Sebuah Pengantar
Catatan tentang Patangpuluhan ini sebenarnya sudah saya tulis sekitar lima belas tahun yang lalu. Saat itu, hadir secara bersambung menghiasi laman media sosial resmi Kenduri Cinta serta situs caknun.com.
Kini, saya kembali menyentuh tulisan-tulisan tersebut. Ada beberapa kalimat yang saya rapihkan dan diksi yang saya pilih ulang agar alurnya terasa lebih mengalir saat dibaca hari ini. Namun, perubahan yang paling mendasar adalah soal penyebutan nama.
Dulu, saya lebih sering menuliskan “Emha”. Rupanya, hal itu sempat memicu keberatan dari beberapa pihak yang merasa sebutan tersebut kurang menunjukkan rasa takzim. Saat itu, alasan saya sederhana: nama “Emha” memang terasa lebih akrab dan umum di telinga masyarakat luas, jauh sebelum acara Maiyahan membudaya seperti sekarang.
Meski begitu, demi rasa hormat dan kenyamanan kita bersama, izinkanlah saya menggunakan sapaan Cak Nun dalam rangkaian tulisan berikut ini.
Semoga catatan-catatan lama ini tetap menemukan maknanya di masa sekarang. Terima kasih.
PATANGPULUHAN itu sudut Yogya yang unik. Terletak di barat daya kota, tepatnya di wilayah Kecamatan Wirobrajan, warga setempat lebih akrab menyebutnya “RK Patangpuluhan”. Sebutan RK, singkatan dari Rukun Kampung, adalah istilah khas yang seolah hanya punya nyawa di tanah istimewa ini, setara dengan kelurahan di tempat lain.
Bagi banyak orang, Patangpuluhan bukan sekadar nama tempat. Nama ini berkelindan erat dengan sosok Emha Ainun Nadjib, untuk selanjutnya, izinkan saya menyapa dengan sebutan Cak Nun saja. Di sinilah Cak Nun pernah menyewa sebuah rumah petak yang sangat bersahaja. Kabarnya, rumah itu lama tak laku karena dicap angker oleh warga sekitar. Pemiliknya adalah orang Kalasan yang sudah lama menetap jauh di Pasifik sana, tepatnya di Kaledonia Baru.
Lokasi rumah itu nyempil di belakang Pasar Legi Patangpuluhan. Jika kita masuk dari jalan raya Bugisan, jaraknya sekitar 200 meter. Secara administratif, rumah itu hanya dihuni oleh tiga orang: Cak Nun dan dua adiknya, Sariroh dan Inayah. Tapi secara fungsional? Rumah yang tampak kusam itu adalah “pelabuhan” bagi siapa saja. Dari keluarga besar, kawan-kawan seniman, aktivis mahasiswa, hingga orang-orang LSM. Rumah itu seperti punya paru-parunya sendiri; ia tak pernah berhenti bernapas, bahkan saat Cak Nun sedang berkelana ke luar kota.
Daftar orang yang pernah mampir ke sana kalau ditulis bisa jadi buku tamu yang luar biasa panjang. Dari dunia televisi ada Ishadi SK, lalu jurnalis kawakan Arief Afandi dan Rizal Mallarangeng. Ada juga Mohamad Sobary, Ahmad Tohari, Erros Djarot, hingga sosok seperti Arifin C. Noor. Wajah-wajah layar lebar seperti Christine Hakim, Ayu Azhari, dan Alex Komang pun pernah duduk di sana. Belum lagi tokoh agama seperti K.H. Yusuf Hasyim dan Gus Mus, serta barisan seniman Yogya macam Djadug, Umar Kayam, hingga Agus Noor. Rasanya, hampir seluruh nadi kesenian Yogyakarta pernah berdenyut di Patangpuluhan.
Saya sendiri tidak tahu persis kapan Cak Nun mulai menetap di sana. Sebelumnya, Cak Nun dan saudara-saudaranya tinggal di Kadipaten Wetan, tempat di mana legenda “Empat E” (Emha, Ebiet, Eko Tunas, dan Ehaka) berproses bersama. Tapi, saya tidak akan lancang bercerita banyak soal itu karena saya tidak menyaksikannya sendiri.
Awal kedekatan saya dengan komunitas ini bermula sekitar tahun 1990-an. Saat itu, kampus saya di Fakultas Hukum UII mengundang Cak Nun untuk pembacaan puisi. Cak Nun justru menawarkan konsep yang berbeda: Musik Puisi Teater Dinasti. Puisi-puisinya dibacakan secara bergantian oleh para aktor dengan iringan karawitan Dinasti yang magis. Cak Nun sendiri malah tidak ikut membaca.
Setelah peristiwa itu, interaksi saya dan teman-teman kampus dengan Komunitas Patangpuluhan makin intens. Bahkan, ada satu kawan saya yang seolah “terjebak” selamanya di sana, ia kini menjadi bagian dari keluarga Cak Nun dan menetap di kompleks TKIT Alhamdulillah, Kasihan.
Kala itu, Teater Dinasti “Ampas” sedang giat-giatnya menggodok lakon “Dokterandus Mul”. Nama “Ampas” itu pemberian Cak Nun, sebuah sindiran sayang karena para aktornya juga sibuk di grup lain. Novi Budianto, Jujuk Prabowo, dan kawan-kawan sedang membesarkan Teater Gandrik. Joko Kamto dan Agus Istianto asyik di Teater Rakyat, sementara Bambang Isti Nugroho lebih banyak bergelut dengan tulisan dan aktivitas LSM.
Bagi saya yang masih awam saat itu, “Dokterandus Mul” adalah tontonan yang segar. Apalagi ada keterlibatan Michael Bodden, seorang warga Kanada yang begitu jatuh cinta pada budaya kita. Lakon ini akhirnya berhasil menembus layar TVRI Yogyakarta, menghidupkan karakter-karakter yang dimainkan oleh Bambang Sosiawan, Agung Waskito, Jemek Supardi, hingga Sariroh.
Patangpuluhan, pada akhirnya, bukan cuma tentang alamat rumah. Ia adalah saksi bagaimana sebuah rumah sederhana bisa menjadi pusat gravitasi budaya yang dampaknya terasa hingga hari ini.






