Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
No Result
View All Result
Home Esensia

Shalat Ritual dan Shalat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj

Hilmi Hafi by Hilmi Hafi
February 23, 2026
in Esensia
Reading Time: 7 mins read
Shalat Ritual dan Shalat Sosial: Visi Pembebasan Islam dalam Peristiwa Isra’ Mi’raj

MERUPAKAN sebuah kepongahan diri jika orang tidak mau memahami sejarah, belajar dari sejarah, dan berkesadaran sejarah. Tanpa itu, orang akan terus terjerembap ke dalam lubang kesalahan yang sama, terjebak dalam pengulangan tragedi yang melelahkan karena gagal membaca pola dan ritme peradaban. Sebagaimana kata George Santayana, mereka yang tidak mampu mengingat masa lalu akan dikutuk untuk mengulanginya.

Serupa dengan itu, Mahbub Djunaidi pernah berucap bahwa setolol-tololnya orang adalah mereka yang tak tahu apa itu sejarah. Tentu, yang dimaksudkan Mahbub ini tak sekadar meromantisasi atau mengenang kejayaan suatu peristiwa sejarah, tapi juga dimaksudkan untuk menghidupkan sejarah itu sendiri; mempelajari dan memahaminya untuk kemudian digunakan panduan dan spirit manusia dalam menjalani kehidupannya.

Demi visi menghidupkan sejarah itu, muncul pola pikir (paradigma) dekonstrukstif sebagai alat atau cara untuk membongkar dan menyingkap makna di balik peristiwa sejarah. Sebab, sejarah bukanlah entitas statis yang sudah final, melainkan sebuah diskursus yang senantiasa terbuka untuk dimaknai ulang.

Cara pandang yang demikian inilah yang kita perlukan untuk memperingati sebuah peristiwa bersejarah, tak terkecuali peristiwa besar Isra Mi’raj Nabi Muhammad.

Isra’ Mi’raj

Secara harfiah, Isra’ merujuk pada perjalanan horizontal dari Masjidil Haram di Mekah menuju Masjidil Aqsa (yang sekarang berada di Palestina), sementara Mi’raj adalah perjalanan vertikal dari bumi menuju langit ketujuh hingga mencapai Sidratulmuntaha, titik tertinggi yang tak mampu dijangkau oleh makhluk apa pun kecuali Nabi Muhammad.

Bagi sebagian umat Islam, peristiwa ini bermula saat Nabi Muhammad didatangi oleh Malaikat Jibril yang membawakan Buraq, sesosok makhluk menyerupai cahaya yang kecepatannya digambarkan melebihi kilat. Dalam sekejap, Nabi tiba di Baitul Maqdis untuk memimpin shalat bersama para nabi terdahulu. Dari sana, perjalanan berlanjut menembus lapisan-lapisan langit. Di setiap tingkatan, Nabi Muhammad bertemu dengan para nabi sebelumnya—seperti Nabi Isa, Nabi Musa, hingga Nabi Ibrahim—sebelum akhirnya berdialog langsung dengan Allah SWT untuk menerima perintah shalat lima waktu.

Tentu saja, narasi demikian ini tidak terlepas dari berbagai perdebatan dan kontroversi. Dalam kajian teologis (ilmu kalam), misalnya, perdebatan pun muncul mengenai apakah perjalanan ini dilakukan secara fisik (jasmani) ataukah hanya berupa visi spiritual (ruh). Secara fisik berarti jasad Nabi memang benar-benar menembus lapisan-lapisan langit itu dengan mengendarai Buraq, seperti yang digambarkan di atas. Secara spiritual berarti perjalanan Mi’raj Nabi bukan secara fisik, melainkan sebuah pengalaman batiniah.

Namun, terlepas dari hal itu, satu hal yang wajib bagi umat Islam ialah meyakini sepenuhnya bahwa Isra’ Mi’raj itu benar dialami oleh Nabi Muhammad, terlepas dari perdebatan mengenai teknis peristiwanya.

Dengan demikian, dalam upaya menyelami kedalaman makna peristiwa sejarah ini, bagi saya setidaknya ada tiga poin penting yang bisa kita petik: pertama, soal kesadaran profetik; kedua, keistiqomahan; dan ketiga, shalat ritual dan shalat sosial.

Kesadaran Profetik

Dalam diskursus pemikiran Islam kontemporer, Muhammad Iqbal, dalam karya monumentalnya, The Reconstruction of Religious Thought in Islam, memberikan pembacaan yang provokatif mengenai peristiwa Isra’ Mi’raj ini. Baginya, momen Isra’ Mi’raj adalah titik tolak dimensi pembebasan dalam Islam. Momen kembalinya Nabi dari puncak perjumpaan dengan Sang Khalik itu dimaknai oleh Iqbal sebagai sebuah simbolisme visi pembebasan Islam (Kuntowijoyo, 2006: 98).

Melalui pembacaannya itu, Iqbal kemudian membagi kesadaran menjadi dua hal: kesadaran mistis dan kesadaran profetik.

Bila peristiwa Isra’ Mi’raj itu dibaca melalui kacamata kesadaran ini, maka bagi seorang yang berkesadaran mistis, mencapai Sidratulmuntaha—puncak tertinggi perjumpaan dengan Tuhan—adalah pencapaian akhir. Jika mereka telah sampai pada kedamaian absolut di sisi-Nya, mereka cenderung ingin menetap dalam keheningan mistis tersebut, luruh dalam fana yang melenakan.

Namun, Nabi Muhammad SAW tidak bertindak demikian. Justru pasca beliau bertemu dengan Allah SWT di langit tertinggi, beliau memilih untuk kembali ke bumi. Kepulangan Nabi itu bukan karena beliau gagal menetap di langit, melainkan karena didorong oleh dorongan etis untuk membenahi realitas dunia yang carut-marut. Kepulangan Nabi dari langit ke bumi adalah sebuah pesan epistemologis bahwasanya tugas manusia bukan hanya untuk menjadi suci secara privat, melainkan untuk menjadi agen perubahan (khalifatullah fil ardh). Inilah yang disebut Iqbal sebagai kesadaran profetik.

Dalam kesadaran profetik, manusia dituntut untuk mampu membaca realitas secara utuh—melihat kesenjangan, kemiskinan, ketidakadilan, hingga degradasi moral—lalu memberikan respons solutif melalui tindakan konkret. Melalui kesadaran profetik ini, kita dituntut untuk menyadari sepenuhnya tanggung jawab manusia, baik sebagai hamba maupun sebagai khalifatullah. Kita tidak boleh terjebak dalam mistisisme egosentris yang hanya mementingkan keselamatan spiritual pribadi, namun tak peduli terhadap jeratan kemiskinan atau ketidakadilan melanda sesama (Mu’amar, 2025: 174).

Keistiqamahan dan Kesederhanaan

Gus Mus (K.H. Mustofa Bisri), dalam bukunya Saleh Spiritual, Saleh Sosial, memberikan tamsil yang sangat mendalam mengenai kendaraan Nabi Muhammad dalam perjalanan Mi’raj, yakni Buraq. Bagi Gus Mus, Buraq digambarkan memiliki kaki yang bisa mulur-mungkret (memanjang-memendek) sesuai medan yang dilalui. Jika jalan mendaki, kaki belakangnya memanjang; jika menurun, kaki depannya yang menyesuaikan. Tujuannya satu, yaitu menjaga agar penumpangnya tetap jejeg—tegak, lurus, dan stabil. Ke-jejeg-an inilah yang dimaknai oleh Gus Mus, sebagai sebuah metafora tentang nilai keistiqamahan.

Sejatinya, perjalanan hidup kita adalah sebuah “mi’raj” yang tak henti-hentinya menuntut keistiqamahan. Betapa telah banyak kita lihat adanya diskontinuitas dalam cara kita beragama. Di dalam keheningan, kita mendaku Allah sebagai Yang Maha Besar, namun saat melangkah ke ruang profan, orientasi ontologis kita bergeser menjadi pemujaan terhadap keuntungan material maupun jabatan. Tuhan seolah berganti rupa sesuai dengan kepentingan ego kita.

Kita menyembah dan meminta-minta saat kondisi kita krisis, namun terlupakan begitu saja saat keadaan sedang baik-baik saja. Kita bersujud saat merasa rendah, namun seketika mendongak angkuh saat merasa memiliki kuasa. Padahal, esensi dari tauhid adalah pernyataan bahwa tidak ada orientasi lain selain Allah, baik dalam kesunyian maupun di tengah keriuhan massa.

Dalam konteks inilah, perlunya kita berefleksi dan melatih kemampuan kita untuk tetap jegeg—istiqomah di jalur kebenaran—dengan mengendarai Buroq, yang berwujud dalam bentuk keistiqomahan itu sendiri.

Lalu, bagaimanakah cara mengendarai Buraq itu? Bagi Gus Mus, jawabannya terletak pada prinsip sak madyo, secukupnya. Mencintai harta, secukupnya. Mencintai kekuasaan, secukupnya. Mencintai keluarga, secukupnya. Mencintai diri sendiri, secukupnya. Dan mencintai hal lainnya dengan secukupnya. Secukupnya, tidak kurang dan tidak lebih.

Inilah yang kemudian disebut kesederhanaan. Kesederhanaan bukan tentang naik sepeda butut, bukan pula tentang punya rumah yang kumuh, tapi tentang kedalaman ilmu dan ketenangan batin, yang berwujud dalam kesadaran “secukupnya”. Hal ini barangkali terasa relevan jika dihadapkan dengan arus kapitalisme yang terus menggerus hasrat kepemilikan.

Shalat Ritual dan Shalat Sosial

Puncak dari peristiwa Isra’ Mi’raj adalah diterimanya perintah shalat lima waktu. Secara simbolik, shalat adalah “mi’raj-nya” orang beriman (as-shalatu mi’rajul mu’minin). Jika Nabi Muhammad SAW melakukan mi’raj secara fisik dan spiritual ke langit, kita diberikan kesempatan untuk naik berjumpa, berkeluh kesah, dan menemui Tuhan melalui sujud-sujud kita.

Itulah mengapa shalat merupakan tiang penyangga, pilar, dan fondasi agama. Namun, apakah kita sudah benar-benar shalat? Gus Mus memaknai shalat sebagai perjalanan dari tempat sujud yang suci (Masjidil Haram) menuju ke puncak tempat sujud (Masjidil Aqsha). Artinya, seluruh hidup kita haruslah merupakan rangkaian sujud.

Shalat ritual yang dilakukan dalam hitungan menit seharusnya menjadi pengisian energi untuk melakukan shalat sosial di sisa waktu dua puluh empat jam kita (Bisri, Mustofa, 2019: 78).

Itulah shalat yang sejatinya. Sebagaimana jelas termaktub dalam Al-Qur’an, shalat itu tanha anil fahsya’i wal munkar; mencegah dari perbuatan keji (fahsya’) dan mungkar (munkar). Shalat ritual adalah komitmen formal antara hamba dan Khalik, namun keberhasilan shalat ritual diukur dari dampaknya pada ruang sosial. Jika shalat kita tidak membuahkan kepekaan terhadap penderitaan sesama, maka shalat hanyalah sebuah simbolisme ritualistik. Melalui shalat, seharusnya lahir pribadi yang tawaduk, jujur, adil, dan menebar Islam yang rahmatan lil ‘alamin.

Kesadaran untuk memadukan shalat ritual dan shalat sosial inilah yang merupakan hal esensial dalam ajaran Islam. Kesadaran bahwa Tuhan yang kita sembah di dalam tiap sujud kita adalah Tuhan yang sama yang memerintahkan kita untuk membela mereka yang dilemahkan, mereka yang dimiskinkan, dan mereka yang tertindas.

Begitulah kiranya peristiwa Isra’ Mi’raj selayaknya dimaknai. Dimaknai bukan sebagai sebuah perjalanan nostalgia untuk dikagumi secara pasif, melainkan sebuah panggilan eksistensial bagi setiap muslim untuk melakukan perjalanan “naik” menuju Tuhan melalui perbaikan kualitas ibadah personal, kemudian melakukan perjalanan “turun” menuju kemanusiaan melalui aksi sosial yang konkret.

Sebab, tak dapat dimungkiri bahwa dunia saat ini sedang krisis orang-orang semacam ini; yakni mereka yang hadir membawa solusi atas krisis moral, ketidakadilan, dan kerusakan lingkungan, alih-alih sibuk menghakimi dan mengkafirkan sesama.

Akhirul kalam, jika ibadah kita belum mampu mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar, barangkali kita perlu memeriksa kembali: jangan-jangan kita tidak benar-benar bersujud kepada Allah. Jangan-jangan kita tidak menyembah—meminjam istilah Dendy—Tuhan yang “di sana”, melainkan sedang bersujud kepada citra kesalehan kita sendiri di hadapan manusia, dan menyembah Tuhan yang “di sini”.

Tabik!

SendTweetShare
Previous Post

REPORTASE: METRONOM

Hilmi Hafi

Hilmi Hafi

Related Posts

Memerdekakan atau Menyeragamkan?
Esensia

Memerdekakan atau Menyeragamkan?

February 11, 2026
Boti: Cermin Sunyi Peradaban
Esensia

Boti: Cermin Sunyi Peradaban

February 9, 2026
Peradaban Dimulai dari Pelukan Ibu
Esensia

Peradaban Dimulai dari Pelukan Ibu

February 6, 2026
Dunia Suprafisial
Esensia

Dunia Suprafisial

February 4, 2026
Menjadi Manusia Penuh Manfaat
Esensia

Menjadi Manusia Penuh Manfaat

February 2, 2026
Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar
Esensia

Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar

January 23, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak

Copyright © 2025 Kenduri Cinta