JAKARTA DALAM HIRUK-PIKUKNYA adalah kota yang tidak tidur, kota yang tidak pernah benar-benar sunyi. Namun, di dalamnya, ada manusia-manusia yang berpuasa: bukan hanya dari lapar dan dahaga, tetapi juga dari kemewahan yang mereka tahu ada, tapi tak selalu bisa mereka miliki. Jakarta adalah panggung bagi mereka yang nothing to lose, sebuah gelanggang di mana ketahanan diuji setiap hari.
Jakarta, dengan segala dinamikanya, selalu menjadi panggung bagi perjuangan yang tak pernah selesai. Kota ini bukan sekadar pusat ekonomi dan politik, melainkan juga ruang di mana kesabaran dipraktikkan dalam bentuk yang paling ekstrem. Ketimpangan bukan lagi sesuatu yang mengejutkan, melainkan bagian dari lanskap sehari-hari. Di tengah arus kapital yang tak terbendung, ada sekelompok manusia yang tak hanya bertahan, tetapi juga menjadikan penderitaan sebagai narasi kebersamaan. Kenduri Cinta, dalam konteks ini, menjadi ruang di mana keterasingan diolah menjadi solidaritas, dan ketahanan terhadap penderitaan dimaknai sebagai kekuatan.
Aryo Seno Bagaskoro, juru bicara muda dari salah satu partai dalam forum Kenduri Cinta Maret 2025 menegaskan bahwa Maiyah, bukan sekadar ruang perjumpaan, melainkan ekosistem epistemik yang membentuk cara berpikir dan merasanya. Ia tak melihatnya sebagai institusi dalam pengertian formal, sebagaimana universitas dengan fakultas-fakultasnya yang rigid, melainkan sebagai lanskap intelektual yang cair dan partisipatoris. Di dalamnya, wacana mengalir tanpa sekat, melampaui dikotomi akademis yang sering kali membatasi ekspresi dan permenungan.
Dengan penuh gairah, Seno mengafirmasi Maiyah sebagai rumah bagi dirinya—dan, lebih jauh, bagi mereka yang terlempar dari sistem, yang kehilangan sandaran dalam arus epistemologi dominan. Di tengah kejemuan diskursus yang sering kali berujung pada kemandegan, ia menemukan dalam Maiyah suatu dinamika yang bukan sekadar dialektis, melainkan transformatif. Sebuah ruang bagi mereka yang nyaris putus asa untuk tetap menyemai harapan, tetap punya asa.
Dalam konteks tema diskusi malam itu, Seno juga melihat puasa bukan sekadar ritual, tetapi juga metafora ketahanan. Ada sesuatu yang khas dari cara Indonesia berpuasa. Kita mungkin tertinggal dalam banyak hal, tetapi dalam menahan diri, dalam ketahanan menghadapi ketidakpastian, kita tidak kalah. Puasa, jika diresapi lebih jauh adalah cara lain untuk berbicara dengan dunia: dengan perut yang kosong, dengan tubuh yang menahan, dengan jiwa yang mencari. Seperti puisi, puasa adalah cara lain untuk merawat makna.
Menunda, menahan, dan menerima tampaknya telah menjadi ciri khas bangsa ini. Di banyak aspek, Indonesia mungkin tertinggal, tetapi dalam hal bertahan di tengah ketidakpastian, ia unggul tanpa tanding. Berpuasa, dalam bentuk yang paling sederhana, seringkali dikerucutkan sebagai menahan lapar dan haus. Pada tingkat yang lebih mendalam, ia adalah latihan bagi sebuah kemampuan yang lebih besar: kemampuan menunda keinginan, menahan ketidakpuasan, dan menerima keadaan sebagai sesuatu yang niscaya. Dalam politik, dalam ekonomi, dan dalam keadilan sosial, keterampilan ini lebih sering dibebankan kepada rakyat, sementara penguasa dengan mudah menghindarinya.
Lalu, di antara pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, ada satu yang menggugah: jika Allah menahan azab-Nya, apakah itu bentuk puasa Tuhan? Dan jika benar, kapan Allah akan berbuka? Pertanyaan ini, dalam kedalamannya, bukan sekadar teologi. Ia adalah refleksi dari kecemasan yang lebih luas: tentang ketidakpastian, tentang keadilan yang tertunda, tentang harapan yang terus dijaga. Habib Ja’far dalam forum Kendurti Cinta Maret lalu menjawab dengan kisah Nabi yang terus bersujud, meminta syafaat untuk umatnya, bahkan ketika semua nabi lain berkata, “Nafsi, nafsi.” Ada sesuatu yang besar dalam cinta Nabi, dalam cara ia mengajarkan kita untuk tidak menyerah pada putus asa.
Dalam diskusi yang berlangsung pada Kenduri Cinta 14 Maret lalu, mengemuka pula refleksi tentang ketundukan. Jika puasa dianggap sebagai latihan menahan diri, maka dalam politik, hal itu sering kali dimanipulasi menjadi alat untuk mengukuhkan kekuasaan. Ketundukan kepada nilai digeser menjadi ketundukan kepada individu. Partai politik yang seharusnya menjadi ruang pergulatan ideologi justru bertransformasi menjadi perkumpulan yang mengabdi pada satu figur, satu kepentingan, satu agenda. Keberagaman partai yang ada tidak serta-merta mencerminkan perbedaan ideologi, melainkan hanya variasi dalam simbol, warna, dan slogan. Politik kehilangan narasi, dan yang tersisa hanyalah transaksi kekuasaan.
Di sisi lain, ada pertanyaan politik yang muncul: apakah retreat seorang pemimpin bisa dianggap sebagai bentuk puasa? Jika puasa adalah cara menahan diri, apakah dalam politik ia bisa menjadi cara menahan ego, menahan keinginan untuk berkuasa? Sabrang juga ikut mengingatkan ketika diskusi berlangsung bahwa politik, seharusnya, adalah tentang ideologi, bukan individu. Tetapi kenyataannya, banyak yang masuk partai bukan karena keyakinan, melainkan karena ambisi. Politik kita, pada akhirnya, lebih sering berbicara dalam bahasa warna dan simbol, bukan dalam bahasa nilai yang sejati.
Dalam kondisi seperti ini, gagasan menjadi tidak lebih dari sekadar aksesori. Diskusi yang seharusnya menjadi arena pertarungan ide dikebiri oleh kepentingan pragmatis. Loyalitas tidak lagi berpusat pada ideologi, melainkan pada individu yang mendistribusikan kekuasaan. Seorang pemimpin seharusnya berdiri sebagai representasi dari nilai-nilai yang diperjuangkan oleh partainya, tetapi kenyataannya, banyak dari mereka yang hanya berperan sebagai simbol dari oligarki yang lebih besar. Politik yang seharusnya berbicara tentang kepentingan bersama justru menjelma menjadi permainan eksklusif bagi mereka yang memiliki akses terhadap sumber daya.
Kita telah menciptakan dunia yang pelik: di mana puasa menjadi beban bagi sebagian, tetapi menjadi laku spiritual bagi yang lain; di mana politik seharusnya melayani rakyat, tetapi sering kali hanya menjadi jalan bagi segelintir orang untuk berkuasa. Tetapi seperti yang dikatakan Sabrang, manusia menciptakan masalah, dan manusia pula yang harus menyelesaikannya. Tuhan bisa turut campur, tetapi bukan karena keharusan, melainkan karena terharu melihat usaha manusia.
Pada akhirnya, harapan selalu menjadi bahan bakar utama bagi mereka yang bertahan di tengah keterpurukan. Namun, harapan tanpa keberanian untuk mendefinisikan ulang arah perjuangan hanya akan menjadi penantian yang tak berkesudahan. Tidak ada jaminan bahwa usaha akan selalu berbuah keberhasilan, tetapi tanpa usaha, bangsa ini hanya akan terus mengulang siklus penantian yang sama: menunggu perubahan yang tak pernah benar-benar datang.
Puasa pada akhirnya, bukan hanya tentang menahan. Ia juga tentang perjalanan: perjalanan menuju makna, perjalanan menuju yang lebih tinggi, perjalanan menuju Tuhan. Seperti puisi, ia adalah cara lain untuk mengingat bahwa ada sesuatu yang lebih besar dari kita, sesuatu yang melampaui sekadar lapar dan dahaga, sesuatu yang melampaui sekadar kekuasaan dan ambisi. Bisa jadi, di situlah letak harapan: bahwa di tengah dunia yang gaduh, kita masih bisa belajar untuk menahan, untuk menanti, dan untuk terus berjalan.