Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
No Result
View All Result
Home Esensia

Peradaban Dimulai dari Pelukan Ibu

Arya Yudha Wicaksono by Arya Yudha Wicaksono
February 6, 2026
in Esensia
Reading Time: 4 mins read
Peradaban Dimulai dari Pelukan Ibu

PELUKAN ibu adalah peradaban pertama tempat manusia belajar menjadi manusia. Sebelum bahasa dipahami, sebelum nilai moral diajarkan, bahkan sebelum kesadaran tentang diri tumbuh, seorang bayi lebih dahulu merasakan dunia melalui kehangatan tubuh, irama napas, dan kasih tanpa syarat dari seorang ibu.

Dalam psikologi perkembangan, fase ini dikenal sebagai masa pembentukan secure attachment, yaitu kondisi dasar yang menentukan kemampuan manusia membangun relasi sehat di masa depan (Bowlby, 1969 dan Ainsworth, 1979). Dari pelukan seorang ibu, rasa aman, empati, dan kepercayaan terhadap dunia mulai bertumbuh. Pelukan ibu bukan sekadar momen biologis, melainkan titik mula peradaban itu sendiri.

Bicara tentang peradaban secara umum dimaknai sebagai kemampuan manusia hidup bersama secara bermartabat dan bersosial, maka fondasinya tidak lahir dari teknologi atau sistem politik semata. Para sosiolog melihat bahwa nilai sosial, moral, dan empati justru dibentuk pada fase awal kehidupan melalui pengasuhan keluarga, terutama oleh ibu (Bronfenbrenner, 1979).

Di ruang domestik yang sering dianggap remeh inilah manusia belajar membedakan cinta dan kekerasan, kepedulian dan pengabaian. Dengan kata lain, kualitas peradaban sangat ditentukan oleh kualitas relasi awal antara ibu dan anak. Jika di tilik dari nilai sejarah dunia banyak tokoh tumbuh dan menjadi pemimpin berkat kasih dan cinta ibu.

Sejarah dunia memberi banyak isyarat tentang peran ibu dalam membentuk generasi dan bangsa. Napoleon Bonaparte pernah berujar, “Biarkan ibu-ibu yang baik membentuk generasi, maka negara akan aman.” Pernyataan ini sejalan dengan temuan penelitian pendidikan yang menunjukkan bahwa keterlibatan ibu dalam pengasuhan awal berpengaruh signifikan terhadap perkembangan kognitif, emosional, dan moral anak (Heckman, 2006).

Abraham Lincoln pun mengakui, “Semua yang aku miliki atau harapkan, aku berutang pada malaikat bernama ibu.” Pengakuan tersebut menyatakan bahwa bahkan dalam sejarah politik modern, peran ibu menjadi faktor fundamental pembentuk karakter kepemimpinan.

Pada perkembangan kehidupan berbangsa di Indonesia, baik secara politik maupun pendidikan, peran seorang ibu sangat signifikan. Seperti pada pemikiran Ki Hajar Dewantara, beliau menempatkan pendidikan sebagai proses pembudayaan manusia yang dimulai dari keluarga. Pendidikan, menurutnya, bukan sekadar transfer pengetahuan, melainkan pembentukan budi pekerti. Dalam kerangka ini, ibu menjadi pendidik pertama dan utama.

Bung Karno bahkan menyebut perempuan sebagai tiang negara. Pandangan ini selaras dengan kajian pembangunan sosial yang menyatakan bahwa pemberdayaan perempuan dan kualitas pengasuhan ibu berbanding lurus dengan ketahanan sosial dan kemajuan bangsa (UNDP, 2016).

Perspektif keagamaan, khususnya Islam, juga memberikan landasan kuat bagi pemuliaan ibu sebagai fondasi peradaban. Al-Qur’an Surah Luqman ayat 14:

وَوَصَّيْنَا ٱلْإِنسَٰنَ بِوَٰلِدَيْهِ حَمَلَتْهُ أُمُّهُۥ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ وَفِصَالُهُۥ فِى عَامَيْنِ أَنِ ٱشْكُرْ لِى وَلِوَٰلِدَيْكَ إِلَىَّ ٱلْمَصِيرُ

“Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya: ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Ayat tersebut mengingatkan manusia tentang perjuangan ibu yang mengandung dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah dan menyusui selama dua tahun. Ayat ini bukan hanya ajaran moral, tetapi juga pengakuan teologis atas peran biologis, emosional, dan sosial ibu dalam membentuk manusia.

Rasulullah SAW pun ketika ditanya tentang siapa yang paling berhak mendapatkan perlakuan baik, menjawab: “Ibumu, ibumu, ibumu, kemudian ayahmu.” Dalam kajian sosiologi agama, penghormatan ini dipahami sebagai upaya menjaga stabilitas sosial melalui penguatan institusi keluarga (Ahmed, 2014).

Namun, di tengah modernitas yang serba cepat, makna ibu sering mengalami penyempitan. Ibu diagungkan dalam simbol dan perayaan eventual, tetapi kerap diabaikan dalam kebijakan nyata. Studi-studi kontemporer menunjukkan bahwa tekanan ekonomi, beban kerja ganda, dan minimnya dukungan sosial membuat banyak ibu mengalami kelelahan struktural (maternal burnout) yang berdampak langsung pada kualitas pengasuhan (Roskam et al., 2017). Ketika peran keibuan dijalani dalam kondisi tertekan, yang terancam bukan hanya kesejahteraan ibu, tetapi juga perkembangan psikososial anak.

Fenomena yang sering terjadi dan meningkat ketika ibu mengalami maternal burnout adalah meningkatnya kekerasan, krisis empati, dan melemahnya solidaritas social, hal ini juga dilihat sebagai gejala dari renggangnya nilai-nilai keibuan dalam kehidupan modern. Penelitian dalam bidang psikologi sosial menunjukkan bahwa kurangnya kelekatan emosional pada masa kanak-kanak berkorelasi dengan meningkatnya perilaku agresif dan rendahnya empati di usia dewasa (Fonagy et al. 2002). Dengan demikian, krisis moral yang terjadi hari ini bukan semata persoalan individu, melainkan persoalan peradaban yang melupakan fondasi awalnya yaitu memuliakan dan menghormati ibu.

Memuliakan ibu tidak berarti membatasi perempuan dalam satu peran tunggal. Sebaliknya, memuliakan ibu berarti memastikan bahwa peran keibuan mendapatkan dukungan sosial, budaya, dan kebijakan yang adil. Negara dan masyarakat yang beradab adalah mereka yang menyediakan ruang aman bagi ibu untuk tumbuh, belajar, dan berdaya tanpa harus mengorbankan peran pengasuhan. Kajian pembangunan manusia menyatakan bahwa investasi pada ibu melalui pendidikan, kesehatan, dan perlindungan sosial merupakan investasi jangka panjang bagi peradaban (World Bank, 2018).

Maka, bisa disimpulkan bahwa ibu menentukan seberapa panjang umur peradaban. Peradaban yang berumur panjang bukanlah peradaban yang paling gemerlap, melainkan yang masih mampu merawat nilai-nilai awal kehidupan. Selama pelukan ibu dijaga dalam budaya, pendidikan, dan kebijakan publik, selama itu pula peradaban memiliki fondasi untuk bertahan. Sebab, dari pelukan itulah manusia pertama kali belajar tentang kasih, batas, dan tanggung jawab sosial.

Pada akhirnya, berbicara tentang masa depan dunia tidak dapat dilepaskan dari cara kita memandang dan memperlakukan ibu hari ini. Jika pelukan ibu terus hidup dalam nilai dan sistem kehidupan, maka peradaban akan menemukan kembali arah kemanusiaannya. Tetapi, jika pelukan itu diabaikan, maka sebesar apa pun kemajuan yang dicapai, peradaban akan berdiri di atas fondasi yang rapuh. Sebab, peradaban, sejak awal sejarahnya, selalu dimulai dari satu hal yang paling sederhana, yaitu pelukan seorang ibu.

SendTweetShare
Previous Post

Dunia Suprafisial

Next Post

Boti: Cermin Sunyi Peradaban

Arya Yudha Wicaksono

Arya Yudha Wicaksono

Related Posts

Boti: Cermin Sunyi Peradaban
Esensia

Boti: Cermin Sunyi Peradaban

February 9, 2026
Dunia Suprafisial
Esensia

Dunia Suprafisial

February 4, 2026
Menjadi Manusia Penuh Manfaat
Esensia

Menjadi Manusia Penuh Manfaat

February 2, 2026
Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar
Esensia

Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar

January 23, 2026
Senja, Sekolah dan Kurikulum yang Menjaga Sunyi
Esensia

Senja, Sekolah dan Kurikulum yang Menjaga Sunyi

January 22, 2026
Hegemoni Semantik: Konsep Destruktif di Balik Kata “Pemerintah”
Esensia

Hegemoni Semantik: Konsep Destruktif di Balik Kata “Pemerintah”

January 16, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak

Copyright © 2025 Kenduri Cinta