LANGIT Jakarta malam itu menggantung mendung, namun bukan mendung yang mengancam—ia teduh, seperti memberi naungan bagi siapa pun yang datang. Di Plaza Teater Besar Taman Ismail Marzuki, jamaah Kenduri Cinta berdatangan dengan langkah santai dan wajah-wajah yang akrab. Sebagian langsung duduk bersila di atas terpal yang sudah digelar, sebagian lain saling menyapa, berjabat tangan, atau berbincang ringan sebelum forum dimulai. Di sela suara kendaraan yang masih melintas di kejauhan, suara mikrofon dan percakapan kecil menyatu menjadi denyut awal perjumpaan. Edisi ke-265 bertajuk “Metronom” dibuka dengan sholawat dalam suasana yang hidup namun tetap hangat. Tidak ada sekat antara panggung dan jamaah—yang terbangun adalah ruang kebersamaan, tempat riuh perlahan menemukan ritmenya sendiri, dan malam yang panjang bersiap dijalani dengan kesadaran penuh.

“Hidup memang bergerak zigzag, tetapi selama titik tengah terjaga, setiap ayunan adalah proses pendewasaan, bukan penyimpangan.” –Mufthie
Memasuki sesi pertama, Ibnu membuka forum dengan mengajak jamaah mencari posisi yang nyaman, seraya berharap perjumpaan malam itu membawa keberkahan bagi semua yang hadir. Dengan nada tenang namun bersahabat, ia menegaskan kembali bahwa Kenduri Cinta bukan sekadar panggung diskusi, melainkan ruang bersama—tempat setiap orang boleh berpikir keras, bertanya jujur, dan saling menolong dalam proses memahami hidup.
Ia kemudian menyapa Munawir yang malam itu turut membersamai sebagai moderator, serta memperkenalkan para narasumber: Mufthie, dosen ilmu hukum di Jakarta, dan Sandra yang akan turut membuka pembacaan tema. Ibnu juga menyebut Ian L. Betts yang dijadwalkan bergabung kemudian, menandai bahwa forum ini selalu terbuka pada beragam latar dan sudut pandang.
Mengantarkan tajuk “Metronom”, Ibnu menjelaskan asal-usul kata tersebut dari bahasa Yunani: metron (ukuran) dan nomos (aturan). Secara sederhana, metronom adalah alat musik yang menjaga tempo—berayun dari satu sisi ke sisi lain, tetapi selalu kembali pada titik tengah. Namun bagi Ibnu, kata itu bukan sekadar istilah teknis. Ia mengaitkannya dengan edisi sebelumnya tentang Millata Hanifah—jalan lurus atau algoritma Sirathal Mustaqim—sebuah upaya manusia menemukan ukuran dan aturan yang tepat dalam menjalani hidup.

“Hidup seperti metronom: kita boleh berayun ke mana saja, tetapi kebijaksanaan adalah selalu kembali ke titik tengah dengan kesadaran.” –Ibnu
Mengutip pemahaman yang pernah dibagikan Cak Nun, Ibnu menambahkan bahwa untuk menemukan titik tengah itu, manusia perlu melakukan “pelancongan spiritual”: berani menengok ke kanan dan ke kiri, memahami spektrum pemikiran yang berbeda, agar tidak terjebak pada ekstremitas. Dari sanalah seseorang belajar mengukur, menimbang, lalu menentukan langkah dengan kesadaran. Seperti metronom yang terus berayun, pencarian kebenaran pun menuntut keberanian menjelajah sebelum akhirnya menemukan keseimbangan.
Munawir kemudian menegaskan bahwa perjumpaan malam itu merupakan Kenduri Cinta edisi ke-265. Angka yang bukan sekadar hitungan waktu, tetapi penanda kesinambungan dialog yang terus dirawat dari bulan ke bulan.
Ibnu melanjutkan dengan menjelaskan bahwa tema “Metronom” sejatinya bukan sesuatu yang lahir tiba-tiba malam itu. Dalam forum Reboan sebelumnya, tajuk ini telah lebih dahulu dibedah dan dipantik dari berbagai sudut pandang. Para jamaah mengelaborasinya melalui kearifan lokal, pengalaman spiritual, hingga pendekatan intelektual. Dari proses itulah muncul beragam tafsir—sebuah upaya kolektif agar setiap orang dapat menemukan makna “metronom”-nya sendiri, sesuai dengan perjalanan hidup masing-masing.
Sesi pertama malam itu pun diposisikan sebagai kelanjutan dari diskusi Reboan—bukan pengulangan, melainkan pendalaman. Ibnu turut menyampaikan bahwa Kang Maman dijadwalkan hadir dan akan mengisi sesi kedua, menambah lapisan perspektif pada pembahasan. Setelah pengantar tersebut, forum pun mulai bergerak ke inti pembahasan, dan Ibnu mempersilakan Mufthie untuk membuka pemaparannya mengenai “Metronom” dari sudut pandang yang ia tekuni.
Mengawali paparannya, Mufthie menekankan bahwa “metronom” adalah kata benda—objektif, netral, tidak membawa emosi. Ia adalah alat ukur. Dalam kehidupan, metronom membantu manusia membaca ritme dan kecenderungan sebelum tergesa memberi penilaian.
Dari sana ia mengaitkan tema ini dengan konsep Ummatan Wasathan. Posisi tengah, menurutnya, bukan sekadar berada di antara dua kutub, tetapi berada di tengah rahmat dan kebaikan yang paling utuh. Mengutip ilustrasi sederhana tentang orang tua dengan lima anak berbeda usia, ia menegaskan bahwa wasathan bukan keadilan matematis, melainkan keseimbangan yang mempertimbangkan kebutuhan. Tengah berarti hadir dan membersamai.
Ia kemudian menyinggung usia 40 tahun sebagai fase kematangan Nabi Muhammad sebelum menerima wahyu. Hidup, katanya, memang bergerak zigzag—ke kiri dan ke kanan. Namun selama titik tengah terjaga, gerak itu adalah proses pendewasaan, bukan penyimpangan.
Mufthie juga mengkritik kecepatan hidup kapitalistik yang mematok standar capaian seragam dan melahirkan stres kolektif. Di tengah banjir informasi yang kerap memicu frustrasi dan rasa kurang, manusia perlu belajar melambat. “Metronom” malam itu menjadi ajakan untuk menemukan kembali tempo hidup—tidak terlalu cepat hingga kehilangan syukur, tidak terlalu lambat hingga kehilangan arah.
Mufthie menilai kegaduhan isu Board of Peace (BOP) muncul karena orang gagal memisahkan konteks. Setiap persoalan memiliki metronomnya sendiri; ketika ritmenya dicampur, lahirlah salah paham dan polarisasi.
Ia mengkritik akademisi yang mengejar target riset tanpa dampak sosial. Ilmu tak berarti jika tak menyentuh kebutuhan nyata. Rendahnya minat baca pun, menurutnya, bukan semata kemalasan, tetapi warisan budaya oral yang belum terjembatani.
Ia juga menyoroti meritokrasi semu dan ego manusia modern—memaksakan diri di luar kompetensi demi pasar. Antroposentrisme membuat manusia merasa paling tahu, padahal semakin berisi seharusnya semakin merunduk.
Solusinya sederhana namun sulit: kenali ritme pribadi, fokus pada peran yang mampu dijalankan, dan jaga adab dalam menuntut ilmu. Dari situlah keseimbangan dan kejernihan berpikir tumbuh.
Menanggapi paparan tersebut, Ibnu menekankan bahwa persoalan bukan hanya pada substansi kebijakan, tetapi juga pada cara pemerintah mengomunikasikannya. Komunikasi publik yang kurang jernih mudah memicu suuzon dan memperlebar jarak antara negara dan masyarakat. Setelah itu, ia mempersilakan Ian L. Betts untuk menyampaikan pandangannya.
Ian L. Betts menyampaikan pemaparannya dalam Bahasa Inggris. Ia memulai dari dasar fisika: metronom bekerja melalui ayunan pendulum—ritme yang terukur dan konsisten. Tubuh manusia pun, katanya, adalah metronom hidup: detak jantung, denyut nadi, dan pernapasan bekerja dalam irama yang menjaga keberlangsungan hidup. “Each of us is a microcosm controlled by the rhythm inside ourselves.” Ritme itu selaras dengan makrokosmos—pergerakan planet dan bintang yang beredar dalam sinkronisasi presisi sejak awal waktu.

“Kita adalah metronom hidup—mikrokosmos yang berdenyut dalam ritme, selaras dengan semesta, dan menemukan kejernihan saat kembali ke pusat.” – Ian L Betts
Ia kemudian mengaitkannya dengan kehidupan spiritual. Salat lima waktu, Ramadan, hingga rutinitas Kenduri Cinta setiap Jumat kedua adalah metronom yang menjaga tempo batin. Dalam ayunan pendulum, selalu ada titik tengah yang diam. Spiritual traveling, menurutnya, adalah keberanian menjelajah ekstrem, namun selalu kembali ke pusat untuk memahami kebenaran secara jernih.
Ayunan itu juga mencerminkan spektrum moral—antara baik dan buruk—yang diseimbangkan oleh relasi horizontal dengan sesama dan vertikal kepada Allah dan Rasulullah. Di tengah kekacauan dunia, Kenduri Cinta ia sebut sebagai oase yang menawarkan clarity dan compassion.
Mengutip Kitab Ketentraman, ia menegaskan bahwa ketentraman bukan ketiadaan masalah, melainkan pikiran yang aktif dan jernih di titik pusat metronom. Ia juga menyoroti ironi: lebih dari seratus buku telah ditulis Mbah Nun, namun sedikit yang sungguh membacanya. Padahal di dalamnya telah dibahas “Manusia Data”—prediksi tentang era AI dan dominasi data jauh sebelum zaman ini tiba. Data, tegasnya, bukan kecerdasan; kecerdasan lahir dari ketercerahan spiritual, mental, dan intelektual yang berujung pada kompas moral.
Setelah Ian L. Betts menegaskan metronom sebagai ritme kosmik—mikrokosmos tubuh yang selaras dengan makrokosmos semesta serta pentingnya kembali ke titik tengah sebagai pusat kejernihan—Sandra melanjutkan dengan membumikan gagasan itu dalam konteks sosial dan kearifan lokal.
Ia menyebut Maiyah sebagai “universitas paling terbuka”: tanpa seleksi, namun kaya bimbingan. Metronom, baginya, adalah prinsip keteraturan hidup. Seperti bintang yang tampak acak namun beredar pada orbitnya, manusia pun harus menemukan frekuensi diri agar tidak mudah terseret hoaks dan pengalihan isu yang menutupi persoalan sistemik.
Mengutip pepatah Kasepuhan Sukabumi—“Nyoreang alam katukang, nyawang anu bakal datang”—ia menekankan pentingnya berdiri di titik tengah waktu: belajar dari masa lalu untuk membaca masa depan. Kearifan adat terbukti presisi, dari ramalan Gunung Halimun “berkalung besi” hingga tata ruang ekologis yang menjaga hutan sebagai “rambut Ibu Bumi.”
Sistem zonasi adat bahkan selaras dengan konsep taman nasional modern seperti Yellowstone National Park. Kritiknya jelas: kebijakan yang seragam dan memaksakan—baik pangan maupun perumahan adat—berisiko mencabut frekuensi lokal dan menciptakan ketergantungan atas nama kemandirian.
Ibnu menutup sesi pertama dengan menegaskan bahwa metronom adalah ajakan untuk kembali ke titik tengah—melalui pelancongan spiritual dan keterbukaan pada pelajaran baru. Ia menginformasikan bahwa sesi kedua akan berlanjut dengan kemungkinan pembahasan isu pertanahan dan pertahanan.
Jeda musik diisi oleh Komunitas Hulubis Kuntul Baris yang memadukan musik dan puisi: Seduluran Saklawase, Jangan Banyak Omon-omon, dan Koruptor Sialan.

“Metronom kehidupan adalah kemampuan menjaga frekuensi diri agar tidak terseret arus, tetap belajar dari masa lalu, dan jernih membaca masa depan.” – Sandra
Usai penutupan sesi pertama dan jeda musik Komunitas Hulubis Kuntul Baris yang memadukan puisi dan energi kritik sosial, suasana Kenduri Cinta kembali menghangat memasuki sesi kedua.
Mizani membuka sesi 2 edisi ke-265 dengan menyapa jamaah dan mengajak sinau bareng di momentum long weekend. Ia menegaskan bahwa “Metronom”—hasil perenungan forum Reboan—bukan sekadar alat pengatur tempo, melainkan simbol konsistensi, istiqamah, dan keberlanjutan 25 tahun Kenduri Cinta dalam merawat kecerdasan bersama. Ia lalu memperkenalkan para narasumber: Ronald Surapradja, Hensa, Maman Suherman, dan Sabrang.
Karim membuka dengan perspektif saintifik: manusia adalah titik tengah antara partikel terkecil dan galaksi terbesar—posisi yang menuntut keseimbangan di antara berbagai ekstrem. Metronom, tegasnya, adalah keseimbangan yang dinamis, bukan statis. Ia menyebut Ronald dan Kang Maman sebagai representasi “umatan wasaton”: Ronald yang memaknai politik sebagai perjalanan spiritual, dan Maman yang konsisten menulis dengan relevansi lintas generasi.
Karim kemudian meminta Ronald menuturkan perjalanan lintas profesinya—dari musisi, pengusaha batik, MC, hingga terjun ke politik dan sowan ke tokoh bangsa—sebagai upaya menemukan titik tengah kesenimanannya.
Ronal Surapradja membuka dengan syukur bisa hadir langsung di Maiyah—meski selama ini hanya mengikuti lewat YouTube. Ia menganggap Cak Nun sebagai guru spiritualnya. Dikenal sebagai komedian, ia mengaku telah meninggalkan dunia itu karena tak lagi menemukan kenyamanan.

“Hidup adalah ritme takdir—yang penting bukan seberapa keras kita mengontrol, tapi seberapa ikhlas kita berjalan di titik tengah dengan rida.” – Ronal Surapradja
Kini ia menempuh doktoral di Universitas Padjadjaran. Ia memaknai keterlibatannya sebagai Cawagub Jawa Barat 2024 bukan sekadar politik praktis, melainkan perjalanan spiritual. Dengan salam “Sampurasun”—“Rampes!”, ia menegaskan bahwa pencalonannya terjadi tanpa modal uang (Rp0); ia merasa “diminta”, bukan meminta.
Saat haji 2024, ia berdoa di depan Ka’bah agar diberi jalan menjadi lebih bermanfaat. Politik ia lihat sebagai perluasan maslahat—bukan hanya untuk keluarga, tetapi untuk masyarakat luas. Namun di lapangan ia merasakan benturan antara idealisme dan realitas biaya politik, yang ia jalani sebagai ujian ibadah.
Ia juga bercerita tentang brand batiknya “Lawlaka” dan perjalanannya ke Solo yang membawanya sowan ke Joko Widodo. Atas pro-kontra kunjungan itu, ia menegaskan posisinya ingin menjadi titik tengah di antara tokoh bangsa seperti Prabowo Subianto, Megawati Soekarnoputri, dan Susilo Bambang Yudhoyono—tanpa fanatisme cinta atau benci berlebihan.
Filosofinya ia sebut “Siger Tengah”: berada di pusat kendali, sadar kanan-kiri tanpa kehilangan sikap. Di era algoritma dan polarisasi digital, poros tengah ini penting agar tetap teguh namun lembut pada sesama.
Ia menutup dengan kisah personal: setelah salat Duha di masa sepi pekerjaan 2022, ia berdoa ingin lebih bermanfaat—dan tak lama kemudian dihubungi petinggi partai. Bahkan ketika gagal mendapat rekomendasi sebagai calon wali kota, ia menyatakan rida; tak lama, tawaran maju di level provinsi justru datang saat ia menonton konser Tribute to Oasis. Baginya, hidup—termasuk politik—adalah ritme takdir yang dijalani tanpa beban, selama tetap di tengah dan dalam rida Allah.
Maman Suherman membuka dengan merendah: gaya bahasa Gen Z atau strategi “market” dalam bukunya semata profesionalitas agar karya dibaca—bukan untuk dipuja. Meski disebut pendatang baru, ia mengaku mengikuti Cak Nun sejak 1994 di forum Padang Bulan, Jombang; merasa “orang lama” yang dipanggil kembali lewat perjumpaan dengan Sabrang.
Ia menyebut diri “pendosa” yang tak layak banyak bicara, lalu mengkritik sikap dua muka: memuja rezim demi jabatan, lalu berbalik mencaci saat kuasa meredup. Ia juga mengajak jamaah tidak suuzon pada Sabrang yang masuk sistem, melainkan mendoakan amanahnya.
Mengaitkan tema Metronom, ia menekankan “detak” sebagai tanda hidup—pada jantung, peradaban, dan bangsa. Yang menakutkan bukan ketika sesuatu berhenti, tetapi ketika masih bergerak namun kehilangan ritme dan nurani. Di era serbacepat, keputusan dan penghakiman lahir dalam detik; padahal kebijaksanaan tak bisa dipercepat. Bangsa sehat bukan yang paling cepat, melainkan yang selaras dengan akal sehat dan nilai kemanusiaan.
Ia berbagi kisah perubahan nama dari “M. Suherman” menjadi “Maman Suherman” saat pindah ke Sumedang—pelajaran tentang rida dan kembali ke akar Sunda keluarganya. Menurutnya, penjaga detak bangsa adalah manusia biasa yang memilih tetap waras di tengah gaduh. Ia memuji daya tahan Kenduri Cinta yang bertahan puluhan tahun dengan kas kecil, kontras dengan politik berbiaya besar namun rapuh harapan.
Ia menutup dengan tanya reflektif: apakah kita masih berdetak sebagai manusia? Selama hati masih peka, harapan bangsa tetap hidup. Ia pun berdoa agar nurani Indonesia terjaga dan Mbah Nun segera diberi kesembuhan.
Melanjutkan refleksi Kang Maman tentang menjaga “detak” nurani di tengah kegaduhan zaman, Hendri Satrio masuk dengan sudut pandang yang lebih sosial-politik.
Ia menyoroti paradoks publik: kita kerap mengkritik rendahnya kualitas orang di pemerintahan, tetapi ketika figur yang dianggap berkualitas—seperti Sabrang—memilih masuk sistem, justru dipertanyakan. Menurutnya, kehadiran orang baik di dalam pemerintahan semestinya dilihat sebagai peluang perbaikan, bukan bahan kecurigaan.
Hendri Satrio juga berbagi kisah persahabatannya selama 31 tahun dengan Ronal Surapradja sejak sama-sama kuliah di Fikom Universitas Padjadjaran pada 1993. Sejak masa ospek, Ronal sudah menunjukkan fokus kuat pada dunia hiburan—sebuah konsistensi yang jarang dimiliki di usia muda. Ia pun menegaskan bahwa di balik citra komedi, terdapat idealisme dan kualitas musikal yang serius dalam diri Ronal.
Menanggapi apresiasi Hendri Satrio, Ronal menegaskan sisi idealismenya sebagai musisi. Ia menyebut album Ronaldisco (2007) dan Rocknal (2010) yang proses mixing–mastering-nya melibatkan Indra Lesmana. Meski tak meledak secara komersial, karya itu diproduksi dengan standar tinggi—ia menulis, memainkan, sekaligus memproduserinya sendiri. Baginya, berkarya adalah soal kepuasan batin; laku di pasar hanyalah bonus.
Hendri lalu membuka sisi lain Ronal: kiprahnya di balik layar industri film nasional melalui tim scoring untuk film-film karya Joko Anwar. Ronal menambahkan, timnya meraih Piala Citra untuk penataan musik film Pengabdi Setan. Kolaborasi itu berawal dari kedekatan personal—mereka pernah bertetangga sebagai sesama penyewa rumah—yang kemudian berkembang menjadi kerja kreatif profesional.

“Yang paling berbahaya bukan ketika manusia berhenti berpikir, tapi ketika ia terus bergerak tanpa ritme dan kehilangan nurani.” – Maman Suherman
Menutup bagiannya, Hendri Satrio mengajak jamaah tidak alergi pada politik. Politik, katanya, adalah harapan dan instrumen memperjuangkan kesejahteraan rakyat. Ia menekankan pentingnya membedakan “politik” sebagai seni mengelola kekuasaan demi kemaslahatan dengan “berita politik” yang sering menjengkelkan. Jika orang baik masuk ke dalamnya, itu justru membuka saluran bagi aspirasi bersama.
Menjelang akhir sesi, Sabrang berbicara dengan nada santai namun serius. Ia berkelakar tak ingin dipanggil “Gus” karena gelar itu kerap membuat orang kebal kritik. Di Maiyah, katanya, semua setara—ia siap “di-roasting” sebagai bagian dari pencarian kebenaran.
Ia menjelaskan nama “Sabrang” sebagai laku menyeberang: dari anak pengkritik budaya pop menjadi bintang pop, lalu kini masuk ke sistem pemerintahan. Pemerintah, baginya, bukan ruang yang harus ditakuti, melainkan disebrangi dan dipahami. Ia bahkan mengungkap fase paling ekstrem hidupnya ketika memilih menjadi ateis—ujian berat yang justru membentuk kedalaman spiritual dan intelektualnya.
Dalam mengambil keputusan, ia menolak bersandar pada asumsi; ia memilih mengumpulkan data dan melihat realitas langsung. Terkait posisinya sebagai tenaga ahli, ia merasa tak perlu menjelaskan diri kepada publik luas, tetapi berkewajiban moral bercerita kepada sedulur Maiyah agar tidak terjadi salah paham.
Ia membantah tudingan mencari kuasa. Secara logis, jika ingin kekuasaan, ia bisa mengonversi basis Maiyah menjadi modal politik—namun itu tak ia lakukan. Masalah terbesar bangsa, menurutnya, adalah politik adu domba dan krisis kepercayaan. Yang perlu dibangun bukan sekadar figur, tetapi struktur yang memulihkan trust.

“Jika kita melihat bahaya di depan, maka memilih masuk ke dalam untuk memperbaiki adalah tanggung jawab, bukan ambisi.” –Sabrang MDP
Mengutip pesan ayahnya tentang “nasib-nasab”, ia menyadari estafet peran tak bisa dihindari, meski strategi berbeda. Jika Mbah Nun membangun jiwa dan resiliensi, maka tugas generasinya adalah membangun sistem dan akal—agar gagasan tak bergantung pada tokoh. Ia menyebut dirinya lebih utilitarian: memastikan masyarakat tetap hidup dan kuat secara struktural, sehingga idealisme punya ruang untuk bertahan.
Hendri Satrio melempar kegelisahan: kini ada fenomena “maling yang mengerti hukum” — pelaku kecil berani menuntut hak saat hendak dihakimi massa. Ia melihat paradoks: rakyat mudah meledak pada pencuri receh, tetapi sering tak berdaya menghadapi ketidakadilan yang lebih besar.
Sabrang menanggapinya dengan perspektif “game”. Jika pelaku memanfaatkan celah hukum formal, masyarakat perlu menyeimbangkannya dengan kearifan lokal sebagai benteng sosial. Bukan untuk membenarkan kekerasan, melainkan agar ada mekanisme budaya yang menjaga harmoni tanpa kehilangan akal sehat.
Sebagai lulusan kriminologi, Maman Suherman memberi analisis lebih tajam: maraknya main hakim sendiri adalah tanda gagalnya negara menghadirkan keadilan. Jika hukum bekerja tegas dan adil, rakyat tak perlu mengambil alih peran negara di jalanan.
Ia menyoroti ekosistem ketidakadilan: pencuri ayam dihajar, sementara koruptor besar kerap tetap dihormati. “Berani tidak kita memukul koruptor seperti memukul maling ayam?” tanyanya retoris. Ketimpangan distribusi kemarahan inilah yang merusak rasa keadilan.
Ia juga mengingatkan dampak sosial vigilantisme yang direkam dan disebarkan di media sosial—anak seorang pencuri yang menyaksikan ayahnya dibunuh akan mewarisi luka dan dendam. Kita, katanya, sering keras pada yang lemah, tetapi lunak pada “maling” yang berkuasa.

“Manusia berdiri di tengah antara ekstrem terkecil dan terbesar, maka keseimbangan bukan pilihan, melainkan keharusan untuk tetap utuh.” –Karim
Memasuki akhir sesi, Adik Aang— anak berusia 9 tahun, siswa Sekolah Motekar yang tumbuh dari ekosistem Maiyah—maju memperkenalkan diri. Ia mengaku tertarik pada public speaking dan konten kreatif, menegaskan bahwa usia kecil bukan halangan untuk berpikir besar.
Ia bercerita tentang program MBB (Makan Bergizi Bersama) di sekolahnya yang sudah berjalan sebelum program serupa ramai dicanangkan pemerintah. Prinsip belajarnya adalah “menemani, bukan mengajari”: orang dewasa memfasilitasi minat anak, bukan memaksakan arah. Ia bahkan berseloroh tak ingin sekolah formal karena “takut bodoh”.
Aang lalu mengajak jamaah memainkan “Trang-trang Kolentrang” sebagai latihan keseimbangan otak kiri dan kanan. Baginya, bermain adalah cara belajar yang serius—hidup lebih baik untuk bermain daripada dipermainkan.
Karim menutup dengan mengapresiasi pelajaran keseimbangan dari Aang, sempat berkelakar membandingkan sosok seperti Kahlil Gibran dengan realitas tokoh hari ini, lalu mengarahkan forum ke jeda istirahat dan sesi tanya jawab.
Jeda kedua diisi Holopis Kuntul Baris dengan lagu Nasib Rakyat Jelata.
Usai jeda kedua yang kembali menghangatkan suasana dengan Nasib Rakyat Jelata, forum memasuki bagian akhir: Sesi tanya jawab sebagai ruang pendalaman tema Metronom.
Karim membuka sesi dengan mengundang kembali para narasumber ke panggung: Ronal Surapradja, Maman Suherman, Sabrang, dan Hendri Satrio. Ia menegaskan bahwa sesi ini adalah kesempatan jamaah menguji, mengonfirmasi, sekaligus memperkaya perspektif yang telah dibangun sejak sesi pertama.
Untuk menjaga keseimbangan—selaras dengan semangat “metronom”—Karim mengatur komposisi penanya: dua laki-laki dan dua perempuan. Ia kemudian mempersilakan penanya pertama memperkenalkan diri sebelum menyampaikan pertanyaan kepada para narasumber.
Memasuki sesi tanya jawab, empat penanya langsung menukik ke isu strategis.
Rolan (NTT) mempertanyakan pilihan Sabrang masuk Kementerian Pertahanan: mengapa menjadi “orang dalam” yang memperbaiki kapal bocor, bukan pengarah dari luar? Ia juga menyinggung soal aspek pragmatis seperti tawaran dan gaji.
Wildan (Sumedang) mengaitkan langkah Sabrang dengan keberanian Abdurrahman Wahid masuk ke ruang “lawan”. Ia meminta penjelasan tentang polarisasi (divide et impera) serta kiat konkret agar Indonesia tak mudah terpecah dan bangkit lewat literasi.

“Masalah kita bukan kekurangan orang baik, tapi kegagalan mempercayai ketika orang baik memilih masuk ke dalam sistem.” – Hendri Satrio
Zafwan menyoroti beda idealisme dan strategi, mengingatkan bahaya “penyelamat palsu”, dan bertanya apa kontribusi nyata Sabrang di pertahanan serta bagaimana masyarakat bisa tetap di posisi tengah (wasathon) di tengah polarisasi media sosial.
Dadang menolak sistem pemilihan langsung dan mengusulkan model perwakilan ala MPR. Ia menilai posisi Sabrang di pertahanan sebagai pengabdian kebudayaan, bahkan menyinggung relasi dengan Prabowo Subianto dan kabinet Joko Widodo sebagai bagian strategi ketahanan negara.
Empat pertanyaan ini menajamkan tema: strategi, kekuasaan, dan jalan tengah di tengah polarisasi.
Sabrang menegaskan bahwa posisinya di Kementerian Pertahanan adalah profesional, bukan politik praktis. Ia bekerja memberi analisis ancaman nyata bagi negara, bukan membela partai atau kekuasaan tertentu. Ia mengibaratkan dirinya mengalami “Cassandra Effect”: melihat potensi bahaya—terutama dari percepatan AI dan disrupsi digital—namun berisiko tak dipercaya. Jika melihat “bus menuju jurang”, ia memilih masuk ke dalam untuk mencoba mencegah kecelakaan, meski harus siap dicurigai atau dihujat.
Baginya, pengetahuan adalah beban moral. Jika tahu ada risiko besar di depan, ia merasa wajib memperingatkan. Ia menolak anggapan bahwa dirinya sedang mengejar jabatan, uang, atau popularitas. Ia merasa sudah cukup dengan karya dan kehidupannya. Yang ia jaga adalah tanggung jawab pada kebenaran dan masa depan bangsa.
Tentang perpecahan, Sabrang menjelaskan secara saintifik: manusia terdorong naluri naik strata sosial—di era digital ini termanifestasi dalam likes, followers, dan popularitas. Algoritma memperkuat dorongan itu. Tanpa adu domba pun, manusia bisa saling serang demi validasi. Karena itu ia mengusulkan agar nilai gotong royong punya “parameter digital”, agar yang berjasa bagi masyarakat lebih dihargai daripada yang sekadar viral. Ia juga mengkritik dominasi strata ekonomi yang bisa “membeli” strata lain—gelar, simbol kesalehan, bahkan legitimasi sosial.
Sebagai tenaga ahli, ia melihat ancaman AI bukan lagi soal benar atau salah, tetapi soal apakah sesuatu itu nyata atau rekayasa. Deepfake dan manipulasi realitas akan membuat manusia sulit membedakan “ada” dan “tidak ada”. Karena itu ia menyarankan strategi sederhana: fokus pada survival jangka pendek, bangun lingkar kecil yang solid, hemat energi, dan jangan habis terseret isu di luar kendali.
Hendri Satrio menimpali dari sisi komunikasi publik. Ia mengkritik buruknya cara pemerintah menjelaskan kebijakan besar kepada rakyat—sering kali keputusan diambil dulu, klarifikasi belakangan. Ini menimbulkan jurang ketidakpercayaan. Ia mencontohkan betapa informasi strategis tak selalu sampai ke presiden secara utuh, sementara rakyat kecil tak memahami istilah-istilah besar yang dibicarakan elite. Ia bahkan mengenang format “Laporan Khusus” di TVRI pada era Orde Baru—yang dulu terasa membosankan, namun sebenarnya menjadi kanal komunikasi resmi agar rakyat tahu apa yang sedang dikerjakan negara.
Ronal Surapradja mengajak melihat isu AI lewat budaya populer seperti Black Mirror. Menurutnya, persoalannya bukan lagi apakah AI mengubah dunia, tapi apakah manusia siap tetap menjadi manusia di tengah algoritma ciptaannya sendiri. Ia menyinggung karakter Ultron dalam semesta Avengers: Age of Ultron untuk menunjukkan bahwa batas antara kebenaran, ancaman, dan tafsir moral makin kabur.
Di tengah ketidakpastian itu, Ronal menekankan satu hal sederhana: kasih sayang dan tabayyun. Jika hati dijaga, orang tidak mudah terprovokasi, tidak cepat menuduh, dan mau memeriksa sebelum bereaksi.
Forum memasuki puncaknya. Dalam closing statement, Maman Suherman berbicara tenang namun menghentak.
Ia membuka dengan membantah mitos minat baca Indonesia 0,001 yang kerap diklaim bersumber dari UNESCO. Menurutnya, tak pernah ada rujukan resmi atas angka itu. Narasi tersebut terus diulang tanpa verifikasi, seolah-olah menjadi kebenaran, padahal justru merendahkan martabat bangsa.
Sebagai bantahan, ia menghadirkan bukti historis dan empiris. Naskah I La Galigo—karya sastra terpanjang di dunia—mustahil lahir tanpa tradisi membaca yang kuat. Secara ekonomi, toko buku di pusat kota masih mencatat omzet ratusan juta rupiah. Jika minat baca benar-benar nyaris nol, fakta-fakta ini tak mungkin ada.
Baginya, persoalan utama bukan minat, melainkan akses dan distribusi. Di negeri dengan lebih dari 17.000 pulau dan hanya sekitar seratusan toko buku jaringan besar, jarak fisik menjadi masalah nyata. Biaya logistik mahal membuat buku sulit menjangkau wilayah terpencil. Namun justru di pelosok, ia menyaksikan bagaimana buku diperlakukan seperti “berlian”—diselamatkan, dicuci, bahkan disetrika ketika perahu pustaka terbalik di Sulawesi Barat. Itu bukti bahwa kehausan literasi tetap hidup.
Ia juga mengkritik metodologi riset yang mengabaikan tradisi lokal seperti muraja’ah di pesantren. Jika angka 0,001 benar, maka hanya ratusan ribu orang Indonesia yang membaca—klaim yang tak masuk akal melihat realitas pendidikan dan majelis ilmu.
Namun Kang Maman tak berhenti pada data. Ia menyoroti kesombongan intelektual: membaca bukan lagi untuk mencari kebenaran, melainkan untuk menyerang. Mengutip Ali bin Abi Talib, ia mengingatkan bahaya hobi mencari kesalahan orang lain. Perdebatan hari ini menunggu slip of the tongue, bukan memperdalam pemahaman. Polarisasi hitam-putih memperkeruh nalar publik.
Merujuk ajaran Ki Hajar Dewantara tentang ngerti, ngerasa, ngelakoni, ia menilai manusia modern berhenti di tahap tahu, tetapi kehilangan rasa dan tindakan. Kita kehilangan “meneng”—diam sejenak—padahal dari diam lahir kejernihan. Ia menggambarkannya lewat filosofi neng–ning–nung–nang–gung: dari diam menuju hening, menemukan nilai kemanusiaan, berdaulat atas diri, hingga mencapai martabat yang agung.
Di tengah ledakan data miliaran gigabita per hari, manusia tak mungkin menang melawan kecepatan algoritma. Yang dibutuhkan bukan percepatan, melainkan kedalaman: tafakkur dan tadabbur. Iqra bukan sekadar membaca teks, tetapi membaca realitas dengan akal sehat dan kebijaksanaan.

Menjelang pukul 02.23 dini hari, suasana forum mulai tenang. Setelah rangkaian diskusi dan tanya jawab yang cukup panjang, energi ruangan perlahan mereda. Jamaah yang sejak awal mengikuti acara tetap bertahan hingga akhir, duduk dalam suasana yang lebih hening dan reflektif.
Forum kemudian ditutup dengan indal qiyam dan shohibu baity. Jamaah berdiri bersama, doa dipanjatkan dengan khidmat. Penutupan berlangsung sederhana namun penuh makna, menjadi akhir yang tertib dan hangat bagi rangkaian acara malam itu.






