PADA MULANYA, pendidikan bukanlah kata yang jinak. Ia lahir bukan dari cinta pada pengetahuan, melainkan dari kegelisahan kekuasaan. Di Yunani Kuno—yang sering kita puja sebagai rahim rasionalitas—pendidikan disusun seperti pagar: rapat, sistematis, dan tak mudah dilompati. Ia bukan sekadar cara berpikir, melainkan cara mengatur hidup orang lain.
Ada satu kata yang jarang kita dengar hari ini: transgression. Bukan pelanggaran, melainkan penyaringan. Anak-anak direkrut sejak usia lima atau enam tahun, bukan untuk merdeka, tetapi untuk dilipat masuk ke dalam sistem. Seperti tanah liat yang belum mengeras, mereka dibentuk sebelum sempat bertanya. Pendidikan bekerja di hulu: sebelum kesadaran tumbuh, sebelum kata “mengapa” sempat terucap.
Di situ, pendidikan menjadi alat paling sabar dari kekuasaan. Ia tidak membunuh dengan pedang, melainkan dengan kebiasaan. Ia tidak memaksa dengan teriakan, melainkan dengan jadwal.
Kehidupan modern—yang sering kita bayangkan sebagai kemajuan—sebetulnya mewarisi arsitektur seperti itu. Kita hidup di sebuah rimba yang tertata: buas, tetapi rapi. Yang bertahan bukan yang paling bebas, melainkan yang paling disiplin. Bukan yang paling kritis, melainkan yang paling patuh pada irama. Pendidikan menjanjikan, kohesi sosial, agar manusia mampu hidup bersama. Tapi kohesi itu sering berarti satu hal: jangan keluar barisan.
Di Yunani Kuno, pendidikan dibelah menjadi dua. Yang satu untuk elite—mereka yang dilatih berpikir, berdebat, dan memerintah. Yang lain untuk rakyat kebanyakan. Pendidikan jenis kedua ini sederhana, hampir telanjang dari cita-cita. Intinya satu: disiplin total.
Para helot—tawanan perang yang dijadikan budak—dididik bukan dengan buku, melainkan dengan senja. Mereka harus pulang ke barak sebelum matahari tenggelam. Senja adalah bel. Senja adalah ujian. Senja adalah garis batas antara hidup dan mati. Siapa yang masih berada di ladang setelah gelap, lehernya akan digorok oleh penjaga yang berkeliling dalam diam.
Tak ada ruang untuk terlambat. Tak ada toleransi bagi yang “masih bekerja”. Disiplin lebih penting daripada keadilan. Keteraturan lebih penting daripada kemanusiaan.
Hari ini, tak ada lagi penjaga dengan pisau di senja hari. Tapi sistem itu tak benar-benar pergi. Ia berganti seragam. Ia hidup dalam kurikulum yang seragam, ujian yang menstandarkan manusia, dan sekolah yang lebih sibuk mencetak kepatuhan ketimbang keberanian berpikir. Leher memang tak lagi digorok, tapi kemungkinan hidup sering diputus perlahan: oleh label gagal, oleh ijazah yang tak bernilai, oleh pintu-pintu yang tertutup rapat bagi mereka yang “tidak cocok”.
Maka pendidikan modern tampak seperti cahaya, tapi sering bekerja seperti bayangan. Ia menjanjikan mobilitas, tapi diam-diam menjaga hierarki. Ia berbicara tentang kesempatan, sambil memastikan siapa yang pantas mendapatkannya.
Mungkin itulah ironi terbesar pendidikan: ia selalu datang atas nama masa depan, tapi kerap bekerja untuk melanggengkan masa lalu. Kita—murid, guru, orang tua—sering lupa bertanya: apakah sekolah ini sedang membuka jalan, atau sekadar memastikan kita semua pulang sebelum senja?
Pendidikan, sejak awal, memang tak pernah netral. Ia lahir dari kecemasan kekuasaan: bagaimana memastikan dunia tetap bisa diprediksi. Di Yunani Kuno, pendidikan disusun bukan sebagai perayaan akal budi, melainkan sebagai teknologi ketertiban. Anak-anak direkrut sejak usia paling dini—ketika pikiran belum sempat liar—melalui mekanisme yang rapi, nyaris tak terlihat. Transgression, kata itu, terdengar modern, tapi tujuannya kuno: memastikan sistem sanggup bertahan lintas generasi.
Warisan itu hidup hingga hari ini, termasuk di Indonesia. Kita menyebutnya kurikulum. Berganti nama, berganti jargon—KBK, KTSP, K13, Merdeka Belajar, deep learning—namun logika dasarnya tetap sama: sekolah sebagai perpanjangan tangan pusat. Guru menjadi pelaksana, bukan pemikir. Murid menjadi objek pengolahan, bukan subjek sejarah. Pendidikan berjalan seperti rel kereta: lurus, ditentukan dari jauh, dan tak memberi ruang bagi penyimpangan.
Dalam masyarakat yang kita sebut modern, kehidupan terasa seperti rimba yang ditata. Bukan rimba bebas, melainkan rimba administratif. Yang bertahan bukan mereka yang paling kreatif, melainkan yang paling patuh pada prosedur. Pendidikan pun dirancang untuk membentuk kohesi sosial—kata yang terdengar indah—namun sering berarti keseragaman sikap, kesamaan cara berpikir, dan ketaatan pada irama nasional yang ditentukan segelintir elite.
Indonesia hari ini mewarisi pembelahan lama itu. Ada pendidikan untuk rakyat kebanyakan—sederhana, padat disiplin, miskin ruang refleksi. Dan ada pendidikan untuk elite—fleksibel, penuh akses, membuka pintu ke jaringan global. Yang pertama diajari bagaimana “menjadi tertib”. Yang kedua diajari bagaimana “mengatur ketertiban”.
Sekolah-sekolah negeri di banyak daerah sibuk memastikan murid hadir tepat waktu, berpakaian seragam, menghafal indikator, dan lulus ujian. Disiplin menjadi tujuan, bukan sarana. Seperti para helot di Yunani Kuno, murid-murid diajari kapan harus datang, kapan harus diam, kapan boleh bicara. Senja mereka bukan lagi matahari terbenam, melainkan bel pulang, ranking, dan angka rapor.
Tak ada lagi penjaga yang menggorok leher di ladang. Tapi sistem tetap punya cara sendiri untuk menyingkirkan mereka yang tak patuh. Murid yang bertanya terlalu jauh dianggap mengganggu. Guru yang menyimpang dari modul dicurigai. Sekolah yang ingin menentukan arah sendiri ditarik kembali ke barisan dengan regulasi dan akreditasi.
Kekerasan hari ini tak berdarah, tapi administratif. Ia bekerja lewat formulir, platform digital, dan indikator kinerja. Ia memotong bukan leher, melainkan kemungkinan. Ia membunuh bukan tubuh, melainkan keberanian untuk berpikir di luar pagar.
Di situlah pendidikan Indonesia berdiri: di antara janji emansipasi dan praktik domestikasi. Kita berbicara tentang “merdeka belajar”, tapi lupa bertanya: merdeka dari siapa? Kita merayakan perubahan kurikulum, tapi enggan mengutak-atik relasi kuasa yang menopangnya.
Mungkin masalah pendidikan Indonesia bukan karena ia gagal mencerdaskan. Justru sebaliknya: ia terlalu berhasil menjaga ketertiban. Terlalu rapi dalam memastikan siapa yang kelak memerintah dan siapa yang cukup tahu cara pulang sebelum senja. Dan selama sekolah lebih takut pada kekacauan daripada ketidakadilan, pendidikan akan tetap menjadi alat paling sunyi—dan paling efektif—untuk mempertahankan kekuasaan.






