Kenduri Cinta
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak
No Result
View All Result
Home Esensia

Menjadi Manusia Penuh Manfaat

Fahmi Agustian by Fahmi Agustian
February 2, 2026
in Esensia
Reading Time: 5 mins read
Menjadi Manusia Penuh Manfaat

SALAH SATU pesan Rasulullah SAW yang selalu saya ingat adalah bahwa kerasulan beliau alasan utamanya adalah untuk memperbaiki akhlaq manusia. Innama bu’istu liutammima makarima-l-akhlaq. Perjalanan panjang menuju usia 40 tahun, sebelum beliau menerima wahyu pertama membuktikan bahwa ada persiapan yang sangat matang untuk membangun personal branding seorang Muhammad bin Abdullah sebelum diresmikan sebagai Rasul pamungkas.

Proses penyucian jiwa oleh Malaikat Jibril saat beliau masih sangat belia, kemudian peristiwa dipercayainya beliau oleh masyarakat untuk menjadi penengah saat Ka’bah selesai dipugar, proses peletakkan kembali Hajar Aswad, beliau menjadi mediator masyarakat Quraisy dan banyak lagi peristiwa yang menguatkan posisi Muhammad bin Abdullah memang sosok yang sangat dipersiapkan oleh Allah SWT untuk menjadi Nabi akhir zaman.

Ketika akhirnya Muhammad bin Abdullah resmi menjadi Rasulullah SAW, salah satu hadits yang juga masyhur adalah: Khairunnaas anfa’uhum li-n-naas. Bahwa sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lainnya. Dalam hadits ini Rasulullah SAW tidak mendikotomi bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling rajin sholatnya, yang paling rajin puasanya, yang paling banyak zakatnya, yang paling sering pergi ke Mekkah untuk berhaji atau apapun saja yang sifatnya ibadah mahdhloh.

Bahkan, dalam hadits lain Rasulullah SAW berpesan: Khairukum man ta’allama-l-qur`an wa allamahu. Sebaik-baik kalian (spesifik kepada ummat beliau) adalah yang belajar Al Qur`an dan mengajarkannya. Bahkan Rasulullah SAW sendiri tidak mengatakan atau bahkan tidak mewajibkan bagi kita untuk menghafal Al Qur`an secara keseluruhan 30 juz, yang beliau pesankan hanyalah agar setidaknya ummatnya memiliki hafalan Al Qur`an meskipun hanya beberapa ayat atau surat saja.

Spektrum anfa’uhum li-n-naas sendiri tentu sangat luas. Di Maiyah, Cak Nun pernah menyampaikan bahwa agama itu letaknya di dapur, bukan di etalase. Bagi Cak Nun, ibadah adalah sesuatu yang sangat personal, sangat privat. Hubungan antara manusia dengan Allah adalah hubungan yang tidak boleh ada penghalang. Kalaupun ada sosok atau entitas perantara antara manusia dengan Allah, maka entitas itu adalah Rasulullah SAW. Maka di Maiyah kita mengenal segitiga cinta: Allah-Muhammad-Hamba (manusia).

Jika kita menilik ke belakang, bagaimana rukun Islam dan rukun Iman itu diajarkan oleh Rasulullah SAW sangat relevan jika kemudian kedua policy itu menjadi bekal utama untuk mengantarkan manusia menjadi pribadi yang bermanfaat bagi manusia yang lainnya. Sependek pemahaman saya, rukun Islam dan rukun Iman itu adalah sesuatu hal yang sangat fundamental. Ia bukanlah seperti baju atau perhiasan yang kita pakai, yang kemudian kita pertontonkan kepada khalayak ramai saat kita berada di ruang publik. Bahkan sebisa mungkin kita tidak perlu memberitahukan bagaimana ritus ibadah yang kita lakukan itu kepada orang lain.

Di Kenduri Cinta edisi Januari 2026 lalu, kita membincangkan mengenai peristiwa Nabi Ibrahim AS yang menghancurkan berhala-berhala dalam proses pencariannya terhadap kebenaran yang sejati. Amsal penghancuran berhala yang dilakukan Nabi Ibrahim AS adalah sebuah peristiwa yang layak menjadi arena refleksi kita hari ini. Berhala yang kita hadapi hari ini bukan berupa patung yang kemudian kita sembah. Berhala yang kita temui hari ini lebih luas spektrum dan gelombangnya. Ia tidak hanya berupa benda materi yang bisa disentuh dengan tangan, bahkan terkadang ia berupa hal yang sangat non materi.

Berulangkali Cak Nun menegaskan di panggung Maiyah bahwa output sosial kita yang baik adalah yang dibutuhkan oleh orang lain di sekitar kita. Ibadah yang kita lakukan adalah proses input yang kita lakukan secara mandiri dan sangat personal. Rasulullah SAW menerima perintah ibadah mahdhloh secara bertahap dengan berbagai value yang terkandung di dalamnya. Semakin berkualitas kita melakukan ritus ibadah kita yang sangat personal itu, maka otomatis akan menghasilkan output sosial yang baik dari dalam diri kita yang kemudian dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Seberapa dalam kita mampu memaknai sholat yang kita lakukan? Kita ambil contoh satu saja; sujud. Pada saat kita sujud, kepala kita berada di posisi paling rendah dari posisi biasanya. Apa yang bisa kita maknai dari peristiwa itu? Menurut saya, posisi sujud adalah posisi dimana Allah SWT mengajarkan kita bahwa manusia tidak berhak untuk sombong. Pada posisi sujud, kepala kita yang notabene adalah organ tubuh yang paling kita hargai, berada pada posisi yang paling rendah, bahkan lebih rendah dari kelamin kita.

Atau misalkan mundur sedikit ke belakang, sebelum kita sholat. Ada ritual wudhlu sebagai peristiwa thoharoh atau pembersihan sebelum sholat. Saat kita wudhlu, kita membasuh tangan, wajah, kepala dan kaki. Sementara, yang membatalkan wudhlu justru tidak menjadi urutan pembasuhan saat kita wudhlu. Ketika kita kentut, tidak serta merta kita membasuh pantat atau anus kita bukan?

Wudhlu juga merupakan peristiwa ruhani, bukan materi semata. Hal yang dibersihkan saat kita wudhlu bukan sekadar organ tubuh kita, namun juga ruhani kita. Ketika sebelum sholat, mungkin tangan kita melakukan hal-hal yang tidak baik. Mungkin juga isi kepala kita sebelum sholat memikirkan hal-hal yang tidak baik, sehingga kita basuh kepala kita. Mungkin sebelum sholat kita melihat hal-hal yang tidak baik, maka dalam wudhlu kita membasuh wajah kita.

Sedetail itu Islam mempersiapkan ibadah sholat untuk dilakukan oleh ummat Islam. Bahkan, Islam sendiri memilih diksi mendirikan sholat, bukan melakukan sholat. Melakukan sholat itu mudah, mulai dari takbiratul ihram, membaca bacaan sholat, ruku’, sujud, salam. Selesai. Tetapi mendirikan sholat adalah peristiwa yang lebih sublim.

Dalam surat Al Ma’un pun Allah berfirman; Fawailul li-l-musholliin alladziina hum ‘an sholaatihim saahuun. Celakalah mereka yang sholat namun lalai atas sholat yang mereka lakukan. Sebuah peringatan yang sangat tegas, bahwa kita yang melakukan sholat saja tetap diwanti-wanti, diberi peringatan oleh Allah, bahwa kita bisa saja masih akan lalai dalam sholat kita.

Dalam pertunjukan Mens Rea, Pandji Pragiwaksono menyindir masyarakat yang memilih pemimpin dengan alasan rajin sholat. Sebuah alasan yang tidak masuk akal jika hanya menjadi satu-satunya alasan untuk memilih pemimpin. Saya sepakat dengan pernyataan tersebut. Jika yang kita pilih adalah pemimpin Masjid, entah itu Imam Masjid atau pengurus Takmir Masjid, syarat itu menjadi hal yang sangat wajar dan bisa dipahami. Sementara jika kita mencari Pemimpin masyarakat, entah itu Presiden, Gubernur, Walikota, Bupati hingga Lurah, tentu bukan itu saja pertimbangannya.

Karena untuk menjadi seorang pemimpin di bidang tertentu, ia membutuhkan kualifikasi yang sesuai di bidangnya.

Mari kita fahami secara sederhana. Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak manusia, dengan bekal wahyu Al Qur`an, yang didalamnya mengatur hubungan manusia dengan Allah dan juga hubungan manusia dengan sesama manusia. Spektrum dan gelombangnya sangat luas.

Saya pun memahami ketika Rasulullah SAW pernah berpesan bahwa sholat adalah ibadah yang pertama kali akan dihisab. Rasulullah SAW mengatakan jika sholat kita baik, maka ibadah lainnya pun akan baik. Kualitas “baik” ini saja kita sebagai manusia tidak akan pernah mampu mengkalkulasinya apalagi merumuskannya. Ada banyak variabel yang akan mengantarkan manusia menuju kualitas baik sholatnya.

Maka dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman; Inna-sh-sholaata tanha ‘ani-l-fakhsyaai wa-l-munkari. Bahwa salah satu tujuan atau target kita mendirikan sholat yang baik adalah kita dapat menghindari perbuatan keji dan munkar. Bukan hanya ritual sholatnya yang menghindarkan kita berbuat keji dan munkar, tetapi bagaimana diri kita saat mendirikan sholat itu juga menentukan kualitas baiknya sholat kita atau tidak. Jangan-jangan kita justru telah memberhalakan sholat kita?

SendTweetShare
Previous Post

Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar

Fahmi Agustian

Fahmi Agustian

Related Posts

Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar
Esensia

Dialektika Adab KH Hasyim Asy’ari dalam Gelombang Merdeka Belajar

January 23, 2026
Senja, Sekolah dan Kurikulum yang Menjaga Sunyi
Esensia

Senja, Sekolah dan Kurikulum yang Menjaga Sunyi

January 22, 2026
Hegemoni Semantik: Konsep Destruktif di Balik Kata “Pemerintah”
Esensia

Hegemoni Semantik: Konsep Destruktif di Balik Kata “Pemerintah”

January 16, 2026
Hikmah dari Secangkir Kopi
Esensia

Hikmah dari Secangkir Kopi

January 14, 2026
Di Antara Dua Gajah
Esensia

Di Antara Dua Gajah

January 12, 2026
Mencari Titik Equilibrium Batin
Esensia

Mencari Titik Equilibrium Batin

January 5, 2026

Copyright © 2025 Kenduri Cinta

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In

Add New Playlist

No Result
View All Result
  • Beranda
  • Mukadimah
  • Reportase
  • Esensia
  • Sumur
  • Video
  • Karya
  • Kontak

Copyright © 2025 Kenduri Cinta