BAGI siapa pun yang pernah bersinggungan dengan Cak Nun, masa-masa di Patangpuluhan adalah puncak produktivitas. Hampir setiap hari, Cak Nun menghiasi media massa; entah itu sebagai kolumnis yang tajam, narasumber yang blak-blakan, atau penulis artikel lepas. Dari sanalah lahir tumpukan buku yang sebagian besar adalah kumpulan tulisan dari koran dan majalah.
Hanya sedikit karya yang benar-benar beliau tulis secara khusus dari awal, seperti Dari Pojok Sejarah atau Seribu Masjid Satu Jumlahnya. Maka, sempat ada kegembiraan luar biasa ketika Cak Nun berniat menulis buku berjudul Tafsir Liar. Isinya adalah tadabbur personalnya atas semesta: air yang mengalir, daun yang gugur, hingga langit yang berganti warna.
Penerbit Mizan melalui Hernowo Taslim sangat bersemangat dan rutin menagih naskah itu. Namun, hingga detik ini, Tafsir Liar tak pernah rampung. Mungkin sudah terlupakan, atau mungkin memang terlalu “liar” untuk sekadar dikurung dalam lembaran halaman.
Jangan salah sangka; meski produktif dan populer, Cak Nun bukanlah orang kaya dalam pengertian materi. Tanggung jawab yang dipikulnya sangat berat. Salah satu beban yang paling dijaga adalah sekolah-sekolah di Menturo, Jombang, tanah kelahirannya. Gaji guru, biaya renovasi kelas yang reyot, hingga operasional sekolah, hampir semuanya tanggung jawab Cak Nun.
Pernah suatu ketika, Cak Nun menandatangani kontrak menulis kolom dengan sebuah surat kabar di Surabaya. Begitu tanda tangan dibubuhkan, dana puluhan juta langsung Cak Nun cairkan dan kirim seluruhnya ke Menturo. Cak Nun harus “membayar” dengan kewajiban menulis setiap minggu. Menulis bukan lagi sekadar hobi atau profesi, tapi cara Cak Nun membayar apa yang dianggap sebagai “utang sosial”.
Harta utamanya saat itu hanyalah sebuah mesin tik tua. Alat kerja itu adalah jantung hidupnya, sekaligus benda yang paling sering “bersekolah” saat keadaan sedang benar-benar terjepit.
Urusan kendaraan, Cak Nun mengandalkan sebuah Jeep tua. Lucunya, saat itu Cak Nun belum bisa menyetir. Cak Nun belajar pelan-pelan dibantu adik angkatnya. Tapi karena merasa prosesnya terlalu lama, Cak Nun mengambil jalan pintas yang tidak masuk akal: latihan menyetir dengan cara memundurkan mobil secepat-cepatnya.
Logikanya: “Kalau sudah lancar menyetir mundur, menyetir maju itu urusan gampang!” Terdengar gila, tapi begitulah beliau; selalu punya intuisi yang menabrak logika umum.
Menulis bagi Cak Nun adalah ritual yang mustahil tanpa dua sahabat setia: kopi dan rokok. Tanpa keduanya, tak akan ada satu kalimat pun yang lahir. Cak Nun punya merek kretek favorit yang saking setianya, pabrik rokok tersebut rutin mengirimkan beberapa boks setiap bulan.
Meski dikirim dalam jumlah besar, rokok-rokok itu biasanya ludes dalam sekejap. Cak Nun tak pernah menikmatinya sendirian. Ada mahasiswa yang sedang demo, Cak Nun kirim satu boks. Anak-anak teater sedang latihan, pasti disediakan juga. Tamu-tamu yang datang silih berganti ke Patangpuluhan pun tak pernah kehabisan kopi dan rokok. Berbagi sudah menjadi napas di rumah itu.
Bagi Cak Nun, dunia media sebenarnya bukan hal baru. Sejak SMA, Cak Nun sudah dipercaya mengasuh rubrik budaya di koran Masa Kini. Tak heran jika kemudian Cak Nun diajak bergabung dalam manajemen baru koran Bernas bersama beberapa kawan komunitas di Patangpuluhan. Itulah masa singkat di mana Cak Nun mencoba menjadi “orang kantoran”, berangkat pagi, pulang siang. Tapi itu hanya bertahan sekitar tiga sampai enam bulan. Barangkali, batas-batas sistem formal terlalu sempit untuk menampung jiwa yang merdeka bagi Cak Nun.
Saya sendiri, yang saat itu masih mahasiswa, diam-diam tetap mengikuti ujian hingga akhirnya wisuda. Entah bagaimana, kabar itu sampai ke telinga Cak Nun. “Wah, sudah sarjana ya!” katanya, separuh menyindir, separuh bercanda.
Saya hanya bisa tersenyum kaku. Sebab, di hadapan sosok yang membedah ilmu langsung dari pengalaman hidup seperti Cak Nun, gelar akademik di atas kertas itu mendadak terasa begitu tipis dan tak ada artinya.






