“Sambal itu bukan asli nusantara,” begitulah perdebatan yang dimulai temanku saat aku memakan pisang goreng dengan sambal roa di sebuah kedai kopi di Jakarta.
Sambil terus mengunyah, aku dengar dia masih meneruskan dari mana sambal berasal. Katanya, sambal adalah produk pasca kolonialisme, karena cabai adalah komoditas antara bangsa Portugis yang berdagang di Amerika Latin dengan jalur perdagangan Nusantara.
Aku terus menikmati hihang hoheng (pisang goreng) yang masih panas ini sambil mendengarkan sesuatu yang tidak pernah aku pikirkan, bahkan tidak sempat aku pikirkan selama ini.
Aku bertanya pada temanku, “Lagi pula, kenapa kalau aku makan makanan yang bukan dari negeriku?”
Dia tampak kecewa, bukan karena pertanyaanku, tapi karena aku melewatkan pembahasan yang paling erat dengan komoditas pangan. Bukan tentang membuat (semoga) semua perut menjadi kenyang, tapi perbudakan.
“Aku sudah bilang, bukan masalah apa yang kita makan, tapi bagaimana makanan itu hadir di meja kita,” dia berbicara dengan mata yang menatapku tajam.
Ya maklum, aku tidak terlalu fokus mendengarkan penjelasannya. Aku lebih fokus menghitung berapa jumlah pisang yang aku makan. Semakin ke sini, semakin sedikit jumlahnya, seiring dengan berkurangnya jumlah luasan hutan lindung.
Dia terus menjelaskan bagaimana manusia mengeksploitasi alam dan sesamanya untuk mengenyangkan banyak perut. Namun, sebuah pertanyaan besar tersisa di antara rentetan paparannya, perut siapakah yang sebenarnya paling dikenyangkan?
Tersisa tiga potong pisang goreng lagi. Aku mulai menghitung waktu, siapa yang akan lebih dulu mencapai garis finish: apakah aku dan pisang gorengku, atau ia dengan ceritanya.
Dia bilang, “Keruntuhan Konstatinopel menjadi babak baru bagaimana sejarah dunia ditulis.”
Aku hanya bisa mengangguk pelan. Dalam benakku, aku bertanya-tanya: apa kaitan antara kota di perbatasan Asia dan Eropa itu dengan Nusantara? Jaraknya terasa begitu mustahil, bahkan saking jauhnya, aku tak pernah sekali pun mendengar kakekku bercerita tentang nikmatnya kebab doner.
“Begitu ditaklukkan, pasar rempah internasional di sana segera ditutup. Akibatnya, Eropa Raya mengalami kelangkaan bahan baku yang membuat kekacauan harga dan emosi. Akhirnya, para explorer mencari pendanaan dan berhasil mencapai daerah-daerah yang tidak terjamah, termasuk nusantara,” terangnya.
Penjelasan singkat itu, terasa padat bagiku. Kedatangan bangsa kolonial ke Nusantara memang berbeda. Bangsa Tiongkok dan Arab sudah lebih lama melakukan perdagangan di sini, tapi mereka tidak serta-merta menguasai lahan secara ekstrem. Kolonial justru dengan cepat melakukan eskalasi kepemilikan dengan cara yang berlebihan.
Perlahan, perhatianku teralih dari rasa pedas sambal di pisang goreng, ke asal-muasal cabai dalam sambal itu sendiri. Pikirku, cabai itu dari pasar yang dibeli dari petani lokal. Ternyata jauh lebih kompleks. Sebuah tanaman endemik Amerika Latin yang dibawa dengan tenaga budak dari plantasi, dermaga tempat bersandarnya kapal hingga penyajian dalam makanan untuk bangsawan.
Aku tidak menyangka, bahwa sambal yang aku cocol itu punya cerita panjang di belakangnya, bahkan jauh lebih tua daripada kakekku. Sedangkan aku hanya memakannya, seakan itu adalah sesuatu yang keluar dari tanah negeriku yang (semoga) sangat subur ini.
Tanpa sadar, piringku ini hanya menyisakan kremes dan tepung sisa dari penggorengan. Pisang goreng yang ada di piring semuanya ludes, dimakan beramai-ramai dengan sambal dan cerita-cerita dibaliknya. Pada akhirnya, tidak hanya perutku yang kenyang. Ada bagian dari kepalaku yangjuga terisi. Responsnya bukan jawaban, tapi pertanyaan yang terus menggaung di kepalaku. Aku tidak tahu mana yang duluan selesai, cerita-cerita itu atau pisang goreng yang habis dimakan. Yang jelas keduanya sama sama selesai pada waktunya.
Sambal itu masih tersisa sedikit, tapi aku tidak habiskan. Selain karena pisang goreng yang sudah habis, tapi seakan-akan sambal itu menatapku dengan cukup tajam dan bertanya kepadaku, “Setelah kamu mengetahui cerita masa lampaunya, bisakah kamu merajut masa depannya?”






