidup yang menuntut survival, ia juga bertanya tentang cara menahan diri agar tidak “macam-macam”. Selain itu, sebagai jamaah Kenduri Cinta yang bingung, ia menanyakan sebaiknya mengikuti siapa atau mazhab yang mana.
Menanggapi pertanyaan jamaah, Sabrang lebih dulu menyinggung sentimen negatif yang sering diarahkan kepadanya. Ia memilih tidak reaktif—bahkan menertawakannya. Baginya, ia tidak berkewajiban membuat semua orang memahami tindakannya, selama ia yakin sedang melakukan sesuatu yang benar.
Menjawab Tyra, Sabrang menilai persoalan survival di tengah perang informasi tidak memiliki jawaban teknis sederhana. Banyak kecemasan muncul karena manusia mengetahui terlalu banyak hal yang sebenarnya tidak dialami langsung. Karena itu, yang lebih penting dari persiapan teknis—seperti pangan mandiri—adalah inner state.
Ia mengajak jemaah berdamai dengan kemungkinan terburuk: kematian. Ketika seseorang sudah menerima hal itu, ia justru menjadi lebih merdeka dan bisa fokus melakukan kebaikan terbaik dengan kapasitas yang dimiliki. Oleh karena itu, menurutnya, lebih penting membangun lingkaran terdekat—keluarga, tetangga, komunitas—dan berbuat baik di sana tanpa larut dalam kecemasan global.
Sabrang juga mengingatkan bahwa konflik adalah bagian dari realitas manusia; bahkan, ada “perang” dalam diri kita sendiri. Sepanjang sejarah, persaingan manusia juga mendorong lahirnya berbagai kemajuan. Oleh karena itu, manusia perlu berdamai dengan kenyataan tersebut tanpa kehilangan jati dirinya.
Menjawab pertanyaan Haryo, ia menjelaskan bahwa banyak filsuf melihat alam semesta berjalan secara deterministik—segala sesuatu telah berada dalam hukum yang diketahui Tuhan. Namun, yang tetap menjadi wilayah manusia adalah pengalaman dan pemaknaan terhadap kejadian.
Ia memberi contoh: ban bocor di jalan mungkin sudah menjadi bagian dari mekanisme alam, tetapi apakah kita memaknainya sebagai musibah atau sebagai pengingat untuk bersyukur? Itulah wilayah free will. Di sinilah pentingnya husnuzan, yaitu berprasangka baik agar manusia mampu menemukan makna positif dalam pengalaman hidup.
Menurutnya, manusia hidup di dua dimensi: dunia fisik dan dunia makna. Fisik hanyalah kendaraan, sedangkan yang utama adalah pemaknaan. Oleh karena itu, ia menutup dengan refleksi: “Semua manusia pasti mati, tetapi tidak semua kehidupan memberi arti. Yang penting adalah bagaimana manusia memberi makna pada hidup dengan kebenaran yang ia pahami dan kesempatan yang ia miliki.”

“Konflik adalah bagian dari realitas manusia. Manusia perlu berdamai dengan kenyataan tersebut tanpa kehilangan jati dirinya.” —Sabrang MDP
Setelah rangkaian jawaban tersebut, forum kemudian memasuki jeda kedua. Suasana kembali dihangatkan oleh penampilan Balte Irama yang membawakan beberapa lagu untuk menemani jamaah beristirahat sejenak sebelum sesi berikutnya dimulai. Malam itu mereka membawakan lagu Teman, Judi, Mirasantika, hingga Begadang, yang membuat suasana forum kembali cair dan akrab.
Setelah jeda kedua, forum kembali dilanjutkan. Karim membuka sesi dengan memanggil narasumber utama, Bang Kris, sekaligus menyampaikan permohonan maaf atas keterlambatan teknis yang sempat terjadi. Ia juga mengabarkan bahwa Habib Jafar dan Bhante Dira sebenarnya berencana hadir, namun terkendala kondisi; ia mengajak jemaah mendoakan agar keduanya diberi kesehatan.
Karim kemudian mengaitkan kembali diskusi sebelumnya tentang puasa sebagai latihan menahan diri dalam Islam. Pada sesi ini, ia mengajak jemaah melihat perspektif lain—termasuk dari tradisi umat sebelum Islam, seperti Konghucu—yang diposisikan sebagai “saudara tua” dalam perjalanan spiritual manusia.
Melanjutkan semangat pembahasan tentang menahan diri dan transformasi, Kris Tan menjelaskan praktik cai dalam tradisi Konghucu yang bukan sekadar pola makan, tetapi latihan pengendalian diri: menahan konsumsi makanan bernyawa, memilih kesederhanaan dengan makanan tanpa proses masak, dan menghindari bumbu penyedap sebagai simbol hidup yang bersahaja.
Ia juga menyinggung mitologi “malaikat dapur” dalam tradisi Imlek yang mencatat perilaku manusia sebelum Imlek sebagai pengingat moral, bukan sebagai bentuk “menyuap” Tuhan. Esensinya tetap sama dengan ajaran The Great Learning: pembaruan diri setiap hari, tidak hanya saat perayaan ritual.
Kris Tan mengkritisi kekeliruan penulisan tahun Imlek yang mengikuti kalender Masehi; seharusnya dihitung sejak kelahiran Kong Hu Cu (551 SM), sehingga Imlek 2026 secara tradisi adalah 2577. Kekeliruan ini dianggap mencerminkan berkurangnya pemahaman spiritual terhadap tradisi. Ia juga mengingatkan bahwa ritual keagamaan yang hanya menjadi festival budaya tanpa pemaknaan spiritual akan kehilangan daya transformasi diri.
Intinya, baik puasa maupun Imlek mengajarkan hal yang sama: penyucian hati, pembaruan diri, dan komitmen menjadi manusia yang lebih baik setiap hari, bukan sekadar merayakan tradisi secara seremonial.
Melanjutkan refleksi tentang ketahanan batin dan dunia yang semakin kompleks, sesi tanya jawab diisi dengan kegelisahan jamaah terhadap masa depan manusia di tengah arus informasi, teknologi, dan geopolitik global.
Yoni dari Lampung menyoroti fenomena psychic numbing, yaitu mati rasa terhadap kekerasan akibat konsumsi berita perang yang berulang, dan menanyakan langkah menghadapi normalisasi angkara di ruang publik. Sementara itu, Raksanjani dari Jakarta mempertanyakan konsistensi prinsip nonblok Indonesia dalam dinamika politik global.
Sania menanyakan potensi dominasi AI dan sikap manusia agar tetap relevan, sementara Farah mengajak refleksi tentang kesadaran dan konsep “wayang” dalam dimensi spiritual. Anom dari Surabaya menanyakan energi spiritual tubuh dalam tradisi Timur, dan Aldi dari Cikarang mengangkat kekhawatiran krisis global, Great Reset, serta kesiapan Indonesia menghadapi gejolak ekonomi dunia.
Sesi tanya jawab ditutup dengan pesan bahwa tantangan utama manusia modern adalah menjaga empati, kesadaran, dan kebijaksanaan agar tetap berada di titik tengah di tengah perubahan dunia yang semakin cepat.
Diskusi tanya jawab bergerak dari kegelisahan global menuju refleksi yang lebih personal dan praktis. Sabrang menekankan bahwa yang lebih penting daripada memahami seluruh persoalan dunia adalah mengenali batas kapasitas diri dan memilih lingkup tindakan yang benar-benar bisa kita pengaruhi. Empati terhadap konflik global tidak harus diwujudkan dengan terus menyerap informasi kekerasan; cukup dengan menyatakan penolakan terhadap kezaliman sambil menjaga kesehatan batin. Konflik besar, menurutnya, bisa dilatih melalui cara kita mengelola konflik kecil dalam kehidupan sehari-hari.
Dalam konteks geopolitik dan kebijakan negara, ia menegaskan bahwa keputusan politik sering lebih ditentukan oleh kalkulasi survival daripada idealisme moral. Negara bukan entitas tunggal, melainkan ruang tarik-menarik kepentingan yang kompleks. Karena itu, publik sebaiknya fokus pada dampak kebijakan, bukan spekulasi motif pribadi.
Pada pembahasan teknologi, AI dilihat sebagai tantangan sekaligus peluang. AI membuka akses pengetahuan yang lebih luas, tetapi juga menuntut manusia beradaptasi lebih cepat. Persoalan utama bukan apakah manusia akan tergantikan, melainkan bagaimana manusia menjaga relevansi melalui kemampuan belajar dan beradaptasi.
Secara eksistensial, jiwa dan kesadaran manusia dipahami sebagai bagian dari yang universal namun tetap memiliki batas personal. Kesalahan dan keterbatasan justru menjadi bagian dari proses belajar dan pendewasaan. Sementara dalam kebijakan ekonomi dan ketahanan hidup, ia menekankan pentingnya pangan sebagai fondasi utama, dengan strategi ekonomi yang seimbang antara supply side dan demand side, serta pengawasan agar bantuan benar-benar menyentuh masyarakat yang membutuhkan.

“Secara eksistensial, jiwa dan kesadaran manusia bagian dari universal namun tetap memiliki batas personal. Kesalahan dan keterbatasan justru menjadi bagian dari proses belajar dan pendewasaan.” —Sabrang MDP
Fahmi menanggapi pertanyaan dengan menegaskan bahwa di forum ini tidak ada ekspektasi bahwa narasumber mengetahui segala hal. Di era AI dan banjir informasi, yang lebih penting bukan sekadar mengakses data, tetapi apakah kita benar-benar ingin memahami atau hanya memuaskan rasa penasaran. Ia mengingatkan pesan Nabi agar manusia menjadi bermanfaat bagi orang lain, dengan cara yang bisa berbeda-beda, namun tetap memiliki tujuan yang sama: kemaslahatan bersama.
Ia juga mengajak jamaah menilai langkah hidup melalui empat refleksi: apakah kita sedang diperintah, diizinkan, dibiarkan, atau justru dijerumuskan dalam pilihan yang diambil. Puasa dilihat sebagai latihan mengendalikan ego, sehingga dalam mencari kebenaran kita tidak terjebak pada “siapa yang benar”, melainkan “apa yang benar”, dan tetap mencari validasi kebenaran secara mandiri sebagai bentuk kedaulatan berpikir.
Ia menutup dengan mengajak melihat keberagaman profesi dan perspektif sebagai kekuatan dalam membaca persoalan sosial, sembari mengingatkan bahwa perjuangan manusia pada akhirnya adalah perjuangan melawan ego diri sendiri, sambil tetap bergerak bersama menuju kemaslahatan yang lebih luas.
Kris Tan menekankan bahwa inti pembahasan bukan soal politik atau kekuatan fisik, melainkan self-mastery—kemampuan menaklukkan diri sendiri. Dalam tradisi Konghucu, harmoni antara pikiran, hati, dan tindakan adalah kunci. Orang yang berhasil menyelaraskan ketiganya akan memancarkan energi positif secara alami, sementara hati yang mudah goyah oleh emosi atau pengaruh luar akan membuat energi internal menjadi lemah dan terpecah.
Ia menjelaskan bahwa olah energi dilakukan melalui latihan konsisten, seperti meditasi berdiri, pengaturan napas, dan visualisasi energi alam untuk membangun ketenangan batin. Berbeda dengan ilmu eksakta, energi spiritual tidak bisa “diberikan”, tetapi harus dibangun melalui latihan diri. Dalam tradisi Konghucu, manusia memiliki xing sebagai fitrah kebaikan yang harus dirawat agar tetap tumbuh seperti tunas yang bisa menjadi pohon kuat atau layu jika diabaikan.
Latihan spiritual berfungsi sebagai rem internal terhadap godaan indrawi dan emosi berlebihan sehingga manusia tetap mampu bertindak selaras dengan nilai kebaikan. Ia juga menegaskan bahwa ilmu spiritual harus dipakai untuk transformasi diri, bukan untuk menguasai orang lain. Penutupnya menekankan bahwa kontribusi terbesar tidak harus besar secara posisi sosial; cukup menjadi pribadi yang baik dan berintegritas di lingkup masing-masing karena jika semua orang menjalankan perannya dengan benar, harmoni sosial akan tercipta.

Malam itu ditutup dalam suasana hening yang hangat. Di tengah malam Nuzululquran, moderator mengajak jemaah merenungkan bahwa wahyu tidak hanya hadir sebagai ayat-ayat tertulis, melainkan juga sebagai tanda dalam diri, alam, dan kehidupan sehari-hari—sebagai jalan mendekatkan diri menuju Lailatulqadar. Puasa kembali dimaknai sebagai bahasa mesra antara hamba dan Sang Pencipta, sekaligus pengikat solidaritas sosial di tengah dunia yang terus bergerak cepat. Doa dipanjatkan untuk kesehatan, keberkahan perjalanan pulang, dan harapan agar dapat kembali berkumpul pada bulan berikutnya. Forum kemudian benar-benar berakhir dengan lantunan Shohibu Baity yang mengalun pelan, menutup malam tepat pukul 02.56 dengan suasana teduh, seolah meninggalkan rasa tenang yang lama beresonansi setelah acara usai.
Teks: Redaksi KC / RIzal – Haddad
Foto: Redaksi KC / Yudi






