DI PENGHUJUNG tahun, ketika kalender tinggal selembar dan kota dipenuhi baliho harapan yang dicetak massal, kita sering lupa bahwa harapan sejati justru lahir dari sesuatu yang tidak pernah dipamerkan: luka. Luka yang tidak sempat difoto, air mata yang jatuh tanpa saksi, doa yang diucapkan pelan agar tidak terdengar oleh siapa pun—bahkan oleh diri sendiri. Tahun-tahun terakhir mengajari kita satu hal yang pahit: hidup tidak pernah berjalan lurus seperti proposal pembangunan. Ia berbelok, runtuh, tersendat. Banyak yang tumbang tanpa upacara, banyak yang bertahan tanpa tepuk tangan. Di tengah statistik pertumbuhan dan jargon optimisme, ada manusia-manusia yang menjalani hari dengan tubuh lelah dan iman yang nyaris habis, bertanya diam-diam: apakah semua ini ada artinya?
Namun di situlah, kata orang-orang tua di kampung yang jarang dikutip pidato resmi, Tuhan sering bekerja. Bukan lewat kemenangan yang gaduh, melainkan melalui kegagalan yang memaksa kita berhenti. Luka menjadi jalan sunyi yang mempertemukan manusia dengan dirinya sendiri—dan dengan Tuhan yang tidak datang sebagai hakim, tetapi sebagai penunggu setia di reruntuhan. Apa yang terasa hancur sekarang sering kali bukan akhir, melainkan pintu. Pintu yang tidak dicat indah, tidak diberi lampu neon, bahkan tampak seperti tembok buntu. Kita mengetuknya dengan ragu, kadang sambil marah, kadang sambil menangis. Tapi justru dari celah itulah pemulihan merembes masuk, perlahan, hampir tak terasa, hingga suatu hari kita menyadari: kita masih berdiri.
Di dunia yang mengagungkan hasil besar dan keberhasilan instan, usaha kecil kerap dianggap remeh. Padahal Tuhan—jika kita masih berani menyebut-Nya di ruang publik yang semakin sinis—melihat justru yang kecil itu. Langkah yang tertatih, niat baik yang gagal total, kerja jujur yang tidak pernah viral. Semua dicatat, bukan sebagai angka, tetapi sebagai kesetiaan.
Maka tetaplah berjalan. Bukan karena jalan ini mudah, melainkan karena berhenti sering kali lebih berbahaya. Tetaplah melangkah, meski tanpa peta, meski tanpa sorak. Sebab apa yang Tuhan mulai dalam hidup manusia—di rumah-rumah sederhana, di ladang sunyi, di kota yang kelelahan—tidak pernah dibiarkan menggantung. Menyongsong Tahun Baru 2026, kita mungkin tidak membawa banyak kemenangan. Tapi jika kita masih membawa kesediaan untuk bertahan, untuk percaya di tengah retak, itu sudah cukup. Sebab di luar segala hiruk-pikuk resolusi dan kembang api, ada janji yang bekerja diam-diam: Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya. Dan waktu Tuhan, seperti keadilan yang lama ditunggu, hampir selalu datang ketika manusia sudah belajar bersabar.
Dan kesabaran itu bukan sikap pasrah yang lumpuh, melainkan keberanian untuk tetap hidup di tengah ketidakpastian. Ia adalah bentuk perlawanan yang paling sunyi—bertahan tanpa harus membenci, berharap tanpa harus berteriak. Di negeri yang terlalu sering memaksa warganya kuat setiap saat, kesabaran menjadi cara lain untuk tetap waras. Kita memasuki 2026 dengan tubuh yang membawa ingatan kolektif: tentang janji-janji yang tak ditepati, tentang keadilan yang selalu ditunda dengan alasan stabilitas, tentang kebenaran yang dikaburkan demi kenyamanan segelintir orang. Namun sejarah mengajarkan, bahkan dari tanah yang diinjak berulang-ulang, rumput tetap tumbuh. Tidak spektakuler, tapi nyata. Tuhan bekerja di sela-sela itu. Di ruang-ruang yang tidak tercatat laporan kinerja, di dapur tempat ibu-ibu menghitung ulang belanja sambil menahan cemas, di kepala para pekerja yang pulang larut dengan gaji yang tak pernah sepadan dengan letihnya. Di sanalah iman diuji bukan dengan hafalan, melainkan dengan keteguhan untuk tidak berubah menjadi kejam. Barangkali itulah makna “indah pada waktunya” yang sering kita ucapkan tanpa benar-benar memahami. Keindahan yang dimaksud bukan gemerlap, melainkan pulih. Bukan menang telak, melainkan selamat. Selamat dari putus asa, selamat dari godaan untuk menyerah pada kebencian, selamat dari keinginan membalas dunia dengan kekerasan yang sama.
Maka jika hari ini engkau masih berdiri—meski dengan lutut gemetar, meski dengan dada yang sering sesak—ketahuilah: itu bukan kegagalan. Itu kesaksian. Bahwa rencana Tuhan tidak selalu mengangkat manusia ke atas panggung, tetapi sering menempatkannya di jalan panjang agar ia belajar berjalan bersama yang lain.
Tahun Baru 2026 tidak menuntut kita menjadi sempurna. Ia hanya meminta satu hal yang sederhana dan sulit sekaligus: setia. Setia pada hidup, setia pada nurani, setia pada keyakinan bahwa luka tidak pernah sia-sia. Karena pada akhirnya, dari luka itulah kita belajar mengenali cahaya—bukan sebagai sesuatu yang menyilaukan, tetapi sebagai penunjuk jalan pulang. Tuhan, berilah kami keberanian untuk mengubah apa yang memang harus diubah—ketidakadilan yang dibiarkan, kebohongan yang dilembagakan, dan rasa takut yang terlalu lama kita pelihara. Berilah kami kesabaran untuk menerima apa yang belum bisa kami ubah, tanpa berubah menjadi putus asa atau sinis terhadap hidup. Dan anugerahkanlah kearifan untuk membedakan keduanya, agar kami tidak salah melawan, tidak salah menyerah. Sebab di situlah iman bekerja: bukan sekadar percaya bahwa segalanya akan baik-baik saja, tetapi berani bertindak ketika harus bertindak, dan berani diam ketika diam adalah bentuk paling jujur dari kepercayaan.






