Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download
No Result
View All Result
Home Esensia

Simulakra Ramadan

Fahmi Agustian by Fahmi Agustian
March 9, 2026
in Esensia
Reading Time: 5 mins read
Simulakra Ramadan

Pernahkah Anda merasa bahwa keriuhan menyambut bulan puasa belakangan ini terasa agak “berisik”? Di layar ponsel, iklan sirup dan sarung muncul masif. Di media sosial, linimasa penuh dengan foto rekomendasi menu sahur dan takjil yang estetik, video vibes Ramadan yang sinematik, hingga kutipan bijak dengan desain yang sangat rapi. Potongan video tasuiah para ustaz pun berhamburan menyeruak memenuhi linimasa kita hari-hari ini.

Semua itu terlihat indah, tapi ada satu pertanyaan kecil yang sering menyelinap: Mana puasa yang sesungguhnya?

Dalam filsafat Jean Baudrillard, ada istilah menarik yang disebut simulakra. Sederhananya, ini adalah kondisi ketika “tiruan” dianggap lebih nyata daripada “aslinya”. Kita terjebak pada simbol, tanda, dan citra, sampai akhirnya kita lupa pada substansi atau isi di dalamnya.

Di Maiyah, kita pernah mendengar kelakar Cak Nun mengenai puasa. Kurang lebih tentang gugatan: Apakah kita benar-benar rindu kepada puasa sehingga di setiap awal Ramadan kita menyambutnya dengan gegap gempita? Benarkah kita rindu? Apakah kita benar-benar menyukai puasa?

Jika kita memang merindukan dan menyukai puasa, kenapa kita tidak melakukannya setiap hari sepanjang tahun? Di situlah letak esensi ibadah puasa. Bahwa puasa diwajibkan kepada kita atas dasar karena kita “tidak suka” berpuasa. Silakan tanya kepada hati kecil kita, lebih menyukai yang mana: menahan atau melampiaskan?

Secara hakikat, puasa itu menahan. Dalam buku Tuhan Pun Berpuasa, Cak Nun menyederhanakannya dalam sebuah kalimat: mentidakkan yang seharusnya iya.

Dalam sudut pandang kemiskinan, menahan lapar adalah hal yang biasa dilakukan. Untuk apa menahan lapar jika setiap hari memang sudah terbiasa tidak makan? Namun, bagi orang kaya, menahan lapar adalah hal yang mudah karena dengan harta yang dimiliki, ia bisa melampiaskan “dendamnya” saat azan Magrib tiba. Tidak heran jika di bulan puasa restoran begitu ramai saat jam berbuka, bahkan hingga muncul antrean reservasi yang panjang. Yang dilakukan hanya menunda makan, bukan menahan apalagi mengendalikan.

Sementara yang lebih sering kita lakukan hari-hari ini sepertinya justru: mengiyakan yang seharusnya tidak.

Di sudut lain, kita menyaksikan para penjaja takjil dikerubuti pembeli. Jika menggunakan sudut pandang puasa, ini fenomena menahan diri atau melampiaskan? Ada pula pendapat yang menyatakan anggaran keuangan di bulan Ramadan justru lebih besar dari bulan-bulan lainnya. Apakah ini artinya di bulan lain kita justru lebih “berpuasa” karena lebih efisien? Jadi, di bulan Ramadan ini kita lebih sering berbuka atau lebih sering berpuasa?

Jika anggaran kita melonjak demi memuaskan mata dan lidah, maka tanpa sadar kita telah mengubah ibadah yang privat ini menjadi sebuah panggung pertunjukan.

Ketika “Terlihat Puasa” Lebih Penting

Jika kita jujur, puasa kita hari ini sering kali terjebak dalam simulakra. Kita sangat sibuk mengurusi “bungkus”. Kita lebih khawatir jika profil media sosial kita tidak terlihat religius, daripada khawatir apakah hati kita benar-benar hadir saat sujud.

Cak Nun pernah mengingatkan dengan tajam:

“Puasa itu rahasia antara engkau dengan Allah. Tidak perlu kau pamerkan kepada dunia. Jangan sampai puasamu hanya menjadi topeng atau kosmetik untuk menipu dirimu sendiri.”

Bahkan Allah sendiri sangat posesif terhadap ibadah ini. Dalam sebuah Hadits Qudsi, Allah berfirman:

“Semua amal perbuatan anak Adam untuknya sendiri, kecuali puasa. Puasa itu untuk-Ku dan Aku yang akan memberi balasannya sendiri.”

Betapa puasa ini sesungguhnya adalah ibadah yang sangat privat. Hanya pelakunya dan Allah yang tahu. Pada konsep inilah kita memahami bahwa spektrum puasa tidak terbatas pada menahan lapar dan haus saja. Inilah wajah Simulakra Ramadan: puasanya ada secara formal, tapi energinya habis untuk membangun citra diri sebagai “orang yang berpuasa”. Kita memindahkan hiruk-pikuk dunia ke dalam ritual yang seharusnya sunyi.

Hiperrealitas di Meja Makan

Kita semakin terbiasa dengan tampilan Instagramable. Bahkan, makanan yang sudah siap tersaji terasa tidak afdal jika belum diabadikan dalam foto estetik untuk dibagikan. Di titik itu, “citra” berbuka menjadi lebih penting daripada rasa syukur saat makanan menyentuh lidah. Kita sedang hidup dalam hiperrealitas—kondisi ketika momen digital terasa lebih berharga daripada momen nyata di hadapan kita.

Rasa lapar yang seharusnya melatih empati, terkadang hanya menjadi “jeda makan” yang dirayakan secara teatrikal. Padahal, esensi puasa adalah pengendalian nafsu secara total. Cak Nun pernah berucap:

“Puasa adalah latihan kedaulatan. Engkau berdaulat atas mulutmu, atas matamu, dan atas keinginan-keinginan rendahmu. Jika kau masih diperbudak oleh keinginan untuk dipuji, maka engkau belum benar-benar merdeka dalam puasamu.”

Puasa adalah ritual menuju “makan yang sejati”. Perut tidak pernah mempersoalkan apakah kita makan pizza atau ayam goreng; kita hanya terjebak oleh keinginan lidah yang dipancing oleh mata, hidung, dan telinga. Sebenarnya, makan di warung kaki lima saja sudah cukup, tetapi ada kausalitas lain tentang eksistensi yang menentukan kita memilih restoran mewah.

Kembali ke Sunyi

Keluar dari simulakra puasa berarti berani melihat ke dalam. Menahan diri bukan cuma soal tenggorokan yang kering, tapi menahan nafsu untuk pamer dan merasa lebih suci.

Mungkin, puasa yang paling berkualitas adalah puasa yang tidak diketahui siapa pun kecuali Allah. Puasa yang “sepi” dari hiruk-pikuk citra, namun “ramai” dengan kesadaran diri. Karena pada akhirnya, yang sampai kepada-Nya bukan foto takjil kita, melainkan ketulusan yang tersimpan rapat di dalam dada.

Pada akhirnya, puasa adalah sebuah rahasia. Ia tak butuh tepuk tangan, tak butuh validasi kamera. Mari kembali ke sunyi, mencari kedaulatan diri di hadapan Sang Maha Posesif.

SendTweetShare
Previous Post

Mukadimah : Upa Angkara

Fahmi Agustian

Fahmi Agustian

Related Posts

Heuristika Pencapaian: Menemukan Kemenangan dalam Kekurangan
Esensia

Heuristika Pencapaian: Menemukan Kemenangan dalam Kekurangan

February 27, 2026
Jubilee yang Hilang: Utang, Tanah, dan Ingatan yang Diputus Sejarah
Esensia

Jubilee yang Hilang: Utang, Tanah, dan Ingatan yang Diputus Sejarah

February 25, 2026
Rumah Patangpuluhan
Esensia

Rumah Patangpuluhan

February 24, 2026
Shalat Ritual dan Shalat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj
Esensia

Shalat Ritual dan Shalat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj

February 23, 2026
Memerdekakan atau Menyeragamkan?
Esensia

Memerdekakan atau Menyeragamkan?

February 11, 2026
Boti: Cermin Sunyi Peradaban
Esensia

Boti: Cermin Sunyi Peradaban

February 9, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
  • Download

Copyright © 2025 Kenduri Cinta